Inspiring Hamida,  Little Girl in The Ruins of Aleppo

In the very cold temperature of minus 4 -2 degrees Celsius, the little girl come without socks, without shoes, event a piece of  footwear.

Tin and olive trees shaped like  a giant broccoli became our sights along the snaking path towards Aleppo, the second largest city in Syria after Damascus, which was also the most dangerous areas. Aid trucks piled at the edge of the street. The houses aid from various NGOs (Non Government Organizations) humanitarian and refugee camps regime victims lined the Syrian-Turkish border, sometime ago when I arrived  there.

Aleppo, the old city with high buildings like shophouses. Bricks adorn the streets. Markets began crowded of activites. Now, Aleppo did’nt like centuries ago. Debris and ruins were visible everywhere. Many houses were destroyed by the blast. The ruins that littered the streets. The streets were blocked rubble. The damage is so great.

Abu Nizam, Humanitarian NGO activists in Syria Saleem Sadeer drove us to saw the condition about this City. Then, we stopped at a school. Just walking out of the car, stepped the first time, the sound of explosions could be heard not far from there. “..Buumm ..”

Abu Nizam glance, raising his shoulders. “This is an example of the sound of the explosion was that we heard,” he said, pointing to the former bomb that fell in a school yard. Army Assad regime is routinely dropping rockets and birmill. Birmill is a large vat containing bombs and large flake irons that if the burst can destroy anything within a radius of 200 meters around.

DSC_0265IMG_0018

“Schools in Aleppo entirely were closed and stopped now because of schools has become the target of bombing Bashar Assad’s army,” said Abu Nizam. In addition to a large aperture of the former bomb, there are also former Assad forces shot bullets at the school. After seeing the moment, we continue with a trip to Madrasah Al Fatih is not far from there.

This time, there was a big hole in the ground, but the height of the building was melted. Veins of iron bones out of the building. The building was destroyed, the debris scattered about. “Seventeen boy died in this school. In the last ten days alone, 400 people were injured and many die as a result of drone attacks Assad, “said Abu Nizam.

When the kids in Indonesia is carefree joy of playing, in Syria, they are used as targets for attack. Look at when we visited a school on the outskirts of Aleppo, Madrasah Imam Ahmad Ibn Hanbal. Look when a bomb-birmill it fell into a large field surrounded by three grade levels.

hamidah

Hamidah

The permission of God, birmill did’nt explode. If exploded then hundreds of innocent boys will killed instantly. But besides birmill, mortars were spewed Assad plane. Most of the building was destroyed. Roofs collapsed, until that ruins strewn in the streets.

Hamida, a 11-year-old girl is now just live alone. Staying with other friends in Ma’had Imam Ahmad Ibn Hanbal after his mother’s death hit by mortars and bombs from aircraft.

“Hamidaah …” last shouted of his mother, as told Fatma, who’s now caring for elderly woman Hamida in Mahad Imam Ahmad ibn Hanbal. Screams into last cry, before Hamida heard a huge sound. “..Buummm …”. Smoke rose high. In the thick dust, his father immediately digging school ruins and trying to find his wife who had lost a large bomb hit, but all in vain.

The father becomes depressed, crazy, then some where to go. Now, Hamida live alone, so lonely. Fortunately, Mahad Imam Ahmad provides a temporary residence for Hamida. The whole school were closed, to maintain the security of the boys from the attack aircraft ready lurk.

1DSC_0271

“Pray for my mother may be placed in Heaven,” said Hamida his eyes filled with tears. “I want to back to school,” he recalls. “The children here if you want their schools need thick socks,” said Fatma added. At that time, invisible socks are attached at the foot of Hamida.

“In class they are cold, some even don’t have shoes. But what makes the emotion, they keep the spirit to continue to learn, to school, “said Fatma, softly. In the ambient temperature of minus 4 -2 degrees Celsius, the little girl come without socks, without shoes, without event a piece of footwear.

My Friend beside me, then give a scarf to Hamida. He prayed that someday Hamida into student achievement. Suddenly, I didn’t realized why these eyes filled with tears. The other friend wiping her tears were already running down the cheeks. When we use the super thick jackets, see how Hamida just use ordinary clothes, without earmuft, no skullcaps, no scarf, no socks, or our waterproof shoes.

Hamida just want to back to school again, sipping sweet The Qur’an. She  try to sincere for her parents, may meet in Heaven someday. Aamiin. I once again realized how grateful live in my Country. Alhamdulillah

(Rizki Lesus, Humanitarian Journalist at #Road4Peace)

Kerakyatan yang Dipimpin Hikmat Kebijaksanaan

mati demoo

“Demokrasi telah mati!”  seorang berteriak di jalanan, berkeliling-keliling sambil mengibarkan bendera dengan penuh kebencian, kemarahan, dendam dan frustasi!. “RIP demokrasi,” kata kawannya yang lain sambil menshare foto-foto ‘Ingatlah Partai Ini!’, sambil misuh, tak menerima. Demokrasi menjadi jimat dan aji-aji, kebenaran absolut, lupakan sejenak partainya super korup atau tidak, yang penting kalau melawan ‘demokrasi’ ia harus dihabisi.

Demokrasi, ia tak bisa diganggu gugat, menggugat demokrasi ialah haram hukumnya!. Ia adalah fatwa kekal, tak mungkin salah, tak bisa disalahkan, awas sekali-kali melawan demokrasi, Presiden pun fotonya bisa diinjak-injak. Demokrasi ialah mantra sakti. “Semua harus demokratis” Katanya sambil merengek maksa keinginannya dikabulkan karena kalah voting.  Baginya, hanya dirinya yang mewakili rakyat dan demokratis. Tak demokratis berarti tak manusiawi, ketinggalan zaman, set back. Demokrasi kini menjadi tujuan akhir dan final, bukan lagi alat,  pokoknya begitu, titik!

Yang melawan demokrasi, ia harus kita habisi, “kita bully di twitter”. Lihat saja, mereka, orang-orang yang terpilih via demokrasi, para wakil rakyat, yang telah dipilih rakyat, karena mereka tak sesuai dengan pendapat dirinya, maka para anggota dewan yang terhormat akan dilawan. Mereka yang dipilih rakyat, secara demokratis pun harus dihabisi, karena tak sependapat dengannya yang bisa jadi tidak dikenal warga di kampungnya, karena cuman eksis di FB , Twitter, Instagram doang.

Mereka yang dipilih rakyat adalah penghianat demokrasi!. Sedangkan yang ahlul twitter wal fesbukiyyah, yang dicekoki : oknum pengamat, lembaga asing,  media mainstream yang berjibun kepentingan itu ialah rakyat sejati nan demokratis. Sebab, demokrasi baginya hanya urusan ‘memilih langsung’, kebebasan bicara, one man one vote,  ‘tok pokoknya kalau nggak memilih langsung:  #RIPDemokrasi, Demokrasi mati,  penghianat demokrasi, hingga umpatan kasar terus terlontar sambil mention-mention.

“’Demokrasi’, ialah harga mati, melebihi apapun!” terkecuali: parpol kami, lurah, camat, CEO, rektor, dll itu nggak perlu ‘demokratis’ amat lah. Keputusan yang diambil oleh orang-orang yang katanya dipilih secara demokratis tak perlu digubris, “karena bertentangan dengan kehendak kami”. Satu suara begitu nyaring, demokrasi di dunia maya yang membiarkan setiap orang berbicara begitu lantang, bebas,  begitu individualistik, begitu penuh polemik, kata Plato.

Orang-orang tak lagi percaya para wakil rakyatnya sendiri,  partai politiknya, karena semuanya hanya abu-abu, penuh intrik, licik dan plin plan hanya berkutat hanya pada kekuasaan, kepentingan partai, sebuah ungkapan yang tengah menyeruak.

“Mengapa idealisme dan politik seakan tidak bisa bersatu. Mengapa politik hanya dianggap amal yang lepas dari ilmu, retorika yang tanpa logika. Mengapa politik berarti membangun kekuasaan, bukan peradaban. Padahal kekuasaan hanyalah tahta yang tak berarti tanpa ilmu, moralitas dan tujuan? tanya Dr. Hamid Fahmy Zarkasy dalam Pemimpin.

