#Day1: Ramadhan Terbaik di Tengah Pandemi

5-Alasan-yang-Menjadikan-Ramadhan-Istimewa-696x356

*Sebagian besar tulisan ini diramu dari kajian Dr. Yasir Qadhi yang berjudul : How This Ramadhan Will Be Our Best Ramadhan: The Benefits of Ramadan in Lockdown. Kajian lengkap bisa didengar di sini.

Hari pertama ramadhan tahun ini telah kita lalui dengan tak biasa. Begitu cepat ia menyapa, seakan-akan kita tak siap bersua dengannya, karena hari-hari sebelum hari ini, begitu riuh kita melupakan kedatangannya.

Manusiawi memang, kita yang selalu riuh dalam ketakutan, kepanikan, hingga kekalutan akan kondisi yang sedang melanda kita sekarang.

Kita yang akhirnya sebagian memilih berdiam diri di rumah dengan segala aktivitas mulai dari Work From Home, kadang bermalasan, menonton hingga menghabiskan beberapa serial dan men-scroll dinding media sosial,

Sebagian berjuang mengais rezeki di tengah pandemi demi keluarga, berpikir agar tetap ada sesuap nasi hari ini. Sebagian kembali ke kampung halaman dengan gundah gulana. Ketakutan, depresi, kekalutan kita sebagai manusia biasa.

Ketika bulan ini datang menyapa, kita tak benar-benar siap bertemu sang tamu agung. Bulan di mana pintu ampunan dibuka lebar, rahmatNya turun tiada henti, kasih sayangNya yang tak bertepi.

Tidak peduli begitu berlumur diri ini dengan segala khilaf. Yang  selalu terbuka untuk menerima kita kembali, mengakui segala alpa dalam diri. Yang begitu gembira ketika kita datang dengan segunung dosa sambil mengiba.

ثُمَّ عَفَوْنَا عَنْكُمْ

“Kemudian sesudah itu Kami maafkan kesalahanmu” (Al Baqarah: 52)

 

Ketika pintu-pintu masjid dan rumah kini tertutup, di bulan ini, pintu ampunanNya selalu terbuka lebar. Yang gembira ketika kita, hambaNya kembali mengiba, mengetuk pintu ampunanNya dengan lembut

 

ثُمَّ عَفَوْنَا عَنْكُمْ

“Kemudian sesudah itu Kami maafkan kesalahanmu” (Al Baqarah: 52)

Bulan ini begitu mulia, satu-satunya bulan yang namanya disebut langsung oleh sang Maha dalam firman sucinya: bulan Ramadhan, syahru ramadhan. Bulan ketika manusia paling mulia menerima wahyu pertama, dan diturunkannya al Qur’an pada malam-malam bulan ini.

Dua kali Ramadhan dikaitkan dengan perintah shaum, dua kali pula ramadhan dikaitkan dengan al Qur’an. Dan kita telah melewati hari pertama ramadhan tahun ini dengan berbeda.

Bulan terbaik, yang sungguh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kita memasuki ramadhan di tengah pandemi, di tengah ketakutan, di tengah kegelisahan, ketidakpastian, hingga kelaparan menyapa.

Di momen-momen kritis ini, kita bertemu dengan Ramadhan, bulan al Qur’an. Seakan-akan Dia menyapa kita, ketika 11 bulan lalu kita melupakan kalamNya, dengan segala kenikmataNya yang turun tak henti-hentiNya, kini saatnya kita kembali kepada diriNya dengan penuh harap dan optimisme.

 

***

Sedikit saja aku mendekat, Engkau akan datang lebih dekat

Kami datang sejengkal menghampiriMu, Engkau datang dengan sehasta

Kami datang merangkak, Engkau datang dengan berjalan

Kami datang berjalan, Engkau datang berlari

Engkau yang sesuai prasangka kami

Maka izinkan kami berharap

Masih ada optimisme

Bahwa kami akan melewati semua ini

Izinkan kami berbaik sangka kepadaMu

Sebagaimana Engkau sesuai prasangka HambaMu

Jadikan Ramadhan kali ini

Sebagai Ramadhan Terbaik Kami

 

***

Dulu, kita selalu sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan kita, menghabiskan waktu yang di kantor, berbuka bersama terkadang di kantor, berbuka di kampus, berbuka di tempat kursus, berbuka di sekolah,  atau bahkan di jalanan dan pulang dengan keadaan letih. Kita merasa lelah, letih, terjebak dengan rutinitas kita, sehingga kita tiba dalam keadaan merasa capek dengan segala beban tak berkesudahan.

Kini, sebagian kita dengan mayoritas waktu kita di rumah, kelelahan dan keletihan yang membuat kita malas boleh jadi berkurang. Sehingga kita bisa memulai kembali mengeja makna kalam suciNya, yang mungkin selama ini kita alpa membukanya, ataupun membukanya tanpa membaca artinya, atau membaca artinya tanpa merenungkannya.

Dulu, kita menghabiskan berjam-jam di kendaraan, di atas motor berjubel di jalanan padat. Di atas mobil mengantar anak-anak kita, mengantarkan keluarga kita, mencari sejenak takjil di jalanan, hingga berjam-jam kita melewati Ramadhan di atas kendaraan dengan segala pikiran.

يَٰرَبِّ إِنَّ قَوْمِى ٱتَّخَذُوا۟ هَٰذَا ٱلْقُرْءَانَ مَهْجُورًا

“Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Alquran ini mahjura (diasingkan) “. (QS. Al-Furqan 30)

Kini berjam-jam terwsebut, kita bisa gunakan sebagai extra time  untuk berinteraksi dengan al Qur’an. Sehingga kita bisa memulai kembali mengeja makna kalam suciNya, yang mungkin selama ini kita lupa membukanya, ataupun membukanya tanpa membaca artinya, atau membaca artinya tanpa merenungkannya.

يَٰرَبِّ إِنَّ قَوْمِى ٱتَّخَذُوا۟ هَٰذَا ٱلْقُرْءَانَ مَهْجُورًا

“Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Alquran ini mahjura (diasingkan) “. (QS. Al-Furqan 30)

Dulu, kita tak kuasa menolak bagaimana undangan buka bersama dengan segala menu di berbagai restoran, kafe,  dan tempat makan. Kini, kita bisa menentukan masakan sehat sendiri di rumah, merancang makanan apa yang akan kita makan, yang dengan makanan sehat itu menjadi wasilah bagi Allah menjaga tubuh ini.

Dulu, setiap malam kita akan pergi ke masjid. Kita membawa kendaraan dan sibuk memarkirkannya. Berbincang, bercengkrama, mengobrol ke sana ke sini. Kini, kita “dipaksa” untuk berdiam di rumah, memperbanyak berbincang melalui kalamNya yang sudah kita lupakan selama ini.

Dulu, kita mungkin akan ke masjid, atau bermalasan di rumah. Kini kita kembali kembali menjadikan rumah kita tempat sujud, seperti sang Nabi yang hanya beberapa kali saja melakukan qiyam di Masjid. Merasakan spirit qiyam yang sesungguhnya, berdiri hanya berdua denganNya.

Rumah, menyimpan segala kerinduan dan keamanan. Menyimpan segala rahasia dan privasi sehingga kita bisa melakukan qiyam, tarawih, berdiri selama yang kita mau, membaca surat yang kita kehendaki, tanpa khawatir komentar orang lain.

Spirit qiyam inilah yang kita temukan dalam ramadhan tahun ini. Kita bisa bangun malam dengan suasana syahdu, tanpa menanti imam dengan suara merdu yang menghiasi media sosial. Hanya perlu kita berdua denganNya.

Momen yang sangat langka saat ramadhan, melakukan percakapan denganNya walau dengan terbata. Bukankah di masa sulit seperti ini, kita sedang membutuhkanNya lebih dari saat –saat biasa ketika kita dulu melupakanNya?

Pada momen ini, percakapan privat antara kita denganNya, lebih kita nikmati ketimbang berburu ‘imam tarawih’ dengan langgam syahdunya. Kita yang membutuhkan kesehatan, lindungan, rezeki, memohon dengan segala kerendahan hati, setiap malamnya di rumah masing-masing.

Dulu, kita sangat sibuk, jarang sekali duduk bersama keluarga dalam waktu lama. Kita akan sibuk ke masjid, sibuk bekerja, sibuk menghadiri buka puasa bersama, dan acara-acara lainnya.

Kini, kita bisa kembali duduk bersama anak istri, bersama ayah bunda, bersama kakak adik, bersama suami istri, bersama keluarga. Walaupun terpisah jarak, kita semua berdiam di rumah, selalu ada jeda untuk bersilaturahim via aplikasi, saling meningatkan, menyambung yang telah lama terputus.

Di momen-momen langka ini, kita bisa duduk bersama, mempelajari Ilmu-ilmu baru, memulai kembali membuka mushaf walau sudah lama kita tak membukanya. Kita bisa mengeja beberapa lembar pelajaran bersama, shalat beberapa rakaat bersama. Kesempatan ini yang akan berbekas beberapa dekade selanjutnya jika Allah izinkan kita melewati masa-masa ini.

Dulu, kita begitu menikmati beragam menu berbuka dan sahur, dengan segala keriuhannya. Kini, di tengah keterbatasan kita, kita kembali hidup “pas-pasan”, sederhana, memakan apa yang benar-benar kita butuhkan.

Dulu, kita menjadi ‘host’ buka bersama, saling menikmati santapan hanya berbagai kepada kerabat dekat dengan segala rupa menunya. Kini, kita ingn berbagi berbuka kepada mereka yang benar-benar membutuhkan. Yang telah kehilangan pekerjaan, mahasiswa yang tak bisa pulang kampung, para pekerja harian, entah itu saudara, tetangga ataupun orang yang tak kita kenal, atau bahkan diri kita sendiri.

Dulu, kita bisa berbagi kepada para pengungsi di luar, para penyintas perang, korban konflik, para orang-orang dhuafa di pelosok. Kini, kita melihat mereka semua seakan berada di dekat kita. Yang berbeda beberapa rumah dengan kita, beberapa gang dengan kita, atau bahkan itu adalah kita sendiri.

Sebuah kesempatan langka, ketika kita bisa merasakan nikmat berbagi di kala susah.

Dulu, kita mendengar tentang kabar orang-orang di Gaza, Rohingya, Uighur, orang-orang yang hidup di kamp-kamp pengungsian, yang dipenjara karena pertahankan keyakinan. Kini, boleh jadi hanya beberapa persen kita mengalaminya, diam di rumah, tak bisa kemana-mana, hidup dengan kesulitan yang mereka rasakan sehari-hari, mereguk sejumput empati.

Dan kita bersyukur atas kehidupan kita sebelum hari ini. Kita kembali menemukan makna syukur, bahwa begitu banyak nikmatNya yang tercurah, namun kita lupa untuk bersyukur selama ini.

Ramadhan kali ini benar-benar berbeda!

This is a different frame of mind. Do not approach this ramadhan as if it is going to be worst. We have the potential that this ramadhan is best ramadhan of our lives, the sweetest ramadhan that is ever experienced -Dr. Yasir Qadhi –

***

Kita memasuki ramadhan di tengah pandemi, di tengah ketakutan, di tengah kegelisahan, ketidakpastian, hingga kelaparan menyapa. Sebagaimana Maryam juga mengalami kepayahan, kesulitan, hingga keinginan untuk sesuap pangan.

Lalu, dengan rahmatNya, Allah berfirman kepada Maryam

وَهُزِّي إِلَيْكِ
“Dan goyanglah pangkal pohon kurma”

Bisa saja Allah langsung menurunkan kurma itu sebagai mukjizat, tapi Allah meminta Maryam menggoyangkan pohon kurma tersebut dengan sedikit upaya di tengah kepayahanya ketika hendak melahirkan.

Kita memasuki ramadhan di tengah pandemi, di tengah ketakutan, di tengah kegelisahan, ketidakpastian, hingga kelaparan menyapa. Sebagaimana Musa yang sedang terdesak, terjepit, panik, takut, hingga tak ada tempat untuk berlari.

Lalu, dengan rahmatNya, Allah berfirman kepada Musa

اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ

“Pukullah lautan itu dengan tongkatmu”. 

Bisa saja Allah langsung membelah lautan, membuka jalan untuk Musa dan kaumnya, tetapi Allah meminta Musa untuk memukulkan tongkatnya dengan sedikit upaya di tengah kegelisahannya ketika berhadapan dengan balatentara Fir’aun.

Jika turunnya mukjizat saja, Nabi Musa diperintahakan untuk berusaha memukulkan tongkatnya, sehingga lautan terbelah, apalagi dalam kondisi kita sekarang!

Kini, di tengah keterdesakan kita, di tengah kesulitan kita, di tengah kegundahan kita, di tengah kelaparan kita, di tengah sakit kita, masih ada secercah harapan. Dengan “sedikit” usaha kita mendekat kepadaNya di Ramadhan ini, semoga pertolongaNya akan segera tiba.

Dengan sedikit kepedulian kita, dengan sedikit terbata-bata kita ketika membaca Qur’an, dengan sedikit sedekah kita, dengan sedikit upaya kita untuk mengenakan masker, dengan sedikit upaya kita tetap di rumah, dengan sedikit memperhatikan kerabat, dengan sedikit upaya kita, dengan sedikit niat kita untuk menujuNya, akan kembali kebaikan kepada diri kita. Marhaban ya Ramadhan!

@rizkilesus, 2 Ramadhan 1441 H

 

 

Teruntuk Kamu

IMG_1978

Teruntuk kamu yang kini jenuh berdiam di rumah

Kamu tidak sendiri

Teuntuk kamu yang kini berada di jalan berpeluh

Kamu tidak sendiri

Teruntuk kamu yang kini gundah dan resah

Kamu tidak sendiri

Teruntuk kamu yang kehilangan mata pencaharian

Kamu tidak sendiri

Teruntuk kamu yang lapar tak kuasa bersantap

Kamu tidak sendiri

Teruntuk kamu yang tak bisa menikmati shalat berjamaah

Kamu tidak sendiri

Untuk kamu yang tak bisa kembal ke kampung halaman

Kamu tidak sendiri

Teruntuk  kamu yang sudah lama tak bersua keluarga

Kamu tidak sendiri

Teruntuk kamu yang hanya bisa bersua dengan ponsel

Kamu tidak sendiri

Teruntuk kamu yang berjuang di garis depan

Kamu tidak sendiri

Teruntuk kamu yang akhirnya merasakan kehilangan

Kamu tidak sendiri

Kamu tak pernah sendirian

 

Teruntuk kamu yang menemukan kembali makna kebersamaan

Teruntuk kamu yang menemukan kembali makna sesuap nasi

Teruntuk kamu yang menemukan kembali makna mencintai pekerjaan

Teruntuk kamu yang menemukan kembali makna kesederhanaan

Teruntuk kamu yang menemukan kembali makna berbagi

Teruntuk kamu yang menemukan kembali makna shalat

Teruntuk kamu yang menemukan kembali makna keluarga

Teruntuk kamu yang menemukan kembali makna waktu luang

Teruntuk kamu yang menemukan kembali makna perjuangan

Teruntuk kamu yang menemukan kembali makna kekuatan

Teruntuk kamu yang menemukan kembali makna keberanian

Teruntuk kamu yang menemukan kembali makna sebuah doa

Teruntuk kamu yang menemukan kembali makna harapan

Teruntuk kamu yang menemukan kembali makna syukur

Kamu tidak pernah sendirian

@rizkilesus, catatan setelah satu bulan menjalani #dirumahsaja,  Sya’ban (April 2020) jelang Ramadhan 1441 H

