Membersamai Palestina

2Ramadhan 1435 H, sepenggal 2014, Gaza kembali memanas setelah serangan Israel membunuh ribuan warga sipil termasuk anak-anak. Aksi solidaritas dan penggalangan dana kemanusiaan digelar di penjuru negeri.

Saat itu, saya diminta Bu Elidawati, owner Elzata Hijab bertemu untuk membincang persiapan keberangkatan kami untuk penyaluran bantuan kemanusiaan dari masyarakat Indonesia ke Gaza. Visa Mesir kami dikabarkan sudah keluar, dan surat rekomendasi memasuki gerbang Rafah (perbatasan Mesir – Gaza) sedang diproses bersama para relawan seperti BSMI, ACT, KNRP, Sinergi Foundation, dll.

Mengapa setiap ada berita memilukan ihwal Palestina rakyat Indonesia yang masih memiliki sedikit rasa kemanusiaannya bergolak hatinya? “Ada rasa yang sangat sulit diungkapkan, ini urusan hati,” kata Bu El, sapaan akrab Bu Elidawati saat itu sambil membahas program-program kemanusiaan apa yang bisa meringankan penderitaan rakyat Palestina, ikhtiar untuk membersamai Palestina.

Kebersamaan Indonesia dan Palestina memang sudah terjalin lama, jauh sebelum kini (Desember 2017) Indonesia memprotes pengakuan sepihak Presiden Amerika Donald Trump atas Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel.

Bahkan, sebelum Indonesia merdeka, para pendiri negeri ini sudah membersamai Palestina. Dalam buku Perjuangan yang Dilupakan (2017), mengenangkan mereka dan Palestina, saya teringat akan cita-cita founding fathers kita dalam judul ‘Degup Cita Para Pendiri Bangsa untuk Palestina’, yang akan saya kutip beberapa kisahnya.

Continue reading “Membersamai Palestina”

Advertisements

Rezeki Itu Tak Pernah Terduga

“Bila kita masih bisa menebak rejeki yang datang kepada kita secara akurat, itu berarti kita perlu segera meng-upgrade keimanan kita.”

Berapa penghasilan Anda bulan ini? Berapa penghasilan Anda bulan depan? Apakah Anda bisa menebaknya secara akurat?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut mengingatkan saya saat menunaikan ibadah haji pada tahun 2006. Tepatnya, ketika pembimbing haji kami Profesor  Didin Hafidhuddin berkata, “Orang-orang yang imannya kuat rejekinya akan datang dari arah yang tak terduga-duga. Jadi bila kita masih bisa menebak rejeki yang datang kepada kita secara akurat, itu berarti kita perlu segera meng-upgrade keimanan kita.”

Ingatlah rejeki itu misteri, yang tahu persis cara kerjanya tentu hanya Sang Mahapemberi Rejeki. Dia memberi tahu melalui kitabnya bahwa rejeki akan datang berlimpah justeru ketika kita banyak memberi.

Sekarang coba Anda jawab pertanyaan ini, “Sebutkan tiga pengeluaran utama dari penghasilan Anda?” Adakah alokasi  memberi untuk orang lain yang benar-benar membutuhkan? Atau semua digunakan untuk memuaskan keinginan pribadi?

Mungkin sebagian Anda ada yang berkata, “Untuk diri sendiri saja susah kok harus ngasih orang lain.” Ya, itu logika kita. Padahal rejeki datang dan perginya sering tidak pakai logika. Maka tak usah heran bila ada tukang becak bisa menyekolahkan anaknya hingga menjadi dokter di Jogyakarta. Tetapi banyak juga kita temui orang yang sudah bekerja ngos-ngosan hasilnya hanya pas-pasan dan sibuk membayar berbagai tagihan.

Rejeki juga akan datang tanpa diduga bila kita memperbaiki hubungan dengan sesama. Menambah sahabat dan saudara serta menyambungkan tali persaudaraan dengan saudara yang memutuskannya. Hubungan dengan sesama yang paling utama tentunya dengan orang tua kita. Perbaikilah hubungan Anda dengan mereka dan jadikan mereka sebagai prioritas untuk Anda bahagiakan.

Hubungan baik dengan orang tua bukan hanya sekedar mencium tangan dan tinggal satu rumah bersama mereka. Membuat mereka bangga memiliki anak seperti Anda juga termasuk membina hubungan baik dengan orang tua. Selalu mendoakan pada setiap kesempatan, mendengarkan dan menghormati semua pendapatnya juga wujud hormat kepada mereka.

Percayalah, mendapat rejeki dari arah yang tak diduga-duga itu mengasyikkan dan membuat hidup semakin hidup. Selamat berlomba melakukan berbagai aktivitas yang menyebabkan rejeki datang tanpa diduga-duga.

 

Disepelekan Tapi Menyelamatkan

Masih ingat kisah tentang Nabi Nuh? Saat ia menjalankan perintah Allah untuk membuat kapal banyak kaumnya yang mengolok-ngolok dan menghinanya. Ada yang berkata, “Wahai Nuh! Bukankah menurut pengakuanmu, engkau seorang Nabi dan Rasul? Mengapa engkau sekarang menjadi tukang kayu dan membuat perahu?” Ada pula yang mengejek, “Kamu pasti sudah gila membuat perahu di tempat yang jauh dari air.”

Walau diejek, dicaci dan dihina Nabi Nuh tidak mempedulikan. Dia tetap menjalankan perintah-Nya dengan penuh kesungguhan. Singkat cerita, kapal besar itu pun selesai dibuat. Tidak lama kemudian, turunlah hujan lebat selama 40 hari 40 malam. Banjir besar menenggelamkan semua orang dan hewan ternak, tidak ada yang selamat kecuali yang ikut naik di atas kapal Nabi Nuh.

Pelajaran apa yang bisa kita petik? Pertama, ide atau gagasan yang disepelekan dan dihina orang saat ini, boleh jadi itulah yang menyelamatkan hidup Anda di masa yang akan datang. Banyak ide-ide bisnis yang awalnya disepelekan beberapa tahun kemudian tumbuh menggurita menjadi bisnis kelas dunia.

Teh botol dan air mineral dalam kemasan adalah dua produk yang sering menjadi contoh. Dulu banyak yang berkata, “Harga air minum kok lebih mahal dari bensin, pasti tidak akan laku.”  Tapi coba lihat sekarang, hampir di semua toko makanan, bahkan di pinggiran jalan, selalu tersedia teh botol dan air minum dalam kemasan.

Contoh lain, sahabat saya Rangga Umara sukses mengubah paradigma tentang lele. Dulu pecel lele hanya dijual di warung tenda pinggir jalan. Sekarang, Anda bisa menikmati pecel lele di ruangan nyaman ber-AC dan disajikan dengan berbagai rasa. Saya adalah salah satu pelanggan tetapnya. Sang pemilik Pecel Lele Lela itu kini sudah memiliki puluhan outlet di berbagai tempat.

Pelajaran kedua, ikutilah perintah Allah maka Anda akan selamat. Semua orang yang mengikuti Nabi Nuh untuk masuk ke dalam kapal dia selamat. Perahu Nabi Nuh ibarat perintah-Nya, siapa yang berpegang teguh kepada-Nya maka dia akan selamat.

Sungguh ilmu dan pengetahuan kita amatlah terbatas. Banyak hal yang menurut kita baik padahal itu buruk menurut-Nya. Sebaliknya, banyak hal yang menurut kita buruk tetapi itu baik menurut-Nya. Agar kita tidak salah, berpegang teguhlah pada perintah-Nya karena Dia Yang Maha Tahu.

Jadi, teruslah mencari dan membuat ide-ide brilian dalam kehidupan. Boleh jadi saat ini orang menertawakan ide Anda. Namun bila Anda yakin dan senang melakukannya, maka lakukanlah. Hanya saja, Anda harus memastikan bahwa ide Anda tidak bertentangan dengan perintah-Nya. Dengan paradigma ini, hidup Anda akan terjaga di masa yang akan datang dan masa setelah kehidupan dunia.

(Salam SuksesMulia!)

[dari Tabloid Alhikmah Edisi 71, rubri tetap mas Jamil Azzaini]

 

Berbagi Lewat Tulisan

Dalam suatu diskusi dan pelatihan Jurnalistik beberapa pekan lalu, kami diminta mendeskripsikan suasana sekitar. Sebelumnya, dalam training Jurnalistik yang saya lakukan, pun sama. Metode menggambarkan adalah salah satu cara untuk menyampaikan (communicated) gagasan kita kepada orang lain.

Di situlah, saya banyak belajar dari para senior-senior dibidang penulisan. Saat itu saya mendapat masukan yang sangat berharga yang saya rasakan sampai sekarang. “Sering-sering baca novel,” katanya. Ucapannya mantap. Sejak saat itu, bukan hanya Novel Detektif saja saya lahap, tapi bertahap novel-novelpun saya nikmati.

Selain itu, saya masih ingat nasihat guru-guru kami saat kuliah di Kampus Tercinta. Seringlah jalan-jalan dan melihat-lihat. Mulai setiap hari, saya beneran ‘jalan’ menikmati indahnya kota. Sampai pelosok-pelosok. Melirik rumah yang Indah, mendatanginya dan mewawancara pemiliknya.  Saat ini, walau masih terbatas melakukan perjalanan, tapi ini sungguh mengasyikan.

Hampir setiap hari melakukan perjalalan. Mulai dari reportase di sebuah pelosok di desa-desa, hingga jantung Ibu Kota. Mulai dari cerahnya pagi, hingga cerahnya sore hari waktu dihabiskan waktu menikmati indahnya Alam kota Bandung dan sekitarnya. Kadang, menikmati senja diperpustakaan-perpustakaan. Jika beruntung  selesai menikmati suasana saat magrib. Saat pulang ke Rumah.

Siang terik, terkadang menikmati sejuknya udara dalam mesjid-mesjid besar. Setiap hari ada suasana berbeda. Suasana yang tak pernah sama. Perjalan jurnalistik  memberikan pengalaman berharga tak ternilai.

Ia tak dapat digantikan dengan sejumlah uang. Bagaimana mewawancara wajah-wajah polos anak-anak di sudut desa karawang yang menerima THR yang tak pernah terpikirkan. Guru-guru ngaji dari berbagai wilayah yang tetap mengajar dengan tulus. Duduk bersama bercengkarama, saat wawancara.

Atau seseorang yang tersenyum puas di balik jeruji. Mengisahkan kegembiraan dibalik rezim yang menjebloskannya. Jari-jari ini kian lincah mengimbangi kecepatan fasihnya lidah menorehkan tinta pada kertas.

Tanpa alat perekam. Tanpa kamera Fotografi. Saat itu kami hanya diperkenankan mencatat. Wawancara dibalik jeruji. Buah dari keteguhan prinsip.

Belum lagi wawancara ekslusif menteri-menteri di Negeri Antah Berantah. Atau diskusi ringan dengan para entrepreuner. Diam-diam menulis sambil berguru. Membangun jaringan. Juga canda tawa para artis yang sehari-hari hanya dilihat di TV, kini ada dihadapan kita.

Bagaimana seru dan mendebarkan seorang jurnalis ber’diskusi’ dengan polisi saat katanya di’tilang’. Bagaimana mengobrol dengan seorang tukang becak dipinggir yang sampai sore belum mendapat penumpang.

Bagaimana rasanya, meliput simposium nasional dan Internasional. Bagaimana rasanya menunjukkan kartu saat pemeriksaan oleh Paspampres. Bagaimana menuliskan rasa bahagia seseorang yang sangat abstak.

Ia menjadi sangat peka. Menempatkan diri seperti objek jurnal kita. Ikut menangis karena terharu saat narasumber berkisah tentang haji. Atau senang karena kesuksesaanya. Bebas nian melangkah ke sana-kemari. Untuk sebuah liputan berharga yang tak boleh tertinggal.

Menikmati seminar motivasi yang the best, sambil meliputnya. Usainya di traktir makan oleh Narasumber sambil wawancara. Atau suatu saat dipaksa menerima amplop putih. Tentunya, etika jurnalis tak sesuatu menerima harus dipegang teguh.

Pengalaman-pengalaman yang tak terbayar. Hanya dapat dinikmati dan disyukuri. Bagaimana orang membayar kita untuk membaca, menulis , dan jalan-jalan dengan waktu yang tak terbatas.

Kisah-kisah itu sudah sangat banyak. Dapur Tempo dan Seandainya aku Wartawan Tempo sudah beredar. 35 Tahun Kompas. Atau acara ‘jazirah’nya Trans 7. Atau catatan wartawan senior saat liputan Olimpiade di London. Ia menjadi sesuatu yang renyah dan menawan untuk bercerita.

Inilah Jurnalisme kata wartawan senior Majalah Terkenal. Saya agak lupa, tapi saat mebaca Meraba Indonesia-nya Farid Gaban menegaskan bahwa dengan Jurnalisme, ia dapat mengarungi berbagai pemikiran, berbagai tempat, berbagai rasa. Bagaimana hati ini menjadi sangat peka terhadap lingkungan sekitar. Juga catatan Goenawan Mohamad dalam buku karangan Bill Kovach (9 Elemen Jurnalisme)

Ia menjadi pembelajaran berharga. Perubahan kian terjadi. Beberapa ‘penikmat’ tulisan ini member komentar. Tulisan –tulisan ini kian berubah, bergerak. Ia tak seperti dulu lagi. Karena pembelajaran terus terjadi. Selalu berubah. Dari Nampak serius hingga bahasa-bahasa ringan.

Mungkin setelah membaca novel, berlanjut kepada puisi, dan prosa. Seperti saat Dee bercerita dalam Filosofi Kopi. Bagaimana ia meramu prosa dan puisi. Lagi-lagi seorang maestro sastra besar, Goenawan Mohamad memberikan pujian yang Indah.

Mungkin, suatu saat hasil dari pelajaran ini semoga semakin indah. Apa yang dikutip kawan  jurnalis Hidayatullah dan Eramuslim, Pizaro :” Jurnalis yang baik, adalah novelis” mungkin bisa jadi ia. Karena ia menjadi peka. Matanya terbuka. Semakin banyak ihwal yang bisa ia bagikan kepada orang lain.

Seperti seorang mantan jurnalis majalah terkenal, Ahmad Fuadi yang sekarang menjadi novelis. Saat wawancara berdua dibawah bayang Menara Mesjid ia berkata “Umur manusia itu ada dua, karya tulisan kitalah yang akan terus abadi,”. Mungkin inilah mengapa ada Jurnalisme. Ia menjadi tetap hidup, terus belajar. Memberikan manfaat sampai akhir hayat. Masih banyak kisah. Suatu saat ia akan menampakkan dirinya…

Saatnya berkisah

Kisah adalah Kisah. Ia menjadi kisah karena dikisahkan. Selamanya ia tetaplah kisah.
Kisah adalah kisah. Ia menjadi kisah karena berkisah. Selamanya ia tetaplah orang ketiga.
Ia bukan aku. Bukan pula Engkau. Bukan pula kita. Ia adalah Ia.
Kisah adalah Kisah. Ia tak sama dengan ku, denganmu. Ia adalah Ia.
Kisah punya dunia sendiri. Saat ia bercerita tentang dirinya. Tanpa dirimu atau diriku.
Ia selalu menarik. Menarik untuk engkau ketahui. Karena Ia dan kita berbeda.
Kita adalah kita. Nun jauh di sana, ia adalah kisah.

***

Tapi, ia bukanlah aku, engkau, atau siapapun.
Kisah adalah kisah.
Ia selalu menawan.
Karena, setiap darinya berbeda.
Ia selalu Indah.
Karena, tak ada yang serupa.
Ia selalu cantik.
Karena ia adalah ia.
Maka, biarkanlah ia bercerita.
Biarkan ia menikmatinya.
Biarkan ia berbeda.
Bukankah ia tak boleh sama.
Karena, kita sendiripun berbeda.
Setia kita memiliki dirinya.
Ia adalah kisah kita.

 

 

Kesederhanaan Pemilik Bilik – Bilik yang Mulia

Di sampaikan oleh ustdz Ibnu Hasan At Thabari

Rumah Nabi kita yang mulia Muhammad shallallahu alaihi wa sallam jauh sama sekali dari kesan megah atau mewah, padahal beliau adalah kekasih Allah, manusia yang paling mulia disisiNya.

Jangan tanya bagaimana makananya, beliau makan seadanya, kamar atau lebih tepatnya bilik, pakaian dan alas tidurnya sangat sederhana kalau tidak ingin kita menyebutkan sangat menyedihkan. Bilik tempat tinggal istri-istri beliau berdiri dipinggiran masjid, semua berjumlah sembilan, empat diantaranya berfondasi batu bata dan selebihnya dari batu gunung, atap yang paling bawah terbuat dari pelepah kurma dan bisa dijangkau dengan tangan orang yang berdiri dibawahnya, bayangkan begitu rendahnya.

Hasan Al-Bashri ulamanya generasi tabi`in anak dari seorang budak milik ummul mu`minin ummu salamah radhiyallahu anha berkata :” tanganku dapat menyentuk atap bilik Nabi shallallahu alaihi wa sallam”

Setiap bilik terbuat dari rakitan kayu yang diikat, beralaskan tanah tanpa di ubin apalagi dipasangi marmer, alas tidurnya adalah tikar kasar yang sempit atau kecil. Dengarlah penuturan salah seorang istri beliau sayyidah Aisyah radhiyallau anha :” aku tidur didepan Rasulullah dengan dua kaki menjulur diarah kiblatnya, bila beliau mau sujud, beliau menyentuhku lalu ku tekuk kakiku, bila beliau berdiri aku lonjorkan lagi kakiku.

Saat itu rumah belum berlampu, pintu rumahpun tidak ada belnya hanya bisa diketuk dengan tangan.

Rasulullah tidak membangun bilik istri-istrinya kecuali setelah membangun masjid, awalnya dua bilik untuk sayyidah Saudah dan satu lagi untuk sayyidah Aisyah radhiyallahu anhuma.

Di bilik-bilik inilah istri-istri Nabi yang mulia bertempat tinggal, jauh dari berbagai bentuk aksesoris kemewahan, di bilik ini pula wahyu Allah turun kepada Nabi, di bilik-bilik ini juga beliau menghabiskan malam-malamnya dengan beribadah kepada Allah, inilah bilik-bilik yang sangat-sangat sederhana tapi mulia disisi Allah karenanya Allah menjadikan bilik-bilik ini menjadi nama salah satu surah didalam kitab suciNya yang abadi yaitu surah al-hujuraat.

Bila merasa lelah, Nabi yang sederhana ini merebahkan diri diatas tikar yang terbuat dari daun kurma, tikar kasar yang menorehkan bekas di lambungnya yang mulia, begitu teriris perasaan para sahabat yang masuk ke bilik beliau dan melihat bekas torehan tikar kerasa ditubuh manusi paling agung ini.

Suatu kali sahabat yang mulia Abdullah ibn Mas`ud radhiyallahu anhu masuk ke bilik Nabi, melihat kondisi beliau, bersedih Ibnu Mas`ud seraya berkata :” Ya Rasulallah, bagaimana jika aku buatkan sesuatu untuk alas tidurmu agar tubuhmu terlindur dari goresan tikar kasar itu?”

Putra Abdullah yang mulia ini menjawab :” dunia tak ada apa-apanya bagiku, aku dan dunia laksana seorang musafir yang berteduh dibawah pohon yang sebentar lagi akan berlalu dari pohon tersebut”.

Pernah sahabat yang mulia Umar ibnul khattab radhiyallahu anhu membandingkan kehidupan yang sangat bersahaja Rasulullah dikediamannya yang sempit dengan kehidupan hewan peliharaan tetangganya yang termasuk aparat negara di zamannya. Umar sedih melihat kandang hewan hewan itu dibangun begitu megah.

Suatu hari seorang wanita anshariyah berkunjung ke bilik Aisyah, begitu pandangannya jatuh ke alas tidur Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang keras, ia merasa iba, segera pulang dan mengirimkan alas tidur wol tapi setelah terlihat oleh Nabi, beliau menganggapnya sangat mewah dan menyuruh Aisyah untuk mengembalikannya kepada pemilinya sembari bersabda :” kembalikan itu, Demi Allah jika aku mau Allah pasti memberiku bergunung emas dan perak”.