“Semua itu adalah harga yang harus dibayar dalam sistem demokrasi,” jawab Gordon S Wood  dalam The Public Intellectual. Samuel Eliot Morrison dan Harold Laski, sejarawan Amerika percaya bahwa dalam sejarah modern, nggak ada periode yang kaya dengan ide politik yang memberi banyak kontribusi kepada teori politik Barat. “Itu karena kualitas intelektual dalam kehidupan politik masa kini turun drastis. Ide dipisahkan dari kekuasaan,” tambah Gordon gemas.

Kalau Gordon tinggal di Indonesia, mungkin ia akan berkata itulah harga yang harus dibayar oleh sekularisme dan demokrasi liberal. Beruntungnya,  Negara ini awalnya menolak sekulerisme dan demokrasi liberal. Sambil berbinar-binar, para intelektual cum founding fathers merumuskan bahwa di sini, demokraisi bukanlah bermakna : bebas omong dan one man one vote,  yang kini begitu didewakan pendukungnya, namun wisdom (hikmah kebijaksanaan) yang menjadi nilai dan dengan wisdom itulah rakyat dipimpin.

Di sini, harusnya ide tak bercerai dengan  kekuasaan, kerakyatan dipimpin hikmah. Sila ke -4 “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”  seharusnya menghancurkan konvensi  dan adigium “Berpolitik tidak bisa hitam putih” , ”Politisi boleh bohong tapi tidak boleh salah, ilmuwan tidak boleh bohong tapi boleh salah”. Terbukti dari ide yang diusung partai-partai di masa awal kemerdekaan  yang begitu menjadi kebanggaan, bukan intrik dan pragmatisme laiknya sekarang.

“Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.” Begitu apik dikisahkan dalam Mata Air Keteladanan: Pancasila dalam Perbuatan karya pakar Politik Dr. Yudi Latif, yang mengisahkan bahwa hikmah dan musyawarah merupakan kearifan asli dari negeri ini yang bercecer di pelbagai wilayah. Wisdom dan musyawarah barang langka yang mungkin sulit ditemukan di sana, ketika demokrasi itu muncul. Karenanya, di sananya, ia bukanlah lagi ‘kebenaran mutlak’ seperti mungkin di sini. Demokrasi pun tak luput dari kritik para filsuf seperti Plato dan Aristoteles, dll. Rakyat dikuasai kemarahan, “they are free men; the city is full of freedom and liberty of speech, and men in it may do what they like,”  kata Plato.

Syahdan, ketika semua orang berbicara, dan geram sambil bersumpah serapah pada mesin yang rusak di sebuah toko di Leicester Inggris, seorang berparas Timur berusaha memperbaikinya, dengan sabar, dan akhirnya tersenyum puas setelah mesin itu kembali normal sambil menyeringai, “ You see! Wisdom always come from the East,” kira-kira begitulah  maksud Edward Said dalam Orientalisme  tentang hikmah dari Timur.

Goethe (1749-1832) yang asli Barat itu memang mengeluhkan dalam West Oestlicher Divan bahwa pandangan asli Barat yang materialis dan individualis. Sedangkan Timur menjanjikan nilai-nilai kebijaksanaan, karenanya, sastrawan kesohor, Iqbal (1923) dalam Payam – i- Mashriq (pesan dari Timrur) menulis nasihat untuk Goethe.

Raindranath Tagore peraih Hadiah Nobel Sastra dari India membenarkan kata hikmah-bijak (wisdom) memang dari Timur : ‘taklukkan kemarahan dengan kesabaran, kejahatan dengan kebaikan’ juga berasal dari  Timur. Berbeda dengan istilah asli Barat, “Kenali musuhmu, vini, vidi, vici, we are the super power, “ kata Tagore.

Timur (orient) dan Barat (occident), mungkin seperti kelakar syair Tagore, bahwa wisdom bisa jadi hanya datang dari Timur, seperti tempat terbit matahari dan terbenam di Barat. Dan karenanya, wisdomlah  yang digali para pendiri negeri ini yang tak hanya ingin merdeka secara territorial, tetapi juga secara ideologi. “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”

Hikmah, ia bukan personal, bukan Presiden, bukan anggota dewan yang terhormat, bukan juga anggota DPRD. “Hikmat adalah suatu kondisi kejiwaan dan dalam sila ini dikatikan dengan sikap dalam bermusyawarah dan menentukan kebijakan. Artinya sistem permusyawaratan dan perwakilan dalam bernegara di Indonesai ini mestinya dipimpin oleh moralitas yang tinggi.” kata Dr. Hamid Fahmy Zarkasy dalam Hikmah.

Lanjutnya, dalam bahasa umum hikmah dipahami sebagai kebijaksanaan atau bijaksana (wisdom). Dalam al-Qur’an terdapat perintah untuk berdakwah dengan bijaksana (bi al-hikmah). Karenanya, orang yang memutuskan perkara dengan hikmah, ia disebut hakim. Ikhwanussafa menjelaskan orang yang memiliki hikmah atau “al-hakim” adalah yang perbuatannya dapat dipertanggung jawabkan; kerjanya tekun, perkataannya benar, moralnya baik, pendapatnya betul, amalnya bersih dan ilmunya benar, yaitu ilmu tentang segala sesuatu.

Hikmah juga berkaitan dengan berfikir yang logis dan mendalam. Karena itu Ibn Rusyd menterjemahkan “hikmah” dengan filsafat dan hakim dengan filosof. Istilah hikmah asli dari al-Qur’an dan disebut sebanyak 20 kali. Menurut al-Ghazzali hikmah adalah salah satu dari unsur akhlaq mulia selain keberanian, kejujuran dan keadilan. Maka berakhlaq mulia dalam Islam itu bukan sekedar berperilaku baik, tapi juga berilmu tentang kebaikan, bersikap berani menyatakan kebenaran, berlaku adil terhadap segala sesuatu alias tidak zalim.

Agar memiliki hikmah, keberanian, kejujuran dan keadilan diperlukan ilmu. Sebab berani dan adil tanpa ilmu bisa salah jalan alias sesat. Orang berilmu yang tidak jujur, ilmunya tidak manfaat. Demikian pula kekuatan dan manfaat ilmu dapat dilihat ketika seseorang itu dapat membedakan antara kejujuran dan kebohongan, antara haq dan batil, antara baik dan buruk. Jadi hikmah menurut al-Ghazzali adalah keadaan kejiwaan seseorang yang dapat mengetahui yang baik dari yang buruk benar dalam segala perbuatan. (Ihya III, hal.54). Ibn Arabi dalam Futuhat juga berpendapat sama. ( Hamid Fahmy Zarkasy: 2011)

Ungkapan Gordon di awal boleh jadi benar, bahwa kualitas (ilmu) intelektual dan spiritual dalam politik seakan tidak lagi dilibatkan. “Sebenarnya, yang mendirikan dan membangun negara itu adalah para intelektual” kata Zia Ul Haq (Presiden Pakistan silam) Mungkin Zia terinspirasi bukan dari para politisi, tapi dari para intelektual seperti Mohammad Iqbal, Abul Ala Al Maududi, Amir Ali, Syed Ahmad kan yang mempelopori kemerdekaan Pakistan.

Pun dengan inspirator negeri tetangganya (India) dari penjajahan Inggris seperti Mahatma Gandhi, Rabindranath Tagore, Jawaherul Nehru dan lain-lain. Boleh jadi, negeri ini pun begitu. HOS Tjokroaminoto adalah inspirator  Soekarno dan lainnya. Agus Salim, Hamka, Natsir, Wahid Hasyim, M Yamin, Ki Hajar Dewantoro, hingga Hatta yang semuanya bukan politikus murni, tapi intelektual yang bervisi politik.

