Posts Tagged ‘ perjalanan ’

Catatan Haji (1) : Arafah yang Syahdu, Arafah yang Dirindu

Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar….Lailaha Ilallahu Allahu Akbar…Allahu Akbar Walillahilhamdu…

“al-hajju ‘arafatun,” kata sang Nabi, bahwa Haji adalah Arafah.
Maka, kita mulai catatan perjalanan haji ini dari Arafah, sebagaimana perjalanan hidup manusia. Dari Arafah ini, pertemuan nan dirindu itu berawal. Dari Arafah, nasab kita tersambung padanya.

Mengapa? Karena, di Arafahlah Adam dan Hawa bersua. Dari Arafah, akhirnya cerita tentang kita bermula, dengan berjuta kisah dan makna. Di Arafah pula, sang kekasih Allah, Ibrahim, merenungi perjalanan hidupnya.

Dan di Arafahlah, sang Nabi menyampaikan khutbah haji pertama, sekaligus terakhirnya. Khutbah yang begitu menyentuh, yang gemanya terus diwariskan berabad-abad, hingga kini, dan masa yang akan datang.

”Ala Falyuballigh al-Syahidz Minkum al-Ghaib,” kata Rasulullah. Bahwa orang-orang yang hadir di hadapan sang Nabi hendaknya menyampaikan apa yang disampaikan Rasulullah ke orang-orang yang tidak hadir. Dan Arafah tetap menjadi tempat nan dirindu hingga akhir zaman!

Lautan manusia. Berjuta hamba bersimpuh di hadapan sang Maha. Menangis haru, dengan suasana sangat syahdu. Sebab, “Haji itu Arafah,” kata sang Nabi. Berkumpullah seluruh jamaah haji pada satu waktu, satu tempat, satu tujuan: menunaikan rukun Islam kelima!

Maka, izinkan saya menulis pengalaman berhaji pada tahun 1347 (2016), dimulai dari Arafah. Sebuah kenikmatan luar biasa, saat saya diberikan kesempatan untuk menunaikan rukun Islam ke-5 ini dalam usia yang bisa dibilang cukup muda, kira-kira seperempat abad, hehe.

Tak pernah terbayangkan sama sekali, dalam pada saat itu saya akan berangkat haji. Proses persiapannya pun sangat super mendadak sekali, sampai saya baru tahu bahwa saat saya berangkat hari Sabtu (4/9), hari Jumat kemarinnya visa haji saya itu baru terbit.

“Perjalanan penuh kejutan,” itu yang benar-benar saya rasakan. Ketika saya sedang di dalam pelosok Jawa Timur, tiba-tiba sebuah pesan singkat masuk, saya diminta mengirimkan scanan paspor oleh organisasi profesi tempat kami bernaung, Jurnalis Islam Bersatu (JITU).

Prosesnya pun sangat cepat dan mendadak sekali, sehingga, untuk persiapan manasik, saya lakukan sendiri dengan bimbingan beberapa ustaz yang saat itu sudah berangkat haji. Untuk lebih detailnya, semoga catatan perjalanan haji yang sudah beberapa bagian saya tulis bisa diterbitkan dalam sebuah buku bersama catatan haji undangan.

Saya berangkat satu rombongan berjumlah 52 orang, dengan visa haji undangan kerajaan Arab Saudi, dengan provider Yayasan Al Manarah al Islamiyyah yang dibina oleh Syaikh Khalid Al Hamudi, seorang dai muda dan pengusaha Saudi yang concern isu keumatan.

Berkali-kali, beliau menghajatkan helatan Multaqa Ulama dan Dai se-Asia Tenggara, sampai Ulama dan Dai se-Dunia baru-baru ini di Padang, dan alhmadulillah, saya bisa bersua kembali dengan beliau di Padang bulan Juli lalu.

Tahun ini (2017), Yayasan Al Manarah Islamiyah mengundang haji sekitar 120 orang, termasuk 30-an kepala suku asal Papua, juga ustaz Bachtiar Nasir, ustaz Tengku Zulkarnaen, dll. Tahun saya berangkat, saya satu rombongan bersama Wali Kota Padang Pak Mahyeldi, Hafiz Cilik si Kembar, Masyita, Kayla, Pak Nafaris dan Naftali (Kepala Suku Papua), Mas Amrulya (Mualaf Center Yogyakarta), Agus Abdullah (Ketua JITU), dll dengan kepala rombongan ustaz Umar Makka.

Kembali menuju Arafah, saya ingat sekali, saat itu adalah hari Sabtu di Arafah yang syahdu. Sehari sebelumnya, setelah shalat Jumat di Masjidil Haram, sorenya kami bersiap berangkat ke Mina untuk mabit. Kami ke Mina sudah berihram, bersiap menjalani prosesi haji empat hari ke depan.

Untuk jamaah haji Indonesia reguler sepertinya tidak bermalam di Mina pada tanggal 8 Dzulhijjah, tapi langsung ke Arafah. Sedangkan saya bersama rombongan undangan kerajaan dari pelbagai provider bermalam di Mina, khususnya di Maktab 50.

Kalau di lihat di papan maktab 50, maktab ini adalah maktab gabungan Asia Tenggara. Maktab ini terletak di pinggir jalan antara terowongan ke dua dan ketiga menuju jamarat untuk lempar jumrah. Karenanya, di samping maktab 50, banyak orang berseliweran khususnya nanti saat masa-masa lempir jumrah.

Untuk Mina, akan ada catatan tersendiri, mengingat 4 hari kami berada di Mina, mulai tanggal 10 Dzulhijjah hingga berakhir tasyrik karena mengambil nafar tsani, sebelum thawaf ifadhah.

Setelah shalat subuh di dalam tenda di Mina, kami harus bersiap-siap berangkat ke Arafah. Rupanya tenda yang kami tiduri di Mina, bukan tenda milik rombongan kami. Terpaksa kami harus pindah, ke tenda yang lebih kecil, untuk menaruh tas, bersiap ke Arafah.

“Labbaik Allahumma Labbaik…Labbaikalaasyarikalakalabbaik….”
“Innal hamda…Wani’mata…”
“Lakawalmulk….Laasyarikalaka…”

Jujur, saat mengucapkan itu tiba-tiba air mata saya mengalir. Di depan maktab 50 di Mina, saya melihat lautan manusia berderet, bersiap menuju Arafah. Bersiap menunaikan rukun haji.

Ya Rabb, saya sekarang sudah sampai di rumah Mu!
Ya Rabb, berjuta rindu hambaMu, engkau tampakkan kekuasaanMu, memberangkatkan hambaMu yang hina dan lemah ini, bersimpuh di hadapanMu dengan membawa berjuta dosa dan alfa
Ya Rabb, inilah hambaMu yang bergelimang dosa, yang masih engkau berikan nikmat bersimpuh di Baitullah..
Ya Rabb, sebentar lagi hambaMu ini akan menuju Arafah, satu-satunya tempat jamaah haji secara bersamaan berkumpul dalam satu waktu
Ya Rabb, jadikan haji ini haji yang mabrur, haji yang benar-benar engkau ridhoi, ijabah segala permintaan hambaMu

“Labbaik Allahumma Labbaik…Labbaikalaasyarikalakalabbaik….”
“Innal hamda…Wani’mata…”
“Lakawalmulk….Laasyarikalaka…”

Ya Rabb, inilah kami, Kami yang akan memenuhi seruanMu
Tiada sekutu bagi-Mu dan kami insya Allah memenuhi panggilan-Mu.
Sesungguhnya segala pujian, nikmat dan begitu juga kerajaan adalah milik-Mu dan tidak ada sekutu bagi-Mu.

Dengan mantap, dan mata berkaca saya menaiki bus yang mengantar kami ke Arafah. Bus bercampur dengan beragam jamaah dari pelbagai negara di daerah maktab 50. Saya lihat ada orang Arab, Eropa, Jepang, dan sebagainya.

Saya kebagian berdiri di bagian tengah, laiknya berdiri di atas commuter dari Sudirman ke Tebet, bus ‘odong-odong’ Abu Sharhaad yang cukup panjang ini menampung para tamu Allah menunaikan rukunnya.

Tiba-tiba, di dalam bus menggema kalimat talbiyah..
Meleleh air mata ini.

“Labbaik Allahumma Labbaik…
“Labbaikalaa syarikalakalabbaik….”
“Innal hamda…Wani’mata…”
“Lakawalmulk….Laasyarikalaka…”

Pemandangan begitu dramatis, air mata ini terus meleleh, dengan mulut berucap kalimat talbiyah. Pemandangan di luar bus, ribuan, ratusan ribu orang, jutaan orang menyemut, bersiap berangkat ke Arafah.

Bus kami mengantre keluar Mina, melewati maktab-maktab, 50..51…52…55.. 70…dan terus, melihat orang berpakaian ihram putih-putih sepanjang perjalanan, diiringi terkadang kalimat takbir, dan talbiyah yang menggema, sebagaimana hadits nabi

“Kami berangkat pagi-pagi bersama Rasulullah dari Mina ke Arafah. Dalam rombongan kami, ada yg membaca talbiyah, & ada pula yg membaca takbir. (HR. Muslim No.2252).

Bus melaju melewati lautan manusia, melewati jalan layang, dan pemandangan Mina begitu dramatis, dengan lampu dan tenda-tenda di tiap maktab berderet sepanjang kiri, kanan, putih mengkilap. Di sinilah, jutaan jamaah haji akan menginap tiga hari setelah Arafah.

Sekira jam 9-nan, saya dan rombongan maktab 50 tiba di Arafah. Memasuki kawasan ‘arafah’ kita akan menemukan plank besar, semacam baligo yang menandankan bahwa ‘selamat datang di Arafah’, dan dikelilingi tanaman-tanaman entah kurma, entah seperti tanaman yang cukup rimbun yang cukup banyak di Arafah.

Di sana berjejer tenda-tenda semi terbuka, terbuka, atau ada yang tertutup. Ada spanduk dari mana jamaah-jamaah apakah dari kloter ini, atau haji khusus atau penanda. Sedangkan, jamaah rombongan kami, rupanya tidak ada spanduk-spanduk khusus.

Kami sempat –lagi-lagi- salah masuk tenda, karena nantinya itu ada yang menempati kalau tidak salah dari rombongan haji khusus (ONH Plus). Walhasil, kami pindah ke sebuah tenda. Waktu Arafah adalah setelah shalat zuhur hingga matahari terbenam, itulah Arafah dan kita, jamaah haji diwajibkan wukuf di Arafah.

Sebelum masuk zuhur, beberapa jamaah yang kelelahan tampak tidur-tiduran, karena persiapan nanti siang. “Yang mau istirahat bisa sekarang, nanti kita fokus wukuf,” kata beberapa ustaz.

Ada tiga ustaz dalam rombongan jamaah haji undangan. Pertama ustaz Khudori, yang merupakan staf atase agama Kedubes Saudi Arabia, belakangan saya tahu beliau sebagai aktivis MIUMI (Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia). Ada juga ustaz Faruq, yang lebih sepuh. Dan terakhir, ustaz Umar Makka, yang merupakan amir (pemimpin) rombongan undangan haji Syaikh Khalid Al Hamudi, Yayasan Al Manarah Islamiyah.

IMG-20160912-WA0025

Suasana tenda menjelang wukuf Arafah, saya sedang memegang ‘aqua’, di tengah belakang. Tampak dua orang kepala suku Papua, mas Amrulya dari Mualaf Center (masker), kang Zaenal (pabrik Nike). Foto : rizkilesus

Saya pun berusaha mengingat tempat tenda kami berkumpul, melihat di mana toilet yang sudah dipenuhi jamaah haji dari pelbagai tempat di dunia. Padan arafah dipenuhi pasir-pasir, dan juga pohon juga sebagian paving untuk jalur pedestrian.

Di atas pasir, didirikan tenda-tenda, yang memiliki celah. Terik matahari menggantung menyelusup ke dalam tenda-tenda jamaah. Satu tenda besar bisa diisi oleh 300 orang. Kalau di dalam tenda, suasana agak pengap, karenanya orang-orang banyak berjalan-jalan sebelum waktu wukuf Arafah.

“Arafah yang Syahdu,” begitulah saya menamainya, sebagaimana dua bulan sebelumnya saya menamai judul tulisan rubrik ‘Inspiring Quran’ yang diasuh ustaz Budi Prayitno. Dalam ceramahnya, yang saya transkrip, ustaz Budi menceritakan tentang kesyahduan Arafah.

Ada juga sebelumnya saya beri judul ‘Nasi Ayam Kiriman Allah’, tentang jamaah haji yang didatangi orang-orang Arab dan diberi makanan di tenda-tenda di Arafah, yang tak disangka saya pun mengalaminya langsung.

Saya juga yakin, setiap orang yang pernah merasakan wukuf di Arafah, akan merasakan perasaan ‘Arafah yang Syahdu’ yang sulit terungkap. Hanya air mata dan hati yang terus tergedor yang dapat merasakannya.

Bersimpuh sendiri, mematung, sebagaimana halnya sang Nabi duduk menangkupkan kedua tangannya dan mematung hingga gelap menjelang. Arafah yang syahdu, begitu membekas. Sulit diungkapkan :), berjuta cerita, berjuta makna.

Menurut baginda Nabi, Haji adalah Arafah. Arafah yang merupakan rukun, adalah momen yang sangat penting dalam ritual ibadah haji. Arafah adalah puncak ibadah haji.

“Dan saat Arafah, Allah membanggakan para jamaah haji di hadapan malaikat dan penghuni langit. Arafah adalah waktu ‘wisuda’ bagi jamaah haji. Arafah adalah bagian yang sangat penting,” begitu kata ustaz Budi Prayitno.

Singkat memang, hanya enam jam sajan  waktu wukuf itu, namun begitu bermakna. Arafah mengajarkan kehidupan yang begitu singkat, dan memang begitulah memang kehidupan.
Singkatnya waktu wukuf hanya dari zuhur hingga magrib, menandakan bahwa kehidupan kita yang singkat. Memasuki Arafah, jamaah ditentukan waktunya. Pun saat keluar, ada saat yang ditentukan. Menuju ke Arafah, yang dihitung sebagai wukuf, adalah saat mulai shalat zuhur pada tanggal 9 Zulhijjah. Usai shalat Maghrib, jamaah meninggalkan Arafah.
Begitulah hidup kita. Ketika Allah menakdirkan kita lahir, maka lahirlah kita. Jika Allah menakdirkan kita meninggal, maka meninggallah kita. Arafah adalah gambaran jelas bahwa hidup kita akan seperti wukuf di padang Arafah.

Kita akan lahir di waktu dan tempat yang sudah ditentukan. Kita pun akan mati, di waktu yang telah Dia tentukan.

Menjelang zuhur, sang Nabi dulu menyampaikan khutbah Arafah, yang begitu kesohor. Dan saat ini, di Arafah, kami pun menyimak khutbah Arafah dari ustaz Khudori. Sebelum khutbah, ustaz Khudori mengingatkan kami agar menelepon keluarga di Indonesia, karena begitu pentingnya Hari Arafah ini.

“Kita telepon ibu kita, istri kita, anak kita, orang-orang yang kita cintai di Indonesia, karena setelah ini kita akan masuk waktu wukuf. Menangislah, meminta maaflah kepada mereka, jika kita banyak salah, akui segala kesalahan kita,” kata ustaz Khudori.

Namun, tak semua orang bisa menelepon langsung, karena sepertinya jaringan begitu sibuk dan ramai, bayangkan ada 2 juta orang berkumpul! Ustaz Khudori menyampaikan khutbah Arafah yang begitu menyentuh, sukses membuat kami menangis sesenggukan.
Khutbah itu, akan saya tuliskan di dalam tulisan berbeda setelah ini. Seperti nasehat para ustaz, Arafah adalah saat kita merasakan kedekatan dengan Allah. Di Arafah, kita berusaha mengenal diri kita, bertafakkur diri.