Sekali Saja, Sedetik Saja

Uyghur
Muslim in China ( pic. aljazeera)

Tuan dan Nyonya

t-e-r-i-m-a  k-a-s-i-h

Kami hanya ingin menghaturkan berjuta terima kasih

t-e-r-i-m-a  k-a-s-i-h

Kami hanya terharu, rupanya masih ada yang mengingat kami

t-e-r-i-m-a  k-a-s-i-h

Kami pikir sudah tiada ketika jasad kami dimasukkan ke dalam kamp-kamp

t-e-r-i-m-a  k-a-s-i-h

Atas masih adanya yang merindu kami

Seorang Ozil yang mengusik nurani kalian

Kami pikir, kami sudah musuh seluruh dunia

 

Tuan dan Nyonya

Di dalam kamp ini, di dalam ruangan mungil ini, sejujurnya kami ingin menangis

Tapi, air mata kami sudah kering

Kami tak boleh menangis

Kami harus selalu tersenyum

Ini bukan kisah mereka yang selalu tersenyum karena ‘smile’ di negeri Wano

Ini adalah kisah kami, yang kalian bincangkan selama ini

 

Sekali saja…

Izinkan kami menangis, bersujud, sedetik saja… Continue reading “Sekali Saja, Sedetik Saja”

Aku, Salman, dan Pak Achmad Noe’man

pa noeman dan aku

“Drrr…drrr…drrr…”

Handphone jadul yang saya kelola sesekali bergetar. Sepenggal pesan dari nomor singkat yang tak asing masuk, dari Ir. Achmad Noe’man.

Pesan-pesan yang sangat membangun dari seorang pembaca, sekaligus saat itu Dewan Pembina Yayasan Sinergi Foundation  (SF), penerbit Tabloid Alhikmah, tempat saya menjadi belajar jadi jurnalis beberapa tahun lalu .

Pesan sederhana seperti,’ besar huruf perhatikan’ hingga usulan tema yang kerap kali masuk ke hotline. Perhatiannya kepada dakwah begitu besar, sampai-sampai saya sendiri diundang untung berbincang beberapa kali, salah satunya membincang tentang kaligrafi.

Di senjakala usia, bicaranya masih sangat jelas. Dengan wajah cerah dan penuh semangat, sesekali berbahasa Sunda, beliau menyampaikan keinginannya kepada kami, yang denganku usianya bertaut lebih dari 60 tahun.

Achmad Noeman
Ir. Achmad Noe’man sedang menunjukkan contoh kaligrafi yang beliau buat (foto: rizkilesus)

Bavi ingin ada rubrik Kaligrafi, tebak surat kaligrafi yang Bavi bikin,” kata Ir. Achmad Noe’man sambil membopong tumpukan buku yang bersampul depan kaligrafi yang beliau buat.

Bavi merupakan panggilan karib beliau.

“Kalau anak-anak dan yang sudah akrab dengan beliau biasa panggilnya itu bavi bukan bapak, dan ibu kita panggil endot. Sedekat itulah kami bergaul dengan mereka, akrab tidak hanya sebagai orang tua tapi juga layaknya seorang sahabat,” kenang putera ke-2 Ir. H. Achmad Noe’man, kang Nazar Noe’man di Bandung.

Ceritanya, anak bertama Ir. Achmad Noe’man, (alm) Irfan Noe’man yang justru tidak bisa mengeja huruf ‘P’. Irfan pun memanggil ayahnya dengan panggiln fafi (papi). “Karena biar keren, maka dijadikan bavi saja sekalian,”tambahnya. Maka, panggilan bavi menjadi panggilan akrab Ir. Achmad Noe’man.

Dan saat itu, Bavi dengan wajah cerah mengeluarkan rancangan kaligrafi-kaligrafi yang bergenre Kufi untuk diusulkan menjadi rubrik kaligrafi.

“Saya ingin pembaca Alhikmah menebak kaligrafi ini dan dapat hadiah,” kata sang maestro.

Continue reading “Aku, Salman, dan Pak Achmad Noe’man”

Bukit Harapan

meriam bursa

Di atas bukit ini, aku menatap negeri para raja di hadapan laut biru

Di atas bukit ini, perjalanan sang waktu seakan terus menderu

Di atas bukit ini, temaram sendu menemani rintik salju

 

Cerobong asap yang mengepul

Titik cahaya dari bilik tirai yang terus bergumul

Tenimbun salju yang entah sedari tadi berkumpul

Atap rumah tua dan dinding-dinding yang terus timbul

 

“Dooooorrrr….”

Moncong meriam yang terus berdentum

Nanar mata hingga darah yang harum

Itulah Ibu Kota Romawi, Byzantium

Di atas bukit ini, usaha nyaris satu millennium

 

Yang sudah tercatat berabad silam, dari lisan sang Nabi

Di atas bukit ini, dengan kuduk mengigil, memeluk jaket kami sendiri

Menyusur jalanan tua kota tua dengan temaramnya

Mendaki kecil, menapaki perjalanan waktu yang seakan terhenti di sini

 

Kami tercekat

Terdiam sejenak

Kami berdiri di kota dengan berjuta kenangan

Kami berdiri di atas bukit dengan sejuta harapan

Kami berdiri menatap ribuan peninggalan peradaban

 

Aku pun beraharap

Aku ini kembali lagi ke sini, pada saatnya

Sambil berlama-lama menikmati sajian khasnya

Berjalan-jalan menikmati hijau masjidnya

Menuliskan sebait dua bait prosa untuknya

 

malam d bursa

@rizkilesus

Bursa, suatu Desember, menikmati salju pertama di Ibu Kota Pertama Turki Utsmani

Di Tempat Itu

suasana kamar
Di tempat itu, kami pernah mengayuh sepeda, sekaligus mengayuh mimpi

Di tempat itu, kami pernah
melabukan raga, sekaligus melabuhkan asa

Di tempat itu, kami pernah tidur berbantal tumpukan buku, berselimut rindu

Di tempat itu, kami kembali menemukan arti cinta sekaligus duka secara bersamaan.

Seringai tawa yang kian nyaring

Semilir angin senja di temani sepiring ketan dan segelas susu

Segenggam rindu dan doa mereka yang terus terlafal nun jauh di kampung halaman

Suara nyaring yang kian redup hingga sunyinya

Wajah mereka yang melekat hingga sirnanya

Lelah
Letih
Jenuh
Jemu

Teruslah mendengar, hingga lelah itu lelah mengejarmu

Teruslah membaca, hingga letih itu jenuh mengejarmu

Teruslah menulis, hingga jenuh itu jenuh mengejarmu

Teruslah berbicara, hingga jemu itu jemu mengejarmu

Kejarlah mimpi, sebagaimana dahulu kita tak pernah takut untuk bermimpi

Bukankah ketika kita menginjakkan kaki di tempat itu, mereka menaruh harapan?

Mereka yang menaruh asa
Yang lama tak bersua
Yang dalam sunyinya malam teringat kita

Tempat itu, di dalam riuhnya, selalu menyimpan ruang sempit untuk hati ini

Untuk kembali memaknai kehidupan

Bahwa kita berada di sana bukanlah belaka kebetulan

Every cloud has silver a lining

@rizkilesus, 8 safar 1441

Dalam safar malam di atas kereta menuju Ibu Kota, ditemani lagu “tunggu aku di Jakarta”