Catatan Haji (2) : Khutbah Arafah yang Syahdu

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya : Catatan Haji (1) : Arafah yang Syahdu, Arafah yang Dirindu

Terik masih menggantung di langit Arafah, tapi panasnya menyengat lautan pasir sepandang mata memandang. Sampai-sampai, saat para jamaah sudah menemukan tenda untuk shalat, orang-orang dengan cekatan menutup dan mempersempit celah-celah di antara pucuk tenda, di tutup oleh spanduk, dirapatkan dengan tali, atau apapun.

Musim panas baru saja usai, tapi jangan tanya panasnya sepeti apa Arab Saudi, apalagi jutaan orang menyemut di padang Arafah. Kali pertama saya menginjakkan kaki di Arafah, seakan tak percaya, bahwa saya benar-benar tiba di Arafah.

Tahun sebelumnya, saat musim haji tiba, gambar-gambar suasana di Arafah dan di Muzdalifah menyebar di berita-berita, di laman-laman media, di laman-laman media sosial lainnya. Gambarnya sederhana.

arafah 1

sumber: nu.or.id

Hati mana yang tidak bergidik melihat gambar Arafah yang memutih oleh jutaan manusia? Di mana lagi manusia menangis haru, menundukkan hati, merebahkan jiwa, menikmati jamuan spesial dari sang Maha?

Para tamu undangan Allah dari pelbagai dunia ini berpakaian sama, putih-putih. Tak tampak siapa pejabat, guru, dosen, profesor, tukang bubur, pelajar, mahasiswa, wartawan, pengusaha, atau siapapun, semuanya sama, mengenakan pakaian ihram.

Ada pengalaman lucu, saat saya berangkat dari Madinah menuju Makkah untuk melaksanakan haji tamattu beberapa hari sebelum wukuf di Arafah. Saya kebagian duduk di jok bus paling belakang, persis seorang bapak dengan istrinya.

Setelah saling memperkenalkan diri, saya tanya beliau,” Kerjanya apa pak sekarang?”

“Ya cuman bantu-bantu warga aja,” katanya.

Belakangan saya baru tahu bahwa beliau adalah Wali Kota sebuah Kota di ujung Indonesia. Mengapa saya bisa tahu beliau Wali Kota? Karena saat di Mina, beliau diminta sharing, tentang kepemimpinan. Dan kita sadari bahwa dalam ibadah haji, semua identitas tersebut ditanggalkan.

Di Mekkah, di Al Haram, di Madinah, di Mina, di Jamarat, kita belum tentu bisa berkumpul bersama. Tapi di Arafah, baik jamaah itu Presiden hingga rakyat jelata, rukun haji ini tetap harus terlakon.

Jangan heran, begitu pulang ke daerahnya masing-masing, hubungan antar jamaah bisa sangat personal, begitu dekat, karena haji mengajarkan bahwa sekat-sekat sosial itu sirna.

Lihatlah seorang direktur dari perusaan kesohor, dengan seorang office boy, bisa sangat dekat, dekat sekali, bercengkrama, berseloroh, suasana yang sangat sulit ditemukan di daerahnya masing-masing, apalagi setelah demam hedonisme dan individualis menyergap zaman.

Berbalut dua lembar kain ihram yang membungkus tubuh, semua tampak sama. Tak ada lagi kelas yang menyekat kita sehari-hari. Arafah mengingatkan kita kembali bahwa semua di mata Allah adalah sama.

Namun kenyataannya kita tahu, ada orang yang begitu bangga dengan hartanya. Menganggap orang itu sukses setelah memiliki rumah, mobil. Sebaliknya, orang yang hidup mengontrak dianggap sebelah mata.

Ada pula menganggap gelar sebagai simbol keberhasilan. Berjibun gelarnya, bangga dengan sebangga-bangganya. Ada pula yang menganggap profesinya sebagai lambang keberhasilan.

Ada pula yang menganggap anak adalah simbol kesuksesan, berkisah ke sana sini, tentang ‘kesuksesan’ anaknya telah bekerja di sini, di situ, punya materi ini dan itu. Materialisme telah mengubah cara pandang akan kesuksesan.

Madrasah haji mengingatkan kita kembali bahwa simbol kesuksesan sejati adalah ketakwaan, “Sesungguhnya manusia yang paling mulia adalah yang paling bertakwa,”

Kelak kita akan tahu bahwa diri ini sukses atau tidak di hari akhir. Dunia hanyalah si fana yang begitu menggoda, mengaburkan realitas akan wujud, yaitu hari akhir. Tak ada yang tahu nasib kita, yang bisa kita lakukan adalah beramal sekecil apapun.

Dan Arafah kesempatan luar bisa untuk kembali merenungkan makna kehidupan, perjalanan kehidupan, makna kesuksesan, makna kesederhanaan, makna ibadah, makna kebendaan, makna material, makna keabadian, makna kehidupan, dan makna dari segala hal yang bermakna.

Tak heran, khutbah Arafah menjadi pembuka gerbang sebelum kita berwukuf, menyendiri dengan mematung di jantung lembah hingga bukit Arafah. Di setiap maktab, setiap KBIH, setiap grup, setiap rombongan, khutbah Arafah pasti menyeruak di tenda-tenda, lapang-lapang, ruang-ruang hingga relung hati yang terdalam.

Pun dengan khutbah wada sanga Nabi di hadapan 90  ribu – ada yang bilang 100 ribu- hadirin. Para khatib Arafah kembali mengingatkan, akan makna kehidupan.

Madrasah haji, selalu menjadi madrasah yang paling dirindu. Tak semua orang bisa melaluinya, apalagi setiap tahun. Karenanya, satu-satunya momen Arafah benar-benar diingatkan, itulah hikmah mengapa ada khutbah Arafah.

Di tenda kami, para jamaah undangan, staf Atase Agama Kedutaan Arab Saudi yang menyampaikan khutban Arafah. Khutbahnya sederhana, namun begitu mendalam, menjadi refleksi diri. Beginilah kami menikmati suasana Arafah, berikut khutbah beliau, saya kutip selengkapnya, khutbah yang menggetarkan jiwa:

“Pada hari Arafah di Padang Arafah, Allah memberikan kelebihan yang luar biasa pada hari, waktu dan tempat ini, Rasulullah bersabda, tidak ada satu hari yang dimana ketika Allah banyak sekali memerdekakan manusia dari ancaman api neraka yang melebihi banyaknya daripada hari Arafah.

Mudah-mudahan Allah menjadikan kita yang ada di sini termasuk orang-orang yang dibebaskan oleh Allah dari ancaman api neraka. Amin.

Rasulullah bersabda seraya menjelaskan bahwa hari Arafah merupakan hari yang sangat luar biasa, kesempatan ketika kita berada di sini digunakan untuk bertafakkur, mendekatkan diri kepada Allah, beribadah, bermunajat, meminta kepada Allah dan Allah akan menjadikan doa yang utama adalah doa yang dipanjatkan pada saat kita berada di Padang Arafah.

Doa yang paling baik yang dipanjatkan adalah doa yang dipanjatkan ketika di Padang Arafah, dalam keadaan yang terbaik dan mulia ketika Allah turun di langit dunia untuk membanggakan hamba-Nya di hadapan para malaikat, dimana ketika itu amat terasa keterikatan manusia dengan penciptanya saat wukuf di Arafah.

Mudah-mudahan orang yang memperoleh undangan dari Allah di Padang Arafah dapat berdoa dengan khusyuk, meminta kebaikan bagi diri kita, keluarga kita, masyarakat kita, bangsa dan negara kita, semoga tidak ada satu pun doa terbaik yang dipanjatkan di tempat ini kecuali Allah berkenan untuk mengabulkannya.

Pada saat Rasulullah melaksanakan haji wada’, sebelum Rasul dan sahabatnya melaksanakan ibadah salat zuhur dan ashar secara berjamaah beliau berkhutbah, khutbah yang sangat luar biasa mengumpulkan simpul-simpul yang terbaik bagi umat Islam agar senantiasa menjaga ketenangan dan kesenangan baik di dunia maupun di akhirat.

Rasulullah bersabda dalam khutbah-nya ketika sedang berkumpul di Padang Arafah, bahwa sesungguhnya darah-darah dan harta-harta kalian amat sangat mulia di sisi Allah sampai kehidupan berakhir, harta dan jasad kita dipelihara Allah karenanya Allah haramkan kita untuk menzalimi orang lain.

Kita tidak boleh menyakiti orang lain dengan tindakan-tindakan kriminal yang bertentangan dengan syariat Islam dan kehormatan, harta, nyawa, dan darah kita.

Karenanya di tempat yang mulia ini, bila sebagai manusia yang lemah, manusia yang tidak memiliki daya dan upaya, pada saat melakukan secara tidak sengaja yang berhubungan dengan kezaliman terhadap orang lain di tempat inilah kita memohon ampung kepada Allah.

Bila kita pernah menyakiti saudara, kerabat, menzalimi mereka, di tempat yang amat sangat mulia ini kita bersimpuh dihadapan Allah untuk memohon ampunan kepada Allah.

Rasulullah bersabda, sesungguhnya kalian pada akhirnya nanti, mau tidak mau, suka tidak suka, pasti akan berjumpa dengan Allah. Kita semua yang ada di sini pasti akan wafat, dipanggil oleh Allah. Allah pasti akan meminta pertanggungjawaban terhadap sekecil apapun perbuatan yang kita lakukan di dunia.

Barangsiapa yang mengemban amanah maka dia berkewajiban menyampaikan amanah itu kepada orang yang berhak untuk menerimanya. Sebagai orangtua, kita berkewajiban untuk mendidik anak kita, membangun tempat tinggal kita di surga, menjaga anak dan keluarga kita dari ancaman api neraka.

Wahai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.

Ini misi utama, amanat kita sebagai orangtua terhadap rumah tangga yang kita bina. Allah berfirman, perintahkan anak-anak kalian untuk secara konsisten mendirikan shalat dan sabar untuk melakukan itu

Kami tidak meminta apa-apa dari kalian tapi Allah perintahkan kepada kita sebagai orangtua untuk membawa rumah tangga untuk kesejahteraan hidup dunia dan di akhirat yang berbasis ketakwaan kepada Allah dan ini merupakan amanat Allah untuk kita semua.

Bahwasanya istri-istri kalian memiliki hak terhadap kalian dan suami memiliki kewajiban terhadap istri. Begitu pun sebaliknya, istri memiliki kewajiban untuk menunaikan hak-hak suami, meski begitu ada pula yang  lalai dalam memenuhi kewajibannya dalam rumah tangga.

Hendaklah kalian berwasiat untuk anak-anak dan istri kalian dengan wajah terbaik, karena sesungguhnya para istri adalah teman kalian dalam berumah tangga. Sesungguhnya para wanita itu sah menjadi istri kalian, kalian mengambilnya dengan amanat dari Allah.

Istri kita adalah amanat yang Allah bebankan kepada kita. Dan anak-anak kita juga adalah amanat yang Allah bebankan kepada kita, mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang dapat bertanggung jawab terhadap amanat yang Allah titipkan. Sehingga dapat membawa diri kita, keluarga kita, istri kita, dan anak-anak kita menuju surga.

Kelak di hari Akhirat, orang-orang yang bertakwa kepada Allah digiring semuanya menuju surga. Mudah-mudahan pada saat rombongan itu digiring Allah menuju surga, disisihkan diri kita kepada orang-orang yang kita cintai, ada istri kita, ada anak-anak kita, ada keturunan kita, rasanya betapa besar dosa kita pada saat itu. Kita harus berjalan sendiri menuju surga tanpa orang-orang yang kita cintai yang merupakan amanat dari Allah.

Bahwasanya seluruh muslim bersaudara dan seluruh umat Islam adalah bersaudara maka tidak boleh mengambil hak orang lain tanpa seizinnya, tidak boleh menzalimi mereka. Jangan sampai kalian menzalimi diri kalian pada hari yang sangat mulia ini.

Di Padang Arafah ini Rasulullah dan para sahabatnya memanfaatkan waktu yang mulia ini untuk berdoa, bermunajat kepada Allah, berzikir, bertaqarrub mendekatkan diri kepada Allah.

Doa yang paling baik adalah doa yang dipanjatkan ketika berada di Padang Arafah dan yang paling baik yang diucapkan begitu pun dengan nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad.

Di tempat ini kita deklarasikan kembali tauhid kita, kita lepaskan diri dari perkara-perkara yang berunsur syirik. Karena sesungguhnya ketika Nabi Muhammad mangabulkan kota Makkah pada tanggal 8 Dzulhijjah, yang pertama Rasulullah katakan

Sesungguhnya segala sesuatu yang berkaitan dengan unsur-unsur jahiliyyah pada hari ini rendah berada di bawah telapak kaki saya. Dan tidak ada perkara jahiliyyah yang melebihi kemusyrikan kepada Allah.

Karenanya pada saat kita berada di Padang Arafah kita deklarasikan kembali tauhid kita di akidah kita akan ke-Maha Besar-an Allah, kita lepaskan segala ketergantungan kita dalam hal-hal yang berkaitan dengan ibadah, kecuali kepada Allah.

Allah memiliki kekuasaan mutlak, Allah memberikan kekuasaan kepada manusia adalah kekuasaan yang tidak permanen. Allah berfirman dalam surah Ali Imran, katakanlah Allah memiliki kekuatan dan kekuasaan atas segala-galanya, Allah memberikan kekuasaan kepada siapa saja yang dikehendaki.

Allah memberikan kepada kita kekuasaan untuk memanfaatkan tangan kita dan Allah Maha Kuasa untuk mencabut itu dari kita. llah yang memberi kekuatan pada kita dengan memberikan pengelihatan sehingga kita dapat memandang dan Allah Maha Kuasa untuk mencabut pandangan itu dari mata kita.

Karenanya segala apapun kekuasaan yang ditipkan Allah kepada kita adalah amanat yang akan diminta pertanggungjawabannya nanti di hari Akhir. Kekuasaan yang sesungguhnya ada di tangan Allah.

Advertisements

Catatan Haji (1) : Arafah yang Syahdu, Arafah yang Dirindu

Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar….Lailaha Ilallahu Allahu Akbar…Allahu Akbar Walillahilhamdu…

“al-hajju ‘arafatun,” kata sang Nabi, bahwa Haji adalah Arafah.
Maka, kita mulai catatan perjalanan haji ini dari Arafah, sebagaimana perjalanan hidup manusia. Dari Arafah ini, pertemuan nan dirindu itu berawal. Dari Arafah, nasab kita tersambung padanya.

Mengapa? Karena, di Arafahlah Adam dan Hawa bersua. Dari Arafah, akhirnya cerita tentang kita bermula, dengan berjuta kisah dan makna. Di Arafah pula, sang kekasih Allah, Ibrahim, merenungi perjalanan hidupnya.

Dan di Arafahlah, sang Nabi menyampaikan khutbah haji pertama, sekaligus terakhirnya. Khutbah yang begitu menyentuh, yang gemanya terus diwariskan berabad-abad, hingga kini, dan masa yang akan datang.

”Ala Falyuballigh al-Syahidz Minkum al-Ghaib,” kata Rasulullah. Bahwa orang-orang yang hadir di hadapan sang Nabi hendaknya menyampaikan apa yang disampaikan Rasulullah ke orang-orang yang tidak hadir. Dan Arafah tetap menjadi tempat nan dirindu hingga akhir zaman!

Lautan manusia. Berjuta hamba bersimpuh di hadapan sang Maha. Menangis haru, dengan suasana sangat syahdu. Sebab, “Haji itu Arafah,” kata sang Nabi. Berkumpullah seluruh jamaah haji pada satu waktu, satu tempat, satu tujuan: menunaikan rukun Islam kelima!

Maka, izinkan saya menulis pengalaman berhaji pada tahun 1347 (2016), dimulai dari Arafah. Sebuah kenikmatan luar biasa, saat saya diberikan kesempatan untuk menunaikan rukun Islam ke-5 ini dalam usia yang bisa dibilang cukup muda, kira-kira seperempat abad, hehe.

Tak pernah terbayangkan sama sekali, dalam pada saat itu saya akan berangkat haji. Proses persiapannya pun sangat super mendadak sekali, sampai saya baru tahu bahwa saat saya berangkat hari Sabtu (4/9), hari Jumat kemarinnya visa haji saya itu baru terbit.

“Perjalanan penuh kejutan,” itu yang benar-benar saya rasakan. Ketika saya sedang di dalam pelosok Jawa Timur, tiba-tiba sebuah pesan singkat masuk, saya diminta mengirimkan scanan paspor oleh organisasi profesi tempat kami bernaung, Jurnalis Islam Bersatu (JITU).

Prosesnya pun sangat cepat dan mendadak sekali, sehingga, untuk persiapan manasik, saya lakukan sendiri dengan bimbingan beberapa ustaz yang saat itu sudah berangkat haji. Untuk lebih detailnya, semoga catatan perjalanan haji yang sudah beberapa bagian saya tulis bisa diterbitkan dalam sebuah buku bersama catatan haji undangan.

Saya berangkat satu rombongan berjumlah 52 orang, dengan visa haji undangan kerajaan Arab Saudi, dengan provider Yayasan Al Manarah al Islamiyyah yang dibina oleh Syaikh Khalid Al Hamudi, seorang dai muda dan pengusaha Saudi yang concern isu keumatan.

Berkali-kali, beliau menghajatkan helatan Multaqa Ulama dan Dai se-Asia Tenggara, sampai Ulama dan Dai se-Dunia baru-baru ini di Padang, dan alhmadulillah, saya bisa bersua kembali dengan beliau di Padang bulan Juli lalu.

Tahun ini (2017), Yayasan Al Manarah Islamiyah mengundang haji sekitar 120 orang, termasuk 30-an kepala suku asal Papua, juga ustaz Bachtiar Nasir, ustaz Tengku Zulkarnaen, dll. Tahun saya berangkat, saya satu rombongan bersama Wali Kota Padang Pak Mahyeldi, Hafiz Cilik si Kembar, Masyita, Kayla, Pak Nafaris dan Naftali (Kepala Suku Papua), Mas Amrulya (Mualaf Center Yogyakarta), Agus Abdullah (Ketua JITU), dll dengan kepala rombongan ustaz Umar Makka.

Kembali menuju Arafah, saya ingat sekali, saat itu adalah hari Sabtu di Arafah yang syahdu. Sehari sebelumnya, setelah shalat Jumat di Masjidil Haram, sorenya kami bersiap berangkat ke Mina untuk mabit. Kami ke Mina sudah berihram, bersiap menjalani prosesi haji empat hari ke depan.

Untuk jamaah haji Indonesia reguler sepertinya tidak bermalam di Mina pada tanggal 8 Dzulhijjah, tapi langsung ke Arafah. Sedangkan saya bersama rombongan undangan kerajaan dari pelbagai provider bermalam di Mina, khususnya di Maktab 50.

Kalau di lihat di papan maktab 50, maktab ini adalah maktab gabungan Asia Tenggara. Maktab ini terletak di pinggir jalan antara terowongan ke dua dan ketiga menuju jamarat untuk lempar jumrah. Karenanya, di samping maktab 50, banyak orang berseliweran khususnya nanti saat masa-masa lempir jumrah.

Untuk Mina, akan ada catatan tersendiri, mengingat 4 hari kami berada di Mina, mulai tanggal 10 Dzulhijjah hingga berakhir tasyrik karena mengambil nafar tsani, sebelum thawaf ifadhah.

Setelah shalat subuh di dalam tenda di Mina, kami harus bersiap-siap berangkat ke Arafah. Rupanya tenda yang kami tiduri di Mina, bukan tenda milik rombongan kami. Terpaksa kami harus pindah, ke tenda yang lebih kecil, untuk menaruh tas, bersiap ke Arafah.

“Labbaik Allahumma Labbaik…Labbaikalaasyarikalakalabbaik….”
“Innal hamda…Wani’mata…”
“Lakawalmulk….Laasyarikalaka…”

Jujur, saat mengucapkan itu tiba-tiba air mata saya mengalir. Di depan maktab 50 di Mina, saya melihat lautan manusia berderet, bersiap menuju Arafah. Bersiap menunaikan rukun haji.

Ya Rabb, saya sekarang sudah sampai di rumah Mu!
Ya Rabb, berjuta rindu hambaMu, engkau tampakkan kekuasaanMu, memberangkatkan hambaMu yang hina dan lemah ini, bersimpuh di hadapanMu dengan membawa berjuta dosa dan alfa
Ya Rabb, inilah hambaMu yang bergelimang dosa, yang masih engkau berikan nikmat bersimpuh di Baitullah..
Ya Rabb, sebentar lagi hambaMu ini akan menuju Arafah, satu-satunya tempat jamaah haji secara bersamaan berkumpul dalam satu waktu
Ya Rabb, jadikan haji ini haji yang mabrur, haji yang benar-benar engkau ridhoi, ijabah segala permintaan hambaMu

“Labbaik Allahumma Labbaik…Labbaikalaasyarikalakalabbaik….”
“Innal hamda…Wani’mata…”
“Lakawalmulk….Laasyarikalaka…”

Ya Rabb, inilah kami, Kami yang akan memenuhi seruanMu
Tiada sekutu bagi-Mu dan kami insya Allah memenuhi panggilan-Mu.
Sesungguhnya segala pujian, nikmat dan begitu juga kerajaan adalah milik-Mu dan tidak ada sekutu bagi-Mu.

Dengan mantap, dan mata berkaca saya menaiki bus yang mengantar kami ke Arafah. Bus bercampur dengan beragam jamaah dari pelbagai negara di daerah maktab 50. Saya lihat ada orang Arab, Eropa, Jepang, dan sebagainya.

Saya kebagian berdiri di bagian tengah, laiknya berdiri di atas commuter dari Sudirman ke Tebet, bus ‘odong-odong’ Abu Sharhaad yang cukup panjang ini menampung para tamu Allah menunaikan rukunnya.

Tiba-tiba, di dalam bus menggema kalimat talbiyah..
Meleleh air mata ini.

“Labbaik Allahumma Labbaik…
“Labbaikalaa syarikalakalabbaik….”
“Innal hamda…Wani’mata…”
“Lakawalmulk….Laasyarikalaka…”

Pemandangan begitu dramatis, air mata ini terus meleleh, dengan mulut berucap kalimat talbiyah. Pemandangan di luar bus, ribuan, ratusan ribu orang, jutaan orang menyemut, bersiap berangkat ke Arafah.

Bus kami mengantre keluar Mina, melewati maktab-maktab, 50..51…52…55.. 70…dan terus, melihat orang berpakaian ihram putih-putih sepanjang perjalanan, diiringi terkadang kalimat takbir, dan talbiyah yang menggema, sebagaimana hadits nabi

“Kami berangkat pagi-pagi bersama Rasulullah dari Mina ke Arafah. Dalam rombongan kami, ada yg membaca talbiyah, & ada pula yg membaca takbir. (HR. Muslim No.2252).

Bus melaju melewati lautan manusia, melewati jalan layang, dan pemandangan Mina begitu dramatis, dengan lampu dan tenda-tenda di tiap maktab berderet sepanjang kiri, kanan, putih mengkilap. Di sinilah, jutaan jamaah haji akan menginap tiga hari setelah Arafah.

Sekira jam 9-nan, saya dan rombongan maktab 50 tiba di Arafah. Memasuki kawasan ‘arafah’ kita akan menemukan plank besar, semacam baligo yang menandankan bahwa ‘selamat datang di Arafah’, dan dikelilingi tanaman-tanaman entah kurma, entah seperti tanaman yang cukup rimbun yang cukup banyak di Arafah.

Di sana berjejer tenda-tenda semi terbuka, terbuka, atau ada yang tertutup. Ada spanduk dari mana jamaah-jamaah apakah dari kloter ini, atau haji khusus atau penanda. Sedangkan, jamaah rombongan kami, rupanya tidak ada spanduk-spanduk khusus.

Kami sempat –lagi-lagi- salah masuk tenda, karena nantinya itu ada yang menempati kalau tidak salah dari rombongan haji khusus (ONH Plus). Walhasil, kami pindah ke sebuah tenda. Waktu Arafah adalah setelah shalat zuhur hingga matahari terbenam, itulah Arafah dan kita, jamaah haji diwajibkan wukuf di Arafah.

Sebelum masuk zuhur, beberapa jamaah yang kelelahan tampak tidur-tiduran, karena persiapan nanti siang. “Yang mau istirahat bisa sekarang, nanti kita fokus wukuf,” kata beberapa ustaz.

Ada tiga ustaz dalam rombongan jamaah haji undangan. Pertama ustaz Khudori, yang merupakan staf atase agama Kedubes Saudi Arabia, belakangan saya tahu beliau sebagai aktivis MIUMI (Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia). Ada juga ustaz Faruq, yang lebih sepuh. Dan terakhir, ustaz Umar Makka, yang merupakan amir (pemimpin) rombongan undangan haji Syaikh Khalid Al Hamudi, Yayasan Al Manarah Islamiyah.

IMG-20160912-WA0025

Suasana tenda menjelang wukuf Arafah, saya sedang memegang ‘aqua’, di tengah belakang. Tampak dua orang kepala suku Papua, mas Amrulya dari Mualaf Center (masker), kang Zaenal (pabrik Nike). Foto : rizkilesus

Saya pun berusaha mengingat tempat tenda kami berkumpul, melihat di mana toilet yang sudah dipenuhi jamaah haji dari pelbagai tempat di dunia. Padan arafah dipenuhi pasir-pasir, dan juga pohon juga sebagian paving untuk jalur pedestrian.

Di atas pasir, didirikan tenda-tenda, yang memiliki celah. Terik matahari menggantung menyelusup ke dalam tenda-tenda jamaah. Satu tenda besar bisa diisi oleh 300 orang. Kalau di dalam tenda, suasana agak pengap, karenanya orang-orang banyak berjalan-jalan sebelum waktu wukuf Arafah.

“Arafah yang Syahdu,” begitulah saya menamainya, sebagaimana dua bulan sebelumnya saya menamai judul tulisan rubrik ‘Inspiring Quran’ yang diasuh ustaz Budi Prayitno. Dalam ceramahnya, yang saya transkrip, ustaz Budi menceritakan tentang kesyahduan Arafah.

Ada juga sebelumnya saya beri judul ‘Nasi Ayam Kiriman Allah’, tentang jamaah haji yang didatangi orang-orang Arab dan diberi makanan di tenda-tenda di Arafah, yang tak disangka saya pun mengalaminya langsung.

Saya juga yakin, setiap orang yang pernah merasakan wukuf di Arafah, akan merasakan perasaan ‘Arafah yang Syahdu’ yang sulit terungkap. Hanya air mata dan hati yang terus tergedor yang dapat merasakannya.

Bersimpuh sendiri, mematung, sebagaimana halnya sang Nabi duduk menangkupkan kedua tangannya dan mematung hingga gelap menjelang. Arafah yang syahdu, begitu membekas. Sulit diungkapkan :), berjuta cerita, berjuta makna.

Menurut baginda Nabi, Haji adalah Arafah. Arafah yang merupakan rukun, adalah momen yang sangat penting dalam ritual ibadah haji. Arafah adalah puncak ibadah haji.

“Dan saat Arafah, Allah membanggakan para jamaah haji di hadapan malaikat dan penghuni langit. Arafah adalah waktu ‘wisuda’ bagi jamaah haji. Arafah adalah bagian yang sangat penting,” begitu kata ustaz Budi Prayitno.

Singkat memang, hanya enam jam sajan  waktu wukuf itu, namun begitu bermakna. Arafah mengajarkan kehidupan yang begitu singkat, dan memang begitulah memang kehidupan.
Singkatnya waktu wukuf hanya dari zuhur hingga magrib, menandakan bahwa kehidupan kita yang singkat. Memasuki Arafah, jamaah ditentukan waktunya. Pun saat keluar, ada saat yang ditentukan. Menuju ke Arafah, yang dihitung sebagai wukuf, adalah saat mulai shalat zuhur pada tanggal 9 Zulhijjah. Usai shalat Maghrib, jamaah meninggalkan Arafah.
Begitulah hidup kita. Ketika Allah menakdirkan kita lahir, maka lahirlah kita. Jika Allah menakdirkan kita meninggal, maka meninggallah kita. Arafah adalah gambaran jelas bahwa hidup kita akan seperti wukuf di padang Arafah.

Kita akan lahir di waktu dan tempat yang sudah ditentukan. Kita pun akan mati, di waktu yang telah Dia tentukan.

Menjelang zuhur, sang Nabi dulu menyampaikan khutbah Arafah, yang begitu kesohor. Dan saat ini, di Arafah, kami pun menyimak khutbah Arafah dari ustaz Khudori. Sebelum khutbah, ustaz Khudori mengingatkan kami agar menelepon keluarga di Indonesia, karena begitu pentingnya Hari Arafah ini.

“Kita telepon ibu kita, istri kita, anak kita, orang-orang yang kita cintai di Indonesia, karena setelah ini kita akan masuk waktu wukuf. Menangislah, meminta maaflah kepada mereka, jika kita banyak salah, akui segala kesalahan kita,” kata ustaz Khudori.

Namun, tak semua orang bisa menelepon langsung, karena sepertinya jaringan begitu sibuk dan ramai, bayangkan ada 2 juta orang berkumpul! Ustaz Khudori menyampaikan khutbah Arafah yang begitu menyentuh, sukses membuat kami menangis sesenggukan.
Khutbah itu, akan saya tuliskan di dalam tulisan berbeda setelah ini. Seperti nasehat para ustaz, Arafah adalah saat kita merasakan kedekatan dengan Allah. Di Arafah, kita berusaha mengenal diri kita, bertafakkur diri.

Ketika kita mencoba mengenal diri, maka saat itu pula kita tengah mencoba mengenal Allah. Di Arafah, kita juga menghisab diri, merenungi dosa-dosa yang pernah kita lakukan. Kita menghitung amal yang begitu sedikit. Kita melihat masa depan, memikirkan apa yang bisa kita lakukan dengan amal dan ilmu yang sedikit ini. Kita menghitung dosa yang begitu banyak.

Di Arafah, tangis kita tumpah. Terisak-isak bersimpuh pada-Nya. Arafah adalah tempat dan waktu yang sangat spesial di muka bumi. Hanya pada tanggal 9 Dzulhijjah. Di titik itu, orang boleh melakukan wukuf, yang hanya bisa dilaksanakan di Padang Arafah.

Di Arafah, kita bertafakkur, yang berujung pada mengenal diri dengan baik, dan mengenali Allah. Mengenali setiap kekurangan diri, dan bertekad memperbaikinya usai Arafah. Mengenal Allah dengan baik, mengetahui secara persis bahwa Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Dia memiliki Nama-Nama yang baik, memiliki Kuasa di atas segala Kuasa, dan Kemampuan di atas segala Kemampuan. Dia yang akan menaikkan, menurunkan, membuka, atau menutup segalanya. Di Padang Arafah, kita akan merasakan kedekatan dengan Allah.

Dan pada saat itu, seharusnya kita mendapat pemahaman lebih tentang diri kita. Kita akan terus bersimpuh, bersujud, malu kepada Allah, karena begitu banyak nikmat yang Ia berikan. Betapa sedikit amal yang kita lakukan. Dan pada saat yang sama, merasakan betapa banyak dosa yang kita lakukan.

Arafah adalah tempat dan saat terbaik di dunia. Arafah dalah tempat di mana tangis kita tumpah, pengakuan diri menggelegak. Arafah, adalah saat dan tempat di mana kita tak memiliki dinding dengan diri kita sendiri. Pengakuan dosa-dosa, kekurangan diri, dan komitmen tinggi untuk memperbaiki diri.

Usai khutbah, dan ditutup doa berurai air mata, kumandang azan mengalun syahdu. Khutbah dan shalat digelar di tiap-tiap tenda grupnya. Shalat digelar dengan jamak dan qashar.

Ya Rabb,,,inilah hambaMu yang hina, kini berdiri, rukuk, sujud di Arafah…..

Tak terasa, suasana begitu mengaduk-aduk emosi. Shalat yang begitu membekas. Dengan segala kesyahduan dan kerinduan akan Arafah. Bahwa setelah shalat, waktu itu tiba. Waktu dan tempat terbaik di dunia : Wukuf di Arafah.
Bersambung…

Inspiring Hamida,  Little Girl in The Ruins of Aleppo

In the very cold temperature of minus 4 -2 degrees Celsius, the little girl come without socks, without shoes, event a piece of  footwear.

Tin and olive trees shaped like  a giant broccoli became our sights along the snaking path towards Aleppo, the second largest city in Syria after Damascus, which was also the most dangerous areas. Aid trucks piled at the edge of the street. The houses aid from various NGOs (Non Government Organizations) humanitarian and refugee camps regime victims lined the Syrian-Turkish border, sometime ago when I arrived  there.

Aleppo, the old city with high buildings like shophouses. Bricks adorn the streets. Markets began crowded of activites. Now, Aleppo did’nt like centuries ago. Debris and ruins were visible everywhere. Many houses were destroyed by the blast. The ruins that littered the streets. The streets were blocked rubble. The damage is so great.

Abu Nizam, Humanitarian NGO activists in Syria Saleem Sadeer drove us to saw the condition about this City. Then, we stopped at a school. Just walking out of the car, stepped the first time, the sound of explosions could be heard not far from there. “..Buumm ..”

Abu Nizam glance, raising his shoulders. “This is an example of the sound of the explosion was that we heard,” he said, pointing to the former bomb that fell in a school yard. Army Assad regime is routinely dropping rockets and birmill. Birmill is a large vat containing bombs and large flake irons that if the burst can destroy anything within a radius of 200 meters around.

DSC_0265IMG_0018

“Schools in Aleppo entirely were closed and stopped now because of schools has become the target of bombing Bashar Assad’s army,” said Abu Nizam. In addition to a large aperture of the former bomb, there are also former Assad forces shot bullets at the school. After seeing the moment, we continue with a trip to Madrasah Al Fatih is not far from there.

This time, there was a big hole in the ground, but the height of the building was melted. Veins of iron bones out of the building. The building was destroyed, the debris scattered about. “Seventeen boy died in this school. In the last ten days alone, 400 people were injured and many die as a result of drone attacks Assad, “said Abu Nizam.

When the kids in Indonesia is carefree joy of playing, in Syria, they are used as targets for attack. Look at when we visited a school on the outskirts of Aleppo, Madrasah Imam Ahmad Ibn Hanbal. Look when a bomb-birmill it fell into a large field surrounded by three grade levels.

hamidah

Hamidah

The permission of God, birmill did’nt explode. If exploded then hundreds of innocent boys will killed instantly. But besides birmill, mortars were spewed Assad plane. Most of the building was destroyed. Roofs collapsed, until that ruins strewn in the streets.

Hamida, a 11-year-old girl is now just live alone. Staying with other friends in Ma’had Imam Ahmad Ibn Hanbal after his mother’s death hit by mortars and bombs from aircraft.

“Hamidaah …” last shouted of his mother, as told Fatma, who’s now caring for elderly woman Hamida in Mahad Imam Ahmad ibn Hanbal. Screams into last cry, before Hamida heard a huge sound. “..Buummm …”. Smoke rose high. In the thick dust, his father immediately digging school ruins and trying to find his wife who had lost a large bomb hit, but all in vain.

The father becomes depressed, crazy, then some where to go. Now, Hamida live alone, so lonely. Fortunately, Mahad Imam Ahmad provides a temporary residence for Hamida. The whole school were closed, to maintain the security of the boys from the attack aircraft ready lurk.

1DSC_0271

“Pray for my mother may be placed in Heaven,” said Hamida his eyes filled with tears. “I want to back to school,” he recalls. “The children here if you want their schools need thick socks,” said Fatma added. At that time, invisible socks are attached at the foot of Hamida.

“In class they are cold, some even don’t have shoes. But what makes the emotion, they keep the spirit to continue to learn, to school, “said Fatma, softly. In the ambient temperature of minus 4 -2 degrees Celsius, the little girl come without socks, without shoes, without event a piece of footwear.

My Friend beside me, then give a scarf to Hamida. He prayed that someday Hamida into student achievement. Suddenly, I didn’t realized why these eyes filled with tears. The other friend wiping her tears were already running down the cheeks. When we use the super thick jackets, see how Hamida just use ordinary clothes, without earmuft, no skullcaps, no scarf, no socks, or our waterproof shoes.

Hamida just want to back to school again, sipping sweet The Qur’an. She  try to sincere for her parents, may meet in Heaven someday. Aamiin. I once again realized how grateful live in my Country. Alhamdulillah

(Rizki Lesus, Humanitarian Journalist at #Road4Peace)

Kerakyatan yang Dipimpin Hikmat Kebijaksanaan

mati demoo

“Demokrasi telah mati!”  seorang berteriak di jalanan, berkeliling-keliling sambil mengibarkan bendera dengan penuh kebencian, kemarahan, dendam dan frustasi!. “RIP demokrasi,” kata kawannya yang lain sambil menshare foto-foto ‘Ingatlah Partai Ini!’, sambil misuh, tak menerima. Demokrasi menjadi jimat dan aji-aji, kebenaran absolut, lupakan sejenak partainya super korup atau tidak, yang penting kalau melawan ‘demokrasi’ ia harus dihabisi.

Demokrasi, ia tak bisa diganggu gugat, menggugat demokrasi ialah haram hukumnya!. Ia adalah fatwa kekal, tak mungkin salah, tak bisa disalahkan, awas sekali-kali melawan demokrasi, Presiden pun fotonya bisa diinjak-injak. Demokrasi ialah mantra sakti. “Semua harus demokratis” Katanya sambil merengek maksa keinginannya dikabulkan karena kalah voting.  Baginya, hanya dirinya yang mewakili rakyat dan demokratis. Tak demokratis berarti tak manusiawi, ketinggalan zaman, set back. Demokrasi kini menjadi tujuan akhir dan final, bukan lagi alat,  pokoknya begitu, titik!

