Bagaimana Menulis Feature

“Menulis, ialah sebuah proses,” kata senior-senior wartawan yang terkadang curhat. Ada yang sudah puluhan tahun jadi wartawan, hingga redaktur, akhirnya “minggat” jadi penulis. Ya, penulis di sini, bukan bermakna orang yang suka menulis, karena saat jadi wartawan, dia juga menulis. “penulis” maksudnya, orang yang bikin buku. Tak jarang, orang-orang yang tadinya wartawan, malah membuat novel atau cerpen. Lebih tak jarang lagi, yang menjadi Budayawan, atau sutradara, atau juga pembuat naskah, dsb.

Bisa dibilang, proses selaman menjadi wartawan, ialah proses “penggblengan” untuk menulis. Lalu, menulis apa? Ini sudah menjad rahasia umum, bahwa ‘biasanya’ wartawan yang menulis berita (news). Lalu, bagaimana caranya menulis berita? Nah ini, makanan sehari-hari para wartawan, yang pada akhirnya ‘minggat’ menjadi penulis. Namun, ada seorang wartawan -sangat- senior, yang kini telah tiada, (alm) Budiman S Hartoyo, yang sampai masa senjanya, tetap melakoni profesi sebagai wartawan. Dengan bejibun pengalaman dan juga ribuan bahkna jutaan huruf yang udah mejeng di pelbagai media, ada baiknya kita simak paparan beliau, tentang menulis. Ya, menulis berita : straight news and soft news (feature). Kali ini, kita simak dulu, paparan beliau bagaimana menulis feature.Kuliah umum di depan para mahasiswa semester VII Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan Komunikasi Universitas Nasional, 18 November 2008.

Ada beberapa jenis berita. Yang paling pendek disebut straight news, yaitu berita singkat padat yang langsung mengabarkan inti berita, tapi tetap mengandung unsur 5-W 1-H [who (siapa), what (apa), when (kapan), where (di mana), why (mengapa), how (bagaimana)]. Jika berita tersebut sangat penting untuk segera diketahui oleh publik disebut stop press, sedangkan jika ditayangkan di layar televisi atau melalui corong radio disebut breaking news – karena disiarkan sebagai selingan mendadak di sela-sela acara yang sedang berlangsung.

Misalnya, sekedar contoh, Mantan Presiden Soeharto telah wafat pada hari ini, 27 Januari 2008 jam 11:00 WIB di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dalam usia 87 tahun, setelah dirawat selama beberapa hari karena sakit usia tua. Jenasahnya kini disemayamkan di rumah duka Jalan Cendana, Menteng, Jakarta Pusat, dan segera akan diterbangkan ke Solo untuk dikebumikan di makam keluarga Astana Giri Bangun, Karanganyar, Jawa Tengah (disiarkan pada tanggal 27 Januari 2008 jam 11:05).

Selain harus mengandung unsur 5-W 1-H, penyusunan struktur sebuah berita lazim mengikuti apa yang disebut metode “piramida terbalik.” Maksudnya, yang pertama-tama ditulis ialah inti berita yang penting, kemudian data yang agak penting, lalu yang setengah penting dan akhirnya data pelengkap yang kurang penting. Walaupun singkat padat, susunan straight news tetap harus mengikuti metode “piramida terbalik.” Pada contoh di muka, yang paling penting ialah wafatnya mantan Presiden Soeharto, sedangkan makam keluarga Astana Giri Bangun merupakan data pelengkap.

Meskipun pada contoh stop press tersebut, wafatnya mantan Presiden Soeharto dianggap sebagai fakta yang penting — oleh karena itu ditulis di awal berita –, unsur paling penting dari sebuah news (berita) ialah when (kapan). Mendengar berita tentang wafatnya Pak Harto, orang biasanya kontan akan bertanya, “Kapan?” Dengan demikian, contoh berita tersebut bisa ditulis sebagai berikut: Hari ini, 27 Januari 2008 jam 11:00 WIB, mantan Presiden Soeharto telah wafat di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dalam usia 87 tahun, setelah dirawat selama beberapa hari karena sakit usia tua. Dan seterusnya.

Unsur when menjadi sangat penting, sebab tanpa unsur yang menyebutkan waktu, sebuah peristiwa atau kejadian tidak dapat disebut sebagai berita. Bahkan, berita mengenai apapun wajib mempunyai “cantolan” atau “gantungan”, mengapa atau atas dasar apa sebuah peristiwa atau kejadian ditulis menjadi berita. Yang dimaksud dengan “cantolan” atau “gantungan” itu lazim disebut sebagai news peg. Tidaklah mungkin kita ujug-ujug menulis berita atau artikel mengenai pemerintahan yang represif atau mengenai mega korupsi, misalnya, tanpa news peg berupa wafatnya Pak Harto.
Selain karena adanya news peg, sebuah kasus menjadi penting diberitakan karena memang layak ditulis sebagai berita. Kelayakan itu berkaitan dengan magnitude (bobot) beritanya yang cukup besar. Bobot berita wafatnya Pak Harto sangat besar, dibanding bobot meninggalnya camat Pondokgede, misalnya. Bobot berita korupsi Tommy Soeharto yang milyaran sangat besar dibanding korupsi yang dilakukan seorang guru SMP Negeri di Kecamatan Bekonang, Sukoharjo, Jawa Tengah, yang hanya sekitar lima jutaan rupiah. Tommy bukan saja anak mantan presiden, kasus korupsinya juga sangat besar, sementara pak guru SMP selain tidak terkenal, bukan public figure, ia melakukan korupsi karena terpaksa, gara-gara gajinya tidak mencukupi.

