Membersamai Palestina

2Ramadhan 1435 H, sepenggal 2014, Gaza kembali memanas setelah serangan Israel membunuh ribuan warga sipil termasuk anak-anak. Aksi solidaritas dan penggalangan dana kemanusiaan digelar di penjuru negeri.

Saat itu, saya diminta Bu Elidawati, owner Elzata Hijab bertemu untuk membincang persiapan keberangkatan kami untuk penyaluran bantuan kemanusiaan dari masyarakat Indonesia ke Gaza. Visa Mesir kami dikabarkan sudah keluar, dan surat rekomendasi memasuki gerbang Rafah (perbatasan Mesir – Gaza) sedang diproses bersama para relawan seperti BSMI, ACT, KNRP, Sinergi Foundation, dll.

Mengapa setiap ada berita memilukan ihwal Palestina rakyat Indonesia yang masih memiliki sedikit rasa kemanusiaannya bergolak hatinya? “Ada rasa yang sangat sulit diungkapkan, ini urusan hati,” kata Bu El, sapaan akrab Bu Elidawati saat itu sambil membahas program-program kemanusiaan apa yang bisa meringankan penderitaan rakyat Palestina, ikhtiar untuk membersamai Palestina.

Kebersamaan Indonesia dan Palestina memang sudah terjalin lama, jauh sebelum kini (Desember 2017) Indonesia memprotes pengakuan sepihak Presiden Amerika Donald Trump atas Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel.

Bahkan, sebelum Indonesia merdeka, para pendiri negeri ini sudah membersamai Palestina. Dalam buku Perjuangan yang Dilupakan (2017), mengenangkan mereka dan Palestina, saya teringat akan cita-cita founding fathers kita dalam judul ‘Degup Cita Para Pendiri Bangsa untuk Palestina’, yang akan saya kutip beberapa kisahnya.

Continue reading “Membersamai Palestina”

Advertisements

Kerakyatan yang Dipimpin Hikmat Kebijaksanaan

mati demoo

“Demokrasi telah mati!”  seorang berteriak di jalanan, berkeliling-keliling sambil mengibarkan bendera dengan penuh kebencian, kemarahan, dendam dan frustasi!. “RIP demokrasi,” kata kawannya yang lain sambil menshare foto-foto ‘Ingatlah Partai Ini!’, sambil misuh, tak menerima. Demokrasi menjadi jimat dan aji-aji, kebenaran absolut, lupakan sejenak partainya super korup atau tidak, yang penting kalau melawan ‘demokrasi’ ia harus dihabisi.

Demokrasi, ia tak bisa diganggu gugat, menggugat demokrasi ialah haram hukumnya!. Ia adalah fatwa kekal, tak mungkin salah, tak bisa disalahkan, awas sekali-kali melawan demokrasi, Presiden pun fotonya bisa diinjak-injak. Demokrasi ialah mantra sakti. “Semua harus demokratis” Katanya sambil merengek maksa keinginannya dikabulkan karena kalah voting.  Baginya, hanya dirinya yang mewakili rakyat dan demokratis. Tak demokratis berarti tak manusiawi, ketinggalan zaman, set back. Demokrasi kini menjadi tujuan akhir dan final, bukan lagi alat,  pokoknya begitu, titik!

Yang melawan demokrasi, ia harus kita habisi, “kita bully di twitter”. Lihat saja, mereka, orang-orang yang terpilih via demokrasi, para wakil rakyat, yang telah dipilih rakyat, karena mereka tak sesuai dengan pendapat dirinya, maka para anggota dewan yang terhormat akan dilawan. Mereka yang dipilih rakyat, secara demokratis pun harus dihabisi, karena tak sependapat dengannya yang bisa jadi tidak dikenal warga di kampungnya, karena cuman eksis di FB , Twitter, Instagram doang.

Mereka yang dipilih rakyat adalah penghianat demokrasi!. Sedangkan yang ahlul twitter wal fesbukiyyah, yang dicekoki : oknum pengamat, lembaga asing,  media mainstream yang berjibun kepentingan itu ialah rakyat sejati nan demokratis. Sebab, demokrasi baginya hanya urusan ‘memilih langsung’, kebebasan bicara, one man one vote,  ‘tok pokoknya kalau nggak memilih langsung:  #RIPDemokrasi, Demokrasi mati,  penghianat demokrasi, hingga umpatan kasar terus terlontar sambil mention-mention. Continue reading “Kerakyatan yang Dipimpin Hikmat Kebijaksanaan”

Sibuk

Beberapa hari ini saya berkesempatan nugas ngeliput di Ibu Kota RI, setelah sebelumnya kunjungan ke enam kota besar di macem-macem provinsi. Saat itu, saya sedang menaiki commuter line, ke arah Bogor. Saya membandingkan kota-kota yang saya kunjungi sebelumnya. Ternyata nggak berbeda jauh!. Kota-kota itu semakin ‘mendekati’ Jakarta.