Ayn Rand dalam For the New Intellectual menjuluki mereka,  sebagai thinkers who were also men of action. Dengan intelektualitasnya, diharapkan menjadi dasar dari ‘hikmah’. Ilmunya bekal amal. Itulah al Hakim (orang berhikmah). Al-Ghazzali menambahkan al-hakim adalah orang yang jiwanya memiliki kekuatan mengontrol dirinya sendiri (tamakkun) dalam soal keimanan, akhlak dan dalam berbicara. Jika kekuatan ini terbentuk maka akan diperoleh buah dari hikmah, sebab hikmah itu adalah inti dari akhlak mulia.

Cerdas memang, para intelektual cum pendiri negeri ini. “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan” menggambarkan sebuah sistem yang seharusnya hanya orang-oang yang “hakim” saja yang bisa memimpin rakyat.

Berbeda dengan semangat kemarahan, semangat hikmah memandang perbedaan pendapat tak harus dieksekusi dengan dendam kesumat karena ‘kalah’, sambil geram membagi sana sini ‘RIP Demokrasi’. Terus berteriak, memaksakan pendapat pribadi, tak sadar telah menjadi tiran, tirani demokrasi!. “Kematian demokrasi” yang digadang-gadang dibunuh oleh pengusungnya sendiri,  suicide democracy! Tragis!

Sebaliknya, duduk bersama, meracik perbedaan, berpikir kolektif dalam sebuah majelis, seakan mengulang romantimse masa silam ketika Sembilan orang berwibawa mengajukan dasar Negara tanggal 22 Juni 1945 dan disepakati 62 anak negeri, hingga ketika sehari setelah kemerdekaan negeri ini (18 Agustus), baru saja negeri ini memiliki Presiden dan Wakil Presiden yang ‘hanya’ disetujui 21 orang perwakilan.

Atau bisa juga kembali mengingat saat tahun 1955, ketika setiap orang pun memberikan suaranya secara langsung namun orang-orang yang disodorkan ialah para intelektual dan orang-orang terbaik dari Partai yang berbasis ide. Sekarang, pertanyaan terlontar kepada partai politik, akankah mereka memberikan rakyat pilihan para ahli hikmah yang akan diajukan sehingga rakyat tak menerima ‘begitu saja’ apa yang disodorkan?

Sebab, jika para ahli hikmah memimpin negeri ini, maka keadilan sosial takkan menunggu waktu, seperti ungkapan Lisan al-Din al-Khatib, ulama abad ke 14, dalam kitab Raudat al-Ta’rif memahami hikmah seperti keadilan. Walhasil, keberkahan dipastikan akan mengalir di negeri ini. Sebab al-Qur’an sendiri menjamin “Barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak….” (al-Qur’an 2:269) Wallahu a’lam. []

sumber gambar: blog.churchoftherock.ca

Hamparan Sajadah di atas Mavi Marmara

Kumandang adzan subuh membelah langit Laut Marmara. Para relawan kemanusiaan itu dalam hening dan syahdu, bertakbir, tahmid, tasbih dalam berdiri, rukuk, dan sujudnya. Dalam hening, sang Fajar masih belum menyingsing, asyik berselimut kegelapan. Sunyi, hanya ditemani desiran ombak hitam, membelai lembut Kapal Mavi Marmara.

Mavi, orang – orang sini menyebutnya biru. Biru, laut Marmara itu selalu membiru, membentang, secerah biru di atas langit sepanjang cakrawala. Suasana begitu tenang, saat kapal itu mengangkut anak-anaknya, para relawan kemanusiaan merentas seberang, menembus blokade Isarel, berharap berjumpa Gaza, Palestina jauh di hadapan, menunaikan amanat umat.

Mavi Marmara, ialah kisah yang tak kan terlupa, di penghujung Desember tiga tahun silam. Dalam sunyi itu, suara angin berkelebat, deru pesawat tiba menghampiri, tali bergelayut, sinar-sinar bersorot ke sana ke mari. Panik? Dalam sekejap saja, suara tembakan membelah kesunyian langit. Satu..dua..darah mengucur deras.

Tentara-tentara itu berdatangan, kukuh dalam blokadenya. Tak seorang pun boleh masuk ke dalam Gaza. “Kalian membawa senjata,” teriaknya, sembari mengangkat barang bukti berupa kain, obat-obatan, makanan,  selimut, pakaian, dan kitab suci, dan itulah senjata yang dituduhkan, yang membuat mereka bergetar. Marmara, laut biru berkelebat, tiga tahun kemudian.

***

Di atas Laut Biru Marmara

Kumandang adzan membelah birunya langit Marmara yang hendak berganti dengan kilaunya keemasan.  Burung –burung camar berputar-putar, mendekat, menjauh, melayang, suaranya riang. Angin menderu hebat, dinginnya musim dingin menusuk kulit. Teringat, apa yang terjadi tiga tahun silam di sini, di laut nan biru ini. Mata ini terkenang, mengingat, apa yang kami lakukan, tak jauh dari mereka. Saya di sini sebagai seorang wartawan, jurnalis, yang bergabung dalam tim kemanusiaan.

 

Shalat di atas laut

Shalat di atas laut

 

Dalam berdiri, rukuk, dan sujud bersama, di kemuning senja Mavi Marmara, di atas kapal feri ini air mata mengalir, tak tertahankan. Sebuah kesempatan yang sangat berharga, menikmati syahdunya senja di Mavi (Laut Biru)  Marmara. “Rukuk dan sujudlah kamu bersama,” ayat yang begitu terngiang.

DSC_0194

Di atas laut Marmara nan biru, sejumput syukur terlafal, di atas hamparan sajadah di atas Laut Biru Marmara. Kaus kaki tebal tak dapat menahan dingin yang terus melaju, menembus pori-pori. Satu hingga enam derajat Celcius, begitu tertulis pada termometer digital dalam bus, sejenak sebelum kami masuk ke Darmaga, melintasi laut Marmara.

Jamaah  sholat Jamak Takhir itu hening dalam rukuk dan sujudnya. Di atas hamparan sajadah, di atas laut biru Marmara, semua teringat peristiwa di masa silam. Kisah yang menghentak dunia kemanusiaan, mengoyak hati, menyisakan kenangan, 9 orang syuhada di atas kapal, tempat kini kami berpijak.

DSC_0272

Langit membiru, berganti kemuning senja perlahan. Angin membuat ujung syal di leher ini menari merdu. Jaket tebal, tak hanya sesaat menahan dinginnya angin laut di musim dingin. Di atas selasar kapal, di luar, beratapkan langit, semua tunduk dalam khusyuk, mengingat RabbNya, yang sangat jarang sekali dilakukan manusia, kecuali dalam lima waktu ini.

Salam terlafal, semoga kami dalam keadaan selamat, melihat misi kemanusiaan ke depan ini sangat berbahaya. Bom-bom menggelegar, birmil, mortar hingga tajamnya peluru siap menembus dada. Tiga tahun lalu, di atas laut biru ini, ancaman itu bukan sekedar cerita dari mulut, tapi sudah terjadi, dan kini seorang saksi, pemimpin rombongan kemanusiaan ini duduk terpekur di atas bangku kapal yang bergoyang, mengikuti alunan ombak.

Pak Mus, kami menyapa pria asal Malasyia, ketua NGO MASSA. Orang yang dulu berada dalam kapal Mavi Marmara itu, kini sedang termenung, mengingat masa silam. Ditulisnya sebait dua bait syair Marmara. Dibacanya sedikit berbisik dengan penuh khidmat.

 

IMG_9710

Marmara yang Indah

 

Di senja ini aku terpaku di bangku Kapal Feri

Merenung sejauh-jauhnya lautan biru tua yang terhampar

Burung Camar berterbangan rendah menyapa

Bersama deru angin dingin yang meresap ke rongga

Angin Marmara memberi makna persahabatan, kekuatan, ketegasan dan keindahan

Oh Marmara

Aku jatuh cinta PadaMu

Dan dapat meningkatkan cintaku pada Penciptamu

Indahnya Marmara membuat ku membuka mata fakta

Di sini dulu, Perahu dan kapal besar Sultan-sultan dari Khilafah Utsmaniyyah merentasinya

Dan melakukan operasi tentera sehingga ketika Muhammad Al Fatih akhirnya menawan Istanbul atau Konstantinopel..!

Aku belajar sesuatu tentang gelora perjuangan dan semangat jihad penguasamu

Penguasa yang baik sehingga mengharumkan Islam dan jiwa kemanusiaan

Rakyat merasa terbela dan izzah meeka  melonjak naik ke langit

Insan biasa menjadi hamba Allah yang tunduk mengatur sepenuhnya menurut Islam

Oh..Marmara

Terima kasih atas kesempatan ini

Semoga akan kembali lagi sehingga kegemilangan hidayah di bumi ini kembali

IMG_9712

***

Di atas sajadah di atas laut Marmara itu, doa-doa terselip. Di seberang sana, bumi Syam yang kami tuju, anak-anak kecil itu mati membeku. Di sini, atas sajadah di atas laut Marmara, kami berlapis pakaian musim dingin, sedangkan mereka di sana, hanya kaos tipis, beratap tenda, menanti badai salju segera mereda.

Di atas sajadah di atas laut Marmara, berduyun-duyun kami berganti, bersaf-saf, menghadap sang Pencipta dengan berdiri, rukuk, dan sujud. Langit biru Marmara, kini berganti menjadi kemuning keemasan. Sambil bersender, memandangi mentari di geladak kiri, burung-burung camar merendah, menghampir, medekat.

Memandang sejenak ke belakang, di sana, tempat ratusan elang laut dan camar itu bertengger, di penghujung dermaga, kota kenangan yang Pak Mus sebut-sebut. Di balik punggung ini, Instanbul, kota tua Konstantinopel yang selalu mengingatkan. Teringat saat diri ini berdiri di bawah benteng tua itu, memandang gerbang besar berlafadzkan kalimat tauhid.

DSC_0331

Menyusur gerbang, lebih masuk ke dalamnya, berguman pelan, disinilah dulu, kota yang dinubuatkan nabi. Di bawah kaki ini, tanah yang mengundang para pemimpin besar datang untuk membebaskannya. Sejauh mata memandang, ke seberang  selat Bosporus sana, di ujung sana, rumah-rumah kecil menyemut, dan di sanalah kapal-kapal itu mendentumkan meriam.

Di sana, di Asia sana pasukan Muhammad Al Fatih berjibaku, berminggu-minggu untuk mencapai tempat ini berdiri, bumi Eropa, ibu Kota Imperium Romawi yang namanya membuat gentar, Konstantinopel. Di sanalah,  Laut Hitam dan Laut Marmara dipisahkan selat Bosporus yang dihalangi rantai-rantai besar, pasukan Al Fatih tertahan.

Kini, di atas hamparan sajadah di atas laut Marmara, memori itu mulai terketuk. Kapal-kapal besar melewati kami, menuju selat Bosporus di belakang sana. 400-an Kapal-kapal dengan meriam dan layar terkembang, melaju, melawan arus kami 600 tahun silam. Kami laiknya kapal yang melarikan diri, menuju Bursa, Kota kemunculan Utsmaniyyah.

1453, saat Al Fatih muda menggelorakan para pasukan terbaiknya, menarik jangkar-jangkar, mengembangkan layar, memutar bidik teropong, melihat dari kejauhan, benteng –benteng konstantinopel itu berdiri tegak. Di belakang sana, benteng-benteng itu berdiri kokoh, benteng Al Fatih, saksi akan kegemilangan Islam di masa silam.

Kini, di atas hamparan sajadah di atas laut Marmara, semua bersiap. Hamparan sajadah itu kembali dimasukkan ke dalam tas besar, bersiap, Bursa, Ibu Kota Utsmaniyyah sebelum Konstantinopel itu menanti. Kota tua dengan benteng-benteng dan  gemerlap cahaya sepanjang malam.

DSC_0231

Mentari bulat sempurna menemani perjalanan nan dingin di Laut Marmara. Senja semakin menguning berkawan camar yang berputar membelah angkasa. Langit semakin gelap. Mentari perlahan turun ke peraduannya. Senja itu, semua berharap, semoga misi kemanusiaan ini kelak berhasil. Mengabarkan bahwa masih ada harapan, akan kedamaian yang terjadi di Bumi Para Nabi, Syam, Suriah, Palestina, Yordania, Lebanon. Insya Allah.

 

 

 

Bu Risma

Bu Risma

Bulir-bulir bening itu mengalir tiada henti. Jutaan pasang mata itu kian berkaca-kaca. Tak terasa, air mata itu mengalir di pipinya. Disekanya pelan-pelan air mata yang meleleh itu, ia menangis. Setelah tenang, ia melanjutkan.

“Saya selama ini sudah berikan yang terbaik untuk warga Surabaya. Semua yang saya miliki sudah saya berikan. Saya sudah tak punya apa-apa lagi, semua sudah saya berikan, ilmu saya, pikiran saya, bahkan kadang anak saya pun tidak  saya urusi. Tapi, saya percaya, kalau saya urusi warga Surabaya, anak saya diurusi Tuhan. Saya sudah berikan semuanya, jadi saya mohon maaf,” dalam ruang haru dalam sebuah tayangan bernama Mata Najwa medio Februari 2014.

Air mata kecintaan Tri Rismaharini, Walikota Surabaya yang bening, seolah ingin menampakkan kebeningan hatinya. Apa yang ingin disampaikan Bu Risma tak terasa membuat jutaan pasang mata itu tak dapat menahan bulir bening yang sudah berkumpul di sudut matanya. “Bu Risma, seorang pemimpin yang mencintai rakyatnya.” guman para penonton sambil larut dalam haru.

“Saya ingin memimpin seperti Umar Ibn Khattab,” katanya, seperti diungkapkan dalam Catatan Kaki Jodhi Yudono  Kompas.com (17/2/2014). Bu Risma ingin memimpin melewati sekat-sekat fisik sebuah kota, dan mulai menyentuh persoalan kemanusiaan. Beberapa waktu lalu, saya pernah membaca tulisan ‘Walikota yang Siap Mati Demi Ditutupnya Prostitusi’ di pelbagai media. Kesiapannya dan keikhalasan untuk mati ia kisahkan kembali di Mata Najwa dengan air mata yang tertahan, kesiapan melawan sebuah “kekuatan besar.”

Image

(sumber gambar:article.wn.com)

Kelihatannya, ia tak hanya ingin sekadar menata kota (city design), tapi ia ingin masuk ke sekat menata ‘kota’ – dalam arti lebih luas: budaya- (urban design), bahkan lebih dari itu, semoga Sarjana Arsitektur ini telah melewati ruang-ruang fisik, dan melangkah pada menata kota yang menjadi dasar peradaban (civilization), seperti yang diungkapkan Sosiolog kesohor, Louis Wirth dalam bukunya “The City as a Symbol of Civilization”. Itulah yang dilakukan idolanya, Umar Ibn Al Khattab, melanjutkan tradisi mebangun kota (madinah) yang menjadi peradaban (tamaddun).

Sebagai alumnus Arsitektur, saya kira Bu Risma akan membangun city dan Urban (keduanya diartikan ‘kota’) sekaligus,  laiknya Walikota kesohor lain yang juga arsitek, Ridwan Kamil yang mulai mempercantik Kota Bandung, dengan jalur pedestrian, jalan-jalan yang mulus, tempat sampah, biopori, dan sebagainya. Bu Risma pun saya yakin akan memulai dari tampilan fisik kota (city), dan itu mungkin bisa dirasakan warga Surabaya.

Saya berkesempatan menikmati Surabaya baru dengan sentuhan bu Risma setahun lalu. Menikmati senja dengan berjalan kaki, menaiki becak, menaiki angkot hingga Jembatan Suramadu, menyusuri jalur pedestrian. Belakangan, beliau menaikkan pajak Billboard, karena dianggap merusak tampilan kota. Walau masih banyak kekurangan, perbaikannya perlu kita aspresiasi.

Mungkin dengan beberapa ‘manuver’ walikota Surabaya ini,  ia “dimakzulkan”. Hal ini wajar, karena dalam kuliah-kuliah Arsitektur, ide menaikkan pajak reklame, biaya parkir, pajak kendaraan pribadi yang ditinggikan menjadi bagian dari ikhtiar perbaikan kota hingga menjadikan kota penuh dengan pejalan kaki, dan minimnya kendaraan pribadai pasti menjadi prioritas seorang penggiat Arsitektur seperti Bu Risma.

Begitulah memang membangun kota (city) seperti kata Louis Wirth dalam  Life in the City bahwa  salah satu aspek dalam kota yang baik adalah penggunanya. “Demokratis” adalah  salah satu ciri ruang publik yang ideal. Tapi, pengguna kendaraan pribadi seakan-akan menjadi ‘tiran’. Nggak perlu jauh-jauh ngomongin demokratis, apakah pedestrian sudah nyaman berjalan di  trotoar? Bu Risma sedang berikhtiar ke arah sana, salah satunya dengan ‘mengharamkan’ jalan tol –yang didominasi kendaraan pribadi- masuk kota, yang ‘mungkin’ membuat geram beberapa pihak.

Jika saja Bu Risma, dizinkan membereskan kota Surabaya, bisa jadi dalam tampilan fisik, semoga  laiknya walikota Erdogan (kini sudah jadi Presiden) membuat kami dapat menikmati Istanbul. Menikmati trem-trem ke sana kemari dengan biaya murah. Atau kami dapat membeli dilahan khusus ‘PKL’ yang tertata rapi di Grand Bazzaar sambil menikmati ruang-ruang demokratis dalam trotoar, atau menikmati bus tanpa macet, menaiki subway, juga menikmati taman-taman kota yang tetap kian ramai oleh masyarakat.

Image

(sumber;dok.pribadi)

Inilah mungkin sekat pertama, tentang city, tampilan fisik kota yang nyamanLihatlah ketika Umar Ibn Al Khattab menangis, karena takut ada seekor kambing yang terperosok karena lubang, jalanan yang rusak di wilayah yang ia pimpin, dan semakin menjadi-jadi tangisannya karena “Akan menjawab apa Umar ketika menghadap TuhanNya.”

Untuk hewan saja, begitu takutnya Umar, apalagi urusan manusia. Inilah seperti yang dikisahkan seorang kompasianer, dalam “Bu Risma: Walikota Termiskin di Dunia”, sekat kedua menembus kemanusiaan, penghuni kota dengan coraknya (urban), tak hanya fisik bangunan kota saja. Bagaimana Bu Risma mendatangai satu per satu warga miskin, berjumpa dengan lurah, camat dan berpesan “Jika masih ada yang tidak terdata, maka saat di akhirat nanti ketika menghadap Allah dan ditanya mengapa masih ada orang miskin yang tidak terbantu di Surabaya, maka saya akan panggil kalian semua untuk mempertanggungjawabkan.” lirihnya.

Sekat kedua ini yang berabad silam membuat Umar membopong sendiri sekarung makanan karena menemukan warganya yang merebus batu.Umar memang dikenal sebagai pemimpin yang suka ‘blusukan’ walau tanpa jurnalis yang siap menemani. “Ya, Bu Risma memang ingin meniru Umar bin Khatab sebagai seorang pemimpin. Yakni pemimpin yang tahu persoalan rakyatnya, terutama mereka yang  miskin dan papa…” Tulis Editor Kompas Jodhi Yudono dalam tulisannya Sebab Kami Menyayangi Ibu Tri Rismaharini’ (Kompas.com,17/2/2014)

Bu Risma, tak memang tak salah memilih idola pemimpinnya, Lihatlah ketika Umar dengan sepotong pakaiannya ketika memukul perutnya sendiri sambil berguman, “Aku tidak akan puas makan dan minum selama masih ada rakyatku yang kelaparan.”. Dan ketika Paceklik melanda, Umar bersumpah hanya akan makan minyak dan roti kering dan berguman,”Wahai perut, engkau tak akan merasakan selain makanan ini.” Sambil menusuk perutnya.

Ia bersama masyarakat, datangi satu persatu dan menanyakan kondisinya., “Semoga Allah membalas kebaikanmu hai anak muda, sungguh engkau lebih pantas menjadi pemimpin daripada Umar..” kata seorang wanita tua yang dibantu Umar yang memanggul barangnya. Umar, seorang pemimpin besar, penakluk Imperium Romawi dan Persia, yang tidur hanya dalam gundukan jerami, atau pasir, dan menerima utusan di bawah pohon kurma yang rindang.

 Tapi lihatlah kesederhanannya, ia mengenakan jubah yang tambalannya tidak kurang dari 21 buah, tangan kirinya memegang tinta, tangan kananya memegang kertas dan pena. Diketuknya pintu-pintu rumah warganya dan dimintanya kepada para istri yang suaminya sedang berada digaris depan medan perang atau berada diperbatasan negeri agar mereka duduk dibalik pintu dan mendiktekan kepadanya isi surat dan pesan kepada suami-suami mereka karena petugas pos sudah siap berangkat.. 

Umar juga mengetuk pintu-pintu mereka seraya berkata,” Sebutlah kebutuhan-kebutuhan anda, siapa yang akan membeli sesuatu ke pasar katakan kepadaku atau kirimkanlah pembantu dan saya akan pergi ke pasar bersamanya, sebab saya khawatir mereka tertipu sewaktu berbelanja”. Kemudian beliau pergi ke pasar dengan serombongan pembatu, setibanya di pasar beliau sendiri yang berbelanja dan membeli semua kebutuhan yang sudah dipesan kemudian memasukkannya kedalam keranjang dengan tangannya sendiri.

 Atau ketika seorang wanita tua mengadukan keluh kesahnya saat Umar sedang ‘blusukan’ dan wanita tua itu tak tahu bahwa dihadapannya itu Umar, dan Umar pun menangis hingga membeli kezaliman Umar dari wanita tua itu. Wanita tua itupun kaget, ternyata pria di hadapannya adalah Umar.

Dan kini, lihatlah ikhtiar Tri Rismaharini mengunjungi satu per satu orang miskin di kampung-kampung kota. Memasuki lorong-lorong kota, walau wartawan yang menyertainya tak seramai gemerlah Ibu Kota. Di carinya anak-anak miskin agar bisa sekolah, hingga Sarjana, Master, bahkan hingga Doktor, dari pendidikan cahaya itu mewarnai peradaban. Walau tak sanggup memanggul beras sendiri, tapi di mobil innovanya yang sederhana, beras itu siap tersedia, Dinas sosial kini penuh menampung warga yang kesulitan.

 Dan lihatlah, ketika dalam tayangan Mata Najwa, ia datangi satu per satu warga. Dengan lembut, ia undangan para ‘penggiat’ pelacuran di Surabaya. Ia berbincang lama dengan para korban dan pelaku prostitusi. Ia curahkan emosi keibuan dalam dirinya, hingga air mata itu membuncah di hadapan para penonton. Ia mulai masuk ke sekat ketiga, yaitu kota sebagai awal peradaban, seperti kata Wirth, The City as Symbol Civilization.

 Peradaban macam apa yang ingin dibangun, ketika seorang wanita berusia 60 tahun, masih melayani anak SD dalam kegiatan prostitusinya? Jawaban yang membuat lidah ini begitu kelu, hati meringis, hingga air mata meleleh.  Wanita ini dapat menemukan persoalan yang tersembunyi ihwal kemanusiaan. Membuat mata ini selalu berkaca. Ini yang membuat Wirth geleng-geleng kepala, “Padahal kota adalah simbol peradaban” katanya dalam bukunya.

 Bu Risma, menyentuh sekat ini, yaitu nurani manusia itu sendiri sepeti ungkapan Arnold Toynbee, pakar sejarah itu bilang,” yang mengisi peradaban adalah orang-orang yang ada di dalamnya”

 Pakar-pakar pemikiran dan peradaban seperti Thomas F Wall, Ninian S, hingga Prof. Al Attas semua sepakat, bahwa membangun peradaban mulai dari orang yang beradab, orang-orang baik.

Karenanya, air mata itu kian tumpah. Ia siap mati, demi membangun sebuah peradaban yang baik, karena Bu Risma sadar, bahwa ruang-ruang nurani manusia yang ia tembus. Dan membuat saya baru sadar, mengapa dalam ada mata kuliah Urban Design, bukannya City Design. Karena, yang dirancang tak hanya fisik, tetapi juga manusianya.

 Dan memang, Bu Risma tak salah memilih idolanya. Bagaiman Umar Ibn Al Khattab berabad silam saat sidak mengunjungi wilayahnya di Syam, berjumpa dengan pengumpul kas negara, dan mendata fakir miskin, seketika raut muka Umar berubah. “Fulan, fulan, fulan, dan Said Ibn Amir.” Umar bertanya, “Said Ibn Amir?” dan disambut jawaban,”Benar, Gubernur kami.” Air mata Umar pun bercucuran.

 Bagaimana mungkin seorang pejabat korupsi, jika seluruh gajinya ia berikan pada rakyat yang tak mampu, bahkan dirinya termasuk orang yang fakir. Diberikannya uang sekantung oleh Umar, dan dengan gemetar Said tak bisa tidur. Ia sedekahkan seluruh hartanya, hingga ia bisa tidur nyenyak. Warga pun sangat mencintai pemimpinnya, sekat inilah yang yang jarang tersentuh, ruang-ruang kemanusiaan.

Lihatlah bagaimana Umar mengunjungi salah seorang Pemimpin  di Syam, Abu Ubaidah Al Jarrah, yang membuat Umar menangis. Rumahnya kosong melompong, hanya ada tempat minum dan piring kusut.  Bagaimana ketika Umar meminta Gubernur Umair Ibn Saad, Gubernur yang datang berjalan kaki karena tak ada kendaraan dinas, dan membuat Umar menangis karena kebijakannya mensejahterakan rakyatnya. Umair meminta berhenti, dan setelah turun, hartanya ternyata tak ada.. 

Bagaimana Umar mengutus seorang Gubernur di Madain, seorang Salman Al Farisi. Seorang yang menghabiskan gajinya untuk rakyat. Gubernur yng diminta menjadi ‘kuli’ di Pasar. Yang rumahnya ketika berdiri, kepalanya membentur langit-langitnya, dan ketika tidur kaki dan kepalanya membentur dinding anyaman bambu. Yang duduk di pinggiran sambil menganyam bambu, guna kebutuhannya. 30 dirham hasilnya, 10 dirham sedekah, 10 dirham kebutuhannya, 10 dirham sebagai modal kembali.

 Sisi-sisi manusia dalam sejarah yang membentuk sebuah mimpi besar. Orang-orang yang mengisi ruang-ruang kota, hingga kota itu menjadi hidup. Peradaban itu, kata Dr. Hamid Fahmy, laiknya pohon yang akarnya kuat menghujam (tauhid), ia tinggi dan berbuah bermanfaat bagi manusia (QS: Ibahim:14). Itulah peradaban yang dibangun Umar dan orang-orang yang bersamanya. Walau akhirnya, Umar pun syahid, tak semua orang suka dengan narasi besarnya ia siap mati dengan idealismenya.

 “Saya sudah ikhlas kalau itu terjadi pada saya. Semua hanya titipan, tinggal Tuhan kapan ambilnya. Itu rahasia Ilahi” kata Bu Risma, dan beliau  memang tak salah memilih idola. Kini, mungkin ikhtiar  rakyatnya, manusia dalam Ibu Kota itu dapat meminta pemimpinnya agar tetap melanjutkan kerja besarnya, niat tulus berusaha meneladani Pemimpin Sederhana berbaju tambal sulam itu. Ataupun doa yang terselip, sekuat keyakinan Bu Risma akan TuhanNya.

Bagaimana Menulis Feature

“Menulis, ialah sebuah proses,” kata senior-senior wartawan yang terkadang curhat. Ada yang sudah puluhan tahun jadi wartawan, hingga redaktur, akhirnya “minggat” jadi penulis. Ya, penulis di sini, bukan bermakna orang yang suka menulis, karena saat jadi wartawan, dia juga menulis. “penulis” maksudnya, orang yang bikin buku. Tak jarang, orang-orang yang tadinya wartawan, malah membuat novel atau cerpen. Lebih tak jarang lagi, yang menjadi Budayawan, atau sutradara, atau juga pembuat naskah, dsb.

Bisa dibilang, proses selaman menjadi wartawan, ialah proses “penggblengan” untuk menulis. Lalu, menulis apa? Ini sudah menjad rahasia umum, bahwa ‘biasanya’ wartawan yang menulis berita (news). Lalu, bagaimana caranya menulis berita? Nah ini, makanan sehari-hari para wartawan, yang pada akhirnya ‘minggat’ menjadi penulis. Namun, ada seorang wartawan -sangat- senior, yang kini telah tiada, (alm) Budiman S Hartoyo, yang sampai masa senjanya, tetap melakoni profesi sebagai wartawan. Dengan bejibun pengalaman dan juga ribuan bahkna jutaan huruf yang udah mejeng di pelbagai media, ada baiknya kita simak paparan beliau, tentang menulis. Ya, menulis berita : straight news and soft news (feature). Kali ini, kita simak dulu, paparan beliau bagaimana menulis feature.Kuliah umum di depan para mahasiswa semester VII Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan Komunikasi Universitas Nasional, 18 November 2008.

Ada beberapa jenis berita. Yang paling pendek disebut straight news, yaitu berita singkat padat yang langsung mengabarkan inti berita, tapi tetap mengandung unsur 5-W 1-H [who (siapa), what (apa), when (kapan), where (di mana), why (mengapa), how (bagaimana)]. Jika berita tersebut sangat penting untuk segera diketahui oleh publik disebut stop press, sedangkan jika ditayangkan di layar televisi atau melalui corong radio disebut breaking news – karena disiarkan sebagai selingan mendadak di sela-sela acara yang sedang berlangsung.

Misalnya, sekedar contoh, Mantan Presiden Soeharto telah wafat pada hari ini, 27 Januari 2008 jam 11:00 WIB di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dalam usia 87 tahun, setelah dirawat selama beberapa hari karena sakit usia tua. Jenasahnya kini disemayamkan di rumah duka Jalan Cendana, Menteng, Jakarta Pusat, dan segera akan diterbangkan ke Solo untuk dikebumikan di makam keluarga Astana Giri Bangun, Karanganyar, Jawa Tengah (disiarkan pada tanggal 27 Januari 2008 jam 11:05).

Selain harus mengandung unsur 5-W 1-H, penyusunan struktur sebuah berita lazim mengikuti apa yang disebut metode “piramida terbalik.” Maksudnya, yang pertama-tama ditulis ialah inti berita yang penting, kemudian data yang agak penting, lalu yang setengah penting dan akhirnya data pelengkap yang kurang penting. Walaupun singkat padat, susunan straight news tetap harus mengikuti metode “piramida terbalik.” Pada contoh di muka, yang paling penting ialah wafatnya mantan Presiden Soeharto, sedangkan makam keluarga Astana Giri Bangun merupakan data pelengkap.

Meskipun pada contoh stop press tersebut, wafatnya mantan Presiden Soeharto dianggap sebagai fakta yang penting — oleh karena itu ditulis di awal berita –, unsur paling penting dari sebuah news (berita) ialah when (kapan). Mendengar berita tentang wafatnya Pak Harto, orang biasanya kontan akan bertanya, “Kapan?” Dengan demikian, contoh berita tersebut bisa ditulis sebagai berikut: Hari ini, 27 Januari 2008 jam 11:00 WIB, mantan Presiden Soeharto telah wafat di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dalam usia 87 tahun, setelah dirawat selama beberapa hari karena sakit usia tua. Dan seterusnya.

Unsur when menjadi sangat penting, sebab tanpa unsur yang menyebutkan waktu, sebuah peristiwa atau kejadian tidak dapat disebut sebagai berita. Bahkan, berita mengenai apapun wajib mempunyai “cantolan” atau “gantungan”, mengapa atau atas dasar apa sebuah peristiwa atau kejadian ditulis menjadi berita. Yang dimaksud dengan “cantolan” atau “gantungan” itu lazim disebut sebagai news peg. Tidaklah mungkin kita ujug-ujug menulis berita atau artikel mengenai pemerintahan yang represif atau mengenai mega korupsi, misalnya, tanpa news peg berupa wafatnya Pak Harto.
Selain karena adanya news peg, sebuah kasus menjadi penting diberitakan karena memang layak ditulis sebagai berita. Kelayakan itu berkaitan dengan magnitude (bobot) beritanya yang cukup besar. Bobot berita wafatnya Pak Harto sangat besar, dibanding bobot meninggalnya camat Pondokgede, misalnya. Bobot berita korupsi Tommy Soeharto yang milyaran sangat besar dibanding korupsi yang dilakukan seorang guru SMP Negeri di Kecamatan Bekonang, Sukoharjo, Jawa Tengah, yang hanya sekitar lima jutaan rupiah. Tommy bukan saja anak mantan presiden, kasus korupsinya juga sangat besar, sementara pak guru SMP selain tidak terkenal, bukan public figure, ia melakukan korupsi karena terpaksa, gara-gara gajinya tidak mencukupi.

Wafatnya Pak Harto dan kasus korupsi Tommy Soeharto sangat layak diberitakan, karena selain mereka adalah public figure, kasusnya menyangkut hajat hidup orang banyak, sehingga bernilai “sangat penting”. Sebuah kasus perlu juga diberitakan, antara lain karena kejadiannya aneh, langka, atau unik. Dalam hal ini berlakulah kredo sejarawan Inggris, Charles A. Dana, yang pada 1882 mengatakan, When a dog bites a man, that is not a news. But when a man bites a dog, that is a news (Jika anjing menggigit orang, itu bukan berita. Tapi jika orang menggigit anjing, barulah itu berita). Maksudnya tentu saja bukanlah semata-mata faktor “menggigit”, melainkan faktor unicum, keunikan atau keistimewaan dalam suatu berita. Contoh, kasus Sumanto yang makan daging mayat, seorang ayah yang membantai isteri dan anak-anaknya, seorang legislator yang selingkuh dengan selebriti, dan sebagainya.

Ada kriteria lain mengapa sebuah kasus diberitakan. Sesuai dengan keinginan tahu (curiousity) seseorang, pers biasanya memberitakan kejadian buruk ketimbang peristiwa yang baik-baik. Rumah tangga artis yang sakinah dan mawaddah (bahagia penuh kasih sayang) dianggap biasa-biasa saja, sedangkan konflik dalam rumah tangga seorang artis terkenal sehingga mereka bercerai, atau bangkrutnya seorang pengusaha terkenal, biasanya dianggap lebih menarik untuk diberitakan. Nah, berita buruk seperti itu biasnya dianggap lebih menarik, sehingga berlakulah teori – yang sesungguhnya tidak selalu tepat: a bad news is a good news (berita buruk adalah berita baik). Pengertian good news di sini bukan berarti “berita baik” melainkan berita yang (biasanya) diminati oleh kebanyakan publik. Padahal, rumah tangga bahagia seorang artis, atau sukses bisnis seorang tokoh, bisa ditulis sebagai success story, kisah sukses seseorang, yang jika ditulis dengan baik juga menarik untuk dibaca.

Kelayakan sebuah berita juga ditentukan oleh akurasi datanya. Tingkat akurasi (ketelitian, kecermatan, kebenaran data) menentukan tingkat profesionalitas. Seorang wartawan yang menulis berita tidak akurat, bisa dinilai tidak profesional. Bahkan seorang wartawan yang tidak tepat dalam penggunaan bahasa Indonesia, juga bisa dinilai tidak profesional. Selain itu, berita yang baik haruslah berimbang, tidak berat sebelah. Dua pendapat yang saling bertentangan, dua-duanya harus dimuat secara adil. Istilah mengenai asas ini disebut cover bothside atau bothside coverage.

Kembali pada straight news. Sebagai follow up lebih lanjut dari straight news tersebut, para wartawan menulis berita yang lebih panjang, karena straight news tentulah belum lengkap, dan hanya merupakan dasar dari sebuah berita yang lebih panjang dan lengkap. Beberapa data yang lazim dianggap sebagai pelengkap, misalnya, jenis penyakit Pak Harto (dengan mewawancarai para dokter kepresidenan), siapa saja yang melayat di rumah sakit dan acara tahlil di rumah duka (dengan melakukan reportase), bagaimana rencana pemberangkatan jenazah dan upacara pemakaman (dengan mewawancarai keluarga Cendana dan reportase di Astana Giri Bangun), dan sebagainya.

Wafatnya Pak Harto jelas merupakan berita sangat penting, berita besar, big news. Oleh karena itu para redaktur cepat-cepat memberikan assignment (penugasan) kepada para reporter untuk menulis berita yang lebih lengkap. Bahkan beberapa artikel yang berkaitan dengan Pak Harto, dan perannya selama menjadi presiden (lengkap dengan foto dokumentasi yang diperlukan) sudah dipersiapkan, begitu Pak Harto dirawat karena sakit keras. Misalnya, pemerintahan Pak Harto yang represif, kasus korupsi bersama kroni-kroninya, dan sebagainya. Begitu Pak Harto wafat, artikel seperti itu sudah pressklaar, siap cetak.

***

Ada jenis berita lain yang disebut feature atau news feature, yaitu tulisan panjang, lengkap, komprehensif, berimbang, dengan kasus yang magnitude-nya cukup besar, tapi lebih mementingkan unsur why dan how. Yaitu “mengapa” atau sebab musabab sampai peristiwa itu terjadi, dan “bagaimana” proses terjadinya peristiwa tersebut. Selain itu, sebuah feature hendaknya ditulis dengan gaya bertutur, deskriptif, sedemikian rupa sehingga susunan kata dan kalimatnya mampu menggambarkan atau melukiskan suatu profil atau peristiwa tertentu. Oleh karena itu, feature sesungguhnya sebuah “cerita”, tapi bukan cerita mengenai fiksi melainkan mengenai fakta. A feature is a story about facts, not about fiction (feature ialah cerita tentang fakta, bukan tentang fiksi). Sedangkan karya tulis tentang fiksi disebut novel, cerita pendek.

Sampai di sini kita diingatkan pada sebuah asas atau dalil klasik dalam dunia jurnalisme, yaitu mengenai fakta dan opini. Menurut dalil klasik tersebut, sebuah berita harus hanya memuat fakta tanpa mengikut sertakan opini, hanya memuat peristiwa-peristiwa yang terjadi dengan sesungguhnya (facts), tanpa pendapat, komentar, ulasan atau tafsir (opinion) si wartawan. Dengan demikian diharapkan berita itu dapat tampil secara obyektif, seperti apa adanya, tanpa bumbu-bumbu lain, meskipun ditulis dengan deskripsi (penggambaran) yang persis setepat-tepatnya..

Setelah memahami sedikit banyak tentang beberapa persyaratan berita yang harus kita ketahui,  maka sampailah kita pada pertanyaan, “bagaimana menulis feature (yang baik)?” Sebelum menulis, pertama-tama pilihlah kasus yang (sangat) menarik, yang menyangkut kepentingan banyak orang (publik), yang prestisius untuk ditulis. Seorang wartawan atau penulis yang baik dan berpengalaman biasanya memiliki nose of news (daya cium, daya endus berita), yang akan selalu bisa terasah jika ia memiliki ”jam terbang” cukup tinggi. Tapi, nose of news selalu bisa dilatih. Setelah menemukan obyek, kasus atau item tulisan, pikirkanlah apa kira-kira angle-nya. Yang dimaksud dengan angle ialah ”sudut pandang”, apa kira-kira masalah yang sangat penting dan relevan dari kasus tersebut. Untuk menentukan angle biasanya cukup sulit, sehingga diperlukan pemikiran, perenungan, bahkan diskusi dengan kawan-kawan.

