Catatan Haji (1) : Arafah yang Syahdu, Arafah yang Dirindu


Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar….Lailaha Ilallahu Allahu Akbar…Allahu Akbar Walillahilhamdu…

“al-hajju ‘arafatun,” kata sang Nabi, bahwa Haji adalah Arafah.
Maka, kita mulai catatan perjalanan haji ini dari Arafah, sebagaimana perjalanan hidup manusia. Dari Arafah ini, pertemuan nan dirindu itu berawal. Dari Arafah, nasab kita tersambung padanya.

Mengapa? Karena, di Arafahlah Adam dan Hawa bersua. Dari Arafah, akhirnya cerita tentang kita bermula, dengan berjuta kisah dan makna. Di Arafah pula, sang kekasih Allah, Ibrahim, merenungi perjalanan hidupnya.

Dan di Arafahlah, sang Nabi menyampaikan khutbah haji pertama, sekaligus terakhirnya. Khutbah yang begitu menyentuh, yang gemanya terus diwariskan berabad-abad, hingga kini, dan masa yang akan datang.

”Ala Falyuballigh al-Syahidz Minkum al-Ghaib,” kata Rasulullah. Bahwa orang-orang yang hadir di hadapan sang Nabi hendaknya menyampaikan apa yang disampaikan Rasulullah ke orang-orang yang tidak hadir. Dan Arafah tetap menjadi tempat nan dirindu hingga akhir zaman!

Lautan manusia. Berjuta hamba bersimpuh di hadapan sang Maha. Menangis haru, dengan suasana sangat syahdu. Sebab, “Haji itu Arafah,” kata sang Nabi. Berkumpullah seluruh jamaah haji pada satu waktu, satu tempat, satu tujuan: menunaikan rukun Islam kelima!

Maka, izinkan saya menulis pengalaman berhaji pada tahun 1347 (2016), dimulai dari Arafah. Sebuah kenikmatan luar biasa, saat saya diberikan kesempatan untuk menunaikan rukun Islam ke-5 ini dalam usia yang bisa dibilang cukup muda, kira-kira seperempat abad, hehe.

Tak pernah terbayangkan sama sekali, dalam pada saat itu saya akan berangkat haji. Proses persiapannya pun sangat super mendadak sekali, sampai saya baru tahu bahwa saat saya berangkat hari Sabtu (4/9), hari Jumat kemarinnya visa haji saya itu baru terbit.

“Perjalanan penuh kejutan,” itu yang benar-benar saya rasakan. Ketika saya sedang di dalam pelosok Jawa Timur, tiba-tiba sebuah pesan singkat masuk, saya diminta mengirimkan scanan paspor oleh organisasi profesi tempat kami bernaung, Jurnalis Islam Bersatu (JITU).

Prosesnya pun sangat cepat dan mendadak sekali, sehingga, untuk persiapan manasik, saya lakukan sendiri dengan bimbingan beberapa ustaz yang saat itu sudah berangkat haji. Untuk lebih detailnya, semoga catatan perjalanan haji yang sudah beberapa bagian saya tulis bisa diterbitkan dalam sebuah buku bersama catatan haji undangan.

Saya berangkat satu rombongan berjumlah 52 orang, dengan visa haji undangan kerajaan Arab Saudi, dengan provider Yayasan Al Manarah al Islamiyyah yang dibina oleh Syaikh Khalid Al Hamudi, seorang dai muda dan pengusaha Saudi yang concern isu keumatan.

Berkali-kali, beliau menghajatkan helatan Multaqa Ulama dan Dai se-Asia Tenggara, sampai Ulama dan Dai se-Dunia baru-baru ini di Padang, dan alhmadulillah, saya bisa bersua kembali dengan beliau di Padang bulan Juli lalu.

Tahun ini (2017), Yayasan Al Manarah Islamiyah mengundang haji sekitar 120 orang, termasuk 30-an kepala suku asal Papua, juga ustaz Bachtiar Nasir, ustaz Tengku Zulkarnaen, dll. Tahun saya berangkat, saya satu rombongan bersama Wali Kota Padang Pak Mahyeldi, Hafiz Cilik si Kembar, Masyita, Kayla, Pak Nafaris dan Naftali (Kepala Suku Papua), Mas Amrulya (Mualaf Center Yogyakarta), Agus Abdullah (Ketua JITU), dll dengan kepala rombongan ustaz Umar Makka.

Kembali menuju Arafah, saya ingat sekali, saat itu adalah hari Sabtu di Arafah yang syahdu. Sehari sebelumnya, setelah shalat Jumat di Masjidil Haram, sorenya kami bersiap berangkat ke Mina untuk mabit. Kami ke Mina sudah berihram, bersiap menjalani prosesi haji empat hari ke depan.

Untuk jamaah haji Indonesia reguler sepertinya tidak bermalam di Mina pada tanggal 8 Dzulhijjah, tapi langsung ke Arafah. Sedangkan saya bersama rombongan undangan kerajaan dari pelbagai provider bermalam di Mina, khususnya di Maktab 50.

Kalau di lihat di papan maktab 50, maktab ini adalah maktab gabungan Asia Tenggara. Maktab ini terletak di pinggir jalan antara terowongan ke dua dan ketiga menuju jamarat untuk lempar jumrah. Karenanya, di samping maktab 50, banyak orang berseliweran khususnya nanti saat masa-masa lempir jumrah.

Untuk Mina, akan ada catatan tersendiri, mengingat 4 hari kami berada di Mina, mulai tanggal 10 Dzulhijjah hingga berakhir tasyrik karena mengambil nafar tsani, sebelum thawaf ifadhah.

Setelah shalat subuh di dalam tenda di Mina, kami harus bersiap-siap berangkat ke Arafah. Rupanya tenda yang kami tiduri di Mina, bukan tenda milik rombongan kami. Terpaksa kami harus pindah, ke tenda yang lebih kecil, untuk menaruh tas, bersiap ke Arafah.

“Labbaik Allahumma Labbaik…Labbaikalaasyarikalakalabbaik….”
“Innal hamda…Wani’mata…”
“Lakawalmulk….Laasyarikalaka…”

Jujur, saat mengucapkan itu tiba-tiba air mata saya mengalir. Di depan maktab 50 di Mina, saya melihat lautan manusia berderet, bersiap menuju Arafah. Bersiap menunaikan rukun haji.

Ya Rabb, saya sekarang sudah sampai di rumah Mu!
Ya Rabb, berjuta rindu hambaMu, engkau tampakkan kekuasaanMu, memberangkatkan hambaMu yang hina dan lemah ini, bersimpuh di hadapanMu dengan membawa berjuta dosa dan alfa
Ya Rabb, inilah hambaMu yang bergelimang dosa, yang masih engkau berikan nikmat bersimpuh di Baitullah..
Ya Rabb, sebentar lagi hambaMu ini akan menuju Arafah, satu-satunya tempat jamaah haji secara bersamaan berkumpul dalam satu waktu
Ya Rabb, jadikan haji ini haji yang mabrur, haji yang benar-benar engkau ridhoi, ijabah segala permintaan hambaMu

“Labbaik Allahumma Labbaik…Labbaikalaasyarikalakalabbaik….”
“Innal hamda…Wani’mata…”
“Lakawalmulk….Laasyarikalaka…”

Ya Rabb, inilah kami, Kami yang akan memenuhi seruanMu
Tiada sekutu bagi-Mu dan kami insya Allah memenuhi panggilan-Mu.
Sesungguhnya segala pujian, nikmat dan begitu juga kerajaan adalah milik-Mu dan tidak ada sekutu bagi-Mu.

Dengan mantap, dan mata berkaca saya menaiki bus yang mengantar kami ke Arafah. Bus bercampur dengan beragam jamaah dari pelbagai negara di daerah maktab 50. Saya lihat ada orang Arab, Eropa, Jepang, dan sebagainya.

Saya kebagian berdiri di bagian tengah, laiknya berdiri di atas commuter dari Sudirman ke Tebet, bus ‘odong-odong’ Abu Sharhaad yang cukup panjang ini menampung para tamu Allah menunaikan rukunnya.

Tiba-tiba, di dalam bus menggema kalimat talbiyah..
Meleleh air mata ini.

“Labbaik Allahumma Labbaik…
“Labbaikalaa syarikalakalabbaik….”
“Innal hamda…Wani’mata…”
“Lakawalmulk….Laasyarikalaka…”

Pemandangan begitu dramatis, air mata ini terus meleleh, dengan mulut berucap kalimat talbiyah. Pemandangan di luar bus, ribuan, ratusan ribu orang, jutaan orang menyemut, bersiap berangkat ke Arafah.

Bus kami mengantre keluar Mina, melewati maktab-maktab, 50..51…52…55.. 70…dan terus, melihat orang berpakaian ihram putih-putih sepanjang perjalanan, diiringi terkadang kalimat takbir, dan talbiyah yang menggema, sebagaimana hadits nabi

“Kami berangkat pagi-pagi bersama Rasulullah dari Mina ke Arafah. Dalam rombongan kami, ada yg membaca talbiyah, & ada pula yg membaca takbir. (HR. Muslim No.2252).

Bus melaju melewati lautan manusia, melewati jalan layang, dan pemandangan Mina begitu dramatis, dengan lampu dan tenda-tenda di tiap maktab berderet sepanjang kiri, kanan, putih mengkilap. Di sinilah, jutaan jamaah haji akan menginap tiga hari setelah Arafah.

Sekira jam 9-nan, saya dan rombongan maktab 50 tiba di Arafah. Memasuki kawasan ‘arafah’ kita akan menemukan plank besar, semacam baligo yang menandankan bahwa ‘selamat datang di Arafah’, dan dikelilingi tanaman-tanaman entah kurma, entah seperti tanaman yang cukup rimbun yang cukup banyak di Arafah.

Di sana berjejer tenda-tenda semi terbuka, terbuka, atau ada yang tertutup. Ada spanduk dari mana jamaah-jamaah apakah dari kloter ini, atau haji khusus atau penanda. Sedangkan, jamaah rombongan kami, rupanya tidak ada spanduk-spanduk khusus.

Kami sempat –lagi-lagi- salah masuk tenda, karena nantinya itu ada yang menempati kalau tidak salah dari rombongan haji khusus (ONH Plus). Walhasil, kami pindah ke sebuah tenda. Waktu Arafah adalah setelah shalat zuhur hingga matahari terbenam, itulah Arafah dan kita, jamaah haji diwajibkan wukuf di Arafah.

Sebelum masuk zuhur, beberapa jamaah yang kelelahan tampak tidur-tiduran, karena persiapan nanti siang. “Yang mau istirahat bisa sekarang, nanti kita fokus wukuf,” kata beberapa ustaz.

Ada tiga ustaz dalam rombongan jamaah haji undangan. Pertama ustaz Khudori, yang merupakan staf atase agama Kedubes Saudi Arabia, belakangan saya tahu beliau sebagai aktivis MIUMI (Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia). Ada juga ustaz Faruq, yang lebih sepuh. Dan terakhir, ustaz Umar Makka, yang merupakan amir (pemimpin) rombongan undangan haji Syaikh Khalid Al Hamudi, Yayasan Al Manarah Islamiyah.

IMG-20160912-WA0025
Suasana tenda menjelang wukuf Arafah, saya sedang memegang ‘aqua’, di tengah belakang. Tampak dua orang kepala suku Papua, mas Amrulya dari Mualaf Center (masker), kang Zaenal (pabrik Nike). Foto : rizkilesus

Saya pun berusaha mengingat tempat tenda kami berkumpul, melihat di mana toilet yang sudah dipenuhi jamaah haji dari pelbagai tempat di dunia. Padan arafah dipenuhi pasir-pasir, dan juga pohon juga sebagian paving untuk jalur pedestrian.

Di atas pasir, didirikan tenda-tenda, yang memiliki celah. Terik matahari menggantung menyelusup ke dalam tenda-tenda jamaah. Satu tenda besar bisa diisi oleh 300 orang. Kalau di dalam tenda, suasana agak pengap, karenanya orang-orang banyak berjalan-jalan sebelum waktu wukuf Arafah.

“Arafah yang Syahdu,” begitulah saya menamainya, sebagaimana dua bulan sebelumnya saya menamai judul tulisan rubrik ‘Inspiring Quran’ yang diasuh ustaz Budi Prayitno. Dalam ceramahnya, yang saya transkrip, ustaz Budi menceritakan tentang kesyahduan Arafah.

Ada juga sebelumnya saya beri judul ‘Nasi Ayam Kiriman Allah’, tentang jamaah haji yang didatangi orang-orang Arab dan diberi makanan di tenda-tenda di Arafah, yang tak disangka saya pun mengalaminya langsung.

Saya juga yakin, setiap orang yang pernah merasakan wukuf di Arafah, akan merasakan perasaan ‘Arafah yang Syahdu’ yang sulit terungkap. Hanya air mata dan hati yang terus tergedor yang dapat merasakannya.

Bersimpuh sendiri, mematung, sebagaimana halnya sang Nabi duduk menangkupkan kedua tangannya dan mematung hingga gelap menjelang. Arafah yang syahdu, begitu membekas. Sulit diungkapkan :), berjuta cerita, berjuta makna.

Menurut baginda Nabi, Haji adalah Arafah. Arafah yang merupakan rukun, adalah momen yang sangat penting dalam ritual ibadah haji. Arafah adalah puncak ibadah haji.

“Dan saat Arafah, Allah membanggakan para jamaah haji di hadapan malaikat dan penghuni langit. Arafah adalah waktu ‘wisuda’ bagi jamaah haji. Arafah adalah bagian yang sangat penting,” begitu kata ustaz Budi Prayitno.

Singkat memang, hanya enam jam sajan  waktu wukuf itu, namun begitu bermakna. Arafah mengajarkan kehidupan yang begitu singkat, dan memang begitulah memang kehidupan.
Singkatnya waktu wukuf hanya dari zuhur hingga magrib, menandakan bahwa kehidupan kita yang singkat. Memasuki Arafah, jamaah ditentukan waktunya. Pun saat keluar, ada saat yang ditentukan. Menuju ke Arafah, yang dihitung sebagai wukuf, adalah saat mulai shalat zuhur pada tanggal 9 Zulhijjah. Usai shalat Maghrib, jamaah meninggalkan Arafah.
Begitulah hidup kita. Ketika Allah menakdirkan kita lahir, maka lahirlah kita. Jika Allah menakdirkan kita meninggal, maka meninggallah kita. Arafah adalah gambaran jelas bahwa hidup kita akan seperti wukuf di padang Arafah.

Kita akan lahir di waktu dan tempat yang sudah ditentukan. Kita pun akan mati, di waktu yang telah Dia tentukan.

Menjelang zuhur, sang Nabi dulu menyampaikan khutbah Arafah, yang begitu kesohor. Dan saat ini, di Arafah, kami pun menyimak khutbah Arafah dari ustaz Khudori. Sebelum khutbah, ustaz Khudori mengingatkan kami agar menelepon keluarga di Indonesia, karena begitu pentingnya Hari Arafah ini.

“Kita telepon ibu kita, istri kita, anak kita, orang-orang yang kita cintai di Indonesia, karena setelah ini kita akan masuk waktu wukuf. Menangislah, meminta maaflah kepada mereka, jika kita banyak salah, akui segala kesalahan kita,” kata ustaz Khudori.

Namun, tak semua orang bisa menelepon langsung, karena sepertinya jaringan begitu sibuk dan ramai, bayangkan ada 2 juta orang berkumpul! Ustaz Khudori menyampaikan khutbah Arafah yang begitu menyentuh, sukses membuat kami menangis sesenggukan.
Khutbah itu, akan saya tuliskan di dalam tulisan berbeda setelah ini. Seperti nasehat para ustaz, Arafah adalah saat kita merasakan kedekatan dengan Allah. Di Arafah, kita berusaha mengenal diri kita, bertafakkur diri.

Ketika kita mencoba mengenal diri, maka saat itu pula kita tengah mencoba mengenal Allah. Di Arafah, kita juga menghisab diri, merenungi dosa-dosa yang pernah kita lakukan. Kita menghitung amal yang begitu sedikit. Kita melihat masa depan, memikirkan apa yang bisa kita lakukan dengan amal dan ilmu yang sedikit ini. Kita menghitung dosa yang begitu banyak.

Di Arafah, tangis kita tumpah. Terisak-isak bersimpuh pada-Nya. Arafah adalah tempat dan waktu yang sangat spesial di muka bumi. Hanya pada tanggal 9 Dzulhijjah. Di titik itu, orang boleh melakukan wukuf, yang hanya bisa dilaksanakan di Padang Arafah.

Di Arafah, kita bertafakkur, yang berujung pada mengenal diri dengan baik, dan mengenali Allah. Mengenali setiap kekurangan diri, dan bertekad memperbaikinya usai Arafah. Mengenal Allah dengan baik, mengetahui secara persis bahwa Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Dia memiliki Nama-Nama yang baik, memiliki Kuasa di atas segala Kuasa, dan Kemampuan di atas segala Kemampuan. Dia yang akan menaikkan, menurunkan, membuka, atau menutup segalanya. Di Padang Arafah, kita akan merasakan kedekatan dengan Allah.

Dan pada saat itu, seharusnya kita mendapat pemahaman lebih tentang diri kita. Kita akan terus bersimpuh, bersujud, malu kepada Allah, karena begitu banyak nikmat yang Ia berikan. Betapa sedikit amal yang kita lakukan. Dan pada saat yang sama, merasakan betapa banyak dosa yang kita lakukan.

Arafah adalah tempat dan saat terbaik di dunia. Arafah dalah tempat di mana tangis kita tumpah, pengakuan diri menggelegak. Arafah, adalah saat dan tempat di mana kita tak memiliki dinding dengan diri kita sendiri. Pengakuan dosa-dosa, kekurangan diri, dan komitmen tinggi untuk memperbaiki diri.

Usai khutbah, dan ditutup doa berurai air mata, kumandang azan mengalun syahdu. Khutbah dan shalat digelar di tiap-tiap tenda grupnya. Shalat digelar dengan jamak dan qashar.

Ya Rabb,,,inilah hambaMu yang hina, kini berdiri, rukuk, sujud di Arafah…..

Tak terasa, suasana begitu mengaduk-aduk emosi. Shalat yang begitu membekas. Dengan segala kesyahduan dan kerinduan akan Arafah. Bahwa setelah shalat, waktu itu tiba. Waktu dan tempat terbaik di dunia : Wukuf di Arafah.
Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s