Sorry ini jam sibuk bung!”teriak seseorang di tepi pintu kereta, sambil menahan orang luar yang mau masuk. Kereta terlalu penuh. Memang, suasana di dalam commuter sangat padat sampai-sampai orang di luar saja nggak bisa masuk. Saya membayangkan bagaimana kalau dengan kereta ekonomi kalau di sini saja seperti ini? “Mengerikan!”

Ungkapan “Ini jam sibuk” membuat banyak orang bertanya-tanya apakah itu sibuk? Apa yang membuat ribuan orang berkumpul pada tempat sama jam yang sama? Jim Dwiyyer menggambarkan keadaan Newyork dalam, bukunya ‘Subway Loves 24 hours in the Life of The Newyork City Subyway’. Saya pikir, ungkapan orang yang berterak tadi masuk akal. Jakarta semakin mendekati Newyork!

Itulah sibuk!. Semua melaju. Russel Leigh dan Cheryl Harris menguatkan pendapat Dwiyyer dengan bukunya ‘NIGHT SHIFT NYC’. Mereka bilang seperti curhatan teman saya. Katanya “Saya sering kejebak macet di Jakarta tiap pagi, sama pulang ngantor malam, kadang-kadang macet total”

Belum lagi senin kemarin (5/6) saat saya ke Ciputat jam enam pagi saja sudah macet. Jam sibuk semakin maju. Setiap saat menjadi waktu yang sibuk!. “Busy” istilah YM (Yahoo Messenger)-nya. “Nggak mau di ganggu pokoknya!”. Ia menjadi cenderung individualis kata Bauman. Padahal Morgan Freeman dalam Filmnya bilang ‘Get busy living, get busy dying”. Bisa jadi ia benar.

Di Indonesa, ‘Busy’ menjadi kawannya Bising. Latin-nya festinare, maksudnya ‘actively or fully engaged, occipided. Crowded with characterized by activity.’ Singkatnya penuh agenda, full kegiatan!. Makanya “ business” ngambil akarnya dari busy. Kereta bisnis yang saya naiki ini, keretanya orang-orang ’sibuk.’
Banyak sekali yang dikerjakan. Dari bangun pagi, hingga pulang dan tidur semua ia kerjakan. Lama-lama busy sudah menjadi gaya hidup (lifestyles). Semua orang mencari kesibukan-nya masing-masing. Lagi-lagi Peter Berger bilang ini gara-gara zaman. Katanya zaman telah berubah. Apakah pernah membayangkan orang-orang zaman dulu ‘sibuk’ seperti sekarang?.

Sibuk sudah menjadi ‘makanan keseharian’. Istilahnya David Chaney ”Life styles”. Orang yang nggak ‘sibuk’, nggak modern. Nggak baik!. Kabarnya, Cina sudah ketularan virus ‘sibuk’. Belum lagi Jepang, dan negara-negara lain. Semua mencari kesibukan. Malah, ekstremnya kata para ahli sosiologi, orang-yang hidup di kota-kota itu, Busy-ness City, mendapat tingkat “stress” tertinggi!

“Grrrr” geram orang sebelah saya itu sambil melirik berkali-kali ke pergelangan tangan kirinya, ia terlihat frustasi. Saat itu bus melaju pagi buta sekali di jalan tol. Jalan tol macet!. Semua orang sibuk!. Lucu memang, jalan tol yang katanya bebas hambatan, malah benar-benar bebas menghambat!. “Stress” sudah menjadi budaya Kota Besar. Ia terus melaju 24 jam.
Belum lama beberapa konsultan “Happiness”, mengadakan survey kecil-kecilan. Semua sepakat , termasuk para trainer, motivator, dll bahwa kebahagiaan dan ketenangan (lawannya stress) datangnya dari dalam diri. “Uang dan ke’sibuk’kan nggak bisa membuat saya bertahan, mendingan saya kerja di Bandung lagi,” kata teman saya yang sempat beberapa bulan hidup di Kota ‘Busy-ness.’ Akhirnya ia keluar dari kantornya di Ibu Kota.

Tetap, Ia harus belajar ’berhenti’ dari siklus ke’sibuk’an itu. Ia harus menyediakan waktu untuk diri sendiri. “Ah sibuk” gak sempet!”. Pikirnya, semakin sibuk semakin sukses. Semakin berbunga-bunga, semakin ‘mulia’. Sampai-sampai ia berteriak “We are too busy to be happy.”

Ia terus mencari kesenangan, kebahagiaan. Tiap akhir pekan, uang hasil ‘sibuk’nya digunakan untuk kongkow-kongkow di Café, Warung, Plaza, atau sekadar hangout di pusat-pusat kota. Menikmati hidup hanya di akhir pekan. Karena kalau hari –hari biasa ‘sibuk’ katanya.

Steve Bayley (1991) dalam ‘Taste: The Secret Meaning of Things’, mengemukakan “Cita rasa adalah sebuah agama baru dengan upacara-upacara yang di rayakan di pusat-pusat perbelanjaan dan meuseum, dua lembaga yang asal-usulnya terletak persis periode yang menyaksiskan ledakan konsumsi popular.” Periode apakah itu?

Inilah yang kata William Weber ‘Masyarakt modern’. Sibuk semua. Berdiri di dalam commuter line melaju bersama waktu pagi dan petang. Mengklakson, menginjak kopling, rem, mengklakson, sambil menggerutui ‘macet’. Featherstobe, nggak terlalu kaget, katanya “Ini karena perkembangan kapitalistik.”

A lyric Poet in The Era of High Capitalism” tambah Benjamin—Pusat keramaian (Crowd) merupakan tontonan wajar, jika seseorang boleh menerapkan istilah terhadap kondisi sosial. Sebuah jalan, suatu kebarakaran besar, kecelakaan lalulintas, pertunjukan mengumpulkan orang. Mereka hadir dengan sendirinya sebagai kesamaan konkret, yakni dalam kepentingan-kepentingan pribadi (p.2)

Uang gajian di habiskan di pusat-pusat keramaian. Hasil sibuk seminggu harus di rapel dalam akhir pekan! Berking and Neckel tahun 1993 sampai –sampai membuat buku “Urban marathon’The staging of individualityas an urbant event.” Kehidupan yang serba sibuk menjadi hidup ini seperti marathon, selalu dikejar aktivitas, sampai-sampai waktu-waktu tertentu saja menikmati kebahagiaan.

Tiba-tiba orang-orang di gunung itu berkata “Kami tidak perlu menunggu akhir pekan!”. Setiap hari kami bisa menikmati udara segar, tanpa bunyi klakson. Orang-orang kota-pun nggak mau kalah berujar, kamipun setiap hari merasakan kenikmatan di sini, setelah sejenak kami ‘berhenti’ dari kesibukannya. Berhenti dari kesibukan malah semakin baik katanya.

Nyatanya M Shumaker yang pembalap itu, harus berhenti sejenak di pit-stop untuk persiapan dan perbaikan ke depan.”Kalau melaju terus, mesin bisa rusak!” kata tim Ferrari. “Less is More: Spirituality for Busy Lives” tulis Brian Drapper. ‘Spirituality for busy people’ sedang berkembang di Amerika. Di Buku lain “The Practiceof Every day Life”, di kisahkan hidup itu nggak sekadar fisik bung! Ia butuh permainan, cerita, spritualitas!.

Orang-orang Barat mulai mencari makna spiritualitas. Lash and Urry melanjutkan bukunya “The End of Organized Capitalism”. Ternyata orang kota itu, awalnya ia penasaran. Sesekali ia memenuhi panggilan Tuhan untuk berhenti dari ‘kesibukan’. Setelah itu iseng ia buka kembali kitab sucinya , dengan wajah merah dan malu-malu ia menemukan ayat dan membaca dengan pelan kalimat “Setiap saat Dia (Allah) dalam kesibukan”.

Buru-buru ia sucikan diri, dengan bangga ia menghadap Dzat yang Super sibuk. Senang sekali rasanya orang itu ketemuan sama yang ‘sibuk beneran’. Yang selalu sempat di temui, selalu siap di ingat. Ia malu, ternyata selama ini ia sok sibuk. “Baru ‘sibuk’ saja sudah nggak mau ketemu sama yang Super sibuk!”. sadarnya

‘Sibuk’nya sudah berubah menjadi sibuk. Kata De Certau, Michman, Moers, sekarang ia sudah bisa me-manage ke’sibuk’anya dengan hal-hal yang baik. Berdiri di commuter line ia isi sambil mengingat Tuhan-Nya. Bibirnya Nampak basah. Tidak ada lagi gerutu di sana.

Tidak ada lagi menunggu akhir pekan, tidak ada lagi menunggu malam, kebahagiaan ia rasakan setiap saat, setiap detik. Tidak adalagi uang nya ia habiskan sia-sia, tidak adalagi ‘stress’di sana. We are too busy to be happy.” Berubah, every time, every where, I’am busy in happy. Ya, sama-sama sibuk, tapi nilainya sangat berbeda. Orang seperti ini nggak perlu ditanya sibuk ngapain sekarang?

Pedestrian

Yang kamu perlu hanya kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya,” gumannya mengutip perkataan sebuah  buku berjudul – 5Cm -. Lalu  tiba- tiba terucap dari mulutnya, ” Sayangnya, zaman ini kita mau jalan kaki sudah susah!”.

Perkataan dalam novel ini mungkin cocok di Barat.  Celotehannya teman saya itu cocok di sini. Nyatanya, beberapa waktu lalu kawan-kawan saya yang lain  protes. Mengapa saat dia berjalan kaki di ‘pedestrian’ malah di klaksonin motor dari belakang.

“Bukan pedestrian!” Sanggah dosen saya di suatu kelas. “Tapi”, dengan pelan dosen saya  melanjutkan “Yang benar itu adalah Jalur Pedestrian”. Ternyata ungkapan  teman saya berjalan di pedestrian itu ngaco. Pedestrian  itu  “ is a person traveling on foot, whether walking or running,” Kata Kamus-Kamus Inggris.

”Masih aja ada  yang bilang Pemkot bangun Pedestrian,” greget dosen saya itu. Pedestrian adalah, ya pejalan kaki itu sendiri.  Kalau tempat jalan kaki, namanya adalah jalur pedestrian. Ia makin  gregetran ketika ada yang menyamakan pedestrian dan trotoar.

Pedos, (Yunani) maksudnya kaki. Makanya KBBI bilang pedestrian adalah pejalan kaki. Jadi amat sangat error jika bilang “berjalanlah di pedestrian”. Menurut bahasa saja tidak sah, apalagi menurut terminologi?

Saat kuliah dulu,  berkali-kali,  saya diingatkan dosen saya untuk memperhatikan pedestrian jika  kami merancang suatu kawasan. Dalam bukunya “Life in the City”, Louis Wirth,  menyimpuylkan salah satu aspek dalam Kota yang baik adalah penggunanya. “Demokratis” adalah  salah satu ciri ruang publik yang ideal. Tapi, pengguna kendaraan seakan-akan menjadi ‘tiran’. Nggak perlu jauh-jauh ngomongin demokratis, apakah pedestrian sudah nyaman berjalan di  trotoar?

Oleh karena itu, waktu kuliah, kami ditugaskan meneliti kawasan yang jalur pedestrian-nya bagus biar nanti bisa praktek langsung.  “Istilah arsitekturnya, node (plaza) dan path(koridor)” kata dosen itu.  Kita lihat pada Plaza Maria di Jerman. Kita bisa menikmati duduk – duduk santai di Jalanan. Melihat anak-anak memberikan makanan pada burung. Sambil  menikmati alunan musik  karya Mozart dengan gesekan biola yang menyentuh kalbu. Belum lagi plaza-plaza yang lain. Barcelona, London, Brussel, Prancis, dll.

“Ah  itu kan Eropa! Di sini panas,”  kata orang-orang pesimis sambil mencibir.”Ah nggak juga,”  ungkap Jokowi, saat seminar Internasional Emerging Bandung. Kita lihat di Malaysia,dan Singapura  bung!. Orchard Road buktinya. Di sana kita bisa lihat node dan path bersatu. Pedestrian di hargai di sana.

Pengaturan koridor dan plaza juga  kita rasakan di  Water Front, Kuching, Malaysia. Kita bisa berlari-lari disana, duduk, bahkan tidur- tiduran. Kira-kira bisa ga ya kalau di sini?  Belum lama, kawan saya tour 5 negara dengan sumringah berteriak “Di Bangkok, Vietnam, dll trotoarnya segede gaban-gaban, sampai mobil bisa parkir disana!”.

Beberapa bulan lalu, saya bermain ke Solo. Seperti biasa, saya berjalan-jalan menikmati senja. Yang cerah di Jalan Slamet Riadi. Ia sudah tidak seperti dulu, ada yang berubah. Jalan kaki nggak terasa, tiba-tiba sudah sampai alun-alun (plaza). Bener juga kata Jokowi yang sekrang walikotanya , ‘Ah nggak juga”

Kira-kira dua tahun lalu, saya pernah riset keci-kecilan di mall  Ciwalk Bandung. Jika di desain dengan baik, maka pedestrian akan terpuaskan.  “Dilarang masuk kendaraan” kata Ciwalk.  Sang Legenda Urban Design, Prof Danisworo  pernah  nulis dalam “I-Arch”   tentang superblock. “Sorry, kendaraan pribadi minggir dulu. Semua harus  jalan kaki”. Inilah kota Ideal, Superblock!

Tapi yang terjadi kebalikannya.”Sorry , Anda minggir dulu, motor mau lewat!”  . “Brrmmm,” motor dipacu. Minggirlah para pedestrian di Ibu Kota. Ia menjadi termarginalkan. Semua pindah ke kendaraan pribadi berpolusi. Hilang sudah orang bersepeda. Jalurnya di makan sama mobil dan motor. “Orang-orang kampungan itu hanya dari kosan yang berjarak kira-kira 2 -3 km itu naik mobil” sergah kawan saya. “Belum lagi cuman 1 km, pake naek motor segala!” tambahnya gerah.

“Bisa saja aman dari mobil dan motor, kalian  tidak akan aman dari kami” ancam PKL. Pedestrian semakin terpojok. PKL yang tadinya 5 langkah dari trotoar, sekarang menjadi melangkah bersama pedestrian.  Era ini sudah merubah arti dan juga makna. Mungkin kata pedestrian di hilangkan saja. Tidak ada lagi orang yang  berjalan kaki, menikmati indahnya mentari di sore hari. Semua terjebak dalam siklus ‘stress’ di dalam besi-besi tua yang bergerak itu

Nikmatnya Menghirup udara pagi sudah tergantikan, dengan tergesa-gesanya memakai kemeja, menuju kantor, mencari secercah ‘uang;. Semua sibuk urusannya masing-masing. Pedestrian harus mengalah, eh,, bukan. Bahkan, ternyata bisa jadi perkataan teman saya itu benar dan  Dosen saya malah salah!

Pedestrian zaman ini adalah tempat orang berjalan. Bukan lagi pejalan itu sendiri. “Iya juga ya”, sebab, sekarang, sudah tidak ada lagi pedestrian. Ia telah mati kecuali bagi sebagian orang….Ia masih tetap hidup, menikmati indahnya Alam, mengirup udara segar, menikmati kebahagiaan,  dengan hati yang tunduk.

Arsitek

God Is an Architect”. Tulisan itu berwarna merah pekat datas kain putih. Seorang mahasiswa jurusan Arsitektur mengenakannya. Ia bergerak lincah. Orang-orang melongo, apakah memang benar Tuhan itu adalah arsitek.

Mungkin perlu diskusi lebih lanjut. Karena, kata dosen-dosen saya di ITB, definisi Arsitektur ini banyak sekali. Nyatanya, nggak ada kesepakatan sampai sekarang. Bisa saja seorang programmer menulis ‘Architecture Software’. Tapi, akar katanya bisa kita lacak.

Archi = kepala, dan techton = tukang, Latin. Mungkin maksudnya architecture adalah karya kepala tukang. “Arsitek itu pemimpin proyek!” Kata Dosen yang memang setiap harinya berkutat dalam profesi di lapangan. Saya lihat ia mengambil kapur putih, dan menorehkan tulisan “Semua hal yang berhubungan dengan perancangan bangunan.”

Tapi, kalau kata Dosen Sejarah dan Teori Kritik itu lain. Arsitektur itu nggak bebas nilai. Selalu ada kata yang mendampinginya.”Arsitektur apa?” Tanya dosen pengampu mata kuliah Arsitektur modern.

Sebelumnya, yang bisa ikut mata kuliah Arsitektur Modern dipastikan lulus mata kuliah Arsitektur Pra-modern. Tapi, Ada juga Arsitektur Nusantara. Bahkan, ada mata kuliah Arsitektur Islam. Makanya, kalau ngomongin Arsitektur, Arsitektur yang mana dulu?

Polemik ini membuat Paul Shepheard yang dari MIT itu bikin buku, ia nge-list satu-satu arti arsitektur menurut para ahli lewat judul bukunya “What is Architecture”. Akhirnya ia galau sendiri, katanya “architecture is not everything, Ia mengatakan, “So when I say architecture is not everything. I mean that there are other things in life and simultaneously. I mean that there are things that are not architecture, but which fit round it so closely that they help to show it is

Karena bingung, lagi-lagi dosen saya itu membeberkan teori dari mulai Vitruvius sampai Derrida. Klasik sampai Postmo? Wow. Ternyata belajar Arsitektur itu tidak hanya belajar bangunan, tapi juga Filsafat Barat.

Mulai dari Yunani sampai Postmodern. Nggak aneh dalam Arsitektur, perkembangannya sama dengan perkembangan peradaban masyarakat di Barat. Tapi tunggu, masih ada Arsitektur Nusantara, Arsitektur Islam, Arsitektur Timur. Ujungnya, belajar sejarah juga, nggak saklek harus membahas bahas ‘bangun membangun’.

Ada Arsitektur Yunani, Romawi, Abad Pertengahan, Rennaissance, Modern, Pascamodern. Percis akar-akar peradaban Barat. Oh, ternyata cukup luas juga cakupannya. Belum lagi ada kuliah tentang kota, ekonomi, lingkungan, seni, manusia, masyarakat, berhitung, dan masih banyak sekali.

Lagi-lagi kita temukan ‘Arsitektur’ sangat luas secara makna. Istilahnya Nietsze “Mengarungi lautan tak bertepi”

Misal, Arsitektur Rennaissance saja kita belajar tentang teori Plato, Pytagoras, hitung menghitung, dan lain-lain. Kata Plato keindahan alami muncul melalui adanya garis, lingkaran, dan permukaan yang menghasilkan bentuk dan volume geometris yang absolut. Belum lagi kalau denger Aristoteles, Pytagoras,dan lain-lain yang memengaruhi pemikiran ‘Arsitek’ abad renaissance seperti Angelo, Da Vinci,dll.

“The revival of classical influences in the art and literature and the beginning of modern science in Europe in 14th – 17th centuries, also movement or period of vigorous artistic and intelctual activity,” kata Webster.

Kalau kita List mungkin nggak beres-beres pembahasannya. Kata Le Corbusier ”architecture is the masterly, correct and magnificient play of masses seen in light. Architecture with a capital A was an emotional and aesthetic experience.” Ini pemikiran yang kena worldview modern.

Senada dengan Mies van De Rohe, Luis Sullivan, Frank Loyld Wright, dan kawan-kawan barisan Arsitektur Modern. Sebelumnya, aktivis Arsitektur Rennaissane tidak begitu jelas mendefinsikan arsitektur. Lihat saja,. Micheal Angelo, Leonardo Da Vinci, apa bisa disebut arsitek?

Arsitek lantas menjadi figur penting dan dijuluki sebagai “master”. Lalu menjadi gerakan masal, istilah akademiknya “International Style”. Jadi, istilah “arsitek”, sepertinya muncul di abad modern, di cirikan berdirinya Bauhaus. Sekolah Arsitek. Orang yang mau jadi Arsitek harus sekolah dulu, muncullah Arsitek terkenal abad modern.

Kata Mies, itu karena keinginan zaman!. Tapi, tesisnya Mies di habisi oleh pendapatnya sendiri. Sekarang Era Postmodern!!. Pakem-pakem modern “Less is more,” diganti dengan enaknya ”Less is bore”. Bikin bangunan terserah!. Dekosntruksi Derrida berkembang. Semua pakem di habisi, rumah itu harus beratap, kalau di postmo, tidak harus beratap!. “All Deconstrcution,”teriak Derida. Tidak bermakna.

Tapi orang-orang marah. Mereka merasa bahwa arsitektur bukanlah perburuan filosofi atau estetika secara perorangan, melainkan haruslah mempertimbangkan kebutuhan manusia sehari-hari dan mengunakan teknologi untuk mewujudkan lingkungan yang dapat dihuni.

Postmo harus minggir. Sekarang eranya “Green Architecture!”. Arsitektur yang baik adalah yang ramah lingkungan dan hemat energi, kata seorang dosen dalam kuliah yang lain.

Tapi sepertinya, masyarakat kita dulu tidak perlu di ajari untuk ramah lingkungan urusan Arsitektur. “Rumah kita sudah ramah lingkungan,” kata masyarakat tradisional sebuah suku di daerah terpencil. Jadi, ‘Green Architecture’, telat!. Kampung-kampung sudah menerapkan sustainable arsitektur.Tapi, apa bisa pencetusnya disebut “Arsitek” tanpa lewat sekolah ’modern’nya Arsitektur?

“Tolong buatkan rumah yang bagus”, atau “Desain yang murah dan indah!” kata klien kepada ‘Arsitek’. Definisi masyarakat, sama kaya Oxford “art and science of building; design or style of building(s).” Yang penting rumah bagus, terdesain oleh yang disebut ‘Arsitek’ walau F. Sillaban waktu bikin Istiqlal, nggak pernah sekolah di “Departement Architecture”. Begitupun pembuat bangunan-bangunan zaman dulu itu, atau bahkan rumah-rumah adat di Indonesia.

Istilah para kritikus arsitektur itu ‘Arsitek arsitokratik’. Jadi Arsitek zaman ini itu harus di bayar klien, dan sekolah Arsitektur. “Arsitek itu hanya melayani klien yang bayar,” teriak seorang alumnus sekolahan Arsitektur geram. Efek modernisasi Beaux Arts di Prancis. Kalau nggak di bayar, sama sekolah nggak bisa disebut Arsitek.

Berjubel orang masuk kuliah bercita –cita ingin menjadi ‘Arsitek Aristokrat’. Vitruvius sudah wanti-wanti “Arsitektur adalah ilmu yang timbul dari ilmu-ilmu lainnya, dan dilengkapi dengan proses belajar”. Sejatinya, dalam proses belajar, mengantarkan pada ‘Arsitek’ yang sesungguhnya.

Istilahnya teman saya saat kuliah “Pola Pikir Arsitektural”. Apa pula ini?. Maksudnya, Arsitek tidak hanya melulu tentang klien, bayaran, bangunan, desain tapi juga berpikir holistik. Semua terpikir!. Ekonomi, perilaku, seni, filosofis, fungsi, tata letak, kota, pengaruh, suhu, strukutur, rapi, lingkungan, dst.

Itulah mungkin kenapa ada tulisan “God Is an Architect,” cerdas memang. Sambil tersenyum, saya baru paham kenapa Tuhan disebut Arsitek, walau Tuhan nggak pernah mengenyam bangku sekolah dan di bayar oleh klien…

Kota

Senja yang cerah di kampus, seseorang membagikan brosur kuliah S2 di ruang seminar gedung Arsitektur bertuliskan “Rancang Kota”. Sejenak saya berpikir, apakah kota harus di rancang?. Ternyata, dalam bahasa Inggris, rancang kota artinya “Urban Design”. Kenapa tidak ‘city design’? . Kata dosen saya, dalam kuliah Arsitektur Kota, City sama Urban itu beda. Loh kok bisa? Artinya sama-sama kota.

Alkisah ada Deklarasi Urban Planning di Harvard tahun 60-an. Awal dari Urban disitu. Tapi, akarnya kita bisa lacak sampai ke Plato. Plato sudah ngomongin kota yang ideal. Katanya dalam ‘Critias’, ada sebuah peradaban maju, itu disebut ‘kota’. Makanya muridnya, Aristoteles bilang, kota yang maju ialah yang dipimpin elitis-elitis (arsitokrasi)
Nggak cuman Plato yang ngomongin kota. Jadi, city itu, kata dosen saya itu, lebih ke fisik bangunan (noun). Contohnya Newyork City, Jakarta City, Washington City, dll. Tapi kita nggak pernah denger Bandung Urban, Newyork Urban,dll.

Ternyata, urban yang asli bahasa latin itu maksudnya ‘gaya’nya (adjective). Ia merupakan pola hidup, gaya masyarakat, kebiasaan, bahkan kata Webber dalam “The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism” ia sudah menjadi budaya (culture).
“Kalau ngobrol jangan ngadep BB mulu dong,” kata sahabat saya kepada temannya. Itulah Urban. Ia sudah menjadi budaya. “Kalau akhir pekan kita ke mall yu,” kata eksekutif muda. Mall sudah menjadi tempat rekreasi, bukan sekadar belanja. Inilah kehidupan di kota (urban). Manusia sibuk dengan urusannya masing-masing. Malam minggu kerjaanya hanya nongkrong sambil ngopi di kafe. Semua terpaku ke layar. Laptop, TV, HP,dll.

