Archive for the ‘ peradaban dan sejarah ’ Category

Kerakyatan yang Dipimpin Hikmat Kebijaksanaan

mati demoo

“Demokrasi telah mati!”  seorang berteriak di jalanan, berkeliling-keliling sambil mengibarkan bendera dengan penuh kebencian, kemarahan, dendam dan frustasi!. “RIP demokrasi,” kata kawannya yang lain sambil menshare foto-foto ‘Ingatlah Partai Ini!’, sambil misuh, tak menerima. Demokrasi menjadi jimat dan aji-aji, kebenaran absolut, lupakan sejenak partainya super korup atau tidak, yang penting kalau melawan ‘demokrasi’ ia harus dihabisi.

Demokrasi, ia tak bisa diganggu gugat, menggugat demokrasi ialah haram hukumnya!. Ia adalah fatwa kekal, tak mungkin salah, tak bisa disalahkan, awas sekali-kali melawan demokrasi, Presiden pun fotonya bisa diinjak-injak. Demokrasi ialah mantra sakti. “Semua harus demokratis” Katanya sambil merengek maksa keinginannya dikabulkan karena kalah voting.  Baginya, hanya dirinya yang mewakili rakyat dan demokratis. Tak demokratis berarti tak manusiawi, ketinggalan zaman, set back. Demokrasi kini menjadi tujuan akhir dan final, bukan lagi alat,  pokoknya begitu, titik!

Yang melawan demokrasi, ia harus kita habisi, “kita bully di twitter”. Lihat saja, mereka, orang-orang yang terpilih via demokrasi, para wakil rakyat, yang telah dipilih rakyat, karena mereka tak sesuai dengan pendapat dirinya, maka para anggota dewan yang terhormat akan dilawan. Mereka yang dipilih rakyat, secara demokratis pun harus dihabisi, karena tak sependapat dengannya yang bisa jadi tidak dikenal warga di kampungnya, karena cuman eksis di FB , Twitter, Instagram doang.

Mereka yang dipilih rakyat adalah penghianat demokrasi!. Sedangkan yang ahlul twitter wal fesbukiyyah, yang dicekoki : oknum pengamat, lembaga asing,  media mainstream yang berjibun kepentingan itu ialah rakyat sejati nan demokratis. Sebab, demokrasi baginya hanya urusan ‘memilih langsung’, kebebasan bicara, one man one vote,  ‘tok pokoknya kalau nggak memilih langsung:  #RIPDemokrasi, Demokrasi mati,  penghianat demokrasi, hingga umpatan kasar terus terlontar sambil mention-mention.

“’Demokrasi’, ialah harga mati, melebihi apapun!” terkecuali: parpol kami, lurah, camat, CEO, rektor, dll itu nggak perlu ‘demokratis’ amat lah. Keputusan yang diambil oleh orang-orang yang katanya dipilih secara demokratis tak perlu digubris, “karena bertentangan dengan kehendak kami”. Satu suara begitu nyaring, demokrasi di dunia maya yang membiarkan setiap orang berbicara begitu lantang, bebas,  begitu individualistik, begitu penuh polemik, kata Plato.

Orang-orang tak lagi percaya para wakil rakyatnya sendiri,  partai politiknya, karena semuanya hanya abu-abu, penuh intrik, licik dan plin plan hanya berkutat hanya pada kekuasaan, kepentingan partai, sebuah ungkapan yang tengah menyeruak.

“Mengapa idealisme dan politik seakan tidak bisa bersatu. Mengapa politik hanya dianggap amal yang lepas dari ilmu, retorika yang tanpa logika. Mengapa politik berarti membangun kekuasaan, bukan peradaban. Padahal kekuasaan hanyalah tahta yang tak berarti tanpa ilmu, moralitas dan tujuan? tanya Dr. Hamid Fahmy Zarkasy dalam Pemimpin.

“Semua itu adalah harga yang harus dibayar dalam sistem demokrasi,” jawab Gordon S Wood  dalam The Public Intellectual. Samuel Eliot Morrison dan Harold Laski, sejarawan Amerika percaya bahwa dalam sejarah modern, nggak ada periode yang kaya dengan ide politik yang memberi banyak kontribusi kepada teori politik Barat. “Itu karena kualitas intelektual dalam kehidupan politik masa kini turun drastis. Ide dipisahkan dari kekuasaan,” tambah Gordon gemas.

Kalau Gordon tinggal di Indonesia, mungkin ia akan berkata itulah harga yang harus dibayar oleh sekularisme dan demokrasi liberal. Beruntungnya,  Negara ini awalnya menolak sekulerisme dan demokrasi liberal. Sambil berbinar-binar, para intelektual cum founding fathers merumuskan bahwa di sini, demokraisi bukanlah bermakna : bebas omong dan one man one vote,  yang kini begitu didewakan pendukungnya, namun wisdom (hikmah kebijaksanaan) yang menjadi nilai dan dengan wisdom itulah rakyat dipimpin.

Di sini, harusnya ide tak bercerai dengan  kekuasaan, kerakyatan dipimpin hikmah. Sila ke -4 “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”  seharusnya menghancurkan konvensi  dan adigium “Berpolitik tidak bisa hitam putih” , ”Politisi boleh bohong tapi tidak boleh salah, ilmuwan tidak boleh bohong tapi boleh salah”. Terbukti dari ide yang diusung partai-partai di masa awal kemerdekaan  yang begitu menjadi kebanggaan, bukan intrik dan pragmatisme laiknya sekarang.

“Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.” Begitu apik dikisahkan dalam Mata Air Keteladanan: Pancasila dalam Perbuatan karya pakar Politik Dr. Yudi Latif, yang mengisahkan bahwa hikmah dan musyawarah merupakan kearifan asli dari negeri ini yang bercecer di pelbagai wilayah. Wisdom dan musyawarah barang langka yang mungkin sulit ditemukan di sana, ketika demokrasi itu muncul. Karenanya, di sananya, ia bukanlah lagi ‘kebenaran mutlak’ seperti mungkin di sini. Demokrasi pun tak luput dari kritik para filsuf seperti Plato dan Aristoteles, dll. Rakyat dikuasai kemarahan, “they are free men; the city is full of freedom and liberty of speech, and men in it may do what they like,”  kata Plato.

Syahdan, ketika semua orang berbicara, dan geram sambil bersumpah serapah pada mesin yang rusak di sebuah toko di Leicester Inggris, seorang berparas Timur berusaha memperbaikinya, dengan sabar, dan akhirnya tersenyum puas setelah mesin itu kembali normal sambil menyeringai, “ You see! Wisdom always come from the East,” kira-kira begitulah  maksud Edward Said dalam Orientalisme  tentang hikmah dari Timur.

Goethe (1749-1832) yang asli Barat itu memang mengeluhkan dalam West Oestlicher Divan bahwa pandangan asli Barat yang materialis dan individualis. Sedangkan Timur menjanjikan nilai-nilai kebijaksanaan, karenanya, sastrawan kesohor, Iqbal (1923) dalam Payam – i- Mashriq (pesan dari Timrur) menulis nasihat untuk Goethe.

Raindranath Tagore peraih Hadiah Nobel Sastra dari India membenarkan kata hikmah-bijak (wisdom) memang dari Timur : ‘taklukkan kemarahan dengan kesabaran, kejahatan dengan kebaikan’ juga berasal dari  Timur. Berbeda dengan istilah asli Barat, “Kenali musuhmu, vini, vidi, vici, we are the super power, “ kata Tagore.

Timur (orient) dan Barat (occident), mungkin seperti kelakar syair Tagore, bahwa wisdom bisa jadi hanya datang dari Timur, seperti tempat terbit matahari dan terbenam di Barat. Dan karenanya, wisdomlah  yang digali para pendiri negeri ini yang tak hanya ingin merdeka secara territorial, tetapi juga secara ideologi. “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”

Hikmah, ia bukan personal, bukan Presiden, bukan anggota dewan yang terhormat, bukan juga anggota DPRD. “Hikmat adalah suatu kondisi kejiwaan dan dalam sila ini dikatikan dengan sikap dalam bermusyawarah dan menentukan kebijakan. Artinya sistem permusyawaratan dan perwakilan dalam bernegara di Indonesai ini mestinya dipimpin oleh moralitas yang tinggi.” kata Dr. Hamid Fahmy Zarkasy dalam Hikmah.

Lanjutnya, dalam bahasa umum hikmah dipahami sebagai kebijaksanaan atau bijaksana (wisdom). Dalam al-Qur’an terdapat perintah untuk berdakwah dengan bijaksana (bi al-hikmah). Karenanya, orang yang memutuskan perkara dengan hikmah, ia disebut hakim. Ikhwanussafa menjelaskan orang yang memiliki hikmah atau “al-hakim” adalah yang perbuatannya dapat dipertanggung jawabkan; kerjanya tekun, perkataannya benar, moralnya baik, pendapatnya betul, amalnya bersih dan ilmunya benar, yaitu ilmu tentang segala sesuatu.

Hikmah juga berkaitan dengan berfikir yang logis dan mendalam. Karena itu Ibn Rusyd menterjemahkan “hikmah” dengan filsafat dan hakim dengan filosof. Istilah hikmah asli dari al-Qur’an dan disebut sebanyak 20 kali. Menurut al-Ghazzali hikmah adalah salah satu dari unsur akhlaq mulia selain keberanian, kejujuran dan keadilan. Maka berakhlaq mulia dalam Islam itu bukan sekedar berperilaku baik, tapi juga berilmu tentang kebaikan, bersikap berani menyatakan kebenaran, berlaku adil terhadap segala sesuatu alias tidak zalim.

Agar memiliki hikmah, keberanian, kejujuran dan keadilan diperlukan ilmu. Sebab berani dan adil tanpa ilmu bisa salah jalan alias sesat. Orang berilmu yang tidak jujur, ilmunya tidak manfaat. Demikian pula kekuatan dan manfaat ilmu dapat dilihat ketika seseorang itu dapat membedakan antara kejujuran dan kebohongan, antara haq dan batil, antara baik dan buruk. Jadi hikmah menurut al-Ghazzali adalah keadaan kejiwaan seseorang yang dapat mengetahui yang baik dari yang buruk benar dalam segala perbuatan. (Ihya III, hal.54). Ibn Arabi dalam Futuhat juga berpendapat sama. ( Hamid Fahmy Zarkasy: 2011)

Ungkapan Gordon di awal boleh jadi benar, bahwa kualitas (ilmu) intelektual dan spiritual dalam politik seakan tidak lagi dilibatkan. “Sebenarnya, yang mendirikan dan membangun negara itu adalah para intelektual” kata Zia Ul Haq (Presiden Pakistan silam) Mungkin Zia terinspirasi bukan dari para politisi, tapi dari para intelektual seperti Mohammad Iqbal, Abul Ala Al Maududi, Amir Ali, Syed Ahmad kan yang mempelopori kemerdekaan Pakistan.

Pun dengan inspirator negeri tetangganya (India) dari penjajahan Inggris seperti Mahatma Gandhi, Rabindranath Tagore, Jawaherul Nehru dan lain-lain. Boleh jadi, negeri ini pun begitu. HOS Tjokroaminoto adalah inspirator  Soekarno dan lainnya. Agus Salim, Hamka, Natsir, Wahid Hasyim, M Yamin, Ki Hajar Dewantoro, hingga Hatta yang semuanya bukan politikus murni, tapi intelektual yang bervisi politik.

Ayn Rand dalam For the New Intellectual menjuluki mereka,  sebagai thinkers who were also men of action. Dengan intelektualitasnya, diharapkan menjadi dasar dari ‘hikmah’. Ilmunya bekal amal. Itulah al Hakim (orang berhikmah). Al-Ghazzali menambahkan al-hakim adalah orang yang jiwanya memiliki kekuatan mengontrol dirinya sendiri (tamakkun) dalam soal keimanan, akhlak dan dalam berbicara. Jika kekuatan ini terbentuk maka akan diperoleh buah dari hikmah, sebab hikmah itu adalah inti dari akhlak mulia.

Cerdas memang, para intelektual cum pendiri negeri ini. “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan” menggambarkan sebuah sistem yang seharusnya hanya orang-oang yang “hakim” saja yang bisa memimpin rakyat.

Berbeda dengan semangat kemarahan, semangat hikmah memandang perbedaan pendapat tak harus dieksekusi dengan dendam kesumat karena ‘kalah’, sambil geram membagi sana sini ‘RIP Demokrasi’. Terus berteriak, memaksakan pendapat pribadi, tak sadar telah menjadi tiran, tirani demokrasi!. “Kematian demokrasi” yang digadang-gadang dibunuh oleh pengusungnya sendiri,  suicide democracy! Tragis!

Sebaliknya, duduk bersama, meracik perbedaan, berpikir kolektif dalam sebuah majelis, seakan mengulang romantimse masa silam ketika Sembilan orang berwibawa mengajukan dasar Negara tanggal 22 Juni 1945 dan disepakati 62 anak negeri, hingga ketika sehari setelah kemerdekaan negeri ini (18 Agustus), baru saja negeri ini memiliki Presiden dan Wakil Presiden yang ‘hanya’ disetujui 21 orang perwakilan.

Atau bisa juga kembali mengingat saat tahun 1955, ketika setiap orang pun memberikan suaranya secara langsung namun orang-orang yang disodorkan ialah para intelektual dan orang-orang terbaik dari Partai yang berbasis ide. Sekarang, pertanyaan terlontar kepada partai politik, akankah mereka memberikan rakyat pilihan para ahli hikmah yang akan diajukan sehingga rakyat tak menerima ‘begitu saja’ apa yang disodorkan?

Sebab, jika para ahli hikmah memimpin negeri ini, maka keadilan sosial takkan menunggu waktu, seperti ungkapan Lisan al-Din al-Khatib, ulama abad ke 14, dalam kitab Raudat al-Ta’rif memahami hikmah seperti keadilan. Walhasil, keberkahan dipastikan akan mengalir di negeri ini. Sebab al-Qur’an sendiri menjamin “Barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak….” (al-Qur’an 2:269) Wallahu a’lam. []

sumber gambar: blog.churchoftherock.ca

Sibuk

Beberapa hari ini saya berkesempatan nugas ngeliput di Ibu Kota RI, setelah sebelumnya kunjungan ke enam kota besar di macem-macem provinsi. Saat itu, saya sedang menaiki commuter line, ke arah Bogor. Saya membandingkan kota-kota yang saya kunjungi sebelumnya. Ternyata nggak berbeda jauh!. Kota-kota itu semakin ‘mendekati’ Jakarta.

Sorry ini jam sibuk bung!”teriak seseorang di tepi pintu kereta, sambil menahan orang luar yang mau masuk. Kereta terlalu penuh. Memang, suasana di dalam commuter sangat padat sampai-sampai orang di luar saja nggak bisa masuk. Saya membayangkan bagaimana kalau dengan kereta ekonomi kalau di sini saja seperti ini? “Mengerikan!”

Ungkapan “Ini jam sibuk” membuat banyak orang bertanya-tanya apakah itu sibuk? Apa yang membuat ribuan orang berkumpul pada tempat sama jam yang sama? Jim Dwiyyer menggambarkan keadaan Newyork dalam, bukunya ‘Subway Loves 24 hours in the Life of The Newyork City Subyway’. Saya pikir, ungkapan orang yang berterak tadi masuk akal. Jakarta semakin mendekati Newyork!

Itulah sibuk!. Semua melaju. Russel Leigh dan Cheryl Harris menguatkan pendapat Dwiyyer dengan bukunya ‘NIGHT SHIFT NYC’. Mereka bilang seperti curhatan teman saya. Katanya “Saya sering kejebak macet di Jakarta tiap pagi, sama pulang ngantor malam, kadang-kadang macet total”

Belum lagi senin kemarin (5/6) saat saya ke Ciputat jam enam pagi saja sudah macet. Jam sibuk semakin maju. Setiap saat menjadi waktu yang sibuk!. “Busy” istilah YM (Yahoo Messenger)-nya. “Nggak mau di ganggu pokoknya!”. Ia menjadi cenderung individualis kata Bauman. Padahal Morgan Freeman dalam Filmnya bilang ‘Get busy living, get busy dying”. Bisa jadi ia benar.

Di Indonesa, ‘Busy’ menjadi kawannya Bising. Latin-nya festinare, maksudnya ‘actively or fully engaged, occipided. Crowded with characterized by activity.’ Singkatnya penuh agenda, full kegiatan!. Makanya “ business” ngambil akarnya dari busy. Kereta bisnis yang saya naiki ini, keretanya orang-orang ’sibuk.’
Banyak sekali yang dikerjakan. Dari bangun pagi, hingga pulang dan tidur semua ia kerjakan. Lama-lama busy sudah menjadi gaya hidup (lifestyles). Semua orang mencari kesibukan-nya masing-masing. Lagi-lagi Peter Berger bilang ini gara-gara zaman. Katanya zaman telah berubah. Apakah pernah membayangkan orang-orang zaman dulu ‘sibuk’ seperti sekarang?.

Sibuk sudah menjadi ‘makanan keseharian’. Istilahnya David Chaney ”Life styles”. Orang yang nggak ‘sibuk’, nggak modern. Nggak baik!. Kabarnya, Cina sudah ketularan virus ‘sibuk’. Belum lagi Jepang, dan negara-negara lain. Semua mencari kesibukan. Malah, ekstremnya kata para ahli sosiologi, orang-yang hidup di kota-kota itu, Busy-ness City, mendapat tingkat “stress” tertinggi!

“Grrrr” geram orang sebelah saya itu sambil melirik berkali-kali ke pergelangan tangan kirinya, ia terlihat frustasi. Saat itu bus melaju pagi buta sekali di jalan tol. Jalan tol macet!. Semua orang sibuk!. Lucu memang, jalan tol yang katanya bebas hambatan, malah benar-benar bebas menghambat!. “Stress” sudah menjadi budaya Kota Besar. Ia terus melaju 24 jam.
Belum lama beberapa konsultan “Happiness”, mengadakan survey kecil-kecilan. Semua sepakat , termasuk para trainer, motivator, dll bahwa kebahagiaan dan ketenangan (lawannya stress) datangnya dari dalam diri. “Uang dan ke’sibuk’kan nggak bisa membuat saya bertahan, mendingan saya kerja di Bandung lagi,” kata teman saya yang sempat beberapa bulan hidup di Kota ‘Busy-ness.’ Akhirnya ia keluar dari kantornya di Ibu Kota.

Tetap, Ia harus belajar ’berhenti’ dari siklus ke’sibuk’an itu. Ia harus menyediakan waktu untuk diri sendiri. “Ah sibuk” gak sempet!”. Pikirnya, semakin sibuk semakin sukses. Semakin berbunga-bunga, semakin ‘mulia’. Sampai-sampai ia berteriak “We are too busy to be happy.”

Ia terus mencari kesenangan, kebahagiaan. Tiap akhir pekan, uang hasil ‘sibuk’nya digunakan untuk kongkow-kongkow di Café, Warung, Plaza, atau sekadar hangout di pusat-pusat kota. Menikmati hidup hanya di akhir pekan. Karena kalau hari –hari biasa ‘sibuk’ katanya.

Steve Bayley (1991) dalam ‘Taste: The Secret Meaning of Things’, mengemukakan “Cita rasa adalah sebuah agama baru dengan upacara-upacara yang di rayakan di pusat-pusat perbelanjaan dan meuseum, dua lembaga yang asal-usulnya terletak persis periode yang menyaksiskan ledakan konsumsi popular.” Periode apakah itu?

Inilah yang kata William Weber ‘Masyarakt modern’. Sibuk semua. Berdiri di dalam commuter line melaju bersama waktu pagi dan petang. Mengklakson, menginjak kopling, rem, mengklakson, sambil menggerutui ‘macet’. Featherstobe, nggak terlalu kaget, katanya “Ini karena perkembangan kapitalistik.”

A lyric Poet in The Era of High Capitalism” tambah Benjamin—Pusat keramaian (Crowd) merupakan tontonan wajar, jika seseorang boleh menerapkan istilah terhadap kondisi sosial. Sebuah jalan, suatu kebarakaran besar, kecelakaan lalulintas, pertunjukan mengumpulkan orang. Mereka hadir dengan sendirinya sebagai kesamaan konkret, yakni dalam kepentingan-kepentingan pribadi (p.2)

Uang gajian di habiskan di pusat-pusat keramaian. Hasil sibuk seminggu harus di rapel dalam akhir pekan! Berking and Neckel tahun 1993 sampai –sampai membuat buku “Urban marathon’The staging of individualityas an urbant event.” Kehidupan yang serba sibuk menjadi hidup ini seperti marathon, selalu dikejar aktivitas, sampai-sampai waktu-waktu tertentu saja menikmati kebahagiaan.

Tiba-tiba orang-orang di gunung itu berkata “Kami tidak perlu menunggu akhir pekan!”. Setiap hari kami bisa menikmati udara segar, tanpa bunyi klakson. Orang-orang kota-pun nggak mau kalah berujar, kamipun setiap hari merasakan kenikmatan di sini, setelah sejenak kami ‘berhenti’ dari kesibukannya. Berhenti dari kesibukan malah semakin baik katanya.

Nyatanya M Shumaker yang pembalap itu, harus berhenti sejenak di pit-stop untuk persiapan dan perbaikan ke depan.”Kalau melaju terus, mesin bisa rusak!” kata tim Ferrari. “Less is More: Spirituality for Busy Lives” tulis Brian Drapper. ‘Spirituality for busy people’ sedang berkembang di Amerika. Di Buku lain “The Practiceof Every day Life”, di kisahkan hidup itu nggak sekadar fisik bung! Ia butuh permainan, cerita, spritualitas!.

Orang-orang Barat mulai mencari makna spiritualitas. Lash and Urry melanjutkan bukunya “The End of Organized Capitalism”. Ternyata orang kota itu, awalnya ia penasaran. Sesekali ia memenuhi panggilan Tuhan untuk berhenti dari ‘kesibukan’. Setelah itu iseng ia buka kembali kitab sucinya , dengan wajah merah dan malu-malu ia menemukan ayat dan membaca dengan pelan kalimat “Setiap saat Dia (Allah) dalam kesibukan”.

Buru-buru ia sucikan diri, dengan bangga ia menghadap Dzat yang Super sibuk. Senang sekali rasanya orang itu ketemuan sama yang ‘sibuk beneran’. Yang selalu sempat di temui, selalu siap di ingat. Ia malu, ternyata selama ini ia sok sibuk. “Baru ‘sibuk’ saja sudah nggak mau ketemu sama yang Super sibuk!”. sadarnya

‘Sibuk’nya sudah berubah menjadi sibuk. Kata De Certau, Michman, Moers, sekarang ia sudah bisa me-manage ke’sibuk’anya dengan hal-hal yang baik. Berdiri di commuter line ia isi sambil mengingat Tuhan-Nya. Bibirnya Nampak basah. Tidak ada lagi gerutu di sana.

Tidak ada lagi menunggu akhir pekan, tidak ada lagi menunggu malam, kebahagiaan ia rasakan setiap saat, setiap detik. Tidak adalagi uang nya ia habiskan sia-sia, tidak adalagi ‘stress’di sana. We are too busy to be happy.” Berubah, every time, every where, I’am busy in happy. Ya, sama-sama sibuk, tapi nilainya sangat berbeda. Orang seperti ini nggak perlu ditanya sibuk ngapain sekarang?

Pedestrian

Yang kamu perlu hanya kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya,” gumannya mengutip perkataan sebuah  buku berjudul – 5Cm -. Lalu  tiba- tiba terucap dari mulutnya, ” Sayangnya, zaman ini kita mau jalan kaki sudah susah!”.

Perkataan dalam novel ini mungkin cocok di Barat.  Celotehannya teman saya itu cocok di sini. Nyatanya, beberapa waktu lalu kawan-kawan saya yang lain  protes. Mengapa saat dia berjalan kaki di ‘pedestrian’ malah di klaksonin motor dari belakang.

“Bukan pedestrian!” Sanggah dosen saya di suatu kelas. “Tapi”, dengan pelan dosen saya  melanjutkan “Yang benar itu adalah Jalur Pedestrian”. Ternyata ungkapan  teman saya berjalan di pedestrian itu ngaco. Pedestrian  itu  “ is a person traveling on foot, whether walking or running,” Kata Kamus-Kamus Inggris.

”Masih aja ada  yang bilang Pemkot bangun Pedestrian,” greget dosen saya itu. Pedestrian adalah, ya pejalan kaki itu sendiri.  Kalau tempat jalan kaki, namanya adalah jalur pedestrian. Ia makin  gregetran ketika ada yang menyamakan pedestrian dan trotoar.

Pedos, (Yunani) maksudnya kaki. Makanya KBBI bilang pedestrian adalah pejalan kaki. Jadi amat sangat error jika bilang “berjalanlah di pedestrian”. Menurut bahasa saja tidak sah, apalagi menurut terminologi?

Saat kuliah dulu,  berkali-kali,  saya diingatkan dosen saya untuk memperhatikan pedestrian jika  kami merancang suatu kawasan. Dalam bukunya “Life in the City”, Louis Wirth,  menyimpuylkan salah satu aspek dalam Kota yang baik adalah penggunanya. “Demokratis” adalah  salah satu ciri ruang publik yang ideal. Tapi, pengguna kendaraan seakan-akan menjadi ‘tiran’. Nggak perlu jauh-jauh ngomongin demokratis, apakah pedestrian sudah nyaman berjalan di  trotoar?

Oleh karena itu, waktu kuliah, kami ditugaskan meneliti kawasan yang jalur pedestrian-nya bagus biar nanti bisa praktek langsung.  “Istilah arsitekturnya, node (plaza) dan path(koridor)” kata dosen itu.  Kita lihat pada Plaza Maria di Jerman. Kita bisa menikmati duduk – duduk santai di Jalanan. Melihat anak-anak memberikan makanan pada burung. Sambil  menikmati alunan musik  karya Mozart dengan gesekan biola yang menyentuh kalbu. Belum lagi plaza-plaza yang lain. Barcelona, London, Brussel, Prancis, dll.

“Ah  itu kan Eropa! Di sini panas,”  kata orang-orang pesimis sambil mencibir.”Ah nggak juga,”  ungkap Jokowi, saat seminar Internasional Emerging Bandung. Kita lihat di Malaysia,dan Singapura  bung!. Orchard Road buktinya. Di sana kita bisa lihat node dan path bersatu. Pedestrian di hargai di sana.

Pengaturan koridor dan plaza juga  kita rasakan di  Water Front, Kuching, Malaysia. Kita bisa berlari-lari disana, duduk, bahkan tidur- tiduran. Kira-kira bisa ga ya kalau di sini?  Belum lama, kawan saya tour 5 negara dengan sumringah berteriak “Di Bangkok, Vietnam, dll trotoarnya segede gaban-gaban, sampai mobil bisa parkir disana!”.

Beberapa bulan lalu, saya bermain ke Solo. Seperti biasa, saya berjalan-jalan menikmati senja. Yang cerah di Jalan Slamet Riadi. Ia sudah tidak seperti dulu, ada yang berubah. Jalan kaki nggak terasa, tiba-tiba sudah sampai alun-alun (plaza). Bener juga kata Jokowi yang sekrang walikotanya , ‘Ah nggak juga”

Kira-kira dua tahun lalu, saya pernah riset keci-kecilan di mall  Ciwalk Bandung. Jika di desain dengan baik, maka pedestrian akan terpuaskan.  “Dilarang masuk kendaraan” kata Ciwalk.  Sang Legenda Urban Design, Prof Danisworo  pernah  nulis dalam “I-Arch”   tentang superblock. “Sorry, kendaraan pribadi minggir dulu. Semua harus  jalan kaki”. Inilah kota Ideal, Superblock!

Tapi yang terjadi kebalikannya.”Sorry , Anda minggir dulu, motor mau lewat!”  . “Brrmmm,” motor dipacu. Minggirlah para pedestrian di Ibu Kota. Ia menjadi termarginalkan. Semua pindah ke kendaraan pribadi berpolusi. Hilang sudah orang bersepeda. Jalurnya di makan sama mobil dan motor. “Orang-orang kampungan itu hanya dari kosan yang berjarak kira-kira 2 -3 km itu naik mobil” sergah kawan saya. “Belum lagi cuman 1 km, pake naek motor segala!” tambahnya gerah.

“Bisa saja aman dari mobil dan motor, kalian  tidak akan aman dari kami” ancam PKL. Pedestrian semakin terpojok. PKL yang tadinya 5 langkah dari trotoar, sekarang menjadi melangkah bersama pedestrian.  Era ini sudah merubah arti dan juga makna. Mungkin kata pedestrian di hilangkan saja. Tidak ada lagi orang yang  berjalan kaki, menikmati indahnya mentari di sore hari. Semua terjebak dalam siklus ‘stress’ di dalam besi-besi tua yang bergerak itu

Nikmatnya Menghirup udara pagi sudah tergantikan, dengan tergesa-gesanya memakai kemeja, menuju kantor, mencari secercah ‘uang;. Semua sibuk urusannya masing-masing. Pedestrian harus mengalah, eh,, bukan. Bahkan, ternyata bisa jadi perkataan teman saya itu benar dan  Dosen saya malah salah!

Pedestrian zaman ini adalah tempat orang berjalan. Bukan lagi pejalan itu sendiri. “Iya juga ya”, sebab, sekarang, sudah tidak ada lagi pedestrian. Ia telah mati kecuali bagi sebagian orang….Ia masih tetap hidup, menikmati indahnya Alam, mengirup udara segar, menikmati kebahagiaan,  dengan hati yang tunduk.

Arsitek

God Is an Architect”. Tulisan itu berwarna merah pekat datas kain putih. Seorang mahasiswa jurusan Arsitektur mengenakannya. Ia bergerak lincah. Orang-orang melongo, apakah memang benar Tuhan itu adalah arsitek.

Mungkin perlu diskusi lebih lanjut. Karena, kata dosen-dosen saya di ITB, definisi Arsitektur ini banyak sekali. Nyatanya, nggak ada kesepakatan sampai sekarang. Bisa saja seorang programmer menulis ‘Architecture Software’. Tapi, akar katanya bisa kita lacak.

Archi = kepala, dan techton = tukang, Latin. Mungkin maksudnya architecture adalah karya kepala tukang. “Arsitek itu pemimpin proyek!” Kata Dosen yang memang setiap harinya berkutat dalam profesi di lapangan. Saya lihat ia mengambil kapur putih, dan menorehkan tulisan “Semua hal yang berhubungan dengan perancangan bangunan.”

Tapi, kalau kata Dosen Sejarah dan Teori Kritik itu lain. Arsitektur itu nggak bebas nilai. Selalu ada kata yang mendampinginya.”Arsitektur apa?” Tanya dosen pengampu mata kuliah Arsitektur modern.

Sebelumnya, yang bisa ikut mata kuliah Arsitektur Modern dipastikan lulus mata kuliah Arsitektur Pra-modern. Tapi, Ada juga Arsitektur Nusantara. Bahkan, ada mata kuliah Arsitektur Islam. Makanya, kalau ngomongin Arsitektur, Arsitektur yang mana dulu?

Polemik ini membuat Paul Shepheard yang dari MIT itu bikin buku, ia nge-list satu-satu arti arsitektur menurut para ahli lewat judul bukunya “What is Architecture”. Akhirnya ia galau sendiri, katanya “architecture is not everything, Ia mengatakan, “So when I say architecture is not everything. I mean that there are other things in life and simultaneously. I mean that there are things that are not architecture, but which fit round it so closely that they help to show it is

Karena bingung, lagi-lagi dosen saya itu membeberkan teori dari mulai Vitruvius sampai Derrida. Klasik sampai Postmo? Wow. Ternyata belajar Arsitektur itu tidak hanya belajar bangunan, tapi juga Filsafat Barat.

Mulai dari Yunani sampai Postmodern. Nggak aneh dalam Arsitektur, perkembangannya sama dengan perkembangan peradaban masyarakat di Barat. Tapi tunggu, masih ada Arsitektur Nusantara, Arsitektur Islam, Arsitektur Timur. Ujungnya, belajar sejarah juga, nggak saklek harus membahas bahas ‘bangun membangun’.

Ada Arsitektur Yunani, Romawi, Abad Pertengahan, Rennaissance, Modern, Pascamodern. Percis akar-akar peradaban Barat. Oh, ternyata cukup luas juga cakupannya. Belum lagi ada kuliah tentang kota, ekonomi, lingkungan, seni, manusia, masyarakat, berhitung, dan masih banyak sekali.

Lagi-lagi kita temukan ‘Arsitektur’ sangat luas secara makna. Istilahnya Nietsze “Mengarungi lautan tak bertepi”

Misal, Arsitektur Rennaissance saja kita belajar tentang teori Plato, Pytagoras, hitung menghitung, dan lain-lain. Kata Plato keindahan alami muncul melalui adanya garis, lingkaran, dan permukaan yang menghasilkan bentuk dan volume geometris yang absolut. Belum lagi kalau denger Aristoteles, Pytagoras,dan lain-lain yang memengaruhi pemikiran ‘Arsitek’ abad renaissance seperti Angelo, Da Vinci,dll.

“The revival of classical influences in the art and literature and the beginning of modern science in Europe in 14th – 17th centuries, also movement or period of vigorous artistic and intelctual activity,” kata Webster.

Kalau kita List mungkin nggak beres-beres pembahasannya. Kata Le Corbusier ”architecture is the masterly, correct and magnificient play of masses seen in light. Architecture with a capital A was an emotional and aesthetic experience.” Ini pemikiran yang kena worldview modern.

Senada dengan Mies van De Rohe, Luis Sullivan, Frank Loyld Wright, dan kawan-kawan barisan Arsitektur Modern. Sebelumnya, aktivis Arsitektur Rennaissane tidak begitu jelas mendefinsikan arsitektur. Lihat saja,. Micheal Angelo, Leonardo Da Vinci, apa bisa disebut arsitek?

Arsitek lantas menjadi figur penting dan dijuluki sebagai “master”. Lalu menjadi gerakan masal, istilah akademiknya “International Style”. Jadi, istilah “arsitek”, sepertinya muncul di abad modern, di cirikan berdirinya Bauhaus. Sekolah Arsitek. Orang yang mau jadi Arsitek harus sekolah dulu, muncullah Arsitek terkenal abad modern.

Kata Mies, itu karena keinginan zaman!. Tapi, tesisnya Mies di habisi oleh pendapatnya sendiri. Sekarang Era Postmodern!!. Pakem-pakem modern “Less is more,” diganti dengan enaknya ”Less is bore”. Bikin bangunan terserah!. Dekosntruksi Derrida berkembang. Semua pakem di habisi, rumah itu harus beratap, kalau di postmo, tidak harus beratap!. “All Deconstrcution,”teriak Derida. Tidak bermakna.

Tapi orang-orang marah. Mereka merasa bahwa arsitektur bukanlah perburuan filosofi atau estetika secara perorangan, melainkan haruslah mempertimbangkan kebutuhan manusia sehari-hari dan mengunakan teknologi untuk mewujudkan lingkungan yang dapat dihuni.

Postmo harus minggir. Sekarang eranya “Green Architecture!”. Arsitektur yang baik adalah yang ramah lingkungan dan hemat energi, kata seorang dosen dalam kuliah yang lain.

Tapi sepertinya, masyarakat kita dulu tidak perlu di ajari untuk ramah lingkungan urusan Arsitektur. “Rumah kita sudah ramah lingkungan,” kata masyarakat tradisional sebuah suku di daerah terpencil. Jadi, ‘Green Architecture’, telat!. Kampung-kampung sudah menerapkan sustainable arsitektur.Tapi, apa bisa pencetusnya disebut “Arsitek” tanpa lewat sekolah ’modern’nya Arsitektur?

“Tolong buatkan rumah yang bagus”, atau “Desain yang murah dan indah!” kata klien kepada ‘Arsitek’. Definisi masyarakat, sama kaya Oxford “art and science of building; design or style of building(s).” Yang penting rumah bagus, terdesain oleh yang disebut ‘Arsitek’ walau F. Sillaban waktu bikin Istiqlal, nggak pernah sekolah di “Departement Architecture”. Begitupun pembuat bangunan-bangunan zaman dulu itu, atau bahkan rumah-rumah adat di Indonesia.

Istilah para kritikus arsitektur itu ‘Arsitek arsitokratik’. Jadi Arsitek zaman ini itu harus di bayar klien, dan sekolah Arsitektur. “Arsitek itu hanya melayani klien yang bayar,” teriak seorang alumnus sekolahan Arsitektur geram. Efek modernisasi Beaux Arts di Prancis. Kalau nggak di bayar, sama sekolah nggak bisa disebut Arsitek.

Berjubel orang masuk kuliah bercita –cita ingin menjadi ‘Arsitek Aristokrat’. Vitruvius sudah wanti-wanti “Arsitektur adalah ilmu yang timbul dari ilmu-ilmu lainnya, dan dilengkapi dengan proses belajar”. Sejatinya, dalam proses belajar, mengantarkan pada ‘Arsitek’ yang sesungguhnya.

Istilahnya teman saya saat kuliah “Pola Pikir Arsitektural”. Apa pula ini?. Maksudnya, Arsitek tidak hanya melulu tentang klien, bayaran, bangunan, desain tapi juga berpikir holistik. Semua terpikir!. Ekonomi, perilaku, seni, filosofis, fungsi, tata letak, kota, pengaruh, suhu, strukutur, rapi, lingkungan, dst.

Itulah mungkin kenapa ada tulisan “God Is an Architect,” cerdas memang. Sambil tersenyum, saya baru paham kenapa Tuhan disebut Arsitek, walau Tuhan nggak pernah mengenyam bangku sekolah dan di bayar oleh klien…

Kota

Senja yang cerah di kampus, seseorang membagikan brosur kuliah S2 di ruang seminar gedung Arsitektur bertuliskan “Rancang Kota”. Sejenak saya berpikir, apakah kota harus di rancang?. Ternyata, dalam bahasa Inggris, rancang kota artinya “Urban Design”. Kenapa tidak ‘city design’? . Kata dosen saya, dalam kuliah Arsitektur Kota, City sama Urban itu beda. Loh kok bisa? Artinya sama-sama kota.

Alkisah ada Deklarasi Urban Planning di Harvard tahun 60-an. Awal dari Urban disitu. Tapi, akarnya kita bisa lacak sampai ke Plato. Plato sudah ngomongin kota yang ideal. Katanya dalam ‘Critias’, ada sebuah peradaban maju, itu disebut ‘kota’. Makanya muridnya, Aristoteles bilang, kota yang maju ialah yang dipimpin elitis-elitis (arsitokrasi)
Nggak cuman Plato yang ngomongin kota. Jadi, city itu, kata dosen saya itu, lebih ke fisik bangunan (noun). Contohnya Newyork City, Jakarta City, Washington City, dll. Tapi kita nggak pernah denger Bandung Urban, Newyork Urban,dll.

Ternyata, urban yang asli bahasa latin itu maksudnya ‘gaya’nya (adjective). Ia merupakan pola hidup, gaya masyarakat, kebiasaan, bahkan kata Webber dalam “The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism” ia sudah menjadi budaya (culture).
“Kalau ngobrol jangan ngadep BB mulu dong,” kata sahabat saya kepada temannya. Itulah Urban. Ia sudah menjadi budaya. “Kalau akhir pekan kita ke mall yu,” kata eksekutif muda. Mall sudah menjadi tempat rekreasi, bukan sekadar belanja. Inilah kehidupan di kota (urban). Manusia sibuk dengan urusannya masing-masing. Malam minggu kerjaanya hanya nongkrong sambil ngopi di kafe. Semua terpaku ke layar. Laptop, TV, HP,dll.

Urban ( budaya perrkotaan) ini kita lihat di kota (city)-kota besar. Newyork, yang katanya hidup 24 jam, ia adalah kota sekaligus urban. Tapi bisa jadi ada kota yang nggak ‘ngurban’. Tiga tahun lalu saya sempat ke Manado, seminggu lebih. Ia kota, tapi tidak urban. Nggak ada mall menjamur, orang nongkrong-nongkrong, tiap weekend belanja ngabisin duitnya, apalagi nge’alay’ di pusat-pusat perbelanjaan.

“Ini gara-gara era modern” kata Owen, Prodhon, Saint Simon. Ternyata Urban itu gaya hidup modern. “Kota yang maju adalah kota yang modern”, kata Cicero. Revolusi Prancis mencanangkan magna carta. “egalite” istilahnya, persamaan. Semua harus sama!. Semua orang harus menikmati nikmatnya kaum borjuis. Semua menuju kota. Orang –orang dari berbagai desa ke kota (urbanisasi). Jadilah berkumpul dan membentuk budaya.

Yang tadinya desa, ter’urban’kan oleh masyarakat berubah menjadi kota. Ternyata benar kata ahli sosiologi dari Chicago itu Louis Wirth “relatively large, dense, and permanent settlement of socially heterogenous individuals”. Bahkan Arnold Tonynbee yang ahli Peradaban itu bilang bahwa kota itu tergantung individu-individu yang mengisi. Tiap kota bisa beda karakternya.

Gaung Urban sudah terjadi di kota. Ia sudah ter ‘Barat’ kan, karena Urban itu betul dari Barat. “Modern itu asli peradaban Barat” kata Mies, Corbu, FLW, Gruppius, dan Barisan ‘moderner’. Semua orang bekerja. Ekonomi harus setara, kata Marx. Manusia-manusia urban berubah. Ia menjadi sebuah robot yang terus bekerja, sesuai filosifi modern, aktivitas masal!.
Bahkan Wirth (1938) bikin buku yang berjudu ‘Urbanism as a way of life’. Ia sudah menjadi ‘way of life’. Kota harus ngikut ke Barat. Kota yang nggak modern, nggak pantas disebut kota. ‘Ah Deso luh, masa kaga tau itu apa”, “Kepo luh”. Bicara kota, ternyata memang, nggak cuman bicara fisik. Buktinya ahli –ahli sepakat, bahwa kota adalah gaya hidup. Kata Webber, kota harus memenuhi kebutuhan ekonomi, fisik, gaya hidup,dst.

Di Indonesia, kota yang nggak Urban, belum jadi kota kaffah (sempurna). Sama, penduduk kota, yang ngga ikut arus modernisasi, itu minggir dulu. Lama-lama kota berubah. Jakarta yang tadinya ramah bagi pendatang, ia menjadi stress. Istilahnya Claude Levi Struss “pada saatmanusia tidak lagi mengenali batas dari kekuasaannya, maka dia cenderung untuk menghancurkan

Kota akan mencapai ambang batasnya dan bisa mati akibat arus urbanisasi. “Padahal kota adalah symbol peradaban”, geram Wirth dalam “The City as a Symbol of Civilization”. Untuk membentuk peradaban kata para ahlinya diperlukan orang-orang yang beradab. “Yang di rancang adalah pola pikir masyarakat” senada dengan teori pembentuk kota. Ninian Smart, Thomas F Wall, Prof. Arlparslan, dan para ahli peradaban sepakat, bahwa pembentuk peradaban adalah masyarkat yang tinggal di kota. Inidividu-individu yang akan mengarhkan kota ke depannya

Senja semakin muram, sepenggal lagi matahari akan terbenam. Beberapa saat kemudian sayup-sayup terdengar adzan di tengah kota. Tapi, nampak, orang tetap sibuk urusannya. Urbanisme telah menjadi way of life. Ia telah menjelma kepada setiap orang. Tidak ada lagi ejaan –ejaan membaca ayat suci setelah magrib disana. Semua sibuk mencari “kesenangan”, padahal di kampung sana, tawa anak kecil riang, disambut pelukan hangat ibunya, dan nuansa sejuk alam terbuka. Mereka senang setiap saat. Ah sudahlah, tapi setelah melihat brosur, jadi tertarik untuk merancang kota, merancang peradaban.

Kesederhanaan Pemilik Bilik – Bilik yang Mulia

Di sampaikan oleh ustdz Ibnu Hasan At Thabari

Rumah Nabi kita yang mulia Muhammad shallallahu alaihi wa sallam jauh sama sekali dari kesan megah atau mewah, padahal beliau adalah kekasih Allah, manusia yang paling mulia disisiNya.

Jangan tanya bagaimana makananya, beliau makan seadanya, kamar atau lebih tepatnya bilik, pakaian dan alas tidurnya sangat sederhana kalau tidak ingin kita menyebutkan sangat menyedihkan. Bilik tempat tinggal istri-istri beliau berdiri dipinggiran masjid, semua berjumlah sembilan, empat diantaranya berfondasi batu bata dan selebihnya dari batu gunung, atap yang paling bawah terbuat dari pelepah kurma dan bisa dijangkau dengan tangan orang yang berdiri dibawahnya, bayangkan begitu rendahnya.

Hasan Al-Bashri ulamanya generasi tabi`in anak dari seorang budak milik ummul mu`minin ummu salamah radhiyallahu anha berkata :” tanganku dapat menyentuk atap bilik Nabi shallallahu alaihi wa sallam”

Setiap bilik terbuat dari rakitan kayu yang diikat, beralaskan tanah tanpa di ubin apalagi dipasangi marmer, alas tidurnya adalah tikar kasar yang sempit atau kecil. Dengarlah penuturan salah seorang istri beliau sayyidah Aisyah radhiyallau anha :” aku tidur didepan Rasulullah dengan dua kaki menjulur diarah kiblatnya, bila beliau mau sujud, beliau menyentuhku lalu ku tekuk kakiku, bila beliau berdiri aku lonjorkan lagi kakiku.

Saat itu rumah belum berlampu, pintu rumahpun tidak ada belnya hanya bisa diketuk dengan tangan.

Rasulullah tidak membangun bilik istri-istrinya kecuali setelah membangun masjid, awalnya dua bilik untuk sayyidah Saudah dan satu lagi untuk sayyidah Aisyah radhiyallahu anhuma.

Di bilik-bilik inilah istri-istri Nabi yang mulia bertempat tinggal, jauh dari berbagai bentuk aksesoris kemewahan, di bilik ini pula wahyu Allah turun kepada Nabi, di bilik-bilik ini juga beliau menghabiskan malam-malamnya dengan beribadah kepada Allah, inilah bilik-bilik yang sangat-sangat sederhana tapi mulia disisi Allah karenanya Allah menjadikan bilik-bilik ini menjadi nama salah satu surah didalam kitab suciNya yang abadi yaitu surah al-hujuraat.

Bila merasa lelah, Nabi yang sederhana ini merebahkan diri diatas tikar yang terbuat dari daun kurma, tikar kasar yang menorehkan bekas di lambungnya yang mulia, begitu teriris perasaan para sahabat yang masuk ke bilik beliau dan melihat bekas torehan tikar kerasa ditubuh manusi paling agung ini.

Suatu kali sahabat yang mulia Abdullah ibn Mas`ud radhiyallahu anhu masuk ke bilik Nabi, melihat kondisi beliau, bersedih Ibnu Mas`ud seraya berkata :” Ya Rasulallah, bagaimana jika aku buatkan sesuatu untuk alas tidurmu agar tubuhmu terlindur dari goresan tikar kasar itu?”

Putra Abdullah yang mulia ini menjawab :” dunia tak ada apa-apanya bagiku, aku dan dunia laksana seorang musafir yang berteduh dibawah pohon yang sebentar lagi akan berlalu dari pohon tersebut”.

Pernah sahabat yang mulia Umar ibnul khattab radhiyallahu anhu membandingkan kehidupan yang sangat bersahaja Rasulullah dikediamannya yang sempit dengan kehidupan hewan peliharaan tetangganya yang termasuk aparat negara di zamannya. Umar sedih melihat kandang hewan hewan itu dibangun begitu megah.

Suatu hari seorang wanita anshariyah berkunjung ke bilik Aisyah, begitu pandangannya jatuh ke alas tidur Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang keras, ia merasa iba, segera pulang dan mengirimkan alas tidur wol tapi setelah terlihat oleh Nabi, beliau menganggapnya sangat mewah dan menyuruh Aisyah untuk mengembalikannya kepada pemilinya sembari bersabda :” kembalikan itu, Demi Allah jika aku mau Allah pasti memberiku bergunung emas dan perak”.

Secara lahiriyah kehidupan dibalik bilik-bilik itu terlihat begitu keras kalau tidak ingin disebut kefakiran, ini wajar karena Rasul dan Nabi yang mulia ini tidak menyukai kekayaan, doa yang sering beliau panjatkan kepada Rabbnya adalah ucapan :” Ya Allah jadikanlah rizki keluarga Muhammad sekadar mencukupi kebutuhan”.

Suatu hari Nabi shallallahu alaihi wa sallam menatap gunung uhud, lalu beliau bersabda :” andai gunung uhud ini menjadi emas untuk untuk keluarga Muhammad, pasti akan aku infakkan di jalan Allah sampai tersisa dua dinar untuk jaga-jaga kalau aku punya hutang”.

Sebagai pemimpin ummat Nabi kita yang mulia ini tidak pernah merasa tenang selama diri beliau menyaksikan kaum muslimin hidup susah, tak mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari dan harus mati-matian bertahan hidup karena itu jika beliau memperoleh kelebihan rizki banyak atau sedikit, beliau segera membagikannya, sementara beliau sendiri kelaparan.

Apa yang dimakan oleh penghuni bilik ini adalah makanan kasar, boleh dikatakan tak pernah mencicipi makanan enak karena memang tidak ada. Dengar kesaksian Aisyah :” demi Zat yang mengutus Muhammad dengan haq, belum pernah Rasulullah melihat ayakan, mencicipi roti yang di ayak sejak beliau diutus sampai meninggal dunia”

Sahabat yang mulia Nu`man ibn Basyir radhiyallahu anhu berkata :” demi Allah pernah aku saksikan Nabi kalian tak mendapatkan sebutir kurma yang paling jelek sekalipun untuk mengganjal perutnya yang lapar” [HR Muslim]

Bahkan sampai tiga kali hilal lewat diatas bilik mereka belum terlihat ada asap mengepul dari dapur mereka [bukhari muslim]

Diwaktu yang lain Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata dari atas mimbar :” setiap sore, tidak ada satu sha` makanan dalam keluarga Muhammad untuk kesembilan biliknya”

Tentu Nabi berkata demikian bukan bermaksud mengecilkan pemberian Allah tapi agar umatnya meneladani beliau dalam kesederhanaan dan bersifat qanaah

Sahabat yang mulia Abdullah ibn Abbas radhiyallahu anhuma berkata :” selama beberapa malam berturut-turut Rasulullah tudur dalam kondisi kelaparan, begitupun dengan keluarga beliau, mereka tidak memiliki makan malam, roti yang paling sering mereka makan adalah roti kasar”.

Pernah satu saat putri beliau sayyidah Fathimah radhiyallahu anha datang membawa sekerat roti.

Nabi bertanya :” apa ini hai anakku?”

“ini sekerat roti yang ku buat sendiri ayah, tak puas rasanya jika aku tidak berbagi dengan ayah”. Jawab anak beliau yang disebut dengan ummu abiiha ini.

“oh ya? Bawalah kemari wahai anakku, ketahuilah inilah makanan pertama yang masuk ke perut ayahmu sejak tiga hari ini”

[menetes air mata, Allahumma Shalli wa Sallim wa Baarik alaihi wa `alaa aalihi wa Shahaabatih]

Tak pernah keluarga beliau meminim susu kecuali bila diberi oleh tetangganya, biasanya keluarga yang mulia ini mencukupkan diri mereka dengan mamakan kurma karena tidak ada makanan selain itu, itupun mereka perleh dengan susah bahkan jika kurma didapat mereka meniru Nabi, memberikan kepada orang lain yang kelaparan.

Pernah seorang wanita miskin berkunjung ke bilik Aisyah bersama anaknya yang masih kecil, tidak ada apapun yang dapat diberikan oleh bunda Aisyah selain sebutir kurma, begitu kurma diberikan, wanita itu lalu membelahnya menjadi dua bagian, sebelah untuk anaknya sebelah lagi untuk dirinya.. subhanallah

Ketika lapar, Nabi bertanya kepada istrinya, apa yang mereka punya. Pernah beliau meminta kuwah, tapi istri beliau menjawab : ga ada, yang ada Cuma cuka”. Beliau memintanya dan dan mencelupka irisan roti kasar kedalamnya seraya berkata :” kuwah ternikmat adalah cuka, kuwah ternikat adalah cuka”. [muslim]

Allah menawarkan kepada Nabi kekayaan atau kecukupan, beliau memilih lapar disertai kenyang, seraya berkata : “ saat aku lapar aku meminta kepadaMu jika aku kenyang aku bersyukur kepadaMu”

Suatu hari pernah Rasulullah didera lapar yang sangat, beliau terpaksa keluar rumah untuk mencari makanan, di jalan beliau berjumpa dengan dua sahabatnya Abu Bakar dan Umar yang juga kelaparan, padahal inilah tiga manusia terbaik di muka bumi. Bertiga mereka datang ke rumah salah seorang sahabat anshar, mereka pun disambut dengan menyembelih seekor kambing. Usai menyantap hidangan Rasulullah bersabda :” sungguh kita akan ditanya atas nikmat ini kelak di hari kiamat”

Sahabat yang mulia Anas ibn Malik yang pernah menjadi pelayan Rasulullah selama 10 tahun berkata :” tak penah sekalipun ku lihat Nabi makan diatas piring, tak ada roti empuk, tak ada daging sampai beliau menghadap Rabbnya, beliau juga tidak pernah makan diatas meja makan”. [bukhari]

Masih banyak riwayat yang melukiskan kepada kita kehidupan di balik bilik yang mulia ini, pola hidup seperti ini terus berlangsung hingga hari terakhir kehidupan beliau, padahal seluruh pintu-pintu dunia dibuka oleh Allah untuk beliau dan harta yang datang kepada beliau melimpah ruah, jangankan mengubah gaya hidup layaknya sebagai pemimpin atau penguasa, mengubah rumahpun yang bilik itu tidak beliau lakukan. Setelah fathu makkah, Rasulullah tetap dengan gaya hidup apa adanya, Ummu Hani, putri Abu Thalib ketika mengunjungi Nabi menyaksikan dengan mata kepala sendiri, beliau mandi sementara putri beliau Fathimah menabiri beliau dengan selembar kain, padahal saat itu beliau berada di puncak karisma dan kekuasaan sempurna.

Rasulullah teladan kita, Rasulullah junjungan kita
Rasulullah uswah manusia, paling bahagia hidupnya

Allahumma shalli wa sallim wa baarik alaihi wa alaa aalihi wa shahbihi ajma`in