Keberadaan Tuhan berdasarkan Argumen Penciptaan


Argumen penciptaan atau lebih dikenal dengan cosmological argument adalah argumen klasik yang dalam sejarah dikembangkan banyak pihak baik Kristen atau Islam. Selain argumen penciptaan, ada argumen lain yang cukup terkenal seperti argumen desain (atau dalam dunia filsafat dikenal dengan istilan teleological argument)

Premis pertama

Ada beberapa jenis premis pertama yang saya temukan.

1. Bahwa segala sesuatu yang ada sekarang adalah wujud yang ‘mungkin’, wujud yang ‘mungkin’ membutuhkan wujud yang ‘mutlak’. Contoh antara kita dan orang tua kita. kita adalah wujud yang mungkin sedang orang tua kita adalah wujud mutlak. Kita sebagai wujud mungkin, tidak harus ada meskipun orang tua ada. Tapi kalau kita ada, maka pasti ada orang tua. Kalau dirunut terus orang tua itu juga merupakan wujud mungkin terhadap kakek dan nenek kita. Terus begitu dan begitu pula alam semesta kita.
2. Setiap yang memiliki permulaan memiliki sebab. Apapun yang kita indera yang memiliki permulaan pasti ada sebabnya. sudah tidak bisa kita pungkiri di dunia ini ada hukum sebab akibat. Hanya saja hukum ini sebenarnya berlaku lebih spesifik pada sesuatu yang memiliki permulaan. Alam semesta ini memiliki permulaan karena itu alam semesta ini memiliki sebab.
3. Segala realitas yang kita dapat indera, ternyata terbatas sehingga tergantung pada yang lain. Agar saya bisa hidup maka saya bergantung pada yang lain, tidak ada orang yang tidak bergantung pada yang lain. Manusia butuh oksigen, oksigen dihasilkan tumbuhan, tumbuhan butuh air, air berasar dari hujan, hujan butuh penguapan, dst. Semuanya terbatas sehingga semuanya saling menggantungkan diri. Nah tapi tidak akan ada yang eksis, bila tidak ada sesuatu yang tidak bergantung pada apapun lebih dahulu. Sesuatu yang tak terbatas ini yang memulai siklus saling bergantung itu. Tidak mungkin close loop. Kalau A bergantung pada B dan B bergantung pada C sedang C bergantung pada A. Maka loop ini tidak akan pernah dimulai. Pada mulanya tidak ada apa-apa karena untuk eksis setiap entitas bergantung pada yang lain.

Premis kedua

Argumen penciptaan ini berkaitan dengan penciptaan alam semesta pertama kali. Walau ini argumen kedua tapi ini adalah argumen kunci. Kalau kita gunakan argumen wujud mungkin dan mutlak, pertanyaannya kan mengapa tidak terus ada atau abadi. Mekanisme mungkin mutlak ini terus berlanjut tanpa ada awal dan mungkin tanpa ada akhir. Pemikiran ini menganggap alam semesta itu abadi sehingga tidak perlu ada tuhan. Tapi benarkah alam semesta itu abadi?

Inti alam semesta abadi ada kaitannya dengan konsep “tak terhingga” atau “infinity”. “Tak terhingga” memang dipakai dalam dunia matematika , namun hanya dalam tataran konsep atau pendekatan tapi tidak benar-benar nyata. Pada dunia nyata yang bisa kita indera, tidak ada yang tak terhingga. Kalau dengan cara ketiga di premis pertama kita tahu semua hal itu terbatas dan kumpulan sesuatu yang terbatas itu tetap terbatas. Meski sangat banyak, pasir di pantai sebenarnya jumlahnya terbatas.

Dalam kaitannya dengan penciptaan alam semesta pertama kali, saya harus membuktikan bahwa masa lampau itu terbatas dan karenanya tidak abadi. Saya akan memulainya dengan contoh. misalnya Anda adalah seorang tentara yang sedang berlatih menembak. Anda hanya baru boleh menembak setelah orang disebelah Anda menembak. Dan orang disebelanya itu hanya boleh menembak setelah orang sebelahnya lagi menembak. Begitu seterusnya. Dan tentara yang ada jumlahnya tak terhingga. Pertanyaannya apakah Anda akan pernah menembak. Jawabannya tidak.

Begitu pula dengan alam semesta ini. Jika masa lalu itu tak terhingga akankah alam semesta bisa ada saat ini? Karena alam semesta ini ada saat ini maka garis waktu ke masa lampau harus berhenti pada suatu titik.

Kesimpulan

Sampai di sini kesimpulan adalah ada “satu sebab yang tidak memiliki awal dan akhir tempat bergantung segala sesuatu”. Apakah ini tuhan? Saya belum bisa bicara banyak. Menurut saya kunci apakah itu tuhan atau bukan adalah adanya kehendak. Kehendak ini menunjukkan adanya personalitas bukan sesuatu yang mekanistis.

Anggap big bang adalah awal dari alam semesta. Awal mula big bang adalah kondisi kuantum vakum di mana ada massa sangat besar dengan volume sangat kecil hampir tidak ada apa2. Nah ini artinya kepadatannya sangat besar. Pertanyaanya mengapa konsidi tersebut tidak terus berlangsung seperti itu saja. Mengapa harus terjadi big bang?

Kalau air berada dalam suhu nol derajat dengan tekanan normal maka dia akan terus dalam kondisi berupa es. Es ini hanya akan berubah menjadi air atau uap bila ada yang mengubah kondisi. Beginilah hukum fisika untuk perubahan wujud zat. Namun hukum tersebut tidak membuat es jadi air lalu jadi uap, perlu ada yang menaikkan temperatur. Perubahan pada alam semesta memang mengikuti hukum-hukum fisika, tapi hukum fisika bukanlah sebab dari alam semesta. Perubahan kondisi inilah mengindikasikan adanya kehendak.

Sampai di sini kita dapat menyimpulkan bahwa Zat yang merupakan sebab pertama dari semua entitas, yang tidak memiliki awal dan akhir dan menjadi tempat tergantung semuanya, ternyata memiliki kehendak. Pada kondisi ini saya berani bilang, Zat ini adalah Tuhan.

“Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.” (Al Ikhlas: 2)

Allahu’alam[]

http://www.facebook.com/?ref=home#!/note.php?note_id=492442757584

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: