Apakah Kekalnya Allah sama dengan Kekalnya Surga dan Neraka?


Apakah Kekalnya Allah sama dengan kekalnya Surga dan Neraka?

Mungkin dari kita banyak yang bertanya tentang siapa itu Tuhan.Mengapa Tuhan menciptakan ktia semua? Untuk apa Tuhan yan Maha Mulia dan Maha Baik menciptakan kita semua dalam kondisi yang berbeda-beda.Pertanyaan-pertanyaan tentang Tuhan seperti ini memang akan mendapat jawaban yang berbeda-beda dari orang-orang yang menjawabanya,karena Tuhan yang mereka maksud itu seperti apa yang dimaksud.

Salah satu pertanyaan yang mendapat perhatian ulama yaitu tentang Kekekalan Tuhan dan Makhluknya.Apakah memang Tuhan Menciptakan Akhirat untuk kekal?Tentu akal kita akan terus mempertanyakan,dan itu adalah fitrah manusia.Lalu untuk apa kita bertanya? Jawabannya adalah agar kita menemukan jawabannya.Jawaban-jawaban telah disebar dimuka bumi,kita tingal menemukannya

Untuk menajwab pertanyaan-pertanyaan filosofis seperti surge dan neraka, ada 2 kemungkinan untuk menjawabnya yaitu menggunakan logika dan menggunakan wahyu.Untuk yang menggunakan logika, ini sangat kontradiktif dengan pertanyaan-pertanyaanya.Kenapa? Karena pada saat yang sama kita menanyakan tentang Tuhan,surga dan neraka.Apa yang kita tanyakan kita ketahui dari apa yang disebut Kitab Suci.Jelas,logika kita hanya akan dapat menjawab pertanyaan tentang surga,neraka sangatlah terbatas,karena dasar yang kita tanyakanpun kita ketahui melalui kitab suci.

Cara kedua yaitu menjawab dengan kitab suci.Ini adalah jawaban mutlak bagi yang ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang Tuhan.Karena dasar yang ditanyakan merupakan pembenaran atas kitab suci,mau tidak mau jawaban dari penanya adalah yang ia benarkan dari pertanyaannya yaitu merujuk pada Kitab Suci.Dan ini yang dapat dijadikan dasar berpikir menjawab pertanyaan tentang Theisme,maka jawabannya adalah berasal dari sumber-sumber theism juga, sebab jika dijawab dengan logika semata maka timbul sifat kontradiktif dengan dasar pertanyaan yang ditanyakan

Jika demikian,maka kajian ini akan dibahas berdasarkan kitab suci dan sumber-sumber hukum agama Dalam Islam pembahasan para ulama tentang Apakah Kekalnya Surga dan Neraka sama dengan kekalnya Allah sudah dibahas sejak zaman dalahulu.Bahkan Syaikh Muhammad Nashirudin Albany membuat buku berjudul “Perbedaan Antara Ulama Salaf dan Khalaf tentang Kekalnya Neraka”.Namun,jika mengacu kepada seluruh pembahasan para ulama ada prinsip dasar dalam menjawab menggunakan kitab suci,dan Al Quran memberi tahu bahwa jawabannya itu ada kunci utama dalam mebahas pertanyaan-pertanyaan tentang hal ghaib dan Ketuhanan

“Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai” (Al Anbiyaa:23)

Ini merupakan prinsip dasar dalam memahami sebuah pertanyaan tentang Tuhan.Setelah itu ,kita dapat mengkaji,walaupun tidak ada manfaatnya membahas tentang Ketuhanan,karena pada prinsipnya,nanti kitalah yang akan bertanggung jawab,bukannya malah Tuhan yang akan ditanyai.Oleh karena itu pembahasan-pembahasan seperti ini,dalam pandangan ulama Salaf tidak ada manfaanya,sedangkan dalam padangan ulama khalaf(baru2 ini) , yaitu dipakai penafsiran¬ penafsiran yang masuk akal, tetapi tidak melampaui garis yang layak bagi kita sebagai makhluk. kajian ini tentu akan menjawab pertanyaan theologis yang membingungkan umat.Maka dari itu walaupun berbeda , namun dasar pijakannya sama yaitu Al Quran.