Ketika kita mencoba mengenal diri, maka saat itu pula kita tengah mencoba mengenal Allah. Di Arafah, kita juga menghisab diri, merenungi dosa-dosa yang pernah kita lakukan. Kita menghitung amal yang begitu sedikit. Kita melihat masa depan, memikirkan apa yang bisa kita lakukan dengan amal dan ilmu yang sedikit ini. Kita menghitung dosa yang begitu banyak.

Di Arafah, tangis kita tumpah. Terisak-isak bersimpuh pada-Nya. Arafah adalah tempat dan waktu yang sangat spesial di muka bumi. Hanya pada tanggal 9 Dzulhijjah. Di titik itu, orang boleh melakukan wukuf, yang hanya bisa dilaksanakan di Padang Arafah.

Di Arafah, kita bertafakkur, yang berujung pada mengenal diri dengan baik, dan mengenali Allah. Mengenali setiap kekurangan diri, dan bertekad memperbaikinya usai Arafah. Mengenal Allah dengan baik, mengetahui secara persis bahwa Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Dia memiliki Nama-Nama yang baik, memiliki Kuasa di atas segala Kuasa, dan Kemampuan di atas segala Kemampuan. Dia yang akan menaikkan, menurunkan, membuka, atau menutup segalanya. Di Padang Arafah, kita akan merasakan kedekatan dengan Allah.

Dan pada saat itu, seharusnya kita mendapat pemahaman lebih tentang diri kita. Kita akan terus bersimpuh, bersujud, malu kepada Allah, karena begitu banyak nikmat yang Ia berikan. Betapa sedikit amal yang kita lakukan. Dan pada saat yang sama, merasakan betapa banyak dosa yang kita lakukan.

Arafah adalah tempat dan saat terbaik di dunia. Arafah dalah tempat di mana tangis kita tumpah, pengakuan diri menggelegak. Arafah, adalah saat dan tempat di mana kita tak memiliki dinding dengan diri kita sendiri. Pengakuan dosa-dosa, kekurangan diri, dan komitmen tinggi untuk memperbaiki diri.

Usai khutbah, dan ditutup doa berurai air mata, kumandang azan mengalun syahdu. Khutbah dan shalat digelar di tiap-tiap tenda grupnya. Shalat digelar dengan jamak dan qashar.

Ya Rabb,,,inilah hambaMu yang hina, kini berdiri, rukuk, sujud di Arafah…..

Tak terasa, suasana begitu mengaduk-aduk emosi. Shalat yang begitu membekas. Dengan segala kesyahduan dan kerinduan akan Arafah. Bahwa setelah shalat, waktu itu tiba. Waktu dan tempat terbaik di dunia : Wukuf di Arafah.
Bersambung…

Advertisements

Hamparan Sajadah di atas Mavi Marmara

Kumandang adzan subuh membelah langit Laut Marmara. Para relawan kemanusiaan itu dalam hening dan syahdu, bertakbir, tahmid, tasbih dalam berdiri, rukuk, dan sujudnya. Dalam hening, sang Fajar masih belum menyingsing, asyik berselimut kegelapan. Sunyi, hanya ditemani desiran ombak hitam, membelai lembut Kapal Mavi Marmara.

Mavi, orang – orang sini menyebutnya biru. Biru, laut Marmara itu selalu membiru, membentang, secerah biru di atas langit sepanjang cakrawala. Suasana begitu tenang, saat kapal itu mengangkut anak-anaknya, para relawan kemanusiaan merentas seberang, menembus blokade Isarel, berharap berjumpa Gaza, Palestina jauh di hadapan, menunaikan amanat umat.

Mavi Marmara, ialah kisah yang tak kan terlupa, di penghujung Desember tiga tahun silam. Dalam sunyi itu, suara angin berkelebat, deru pesawat tiba menghampiri, tali bergelayut, sinar-sinar bersorot ke sana ke mari. Panik? Dalam sekejap saja, suara tembakan membelah kesunyian langit. Satu..dua..darah mengucur deras.

Tentara-tentara itu berdatangan, kukuh dalam blokadenya. Tak seorang pun boleh masuk ke dalam Gaza. “Kalian membawa senjata,” teriaknya, sembari mengangkat barang bukti berupa kain, obat-obatan, makanan,  selimut, pakaian, dan kitab suci, dan itulah senjata yang dituduhkan, yang membuat mereka bergetar. Marmara, laut biru berkelebat, tiga tahun kemudian.

