Posts Tagged ‘ nabi ’

Apakah Muhammad mengarang Qur’an (part 1)

Kemungkinan ini adalah yang paling sering dituduhkan kepada al Qur’an. Tentu saja karena memang nabi Muhammad adalah orang yang menyampaikan al Qur’an. Namun bila kita memperhatikan isi al Qur’an ada beberapa hal yang membuat al Qur’an mustahil berasal dari Muhammad.

Gaya bahasa yang berbeda
Apabila kita membandingkan hadits-hadits dengan ayat-ayat al Qur’an maka tidak akan dijumpai adanya kemiripan dari segi gaya bahasa (uslub), padahal keduanya berasal dari orang yang sama. Akan tetapi, keduanya berbeda dari segi gaya bahasanya. Seringkali Muhammad membacakan al Qur’an dan sesaat setelahnya menjelaskannya dengan hadits. Para sahabat akan dengan mudah membedakan mana yang al Qur’an dan mana yang hadits karena masing-masing memiliki gaya bahasanya tersendiri.

Memang bisa saja ada orang bersandiwara dengan menggunakan dua gaya bahasa yang berbeda dalam pembicaraannya, namun bila dilakukan dengan frekuensi yang tinggi pastilah akan banyak kemiripan di antara gaya bahasa yang satu dengan gaya bahasa yang lain. Sedangkan pada al Qur’an dan hadits tidak ditemukan hal yang demikian. Bahkan dengan gaya bahasa orang Arab kebanyakan pun al Qur’an tidak memiliki kemiripan.

Fase lengkapnya al Qur’an
Semenjak turun pertama kali sampai al Qur’an itu lengkap menghabiskan waktu sekitar dua puluh tiga tahun, waktu yang cukup lama untuk menyusun sebuah buku. Manusia pada umumnya mengalami perubahan mental. Kadang ada fase ia gembira atau sedih. Al Qur’an disampaikan dalam berbagai situasi, peristiwa dan kejadian. Tentunya kondisi ini akan mempengaruhi kualitas dari al Qur’an. Tetapi al Qur’an tidak berubah mengikuti kondisi muhammad. Kalaulah mengikuti kondisi muhammad pastilah di sana akan banyak terjadi pertentangan.

Susunan Al Qur’an tidak mengikuti urutan turunnya. Namun kita bisa merasakan dengan jelas al Qur’an merupakan ungkapan yang mengalir antara satu dengan ayat lainnya. Ayat-ayat tersebut saling berkait dalam satu kesatuan serta tersusun secara rapi dan harmonis seperti telah direncanakan susunannya seperti itu jauh sebelumnya.

Muhammad seorang yang buta huruf
Bila ditilik sejarah hidupnya Muhammad sama sekali tidak pernah sempat bersekolah. Sejak kecil telah ditinggal orang tuanya. Sempat menjadi penggembala kambing lalu ikut menjadi pedagang. Pekerjaan berdagang saat itu tidak memakan waktu singkat. Dari satu negeri ke negeri lain menggunakan unta bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan.

Di sisi lain, buta huruf bukanlah sesuatu yang aib saat itu. Hafalan menjadi kebanggaan. Seorang penyair yang ketahuan menuliskan syair-syairnya akan dicemooh lemah hafalan. Penghargaan mereka terhadap kekuatan hafalan terus berlanjut sehingga dijadikan kriteria dalam periwayatan hadits.

Bila dikaitkan dengan al Qur’an, al Qur’an telah membahas berbagai aspek, baik masalah agama, ekonomi, politik, sosial, budaya, peradilan, bahkan mengenai alam semesta. Hal ini menunjukkan pembuatnya menguasai berbagai bidang keilmuan secara mendalam. Apakah Muhammad yang buta huruf dan tidak bersekolah memahami setiap perkara secara mendalam lalu dengan mudah mengkompilasikannya dalam al Qur’an.

Altruisme dan pengorbanan Muhammad
Ada banyak kisah yang menunjukkan kebaikan Muhammad yang tinggi. Pernah suatu ketika selendang beliau ditarik dari belakang. Lalu orang tersebut menyatakan ingin selendang tersebut. Lalu Muhammad memberikan selendang itu. Di lain waktu Muhammad juga pernah menjenguk seseorang yang sangat membencinya ketika orang tersebut sakit. Padahal teman-temannya sendiri belum ada yang menjenguknya.

Di sisi lain ada banyak kisah yang menunjukkan pengorbanan Muhammad terhadap agamanya. Muhammad adalah seorang pedagang kaya sebelum menjadi nabi. Setelah menjadi nabi kekayaannya habis untuk berdakwah. Ia pun harus menerima perlakuan buruk dari kaumnya. Bahkan pada masa pemboikotan Muhammad sampai memakan sendalnya yang terbuat dari kulit unta. Pada akhir hayatnya nabi Muhammad tidak mewariskan apapun kepada keluarganya.

Alangkah sulit membayangkan orang yang berbohong atas nama tuhan dengan membuat al Qur’an melakukan banyak kebaikan dan pengorbanan. Mengapa tidak mengaku saja bahwa al Qur’an itu buatannya sendiri jikalau ia memang orang baik-baik yang memperjuangkan kebaikan versinya sendiri.

Kritik terhadap Muhammad
Di dalam al Qur’an terdapat beberapa ayat yang mengkritik ketidaktepatan tindakan Muhammad. Seperti pada ayat-ayat berikut:

“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, Karena Telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), Atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, Maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), Sedang ia takut kepada (Allah), Maka kamu mengabaikannya.” [TQS Abasa: 1-10]

Atau
“Tidak patut, bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar Karena tebusan yang kamu ambil.” [TQS al Anfal: 67-68]

Atau
Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Qur’an Karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila kami Telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, Sesungguhnya atas tanggungan kamilah penjelasannya. [TQS al Qiyamah: 16-19]

Jika memang Muhammad yang membuat al Qur’an tidaklah masuk akal bila ia mengkritik diri sendiri atas keputusan yang ia telah ambil lalu mengabadikannya dalam al Qur’an.

Hanya yang perlu diperhatikan bahwa yang dikritik al Qur’an adalah ketidaktepatan pemilihan sikap yang diambil oleh nabi Muhammad bukan kesalahan yang berhukum haram karena nabi Muhammad tidak pernah melakukan dosa (maksum). Apa salahnya berdakwah ke pembesar Quraisy? Bukankah beliau diperintahkan berdakwah kepada siapapun. Hanya saja ketika ada orang yang bersedia didakwahi tentunya tidak tepat apabila tidak mendahulukan orang yang bersedia. Perkara-perkara seperti itu disebut khilaful aula (menyelisihi yang terbaik)

Tertundanya jawaban
Kita seringkali menjumpai kondisi di mana Muhammad ditanyai sahabatnya mengenai satu perkara atau ada suatu peristiwa yang perlu dikomentari segera. Tetapi tidak semuanya langsung beliau jawab, ada pula yang ditunda.

Bahkan pernah suatu ketika beliau ditegur oleh Allah dalam al Qur’an karena menjanjikan jawaban atas pertanyaan seorang sahabat keesokan harinya.

Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya Aku akan mengerjakan Ini besok pagi, Kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”. dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan Katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini”. [TQS al Kahfi: 23-24]

Menurut sebuah riwayat, ada beberapa orang Quraisy bertanya kepada nabi Muhammad saw. tentang roh, kisah ashhabul kahfi (penghuni gua) dan kisah Dzulqarnain, lalu beliau menyuruh mereka datang besok pagi kepadaya agar beliau ceritakan. Saat itu beliau tidak mengucapkan Insya Allah (artinya: jika Allah menghendaki). Tetapi sampai beberapa hari wahyu tidak pula datang untuk menceritakan hal-hal tersebut dan nabi tidak dapat menjawabnya. Maka turunlah ayat 23-24 di atas, sebagai pelajaran kepada Nabi. Jika saja beliau yang membuat al Qur’an, untuk apa beliau menangguhkan jawabannya beberapa saat.

-Islam menjawab tuduhan
-notes fb Irfan habibie

Advertisements

Bagaimana Mengetahui al Qur’an Berasal dari Sang Pecipta?

Ini adalah pertanyaan penting kedua setelah pertanyaan apakah al Qur’an otentik. Pertanyaan apakah al Qur’an otentik baru menjawab apakah al Qur’an yang kita pegang sekarang sama dengan al Qur’an pada jaman nabi Muhammad. Kita tetap membutuhkan bukti al Qur’an berasal dari sang pencipta alam.

Ada dua cara membuktikan al Qur’an berasal dari sang pencipta. Pertama, melalui kemukjizatan al Qur’an. Kemukjizatan al Qur’an akan menunjukkan bahwa pembuatnya menguasai alam semesta sehingga tidak mungkin ada manusia yang membuatnya (insyaAllah dibahas pada artikel berikutnya). Kedua, melalui pembuktian rasional deduktif.

Pembahasan rasional deduktif ini dilakukan dengan mengumpulkan semua kemungkinan logis dari mana asal al Qur’an. Secara sederhana dengan mempertimbangkan sejarah, karena al Qur’an disampaikan oleh Muhammad maka kemungkinan yang logis adalah yang berkisar di seputar Muhammad. Kemungkinannya saya bagi menjadi tiga. Pertama, al Qur’an dibuat oleh Muhammad dengan idenya sendiri. Kedua, Muhammad “nyontek”. Dua kemungkinan ini berarti manusia yang membuatnya. Setidaknya dua kemungkinan ini juga yang dituduhkan para orientalis kepada al Qur’an. Ketiga, al Qur’an berasal dari sang pencipta sedangkan Muhammad hanya sekadar penyampai saja.

Walau terlihat logis, kemungkinan pertama dan kedua adalah kemungkinan yang sulit diterima bila dikaitkan dengan apa yang disampaikan dalam al Qur’an sendiri. Al Qur’an berkali-kali telah menantang siapapun yang meragukannya. Saat itu, tantangan ini khususnya ditujukan kepada musuh-musuh Muhammad.

Ataukah mereka mengatakan: “Dia (Muhammad) membuat-buatnya”. Sebenarnya mereka tidak beriman. Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al Qur’an itu jika mereka orang-orang yang benar. [TQS Ath Thur 33-34]

Tantangan kemudian diturunkan menjadi sepuluh surat saja.

Bahkan mereka mengatakan: “Muhammad Telah membuat-buat Al Qur’an itu”, Katakanlah: “(Kalau demikian), Maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar”. [TQS Hud: 13]

Akhirnya tantangan tersebut diturunkan hingga satu surat saja.

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. [TQS Al Baqarah: 23]

Tantangan ini tidak sanggup mereka penuhi. Alih-alih membuat yang serupa mereka lebih memilih cara kekerasan kepada para pengikut Muhammad. Padahal cara paling jitu dalam menghentikan dakwah Muhammad adalah dengan membuat yang serupa dengan al Qur’an. Atau cukup dengan membuat satu surat terpendek saja yaitu al Kautsar yang hanya terdiri dari tiga ayat.

Bila memang al Qur’an ini buatan Muhammad atau ada karya manusia lainnya yang dicontek Muhammad maka seharusnya al Qur’an dapat ditiru dengan mudah. Kalau kita bandingkan dengan sebuah lagu misalnya ada sebuah lagu beraliran jazz. Maka seharusnya membuat yang serupa seharusnya mudah karena telah ada polanya. Bahkan tidak mustahil dapat dibuat sebuah karya beraliran jazz yang lebih indah. Kita bisa lihat juga saat ini ketika laris musik beraliran pop-melayu, ramai-ramailah lagu beraliran pop-melayu muncul.

Bila seluruh penentang Muhammad tidak bisa membuat yang serupa, pertanyaannya mengapa Muhammad mampu?

Al Qur’an juga telah menantang mereka yang ragu dengan tantangan yang lain, yaitu tantangan untuk mencari kontradiksi dalam al Qur’an. Karena seandainya al Qur’an ini buatan Muhammad, seorang manusia biasa, pasti akan banyak pertentangan dan kekurangan di dalamnya sebagaimana buatan manusia yang lain.

“Tidakkah mereka itu memikirkan Al-Qur’an? Seandainya Al Qur’an itu tidak dari Allah, maka mereka akan menemukan banyak pertentangan di dalamnya.” (TQS an Nisa: 82)

Kekuatan al Qur’an yang tak dapat ditiru inilah yang menyebabkan Abu Dzar Al Ghifari, Umar bin Khatab, serta para sahabat lainnya masuk Islam. Kekuatan al Qur’an tersebut juga yang telah membuat para pembesar Quraisy musuh Muhammad harus sembunyi-sembunyi mendengarkannya sampai berulang kali.

Sherlock Holmes, dalam The Adventure of the Blanched Soldier, mengatakan “When you have eliminated all which is impossible, then whatever remains, however improbable, must be the truth.” (ketika engkau telah menghilangkan segala hal yang mustahil, maka apa pun yang tersisa, betapa pun sulit dipercaya, adalah kebenaran).

Setelah semua kemungkinan lainnya mustahil maka kita harus percaya, mau atau tidak, bahwa Allah lah yang membuat al Qur’an. Dan Dia lah tuhan yang esa, Pencipta alam semesta ini.

“Dan Sesungguhnya Al Quran Ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta Alam, Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), Ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, Dengan bahasa Arab yang jelas.” [TQS. as Syu’ara: 192-197]

والله أعلم

seri kitab suci

http://www.facebook.com/note.php?note_id=122488712584

irfan habibie

Perintah berhijab kekhususan Istri Nabi

Dari Ummu Salamah“Aku dan Maimunah berada dekat Rasulullah saw,lalu Ibnu Ummi Maktum datang.Peristiwa itu terjadi setelah Rasulullah menyuruh kami berhijab.Beliau bersabda ,”pasanglah hijab antara kalian dengannya.’Kami bertanya ,’Bukankah dia buta, Wahai Rasulullahmbukankah dia tidak melihat dan mengetahui kami?’’Beliau menjawab,’Apakah kalian buta,bukankah kalian meliahtnya?( Sunan Abu daud nomor 3122)

Dalil diatas ,sering dijadikan menjadi kewajiban beerhijab atau setidaknya anjuran berhijab,walalupun ada orang buta disekitar kita,namun kenyataanya, tentu berbeda dengan dugaan ada anjura berhijab yang berlaku secara umum bagi istri-istri kaum mukmin.Coba kita telaah bagaimana tentang makana hadits ini Kedua wanita yang disebutkan dalam hadits diatas adalah istri Nabi saw,sementara ayat Al Quran mengungkapkan,’..Maka mintalah dar belakang tabir.Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka…” (Al Ahzab :53)

1. Artinya,untuk lebih menyucikan hati,kaum laki-laki dilarang melihat istri-istri Nabi saw,begitu juga dengan istri-istri beliau dilarang melihat kaum laki0laki untuk lebih menyucikan hati mereka.Oleh karena itu beliau bersabda seperti diatas.Artinya,perintah nabu disini berhubungan dengan kekhususan para istri Nabi untuk berhijab.Mereka tidak dibenarkan untuk bertemu laki-laki tanpa hijab

2.Jika Rasulullah melarang istri-istrinya melihat Ibnu Ummi Maktum karena telah diwajibkan hijab atas mereka,maka beliau juga mengatakannya juga kepada Fatimah Binti Qais,”Tinggallah di rumah anak paman Ibnu Ummi Maktum karena dia cacat pengelihatan (HR Muslim)

Dari Fathimah binti Qais,dia berkata bahwa dia berada dibawah tanggungan Abu Umar bin Hafsh bin Al-Mughirah.Lalu Abu Umar menalaknya hingga talak tiga,Lalu Fathimah mendatangi Rasulullah saw untuk minta fatwa tentang keluarnya dia dari rumah. Rasulullah saw menyuruhnya pindah ke rumah (anak pamannya Umar) Ibnu Ummi Maktum yang buta ( HR Muslim ,Kitab Thalaq Jilid 4,hal 196)

Dia meliaht Ibnu Ummi Maktum dan tentu saja tanpa risih.Malah rasul menyuruhnya tinggal disana.Hal ini menunjukkan bahwa larangan yang terdapat dalam hadits Abu daud khusus bagi apra istri nabi saw yang juga didukung oleh perkataan Ummu Salamah “setelah beliau menyuruh kami berhijab”

3.Laporang Imam Ahmad juga mendukung pernyataan bahwa hadits diatas khusus bagi para Istri Nabi saw.Al-Artsam berkata ,” Aku bertanya kepada Abu Abdullah (iMam Ahmad bin Hanbal),’Apakah hadits itu seperti hadits Nabhan (perawi dari Ummu Salamah),khusus bagi istri-istri Nabi,sedangkan hadits Fatimah ditujukan bagi semua orang? Beliau menjawab .”Ya’( Al-Mughni,Ibnu Qudamah)

Setelah mencantumkan hadits tersebut dalam Sunannya,Abu daud berpendapat ,”Hal ini khusus bagi istri-istri Nabi,lain halnya dengan kepercayaan diri Fathimah untuk tinggal bersama Ibnu Ummi Maktum ketika Nabi saw bersabda kepadanya,”Tinggalah dirumah Ibnu Ummi Maktum karna dia buta dan (janganlah khawatir)atas pakaianmu didekatnya ( Sunan Abu Daud Kitab Berpakaian)

kesimpulan

Hadits diatas tidak sedang membicarakan tentang zina mata,atau berdua duaan,atau larangan melihat malah aneh jika hijab dianjurkan untuk berjaga-jaga,sebab rasul malah menyuruh Fathimah tinggal dirumah Ibnu Maktum, dan jelas hadits diatas menceritakan tentang kekhususan hijab bagi Istri-Istri Nabi

Apa Buktinya Muhammad adalah seorang Utusan Tuhan??

Pendahuluan

Bila saya mengaku sebagai seorang nabi apakah anda akan lantas percaya? Tentu hanya orang yang bodoh saja yang akan percaya begitu saja. Kita mungkin bisa berdebat panjang dengan pengikut Ahmadiyah tentang interpretasi hadits khataman nabiyyin. Namun pertanyaan yang cukup esensial kepada mereka adalah bagaimana mereka bisa yakin bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi? Apa yang Mirza Ghulam Ahmad wariskan kepada mereka sehingga, walaupun tidak bertemu langsung, bisa percaya begitu saja?

Ketika mempelajari sejarah umat terdahulu yang didatangi seseorang yang mengaku bahwa ia seorang nabi utusan Tuhan, kita akan menemukan bahwa para nabi datang dengan membawa tanda kenabian. Tanda tersebut adalah mukjizat. Mukjizat adalah tanda ia mendapat dukungan dari langit yang akan menunjukkan bahwa dia adalah nabi.

Mukjizat, menurut pengertian bahasa (Arab), artinya sesuatu yang melemahkan, mengalahkan yang lain. Secara istilah mukjizat didefinisikan sebagai sesuatu tantangan yang mengalahkan yang lain yang tidak ada seorang pun yang bisa membuat yang serupa dengan mukjizat tersebut.

Karena mukjizat adalah tantangan, maka agar tantangan itu ditanggapi oleh kaumnya, tantangan itu harus relevan dengan kompetensi kaum tersebut. Jika tantangan datang dalam bentuk yang tidak dikenal kaumnya, tantangan tersebut akan diabaikan. Jika mukjizat sesuai dengan kompetensi mereka, mereka akan tertantang dan mereka akan berpikir bahwa tidak ada yang bisa membuat mukjizat tersebut kecuali Tuhan. Mukjizat setiap nabi tampil dengan cara seperti itu. Continue reading

Mengapa Kita Membutuhkan Utusan Tuhan?

Memberitahukan siapa tuhan sebenarnya
Bila anda sependapat dengan saya bahwa Tuhan itu ada maka kita sudah memiliki satu jawaban bagi pertanyaan ini. Kita membutuhkan nabi untuk memberitahukan jati diri Tuhan. Hal ini adalah keniscayaan karena hanya dengan mengandalkan akal, kita tidak dapat menemukan siapa Tuhan yang sesungguhnya.

Mari simak kisah nabi Ibrahim ketika mencari Tuhan. Andai kata Allah tidak memberitahukan secara langsung kepada nabi Ibrahim tentu keyakinan Ibrahim hanya sampai bahwa berhala-berhala itu bukan Tuhan dan Tuhan sebenarnya adalah yang menggerakkan matahari, bulan dan bintang tanpa tahu siapa Dia. Begitu pula dengan nabi-nabi lainnya, Allah secara langsung memberikan hidayah kepada mereka. Continue reading