Dalam Al Quran disebutkan bahwa surga dan neraka ada dialam akhirat, dan merupakan tempat pembalasan bagi manusia.Dan disifati oleh Allah dengan sebutan kekal selama-lamanya.Lalu timbul pertanyaan, Surga dan Neraka adalah makhluk Allah,kenapa bisa sama dengan Allah kekal juga?Anggapan seperti ini memang wajar ditanyakan.Namun lagi-lagi Al Quran memberi penjelasan dengan terang-terangnya bahwa Allah itu berbeda dengan makhluknya.

(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.(Assyuura ayat 11)

Jadi jelas tidak ada yang serupa denganNya, melihatnya Allah tentu berbeda dengan melihatnya kita,mendengarnya Allah pasti berbeda dengan mendengarknya kita, begitupun kekalnya Allah suda pasti berbeda dengan kekalnya makhluknya,sebab jika sama,maka gugurlah ayat ini.Pertanyaanya dimakah bedanya kekekalan Allah dengan kekalnya surge dan neraka.
Dalam banyak ayat disebutkan bahwa surga dan neraka merupakan tempat balasan bagi manusia dan orang-orangnya kekal didalamnya.

Bagi mereka di dalam surga itu apa yang mereka kehendaki, sedang mereka kekal (di dalamnya). (Hal itu) adalah janji dari Tuhanmu yang patut dimohonkan (kepada-Nya).(Al Furqan ayat 16)

Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.( Al Bayyinah ayat 1)

Jadi jelas surga dan neraka pun kekal berdasarkan ayat-ayat shahih.Lalu dimana perbedaanya.Apakah hanya pada istilah atau juga makna?

Perbedaannya yaitu Surga dan Neraka memiliki awal,sedangkan Allah tidak memiliki awal.Konsekuensi logis dari sebuah makhluk adalah memiliki awal karena ia diciptakan,sedangkan Tuhan tidak memiliki awal.Mungkin kita tidak bisa membayangkan ,bagaimana saat waktu sebelum diciptakan,mungkin saat itu tidak ada kata “saat”.
Dari segi bahasa yang digunakan Quran,untuk kekalnya surge dan neraka selalu memakai kata khalidiina/khaliduun,sedangkan Allah tidak.Kata khaliduuna selalu dipakai untuk menyatakan kekalnya makhlukny,sedangkan Allah menggunakan Baaqii

Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.(Ar Rahman 27)

Jika demikian dimana perbedaanya ,apakah sama-sama keka?

Allah berfirman

خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ إِلاَّ مَا شَاء رَبُّكَ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيدُ

[Hud 107] mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.

jgua tentang kekalnya orang-orang didalam syurga

وَأَمَّا الَّذِينَ سُعِدُواْ فَفِي الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ إِلاَّ مَا شَاء رَبُّكَ عَطَاء غَيْرَ مَجْذُوذٍ

[Hud 108] Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam syurga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.

Maka timbullah pertanyaan , kalau syurga dan neraka akan kekal selama ada semua langit dan bumi, apa yang di¬maksud ialah semua langit dan bumi yang sekarang ini , bukankah itu berlawan dengan berpuluh ayat-ayat lain , yang menyatakan bahwa bila kiamat datang, langit akan digulung, bumi akan diratakan, gunung-gunung akan dilumatkan menjadi abu dan bintang-bintang akan gugur.

Pertanyaan yang pertama ini telah mendapat jawaban yang tegas dalam

Surat Ibrahim ayat 48 : ‘Pada hari diganti bumi dengan bumi lain dan semua langit, dan mereka akan menghadap kepada Allah, Yang Maha Esa, Maha Gagah Perkasa “

Dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan (penafsiran dari Ibnu Abbas) ; bahwa tiap-tiap syurga itu mempunyai langit dan bumi.

Dengan demikian hilanglah keraguan; memang semua langit yang sekarang dan bumi yang sekarang akan dihancurkan bila kiamat datang dan akan digan¬ti dengan beberapa langit dan bumi yang baru. Bagaimana cara pergantian itu tidak dapatlah akal kita mengorek-ngorek lagi sebab sudah termasuk ke da¬lam lapangan Alam Ghaib. Melainkan apa yang tersebut dalam Al Qur’an kita percaya dan kita serahkan kepada Tuhan.

Selanjutnya pertanyaan yang kedua, dengan bunyi wahyu ‘kecuali apa yang dikehendaki oleh Tuhan’ antara lain pandangan para ulama , ialah bahwa orang-¬orang yang kekal dalam neraka karena besar dosanya, bisa dicabut Allah dan dipindahkanNya ke dalam syurga. (ayat 107), dan orang yang beramal baik yang kekal dalam syurga, kalau Allah kehendaki, bisa dipindahkanNya ke dalam neraka.

Malahan ada pula Hadits-hadits dibawakan orang, yang me¬nyatakan bahwa jahannam itu akhirnya akan dihapuskan juga.

Ishaq bin Rawaihi meriwayatkan dari Abi Hurairah, dia berkata:
‘Akan datang kepada jahannam itu satu hari yang tidak ada tinggal se¬orangpun lagi di dalamnya ”

Dan menurut riwayat Abusy Syaikh dari lbrahirn, dia ini berkata, berkata Ibnu Mas’ud
‘Sungguh akan datang kepadanya satu zaman terpentang pintu-pintunya”.

Terpentang pintu-pintunya sebab isinya sudah tidak ada lagi, sudah kosong. Dan menurut riwayat Ibnu Jurair, Asy Sya’bi pernah mengatakan :

‘ Neraka jahannam adalah dari dua negeri yang lekas ramai dan lekas pula binasa ”
Terdapat juga riwayat-riwayat dari para sahabat Rasulullah sa.w, dan Alim Tabi’in menimbulkan pendapat bahwa neraka itu tidaklah akan kekal.

Imam syaukani pengarang Tafsir Fathul Qadir, telah menyalinkan tidak kurang dari pada 11 pendapat Ulama tentang ayat “Kecuali apa yang dikehen¬daki Tuhan engkau” ini.

Di antara 11 jalan pemahaman itu ada yang berkesim¬pulan bahwasanya orang yang berakidah Tauhid, meskipun berdosa betapapun besamya, akhirnya akan dikeluarkan juga dari dalam neraka itu, sesudah di “sepuh” di dalamnya beberapa kadar dosa yang dilakukannya. Namun akhir¬nya akan dimasukkan ke syurga juga.

Satu jalan pemahaman lagi ialah yang di¬riwayatkan Az Zajjaj, yaitu pemahaman ke 8, kecuali apa yang dikehendaki oleh Tuhan engkau, yaitu menambah nikmat bagi orang yang diberi nikmat dalam syurga dan menambah azab bagi penduduk neraka. Tegasnya Tuhan sesukanya menambah nikmat bagi orang yang diberi nikmat dan menambah azab bagj yang diazab. Al Hakim At Turmuzi memilih pendapat ini.

Tetapi Ibnu Mardawaihi mengeluarkan dari Jabir (Sahabat). bahwa Rasul¬lullah sa.w., seketika membicarakan ayat ini telah pernah mengatakan:
“Jika Allah menghendaki akan mengeluarkan beberapa manusia yang celaka dari dalam neraka dan memindahkannya ke syurga, diperbuatNya¬lah begitu :.

Satu hal rupanya sudah sebahagian besar Ulama yang sefaham, yaitu bahwa ahli Tauhid dan Ahlul Qiblah , betapapun besar dosanya, namun dia ti¬dak kekal dalam neraka; satu waktu mereka dengan kurnia ilahi dimasukkan ke dalam syurga. Dalam hal ini tidak ada perbantahan lagi.

sudah barang tentu kekalnya penghuni pun bersandar kepada standard batas waktu yg ditentukan Allah yaitu “mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi” ini membuktikan mereka penghuni semestinya “berakhir”,karena makhluk pada dasarnya tidak kekal,hanya Allah lah yang kekal

tetapi karena Allah itu MAHA BERKEHENDAK yg tidak terikat oleh apapun- kecuali oleh DiriNya sendiri- maka Allah berhak untuk untuk memutuskan diluar dari standard tsb dapatlah dimengerti dgn “kecuali jika Allah menghendaki lain”

Jadi kekalnya surga dan neraka yang diketahui melalui ayat-ayatnya yaitu mempunyai standar,yaitu selama ada langit dan bumi diakhirat sana yang menaunginya,Kecuali Allah menghendaki yang lain.Dan kekalnya berada dalam kehendakNya,dan juga yakni benda-benda surga atau neraka bisa mengalami perubahan dan pergantian, sebagaimana diisyaratkan dalam ayat berikut:

كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا.
Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. An-Nisa’ [4]: 56).

Demikian juga makanan dan minuman yang terdapat di dalam surga, ia bisa menjadi tenaga dan tambahan energi, namun selanjutnya akan hilang, lalu diganti dengan makanan dan minuman yang lain. Begitu seterusnya. Semua itu menunjukkan bahwa kendati surga dan neraka dikekalkan oleh Allah, namun kekekalannya tidak esensial, terbukti unsur-unsurnya masih mengalami perubahan-perubahan.

Ahli tafsir sepakat bahwa “mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi” adalah “masa lamanya” didalam surga/neraka, buka juga tafsir Al-Maraghi, dikatakan neraka-surga seabadi langit yg menaungi mereka, selama bumi yg menjadi pijakan mereka di akhirat, jadi “selama ada langit dan bumi” adalah perumpamaan “masa”, seperti umpama orang mengatakan : “Saya tidak akan melakukannya selagi bintang2 masih kelihatan, fajar mash bersinar dan merpati masih bernyanyi”, artinya masa itu “ada” namun hitungannnya berbeda karena langit-bumi yg berbeda seperti surat Ibrahim Ayat 48

Sedangkan kekalnya Allah ialah bersifat dzatiyah,merupakan Sifat Allah Ya BaaQ,Allahlah yang Awal,yang Akhir, kekalnya Allah tidak dibatasi masa,dan Allah Maha Melaksanakan KehendakNya.Tidak terikat masa yang diciptakannya sendiri.Allah berkehendak kekalnya Surga dan Neraka “ke¬cuali apa yang dikehendaki Tuhan engkau” pada Hud ayat 107 itu, ialah yang layak dengan Kebesaran, Keadilan, Kemurahan dan Kasih Sayang Allah, kepada hambaNya. Allah Ta’ala leluasa, tidak ada yang akan menghalangiNya mencam¬pakkan orang yang berdosa ke dalam neraka, dan leluasa pula mengeluarkannya dari sana.

Yaitu orang-orang yang menurut pertimbangan Tuhan Allah telah selesai dicuci dosanya supaya ia bersih seketika kelak dimasukkan ke dalam syur¬ga.

Bahkan Maha Kuasa pula Dia, demi cinta kasihNya dan RahmatNya atas hambaNya mengeluarkan sisa-sisa orang yang masih tinggal di dalam neraka itu. Kemudian setelah neraka itu kosong, sebagairnana riwayat Abu Hurairah dan Ibnu Mas’ud yang telah ditulis di atas tadi, Diapun dapat menutup buat selama-Iamanya.Maka sesuai jugalah dengan Kemurahan Allah jika orang yang kekal dalam neraka itu, ialah kekal selama masiha da langit dan bumi yang menaunginya. Dan sesuai pulalah agaknya pemahaman ini dengan sabda Rasulullah sa.w:

‘Sesungguhnya Allah tatkala menjadikan seluruh makhluk ini telah menu¬liskan suatu tulisan di atas Arsy: ‘Sesungguhnya KasihSayangKu (RahmatKu) mengalahkan murkaKu’: (Dirawikan oleh Bukhari dan Muslim)

Wallahu A’lam

  1. mirip pertanyaan ttg kekekalan energi
    di fisika kita kenal hukum bahwa energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan..

  2. ya jelas beda jauh apa yang disebut dengan “kekekalan energi itu” karena istilah itu muncul setelah alam ini ada… dan yang menciptakannya jelas Alloh SWT… dan jangan lupa bahwa yang bilang tentang kekekalan energi itu adalah manusia yang secara hakekatnya adalah bodoh dan pelupa dan serba terbatas kemampuan dan kekuatanya… sedangkan ilmu manusia itu jika diibaratkan menurut (AL-Qur’an) hanyalah setetes air laut, sedangkan ilmu (laAlloh itu tujuh kalilipat lautan didunia ini bahkan lebih banyak dari itu (latuhsuha) niscaya kita tidak akan dapat menghitung luasnya ilmu Alloh itu.

  3. Subhanallah….Kita jangan sampai terjebak dengan ilmu pengetahuan yang kita gali dan dapati dari sunatullah …karena ilmunya manusia juga tidak kekal…itu berlaku selagi masa ada bumi dan langit dunia ini; oleh karena itu tidak sama kekalnya Energi dengan Kekalnya Zat Allah yang sebenar-benarnya kekakl.

    • Tri Lestari Br. Siregar
    • August 27th, 2015

    Washia Qursyi

    • Tri Lestari Br. Siregar
    • August 27th, 2015

    Assalamualaikum…
    Karena Blok ini, Tugas saya jadi Lancar, nilai saya 97
    Thanxz ya
    Wassalam

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: