Archive for the ‘ Catatan Perjalanan ’ Category

Inspiring Hamida,  Little Girl in The Ruins of Aleppo

In the very cold temperature of minus 4 -2 degrees Celsius, the little girl come without socks, without shoes, event a piece of  footwear.

Tin and olive trees shaped like  a giant broccoli became our sights along the snaking path towards Aleppo, the second largest city in Syria after Damascus, which was also the most dangerous areas. Aid trucks piled at the edge of the street. The houses aid from various NGOs (Non Government Organizations) humanitarian and refugee camps regime victims lined the Syrian-Turkish border, sometime ago when I arrived  there.

Aleppo, the old city with high buildings like shophouses. Bricks adorn the streets. Markets began crowded of activites. Now, Aleppo did’nt like centuries ago. Debris and ruins were visible everywhere. Many houses were destroyed by the blast. The ruins that littered the streets. The streets were blocked rubble. The damage is so great.

Abu Nizam, Humanitarian NGO activists in Syria Saleem Sadeer drove us to saw the condition about this City. Then, we stopped at a school. Just walking out of the car, stepped the first time, the sound of explosions could be heard not far from there. “..Buumm ..”

Abu Nizam glance, raising his shoulders. “This is an example of the sound of the explosion was that we heard,” he said, pointing to the former bomb that fell in a school yard. Army Assad regime is routinely dropping rockets and birmill. Birmill is a large vat containing bombs and large flake irons that if the burst can destroy anything within a radius of 200 meters around.

DSC_0265IMG_0018

“Schools in Aleppo entirely were closed and stopped now because of schools has become the target of bombing Bashar Assad’s army,” said Abu Nizam. In addition to a large aperture of the former bomb, there are also former Assad forces shot bullets at the school. After seeing the moment, we continue with a trip to Madrasah Al Fatih is not far from there.

This time, there was a big hole in the ground, but the height of the building was melted. Veins of iron bones out of the building. The building was destroyed, the debris scattered about. “Seventeen boy died in this school. In the last ten days alone, 400 people were injured and many die as a result of drone attacks Assad, “said Abu Nizam.

When the kids in Indonesia is carefree joy of playing, in Syria, they are used as targets for attack. Look at when we visited a school on the outskirts of Aleppo, Madrasah Imam Ahmad Ibn Hanbal. Look when a bomb-birmill it fell into a large field surrounded by three grade levels.

hamidah

Hamidah

The permission of God, birmill did’nt explode. If exploded then hundreds of innocent boys will killed instantly. But besides birmill, mortars were spewed Assad plane. Most of the building was destroyed. Roofs collapsed, until that ruins strewn in the streets.

Hamida, a 11-year-old girl is now just live alone. Staying with other friends in Ma’had Imam Ahmad Ibn Hanbal after his mother’s death hit by mortars and bombs from aircraft.

“Hamidaah …” last shouted of his mother, as told Fatma, who’s now caring for elderly woman Hamida in Mahad Imam Ahmad ibn Hanbal. Screams into last cry, before Hamida heard a huge sound. “..Buummm …”. Smoke rose high. In the thick dust, his father immediately digging school ruins and trying to find his wife who had lost a large bomb hit, but all in vain.

The father becomes depressed, crazy, then some where to go. Now, Hamida live alone, so lonely. Fortunately, Mahad Imam Ahmad provides a temporary residence for Hamida. The whole school were closed, to maintain the security of the boys from the attack aircraft ready lurk.

1DSC_0271

“Pray for my mother may be placed in Heaven,” said Hamida his eyes filled with tears. “I want to back to school,” he recalls. “The children here if you want their schools need thick socks,” said Fatma added. At that time, invisible socks are attached at the foot of Hamida.

“In class they are cold, some even don’t have shoes. But what makes the emotion, they keep the spirit to continue to learn, to school, “said Fatma, softly. In the ambient temperature of minus 4 -2 degrees Celsius, the little girl come without socks, without shoes, without event a piece of footwear.

My Friend beside me, then give a scarf to Hamida. He prayed that someday Hamida into student achievement. Suddenly, I didn’t realized why these eyes filled with tears. The other friend wiping her tears were already running down the cheeks. When we use the super thick jackets, see how Hamida just use ordinary clothes, without earmuft, no skullcaps, no scarf, no socks, or our waterproof shoes.

Hamida just want to back to school again, sipping sweet The Qur’an. She  try to sincere for her parents, may meet in Heaven someday. Aamiin. I once again realized how grateful live in my Country. Alhamdulillah

(Rizki Lesus, Humanitarian Journalist at #Road4Peace)

Hamparan Sajadah di atas Mavi Marmara

Kumandang adzan subuh membelah langit Laut Marmara. Para relawan kemanusiaan itu dalam hening dan syahdu, bertakbir, tahmid, tasbih dalam berdiri, rukuk, dan sujudnya. Dalam hening, sang Fajar masih belum menyingsing, asyik berselimut kegelapan. Sunyi, hanya ditemani desiran ombak hitam, membelai lembut Kapal Mavi Marmara.

Mavi, orang – orang sini menyebutnya biru. Biru, laut Marmara itu selalu membiru, membentang, secerah biru di atas langit sepanjang cakrawala. Suasana begitu tenang, saat kapal itu mengangkut anak-anaknya, para relawan kemanusiaan merentas seberang, menembus blokade Isarel, berharap berjumpa Gaza, Palestina jauh di hadapan, menunaikan amanat umat.

Mavi Marmara, ialah kisah yang tak kan terlupa, di penghujung Desember tiga tahun silam. Dalam sunyi itu, suara angin berkelebat, deru pesawat tiba menghampiri, tali bergelayut, sinar-sinar bersorot ke sana ke mari. Panik? Dalam sekejap saja, suara tembakan membelah kesunyian langit. Satu..dua..darah mengucur deras.

Tentara-tentara itu berdatangan, kukuh dalam blokadenya. Tak seorang pun boleh masuk ke dalam Gaza. “Kalian membawa senjata,” teriaknya, sembari mengangkat barang bukti berupa kain, obat-obatan, makanan,  selimut, pakaian, dan kitab suci, dan itulah senjata yang dituduhkan, yang membuat mereka bergetar. Marmara, laut biru berkelebat, tiga tahun kemudian.

***

Di atas Laut Biru Marmara

Kumandang adzan membelah birunya langit Marmara yang hendak berganti dengan kilaunya keemasan.  Burung –burung camar berputar-putar, mendekat, menjauh, melayang, suaranya riang. Angin menderu hebat, dinginnya musim dingin menusuk kulit. Teringat, apa yang terjadi tiga tahun silam di sini, di laut nan biru ini. Mata ini terkenang, mengingat, apa yang kami lakukan, tak jauh dari mereka. Saya di sini sebagai seorang wartawan, jurnalis, yang bergabung dalam tim kemanusiaan.

 

Shalat di atas laut

Shalat di atas laut

 

Dalam berdiri, rukuk, dan sujud bersama, di kemuning senja Mavi Marmara, di atas kapal feri ini air mata mengalir, tak tertahankan. Sebuah kesempatan yang sangat berharga, menikmati syahdunya senja di Mavi (Laut Biru)  Marmara. “Rukuk dan sujudlah kamu bersama,” ayat yang begitu terngiang.

DSC_0194

Di atas laut Marmara nan biru, sejumput syukur terlafal, di atas hamparan sajadah di atas Laut Biru Marmara. Kaus kaki tebal tak dapat menahan dingin yang terus melaju, menembus pori-pori. Satu hingga enam derajat Celcius, begitu tertulis pada termometer digital dalam bus, sejenak sebelum kami masuk ke Darmaga, melintasi laut Marmara.

Jamaah  sholat Jamak Takhir itu hening dalam rukuk dan sujudnya. Di atas hamparan sajadah, di atas laut biru Marmara, semua teringat peristiwa di masa silam. Kisah yang menghentak dunia kemanusiaan, mengoyak hati, menyisakan kenangan, 9 orang syuhada di atas kapal, tempat kini kami berpijak.

DSC_0272

Langit membiru, berganti kemuning senja perlahan. Angin membuat ujung syal di leher ini menari merdu. Jaket tebal, tak hanya sesaat menahan dinginnya angin laut di musim dingin. Di atas selasar kapal, di luar, beratapkan langit, semua tunduk dalam khusyuk, mengingat RabbNya, yang sangat jarang sekali dilakukan manusia, kecuali dalam lima waktu ini.

Salam terlafal, semoga kami dalam keadaan selamat, melihat misi kemanusiaan ke depan ini sangat berbahaya. Bom-bom menggelegar, birmil, mortar hingga tajamnya peluru siap menembus dada. Tiga tahun lalu, di atas laut biru ini, ancaman itu bukan sekedar cerita dari mulut, tapi sudah terjadi, dan kini seorang saksi, pemimpin rombongan kemanusiaan ini duduk terpekur di atas bangku kapal yang bergoyang, mengikuti alunan ombak.

Pak Mus, kami menyapa pria asal Malasyia, ketua NGO MASSA. Orang yang dulu berada dalam kapal Mavi Marmara itu, kini sedang termenung, mengingat masa silam. Ditulisnya sebait dua bait syair Marmara. Dibacanya sedikit berbisik dengan penuh khidmat.

 

IMG_9710

Marmara yang Indah

 

Di senja ini aku terpaku di bangku Kapal Feri

Merenung sejauh-jauhnya lautan biru tua yang terhampar

Burung Camar berterbangan rendah menyapa

Bersama deru angin dingin yang meresap ke rongga

Angin Marmara memberi makna persahabatan, kekuatan, ketegasan dan keindahan

Oh Marmara

Aku jatuh cinta PadaMu

Dan dapat meningkatkan cintaku pada Penciptamu

Indahnya Marmara membuat ku membuka mata fakta

Di sini dulu, Perahu dan kapal besar Sultan-sultan dari Khilafah Utsmaniyyah merentasinya

Dan melakukan operasi tentera sehingga ketika Muhammad Al Fatih akhirnya menawan Istanbul atau Konstantinopel..!

Aku belajar sesuatu tentang gelora perjuangan dan semangat jihad penguasamu

Penguasa yang baik sehingga mengharumkan Islam dan jiwa kemanusiaan

Rakyat merasa terbela dan izzah meeka  melonjak naik ke langit

Insan biasa menjadi hamba Allah yang tunduk mengatur sepenuhnya menurut Islam

Oh..Marmara

Terima kasih atas kesempatan ini

Semoga akan kembali lagi sehingga kegemilangan hidayah di bumi ini kembali

IMG_9712

***

Di atas sajadah di atas laut Marmara itu, doa-doa terselip. Di seberang sana, bumi Syam yang kami tuju, anak-anak kecil itu mati membeku. Di sini, atas sajadah di atas laut Marmara, kami berlapis pakaian musim dingin, sedangkan mereka di sana, hanya kaos tipis, beratap tenda, menanti badai salju segera mereda.

Di atas sajadah di atas laut Marmara, berduyun-duyun kami berganti, bersaf-saf, menghadap sang Pencipta dengan berdiri, rukuk, dan sujud. Langit biru Marmara, kini berganti menjadi kemuning keemasan. Sambil bersender, memandangi mentari di geladak kiri, burung-burung camar merendah, menghampir, medekat.

Memandang sejenak ke belakang, di sana, tempat ratusan elang laut dan camar itu bertengger, di penghujung dermaga, kota kenangan yang Pak Mus sebut-sebut. Di balik punggung ini, Instanbul, kota tua Konstantinopel yang selalu mengingatkan. Teringat saat diri ini berdiri di bawah benteng tua itu, memandang gerbang besar berlafadzkan kalimat tauhid.

DSC_0331

Menyusur gerbang, lebih masuk ke dalamnya, berguman pelan, disinilah dulu, kota yang dinubuatkan nabi. Di bawah kaki ini, tanah yang mengundang para pemimpin besar datang untuk membebaskannya. Sejauh mata memandang, ke seberang  selat Bosporus sana, di ujung sana, rumah-rumah kecil menyemut, dan di sanalah kapal-kapal itu mendentumkan meriam.

Di sana, di Asia sana pasukan Muhammad Al Fatih berjibaku, berminggu-minggu untuk mencapai tempat ini berdiri, bumi Eropa, ibu Kota Imperium Romawi yang namanya membuat gentar, Konstantinopel. Di sanalah,  Laut Hitam dan Laut Marmara dipisahkan selat Bosporus yang dihalangi rantai-rantai besar, pasukan Al Fatih tertahan.

Kini, di atas hamparan sajadah di atas laut Marmara, memori itu mulai terketuk. Kapal-kapal besar melewati kami, menuju selat Bosporus di belakang sana. 400-an Kapal-kapal dengan meriam dan layar terkembang, melaju, melawan arus kami 600 tahun silam. Kami laiknya kapal yang melarikan diri, menuju Bursa, Kota kemunculan Utsmaniyyah.

1453, saat Al Fatih muda menggelorakan para pasukan terbaiknya, menarik jangkar-jangkar, mengembangkan layar, memutar bidik teropong, melihat dari kejauhan, benteng –benteng konstantinopel itu berdiri tegak. Di belakang sana, benteng-benteng itu berdiri kokoh, benteng Al Fatih, saksi akan kegemilangan Islam di masa silam.

Kini, di atas hamparan sajadah di atas laut Marmara, semua bersiap. Hamparan sajadah itu kembali dimasukkan ke dalam tas besar, bersiap, Bursa, Ibu Kota Utsmaniyyah sebelum Konstantinopel itu menanti. Kota tua dengan benteng-benteng dan  gemerlap cahaya sepanjang malam.

DSC_0231

Mentari bulat sempurna menemani perjalanan nan dingin di Laut Marmara. Senja semakin menguning berkawan camar yang berputar membelah angkasa. Langit semakin gelap. Mentari perlahan turun ke peraduannya. Senja itu, semua berharap, semoga misi kemanusiaan ini kelak berhasil. Mengabarkan bahwa masih ada harapan, akan kedamaian yang terjadi di Bumi Para Nabi, Syam, Suriah, Palestina, Yordania, Lebanon. Insya Allah.