Pedestrian


Yang kamu perlu hanya kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya,” gumannya mengutip perkataan sebuah  buku berjudul – 5Cm -. Lalu  tiba- tiba terucap dari mulutnya, ” Sayangnya, zaman ini kita mau jalan kaki sudah susah!”.

Perkataan dalam novel ini mungkin cocok di Barat.  Celotehannya teman saya itu cocok di sini. Nyatanya, beberapa waktu lalu kawan-kawan saya yang lain  protes. Mengapa saat dia berjalan kaki di ‘pedestrian’ malah di klaksonin motor dari belakang.

“Bukan pedestrian!” Sanggah dosen saya di suatu kelas. “Tapi”, dengan pelan dosen saya  melanjutkan “Yang benar itu adalah Jalur Pedestrian”. Ternyata ungkapan  teman saya berjalan di pedestrian itu ngaco. Pedestrian  itu  “ is a person traveling on foot, whether walking or running,” Kata Kamus-Kamus Inggris.

”Masih aja ada  yang bilang Pemkot bangun Pedestrian,” greget dosen saya itu. Pedestrian adalah, ya pejalan kaki itu sendiri.  Kalau tempat jalan kaki, namanya adalah jalur pedestrian. Ia makin  gregetran ketika ada yang menyamakan pedestrian dan trotoar.

Pedos, (Yunani) maksudnya kaki. Makanya KBBI bilang pedestrian adalah pejalan kaki. Jadi amat sangat error jika bilang “berjalanlah di pedestrian”. Menurut bahasa saja tidak sah, apalagi menurut terminologi?

Saat kuliah dulu,  berkali-kali,  saya diingatkan dosen saya untuk memperhatikan pedestrian jika  kami merancang suatu kawasan. Dalam bukunya “Life in the City”, Louis Wirth,  menyimpuylkan salah satu aspek dalam Kota yang baik adalah penggunanya. “Demokratis” adalah  salah satu ciri ruang publik yang ideal. Tapi, pengguna kendaraan seakan-akan menjadi ‘tiran’. Nggak perlu jauh-jauh ngomongin demokratis, apakah pedestrian sudah nyaman berjalan di  trotoar?

Oleh karena itu, waktu kuliah, kami ditugaskan meneliti kawasan yang jalur pedestrian-nya bagus biar nanti bisa praktek langsung.  “Istilah arsitekturnya, node (plaza) dan path(koridor)” kata dosen itu.  Kita lihat pada Plaza Maria di Jerman. Kita bisa menikmati duduk – duduk santai di Jalanan. Melihat anak-anak memberikan makanan pada burung. Sambil  menikmati alunan musik  karya Mozart dengan gesekan biola yang menyentuh kalbu. Belum lagi plaza-plaza yang lain. Barcelona, London, Brussel, Prancis, dll.

“Ah  itu kan Eropa! Di sini panas,”  kata orang-orang pesimis sambil mencibir.”Ah nggak juga,”  ungkap Jokowi, saat seminar Internasional Emerging Bandung. Kita lihat di Malaysia,dan Singapura  bung!. Orchard Road buktinya. Di sana kita bisa lihat node dan path bersatu. Pedestrian di hargai di sana.

Pengaturan koridor dan plaza juga  kita rasakan di  Water Front, Kuching, Malaysia. Kita bisa berlari-lari disana, duduk, bahkan tidur- tiduran. Kira-kira bisa ga ya kalau di sini?  Belum lama, kawan saya tour 5 negara dengan sumringah berteriak “Di Bangkok, Vietnam, dll trotoarnya segede gaban-gaban, sampai mobil bisa parkir disana!”.

Beberapa bulan lalu, saya bermain ke Solo. Seperti biasa, saya berjalan-jalan menikmati senja. Yang cerah di Jalan Slamet Riadi. Ia sudah tidak seperti dulu, ada yang berubah. Jalan kaki nggak terasa, tiba-tiba sudah sampai alun-alun (plaza). Bener juga kata Jokowi yang sekrang walikotanya , ‘Ah nggak juga”

Kira-kira dua tahun lalu, saya pernah riset keci-kecilan di mall  Ciwalk Bandung. Jika di desain dengan baik, maka pedestrian akan terpuaskan.  “Dilarang masuk kendaraan” kata Ciwalk.  Sang Legenda Urban Design, Prof Danisworo  pernah  nulis dalam “I-Arch”   tentang superblock. “Sorry, kendaraan pribadi minggir dulu. Semua harus  jalan kaki”. Inilah kota Ideal, Superblock!

Tapi yang terjadi kebalikannya.”Sorry , Anda minggir dulu, motor mau lewat!”  . “Brrmmm,” motor dipacu. Minggirlah para pedestrian di Ibu Kota. Ia menjadi termarginalkan. Semua pindah ke kendaraan pribadi berpolusi. Hilang sudah orang bersepeda. Jalurnya di makan sama mobil dan motor. “Orang-orang kampungan itu hanya dari kosan yang berjarak kira-kira 2 -3 km itu naik mobil” sergah kawan saya. “Belum lagi cuman 1 km, pake naek motor segala!” tambahnya gerah.

“Bisa saja aman dari mobil dan motor, kalian  tidak akan aman dari kami” ancam PKL. Pedestrian semakin terpojok. PKL yang tadinya 5 langkah dari trotoar, sekarang menjadi melangkah bersama pedestrian.  Era ini sudah merubah arti dan juga makna. Mungkin kata pedestrian di hilangkan saja. Tidak ada lagi orang yang  berjalan kaki, menikmati indahnya mentari di sore hari. Semua terjebak dalam siklus ‘stress’ di dalam besi-besi tua yang bergerak itu

Nikmatnya Menghirup udara pagi sudah tergantikan, dengan tergesa-gesanya memakai kemeja, menuju kantor, mencari secercah ‘uang;. Semua sibuk urusannya masing-masing. Pedestrian harus mengalah, eh,, bukan. Bahkan, ternyata bisa jadi perkataan teman saya itu benar dan  Dosen saya malah salah!

Pedestrian zaman ini adalah tempat orang berjalan. Bukan lagi pejalan itu sendiri. “Iya juga ya”, sebab, sekarang, sudah tidak ada lagi pedestrian. Ia telah mati kecuali bagi sebagian orang….Ia masih tetap hidup, menikmati indahnya Alam, mengirup udara segar, menikmati kebahagiaan,  dengan hati yang tunduk.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: