Keberadaan Tuhan berdasarkan Argumen Penciptaan

Argumen penciptaan atau lebih dikenal dengan cosmological argument adalah argumen klasik yang dalam sejarah dikembangkan banyak pihak baik Kristen atau Islam. Selain argumen penciptaan, ada argumen lain yang cukup terkenal seperti argumen desain (atau dalam dunia filsafat dikenal dengan istilan teleological argument)

Premis pertama

Ada beberapa jenis premis pertama yang saya temukan.

1. Bahwa segala sesuatu yang ada sekarang adalah wujud yang ‘mungkin’, wujud yang ‘mungkin’ membutuhkan wujud yang ‘mutlak’. Contoh antara kita dan orang tua kita. kita adalah wujud yang mungkin sedang orang tua kita adalah wujud mutlak. Kita sebagai wujud mungkin, tidak harus ada meskipun orang tua ada. Tapi kalau kita ada, maka pasti ada orang tua. Kalau dirunut terus orang tua itu juga merupakan wujud mungkin terhadap kakek dan nenek kita. Terus begitu dan begitu pula alam semesta kita.
2. Setiap yang memiliki permulaan memiliki sebab. Apapun yang kita indera yang memiliki permulaan pasti ada sebabnya. sudah tidak bisa kita pungkiri di dunia ini ada hukum sebab akibat. Hanya saja hukum ini sebenarnya berlaku lebih spesifik pada sesuatu yang memiliki permulaan. Alam semesta ini memiliki permulaan karena itu alam semesta ini memiliki sebab.
3. Segala realitas yang kita dapat indera, ternyata terbatas sehingga tergantung pada yang lain. Agar saya bisa hidup maka saya bergantung pada yang lain, tidak ada orang yang tidak bergantung pada yang lain. Manusia butuh oksigen, oksigen dihasilkan tumbuhan, tumbuhan butuh air, air berasar dari hujan, hujan butuh penguapan, dst. Semuanya terbatas sehingga semuanya saling menggantungkan diri. Nah tapi tidak akan ada yang eksis, bila tidak ada sesuatu yang tidak bergantung pada apapun lebih dahulu. Sesuatu yang tak terbatas ini yang memulai siklus saling bergantung itu. Tidak mungkin close loop. Kalau A bergantung pada B dan B bergantung pada C sedang C bergantung pada A. Maka loop ini tidak akan pernah dimulai. Pada mulanya tidak ada apa-apa karena untuk eksis setiap entitas bergantung pada yang lain.

Premis kedua

Argumen penciptaan ini berkaitan dengan penciptaan alam semesta pertama kali. Walau ini argumen kedua tapi ini adalah argumen kunci. Kalau kita gunakan argumen wujud mungkin dan mutlak, pertanyaannya kan mengapa tidak terus ada atau abadi. Mekanisme mungkin mutlak ini terus berlanjut tanpa ada awal dan mungkin tanpa ada akhir. Pemikiran ini menganggap alam semesta itu abadi sehingga tidak perlu ada tuhan. Tapi benarkah alam semesta itu abadi?

Inti alam semesta abadi ada kaitannya dengan konsep “tak terhingga” atau “infinity”. “Tak terhingga” memang dipakai dalam dunia matematika , namun hanya dalam tataran konsep atau pendekatan tapi tidak benar-benar nyata. Pada dunia nyata yang bisa kita indera, tidak ada yang tak terhingga. Kalau dengan cara ketiga di premis pertama kita tahu semua hal itu terbatas dan kumpulan sesuatu yang terbatas itu tetap terbatas. Meski sangat banyak, pasir di pantai sebenarnya jumlahnya terbatas.

Dalam kaitannya dengan penciptaan alam semesta pertama kali, saya harus membuktikan bahwa masa lampau itu terbatas dan karenanya tidak abadi. Saya akan memulainya dengan contoh. misalnya Anda adalah seorang tentara yang sedang berlatih menembak. Anda hanya baru boleh menembak setelah orang disebelah Anda menembak. Dan orang disebelanya itu hanya boleh menembak setelah orang sebelahnya lagi menembak. Begitu seterusnya. Dan tentara yang ada jumlahnya tak terhingga. Pertanyaannya apakah Anda akan pernah menembak. Jawabannya tidak.

Begitu pula dengan alam semesta ini. Jika masa lalu itu tak terhingga akankah alam semesta bisa ada saat ini? Karena alam semesta ini ada saat ini maka garis waktu ke masa lampau harus berhenti pada suatu titik.

Kesimpulan

Sampai di sini kesimpulan adalah ada “satu sebab yang tidak memiliki awal dan akhir tempat bergantung segala sesuatu”. Apakah ini tuhan? Saya belum bisa bicara banyak. Menurut saya kunci apakah itu tuhan atau bukan adalah adanya kehendak. Kehendak ini menunjukkan adanya personalitas bukan sesuatu yang mekanistis.

Anggap big bang adalah awal dari alam semesta. Awal mula big bang adalah kondisi kuantum vakum di mana ada massa sangat besar dengan volume sangat kecil hampir tidak ada apa2. Nah ini artinya kepadatannya sangat besar. Pertanyaanya mengapa konsidi tersebut tidak terus berlangsung seperti itu saja. Mengapa harus terjadi big bang?

Kalau air berada dalam suhu nol derajat dengan tekanan normal maka dia akan terus dalam kondisi berupa es. Es ini hanya akan berubah menjadi air atau uap bila ada yang mengubah kondisi. Beginilah hukum fisika untuk perubahan wujud zat. Namun hukum tersebut tidak membuat es jadi air lalu jadi uap, perlu ada yang menaikkan temperatur. Perubahan pada alam semesta memang mengikuti hukum-hukum fisika, tapi hukum fisika bukanlah sebab dari alam semesta. Perubahan kondisi inilah mengindikasikan adanya kehendak.

Sampai di sini kita dapat menyimpulkan bahwa Zat yang merupakan sebab pertama dari semua entitas, yang tidak memiliki awal dan akhir dan menjadi tempat tergantung semuanya, ternyata memiliki kehendak. Pada kondisi ini saya berani bilang, Zat ini adalah Tuhan.

“Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.” (Al Ikhlas: 2)

Allahu’alam[]

http://www.facebook.com/?ref=home#!/note.php?note_id=492442757584

Advertisements

Bagaimana Mengetahui al Qur’an Berasal dari Sang Pecipta?

Ini adalah pertanyaan penting kedua setelah pertanyaan apakah al Qur’an otentik. Pertanyaan apakah al Qur’an otentik baru menjawab apakah al Qur’an yang kita pegang sekarang sama dengan al Qur’an pada jaman nabi Muhammad. Kita tetap membutuhkan bukti al Qur’an berasal dari sang pencipta alam.

Ada dua cara membuktikan al Qur’an berasal dari sang pencipta. Pertama, melalui kemukjizatan al Qur’an. Kemukjizatan al Qur’an akan menunjukkan bahwa pembuatnya menguasai alam semesta sehingga tidak mungkin ada manusia yang membuatnya (insyaAllah dibahas pada artikel berikutnya). Kedua, melalui pembuktian rasional deduktif.

Pembahasan rasional deduktif ini dilakukan dengan mengumpulkan semua kemungkinan logis dari mana asal al Qur’an. Secara sederhana dengan mempertimbangkan sejarah, karena al Qur’an disampaikan oleh Muhammad maka kemungkinan yang logis adalah yang berkisar di seputar Muhammad. Kemungkinannya saya bagi menjadi tiga. Pertama, al Qur’an dibuat oleh Muhammad dengan idenya sendiri. Kedua, Muhammad “nyontek”. Dua kemungkinan ini berarti manusia yang membuatnya. Setidaknya dua kemungkinan ini juga yang dituduhkan para orientalis kepada al Qur’an. Ketiga, al Qur’an berasal dari sang pencipta sedangkan Muhammad hanya sekadar penyampai saja.

Walau terlihat logis, kemungkinan pertama dan kedua adalah kemungkinan yang sulit diterima bila dikaitkan dengan apa yang disampaikan dalam al Qur’an sendiri. Al Qur’an berkali-kali telah menantang siapapun yang meragukannya. Saat itu, tantangan ini khususnya ditujukan kepada musuh-musuh Muhammad.

Ataukah mereka mengatakan: “Dia (Muhammad) membuat-buatnya”. Sebenarnya mereka tidak beriman. Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al Qur’an itu jika mereka orang-orang yang benar. [TQS Ath Thur 33-34]

Tantangan kemudian diturunkan menjadi sepuluh surat saja.

Bahkan mereka mengatakan: “Muhammad Telah membuat-buat Al Qur’an itu”, Katakanlah: “(Kalau demikian), Maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar”. [TQS Hud: 13]

Akhirnya tantangan tersebut diturunkan hingga satu surat saja.

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. [TQS Al Baqarah: 23]

Tantangan ini tidak sanggup mereka penuhi. Alih-alih membuat yang serupa mereka lebih memilih cara kekerasan kepada para pengikut Muhammad. Padahal cara paling jitu dalam menghentikan dakwah Muhammad adalah dengan membuat yang serupa dengan al Qur’an. Atau cukup dengan membuat satu surat terpendek saja yaitu al Kautsar yang hanya terdiri dari tiga ayat.

Bila memang al Qur’an ini buatan Muhammad atau ada karya manusia lainnya yang dicontek Muhammad maka seharusnya al Qur’an dapat ditiru dengan mudah. Kalau kita bandingkan dengan sebuah lagu misalnya ada sebuah lagu beraliran jazz. Maka seharusnya membuat yang serupa seharusnya mudah karena telah ada polanya. Bahkan tidak mustahil dapat dibuat sebuah karya beraliran jazz yang lebih indah. Kita bisa lihat juga saat ini ketika laris musik beraliran pop-melayu, ramai-ramailah lagu beraliran pop-melayu muncul.

Bila seluruh penentang Muhammad tidak bisa membuat yang serupa, pertanyaannya mengapa Muhammad mampu?

Al Qur’an juga telah menantang mereka yang ragu dengan tantangan yang lain, yaitu tantangan untuk mencari kontradiksi dalam al Qur’an. Karena seandainya al Qur’an ini buatan Muhammad, seorang manusia biasa, pasti akan banyak pertentangan dan kekurangan di dalamnya sebagaimana buatan manusia yang lain.

“Tidakkah mereka itu memikirkan Al-Qur’an? Seandainya Al Qur’an itu tidak dari Allah, maka mereka akan menemukan banyak pertentangan di dalamnya.” (TQS an Nisa: 82)

Kekuatan al Qur’an yang tak dapat ditiru inilah yang menyebabkan Abu Dzar Al Ghifari, Umar bin Khatab, serta para sahabat lainnya masuk Islam. Kekuatan al Qur’an tersebut juga yang telah membuat para pembesar Quraisy musuh Muhammad harus sembunyi-sembunyi mendengarkannya sampai berulang kali.

Sherlock Holmes, dalam The Adventure of the Blanched Soldier, mengatakan “When you have eliminated all which is impossible, then whatever remains, however improbable, must be the truth.” (ketika engkau telah menghilangkan segala hal yang mustahil, maka apa pun yang tersisa, betapa pun sulit dipercaya, adalah kebenaran).

Setelah semua kemungkinan lainnya mustahil maka kita harus percaya, mau atau tidak, bahwa Allah lah yang membuat al Qur’an. Dan Dia lah tuhan yang esa, Pencipta alam semesta ini.

“Dan Sesungguhnya Al Quran Ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta Alam, Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), Ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, Dengan bahasa Arab yang jelas.” [TQS. as Syu’ara: 192-197]

والله أعلم

seri kitab suci

http://www.facebook.com/note.php?note_id=122488712584

irfan habibie

Kemahakuasaan Tuhan “Stone Paradoks” dan Kemahatahuan Tuhan

Kemahakuasaan dan Kehendak Tuhan

Oleh: Hamza Andreas Tzortzis

Selama tur Islamic Awareness, saya menemukan ada beberapa pertanyaan yang biasa diajukan tiap ceramah dan presentasi. Saya rasa tentu bermanfaat bagi pembaca jika memiliki jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam tulisan pendek. Pertanyaan yang diajukan cukup bervariasi, di antaranya mengenai keberadaan Tuhan, sifat Tuhan, hukum Islam, dan akidah Islam. Dalam tulisan ini, saya mencoba menjawab dua pertanyaan yang sering muncul yang berkaitan dengan sifat Tuhan.

Pertanyaan-pertanyaannya yaitu:

1. Jika Tuhan Mahakuasa bisakah Dia melakukan apapun, termasuk menciptakan sebuah batu yang tidak bisa Dia gerakkan?
2. Bisakah Tuhan memiliki kehendak bebas (free will) jika Dia mengetahui segala sesuatu?

Pertanyaan pertama, jika Tuhan Mahakuasa bisakah Dia melakukan apapun, termasuk menciptakan sebuah batu yang tidak bisa Dia gerakkan?

Posisi akidah Islam mengenai kemampuan Tuhan diringkas dengan cermat dalam pernyataan yang dapat dilihat dalam kitab Aqidah Tahawiyah. Tertulis,

“… Dia Maha Kuasa. Semuanya bergantung pada-Nya, dan segala urusan tidak sulit bagi-Nya. “

Pertanyaan umum tentang kemampuan Tuhan yaitu jika Tuhan Mahakuasa maka bisakah Dia menciptakan batu tidak bisa Dia gerakkan? Kunci dalam menjawab pertanyaan ini menggarisbawahi ‘Mahakuasa’ yang disalahartikan menjadi ‘mahasegalanya’ (all powerfull). Yang dimaksud dengan mahakuasa sebenarnya adalah kemampuan mewujudkan segala urusan, bukan kekuasaannya itu sendiri (raw power). Jadi Tuhan “menciptakan sebuah batu yang tidak bisa Dia gerakkan” sebenarnya menggambarkan suatu masalah yang tidak mungkin dan tidak bermakna, sama seperti jika kita mengatakan “seekor gagak hitam berbulu putih” atau “lingkaran bersiku” atau bahkan “mamalia yang amfibi” (amphibian mamal).

Pernyataan seperti ini tidak menggambarkan apa-apa dan tidak memiliki nilai informatif, tidak ada artinya. Jadi untuk apa kita menjawab pertanyaan yang tidak memiliki makna? Sederhananya pertanyaan ini bahkan bukan pertanyaan.

Cara lain melihat masalah ini adalah bahwa Tuhan itu Mahakuasa itu berarti Dia selalu mampu melakukan apa yang Dia kehendaki, sebagaimana pernyataan di atas menyebutkan “… dan segala urusan tidak sulit bagi-Nya.” Karena itu, kemahakuasaan juga meliputi mustahil gagal. Namun si penanya, secara tidak sadar, mengatakan karena Tuhan itu Mahakuasa Dia bisa melakukan apa saja yang termasuk kegagalan! Ini tidak rasional dan absurd karena sama saja dengan mengatakan “sesuatu yang Mahasegalanya tidak dapat menjadi Mahasegalanya!”

Kesimpulannya, Tuhan dapat membuat batu yang lebih berat daripada yang dapat kita bayangkan, tapi Dia selalu dapat menggerakkan batu, yang harus dipahami kegagalan bukanlah bagian kemahakuasaan.

Pertanyaan kedua, bisakah Tuhan memiliki kehendak bebas (free will) jika Dia mengetahui segala sesuatu?

Dalam akidah Islam, Tuhan itu ‘Maha Mengetahui’ dan kehendak-Nya selalu terpenuhi. Akibatnya ada orang yang mempertanyakan “Apakah Tuhan benar-benar memiliki kehendak bebas jika Dia mengetahui segala sesuatu? Terutama karena pengetahuan-Nya mencakup hal-hal yang akan Dia lakukan? Dan jika Dia tahu apa yang akan Dia lakukan, tidakkah membuat tindakan-Nya tergantung pada pengetahuannya-Nya, yang akibatnya Dia tidak memiliki kehendak bebas? “

Jawaban atas pertanyaan ini cukup sederhana. Si penanya menyamakan pengetahuan tentang masa depan dengan penyebab kejadian di masa depan. Sebagai contoh, jika saya tahu anak perempuan saya bangun pada jam 7 pagi, dan ketika pagi menjelang ia bangun pada waktu tersebut, apa yang menyebabkan dia bangun? Pastinya bukan karena pengetahuan saya bahwa ia akan bangun pada saat itu; sepertinya lebih karena ‘jam biologis’-nya, jangan lupa mungkin juga disebabkan ia lapar atau ingin bermain! Demikian pula jika saya tahu saya akan mengangkat beban 140 kg ketika saya pergi ke gym (tempat olahraga) besok, apakah berarti pengetahuan saya bahwa saya mampu mengangkat beban membuat saya melakukannya? Tidak, faktanya bisa memilih pergi ke gym, termasuk saya persiapan fisik, membuat saya bisa mengangkat beban berat, dan bukan pengetahuan bahwa saya memang bisa.

Jadi pengetahuan Tuhan tentang peristiwa-peristiwa masa depan, termasuk tindakan-Nya sendiri, tidak berarti pengetahuan-Nya menyebabkan Dia bertindak dengan cara tertentu. Sebagai contoh, fakta Dia menciptakan dunia dan menempatkan manusia sebagai wakil-Nya (vicegerents) di sana tidak berarti pengetahuannya-Nya itu memaksa melakukannya. Juga pengetahuan bahwa Dia akan memasukan manusia ke surga tidak membuat Dia melakukannya, kecuali karena rahmat dan cinta-Nya. Hal Ini dirangkum dengan fasih dalam kitab Aqidah Tahawiyah,

“Ia membimbing, melindungi, dan memelihara siapa saja yang Dia kehendaki dengan rahmat-Nya. Dan Dia menyesatkan, mengabaikan, dan menghukum siapa saja yang Dia kehendaki dengan keadilan… Tuhan selalu tahu jumlah orang yang masuk surga dan mereka yang memasuki neraka. Tidak ada yang bertambah atau berkurang dari angka itu.”

Jadi bimbingan-Nya tidak terwujud dengan sendirinya karena Dia tahu siapa yang akan diberi pentunjuk, tetapi lebih karena rahmat-Nya, dan hal ini tidak bertentangan dengan sifat-Nya. Singkatnya pengetahuan tidak sama dengan kausalitas.

Catatan akhir
Dalam tulisan berikutnya, insya Allah, akan lebih banyak pertanyaan yang akan dijawab berkaitan dengan topik yang beragam. Namun tidak berarti saya memiliki semua jawaban, dan memang tidak. Hanya berarti saya mencoba mengikuti petunjuk al Qur’an, “Tanyalah orang-orang yang tahu, jika Anda tidak tahu.” Begitu pula yang saya sarankan kepada setiap orang. Dalam Islam, Tuhan adalah sumber dari segala pengetahuan, karenanya bertanya itu belajar dan belajar itu dapat membebaskan diri dari kebodohan, sebagaimana sabda Nabi Muhammad,

“Obat ketidaktahuan adalah bertanya dan belajar.” “Aku berdoa semoga kita semua masuk dan berada dalam cahaya itu, amiin.

Seri: terjemahan
http://www.facebook.com/note.php?note_id=389741487584

Filsafat Tuhan dan Tuhan Filsafat, antara Barat dan Islam

Beberapa waktu lalu,saya pernah berdiskusi ,dan meperbincangkan tentang agama yang awalnya tentang konsep agama,peradaban akhirnya menjurus pada pertanyaan-pertanyaan tentang tuhan.Terkadang pertanyaan-pertanyaan ini sangat menarik dan sangat sulit untuk menjawabnya.Sulit sekali karena tentunya saya sebagai muslim berkeyakinan bahwa Tuhan itu ada ,dan memperkenalkan dirinya dengan diutus rasul-rasul yang membawa risalahNya.Disisi lain,ada yang mempertanyakan tentang keeksisan Tuhan itu sendiri.Dan jika berdiskusi tentang Tuhan,seolah-olah filsafat bermain disini tanpa adanya batasan-batasan dari agama.Pertanyaan-pertanyaan yang “berat” seperti Apakah Tuhan mampu menciptakan Tuhan lain yang menyamai diriNya,atau Sanggupkah Tuhan menciptakan makhluk yang sama dengan dirinya

Sebenarnya saya sudah mengtahui arah pertanyaan selanjutnya dan konsekuaensi .jawabannya. Baik jawaban positif maupun negatif hasilnya sama saja.Kita simpulkan Tuhan tidak berkuasa.Jika dia tidak bisa menciptakan,maka dia Tidak Kuasa,jika dia mampu menciptakan,maka tetap dia Tidak Kuasa,karena Tuhan tidak perlu Tuhan lain alias sendiri saja sudah cukup.Pertanyaan –pertanyaan seperti ini dapat dipastikan pertanyaan seorang sekuler atau ateis, pikir saya. Dan saya juga yakin, sebenarnya ia tidak membutuhkan jawabannya..

Jawaban untuk semacam pertanyaan ini tentu saja dapat dijawab dengan keimanan masing-masing agama,ataupun pembuktian Theis ,agamama manapun bahwa Tuhan itu ada,maka dari itu sebelum menjawab pertanyaan diatas,maka saya tanyakan balik,coba ceritakan Tuhan yang kamu maksud itu seperti apa??Definisi Tuhan menurut kamu itu seperti apa??Tentu jika dia atheis aneh sekali mengurusi hal-hal ketuhanan seorang Theis,jika dia Theis,maka ini menjadi ironi sebab dalam Theis,terdapat yang namanya keimanan,selain juga berfilsafat.Maka akan terjadi benturan antar theis dengan memperbandingkan Tuhannya masing-masing.Coba kita lihat perkataan Newton

Ketuhanan dalam agama Yahudi dan Kristen, sangat problematic. Karena itu, ia ditolak sains
Pertanyaan apakah Tuhan bisa membuat lebih baik dari yang ada ini, pernah diajukan Peter Abelard. Dia sendiri juga bingung menjawab. Pertanyaan orang-orang seperti ini mungkin nyontek dari situ. Tapi yang jelas bukan dari pikirannya sendiri. Apa makna Tuhan baginya kabur. Bertanya tanpa ilmu akhirnya menjadi seperti sebuah hiburan,karena yang bertanya tidak tahu apa yang sebenarnya ia tanyakan.Dan menjadikannya sebagai guyonan semata
Di Barat, diskursus tentang Tuhan memang marak dan terkadang mirip guyonan. Presedennya karena teologi bukan bagian dari ketetapan permanen tapi dapat berubah . Layaknya wacana furu’ dalam fiqih. Ijtihad tentang Tuhan terbuka lebar untuk semua. Siapa saja boleh bertanya apa saja. Akibatnya, para teolog kewalahan.Filsafat memang berkembang disana dimulai dari zaman Yunani sampai romawi. Pertanyaan-pertanyaan rasional dan protes-protes teologis gagal dijawab. Teolog lalu digeser oleh doktrin Sola Scriptura. Kitab suci bisa difahami tanpa otoritas teolog, sosiolog, psikolog, sejarawan, filosof, saintis dan bahkan orang awam pun berhak bicara tentang Tuhan.

Hadits Nabi jika suatu perkara diberikan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah waktu [kehancuran] nya) terbukti. Katolik pun terpolarisasi menjadi Protestan. Protestan menjadi Liberal dan al-sa’ah itu barangkali lahirnya apa yang disebut dengan modern atheism. Dalam tulisan sebelumnya bagaimana peradaban Barat yang tersisa saat ini hidup dari masa lalu yang suram.Barat maju karena membahas hal yang seperti ini.Ada yang namanya sekulerisme dan Liberalisme.Dan maju akibat meninggalkan agamanya
Apa kata Michael Buckley dalam At The Origin of Modern Atheism meneguhkan sabda Nabi. Ateisme murni di awal era modern timbul karena otoritas teolog diambil alih oleh filosof dan saintis. Terbukti bahwa ada yang namanya modernism yang identik dengan barat dan membuang nilai-nilai Tradisonal yang Barat menganggapnyasebagai sesuatu yang tidak masuk akal.Ini karena kekelaman masa lalu Barat dan Traumatis Barat dengan agamanya dimana disaat itu terjadi era yang namanya “Dark Age” saat gereja sangat berkuasa dan setelah itu muncul yang namanya era “Rennaisance” dimana mereka sudah meninggalkan agama mereka,mempertanyakan tentang ketuhana,dll

Descrates hanya percaya Tuhan filsafat, bukan Tuhan teolog, Lalu siapa yang bermasalah? Bisa kedua-duanya. Ini membingungkan. Pernyataan eksplisit Jika barat trauma dengan agama yang dianutnya sebagai sebuah Teologi,maka pernyataan Descrates bahwa bukan Tuhan teolog yang ia percaya,bisa jadi karena memang ada permasalah tentang Teologi di Barat saat itu.
Konsep Tuhan akhirnya harus dicari dengan hermeneutik dan kritik terhadap teks Bible. Tapi malangnya kritik terhadap Bible (Biblical Criticism), bukan tanpa konsekuensi. Biblical Criticism, kata Buckley, justru melahirkan ateisme modern. “Modern Atheism”yang sekarang sedang berkembang di Barat.Sebuah pemikiran bahwa Tuhan itu Tuhan Filsafat,bukan Tuhan Teolog…
Alasan-alasan para filosof ini sebenarnya lugas dan logis. Ketika orang ragu akan teks Bible ia juga ragu akan isinya, akan kebenaran hakekat Tuhan dan kemudian tentang kebenaran eksistensi Tuhan sendiri. Hasil akhirnya adalah ateisme.
Tapi ateisme modern bukan mengkufuri Tuhan, tapi Tuhan para teolog tuhan agama-agama. Yang problematik, kata Voltaire bukan Tuhan tapi doktrin-doktrin tentang Tuhan. Tuhan Yahudi dan Kristen, kata Newton problematik karena itu ia ditolak sains. Tuhan, akhirnya harus dibunuh. Nietzche pada tahun 1882 mendeklarasikan bahwa Tuhan sudah mati.

Tapi ia tidak sendiri. Bahkan bagi Feuerbach, Karl Marx, Charles Darwin, menyatakan jika Tuhan belum mati, tugas manusia rasional untuk membunuhNya. Tapi Voltaire (1694-1778) tidak setuju Tuhan dibunuh. Tuhan harus ada, seandainya Tuhan tidak ada, kita wajib menciptakannya. Hanya saja Tuhan tidak boleh bertentangan dengan standar akal. Hal ini seperti yang saya sebutkan diawal ,menjadi sebuah hiburan dan guyonan tentang Tuhan itu sendiri.

Belakangan Sartre seorang filosof eksistensialis mencoba menetralisir, Tuhan bukan tidak hidup lagi atau tidak ada, Tuhan ada tapi tidak bersama manusia. “Tuhan telah berbicara pada kita tapi kini Ia diam”. Sartre lalu menuai kritik dari Martin Buber seorang teolog Yahudi. Anggapan Sartre itu hanyalah kilah seorang eksistensialis. Tuhan tidak diam, kata Buber, tapi di zaman ini manusia memang jarang mendengar. Manusia terlalu banyak bicara dan sangat sedikit merasa. Filsafat hanya bermain dengan imej dan metafora sehingga gagal mengenal Tuhan, katanya.
Itulah akibat memahami Tuhan tanpa pengetahuan agama, tulisnya geram.

Filosof berkomunikasi dengan Tuhan hanya dengan fikiran, tapi tanpa rasa keimanan. Martin lalu menggambarkan “nasib” Tuhan di Barat melalui bukunya berjudul Eclipse of God. Saat Blaise Pascal (1623-1662) ilmuwan muda brilian dari Perancis meninggal, dibalik jaketnya ditemukan tulisan “Tuhan Abraham, Tuhan Ishak, Tuhan Yakub, bukan Tuhan para filosof dan ilmuwan.” Kesimpulan yang sangat cerdas. Inilah masalah bagi para filosof itu.
Begitulah, Barat akhirnya menjadi peradaban yang “maju” tanpa teks (kitab suci), tanpa otoritas teolog, dan last but not least tanpa Tuhan. Barat adalah peradaban yang meninggalkan Tuhan dari wacana keilmuan, wacana filsafat, wacana peradaban bahkan dari kehidupan publik.
Tuhan, kata Diderot, tidak bisa jadi pengalaman subyektif. Jikapun bisa bagi Kant juga tidak menjadikan Tuhan “ada”. Berfikir dan beriman pada tuhan hasilnya sama. Kant gagal menemukan Tuhan. Kant mengaku sering ke gereja, tapi tidak masuk. Ia seumur-umur hanya dua kali masuk gereja: waktu di baptis dan saat menikah. Maka dari itu Tuhan tidak bisa hadir dalam alam pikiran filsafatnya.
Muridnya, Herman Cohen pun berpikir sama. “Tuhan hanya sekedar ide”, katanya. Tuhan hanya nampak dalam bentuk mitos yang tak pernah wujud. Tapi anehnya ia mengaku mencintai Tuhan. Lebih aneh lagi ia bilang “Kalau saya mencintai Tuhan”, katanya, “maka saya tidak memikirkanNya lagi.” Hatinya kekanan fikirannya kekiri. Pikirannya tidak membimbing hatinya, dan cintanya tidak melibatkan pikirannya.
Tuhan dalam perhelatan peradaban Barat memang problematik. Sejak awal era modern menggambarkan mind-set manusia Barat begini: Theology is known by faith but philosophy should depend only upon reason. Maknanya teologi di Barat tidak masuk akal dan berfilsafat tidak bisa melibatkan keimanan pada Tuhan. Filsafat dan sains di Barat memang area non-teologis alias bebas Tuhan. Tuhan tidak lagi berkaitan dengan ilmu, dunia empiris. Tuhan menjadi seperti mitologi dalam khayalan. Akhirnya Barat kini, dalam bahasa Nietzche, sedang “menempuh ketiadaan yang tanpa batas”.
Tapi anehnya, kita tiba-tiba mendengar mahasiswa Muslim “mengusir” Tuhan dari kampusnya dan membuat plesetan tentang Allah gaya-gaya filosof Barat. Ini guyonan yang tidak lucu, dan wacana intelektual yang aneh. Jika ada muslim yang ikut-ikutan berguyon tentang Tuhan,yang dari awal sudah jelas,dan tidak membingungkan tentunya agak rancu karena ia sendiri mewacanakan yang Baratpu dibuat kebingungan setengah mati

Konsep Tuhan dalam tradisi intelektual Islam tidak begitu. Konsep itu telah sempurna sejak selesainya tanzil. Bagi seorang pluralis ini jelas supremacy claim. Tapi faktanya Kalam dan falsafah tidak pernah lepas dari Tuhan. Mutakallim dan filosof juga tidak mencari Tuhan baru, tapi sekedar menjelaskan. Penjelasan Al-Quran dan hadith cukup untuk membangun peradaban.
Ketika Islam berhadapan dengan peradaban dunia saat itu, konsep Tuhan, dan teks Al-Quran tidak bermasalah. Hermeneutika allegoris Plato maupun literal Aristotle pun tidak diperlukan. Hujatan terhadap teks dan pelucutan otoritas teolog juga tidak terjadi. Malah kekuatan konsep-konsepnya secara sistemik membentuk suatu pandangan hidup (worldview).

Islam tidak ditinggalkan oleh peradaban yang dibangunnya sendiri. Itulah sebabnya ia berkembang menjadi peradaban yang tangguh. Roger Garaudy mengatakan Islam adalah pandangan terhadap Tuhan, terhadap alam dan terhadap manusia yang membentuk sains, seni, individu dan masyarakat.
Islam membentuk dunia yang bersifat ketuhanan dan kemanusiaan sekaligus. Jika peradaban Islam dibangun dengan gaya-gaya Barat menghujat Tuhan itu berarti mencampur yang al-haq dengan yang al-batil,yang seharusnya Muslim bangga menjadi seorang muslim,bukannya malah ikut-ikutan kebingungan seperti Barat.Tentan pengantar peradaban Islam bisa di baca disini

Wallahu alam
Sumber Bacaan:
Filsafat Islam,Mizan
Hidayatullah: Dr.Hamid Fahmi Zakarsy