***

Di atas Laut Biru Marmara

Kumandang adzan membelah birunya langit Marmara yang hendak berganti dengan kilaunya keemasan.  Burung –burung camar berputar-putar, mendekat, menjauh, melayang, suaranya riang. Angin menderu hebat, dinginnya musim dingin menusuk kulit. Teringat, apa yang terjadi tiga tahun silam di sini, di laut nan biru ini. Mata ini terkenang, mengingat, apa yang kami lakukan, tak jauh dari mereka. Saya di sini sebagai seorang wartawan, jurnalis, yang bergabung dalam tim kemanusiaan.

 

Shalat di atas laut

Shalat di atas laut

 

Dalam berdiri, rukuk, dan sujud bersama, di kemuning senja Mavi Marmara, di atas kapal feri ini air mata mengalir, tak tertahankan. Sebuah kesempatan yang sangat berharga, menikmati syahdunya senja di Mavi (Laut Biru)  Marmara. “Rukuk dan sujudlah kamu bersama,” ayat yang begitu terngiang.

DSC_0194

Di atas laut Marmara nan biru, sejumput syukur terlafal, di atas hamparan sajadah di atas Laut Biru Marmara. Kaus kaki tebal tak dapat menahan dingin yang terus melaju, menembus pori-pori. Satu hingga enam derajat Celcius, begitu tertulis pada termometer digital dalam bus, sejenak sebelum kami masuk ke Darmaga, melintasi laut Marmara.

Jamaah  sholat Jamak Takhir itu hening dalam rukuk dan sujudnya. Di atas hamparan sajadah, di atas laut biru Marmara, semua teringat peristiwa di masa silam. Kisah yang menghentak dunia kemanusiaan, mengoyak hati, menyisakan kenangan, 9 orang syuhada di atas kapal, tempat kini kami berpijak.

DSC_0272

Langit membiru, berganti kemuning senja perlahan. Angin membuat ujung syal di leher ini menari merdu. Jaket tebal, tak hanya sesaat menahan dinginnya angin laut di musim dingin. Di atas selasar kapal, di luar, beratapkan langit, semua tunduk dalam khusyuk, mengingat RabbNya, yang sangat jarang sekali dilakukan manusia, kecuali dalam lima waktu ini.

Salam terlafal, semoga kami dalam keadaan selamat, melihat misi kemanusiaan ke depan ini sangat berbahaya. Bom-bom menggelegar, birmil, mortar hingga tajamnya peluru siap menembus dada. Tiga tahun lalu, di atas laut biru ini, ancaman itu bukan sekedar cerita dari mulut, tapi sudah terjadi, dan kini seorang saksi, pemimpin rombongan kemanusiaan ini duduk terpekur di atas bangku kapal yang bergoyang, mengikuti alunan ombak.

Pak Mus, kami menyapa pria asal Malasyia, ketua NGO MASSA. Orang yang dulu berada dalam kapal Mavi Marmara itu, kini sedang termenung, mengingat masa silam. Ditulisnya sebait dua bait syair Marmara. Dibacanya sedikit berbisik dengan penuh khidmat.

 

IMG_9710

Marmara yang Indah

 

Di senja ini aku terpaku di bangku Kapal Feri

Merenung sejauh-jauhnya lautan biru tua yang terhampar

Burung Camar berterbangan rendah menyapa

Bersama deru angin dingin yang meresap ke rongga

Angin Marmara memberi makna persahabatan, kekuatan, ketegasan dan keindahan

Oh Marmara

Aku jatuh cinta PadaMu

Dan dapat meningkatkan cintaku pada Penciptamu

Indahnya Marmara membuat ku membuka mata fakta

Di sini dulu, Perahu dan kapal besar Sultan-sultan dari Khilafah Utsmaniyyah merentasinya

Dan melakukan operasi tentera sehingga ketika Muhammad Al Fatih akhirnya menawan Istanbul atau Konstantinopel..!