Sekedar contoh kasus, misalnya, TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Sampah Bantargebang, Bekasi, yang sampahnya sempat menggunung lalu roboh dan menewaskan pemulung. Yang juga menarik, misalnya, banjir yang setiap tahun menggenangi Jakarta, yang disebabkan oleh penataan kota yang tidak disiplin, peruntukan lahan yang ngawur. Atau tentang Tanahabang Bongkaran, Jakarta Pusat, sebagai miniatur Indonesia. Di sana ada preman, pedagang kecil, pegawai negeri, pelacur. Pokoknya berbagai profesi dan etnis yang berbaur dalam kawasan kumuh sejak puluhan tahun. Kasus lain, Soetan Takdir Alisjahbana (STA) sebagai pendidik dan ”pemimpi” yang mengidam-idamkan pendidikan bermutu, sebagai pelopor dan pembina Bahasa Indonesia yang tak kenal lelah.

Setelah cukup mantap dengan salah satu kasus tersebut, carilah kaitannya dengan news peg. Yang dimaksud dengan news peg ialah ”gantungan cerita”, mengapa kita menulis feature mengenai sesuatu yang kita yakini sangat menarik minat pembaca. Mengapa menulis tentang banjir yang menenggelamkan Jakarta? Karena ada news peg musim hujan di bulan Desember. Kita menerbitkannya di awal bulan Desember, sesuai dengan news peg-nya, tapi pengerjaannya bisa dilakukan sejak dua atau tiga bulan sebelumnya. Mengapa kita menulis mengenai STA? Karena akan kita terbitkan pas pada hari ulang tahun STA, atau HUT Universitas Nasional, atau HUT terbitnya majalah Poedjangga Baroe. Dan seterusnya.

Setelah kita menemukan news peg, telitilah apakah kasus yang akan kita tulis tersebut memenuhi kriteria sebagai item yang sangat terkait dengan kepentingan publik dan magnitude-nya besar. Contoh-contoh yang kita paparkan di muka cukup memenuhi kriteria. Setelah itu, susunlah outline (kerangka tulisan), meliputi lead, body text, ending. Seorang penulis yang baik selalu membiasakan diri terlebih dahulu menyusun outline. Di kalangan para wartawan TEMPO di tahun 1980 dulu, dikenal semacam credo: “Mau selamat? Bikinlah outline!” Tapi ingat, cara menyusun outline tidak gampang. Diperlukan latihan tersendiri.

Kemudian (inilah tugas yang cukup berat) kuasailah segenap bahan dengan selengkap dan seakurat mungkin. Lakukan reportase yang mendalam (indeph reporting), wawancara beberapa narasumber yang relevan, riset berbagai bahan, check and recheck. Lakukan pula verifikasi dengan mempertimbangkan bothside coverage. Lakukan semua itu dengan sepenuh semangat dan gairah, tanpa lelah, tanpa bosan, karena proses pengumpulan bahan itu mungkin akan berlangsung sampai berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Namun, ketika kita tengah “berbelanja” bahan-bahan di lapangan, bisa jadi outline akan berubah. Dalam hal ini, yang sangat penting harus dilakukan ialah indeph reporting (reportase mendalam), ialah reportase dan wawancara dari berbagai aspek, sehingga mampu menggambarkan kasus, masalah, atau sosok yang akan kita tulis.

Langkah berikut ini lebih sulit lagi, yaitu langkah menulis — yang harus setia dengan outline, meskipun ada kemungkinan outline bisa berubah di tengah jalan. Mula-mula, tulislah lead yang bagus. Lead adalah kalimat pertama sebagai pembuka, yang harus menarik (baik bahasa maupun materinya) agar supaya pembaca tertarik untuk terus membaca. Dan itulah fungsi lead yang sebenarnya. Selanjutnya melangkah ke body text, yang hendaknya ditulis dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar (tapi populer), deskriptif (bertutur, berkisah), dengan alur cerita yang setia pada outline, dan tetap selalu memperhatikan ”gerak pendulum” sehingga tulisan tetap terfokus pada angle.

Pendulum ialah bandul yang menggantung pada seutas tali. Pendulum selalu bergerak dari arah kiri ke arah kanan, berganti-ganti, dan pasti selalu melewati bagian tengah yang searah dengan lurusnya tali tempat pendulum bergantung. Itulah yang dimaksud dengan “gerak pendulum.” Artinya, biarpun sang pendulum bergerak ke kanan atau ke kiri, pasti selalu kembali ke tengah, searah dengan tali gantungan pendulum. Pendulum melambangkan perkembangan cerita yang ditulis dalam sebuah feature, sedangkan tali penggantung melambangkan angle.

Jika seluruh bahan cerita sudah ditulis dalam body text, tibalah saatnya kita menulis ending, akhir dari sebuah tulisan. Ending bisa berupa kesimpulan, bisa pula suatu kejadian lucu (atau tragis dramatis), yang setidak-tidaknya bisa dianggap sebagai suatu kesimpulan. Atau bisa pula berupa persoalan atau pertanyaan yang mengambang, yang tidak perlu dijawab. Sebagaimana lead ada yang menarik dan tidak, ending juga ada yang menarik dan tidak. Tentu saja kita harus memilih yang menarik. Untuk menulis lead dan ending yang menarik, memang dibutuhkan latihan dan “jam terbang” sebagai penulis yang cukup lama.

Bagaimana feature yang bagus? Sebuah feature yang bagus ialah yang lengkap, komprehensif, akurat, dengan verifikasi yang memadai. Lebih hebat lagi jika feature tersebut merupakan hasil reportase investigasi (investigative reporting), sebuah tulisan yang exclusive (sangat khas, lain dari yang lain) dan ditulis dengan gaya literary journalism, jurnalisme literair. Apakah itu investigative reporting, karya jurnalisme yang exclusive, dan gaya literary journalism? Ketiga-tiganya – sebagai tingkat lebih lanjut dari penulisan feature — merupakan pembahasan dalam sebuah diskusi tersendiri.

 

Kembali Menyapa

Sudah lama memang, kira-kira beberapa bulan lalu begitu menikmati, senja diperaduan. Menikmati desir angin yang menyeret daun jendela ke sudut sana. Menikmati daun-daun yang terbelai lembut, menari – terhempas – kesana kemari, merdu. Ditemani tumpukan buku, membaca, meresap, sejenak.

Jingga itu kini merekah kembali. Buku-buku itu, tak lagi berdebu. Lembaran itu terisi kembali. Bukan! Bukan lembaran itu, tapi lembaran ini. Lembaran yang senyap, selama 6 purnama, atau lebih, dan kurang aku tak terlalu tau. Padahal banyak yang menanti, menanti untuk kembali mengisi lembar ini. Namun, lembar kehidupan begitu Indah, begitu memesona, begitu memukau.

Tak sempat lagi, mengisi lembar ini. Baru sekarang lagi, “dunia maya” begitu sedikit menggoda. Karena pernah bertekad untuk terus menulis. Tapi, tak pernah janji untuk di lembar ini. Masih banyak, banyak sekali di luar sana, berjuta lembar yang harus diisi. Mengisi setiap lembar, dalam pelbagai macam buku memang menarik.

Sempat, ingin kembali ke sini. Ke hadapan kalian, kembali berbagi cerita. Cerita tiap senja, tiap jingga menyapa. Mulai dari semburat yang melaju dari timur. Hingga mentari terlelap dalam pertapaanya. Begitu banyak lembaran, tapi lupa lembaran awal. Begitu sudah kesana, kemari, hingga kembali ke sini. Seperti mengawali kembali. Masa silam yang begitu Indah.

Kembali mengingat episode – fragmen – menikmati senja. Menikmati angin, dan cahaya yang membelai lembut. Dalam goyangan kursi, dan alunan merdu, besi-besi yang saling bergesek. Menikmati kembali, mengeja kata, mengisi kembali salah satu lembaran awal. Kumpulan ide, gagasan, pemikiran, dan juga “curhatan.” Semoga bisa terus kembali ke sini, tak “lupa” , dan istiqamah.