Wafatnya Pak Harto dan kasus korupsi Tommy Soeharto sangat layak diberitakan, karena selain mereka adalah public figure, kasusnya menyangkut hajat hidup orang banyak, sehingga bernilai “sangat penting”. Sebuah kasus perlu juga diberitakan, antara lain karena kejadiannya aneh, langka, atau unik. Dalam hal ini berlakulah kredo sejarawan Inggris, Charles A. Dana, yang pada 1882 mengatakan, When a dog bites a man, that is not a news. But when a man bites a dog, that is a news (Jika anjing menggigit orang, itu bukan berita. Tapi jika orang menggigit anjing, barulah itu berita). Maksudnya tentu saja bukanlah semata-mata faktor “menggigit”, melainkan faktor unicum, keunikan atau keistimewaan dalam suatu berita. Contoh, kasus Sumanto yang makan daging mayat, seorang ayah yang membantai isteri dan anak-anaknya, seorang legislator yang selingkuh dengan selebriti, dan sebagainya.

Ada kriteria lain mengapa sebuah kasus diberitakan. Sesuai dengan keinginan tahu (curiousity) seseorang, pers biasanya memberitakan kejadian buruk ketimbang peristiwa yang baik-baik. Rumah tangga artis yang sakinah dan mawaddah (bahagia penuh kasih sayang) dianggap biasa-biasa saja, sedangkan konflik dalam rumah tangga seorang artis terkenal sehingga mereka bercerai, atau bangkrutnya seorang pengusaha terkenal, biasanya dianggap lebih menarik untuk diberitakan. Nah, berita buruk seperti itu biasnya dianggap lebih menarik, sehingga berlakulah teori – yang sesungguhnya tidak selalu tepat: a bad news is a good news (berita buruk adalah berita baik). Pengertian good news di sini bukan berarti “berita baik” melainkan berita yang (biasanya) diminati oleh kebanyakan publik. Padahal, rumah tangga bahagia seorang artis, atau sukses bisnis seorang tokoh, bisa ditulis sebagai success story, kisah sukses seseorang, yang jika ditulis dengan baik juga menarik untuk dibaca.

Kelayakan sebuah berita juga ditentukan oleh akurasi datanya. Tingkat akurasi (ketelitian, kecermatan, kebenaran data) menentukan tingkat profesionalitas. Seorang wartawan yang menulis berita tidak akurat, bisa dinilai tidak profesional. Bahkan seorang wartawan yang tidak tepat dalam penggunaan bahasa Indonesia, juga bisa dinilai tidak profesional. Selain itu, berita yang baik haruslah berimbang, tidak berat sebelah. Dua pendapat yang saling bertentangan, dua-duanya harus dimuat secara adil. Istilah mengenai asas ini disebut cover bothside atau bothside coverage.

Kembali pada straight news. Sebagai follow up lebih lanjut dari straight news tersebut, para wartawan menulis berita yang lebih panjang, karena straight news tentulah belum lengkap, dan hanya merupakan dasar dari sebuah berita yang lebih panjang dan lengkap. Beberapa data yang lazim dianggap sebagai pelengkap, misalnya, jenis penyakit Pak Harto (dengan mewawancarai para dokter kepresidenan), siapa saja yang melayat di rumah sakit dan acara tahlil di rumah duka (dengan melakukan reportase), bagaimana rencana pemberangkatan jenazah dan upacara pemakaman (dengan mewawancarai keluarga Cendana dan reportase di Astana Giri Bangun), dan sebagainya.

Wafatnya Pak Harto jelas merupakan berita sangat penting, berita besar, big news. Oleh karena itu para redaktur cepat-cepat memberikan assignment (penugasan) kepada para reporter untuk menulis berita yang lebih lengkap. Bahkan beberapa artikel yang berkaitan dengan Pak Harto, dan perannya selama menjadi presiden (lengkap dengan foto dokumentasi yang diperlukan) sudah dipersiapkan, begitu Pak Harto dirawat karena sakit keras. Misalnya, pemerintahan Pak Harto yang represif, kasus korupsi bersama kroni-kroninya, dan sebagainya. Begitu Pak Harto wafat, artikel seperti itu sudah pressklaar, siap cetak.

***

Ada jenis berita lain yang disebut feature atau news feature, yaitu tulisan panjang, lengkap, komprehensif, berimbang, dengan kasus yang magnitude-nya cukup besar, tapi lebih mementingkan unsur why dan how. Yaitu “mengapa” atau sebab musabab sampai peristiwa itu terjadi, dan “bagaimana” proses terjadinya peristiwa tersebut. Selain itu, sebuah feature hendaknya ditulis dengan gaya bertutur, deskriptif, sedemikian rupa sehingga susunan kata dan kalimatnya mampu menggambarkan atau melukiskan suatu profil atau peristiwa tertentu. Oleh karena itu, feature sesungguhnya sebuah “cerita”, tapi bukan cerita mengenai fiksi melainkan mengenai fakta. A feature is a story about facts, not about fiction (feature ialah cerita tentang fakta, bukan tentang fiksi). Sedangkan karya tulis tentang fiksi disebut novel, cerita pendek.

Sampai di sini kita diingatkan pada sebuah asas atau dalil klasik dalam dunia jurnalisme, yaitu mengenai fakta dan opini. Menurut dalil klasik tersebut, sebuah berita harus hanya memuat fakta tanpa mengikut sertakan opini, hanya memuat peristiwa-peristiwa yang terjadi dengan sesungguhnya (facts), tanpa pendapat, komentar, ulasan atau tafsir (opinion) si wartawan. Dengan demikian diharapkan berita itu dapat tampil secara obyektif, seperti apa adanya, tanpa bumbu-bumbu lain, meskipun ditulis dengan deskripsi (penggambaran) yang persis setepat-tepatnya..

Setelah memahami sedikit banyak tentang beberapa persyaratan berita yang harus kita ketahui,  maka sampailah kita pada pertanyaan, “bagaimana menulis feature (yang baik)?” Sebelum menulis, pertama-tama pilihlah kasus yang (sangat) menarik, yang menyangkut kepentingan banyak orang (publik), yang prestisius untuk ditulis. Seorang wartawan atau penulis yang baik dan berpengalaman biasanya memiliki nose of news (daya cium, daya endus berita), yang akan selalu bisa terasah jika ia memiliki ”jam terbang” cukup tinggi. Tapi, nose of news selalu bisa dilatih. Setelah menemukan obyek, kasus atau item tulisan, pikirkanlah apa kira-kira angle-nya. Yang dimaksud dengan angle ialah ”sudut pandang”, apa kira-kira masalah yang sangat penting dan relevan dari kasus tersebut. Untuk menentukan angle biasanya cukup sulit, sehingga diperlukan pemikiran, perenungan, bahkan diskusi dengan kawan-kawan.

Sekedar contoh kasus, misalnya, TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Sampah Bantargebang, Bekasi, yang sampahnya sempat menggunung lalu roboh dan menewaskan pemulung. Yang juga menarik, misalnya, banjir yang setiap tahun menggenangi Jakarta, yang disebabkan oleh penataan kota yang tidak disiplin, peruntukan lahan yang ngawur. Atau tentang Tanahabang Bongkaran, Jakarta Pusat, sebagai miniatur Indonesia. Di sana ada preman, pedagang kecil, pegawai negeri, pelacur. Pokoknya berbagai profesi dan etnis yang berbaur dalam kawasan kumuh sejak puluhan tahun. Kasus lain, Soetan Takdir Alisjahbana (STA) sebagai pendidik dan ”pemimpi” yang mengidam-idamkan pendidikan bermutu, sebagai pelopor dan pembina Bahasa Indonesia yang tak kenal lelah.

Setelah cukup mantap dengan salah satu kasus tersebut, carilah kaitannya dengan news peg. Yang dimaksud dengan news peg ialah ”gantungan cerita”, mengapa kita menulis feature mengenai sesuatu yang kita yakini sangat menarik minat pembaca. Mengapa menulis tentang banjir yang menenggelamkan Jakarta? Karena ada news peg musim hujan di bulan Desember. Kita menerbitkannya di awal bulan Desember, sesuai dengan news peg-nya, tapi pengerjaannya bisa dilakukan sejak dua atau tiga bulan sebelumnya. Mengapa kita menulis mengenai STA? Karena akan kita terbitkan pas pada hari ulang tahun STA, atau HUT Universitas Nasional, atau HUT terbitnya majalah Poedjangga Baroe. Dan seterusnya.

Setelah kita menemukan news peg, telitilah apakah kasus yang akan kita tulis tersebut memenuhi kriteria sebagai item yang sangat terkait dengan kepentingan publik dan magnitude-nya besar. Contoh-contoh yang kita paparkan di muka cukup memenuhi kriteria. Setelah itu, susunlah outline (kerangka tulisan), meliputi lead, body text, ending. Seorang penulis yang baik selalu membiasakan diri terlebih dahulu menyusun outline. Di kalangan para wartawan TEMPO di tahun 1980 dulu, dikenal semacam credo: “Mau selamat? Bikinlah outline!” Tapi ingat, cara menyusun outline tidak gampang. Diperlukan latihan tersendiri.

Kemudian (inilah tugas yang cukup berat) kuasailah segenap bahan dengan selengkap dan seakurat mungkin. Lakukan reportase yang mendalam (indeph reporting), wawancara beberapa narasumber yang relevan, riset berbagai bahan, check and recheck. Lakukan pula verifikasi dengan mempertimbangkan bothside coverage. Lakukan semua itu dengan sepenuh semangat dan gairah, tanpa lelah, tanpa bosan, karena proses pengumpulan bahan itu mungkin akan berlangsung sampai berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Namun, ketika kita tengah “berbelanja” bahan-bahan di lapangan, bisa jadi outline akan berubah. Dalam hal ini, yang sangat penting harus dilakukan ialah indeph reporting (reportase mendalam), ialah reportase dan wawancara dari berbagai aspek, sehingga mampu menggambarkan kasus, masalah, atau sosok yang akan kita tulis.

Langkah berikut ini lebih sulit lagi, yaitu langkah menulis — yang harus setia dengan outline, meskipun ada kemungkinan outline bisa berubah di tengah jalan. Mula-mula, tulislah lead yang bagus. Lead adalah kalimat pertama sebagai pembuka, yang harus menarik (baik bahasa maupun materinya) agar supaya pembaca tertarik untuk terus membaca. Dan itulah fungsi lead yang sebenarnya. Selanjutnya melangkah ke body text, yang hendaknya ditulis dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar (tapi populer), deskriptif (bertutur, berkisah), dengan alur cerita yang setia pada outline, dan tetap selalu memperhatikan ”gerak pendulum” sehingga tulisan tetap terfokus pada angle.

Pendulum ialah bandul yang menggantung pada seutas tali. Pendulum selalu bergerak dari arah kiri ke arah kanan, berganti-ganti, dan pasti selalu melewati bagian tengah yang searah dengan lurusnya tali tempat pendulum bergantung. Itulah yang dimaksud dengan “gerak pendulum.” Artinya, biarpun sang pendulum bergerak ke kanan atau ke kiri, pasti selalu kembali ke tengah, searah dengan tali gantungan pendulum. Pendulum melambangkan perkembangan cerita yang ditulis dalam sebuah feature, sedangkan tali penggantung melambangkan angle.

Jika seluruh bahan cerita sudah ditulis dalam body text, tibalah saatnya kita menulis ending, akhir dari sebuah tulisan. Ending bisa berupa kesimpulan, bisa pula suatu kejadian lucu (atau tragis dramatis), yang setidak-tidaknya bisa dianggap sebagai suatu kesimpulan. Atau bisa pula berupa persoalan atau pertanyaan yang mengambang, yang tidak perlu dijawab. Sebagaimana lead ada yang menarik dan tidak, ending juga ada yang menarik dan tidak. Tentu saja kita harus memilih yang menarik. Untuk menulis lead dan ending yang menarik, memang dibutuhkan latihan dan “jam terbang” sebagai penulis yang cukup lama.

Bagaimana feature yang bagus? Sebuah feature yang bagus ialah yang lengkap, komprehensif, akurat, dengan verifikasi yang memadai. Lebih hebat lagi jika feature tersebut merupakan hasil reportase investigasi (investigative reporting), sebuah tulisan yang exclusive (sangat khas, lain dari yang lain) dan ditulis dengan gaya literary journalism, jurnalisme literair. Apakah itu investigative reporting, karya jurnalisme yang exclusive, dan gaya literary journalism? Ketiga-tiganya – sebagai tingkat lebih lanjut dari penulisan feature — merupakan pembahasan dalam sebuah diskusi tersendiri.

 

Advertisements

Kembali Menyapa

Sudah lama memang, kira-kira beberapa bulan lalu begitu menikmati, senja diperaduan. Menikmati desir angin yang menyeret daun jendela ke sudut sana. Menikmati daun-daun yang terbelai lembut, menari – terhempas – kesana kemari, merdu. Ditemani tumpukan buku, membaca, meresap, sejenak.

Jingga itu kini merekah kembali. Buku-buku itu, tak lagi berdebu. Lembaran itu terisi kembali. Bukan! Bukan lembaran itu, tapi lembaran ini. Lembaran yang senyap, selama 6 purnama, atau lebih, dan kurang aku tak terlalu tau. Padahal banyak yang menanti, menanti untuk kembali mengisi lembar ini. Namun, lembar kehidupan begitu Indah, begitu memesona, begitu memukau.

Tak sempat lagi, mengisi lembar ini. Baru sekarang lagi, “dunia maya” begitu sedikit menggoda. Karena pernah bertekad untuk terus menulis. Tapi, tak pernah janji untuk di lembar ini. Masih banyak, banyak sekali di luar sana, berjuta lembar yang harus diisi. Mengisi setiap lembar, dalam pelbagai macam buku memang menarik.

Sempat, ingin kembali ke sini. Ke hadapan kalian, kembali berbagi cerita. Cerita tiap senja, tiap jingga menyapa. Mulai dari semburat yang melaju dari timur. Hingga mentari terlelap dalam pertapaanya. Begitu banyak lembaran, tapi lupa lembaran awal. Begitu sudah kesana, kemari, hingga kembali ke sini. Seperti mengawali kembali. Masa silam yang begitu Indah.

Kembali mengingat episode – fragmen – menikmati senja. Menikmati angin, dan cahaya yang membelai lembut. Dalam goyangan kursi, dan alunan merdu, besi-besi yang saling bergesek. Menikmati kembali, mengeja kata, mengisi kembali salah satu lembaran awal. Kumpulan ide, gagasan, pemikiran, dan juga “curhatan.” Semoga bisa terus kembali ke sini, tak “lupa” , dan istiqamah.

Penggalangan Dana Online dengan Marimembantu.org Membuat Mereka Tersenyum

Apabila seorang manusia meninggal maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal: Sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shalih yang mendo’akannya. (HR. Muslim dan Ahmad)

Puluhan sosok, datang satu per satu. Dari sudut nun jauh di sana. Mengenakan peci, batik, dan membawa seonggok map. Wajahnya nampak cerah, bercahaya. Beberapa mengenakan baju koko. Tak ketinggalan, ibu-ibu paruh baya dengan jilbabnya. Senyumnya menyimpul tulus, seperti apa yang dikerjakannya tiap hari.

Mereka bukan sosok biasa. Datang jauh-jauh dari sudut-sudut kampung. Orang –orang menyebutnya pelosok. Pelosok pelbagai penjuru.  Dari sanalah mereka semua berkumpul. Memenuhi undangan Lembaga Zakat Dompet Dhuafa. Dengan wajah sumringah dan semangat mereka berkumpul.

Mereka bukan sosok biasa. Datang jauh-jauh dari sudut kampung. Mereka yang sehari-harinya mengajarkan ilmu, menebarkan manfaat. Mengayuh sepeda menembus hutan. Bisa saja kita tak percaya bahwa masih ada di abad modern ini, orang-orang seperti ini.  Bagaimana tidak? Mengajarkan ilmu, dari kampung ke kampung. Kiloan meter, sudah terlakoni. Membawa sepucuk mushaf Qur’an untuk dilafalkan.

Tanpa bayaran bak sekolah modern bertarif internasional. Tanpa pujian sanjungan apalagi tunjangan jabatan. Tanpa hiruk pikuk. Wajah-wajah tulus seolah berbicara. Mengajarkan arti ketulusan kepada kita. Mengajarkan arti optimis dalam hidup. Pendidikan harus tetap berjalan. Tak ada kata berhenti untuk membina umat. Membina para penerus mereka. Demi ter-eja-nya Firman Allah, di sudut-sudut desa. Seorang guru ngaji.

Di sinilah, Lembaga Zakat Dompet Dhuafa berbagi cerita, kisah, dan kesenangan bersama mereka. Para guru, sebenar-benarnya guru. Yang setiap magrib mengeja kata, ayat demi ayat suci. Dengan sebatang lidi. Tersenyum kepada anak-anak. Yang setiap subuh, duduk di depan para jama’ah mesjid. Melafalkan firman Allah. Menyejukkan hati. Bergerak dari satu surau ke surau lain.

Melihat wajah senyum mereka, suasana tampak syahdu. Luar biasa sekali mungkin pahala tak terperi. Ilmu-ilmu yang setiap hari dibaca, minimal Ulumul Qur’an, Alfatihah. Berkat didikan mereka. Mencetak anak-anak shaleh. Ilmu yang bermanfaat, dan do’a anak- anak shaleh. Pahala yang terus mengalir. Dompet Dhuafa turut menyambung mata rantai sebagai amal jariyah, bagi mereka. Sempurna sudah, begitu besarnya balasan, ketika berinfak untuk mereka.

Sumringah! Inilah yang dirasakan para guru mengaji ini setelah menerima bantuan dari Lembaga Zakat Dompet Dhuafa dengan “THR guru Ngaj”i-nya. Ingin rasanya, tak hanya beberapa kali. Kalau bisa setiap saat, setiap detik mereka semakin semangat. Semakin produktif. Mengajar tanpa memikirkan, apa yang harus dimakan nanti malam. Tanpa menahan lapar. Tanpa sulit, memenuhi kebutuhannya. Seperti itulah guru dimuliakan.

guru ngaji mendapat bantuan dari Dompet Dhuafa

Namun, secercah harapan itu kian Nampak. Mungkin para donatur yang siap membatu ketulusan mereka, tak perlu datang mencari ke sudut-sudut kampung. Saat ini, Lembaga Zakat Dompet Dhuafa memeliki program berdonasi secara online. Yaitu  Mudah sedekah secara online dengan Marimembantu.org”.

Marimembantu.org. Sebuah program, yang memudahkan para donatur mendonasikan hartanya. Untuk melihat guru-guru itu tersenyum. Melihat para anak –anak yang kelak setelah dewasa tersenyum simpul. Mengenakan seragam, mendapat pendidikan yang mereka impikan. Sebagai sarana, mendapatkan pahala ke-tiga amal yang tak  terputus, walau setelah kita wafat.

Tak hanya untuk guru ngaji dan anak-anak saja rupanya. Kita bisa melihat sendiri. Para pedangan kecil yang tersenyum bangga. Karena mendapatkan modal untuk bertahan ditengah gerusnya Industri kapitalis besar. Seorang pedagang sekarang dapat langsung menulis di marimembantu.org “Saya mempunyai tanggungan seorang keponakan yang masih sekolah di kelas 2 SMP karena orang tuanya telah meninggal dan sekarang ikut bersama orang tua saya yang sudah tua” Mungkin suatu saat sang keponakan lulus sekolah dan kembali tersenyum.

Melihat tersenyum, seorang yang berhutang banyak berbunga-bunga kepada rentenir, kini tak lagi muram. Melihat domba-domba segar dalam Tebar Hewan Kurban Dompet Dhuafa, menyebar di pelosok negeri disambut senyuman hangat. Melihat seorang ibu dhuafa dapat melahirkan putranya dengan selamat di Rumah Sakit, karya Lembaga Zakat Dompet Dhuafa.  Atau Dhuafa yang saat sakit bisa segera tertangani karena program “Sedekah Ambulans”  dan “Aku Ingin Sembuh”. Dengan cara mendonasikannya via online  melalui marimembantu.org.

Melihat bagaimana mereka semua tersenyum. Melihat, bagaimana para Duhafa tersenyum. Tak sulit ternyata caranya. Bagi para donatur, dan juga yang membutuhkan dapat berbagi cerita, memohon bantuan Bagi para donatur, kini bisa dengan sangat mudah sedekah secara online dengan marimembantu.org. Cukup sederhana, membuat  para Dhuafa tersenyum bersama Dompet Dhuafa. Tak hanya tersenyum. Pahala besar menanti yang tak lekang oleh zaman.
Ayo Bantu Saudaramu

Titip Salamku untuk Mereka

Senja telah mencapai penghujungnya. Lembayung itu tak nampak lagi. Berganti dengan dinginnya malam. Saat itu, buliran jernih menetes, membasahi bumi satu per satu. Membuat aroma segar, menyejukkan kalbu. Malam begitu indah. Begitu damai. Begitu syahdu, bagi para penikmat malam.

Gemerlap lampu bergelantungan di ufuk bumi. Sinar memancar dari segala penjuru kota. Dulu, tak pernah terbayangkan, akan seperti itu. Di balik bukit. Di atas gunung. Di kaki lembah. Di bibir pantai. Semuanya bercahaya. Semua berkilau, indah. Menjadikan rindu tak terperi.

Tapi tiba-tiba. Di antara ribuan kilauan itu. Di antara berjuta gemerlap ditengah kesibukan kota. Di antara keangkuhan zaman itu. Di antara egoisme urban. Tiba-tiba, meretas padam. Satu cahaya tiba-tiba lenyap. Di sudut kampung sana, satu cahaya terlihat menghilang, tersapu hujan. Tiba-tiba lenyap.

“Brett!” menggelibas. Tiba-tiba, di tengah syahdunya tetes hujan. Satu cahaya di antara berjuta cahaya lenyap. Gelap. Pekat. Panik. Inilah yang di sebut masyarakat modern ala tokoh besar bernama Cicero. Ia bergantung kepada sesuatu. Di sinilah, ketika cahaya itu lenyap, ia menjadi bingung.

Boleh jadi di zaman Romawi, Cicero bercerita bahwa masyarakat modern membutuhkan sesuatu yang berbeda. Tapi zaman sekarang, masyarakat modern abad ini membutuhkan secercah cahaya itu. Masyarakat modern membutuhkan listrik!

Baru mati sejenak akibat korslet terkena air saja, ia sudah seperti ikan yang keluar dari airnya. Menunggu beberapa saat. Satu jam, dua jam tak ada perubahan berarti. mengotak-atik tak ada hasilnya. Malam semakin pekat. Orang-orang di sudut kampung sana, memencet-mencet tombol. Menyalurkan gelombang ke ufuk satelit di atas sana, dan mengembalikan ke belahan  kota yang yang lain di bumi.

“Halo, di sini PLN?” katanya sambil tergesa-gesa

“Benar, ada yang bisa kami bantu,” terdengar jawaban di seberang sana.

“Listrik di rumah kami padam, bisa tolong ke sini dan mengecek apa yang terjadi,” katanya memelas

“Baik, di mana alamat lengkapnya pak?” katanya seseorang di seberang sana dimalam yang pekat itu.

Pemilik rumah dengan cekatan menejelaskan alamatnya. Alamat di sudut kampung. Yang harus memasuki gang-gang kecil, berhiaskan tembok-tembok tinggi. Di sudut –sudut yang bahkan tak tahu jalan apa lagi itu. Patokannya hanya Mesjid. Mesjid di tengah kampung sebuah kota.

“Baik, harap tunggu dan jangan panik ya Pak,” kata suara itu menutup pembicaraan.

Hati menjadi berdebar. Apa benar, malam-malam seperti ini akan ada orang yang datang?  Apa benar mereka akan datang?

Menoleh ke dalam rumah. Di sana, terdapat wajah-wajah mahasiswa yang sedang memelas. Berniat mengerjakan berjibun tugasnya, berharap listrik dapat kembali menyala. Berharap banyak, karena tak tahu apa yang terjadi tiba-tiba beberapa jam ini ruangan menjadi gelap. Berharap tugas esok hari selesai.

Tiba-tiba dua orang lelaki tak dikenal datang. Mengenakan jaket, dengan tas ransel di punggung. Wajahnya tak kelihatan, gelap. Melangkah mendekat. Bertanya.

“Apa benar di sini alamat ini?” sambil menyodorkan kertas disinari lampu senter yang ia bawa.

Pemilik rumah mengiyakan. Tiba-tiba, dibalik cahaya rembulan, wajahnya menjadi sumringah. Ia bak kejatuhan durian runtuh. Petugas PLN itu datang jauh-jauh dari jantung kota, menuju sudut – sudut pinggiran kota di malam yang pekat.

Bergegas mereka masuk. Dengan senter di lengannya. Mengotak-atik “meteran listrik” . Dengan cekatan, hanya berbalut cahaya senter dan rembulan. Di pinggir sana, para mahasiswa berharap cemas. Menaruh asa, kepada dua pria tak dikenal tersebut. Berpikir apa esok kelak akan dihukum dosen karena tugasnya belum usai.

“Byarr” mereka terkejut. Tiba-tiba suasana menjadi terang benderang. Mata mereka mengerjap-ngerjap. Menjadikan suasana berbeda. Cahaya itu terbang ke ufuk bumi. Ia terlihat kembali, menjadi bagian dari jutaan gemerlap di kaki Bukit. Menjadi ribuan kemilau di sudut Kota. Menjadikan lautan cahaya yang malam itu terus bersinar.

Dua orang tak dikenal ini memberikan penjelasan permasalahannya. Memberikan saran dan nasihat. Ternyata, akibat air hujan yang menggenang, mengenai bagian-bagian kabel menyebabkan korslet  dan mereka memperbaikinya.

Setelah itu, mereka membalikan punggungnya. Pergi dengan ramah setelah menyelesaikan tugasnya, dan tersenyum tulus menoleh di balik bayang purnama. Tak sempat kami memberikan sesuatu pun. Tak sempat kami berbincang lebih lama. Bahkan, tak sempat kami tau namanya. Mungkin ada tugas lagi di luar sana. Masih banyak pekerjaan menanti. yang dikerjakan dengan penuh dedikasi dan keikhlasan

Padahal malam masih pekat. Orang-orang dengan lelap dibalik hangatnya selimut tebal. Tapi mereka, dengan siaga 24 Jam. Melayani masyarakat seperti kami. Rangkaian syukur tak terperi. Sejumlah mahasiswa bergegas mengetikan sesuatu, melanjutkan deadline tugasnya.

Tak hanya harap yang muncul. Tapi juga doa. Agar PLN semakin baik dan dapat melayani masyarakat. Seperti yang kami rasakan sendiri, di suatu  malam. Agar cahaya itu terus berpendar. Membawa harapan-harapan. Bagi mahasiswa, ia menjadi sarjana yang baik. Bagi seorang direktur, agar programnya berjalan. Bagi karyawan agar dapat menjadi karyawan teladan dan semakin bermanfaat dengan menyelesaikan tugasnya. Bagi guru agar slide presentasinya berjalan sukses. Bagi siswa, agar laporan berjalan lancar. Bagi seorang anak, agar dapat menjad anak yang berbakti. Bagi seorang ibu yang sedang hamil, dengan secercah cahaya itu lahirlah bayi yang kelak menjadi anak shaleh. Dan PLN memiliki andil sangat besar dalam hal ini.

Titip salamku kepada lelaki-lelaki tak dikenal di seluruh penjuru negeri itu. Terima kasih Banyak

*tulisan ini diikut sertakan pada Lomba Blog “Harapanku Untuk PLN

Pertama di Oktober

Akhirnya, kali pertama bulan ini bisa membuka laptop dan menulis  di sini. Sebab, beberapa hari kemarin, berkelana menjemput inspirasi dan rezeki yang semoga berkah. Tak terasa, sudah dua minggu sepi tulisan. Padahal banyak yang terjadi. “Berjuta rasanya,” kata Tere Liye. Beberapa hari lalu, menikmati lembutnya udara puncak yang  lama nian tak menjumput bau-segarnya. Bau tanah yang sangat tajam terasa menyejukkan.

Dinginnya menelusup ke pori-pori kulit. Terhampar luas, padi-padi yang setinggi ilalang. Menghijau. Tak luput, pucuk-pucuk the segar siap dipangkas oleh wanita tua ber-caping. Siap menggerak-gerakkan aritnya. Mereka terlihat kecil, terbungkus awan putih yang menyelimutinya.

Di padang sana. Beberapa hari lalu, menikmati serucup teh hangat. Berbincang, mendapatkan inspirasi dari para senior. Bercengkrama, di beranda. Sesekali cahaya matahari membelai lembut pakaian. Menyisakan rasa hangat, bercampur semilir angin yang menelisik. Desaunya terasa melegakan hati.

Ilmu-ilmu itu menerabas hati. Terikat mantap, mencerahkan akal. Menggerakan lakon. Ilmu memang melahirkan amal –seharusnya. Pun amal selaras. Ia menghasilkan pemaknaan. Pemaknaan akan hidup, yang semakin cerah. Semakin terarah, semakin ceria.

Sebab ceria itu harus terjadi. Terjadi selepas pekan lalu- hingga hari ini. Selusin nikmat, atau berjuta rasa tak terperi. Tak menyisakan apapun, kecuali  syukur. Melepas penat, di atas bukit. Membuka jendela bumi, dengan mengibas-ngibas, beberapa tulisan. Kata Tulisan memang mulai tak lagi asing terdengar.

“Terus membaca dan menulis Ki!” kata pak Teuku Chairul, Direktur Republika itu asmbil memberikan buku ‘Rembulan Tenggelam di Wajahmu, Tere-Liye  kepada saya. Sebelumnya, mas Erie Sudewo , yang bikin Dompet Dhuafa memberikan hadiah buat saya dua buah buku. “Kalau kamu mau konsisten nulis, baca dua buku saya ini,” katanya.

Sambil mengobrol di mobil yang melesat kencang, beliau cerita kalau dulu katanya cukup lama menjadi Jurnalis Republika. Yang saya baru tahu, bahwa beliau juga dulu kuliah di Arsitektur. “Tapi karena mahal ki, saya pindah ke Arkeologi,” katanya sambil tertawa terkekeh khasnya yang pada akhirnya ‘nyasar’ juga jadi Jurnalis.

Minggu kemarin memang minggu buku. Setelah menikmati pameran buku di Braga, saya dapat hadiah beberapa buku langsung dari penulisnya langsung. Buku ‘Indonesia tanpa Liberal’ karya bang Artawijaya yang juga mantan wartawan Sabili juga telah saya terima langsung. Selain tentunya sambil mengobrol ala jurnalis islam.

Jadi, karena mungkin tiap hari ‘ngobrol’ sama ‘jalan’ akhirnya baru sempat lagi membuka dan ‘menikmati’ laptop. Sambil mendengarkan alunan syahdu penyejuk kalbu. Terus berlatih dan menikmati proses adalah sesuatu yang sunnatullah.

Sama seperti ketika kita melemparkan sebuah pena. Ia akan jatuh  ke bawah. Itu adalah sunnatullah yang lain. Maka terus menulis, adalah sebuah proses pemaknaan. Proses berlatih, menjadi penulis.

“Karena itulah terus membaca, menulis, dan berpikir,” kata Bu Pipit Senja, novelis legendaris. Sambil ngobrol bertiga, beliau menceritakan kisahnya saat tahun 75, mengirim tulisan hingga baru tahun 86 tulisannya masuk kategori baik dan di cetak. Juga yang namanya ‘Tere Liye’ yang kata pak Chairil akhirnya setelah berkali-kali mengirim tulisan, baru diterima.

Ya, semoga tulisan pertama di Oktober ini bisa berlanjut, setelah mendapatkan ‘aliran energi’ dari mereka-mereka yang telah melaluinya. Tadi pagi, mas Ipho Santosa di Istiqamah dengan semangat memaparkan 7 keajaiban rezeki dan menginspirasi kami..Dan semoga, para penulis dapat senantiasa menginspirasi termasuk diri ini.

Bisa jadi dimulai dari  sekarang, sudah dapat ditemukan di pasar, tulisan dengan tagline ‘inspirasi setiap generasi’ hehe. Juga kemarin mengisi training menulis dan jurnalistik di Almamater tercinta, juga beberapa tempat … Semoga bisa tetap istiqamah, – selamat menikmati 🙂

Jurnalisme Literair –Bagi yang Suka Nulis

Selepas beberapa purnama terlewat, kira-kira itu, kami berdiskusi. Mengenai Gaya Tulisan untuk sebuah media yang kami rintis. Sebuah Tabloid dan Majalah. Memang, pada akhirnya, setiap kepala memiliki ide dalam benak-nya masing-masing. Tapi, kata Bang Islamia Pemphasa pada suatu pelatihan Jurnalistik, bahwa Isi tiap kepala itu harus sampai kepada para pembaca. Commucication singkatnya,

Menyamakan Frekuensi, antara para pembaca dan orang yang membaca. “Sampai-sampai orang yang nggak tau apa-apa itu jadi tau,” kata Pimred saya. Artinya bagaimana, isi benak yang berseliweran hilir mudik itu sampai di benak para pembaca. Termasuk kamu, hey yang sedang membaca ini.

Walhasil, saya diminta membaca novel setiap hari-nya. Memang ternyata gaya bahasa novel itu lebih “ringan” dibanding yang lain. Ia menyelisip kepada alam pikiran. Pun jika sedang ada keperluan untuk Ngantor, di kantor-pun, membolak-balik lembar demi lembar. Duduk santai, di temani ceripit burung di balik jendela sana. kadang, cahaya lunak itu menyentuh halus, menerobos daun jendela, terkena sepertiga dari meja yang mengkilap.

Inilah mungkin, yang di maksud Jurnalisme Sastrawi, yang saya dapat penjelasanya dari seorang (alm) Wartawan Senior. Tulisannya kebetulan, nongkrong di dalam file untuk pelatihan Jurnalistik. Beliau seorang yang saya kagumi. Berikut, tulisan beliau, tentang apakah itu Jurnalisme Sastrawi, yang kata beliau sebenarnya lebih dekat disebut Jurnalisme Litrerair.

Masih ingat, beberapa tahun ke belakang,  beliau pernah bilang ” Wartawan yang tidak mencintai bahasa adalah bebal, wartawan yang malas terjun melakukan reportase adalah goblok.”. Ya, inilah buah pikiran dari Budiman S Hartoyo , Selamat menikmati

Continue reading