Yang melawan demokrasi, ia harus kita habisi, “kita bully di twitter”. Lihat saja, mereka, orang-orang yang terpilih via demokrasi, para wakil rakyat, yang telah dipilih rakyat, karena mereka tak sesuai dengan pendapat dirinya, maka para anggota dewan yang terhormat akan dilawan. Mereka yang dipilih rakyat, secara demokratis pun harus dihabisi, karena tak sependapat dengannya yang bisa jadi tidak dikenal warga di kampungnya, karena cuman eksis di FB , Twitter, Instagram doang.

Mereka yang dipilih rakyat adalah penghianat demokrasi!. Sedangkan yang ahlul twitter wal fesbukiyyah, yang dicekoki : oknum pengamat, lembaga asing,  media mainstream yang berjibun kepentingan itu ialah rakyat sejati nan demokratis. Sebab, demokrasi baginya hanya urusan ‘memilih langsung’, kebebasan bicara, one man one vote,  ‘tok pokoknya kalau nggak memilih langsung:  #RIPDemokrasi, Demokrasi mati,  penghianat demokrasi, hingga umpatan kasar terus terlontar sambil mention-mention.

“’Demokrasi’, ialah harga mati, melebihi apapun!” terkecuali: parpol kami, lurah, camat, CEO, rektor, dll itu nggak perlu ‘demokratis’ amat lah. Keputusan yang diambil oleh orang-orang yang katanya dipilih secara demokratis tak perlu digubris, “karena bertentangan dengan kehendak kami”. Satu suara begitu nyaring, demokrasi di dunia maya yang membiarkan setiap orang berbicara begitu lantang, bebas,  begitu individualistik, begitu penuh polemik, kata Plato.

Orang-orang tak lagi percaya para wakil rakyatnya sendiri,  partai politiknya, karena semuanya hanya abu-abu, penuh intrik, licik dan plin plan hanya berkutat hanya pada kekuasaan, kepentingan partai, sebuah ungkapan yang tengah menyeruak.

“Mengapa idealisme dan politik seakan tidak bisa bersatu. Mengapa politik hanya dianggap amal yang lepas dari ilmu, retorika yang tanpa logika. Mengapa politik berarti membangun kekuasaan, bukan peradaban. Padahal kekuasaan hanyalah tahta yang tak berarti tanpa ilmu, moralitas dan tujuan? tanya Dr. Hamid Fahmy Zarkasy dalam Pemimpin.

“Semua itu adalah harga yang harus dibayar dalam sistem demokrasi,” jawab Gordon S Wood  dalam The Public Intellectual. Samuel Eliot Morrison dan Harold Laski, sejarawan Amerika percaya bahwa dalam sejarah modern, nggak ada periode yang kaya dengan ide politik yang memberi banyak kontribusi kepada teori politik Barat. “Itu karena kualitas intelektual dalam kehidupan politik masa kini turun drastis. Ide dipisahkan dari kekuasaan,” tambah Gordon gemas.

Kalau Gordon tinggal di Indonesia, mungkin ia akan berkata itulah harga yang harus dibayar oleh sekularisme dan demokrasi liberal. Beruntungnya,  Negara ini awalnya menolak sekulerisme dan demokrasi liberal. Sambil berbinar-binar, para intelektual cum founding fathers merumuskan bahwa di sini, demokraisi bukanlah bermakna : bebas omong dan one man one vote,  yang kini begitu didewakan pendukungnya, namun wisdom (hikmah kebijaksanaan) yang menjadi nilai dan dengan wisdom itulah rakyat dipimpin.

Di sini, harusnya ide tak bercerai dengan  kekuasaan, kerakyatan dipimpin hikmah. Sila ke -4 “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”  seharusnya menghancurkan konvensi  dan adigium “Berpolitik tidak bisa hitam putih” , ”Politisi boleh bohong tapi tidak boleh salah, ilmuwan tidak boleh bohong tapi boleh salah”. Terbukti dari ide yang diusung partai-partai di masa awal kemerdekaan  yang begitu menjadi kebanggaan, bukan intrik dan pragmatisme laiknya sekarang.

“Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.” Begitu apik dikisahkan dalam Mata Air Keteladanan: Pancasila dalam Perbuatan karya pakar Politik Dr. Yudi Latif, yang mengisahkan bahwa hikmah dan musyawarah merupakan kearifan asli dari negeri ini yang bercecer di pelbagai wilayah. Wisdom dan musyawarah barang langka yang mungkin sulit ditemukan di sana, ketika demokrasi itu muncul. Karenanya, di sananya, ia bukanlah lagi ‘kebenaran mutlak’ seperti mungkin di sini. Demokrasi pun tak luput dari kritik para filsuf seperti Plato dan Aristoteles, dll. Rakyat dikuasai kemarahan, “they are free men; the city is full of freedom and liberty of speech, and men in it may do what they like,”  kata Plato.

Syahdan, ketika semua orang berbicara, dan geram sambil bersumpah serapah pada mesin yang rusak di sebuah toko di Leicester Inggris, seorang berparas Timur berusaha memperbaikinya, dengan sabar, dan akhirnya tersenyum puas setelah mesin itu kembali normal sambil menyeringai, “ You see! Wisdom always come from the East,” kira-kira begitulah  maksud Edward Said dalam Orientalisme  tentang hikmah dari Timur.

Goethe (1749-1832) yang asli Barat itu memang mengeluhkan dalam West Oestlicher Divan bahwa pandangan asli Barat yang materialis dan individualis. Sedangkan Timur menjanjikan nilai-nilai kebijaksanaan, karenanya, sastrawan kesohor, Iqbal (1923) dalam Payam – i- Mashriq (pesan dari Timrur) menulis nasihat untuk Goethe.

Raindranath Tagore peraih Hadiah Nobel Sastra dari India membenarkan kata hikmah-bijak (wisdom) memang dari Timur : ‘taklukkan kemarahan dengan kesabaran, kejahatan dengan kebaikan’ juga berasal dari  Timur. Berbeda dengan istilah asli Barat, “Kenali musuhmu, vini, vidi, vici, we are the super power, “ kata Tagore.

Timur (orient) dan Barat (occident), mungkin seperti kelakar syair Tagore, bahwa wisdom bisa jadi hanya datang dari Timur, seperti tempat terbit matahari dan terbenam di Barat. Dan karenanya, wisdomlah  yang digali para pendiri negeri ini yang tak hanya ingin merdeka secara territorial, tetapi juga secara ideologi. “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”

Hikmah, ia bukan personal, bukan Presiden, bukan anggota dewan yang terhormat, bukan juga anggota DPRD. “Hikmat adalah suatu kondisi kejiwaan dan dalam sila ini dikatikan dengan sikap dalam bermusyawarah dan menentukan kebijakan. Artinya sistem permusyawaratan dan perwakilan dalam bernegara di Indonesai ini mestinya dipimpin oleh moralitas yang tinggi.” kata Dr. Hamid Fahmy Zarkasy dalam Hikmah.

Lanjutnya, dalam bahasa umum hikmah dipahami sebagai kebijaksanaan atau bijaksana (wisdom). Dalam al-Qur’an terdapat perintah untuk berdakwah dengan bijaksana (bi al-hikmah). Karenanya, orang yang memutuskan perkara dengan hikmah, ia disebut hakim. Ikhwanussafa menjelaskan orang yang memiliki hikmah atau “al-hakim” adalah yang perbuatannya dapat dipertanggung jawabkan; kerjanya tekun, perkataannya benar, moralnya baik, pendapatnya betul, amalnya bersih dan ilmunya benar, yaitu ilmu tentang segala sesuatu.

Hikmah juga berkaitan dengan berfikir yang logis dan mendalam. Karena itu Ibn Rusyd menterjemahkan “hikmah” dengan filsafat dan hakim dengan filosof. Istilah hikmah asli dari al-Qur’an dan disebut sebanyak 20 kali. Menurut al-Ghazzali hikmah adalah salah satu dari unsur akhlaq mulia selain keberanian, kejujuran dan keadilan. Maka berakhlaq mulia dalam Islam itu bukan sekedar berperilaku baik, tapi juga berilmu tentang kebaikan, bersikap berani menyatakan kebenaran, berlaku adil terhadap segala sesuatu alias tidak zalim.

Agar memiliki hikmah, keberanian, kejujuran dan keadilan diperlukan ilmu. Sebab berani dan adil tanpa ilmu bisa salah jalan alias sesat. Orang berilmu yang tidak jujur, ilmunya tidak manfaat. Demikian pula kekuatan dan manfaat ilmu dapat dilihat ketika seseorang itu dapat membedakan antara kejujuran dan kebohongan, antara haq dan batil, antara baik dan buruk. Jadi hikmah menurut al-Ghazzali adalah keadaan kejiwaan seseorang yang dapat mengetahui yang baik dari yang buruk benar dalam segala perbuatan. (Ihya III, hal.54). Ibn Arabi dalam Futuhat juga berpendapat sama. ( Hamid Fahmy Zarkasy: 2011)

Ungkapan Gordon di awal boleh jadi benar, bahwa kualitas (ilmu) intelektual dan spiritual dalam politik seakan tidak lagi dilibatkan. “Sebenarnya, yang mendirikan dan membangun negara itu adalah para intelektual” kata Zia Ul Haq (Presiden Pakistan silam) Mungkin Zia terinspirasi bukan dari para politisi, tapi dari para intelektual seperti Mohammad Iqbal, Abul Ala Al Maududi, Amir Ali, Syed Ahmad kan yang mempelopori kemerdekaan Pakistan.

Pun dengan inspirator negeri tetangganya (India) dari penjajahan Inggris seperti Mahatma Gandhi, Rabindranath Tagore, Jawaherul Nehru dan lain-lain. Boleh jadi, negeri ini pun begitu. HOS Tjokroaminoto adalah inspirator  Soekarno dan lainnya. Agus Salim, Hamka, Natsir, Wahid Hasyim, M Yamin, Ki Hajar Dewantoro, hingga Hatta yang semuanya bukan politikus murni, tapi intelektual yang bervisi politik.

Ayn Rand dalam For the New Intellectual menjuluki mereka,  sebagai thinkers who were also men of action. Dengan intelektualitasnya, diharapkan menjadi dasar dari ‘hikmah’. Ilmunya bekal amal. Itulah al Hakim (orang berhikmah). Al-Ghazzali menambahkan al-hakim adalah orang yang jiwanya memiliki kekuatan mengontrol dirinya sendiri (tamakkun) dalam soal keimanan, akhlak dan dalam berbicara. Jika kekuatan ini terbentuk maka akan diperoleh buah dari hikmah, sebab hikmah itu adalah inti dari akhlak mulia.

Cerdas memang, para intelektual cum pendiri negeri ini. “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan” menggambarkan sebuah sistem yang seharusnya hanya orang-oang yang “hakim” saja yang bisa memimpin rakyat.

Berbeda dengan semangat kemarahan, semangat hikmah memandang perbedaan pendapat tak harus dieksekusi dengan dendam kesumat karena ‘kalah’, sambil geram membagi sana sini ‘RIP Demokrasi’. Terus berteriak, memaksakan pendapat pribadi, tak sadar telah menjadi tiran, tirani demokrasi!. “Kematian demokrasi” yang digadang-gadang dibunuh oleh pengusungnya sendiri,  suicide democracy! Tragis!

Sebaliknya, duduk bersama, meracik perbedaan, berpikir kolektif dalam sebuah majelis, seakan mengulang romantimse masa silam ketika Sembilan orang berwibawa mengajukan dasar Negara tanggal 22 Juni 1945 dan disepakati 62 anak negeri, hingga ketika sehari setelah kemerdekaan negeri ini (18 Agustus), baru saja negeri ini memiliki Presiden dan Wakil Presiden yang ‘hanya’ disetujui 21 orang perwakilan.

Atau bisa juga kembali mengingat saat tahun 1955, ketika setiap orang pun memberikan suaranya secara langsung namun orang-orang yang disodorkan ialah para intelektual dan orang-orang terbaik dari Partai yang berbasis ide. Sekarang, pertanyaan terlontar kepada partai politik, akankah mereka memberikan rakyat pilihan para ahli hikmah yang akan diajukan sehingga rakyat tak menerima ‘begitu saja’ apa yang disodorkan?

Sebab, jika para ahli hikmah memimpin negeri ini, maka keadilan sosial takkan menunggu waktu, seperti ungkapan Lisan al-Din al-Khatib, ulama abad ke 14, dalam kitab Raudat al-Ta’rif memahami hikmah seperti keadilan. Walhasil, keberkahan dipastikan akan mengalir di negeri ini. Sebab al-Qur’an sendiri menjamin “Barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak….” (al-Qur’an 2:269) Wallahu a’lam. []

sumber gambar: blog.churchoftherock.ca

Hamparan Sajadah di atas Mavi Marmara

Kumandang adzan subuh membelah langit Laut Marmara. Para relawan kemanusiaan itu dalam hening dan syahdu, bertakbir, tahmid, tasbih dalam berdiri, rukuk, dan sujudnya. Dalam hening, sang Fajar masih belum menyingsing, asyik berselimut kegelapan. Sunyi, hanya ditemani desiran ombak hitam, membelai lembut Kapal Mavi Marmara.

Mavi, orang – orang sini menyebutnya biru. Biru, laut Marmara itu selalu membiru, membentang, secerah biru di atas langit sepanjang cakrawala. Suasana begitu tenang, saat kapal itu mengangkut anak-anaknya, para relawan kemanusiaan merentas seberang, menembus blokade Isarel, berharap berjumpa Gaza, Palestina jauh di hadapan, menunaikan amanat umat.

Mavi Marmara, ialah kisah yang tak kan terlupa, di penghujung Desember tiga tahun silam. Dalam sunyi itu, suara angin berkelebat, deru pesawat tiba menghampiri, tali bergelayut, sinar-sinar bersorot ke sana ke mari. Panik? Dalam sekejap saja, suara tembakan membelah kesunyian langit. Satu..dua..darah mengucur deras.

Tentara-tentara itu berdatangan, kukuh dalam blokadenya. Tak seorang pun boleh masuk ke dalam Gaza. “Kalian membawa senjata,” teriaknya, sembari mengangkat barang bukti berupa kain, obat-obatan, makanan,  selimut, pakaian, dan kitab suci, dan itulah senjata yang dituduhkan, yang membuat mereka bergetar. Marmara, laut biru berkelebat, tiga tahun kemudian.

***

Di atas Laut Biru Marmara

Kumandang adzan membelah birunya langit Marmara yang hendak berganti dengan kilaunya keemasan.  Burung –burung camar berputar-putar, mendekat, menjauh, melayang, suaranya riang. Angin menderu hebat, dinginnya musim dingin menusuk kulit. Teringat, apa yang terjadi tiga tahun silam di sini, di laut nan biru ini. Mata ini terkenang, mengingat, apa yang kami lakukan, tak jauh dari mereka. Saya di sini sebagai seorang wartawan, jurnalis, yang bergabung dalam tim kemanusiaan.

 

Shalat di atas laut

Shalat di atas laut

 

Dalam berdiri, rukuk, dan sujud bersama, di kemuning senja Mavi Marmara, di atas kapal feri ini air mata mengalir, tak tertahankan. Sebuah kesempatan yang sangat berharga, menikmati syahdunya senja di Mavi (Laut Biru)  Marmara. “Rukuk dan sujudlah kamu bersama,” ayat yang begitu terngiang.

DSC_0194

Di atas laut Marmara nan biru, sejumput syukur terlafal, di atas hamparan sajadah di atas Laut Biru Marmara. Kaus kaki tebal tak dapat menahan dingin yang terus melaju, menembus pori-pori. Satu hingga enam derajat Celcius, begitu tertulis pada termometer digital dalam bus, sejenak sebelum kami masuk ke Darmaga, melintasi laut Marmara.

Jamaah  sholat Jamak Takhir itu hening dalam rukuk dan sujudnya. Di atas hamparan sajadah, di atas laut biru Marmara, semua teringat peristiwa di masa silam. Kisah yang menghentak dunia kemanusiaan, mengoyak hati, menyisakan kenangan, 9 orang syuhada di atas kapal, tempat kini kami berpijak.

DSC_0272

Langit membiru, berganti kemuning senja perlahan. Angin membuat ujung syal di leher ini menari merdu. Jaket tebal, tak hanya sesaat menahan dinginnya angin laut di musim dingin. Di atas selasar kapal, di luar, beratapkan langit, semua tunduk dalam khusyuk, mengingat RabbNya, yang sangat jarang sekali dilakukan manusia, kecuali dalam lima waktu ini.

Salam terlafal, semoga kami dalam keadaan selamat, melihat misi kemanusiaan ke depan ini sangat berbahaya. Bom-bom menggelegar, birmil, mortar hingga tajamnya peluru siap menembus dada. Tiga tahun lalu, di atas laut biru ini, ancaman itu bukan sekedar cerita dari mulut, tapi sudah terjadi, dan kini seorang saksi, pemimpin rombongan kemanusiaan ini duduk terpekur di atas bangku kapal yang bergoyang, mengikuti alunan ombak.

Pak Mus, kami menyapa pria asal Malasyia, ketua NGO MASSA. Orang yang dulu berada dalam kapal Mavi Marmara itu, kini sedang termenung, mengingat masa silam. Ditulisnya sebait dua bait syair Marmara. Dibacanya sedikit berbisik dengan penuh khidmat.

 

IMG_9710

Marmara yang Indah

 

Di senja ini aku terpaku di bangku Kapal Feri

Merenung sejauh-jauhnya lautan biru tua yang terhampar

Burung Camar berterbangan rendah menyapa

Bersama deru angin dingin yang meresap ke rongga

Angin Marmara memberi makna persahabatan, kekuatan, ketegasan dan keindahan

Oh Marmara

Aku jatuh cinta PadaMu

Dan dapat meningkatkan cintaku pada Penciptamu

Indahnya Marmara membuat ku membuka mata fakta

Di sini dulu, Perahu dan kapal besar Sultan-sultan dari Khilafah Utsmaniyyah merentasinya

Dan melakukan operasi tentera sehingga ketika Muhammad Al Fatih akhirnya menawan Istanbul atau Konstantinopel..!

Aku belajar sesuatu tentang gelora perjuangan dan semangat jihad penguasamu

Penguasa yang baik sehingga mengharumkan Islam dan jiwa kemanusiaan

Rakyat merasa terbela dan izzah meeka  melonjak naik ke langit

Insan biasa menjadi hamba Allah yang tunduk mengatur sepenuhnya menurut Islam

Oh..Marmara

Terima kasih atas kesempatan ini

Semoga akan kembali lagi sehingga kegemilangan hidayah di bumi ini kembali

IMG_9712

***

Di atas sajadah di atas laut Marmara itu, doa-doa terselip. Di seberang sana, bumi Syam yang kami tuju, anak-anak kecil itu mati membeku. Di sini, atas sajadah di atas laut Marmara, kami berlapis pakaian musim dingin, sedangkan mereka di sana, hanya kaos tipis, beratap tenda, menanti badai salju segera mereda.

Di atas sajadah di atas laut Marmara, berduyun-duyun kami berganti, bersaf-saf, menghadap sang Pencipta dengan berdiri, rukuk, dan sujud. Langit biru Marmara, kini berganti menjadi kemuning keemasan. Sambil bersender, memandangi mentari di geladak kiri, burung-burung camar merendah, menghampir, medekat.

Memandang sejenak ke belakang, di sana, tempat ratusan elang laut dan camar itu bertengger, di penghujung dermaga, kota kenangan yang Pak Mus sebut-sebut. Di balik punggung ini, Instanbul, kota tua Konstantinopel yang selalu mengingatkan. Teringat saat diri ini berdiri di bawah benteng tua itu, memandang gerbang besar berlafadzkan kalimat tauhid.

DSC_0331

Menyusur gerbang, lebih masuk ke dalamnya, berguman pelan, disinilah dulu, kota yang dinubuatkan nabi. Di bawah kaki ini, tanah yang mengundang para pemimpin besar datang untuk membebaskannya. Sejauh mata memandang, ke seberang  selat Bosporus sana, di ujung sana, rumah-rumah kecil menyemut, dan di sanalah kapal-kapal itu mendentumkan meriam.

Di sana, di Asia sana pasukan Muhammad Al Fatih berjibaku, berminggu-minggu untuk mencapai tempat ini berdiri, bumi Eropa, ibu Kota Imperium Romawi yang namanya membuat gentar, Konstantinopel. Di sanalah,  Laut Hitam dan Laut Marmara dipisahkan selat Bosporus yang dihalangi rantai-rantai besar, pasukan Al Fatih tertahan.

Kini, di atas hamparan sajadah di atas laut Marmara, memori itu mulai terketuk. Kapal-kapal besar melewati kami, menuju selat Bosporus di belakang sana. 400-an Kapal-kapal dengan meriam dan layar terkembang, melaju, melawan arus kami 600 tahun silam. Kami laiknya kapal yang melarikan diri, menuju Bursa, Kota kemunculan Utsmaniyyah.

1453, saat Al Fatih muda menggelorakan para pasukan terbaiknya, menarik jangkar-jangkar, mengembangkan layar, memutar bidik teropong, melihat dari kejauhan, benteng –benteng konstantinopel itu berdiri tegak. Di belakang sana, benteng-benteng itu berdiri kokoh, benteng Al Fatih, saksi akan kegemilangan Islam di masa silam.

Kini, di atas hamparan sajadah di atas laut Marmara, semua bersiap. Hamparan sajadah itu kembali dimasukkan ke dalam tas besar, bersiap, Bursa, Ibu Kota Utsmaniyyah sebelum Konstantinopel itu menanti. Kota tua dengan benteng-benteng dan  gemerlap cahaya sepanjang malam.

DSC_0231

Mentari bulat sempurna menemani perjalanan nan dingin di Laut Marmara. Senja semakin menguning berkawan camar yang berputar membelah angkasa. Langit semakin gelap. Mentari perlahan turun ke peraduannya. Senja itu, semua berharap, semoga misi kemanusiaan ini kelak berhasil. Mengabarkan bahwa masih ada harapan, akan kedamaian yang terjadi di Bumi Para Nabi, Syam, Suriah, Palestina, Yordania, Lebanon. Insya Allah.

 

 

 

Bu Risma

Bu Risma

Bulir-bulir bening itu mengalir tiada henti. Jutaan pasang mata itu kian berkaca-kaca. Tak terasa, air mata itu mengalir di pipinya. Disekanya pelan-pelan air mata yang meleleh itu, ia menangis. Setelah tenang, ia melanjutkan.

“Saya selama ini sudah berikan yang terbaik untuk warga Surabaya. Semua yang saya miliki sudah saya berikan. Saya sudah tak punya apa-apa lagi, semua sudah saya berikan, ilmu saya, pikiran saya, bahkan kadang anak saya pun tidak  saya urusi. Tapi, saya percaya, kalau saya urusi warga Surabaya, anak saya diurusi Tuhan. Saya sudah berikan semuanya, jadi saya mohon maaf,” dalam ruang haru dalam sebuah tayangan bernama Mata Najwa medio Februari 2014.

Air mata kecintaan Tri Rismaharini, Walikota Surabaya yang bening, seolah ingin menampakkan kebeningan hatinya. Apa yang ingin disampaikan Bu Risma tak terasa membuat jutaan pasang mata itu tak dapat menahan bulir bening yang sudah berkumpul di sudut matanya. “Bu Risma, seorang pemimpin yang mencintai rakyatnya.” guman para penonton sambil larut dalam haru.

“Saya ingin memimpin seperti Umar Ibn Khattab,” katanya, seperti diungkapkan dalam Catatan Kaki Jodhi Yudono  Kompas.com (17/2/2014). Bu Risma ingin memimpin melewati sekat-sekat fisik sebuah kota, dan mulai menyentuh persoalan kemanusiaan. Beberapa waktu lalu, saya pernah membaca tulisan ‘Walikota yang Siap Mati Demi Ditutupnya Prostitusi’ di pelbagai media. Kesiapannya dan keikhalasan untuk mati ia kisahkan kembali di Mata Najwa dengan air mata yang tertahan, kesiapan melawan sebuah “kekuatan besar.”

Image

(sumber gambar:article.wn.com)

Kelihatannya, ia tak hanya ingin sekadar menata kota (city design), tapi ia ingin masuk ke sekat menata ‘kota’ – dalam arti lebih luas: budaya- (urban design), bahkan lebih dari itu, semoga Sarjana Arsitektur ini telah melewati ruang-ruang fisik, dan melangkah pada menata kota yang menjadi dasar peradaban (civilization), seperti yang diungkapkan Sosiolog kesohor, Louis Wirth dalam bukunya “The City as a Symbol of Civilization”. Itulah yang dilakukan idolanya, Umar Ibn Al Khattab, melanjutkan tradisi mebangun kota (madinah) yang menjadi peradaban (tamaddun).

Sebagai alumnus Arsitektur, saya kira Bu Risma akan membangun city dan Urban (keduanya diartikan ‘kota’) sekaligus,  laiknya Walikota kesohor lain yang juga arsitek, Ridwan Kamil yang mulai mempercantik Kota Bandung, dengan jalur pedestrian, jalan-jalan yang mulus, tempat sampah, biopori, dan sebagainya. Bu Risma pun saya yakin akan memulai dari tampilan fisik kota (city), dan itu mungkin bisa dirasakan warga Surabaya.

Saya berkesempatan menikmati Surabaya baru dengan sentuhan bu Risma setahun lalu. Menikmati senja dengan berjalan kaki, menaiki becak, menaiki angkot hingga Jembatan Suramadu, menyusuri jalur pedestrian. Belakangan, beliau menaikkan pajak Billboard, karena dianggap merusak tampilan kota. Walau masih banyak kekurangan, perbaikannya perlu kita aspresiasi.

Mungkin dengan beberapa ‘manuver’ walikota Surabaya ini,  ia “dimakzulkan”. Hal ini wajar, karena dalam kuliah-kuliah Arsitektur, ide menaikkan pajak reklame, biaya parkir, pajak kendaraan pribadi yang ditinggikan menjadi bagian dari ikhtiar perbaikan kota hingga menjadikan kota penuh dengan pejalan kaki, dan minimnya kendaraan pribadai pasti menjadi prioritas seorang penggiat Arsitektur seperti Bu Risma.

Begitulah memang membangun kota (city) seperti kata Louis Wirth dalam  Life in the City bahwa  salah satu aspek dalam kota yang baik adalah penggunanya. “Demokratis” adalah  salah satu ciri ruang publik yang ideal. Tapi, pengguna kendaraan pribadi seakan-akan menjadi ‘tiran’. Nggak perlu jauh-jauh ngomongin demokratis, apakah pedestrian sudah nyaman berjalan di  trotoar? Bu Risma sedang berikhtiar ke arah sana, salah satunya dengan ‘mengharamkan’ jalan tol –yang didominasi kendaraan pribadi- masuk kota, yang ‘mungkin’ membuat geram beberapa pihak.

Jika saja Bu Risma, dizinkan membereskan kota Surabaya, bisa jadi dalam tampilan fisik, semoga  laiknya walikota Erdogan (kini sudah jadi Presiden) membuat kami dapat menikmati Istanbul. Menikmati trem-trem ke sana kemari dengan biaya murah. Atau kami dapat membeli dilahan khusus ‘PKL’ yang tertata rapi di Grand Bazzaar sambil menikmati ruang-ruang demokratis dalam trotoar, atau menikmati bus tanpa macet, menaiki subway, juga menikmati taman-taman kota yang tetap kian ramai oleh masyarakat.

Image

(sumber;dok.pribadi)

Inilah mungkin sekat pertama, tentang city, tampilan fisik kota yang nyamanLihatlah ketika Umar Ibn Al Khattab menangis, karena takut ada seekor kambing yang terperosok karena lubang, jalanan yang rusak di wilayah yang ia pimpin, dan semakin menjadi-jadi tangisannya karena “Akan menjawab apa Umar ketika menghadap TuhanNya.”

Untuk hewan saja, begitu takutnya Umar, apalagi urusan manusia. Inilah seperti yang dikisahkan seorang kompasianer, dalam “Bu Risma: Walikota Termiskin di Dunia”, sekat kedua menembus kemanusiaan, penghuni kota dengan coraknya (urban), tak hanya fisik bangunan kota saja. Bagaimana Bu Risma mendatangai satu per satu warga miskin, berjumpa dengan lurah, camat dan berpesan “Jika masih ada yang tidak terdata, maka saat di akhirat nanti ketika menghadap Allah dan ditanya mengapa masih ada orang miskin yang tidak terbantu di Surabaya, maka saya akan panggil kalian semua untuk mempertanggungjawabkan.” lirihnya.

Sekat kedua ini yang berabad silam membuat Umar membopong sendiri sekarung makanan karena menemukan warganya yang merebus batu.Umar memang dikenal sebagai pemimpin yang suka ‘blusukan’ walau tanpa jurnalis yang siap menemani. “Ya, Bu Risma memang ingin meniru Umar bin Khatab sebagai seorang pemimpin. Yakni pemimpin yang tahu persoalan rakyatnya, terutama mereka yang  miskin dan papa…” Tulis Editor Kompas Jodhi Yudono dalam tulisannya Sebab Kami Menyayangi Ibu Tri Rismaharini’ (Kompas.com,17/2/2014)

Bu Risma, tak memang tak salah memilih idola pemimpinnya, Lihatlah ketika Umar dengan sepotong pakaiannya ketika memukul perutnya sendiri sambil berguman, “Aku tidak akan puas makan dan minum selama masih ada rakyatku yang kelaparan.”. Dan ketika Paceklik melanda, Umar bersumpah hanya akan makan minyak dan roti kering dan berguman,”Wahai perut, engkau tak akan merasakan selain makanan ini.” Sambil menusuk perutnya.

Ia bersama masyarakat, datangi satu persatu dan menanyakan kondisinya., “Semoga Allah membalas kebaikanmu hai anak muda, sungguh engkau lebih pantas menjadi pemimpin daripada Umar..” kata seorang wanita tua yang dibantu Umar yang memanggul barangnya. Umar, seorang pemimpin besar, penakluk Imperium Romawi dan Persia, yang tidur hanya dalam gundukan jerami, atau pasir, dan menerima utusan di bawah pohon kurma yang rindang.

 Tapi lihatlah kesederhanannya, ia mengenakan jubah yang tambalannya tidak kurang dari 21 buah, tangan kirinya memegang tinta, tangan kananya memegang kertas dan pena. Diketuknya pintu-pintu rumah warganya dan dimintanya kepada para istri yang suaminya sedang berada digaris depan medan perang atau berada diperbatasan negeri agar mereka duduk dibalik pintu dan mendiktekan kepadanya isi surat dan pesan kepada suami-suami mereka karena petugas pos sudah siap berangkat.. 

Umar juga mengetuk pintu-pintu mereka seraya berkata,” Sebutlah kebutuhan-kebutuhan anda, siapa yang akan membeli sesuatu ke pasar katakan kepadaku atau kirimkanlah pembantu dan saya akan pergi ke pasar bersamanya, sebab saya khawatir mereka tertipu sewaktu berbelanja”. Kemudian beliau pergi ke pasar dengan serombongan pembatu, setibanya di pasar beliau sendiri yang berbelanja dan membeli semua kebutuhan yang sudah dipesan kemudian memasukkannya kedalam keranjang dengan tangannya sendiri.

 Atau ketika seorang wanita tua mengadukan keluh kesahnya saat Umar sedang ‘blusukan’ dan wanita tua itu tak tahu bahwa dihadapannya itu Umar, dan Umar pun menangis hingga membeli kezaliman Umar dari wanita tua itu. Wanita tua itupun kaget, ternyata pria di hadapannya adalah Umar.

Dan kini, lihatlah ikhtiar Tri Rismaharini mengunjungi satu per satu orang miskin di kampung-kampung kota. Memasuki lorong-lorong kota, walau wartawan yang menyertainya tak seramai gemerlah Ibu Kota. Di carinya anak-anak miskin agar bisa sekolah, hingga Sarjana, Master, bahkan hingga Doktor, dari pendidikan cahaya itu mewarnai peradaban. Walau tak sanggup memanggul beras sendiri, tapi di mobil innovanya yang sederhana, beras itu siap tersedia, Dinas sosial kini penuh menampung warga yang kesulitan.

 Dan lihatlah, ketika dalam tayangan Mata Najwa, ia datangi satu per satu warga. Dengan lembut, ia undangan para ‘penggiat’ pelacuran di Surabaya. Ia berbincang lama dengan para korban dan pelaku prostitusi. Ia curahkan emosi keibuan dalam dirinya, hingga air mata itu membuncah di hadapan para penonton. Ia mulai masuk ke sekat ketiga, yaitu kota sebagai awal peradaban, seperti kata Wirth, The City as Symbol Civilization.

 Peradaban macam apa yang ingin dibangun, ketika seorang wanita berusia 60 tahun, masih melayani anak SD dalam kegiatan prostitusinya? Jawaban yang membuat lidah ini begitu kelu, hati meringis, hingga air mata meleleh.  Wanita ini dapat menemukan persoalan yang tersembunyi ihwal kemanusiaan. Membuat mata ini selalu berkaca. Ini yang membuat Wirth geleng-geleng kepala, “Padahal kota adalah simbol peradaban” katanya dalam bukunya.

 Bu Risma, menyentuh sekat ini, yaitu nurani manusia itu sendiri sepeti ungkapan Arnold Toynbee, pakar sejarah itu bilang,” yang mengisi peradaban adalah orang-orang yang ada di dalamnya”

 Pakar-pakar pemikiran dan peradaban seperti Thomas F Wall, Ninian S, hingga Prof. Al Attas semua sepakat, bahwa membangun peradaban mulai dari orang yang beradab, orang-orang baik.

Karenanya, air mata itu kian tumpah. Ia siap mati, demi membangun sebuah peradaban yang baik, karena Bu Risma sadar, bahwa ruang-ruang nurani manusia yang ia tembus. Dan membuat saya baru sadar, mengapa dalam ada mata kuliah Urban Design, bukannya City Design. Karena, yang dirancang tak hanya fisik, tetapi juga manusianya.

 Dan memang, Bu Risma tak salah memilih idolanya. Bagaiman Umar Ibn Al Khattab berabad silam saat sidak mengunjungi wilayahnya di Syam, berjumpa dengan pengumpul kas negara, dan mendata fakir miskin, seketika raut muka Umar berubah. “Fulan, fulan, fulan, dan Said Ibn Amir.” Umar bertanya, “Said Ibn Amir?” dan disambut jawaban,”Benar, Gubernur kami.” Air mata Umar pun bercucuran.

 Bagaimana mungkin seorang pejabat korupsi, jika seluruh gajinya ia berikan pada rakyat yang tak mampu, bahkan dirinya termasuk orang yang fakir. Diberikannya uang sekantung oleh Umar, dan dengan gemetar Said tak bisa tidur. Ia sedekahkan seluruh hartanya, hingga ia bisa tidur nyenyak. Warga pun sangat mencintai pemimpinnya, sekat inilah yang yang jarang tersentuh, ruang-ruang kemanusiaan.

Lihatlah bagaimana Umar mengunjungi salah seorang Pemimpin  di Syam, Abu Ubaidah Al Jarrah, yang membuat Umar menangis. Rumahnya kosong melompong, hanya ada tempat minum dan piring kusut.  Bagaimana ketika Umar meminta Gubernur Umair Ibn Saad, Gubernur yang datang berjalan kaki karena tak ada kendaraan dinas, dan membuat Umar menangis karena kebijakannya mensejahterakan rakyatnya. Umair meminta berhenti, dan setelah turun, hartanya ternyata tak ada.. 

Bagaimana Umar mengutus seorang Gubernur di Madain, seorang Salman Al Farisi. Seorang yang menghabiskan gajinya untuk rakyat. Gubernur yng diminta menjadi ‘kuli’ di Pasar. Yang rumahnya ketika berdiri, kepalanya membentur langit-langitnya, dan ketika tidur kaki dan kepalanya membentur dinding anyaman bambu. Yang duduk di pinggiran sambil menganyam bambu, guna kebutuhannya. 30 dirham hasilnya, 10 dirham sedekah, 10 dirham kebutuhannya, 10 dirham sebagai modal kembali.

 Sisi-sisi manusia dalam sejarah yang membentuk sebuah mimpi besar. Orang-orang yang mengisi ruang-ruang kota, hingga kota itu menjadi hidup. Peradaban itu, kata Dr. Hamid Fahmy, laiknya pohon yang akarnya kuat menghujam (tauhid), ia tinggi dan berbuah bermanfaat bagi manusia (QS: Ibahim:14). Itulah peradaban yang dibangun Umar dan orang-orang yang bersamanya. Walau akhirnya, Umar pun syahid, tak semua orang suka dengan narasi besarnya ia siap mati dengan idealismenya.

 “Saya sudah ikhlas kalau itu terjadi pada saya. Semua hanya titipan, tinggal Tuhan kapan ambilnya. Itu rahasia Ilahi” kata Bu Risma, dan beliau  memang tak salah memilih idola. Kini, mungkin ikhtiar  rakyatnya, manusia dalam Ibu Kota itu dapat meminta pemimpinnya agar tetap melanjutkan kerja besarnya, niat tulus berusaha meneladani Pemimpin Sederhana berbaju tambal sulam itu. Ataupun doa yang terselip, sekuat keyakinan Bu Risma akan TuhanNya.