Secara lahiriyah kehidupan dibalik bilik-bilik itu terlihat begitu keras kalau tidak ingin disebut kefakiran, ini wajar karena Rasul dan Nabi yang mulia ini tidak menyukai kekayaan, doa yang sering beliau panjatkan kepada Rabbnya adalah ucapan :” Ya Allah jadikanlah rizki keluarga Muhammad sekadar mencukupi kebutuhan”.

Suatu hari Nabi shallallahu alaihi wa sallam menatap gunung uhud, lalu beliau bersabda :” andai gunung uhud ini menjadi emas untuk untuk keluarga Muhammad, pasti akan aku infakkan di jalan Allah sampai tersisa dua dinar untuk jaga-jaga kalau aku punya hutang”.

Sebagai pemimpin ummat Nabi kita yang mulia ini tidak pernah merasa tenang selama diri beliau menyaksikan kaum muslimin hidup susah, tak mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari dan harus mati-matian bertahan hidup karena itu jika beliau memperoleh kelebihan rizki banyak atau sedikit, beliau segera membagikannya, sementara beliau sendiri kelaparan.

Apa yang dimakan oleh penghuni bilik ini adalah makanan kasar, boleh dikatakan tak pernah mencicipi makanan enak karena memang tidak ada. Dengar kesaksian Aisyah :” demi Zat yang mengutus Muhammad dengan haq, belum pernah Rasulullah melihat ayakan, mencicipi roti yang di ayak sejak beliau diutus sampai meninggal dunia”

Sahabat yang mulia Nu`man ibn Basyir radhiyallahu anhu berkata :” demi Allah pernah aku saksikan Nabi kalian tak mendapatkan sebutir kurma yang paling jelek sekalipun untuk mengganjal perutnya yang lapar” [HR Muslim]

Bahkan sampai tiga kali hilal lewat diatas bilik mereka belum terlihat ada asap mengepul dari dapur mereka [bukhari muslim]

Diwaktu yang lain Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata dari atas mimbar :” setiap sore, tidak ada satu sha` makanan dalam keluarga Muhammad untuk kesembilan biliknya”

Tentu Nabi berkata demikian bukan bermaksud mengecilkan pemberian Allah tapi agar umatnya meneladani beliau dalam kesederhanaan dan bersifat qanaah

Sahabat yang mulia Abdullah ibn Abbas radhiyallahu anhuma berkata :” selama beberapa malam berturut-turut Rasulullah tudur dalam kondisi kelaparan, begitupun dengan keluarga beliau, mereka tidak memiliki makan malam, roti yang paling sering mereka makan adalah roti kasar”.

Pernah satu saat putri beliau sayyidah Fathimah radhiyallahu anha datang membawa sekerat roti.

Nabi bertanya :” apa ini hai anakku?”

“ini sekerat roti yang ku buat sendiri ayah, tak puas rasanya jika aku tidak berbagi dengan ayah”. Jawab anak beliau yang disebut dengan ummu abiiha ini.

“oh ya? Bawalah kemari wahai anakku, ketahuilah inilah makanan pertama yang masuk ke perut ayahmu sejak tiga hari ini”

[menetes air mata, Allahumma Shalli wa Sallim wa Baarik alaihi wa `alaa aalihi wa Shahaabatih]

Tak pernah keluarga beliau meminim susu kecuali bila diberi oleh tetangganya, biasanya keluarga yang mulia ini mencukupkan diri mereka dengan mamakan kurma karena tidak ada makanan selain itu, itupun mereka perleh dengan susah bahkan jika kurma didapat mereka meniru Nabi, memberikan kepada orang lain yang kelaparan.