Aku belajar sesuatu tentang gelora perjuangan dan semangat jihad penguasamu

Penguasa yang baik sehingga mengharumkan Islam dan jiwa kemanusiaan

Rakyat merasa terbela dan izzah meeka  melonjak naik ke langit

Insan biasa menjadi hamba Allah yang tunduk mengatur sepenuhnya menurut Islam

Oh..Marmara

Terima kasih atas kesempatan ini

Semoga akan kembali lagi sehingga kegemilangan hidayah di bumi ini kembali

IMG_9712

***

Di atas sajadah di atas laut Marmara itu, doa-doa terselip. Di seberang sana, bumi Syam yang kami tuju, anak-anak kecil itu mati membeku. Di sini, atas sajadah di atas laut Marmara, kami berlapis pakaian musim dingin, sedangkan mereka di sana, hanya kaos tipis, beratap tenda, menanti badai salju segera mereda.

Di atas sajadah di atas laut Marmara, berduyun-duyun kami berganti, bersaf-saf, menghadap sang Pencipta dengan berdiri, rukuk, dan sujud. Langit biru Marmara, kini berganti menjadi kemuning keemasan. Sambil bersender, memandangi mentari di geladak kiri, burung-burung camar merendah, menghampir, medekat.

Memandang sejenak ke belakang, di sana, tempat ratusan elang laut dan camar itu bertengger, di penghujung dermaga, kota kenangan yang Pak Mus sebut-sebut. Di balik punggung ini, Instanbul, kota tua Konstantinopel yang selalu mengingatkan. Teringat saat diri ini berdiri di bawah benteng tua itu, memandang gerbang besar berlafadzkan kalimat tauhid.

DSC_0331

Menyusur gerbang, lebih masuk ke dalamnya, berguman pelan, disinilah dulu, kota yang dinubuatkan nabi. Di bawah kaki ini, tanah yang mengundang para pemimpin besar datang untuk membebaskannya. Sejauh mata memandang, ke seberang  selat Bosporus sana, di ujung sana, rumah-rumah kecil menyemut, dan di sanalah kapal-kapal itu mendentumkan meriam.

Di sana, di Asia sana pasukan Muhammad Al Fatih berjibaku, berminggu-minggu untuk mencapai tempat ini berdiri, bumi Eropa, ibu Kota Imperium Romawi yang namanya membuat gentar, Konstantinopel. Di sanalah,  Laut Hitam dan Laut Marmara dipisahkan selat Bosporus yang dihalangi rantai-rantai besar, pasukan Al Fatih tertahan.

Kini, di atas hamparan sajadah di atas laut Marmara, memori itu mulai terketuk. Kapal-kapal besar melewati kami, menuju selat Bosporus di belakang sana. 400-an Kapal-kapal dengan meriam dan layar terkembang, melaju, melawan arus kami 600 tahun silam. Kami laiknya kapal yang melarikan diri, menuju Bursa, Kota kemunculan Utsmaniyyah.

1453, saat Al Fatih muda menggelorakan para pasukan terbaiknya, menarik jangkar-jangkar, mengembangkan layar, memutar bidik teropong, melihat dari kejauhan, benteng –benteng konstantinopel itu berdiri tegak. Di belakang sana, benteng-benteng itu berdiri kokoh, benteng Al Fatih, saksi akan kegemilangan Islam di masa silam.

Kini, di atas hamparan sajadah di atas laut Marmara, semua bersiap. Hamparan sajadah itu kembali dimasukkan ke dalam tas besar, bersiap, Bursa, Ibu Kota Utsmaniyyah sebelum Konstantinopel itu menanti. Kota tua dengan benteng-benteng dan  gemerlap cahaya sepanjang malam.

DSC_0231

Mentari bulat sempurna menemani perjalanan nan dingin di Laut Marmara. Senja semakin menguning berkawan camar yang berputar membelah angkasa. Langit semakin gelap. Mentari perlahan turun ke peraduannya. Senja itu, semua berharap, semoga misi kemanusiaan ini kelak berhasil. Mengabarkan bahwa masih ada harapan, akan kedamaian yang terjadi di Bumi Para Nabi, Syam, Suriah, Palestina, Yordania, Lebanon. Insya Allah.