Urban ( budaya perrkotaan) ini kita lihat di kota (city)-kota besar. Newyork, yang katanya hidup 24 jam, ia adalah kota sekaligus urban. Tapi bisa jadi ada kota yang nggak ‘ngurban’. Tiga tahun lalu saya sempat ke Manado, seminggu lebih. Ia kota, tapi tidak urban. Nggak ada mall menjamur, orang nongkrong-nongkrong, tiap weekend belanja ngabisin duitnya, apalagi nge’alay’ di pusat-pusat perbelanjaan.

“Ini gara-gara era modern” kata Owen, Prodhon, Saint Simon. Ternyata Urban itu gaya hidup modern. “Kota yang maju adalah kota yang modern”, kata Cicero. Revolusi Prancis mencanangkan magna carta. “egalite” istilahnya, persamaan. Semua harus sama!. Semua orang harus menikmati nikmatnya kaum borjuis. Semua menuju kota. Orang –orang dari berbagai desa ke kota (urbanisasi). Jadilah berkumpul dan membentuk budaya.

Yang tadinya desa, ter’urban’kan oleh masyarakat berubah menjadi kota. Ternyata benar kata ahli sosiologi dari Chicago itu Louis Wirth “relatively large, dense, and permanent settlement of socially heterogenous individuals”. Bahkan Arnold Tonynbee yang ahli Peradaban itu bilang bahwa kota itu tergantung individu-individu yang mengisi. Tiap kota bisa beda karakternya.

Gaung Urban sudah terjadi di kota. Ia sudah ter ‘Barat’ kan, karena Urban itu betul dari Barat. “Modern itu asli peradaban Barat” kata Mies, Corbu, FLW, Gruppius, dan Barisan ‘moderner’. Semua orang bekerja. Ekonomi harus setara, kata Marx. Manusia-manusia urban berubah. Ia menjadi sebuah robot yang terus bekerja, sesuai filosifi modern, aktivitas masal!.
Bahkan Wirth (1938) bikin buku yang berjudu ‘Urbanism as a way of life’. Ia sudah menjadi ‘way of life’. Kota harus ngikut ke Barat. Kota yang nggak modern, nggak pantas disebut kota. ‘Ah Deso luh, masa kaga tau itu apa”, “Kepo luh”. Bicara kota, ternyata memang, nggak cuman bicara fisik. Buktinya ahli –ahli sepakat, bahwa kota adalah gaya hidup. Kata Webber, kota harus memenuhi kebutuhan ekonomi, fisik, gaya hidup,dst.

Di Indonesia, kota yang nggak Urban, belum jadi kota kaffah (sempurna). Sama, penduduk kota, yang ngga ikut arus modernisasi, itu minggir dulu. Lama-lama kota berubah. Jakarta yang tadinya ramah bagi pendatang, ia menjadi stress. Istilahnya Claude Levi Struss “pada saatmanusia tidak lagi mengenali batas dari kekuasaannya, maka dia cenderung untuk menghancurkan

Kota akan mencapai ambang batasnya dan bisa mati akibat arus urbanisasi. “Padahal kota adalah symbol peradaban”, geram Wirth dalam “The City as a Symbol of Civilization”. Untuk membentuk peradaban kata para ahlinya diperlukan orang-orang yang beradab. “Yang di rancang adalah pola pikir masyarakat” senada dengan teori pembentuk kota. Ninian Smart, Thomas F Wall, Prof. Arlparslan, dan para ahli peradaban sepakat, bahwa pembentuk peradaban adalah masyarkat yang tinggal di kota. Inidividu-individu yang akan mengarhkan kota ke depannya

Senja semakin muram, sepenggal lagi matahari akan terbenam. Beberapa saat kemudian sayup-sayup terdengar adzan di tengah kota. Tapi, nampak, orang tetap sibuk urusannya. Urbanisme telah menjadi way of life. Ia telah menjelma kepada setiap orang. Tidak ada lagi ejaan –ejaan membaca ayat suci setelah magrib disana. Semua sibuk mencari “kesenangan”, padahal di kampung sana, tawa anak kecil riang, disambut pelukan hangat ibunya, dan nuansa sejuk alam terbuka. Mereka senang setiap saat. Ah sudahlah, tapi setelah melihat brosur, jadi tertarik untuk merancang kota, merancang peradaban.