Pernah seorang wanita miskin berkunjung ke bilik Aisyah bersama anaknya yang masih kecil, tidak ada apapun yang dapat diberikan oleh bunda Aisyah selain sebutir kurma, begitu kurma diberikan, wanita itu lalu membelahnya menjadi dua bagian, sebelah untuk anaknya sebelah lagi untuk dirinya.. subhanallah

Ketika lapar, Nabi bertanya kepada istrinya, apa yang mereka punya. Pernah beliau meminta kuwah, tapi istri beliau menjawab : ga ada, yang ada Cuma cuka”. Beliau memintanya dan dan mencelupka irisan roti kasar kedalamnya seraya berkata :” kuwah ternikmat adalah cuka, kuwah ternikat adalah cuka”. [muslim]

Allah menawarkan kepada Nabi kekayaan atau kecukupan, beliau memilih lapar disertai kenyang, seraya berkata : “ saat aku lapar aku meminta kepadaMu jika aku kenyang aku bersyukur kepadaMu”

Suatu hari pernah Rasulullah didera lapar yang sangat, beliau terpaksa keluar rumah untuk mencari makanan, di jalan beliau berjumpa dengan dua sahabatnya Abu Bakar dan Umar yang juga kelaparan, padahal inilah tiga manusia terbaik di muka bumi. Bertiga mereka datang ke rumah salah seorang sahabat anshar, mereka pun disambut dengan menyembelih seekor kambing. Usai menyantap hidangan Rasulullah bersabda :” sungguh kita akan ditanya atas nikmat ini kelak di hari kiamat”

Sahabat yang mulia Anas ibn Malik yang pernah menjadi pelayan Rasulullah selama 10 tahun berkata :” tak penah sekalipun ku lihat Nabi makan diatas piring, tak ada roti empuk, tak ada daging sampai beliau menghadap Rabbnya, beliau juga tidak pernah makan diatas meja makan”. [bukhari]

Masih banyak riwayat yang melukiskan kepada kita kehidupan di balik bilik yang mulia ini, pola hidup seperti ini terus berlangsung hingga hari terakhir kehidupan beliau, padahal seluruh pintu-pintu dunia dibuka oleh Allah untuk beliau dan harta yang datang kepada beliau melimpah ruah, jangankan mengubah gaya hidup layaknya sebagai pemimpin atau penguasa, mengubah rumahpun yang bilik itu tidak beliau lakukan. Setelah fathu makkah, Rasulullah tetap dengan gaya hidup apa adanya, Ummu Hani, putri Abu Thalib ketika mengunjungi Nabi menyaksikan dengan mata kepala sendiri, beliau mandi sementara putri beliau Fathimah menabiri beliau dengan selembar kain, padahal saat itu beliau berada di puncak karisma dan kekuasaan sempurna.

Rasulullah teladan kita, Rasulullah junjungan kita
Rasulullah uswah manusia, paling bahagia hidupnya

Allahumma shalli wa sallim wa baarik alaihi wa alaa aalihi wa shahbihi ajma`in

Perniagaan yang Tidak Pernah Rugi

Alkisah, seorang istri berkata kepada suaminya pada malam hari raya :” esok adalah hari raya, ya Aba Abdillah, anak-anak kita belum memiliki baju baru sebagaimana teman-temannya, ini karena sebab keborosanmu”. Suaminya berkata ” Aku infaqkan hartaku di jalan Allah guna menolong orang-orang yang membutuhkan. tentu ini bukan pemborosan wahai ummi abdillah..”

Istrinya yang dikenal cerewet ini berkata :” coba kamu kirim surat kepada salah seorang sahabatmu yang baik, agar dia meminjamkan kita uang, insya Allah akan kita kembalikan jika kondisi keuangan kita membaik”

Abu abdillah memiliki dua orang sahabat yang sangat dekat yang bernama Hasyim dan Usamah. Ia menulis sepucuk surat dan menyuruh pembantunya untuk menyerahkan kepada sahabatnya yang bernama Hasyim. pembantu itupun berangkat ke rumah Hasyim lalu menyerahkan surat itu kepadanya. setelah Hasyim membaca surat itu, ia menyadari bahwa sahabatnya itu dalam kondisi sulit dan membutuhkan bantuannya.

Hasyim berkata kepada pembantu itu :” saya tahu, majikanmu itu suka menginfaqkan hartanya untuk kebaikan, bawalah kantong ini dan katakan kepada majikanmu bahwa hanya uang inilah yang aku miliki pada malam ini”.

Pembantu itupun kembali dan menyerahkan kantong itu kepada tuannya. Abu abdillah segera membukanya dan ternyata didalamnya berisi uang seratus dinar emas. ia pun memanggil istrinya seraya berkata :” ya Ummi abdillah, ini ada uang 100 dinar, sungguh Allah telah mengirimkannya untuk kita”.

Netapa girangmya istrinya, sambil tersenyum ia berkata kepada suaminya :” cepet dah ke pasar, beli baju, sepatu dan keperluan lebaran, ntar keburu abis”.

Sebelum ia meninggalkan rumah, tiba-tiba ada orang mengetuk pintu rumahnya, saat ,dibuka ternyata ada seseorang yaitu pembantunya Usamah, sahabatnya yang satu lagi. Ia membawa surat yang isinya meminta pinjaman uang untuk membayar hutang kawannya yang sudah jatuh tempo. Akhirnya Abu abdillah memberikan kantong uang itu kepada pembatunya Usamah,

Ia tidak mengambilnya walaupun 1 dirham. Mengetahui hal itu istrinya yang tadinya sudah girang, berubah jadi mengkelap karena marah karena lakinya lebih mengutamakan kawannya dari pada keluarga sendiri. Abu abdillah mendekati istrinya yang lagi manyun sambil menekuk mukanya kemudian menasehatinya :” temanku sangat membutuhkan pertolongan, bagaimana bisa aku membiarkannya berada dalam kesulitan?, udah ya jangan manyun begitu, malu sama yang baca cerita ini”

waktu berlalu cukup lama, suatu hari Hasyim datang ke rumah Abu Abdillah, Setelah dipersilahkan masuk, Hasyim berkata :” aku kesini untuk menanyakan kepadamu tentang kantong ini, apakah kantong ini adalah kantong yang pernah aku titipkan kepada pembantumu saat malam hari raya?”
abu abdillah mengamati kantong itu, degan sangat heran ia menjawab :” kayaknya iya nih, kok bisa sampe ditangan ente, gimana ceritenye?”

Hasyim menjawab :” saat pembantumu datang kepadaku, membawa suratmu, aku memberinya kantong itu, saat itu aku tidak memiliki apapun kecuali kantong itu. saat itu aku harus membayar hutangku yang sudah jatuh tempo, maka akupun meminta batuan kepada Usamah, tak lama kemudian Usamah memberikan kantong itu kepadaku tanpa berkurang 1 dirhampun”

——akhirnya mereka berdua tertawa mendengar cerita tentang kantong itu …

Abu abdillah berkata :” ya Hasyim, sungguh Usamah lebih mementingkan dirimu daripada dirinya sendiri sebagaimana kamu lebih mementingkan diriku ketimbang dirimu”
Hasyim tersenyum dan berkata :” bahkan kamu lebih mengutamakan Usamah ketimbang dirimu dan keluargamu, wahai Aba abdillah, bagaimana pendapatmu jika uang 100 dinar ini kita bagi tiga?”
Abu Abdillah menjawab :” semoga Allah memberkahimu wahai Hasyim”

Tak berselang lama, cerita ini sampai ke kuping khalifah, selanjutnya khalifah memerintahkan agar memberi kepada tiga sekawan itu masing-masing 1000 dinar emas. Saat menerima pemberian dari khalifah Abu Abdillah langsung mememui istrinya sambil tangannya memegang uang 1000 dinar seraya berkata :” wahai Ummi abdillah, bagaimana menurutmu? apakah Allah menyia-nyiakan kita? ape gue bilang..?”

Istrinya menjawab dengan malu-malu [in] :” demi Allah, Dia tidak menyia-nyiakan kita, malahan Dia menambahkan karuniaNya berlipat ganda untuk kita”.

Abu abdillah berkata kepada istrinya :” sekarang engkau mengerti wahai istriku, bahwa infaq fii sabiilillah adalah perniagaan yang pasti menguntungkan dan tidak akan rugi selamanya..”

sumber : warisan tarbiyah, pribadi teladan, kisah yang menyejarah, edisi bahasa arab berjudul “mi`atu mauqif min hayaatil `uzhammi, muhammad said mursi dan qaim Abdullah., dikisahkan kembali ama Ustdz Adlan.