Filsafat Tuhan dan Tuhan Filsafat, antara Barat dan Islam


Beberapa waktu lalu,saya pernah berdiskusi ,dan meperbincangkan tentang agama yang awalnya tentang konsep agama,peradaban akhirnya menjurus pada pertanyaan-pertanyaan tentang tuhan.Terkadang pertanyaan-pertanyaan ini sangat menarik dan sangat sulit untuk menjawabnya.Sulit sekali karena tentunya saya sebagai muslim berkeyakinan bahwa Tuhan itu ada ,dan memperkenalkan dirinya dengan diutus rasul-rasul yang membawa risalahNya.Disisi lain,ada yang mempertanyakan tentang keeksisan Tuhan itu sendiri.Dan jika berdiskusi tentang Tuhan,seolah-olah filsafat bermain disini tanpa adanya batasan-batasan dari agama.Pertanyaan-pertanyaan yang “berat” seperti Apakah Tuhan mampu menciptakan Tuhan lain yang menyamai diriNya,atau Sanggupkah Tuhan menciptakan makhluk yang sama dengan dirinya

Sebenarnya saya sudah mengtahui arah pertanyaan selanjutnya dan konsekuaensi .jawabannya. Baik jawaban positif maupun negatif hasilnya sama saja.Kita simpulkan Tuhan tidak berkuasa.Jika dia tidak bisa menciptakan,maka dia Tidak Kuasa,jika dia mampu menciptakan,maka tetap dia Tidak Kuasa,karena Tuhan tidak perlu Tuhan lain alias sendiri saja sudah cukup.Pertanyaan –pertanyaan seperti ini dapat dipastikan pertanyaan seorang sekuler atau ateis, pikir saya. Dan saya juga yakin, sebenarnya ia tidak membutuhkan jawabannya..

Jawaban untuk semacam pertanyaan ini tentu saja dapat dijawab dengan keimanan masing-masing agama,ataupun pembuktian Theis ,agamama manapun bahwa Tuhan itu ada,maka dari itu sebelum menjawab pertanyaan diatas,maka saya tanyakan balik,coba ceritakan Tuhan yang kamu maksud itu seperti apa??Definisi Tuhan menurut kamu itu seperti apa??Tentu jika dia atheis aneh sekali mengurusi hal-hal ketuhanan seorang Theis,jika dia Theis,maka ini menjadi ironi sebab dalam Theis,terdapat yang namanya keimanan,selain juga berfilsafat.Maka akan terjadi benturan antar theis dengan memperbandingkan Tuhannya masing-masing.Coba kita lihat perkataan Newton

Ketuhanan dalam agama Yahudi dan Kristen, sangat problematic. Karena itu, ia ditolak sains
Pertanyaan apakah Tuhan bisa membuat lebih baik dari yang ada ini, pernah diajukan Peter Abelard. Dia sendiri juga bingung menjawab. Pertanyaan orang-orang seperti ini mungkin nyontek dari situ. Tapi yang jelas bukan dari pikirannya sendiri. Apa makna Tuhan baginya kabur. Bertanya tanpa ilmu akhirnya menjadi seperti sebuah hiburan,karena yang bertanya tidak tahu apa yang sebenarnya ia tanyakan.Dan menjadikannya sebagai guyonan semata
Di Barat, diskursus tentang Tuhan memang marak dan terkadang mirip guyonan. Presedennya karena teologi bukan bagian dari ketetapan permanen tapi dapat berubah . Layaknya wacana furu’ dalam fiqih. Ijtihad tentang Tuhan terbuka lebar untuk semua. Siapa saja boleh bertanya apa saja. Akibatnya, para teolog kewalahan.Filsafat memang berkembang disana dimulai dari zaman Yunani sampai romawi. Pertanyaan-pertanyaan rasional dan protes-protes teologis gagal dijawab. Teolog lalu digeser oleh doktrin Sola Scriptura. Kitab suci bisa difahami tanpa otoritas teolog, sosiolog, psikolog, sejarawan, filosof, saintis dan bahkan orang awam pun berhak bicara tentang Tuhan.

Hadits Nabi jika suatu perkara diberikan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah waktu [kehancuran] nya) terbukti. Katolik pun terpolarisasi menjadi Protestan. Protestan menjadi Liberal dan al-sa’ah itu barangkali lahirnya apa yang disebut dengan modern atheism. Dalam tulisan sebelumnya bagaimana peradaban Barat yang tersisa saat ini hidup dari masa lalu yang suram.Barat maju karena membahas hal yang seperti ini.Ada yang namanya sekulerisme dan Liberalisme.Dan maju akibat meninggalkan agamanya
Apa kata Michael Buckley dalam At The Origin of Modern Atheism meneguhkan sabda Nabi. Ateisme murni di awal era modern timbul karena otoritas teolog diambil alih oleh filosof dan saintis. Terbukti bahwa ada yang namanya modernism yang identik dengan barat dan membuang nilai-nilai Tradisonal yang Barat menganggapnyasebagai sesuatu yang tidak masuk akal.Ini karena kekelaman masa lalu Barat dan Traumatis Barat dengan agamanya dimana disaat itu terjadi era yang namanya “Dark Age” saat gereja sangat berkuasa dan setelah itu muncul yang namanya era “Rennaisance” dimana mereka sudah meninggalkan agama mereka,mempertanyakan tentang ketuhana,dll

Descrates hanya percaya Tuhan filsafat, bukan Tuhan teolog, Lalu siapa yang bermasalah? Bisa kedua-duanya. Ini membingungkan. Pernyataan eksplisit Jika barat trauma dengan agama yang dianutnya sebagai sebuah Teologi,maka pernyataan Descrates bahwa bukan Tuhan teolog yang ia percaya,bisa jadi karena memang ada permasalah tentang Teologi di Barat saat itu.
Konsep Tuhan akhirnya harus dicari dengan hermeneutik dan kritik terhadap teks Bible. Tapi malangnya kritik terhadap Bible (Biblical Criticism), bukan tanpa konsekuensi. Biblical Criticism, kata Buckley, justru melahirkan ateisme modern. “Modern Atheism”yang sekarang sedang berkembang di Barat.Sebuah pemikiran bahwa Tuhan itu Tuhan Filsafat,bukan Tuhan Teolog…
Alasan-alasan para filosof ini sebenarnya lugas dan logis. Ketika orang ragu akan teks Bible ia juga ragu akan isinya, akan kebenaran hakekat Tuhan dan kemudian tentang kebenaran eksistensi Tuhan sendiri. Hasil akhirnya adalah ateisme.
Tapi ateisme modern bukan mengkufuri Tuhan, tapi Tuhan para teolog tuhan agama-agama. Yang problematik, kata Voltaire bukan Tuhan tapi doktrin-doktrin tentang Tuhan. Tuhan Yahudi dan Kristen, kata Newton problematik karena itu ia ditolak sains. Tuhan, akhirnya harus dibunuh. Nietzche pada tahun 1882 mendeklarasikan bahwa Tuhan sudah mati.

Tapi ia tidak sendiri. Bahkan bagi Feuerbach, Karl Marx, Charles Darwin, menyatakan jika Tuhan belum mati, tugas manusia rasional untuk membunuhNya. Tapi Voltaire (1694-1778) tidak setuju Tuhan dibunuh. Tuhan harus ada, seandainya Tuhan tidak ada, kita wajib menciptakannya. Hanya saja Tuhan tidak boleh bertentangan dengan standar akal. Hal ini seperti yang saya sebutkan diawal ,menjadi sebuah hiburan dan guyonan tentang Tuhan itu sendiri.

Belakangan Sartre seorang filosof eksistensialis mencoba menetralisir, Tuhan bukan tidak hidup lagi atau tidak ada, Tuhan ada tapi tidak bersama manusia. “Tuhan telah berbicara pada kita tapi kini Ia diam”. Sartre lalu menuai kritik dari Martin Buber seorang teolog Yahudi. Anggapan Sartre itu hanyalah kilah seorang eksistensialis. Tuhan tidak diam, kata Buber, tapi di zaman ini manusia memang jarang mendengar. Manusia terlalu banyak bicara dan sangat sedikit merasa. Filsafat hanya bermain dengan imej dan metafora sehingga gagal mengenal Tuhan, katanya.
Itulah akibat memahami Tuhan tanpa pengetahuan agama, tulisnya geram.

Filosof berkomunikasi dengan Tuhan hanya dengan fikiran, tapi tanpa rasa keimanan. Martin lalu menggambarkan “nasib” Tuhan di Barat melalui bukunya berjudul Eclipse of God. Saat Blaise Pascal (1623-1662) ilmuwan muda brilian dari Perancis meninggal, dibalik jaketnya ditemukan tulisan “Tuhan Abraham, Tuhan Ishak, Tuhan Yakub, bukan Tuhan para filosof dan ilmuwan.” Kesimpulan yang sangat cerdas. Inilah masalah bagi para filosof itu.
Begitulah, Barat akhirnya menjadi peradaban yang “maju” tanpa teks (kitab suci), tanpa otoritas teolog, dan last but not least tanpa Tuhan. Barat adalah peradaban yang meninggalkan Tuhan dari wacana keilmuan, wacana filsafat, wacana peradaban bahkan dari kehidupan publik.
Tuhan, kata Diderot, tidak bisa jadi pengalaman subyektif. Jikapun bisa bagi Kant juga tidak menjadikan Tuhan “ada”. Berfikir dan beriman pada tuhan hasilnya sama. Kant gagal menemukan Tuhan. Kant mengaku sering ke gereja, tapi tidak masuk. Ia seumur-umur hanya dua kali masuk gereja: waktu di baptis dan saat menikah. Maka dari itu Tuhan tidak bisa hadir dalam alam pikiran filsafatnya.
Muridnya, Herman Cohen pun berpikir sama. “Tuhan hanya sekedar ide”, katanya. Tuhan hanya nampak dalam bentuk mitos yang tak pernah wujud. Tapi anehnya ia mengaku mencintai Tuhan. Lebih aneh lagi ia bilang “Kalau saya mencintai Tuhan”, katanya, “maka saya tidak memikirkanNya lagi.” Hatinya kekanan fikirannya kekiri. Pikirannya tidak membimbing hatinya, dan cintanya tidak melibatkan pikirannya.
Tuhan dalam perhelatan peradaban Barat memang problematik. Sejak awal era modern menggambarkan mind-set manusia Barat begini: Theology is known by faith but philosophy should depend only upon reason. Maknanya teologi di Barat tidak masuk akal dan berfilsafat tidak bisa melibatkan keimanan pada Tuhan. Filsafat dan sains di Barat memang area non-teologis alias bebas Tuhan. Tuhan tidak lagi berkaitan dengan ilmu, dunia empiris. Tuhan menjadi seperti mitologi dalam khayalan. Akhirnya Barat kini, dalam bahasa Nietzche, sedang “menempuh ketiadaan yang tanpa batas”.
Tapi anehnya, kita tiba-tiba mendengar mahasiswa Muslim “mengusir” Tuhan dari kampusnya dan membuat plesetan tentang Allah gaya-gaya filosof Barat. Ini guyonan yang tidak lucu, dan wacana intelektual yang aneh. Jika ada muslim yang ikut-ikutan berguyon tentang Tuhan,yang dari awal sudah jelas,dan tidak membingungkan tentunya agak rancu karena ia sendiri mewacanakan yang Baratpu dibuat kebingungan setengah mati

Konsep Tuhan dalam tradisi intelektual Islam tidak begitu. Konsep itu telah sempurna sejak selesainya tanzil. Bagi seorang pluralis ini jelas supremacy claim. Tapi faktanya Kalam dan falsafah tidak pernah lepas dari Tuhan. Mutakallim dan filosof juga tidak mencari Tuhan baru, tapi sekedar menjelaskan. Penjelasan Al-Quran dan hadith cukup untuk membangun peradaban.
Ketika Islam berhadapan dengan peradaban dunia saat itu, konsep Tuhan, dan teks Al-Quran tidak bermasalah. Hermeneutika allegoris Plato maupun literal Aristotle pun tidak diperlukan. Hujatan terhadap teks dan pelucutan otoritas teolog juga tidak terjadi. Malah kekuatan konsep-konsepnya secara sistemik membentuk suatu pandangan hidup (worldview).

Islam tidak ditinggalkan oleh peradaban yang dibangunnya sendiri. Itulah sebabnya ia berkembang menjadi peradaban yang tangguh. Roger Garaudy mengatakan Islam adalah pandangan terhadap Tuhan, terhadap alam dan terhadap manusia yang membentuk sains, seni, individu dan masyarakat.
Islam membentuk dunia yang bersifat ketuhanan dan kemanusiaan sekaligus. Jika peradaban Islam dibangun dengan gaya-gaya Barat menghujat Tuhan itu berarti mencampur yang al-haq dengan yang al-batil,yang seharusnya Muslim bangga menjadi seorang muslim,bukannya malah ikut-ikutan kebingungan seperti Barat.Tentan pengantar peradaban Islam bisa di baca disini

Wallahu alam
Sumber Bacaan:
Filsafat Islam,Mizan
Hidayatullah: Dr.Hamid Fahmi Zakarsy

  1. Di dunia filsafat, agama malah sering dianggap sebagai bentukan dari filsafat, dan Tuhan didefinisikan dari pemikiran manusia, bukan diinformasikan dari utusanNya. Filsuf Yunani yang terkenal, Socrates, juga merumuskan gagasan tentang Tuhan dari hasil pikirannya, dan membuang keyakinan Yunani kuno yang menyembah banyak Dewa. Baik yang meyakini Tuhan Filsafat maupun Tuhan Teolog, pertanyaan besarnya sama, bagaimana hubungan antara Tuhan dengan Manusia? untuk menentukan aspek epistemologi dalam mengembangkan sains.

    • syauqi
    • August 13th, 2010

    wa masih betanya2 mengapa arah perkembangan filsafat tentang Tuhan malah menjadi semakin destruktif semenjak post-Kantian? dan mengapa filsafat theodicy masih jadi acuan?

    tapi yah, memang mungkin yg paling bisa menjelaskan kondisi teolologi kristen di eropa adalah jika kita mempelajari konsep2 “Gott ist Tot”-nya Nietzsche..

    sebuah keputusasaan Kierkegaard ketika menghadapi akhir zaman Aufklarung, dimana keyakinannya yg justru merupakan hasil perenungan filsafatnya, harus pasrah menghadapi kenyataan masa itu, yaitu ketika akal manusia mampu melebihi agama :

    “Aku bertanya: apa artinya ketika kita terus bersikap seolah-olah semua itu sebagaimana mestinya, menyebut diri kita Kristen berdasarkan Perjanjian Baru, ketika cita-cita Perjanjian Baru telah hilang dari kehidupan? Suatu ketimpangan luar biasa di mana situasi dan peristiwa saat ini telah menunjukkan, yang apalagi, telah banyak dipersepsikan. Mereka ingin menunjukkan perubahan ini: manusia telah melampaui Kristen.“

    sayangnya, meski konteksnya adalah kekristenan, orang2 berbuat tidak fair dengan mengikut2kan Islam dalam permasalahan mereka.. bahwa akal manusia dapat melampaui semua agama, termasuk islam..

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: