Fenomena Hijab,Apakah dianjurkan?


Hijab, Sunnah,Anjuran atau meniru-niru?

Sejak SMA,saya memutuskan untuk belajar tentang Islam,setelah sebelumnya, saya melakukan pendekatan dengan logika terhadap agama-agama,saya mengikuti organisasi kesilaman,agar lebih mengenal Islam.Saat itu saya bisa dibilang tidak tahu apa-apa sama sekali.Di DKM,sepertinya saya mulai mengenal istilah-istilah arab seperti hijab, akhwat ,ikhwan,afwan,dll yang baru saya ketahui.

Nyambung dengan judul diatas,maka saya menemukan fenomena di SMA,juga mungkin yang umum dimesjid-mesjid.Bahwa terkadang jika ada syuro atau rapat menggunakan tabir,sehingga interaksi pria dan wanita hanya saling mendengar,tidak saling melihat.Juga terkadang tidak hanya apda rapat,bahkan saat ada acara juga,dipisahkan dengan memakai tabir penghalang (hijab).

Tentu saya yang saat itu masih baru kenal dengan ilmu-ilmu baru,bertanya.,lalu mencari jawabanya.Bertahun-tahun saya coba cari literature juga ustadz2,yang menyatakan bahwa memang dizaman nabi yang teradi seperti itu.Sepert pada zaman sekarang ini.DImana di tempat saya kuliah, jika di mesjid saya hijabnya tidak tinggi suka ada yang memperasalahkan sehingga akhwatnya terlihat.Namun apakah yang dia permasalahkan itu sebenarnya sesuai syariat atau tidak.

Akhirnya saya menemukan literature yang cukup lengkap membahas masalah tentang hal ini.Ternyata jawabannya sangat jauh dari yang diterapkan sekarang.Kenapa?

Karena zaman nabi, pertemuan pria dan wanita tidak pernah menggunakan hijab .Tidak ada riwayat bahwa di mesjid itu ada pembatas,atau saat bertemu,menuntut ilmu,rasul ceramah,dll.Tidak ditemukan riwayat bahwa mereka bertemu dengan dibatasi sesuatu yang sering disebut hijab.

Lalu kebiasaan sekarang muncul darimana? Saya tidak tahu.Coba kita lihat kisah-kisah menarik dizaman rasul.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah- rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya,tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri- isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.
( Al Ahzab :53)

Ayat diatas secara gamblang sekali berbicara tentang rumah tangga Rasulullah dan para istri beliau,bukan rumah tangga kaum muslimin secara umum.

Umar ra berkata:”Wahai Rasulullah,orang baik dan orang jahat masuk ke rumahmu.ALangkah baiknya jika engkau perintahkan Ummahatul Mukminin berhijab.Lalu Allah SWT menurunkan ayat hijab (HR Bukhari)

Hadits diatas menerangkan bahwa Umar.ra berkata kepada Rasulullah saw” Suruhlahlah istri-istrimu berhijab “ bukan suruhlah istri orang2 mukmin berhijab,karena dia melihat ada sementara orang yang memandang istri rasul dengan tidak sopan mengingat rumah beliau dikunjungi oleh semua orang

Anas bin Malik r.a berkata ,”Ketika Nabi saw menikah dengan Zainab binti Jahsy ,beliau mengundang kaumnya Merekapun datang makan,dan duduk berbincang-bincang .Tiba-tiba beliau bersikap seolah-olah bersiap-siap untu bangkit .Setelah itu beliau bangkit dan bangkitpulalah beberapa orang ,sementara yang lain masih duduk saja.Kemudian Rasulullah datang lagi dan masuk ke dalam Rumah,beliau masih belihat ada beberapa tamu yang masih duduk,kemudian merekapun bangkit.Kemudian aku datang dan memberi tahu merelka telah pergi.Beliau datang lagi dan masuk rumah.Aku juga masuk lalu memasang tabir antara aku dengannya,lalu Allah SWT menutunkan ayat “hai orang –orang beriman,janganlah kamu memasuki rumah-rumah nabi..”(Al Ahzab ayat 53)Muslim menambahkan dalam riwayatnya ,Para istri nabi mengenakan hijab atau tabir (HR Bukhari dan Muslim)

Annas r.a berkata ,’Nabi saw tinggal (disuatu tempat) antara Khaibar dan Madinah selama tiga hari.Ketika itu beliau mengadakan pesta pernikahan dengan Shafiyyag binti Huyay.Sementara kaum muslimin mempertanyakan apakah Sahafiyyah adalah istri nabi atau sahaya beliau.Dan yang lain berkata ‘Jika nabi menghijabnya,maka dia adalah seorang Ummahatul Mukminin,kalau beliau tidak menghijabnya,maka ia adalah sahaya wanita beliau.Ketika nabi berangkat ,beliau membentangkan tabir dibelakangnya untuk membatasi wanita itu dengan orang lain (HR Bukhari dan Muslim)

Sekiranya hijab merupakan merupakan suatu kesempurnaan dari berbagai kesempurnaan yang dilakukan oleh setiap wanita yang digaulinya bukan sebagai pembantu untuk menghijab diri.Jika berhijab untuk selama-lamanya merupakan suatu keutamaan yang dianjurkan bagi kaum wanita,tentu Nabi saw akan selalu berbicara dengan kaum wanita dari balik tabir,baik dirumahnya,saat ceramah,dirumah sahabat,atau saat syuro sekalipun,dan pasti sahabat menirunya.

Jika hijab merupakan sebuah keutamaan.kelebihan bagi masyarakat Islam,tentu Rasulullah akan membuat ketentuan yang baik agar keutamaan hijab terealisasi seperti

1.Memasang Tabir antara shaft kaum laki-laki dan shaft kaum wanita di masjid

2.Menyediakan tempat khusus bagi kaum wanita yang jauh dari majelis kaum laki-laki untuk bertanya dan mengemukakan pendapat

3.menyediakan waktu khusus bagi wanita untuk melakukan thawaf,begitu pula laki-laki

4.Jika hijab merupakan sebuah keutamaan bagi wanita secara umum ,tentu Rasul tidak akan mau berdoa untuk Ummu Haram agar suatu ketika pergi berjihad bersama para Mujahidin menyebrangi lautan dan mati syahid di jalan Allah

Kesimpulannya,wanita muslimah yang berhijab secara berlebihan dan menganggap ada keutamaanya/lebih baik dan meniru-niru para istri rasul dianggap telah menandingi para Istri nabi dalam hal di khususkan bagi mereka.Hal itupun dianggap tidak sopan karena ingin memiliki martabat yang sama denga martabat Ummul Mukminin,padahal Allah telah jelas mengatakan “Wahai istri-istri nabi,kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain…”.Kitapun telah diangap menganjurkan sesuatu yang tidak dianjurkan dan membenci sesuatu yang sebenarnya baik untuk kita

Kekhususan hijab sudah ditetapkan bagi para Istri Nabi saw,dan dari sisi lain pertemuan laki-laki dengan wanita umum tanpa mengenakan hijab seperti halnya para istri Nabi sudah jelas keabsahannya.Semua telah ditetapkan dengan sabda,perkataan,dan perbuatan Rasulullah.

Dengan dasar ini tidak ada anjuran bagi para wanita muslimah untuk tidak bertemu dengan kaum laki-laki tanpa hijab seperti hijabnya istri-istri Rasul.Jika Rasulullah sendiri menolak tegas sikap yang menjauhkan diri dari segala sesuatu yang diperbolehkan ,maka apakah boleh kita menahan diri dari suatu masalah yang sebenarnya dianjurkan oleh Nabi saw?

Wallahua’lam
Dalil-dalil kekhususan hijab bagi Istri Nabi

Referensi : Kebebasan Wanita jilid 4, Abu Syuqqah

  1. Saya pernah mendengar dari Ustadz bahwa Fatimah Azzahra pernah ditanya tentang suatu kondisi yang paling baik, jawabannya, “Suatu kondisi yang laki-laki tidak bisa melihat perempuan ataupun sebaliknya”. Pernah mengetahui pernyataan seperti ini?

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: