Inspirasi Isi Quran dari mana???

Al-Qur`an merupakan satu-satunya kitab suci yang berasal dari Allah bagi seluruh umat manusia sebagai suatu peringatan dan petunjuk, dan terjamin validitasnya sampai hari kiamat. Umat manusia pernah mendapatkan beberapa kitab suci yang diturunkan sebelum Al-Qur`an. Akan tetapi, Allah telah menjamin pemeliharaan Al-Qur`an dan tidak ditemukan jaminan Allah untuk kitab-kitab lainnya selain Quran.Mengapa?? Mungkin karena Quran dibawa oleh nabi terakhir dan untuk seluruh manusia,juga Islam sudah disempurnakan,dimana saat dahulu dapat dibilang belum sempurna.Dalam ayat yang jelas disebutkan

“Sesungguhnya, Kamilah yang menurunkan Al-Qur`an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (al-Hijr: 9)

Klaim yang berkembang luas lainnya di antara orientalisme adalah bahwa Nabi Muhammad terinspirasi oleh kitab Taurat dan Injil kemudian menulis Al-Qur`an. Akar permasalahannya adalah bahwa klaim yang benar-benar imajiner dan sama sekali tidak mendasar ini menganggap adanya persamaan antara apa yang ada di dalam Al-Qur`an dan kitab Taurat dan Injil.Dari segi tuduhan saja,sudah menggunakan persepsi sendiri tanpa disertai penguat ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan

Adalah hal yang amat wajar bila terdapat kesamaan antara ketiga kitab tersebut karena—akhirnya (jika kita memandang pada bagian isi Taurat dan Injil)—ketiganya mengandung wahyu Allah dan pesannya adalah satu dan sama. Bahasan utamanya, seperti keberadaan Allah, Tauhidullah, sifat-sifat-Nya, keimanan terhadap hari akhir, karakteristik kaum mukminin, kaum munafikin, dan mereka yang menentang Allah, kehidupan bangsa-bangsa terdahulu, petunjuk, larangan, dan nilai-nilai moral, merupakan fakta-fakta universal dan akan tetap ada di sepanjang masa (bisa baca tentang gaya bahasa Quran disini)

Konsekuensinya, tidaklah mengherankan bila topik-topik ini yang disebutkan di dalam kitab-kitab suci sebelumnya menyerupai atau paralel dengan apa yang ada dalam Al-Qur`an. Sebenarnya, tidak ada pernyataan dalam Al-Qur`an bahwa Islam adalah agama yang sangat berbeda. Persamaan-persamaan tersebut dinyatakan dalam ayat Al-Qur`an sebagai berikut.

“Dan sesungguhnya Al-Qur`an itu benar-benar (tersebut) dalam kitab-kitab orang yang dahulu. Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka bahwa para ulama bani Israel mengetahuinya?” (asy-Syu’araa`: 196-197)

“Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah….” (an-Nisaa`: 131)

Selain itu, dinyatakan dalam Al-Qur`an bahwa Al-Qur`an membenarkan apa yang ada di dalam Taurat dan Injil,

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur`an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang….” (al-Maa`idah: 48)

Kualitas pembenaran kitab-kitab sebelumnya tidaklah aneh bagi Al-Qur`an, tetapi memang telah dinyatakan dalam semua kitab yang terdahulu tersebut. Ktab Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa a.s. membenarkan kitab sebelumnya, yaitu Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa a.s.. Kenyataan ini dinyatakan dalam Al-Qur`an,

“Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi-nabi bani Israel) dengan Isa putra Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.” (al-Maa`idah: 46)

Ini adalah hukum Allah dan tentulah berlaku juga bagi Al-Qur`an. Beberapa bahasan yang sama dengan yang terdapat dalam kitab-kitab suci lainnya telah disebutkan dalam Al-Qur`an. Permulaan dilakukannya ibadah haji oleh Nabi Ibrahim, yaitu dalam surah al-Hajj ayat 26 dan 27, adanya kewajiban shalat setiap hari dan membayar zakat sebelum masa Rasulullah terdapat dalam surah al-Anbiyaa` ayat 72 dan 73, dan akhlak mulia yang diperintahkan bagi semua nabi terdapat dalam surah al-Mu`minuun ayat 51; semuanya merupakan bahasan yang umum.(Nabi –nabi zaman dahulu juga shalat)

“Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) Ishaq dan Ya’qub, sebagai suatu anugerah (dari Kami). Dan masing-masingnya Kami jadikan orang-orang yang saleh. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah.” (al-Anbiyaa`: 72-73)

“Hai para Rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal saleh. Sesungguhnya, Aku Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-Mu`minuun: 51)

Kita dapat menyimpulkan bahwa terdapat keyakinan yang sama antara Al-Qur`an dan kitab-kitab suci lainnya, dan bahwa ini tidak saja alami, tetapi juga logis. Karenanya, keberadaan berbagai persamaan tersebut tidaklah saling bertentangan; justru hal tersebut lebih jauh memberikan penekanan akan kebenaran bahwa semua kitab suci tersebut berasal dari sumber yang satu, yaitu Allah. Ini adalah kenyataan yang dinyatakan dalam Al-Qur`an dan dibenarkan oleh akal dan logika.

Allah telah menurunkan ayat-ayat-Nya tentang bahwasanya Al-Qur`an adalah kitab yang benar yang diturunkan oleh-Nya dan keadaan mereka yang tidak mengimani kebenaran ini.Jika Muhammad yang mengarangnya tentu dia akan membuat keputusan-keputusan dalam Quran yang menguntungkan dirinya,tetapi apa yang terjadi,malah rasul dihujat dan berbagai macam percobaan pembunuhan dilakukan,dan untuk apa cape-cape melanjutkan jikasudah tidak menguntungkan berbahaya pula.Dan ternyata ada ayat yang langsung membantah perkataan orang-orang saat itu yang tentu juga zaman sekarang para orientalis mengatakannya

“Tidaklah mungkin Al-Qur`an ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi, (Al-Qur`an itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam. Atau (patutkah) mereka mengatakan, ‘Muhammad membuat-buatnya.’ Katakanlah, ‘(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surah seumpamanya dan panggilah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.’ Yang sebenarnya, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna, padahal belum datang kepada mereka penjelasannya. Demikianlah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul). Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim itu.” (Yunus: 37-39)

Jika kita lihat ayat diatas,langsung ditegaskan bahwa tidak mungkin alias kemungkinannya nol persen bahwa Quran ini dibuat oleh selain Allah,karena dari beberapa persamaan,hanya Tuhan yang mengetahui sesuatu yang terjadi dimasa lalu,dan yang akan datang,dan itu terdapat dalam Quran ini.Juga terang-terangan mengadakan tantangan yang abadi sampai zaman ini,tantangan yang tidak kadaluarsa bahwa datangkanlah sebuah surah saja seumpama Quran,yang dalam bahasan sebelumnya dijelaskan tentang seperti apa yang seumpama Quran itu.Jika Quran itu”nyontek”ini juga aneh,karena kalau hanya untuk mencontek buat apa nabi Muhammad bersusah-susah membuat Quran tanpa tujuan yang malah membahayakan dirinya

Selain itu, terdapat satu dimensi lain dalam bahasan ini. Nabi Muhammad bukanlah seseorang yang telah mengumpulkan berbagai informasi dan mencarinya, baik dalam Taurat maupun Injil, selama hidupnya. Para sahabat Rasulullah yang sangat dekat dengannya telah mengakui fakta bahwa Rasulullah tidak pernah membaca, menulis, bekerja, atau mencari-cari berbagai informasi dari kitab-kitab suci ini. Tidak ada seorang pun yang mempunyai keraguan tentang hal ini. Ditambah lagi, karakteristik Rasulullah ini telah benar-benar termasyhur di kalangan kaum kafir yang digunakan Al-Qur`an sebagai bukti untuk melawan mereka.Para sarjana Teologi zaman modern ini saja belum tentu menguasai tentang Taurat yang diterima dan Injil(PB),apalagi saat waktu itu,dengan bahasanya Quran menyatakan dengan tegas

“Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al-Qur`an) sesuatu kitab pun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu).” (al-‘Ankabuut: 48)

Semua orang tahu saat itu tentang kehidupan nabi mulai dari kecil hingga meninggal,dan tidak ada satupun dalil bahwa rasul itu tidak “ummi”.Istilah “ummi”, yang merujuk pada seseorang yang tidak mempunyai pengetahuan tentang kitab-kitab suci terdahulu dan bukan sebagai umat dari agama-agama ini, digunakan Al-Qur`an bagi Nabi Muhammad saw. untuk menekankan sifatnya. Ayat tersebut adalah,

“(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil….” (al-A’raaf: 157)

Konteks dalam istilah “ummi” yang digunakan untuk merujuk pada mereka yang bukan umat Nasrani atau Yahudi Sebagaimana kita dapat simpulkan dari ayat tersebut, istilah “ummi” digunakan untuk merujuk pada manusia yang belum pernah diturunkan kitab kepadanya. Jadi, hal tersebut menjadi jelas bahwa istilah tersebut tidak digunakan Al-Qur`an dengan bentuk klasikal yang bermakna “buta huruf”.Jelas semua orang tahu saat itu rasul itu ummy,jika Quran dibuat olehnya tentu sangat aneh,karena akan ketahuan jika Rasul mengarang-karang Quran,karena itu tugas rasul ialah murni sebagai penyampai saja apa yang diwahyukan oleh Allah,tanpa menambah atau mengurangi

Ketidakselarasan dan Perbedaan

Setelah kita mengetahui berbagai logika yang ada di atas bagaimana persamaan-persamaan yang terdapat di dalam Al-Qur`an dan kitab-kitab suci lainya. Akan tetapi, ketika seseorang memberikan perhatian yang cukup terhadap hal tersebut, dia akan menyadari bahwa sebenarnya terdapat banyak lagi ketidakselarasan dan perbedaan antara semua kitab tersebut. Sebagai tambahan pada persamaan-persamaan yang ada, perbedaan yang dimiliki Al-Qur`an dibandingkan dengan kitab-kitab samawi lainnya dan bagaimana Al-Qur`an membenarkan perubahan-perubahan yang terdapat dalam kitab-kitab suci lainnya, merupakan bukti bahwa—secara kata per kata—Al-Qur`an adalah sebuah kitab suci.

Karena kitab-kitab samawi yang diturunkan sebelumnya telah mengalami berbagai perubahan yang dilakukan oleh manusia dan telah kehilangan sebagian besar orisinalitas wahyu ilahiyahnya, kitab-kitab tersebut mengandung logika dan referensi yang bertentangan, dan pada saat yang sama bertentangan secara langsung dengan kandungan Al-Qur`an. Juga terdapat berbagai variasi dalam kisah-kisah yang terdapat di dalamnya dibandingkan dengan Al-Qur`an.

Kitab-kitab ini telah mengalami banyak perubahan dalam kandungan dan logikanya dan begitu juga gaya serta komposisinya. Ini karena kitab-kitab itu telah berubah menjadi teks-teks sejarah agama yang mistis daripada sebagai kitab-kitab samawi. Misalnya, kitab pertama dari Taurat, Genesis (Kejadian), menceritakan kisah bani Israel dari awal penciptaan hingga kematian Nabi Yusuf. Gaya ekspresi historis ini mendominasi sebagaimana yang terdapat pada kitab-kitab Taurat lainnya.

Dengan cara yang sama, bagian-bagian inisial dari keempat Injil yang resmi(kanonik) yang kisah hidup Nabi Isa sebagai topik utamanya. Bahasan utama dari keempat jenis Injil ini adalah kisah kehidupan, sabda, dan kegiatannya.

Sebaliknya, Al-Qur`an mempunyai gaya yang sangat berbeda. Ada sebuah ajakan terbuka kepada agama (Islam) yang diawali dengan surah al-Faatihah. Pada bahasan-bahasannya, topik utama yang terkandung dalam Al-Qur`an adalah pengakuan terhadap Allah sebagai bukti ketidaksempurnaan seorang makhluk dan perintah kepada kaum mukminin untuk menjauhi perbuatan syirik agar menyerahkan diri mereka hanya kepada Allah.

Pada masa kini, dalam kitab Taurat yang telah diubah, terdapat banyak ketidaksempurnaan dan sifat-sifat manusia yang telah disamakan dengan sifat Allah (Allah adalah di atas segalanya). Misalnya, kisah Nabi Nuh yang mengandung banyak kebohongan tentang sifat-sifat Allah. Karakter manusia seperti merasa lelah atau menyesal, berdiam diri, dan banyak lagi sifat yang tidak dapat disebutkan di sini telah disamakan dengan sifat Allah. Taurat juga banyak menyebutkan tentang Allah ketika kitab tersebut menerangkan tentang Allah sebagaimana seorang manusia, seperti berjalan, berkelahi, dan merasa marah (Mahasuci Allah dari apa yang mereka katakan).

Ini adalah alasan mengapa ada peringatan-peringatan yang jelas dalam Al-Qur`an terhadap mereka yang mengada-ada dan mengatakan kebohongan-kebohongan dari golongan kaum Yahudi. Salah satu tuduhan tersebut adalah bahwa Allah (Yang Mahakuasa) adalah kikir.

“Orang-orang Yahudi berkata, ‘Tangan Allah terbelenggu.’ Sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki….” (al-Maa`idah: 64)

Pada keseluruhan kandungannya, Al-Qur`an berbeda dengan Taurat karena Al-Qur`an tidak hanya berbicara tentang satu bangsa, tetapi tentang seluruh peradaban, kebangkitan dan kerunTuhannya. Sebagaimana diperintahkannya mereka yang telah diturunkan Al-Qur`an kepadanya untuk bertanggung jawab mengikuti semua perintahnya. Sifat-sifat ini menjadikannya berbeda dan universal. Karena semua kitab samawi (kecuali Al-Qur`an) telah mengalami perubahan yang dilakukan oleh manusia di sepanjang sejarahnya dan telah hilangnya
orisinalitasnya, kitab-kitab itu tidak lagi mempunyai sifat kesamawiannya. Beberapa prinsip dasar ajaran yang disebutkan dalam kitab Injil, yang dianggap sebagai satu sumber Al-Qur`an, telah disanggah secara terbuka oleh Al-Qur`an.

“Dan mereka berkata, ‘Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak perempuan.’ Sesungguhnya, kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.” (Maryam: 88-93)

Pernyataan serupa lainnya yang merupakan penentangan terhadap Al-Qur`an adalah penyaliban Nabi Isa oleh bangsa Yahudi. Dalam Al-Qur`an, dinyatakan bahwa bangsa Yahudi tidaklah membunuh (Nabi Isa), tetapi telah disamarkan .Ditambahkan pula bahwa Allah telah mengangkatnya ke haribaan-Nya.

Kesimpulannya, jika kita membuat suatu perbandingan umum, kita akan mengetahui bahwa kebenaran penting yang diberikan sebagai petunjuk oleh Al-Qur`an bagi umat manusia adalah Tauhidullah, bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Dia mempunyai sifat yang tidak sama dengan makhluk-Nya atau sifat-sifat negatif lainnya. Fakta-fakta penting ini diulang-ulang dalam Al-Qur`an dalam kisah-kisah qur`ani yang mengandung petunjuk, peringatan, dan pengetahuan

Semua ini membuktikan bahwa Al-Qur`an adalah sebuah kitab samawi.

Sumber: Harun Yahya

Al Quran berkisah untuk Apa???

Ini salah satu seri Quran
ringkasan dari Syaikh Muhammad Salih Al Utsaimin

Al Quran

Adalah Kalam Allah ta’ala yang diturunkan kepada Rasul dan penutup para Nabi-Nya, Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam, diawali dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Naas.

Allah ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur’an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur.” (al-Insaan:23)

Dan firman-Nya, “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa al-Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (Yusuf:2)

Allah ta’ala telah menjaga al-Qur’an yang agung ini dari upaya merubah, menambah, mengurangi atau pun menggantikannya. Dia ta’ala telah menjamin akan menjaganya sebagaimana dalam firman-Nya, “Sesunggunya Kami-lah yang menunkan al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benr-benar memeliharanya.” (al-Hijr:9)

Oleh karena itu, selama berabad-abad telah berlangsung namun tidak satu pun musuh-musuh Allah yang berupaya untuk merubah isinya, menambah, mengurangi atau pun menggantinya. Allah SWT pasti menghancurkan tabirnya dan membuka kedoknya.

Allah ta’ala menyebut al-Qur’an dengan sebutan yang banyak sekali, yang menunjukkan keagungan, keberkahan, pengaruhnya dan universalitasnya serta menunjukkan bahwa ia adalah pemutus bagi kitab-kitab terdahulu sebelumnya.

Allah ta’ala berfirman, “Dan sesunguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan al-Qur’an yang agung.” (al-Hijr:87)

Dan firman-Nya, “Qaaf, Demi al-Quran yang sangat mulia.” (Qaaf:1)

Dan firman-Nya, “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (Shaad:29)

Dan firman-Nya, “Dan al-Qur’an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka iktuilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.” (al-An’am:155)

Dan firman-Nya, “Sesungguhnya al-Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia.” (al-Waqi’ah:77)

Dan firman-Nya, “Sesungguhnya al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan ) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang menjajakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang benar.” (al-Isra’:9)

Dan firman-Nya, “Kalau sekiranya kami menurunkan al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu kaan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.” (al-Hasyr:21)

Dan firman-Nya, “Dan apabila diturunkan suatu surat, mka di antara mereak (orang-orang munafik) ada yang berkata, ‘Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini.? ‘ Adapun orang-orang yang berimana, maka surat ini menambah imannya sedang mereka merasa gembira # Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat ini bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir.” (at-Taubah:124-125)

Dan firman-Nya, “Dan al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai al-Qur’an (kepadanya)…” (al-An’am:19)

Dan firman-Nya, “Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan al-Qur’an dengan jihad yang benar.” (al-Furqan:52)

Dan firman-Nya, “Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (an-Nahl:89)

Dan firman-Nya, “Dan Kami telah turunkan kepadamu al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian* terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan…” (al-Maa’idah:48)

Al-Qur’an al-Karim merupakan sumber syari’at Islam yang karenanya Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam diutus kepada seluruh umat manusia. Allah ta’ala berfirman,

Dan firman-Nya, “Maha suci Allah yang telah menurunkan al-Furqaan (al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam (jin dan manusia).” (al-Furqaan:1)

Sedangkan Sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam juga merupakan sumber Tasyri’ (legislasi hukum Islam) sebagaimana yang dikukuhkan oleh al-Qur’an. Allah ta’ala berfirman, “Barangsiapa yang menta’ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta’ati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari keta’atan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (an-Nisa’:80)

Dan firman-Nya, “Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (al-Ahzab:36)

Dan firman-Nya, “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah…” (al-Hasyr:7)

Dan firman-Nya, “Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali ‘Imran:31)

Urgensi Kisah Dalam al-Qur’an

Secara bahasa kata al-Qashash dan al-Qushsh maknanya mengikuti atsar (jejak/bekas). Sedangkan secara istilah maknanya adalah informasi mengenai suatu kejadian/perkara yang berperiodik di mana satu sama lainnya saling sambung-menyambung (berangkai).

Kisah-kisah dalam al-Qur’an merupakan kisah paling benar sebagaimana disebutkan dalam firman Allah ta’ala, “Dan siapakah orang yang lebih benar perkataannya dari pada Allah.?” (QS.an-Nisa’/4:87). Hal ini, karena kesesuaiannya dengan realitas sangatlah sempurna.

Kisah al-Qur’an juga merupakan sebaik-baik kisah sebagaimana disebutkan dalam firman Allah ta’ala, “Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan al-Qur’an ini kepadamu.” (QS.Yusuf/12:3). Hal ini, karena ia mencakup tingkatan kesempurnaan paling tinggi dalam capaian balaghah dan keagungan maknanya.

Kisah al-Qur’an juga merupakan kisah paling bermanfa’at sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya, “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (QS.Yusuf/12:111). Hal ini, karena pengaruhnya terhadap perbaikan hati, perbuatan dan akhlaq amat kuat.

Jenis-Jenis Kisah

Kisah al-Qur’an terbagi menjadi 3 jenis:

1. Kisah mengenai para nabi dan Rasul serta hal-hal yang terjadi antara mereka dan orang-orang yang beriman dan orang-orang kafir.

2. Kisah mengenai individu-individu dan golongan-golongan tertentu yang mengandung pelajaran. Karenanya, Allah mengisahkan mereka seperti kisah Maryam, Luqman, orang yang melewati suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya (seperti tertera dalam surat al-Baqarah/2:259), Dzulqarnain, Qarun, Ash-habul Kahf, Ash-habul Fiil, Ash-habul Ukhdud dan lain sebagainya.

3. Kisah mengenai kejadian-kejadian dan kaum-kaum pada masa Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam seperti kisah perang Badar, Uhud, Ahzab (Khandaq), Bani Quraizhah, Bani an-Nadhir, Zaid bin Haritsah, Abu Lahab dan sebagainya.

Beberapa Hikmah Penampilan Kisah

Hikmah yang dapat dipetik banyak sekali, di antaranya:

a. Penjelasan mengenai hikmah Allah ta’ala dalam kandungan kisah-kisah tersebut, sebagaimana firman-Nya, “Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka beberapa kisah yang di dalamnya terdapat cegahan (dari kekafiran). Itulah suatu hikmat yang sempurna, maka peringatan-peringatan itu tiada berguna (bagi mereka).” (al-Qamar/54:4-5)

b. Penjelasan keadilan Allah ta’ala melalui hukuman-Nya terhadap orang-orang yang mendustakan-Nya. Dalam hal ini, firman-Nya mengenai orang-orang yang mendustakan itu, “Dan Kami tidaklah menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri, karena itu tiadalah bermanfa’at sedikitpun kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Tuhanmu datang. Dan sembahan-sembahan itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali kebinasaan.” (QS. hud/11:101)

c. Penjelasan mengenai karunia-Nya berupa diberikannya pahala kepada orang-orang beriman. Hal ini sebagaimana firman-Nya, “Kecuali keluarga Luth. Mereka Kami selamatkan di waktu sebelum fajar menyingsing.” (QS. Al-qamar/54:34)

d. Hiburan bagi Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam atas sikap yang dilakukan orang-orang yang mendustakannya terhadapnya. Hal ini sebagaimana firman-Nya, “Dan jika mereka mendustakan kamu, maka sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasulnya); kepada mereka telah datang rasul-rasulnya dengan membawa mukjizat yang nyata, zubur dan kitab yang memberi penjelasan yang sempurna. Kemudian Aku azab orang-orang yang kafir; maka (lihatlah) bagaimana (hebatnya) akibat kemurkaan-Ku.” (QS.fathir/35:25-26)

e. Sugesti bagi kaum Mukminin dalam hal keimanan di mana dituntut agar tegar di atasnya bahkan menambah frekuensinya sebab mereka mengetahui bagaimana kaum Mukminin terdahulu selamat dan bagaimana mereka menang saat diperintahkan berjihad. Hal ini sebagaimana firman Allah ta’ala, “Maka Kami telah memperkenankan doanya dari menyelamatkannya daripada kedukaan. Dan demikian itulah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS.al-Anbiya’/21:88) Dan firman-Nya yang lain, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus sebelum kamu beberapa orang rasul kepada kaumnya, mereka datang kepadanya dengan membawa keterangan-keterangan (yang cukup), lalu Kami melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang berdosa. Dan Kami berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” (QS.ar-Rum/30:47)

f. Peringatan kepada orang-orang kafir akan akibat terus menerusnya mereka dalam kekufuran. Hal ini sebagaimana firman-Nyma, “Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi sehingga mereak dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka; Allah telah menimpakan kebinasaan atas mereka dan orang-orang kafir akan menerima (akibat-akibat) seperti itu.” (QS.muhammad/47:10)

g. Menetapkan risalah Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam, sebab berita-berita tentang umat-umat terdahulu tidak ada yang mengetahuinya selain Allah ta’ala. Hal ini sebagaimana firman-Nya, “Itu adalah di antara berita-berita penting tentang ghaib yang Kmai wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini.” (QS.Hud/11:49) Dan firman-Nya, “”Belumkah sampai kepadamu berita orang-orang sebelum kamu (yaitu) kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud dan orang-orang sesudah mereka. Tidak ada yang mengetahui mereka selain Allah.” (Ibrahim/14:9)

Apa Faedah Pengulangan Kisah?

Ada di antara kisah-kisah al-Qur’an yang hanya disebutkan satu kali saja seperti kisah Luqman dan Ash-habul Kahf. Ada pula yang disebutkan berulang kali sesuai dengan kebutuhan dan mashlahat. Pengulangan ini pun tidak dalam satu aspek, tetapi berbeda dari aspek panjang dan pendek, lembut dan keras serta penyebutan sebagian aspek lain dari kisah itu di satu tempat namun tidak disebutkan di tempat lainnya.

Hikmah Pengulangan Kisah

Di antara hikmah pengulangan kisah ini adalah:

– Penjelasan betapa urgennya kisah sebab dengan pengulangannya menunjukkan adanya perhatian penuh terhadapnya.

– Menguatkan kisah itu sehingga tertanam kokoh di hati semua manusia

– Memperhatikan masa dan kondisi orang-orang yang diajak bicara. Karena itu, anda sering mendapatkan kisahnya begitu singkat dan biasanya keras bila berkenaan dengan kisah-kisah dalam surat-surat Makkiyyah, namun hal sebaliknya terjadi pada kisah-kisah dalam surat-surat Madaniyyah

– Penjelasan sisi balaghah al-Qur’an dalam pemunculan kisah-kisah tersebut dari sisi yang satu atau dari sisi yang lainnya sesuai dengan tuntutan kondisi

– Nampak terangnya kebenaran al-Qur’an dan bahwa ia berasal dari Allah ta’ala dimana sekali pun kisah-kisah tersebut dimuat dalam beragam jenis namun tidak satu pun terjadi kontradiksi.

* Maksudnya, al-Qur’an adalah ukuran untuk menentukan benar tidaknya ayat-ayat yang diturunkan dalam kitab-kitab yang sebelumnya. (al-Qur’an dan terjemahannya, DEPAG RI)

(SUMBER: Ushuul Fii at-Tafsiir karya Syaikh Muhammad bin ‘Utsaimin, hal.9-11)

Gaya Bahasa Quran,siapakah penyusunnya??

Coba bayangkan ketika kita ingin mengarang sebuah buku, apa sebenarnya harapan kita ketika suatu saat kelak buku tersebut kita selesai tulis.Menurut saya,ketika kita membuat tulisan ,keinginan kita yaitu tulisan yang kita tulis di Baca oleh orang lain,sesuai dengan target dan keinginan kita tentunya.Jadi terdapat pihak-pihak mana yang dijadikan untuk tulisan dan akan dibaca oleh target tersebut. Penulis novel remaja jelas akan mengharapkan hasil karyanya dibaca oleh kalangan remaa pula, maka dia haruslah memakai bahasa dan gaya bahasa yang ‘hidup’ dalam lingkup dan konteks keremajaan. Maka jika kita baca novel-novel remaja zaman dahulu maka novel yang dibuat dentu berbeda dengan remaja zaman sekarang.Kita lihat di film-film yang diangkat dari novel bagaimana remaja tahun 80an dengan era remaja zaman sekarang.Tentu saja berbeda jauh,dan jika kita hidup zaman dulu disuguhkan novel remaja era millennium ini tentu akan ada rasa tidak nyambung.

Jika kita membuat sebuah novel roman picisan,jangan kira novel yang kita karang dan penuh romantisme dan meluapkan emosi perasaan kita dengan berapi-api akan menarik minat komunitas Fisikawan atau Ekonom untuk membacanya, karena buat mereka hal yang romantis justru muncul ketika berhadapan dengan rumus-rumus Fisika atau kaedah-kaedah ekonomi yang rumit. Bagaimana seorang matematikawan dalam komik QED sangat mencintai berpikir dan mencintai angka-angka dan logaritma.Baginya itulah romantisme…

Bagaimana dengan pencinta sejarah?? maka buku yang berisi rentetan peristiwa terkait dengan angka-angka tahun tertentu akan membuat pecinta sejarah itu berada alam dunianya sendiri dan tersenyum sendiri, cerita tentang nama Tokoh,bukti-bukti arkeologi mungkin itu yang akan dia tunggu-tunggu. Namun,tentu beda jika kita mengharapkan hal yang sama terjadi pada tukang bakso langgananya,justru senyam-senyum sendirinya itu yang lebih menarik minat tukang bakso ketimbang buku sejarah yang sedang dia baca. Apalagi saat kita membaca buku karya John Hersey “ A Bell For Adano” dan “The Wall”dan kita berikan kepada tukang becak dijalan lalu dia akan bertanya ini untuk apa,bisa untuk mengganjal kursi?? Jangankan tukang beca,kita pun belum tentu membaca buku tersebut heheh.

Dari buku yang sama, disatu pihak bisa bikin orang Indonesia ngakak abis ,atau mengernyutkan dahi tapi dilain tempat di Kutub utara senyumpun tidak ,bahkan buku John Hersey yang tadi merupakan buku favorit Einstein dan kita kebingungan ini buku apa sebenarnya buku yang membuat Einstein menikmatinya.Dan juga dari buku yang sama dibaca oleh orang yang sama akan berbeda pengaruhnya ketika dibaca pertama kali dibandingkan yang kedua kalinya, umumnya sebuah buku akan kehilangan ‘greget’ ketika dibaca untuk kedua kalinya.Pengalaman saya kalau komik tentunya makin lama berbeda gregetnya,juga novel jika dibaca paling bertahan 2 kali,dan sisanya dipajang dirak

Ketika kita menulis sebuah buku dan kita mengharapkan buku anda tersebut ‘sampai’ kepada SEMUA MANUSIA DALAM SEGALA JAMAN, mulai dari CEO sampai Wong Cilik,mulai dari Sabang sampai Tokyo,atau mulai dari anak kecil umur 5 tahun sampai kakeknya anak kecil tersebut dan setiap dibaca berulang-ulang, bisa membuat orang-orang menangis ketika dibaca keras dengan lantunan nada,Bisa menjadikan orang tersebut menjadi berpikir,merasa lebih baik dari sebelumnya,kira-kira buku seperti apa yang akan kita tulis???

Ada hal yang menarik ketika kita membaca Al Quran. Al Quran merupakan sebuah karya maka Al Quran bertujuan agar bisa dibaca tentunya,di mengerti,dan dipahami,lalu di jadikan sebagai pedoman dalam hidup manusia (seluruhnya).Yang tentu tercermin dari isinya yang menceritkan Keberadaan Yang Menciptakan,cara berhubungan dengan Yang Menciptakan,apa saja yang harus dilakukan jika ingin berhubungan dengan Yang Menciptakan,petunjuk yang diberikan agar sampai tujuan yang diberikan langsung oleh Yang Menciptakan,Aturan hidup agar selamat sampai tujuan akhir,Janji akan bertemu Yang Menciptakan suatu saat nanti,pelajaran kisah orang-orang dahulu yang tidak menaati peraturan Yang Menciptakan dan dijadikan sebagai pelajaran. ‘Sang Penulis’ Al-Qur’an (maksudnya dianalogikan kitab,namun Quran itu bukan buku tetapi firman Allah ) tentunya menginginkan si pembacanya lalu memang membaca, mengerti dan mengikuti apa-apa yang tercantum di dalam Al-Qur’an tersebut. Terdapat beragam tingkatan dan variasi dari orang-orang dituju oleh Sang Pencipta Al-Qur’an ini, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, laki-laki dan perempuan, dari bermacam status sosial, mulai dari ibu2 yang suka gossip saat belanja sampai bapak-bapak yang meeting melulu di kantor, mulai dari orang sehat sampai yang sakit sekalipun, dari bermacam-macam latar belakang ilmu arsitektur, politik,matematika,desain grafis,dll.

Lalu bagaimanakah seharusnya sebuah kitab harus ‘menampilkan dirinya’ agar bisa memenuhi keinginan Yang Membuatnya serta sesuai hasrat semua orang-orang itu..?? Dalam tulisan saya sebelumnya mungkin akan memberikan gambaran tentang susunan –susunan tulisan yang ada dalam Quran  Seri Quran,Susunanya berdasarkan apa

. Kalau Al-Qur’an disusun secara kronologis dan rapi ,apik,runut mulai dari awal sampai akhir seperti buku sejarah, mungkin hal tersebut sama sekali tidak memuaskan si ahli Fisika,atau desain.Kkalau kalimatnya “berat”malah bisa membingungkan sang pembantu yang tidak tamat SD, atau bocah2 pesantren di kampong-kampung. kalau bahasanya terlalu teknis, pastilah dianggap ‘cetek’ oleh sang pujangga atau penyair dan juga gampang ditiru-tiru dan dibuat yang lebih bagus.

Sebuah tulisan bisa membangkitkan hasrat dan memberikan dampak kepada pembacanya bila disaat membaca tulisan tersebut,Seperti membaca komik naruto anak-anak bertingkah seperti halnya naruto. Membuat orang yang membacanya seolah-olah mengikuti alur pemikiran yang membuat tulisan dan pikirannya terbaca dan masuk jleb ke dalam hati tentang makna-makna tulisan tersebut. Lalu bagaimanakah mungkin sebentuk tulisan yang sama (satu sumber) bisa membuat pembacanya yang datang dari bermacam-macam latar belakang tadi bisa ‘masuk’ dan terpengaruh oleh bacaan yang sama itu..?? “Ada cerita menarik dari Komaruddin Hidayat, mengisahkan tentang temannya, seorang Profesor di universitas McGill, Montreal, Canada yang telah masuk Islam. Profesor tersebut mengemukakan pendapatnya tentang Al-Qur’an : “Jika saya membaca buku-buku teori akademis, cukuplah seminggu persiapannya dan saya akan bisa menjelaskannya di depan mahasiswa saya 80% dari kandungan buku tersebut. Kalau saya membaca buku novel, maka cukuplah sekali saja, sudah malas untuk membaca kedua kalinya. Buku-buku ilmiah itu logikanya linier, runtut, mudah diikuti uraiannya, dengan metode ‘speed reading’ sebuah buku tebal bisa tamat dibaca hanya dalam waktu sehari.Namun ketika saya membaca Al-Qur’an, saya menemukan gaya penuturan yang sangat kompleks, adakalanya linier, lalu memutar balik, dan kalau dicermati saling berhubungan membentuk jaringan makna. Sekalipun saya membaca ayat yang sama seperti yang saya baca kemaren, saya menemukan adanya perbedaan kesan dan rasa”.

Dalam Al-Qur’an pendapat Sang Profesor ini terlihat jelas dalam pemakaian kata ganti subjek dan objek yang berubah-ubah, pergantian tersebut serasa ‘mengombang-ambingkan’ kita terlarut dalam kalimat yang sedang kita baca. Sulaiman ath-Tharawanah, dalam bukunya ‘Rahasia Pilihan Kata dalam Al-Qur’an’ mengemukakan pendapat ahli sastra Roman Jakson yang mengatakan :”Menjadikan struktur teks secara khusus sebagai objek kajian merupakan pendekatan yang paling sesuai untuk menilai dimensi estetika suatu bahasa” dan ath-Tharawanah menyatakan bahwa :”dimensi estetika atau keindahan struktur teks-teks Al-Qur’an merupakan salah satu sisi penting kemukjizatan Al-Qur’an”, sehingga menimbulkan apa yang telah dirasakan dan diungkapkan Sang Profesor teman dari Mas Komar tadi.

Selanjutnya dicontohkan kisah dalam Al-Qur’an : Surat al-Kahfi, mengisahkan pelarian beberapa orang pemuda dari kaumnya yang zalim, bersembunyi dalam sebuah goa dan ditidurkan Allah selama 300 tahun : Pada awalnya, deskripsi kisah tersebut menggunakan kata ganti orang kedua yang ditujukan kepada pembaca (harap selalu diingat bahwa Al-Qur’an bukanlah berbentuk percakapan Allah dengan nabi Muhammad SAW, atau Allah ‘bicara’ nabi Muhammad mendengar, tapi Al-Qur’an merupakan firman Allah yang ‘diambil’ malaikat Jibril dari lauh mahfuzh, lalu disampaikan kepada nabi Muhammad SAW, untuk kemudian disampaikan lagi kepada kita, jadi fungsi Rasulullah disini hanyalah sebagai ‘pipa saluran wahyu’ tidak lebih dan tidak kurang)

9. Apakah kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?

Kata ganti orang kedua pada ayat diatas menunjukkan proses dialog satu arah, antara pengisah yaitu Allah, dan pembaca atau pendengarnya. Lalu pada bagian berikut deskripsi kisah berubah menggunakan kata ganti orang pertama yang tidak tampak dan netral

: 10. (Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdo’a: “Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”

Kalaulah Al-Qur’an diwahyukan dengan cara ‘dialog’ antara Allah denga nabi Muhammad SAW, maka ayat tersebut tidak akan berbunyi demikian tapi ‘ lalu mereka berdo’a kepada Kami meminta rahmat Kami dari sisi Kami dan meminta kesempurnaan petunjuk bagi mereka dalam urusam mereka’, hasilnya apa yang mereka do’akan tersebut tidak akan bermanfat apa-apa bagi kita, namun dengan ‘penyajian’ gaya bahasa seperti itu, do’a yang dipanjatkan oleh para pemuda tersebut bisa dipakai juga sebagai do’a kita kepada Allah kapanpun dan untuk urusan apapun.

Pada bagian berikut, deskripsi kisah berubah menggunakan kata ganti orang pertama :

11. Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu,

12. kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal (dalam gua itu).

Tujuan disampaikannya kisah-kisah orang terdahulu dalam Al-Qur’an adalah :

111. Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (Yusuf)

Dari rentetan ketiga ayat surat al Kahfi tersebut saja kita sudah bisa mengambil pelajaran, bagaimana cara berdo’a dan gambaran yang disampaikan bahwa Allah akan langsung mem’follow-up’ do’a yang kita panjatkan. Berdasarkan fakta tekstual dalam deskripsi ayat diatas, difahami bahwa yang menutup telinga mereka adalah pengisah itu sendiri, dengan demikian posisi pengisah yaitu Allah, adalah juga termasuk sebagai salah satu tokoh kisah yang memiliki peran cukup dominan. Saat kisah ini mulai diangkat dan ditujukan kepada umum, deskripsi perincian peristiwa mulai diucapkan oleh ‘orang pertama’ (pengisah) sang pemegang otoritas lajunya seluruh peristiwa dalam kisah, dan kita bisa merasakan semua kejadian sengaja diceritakan khusus kepada kita sebagai pendengar atau pembaca. Hal ini dapat kita tangkap dari penggunaan kata ‘alaika’ (kepadamu) setelah kata kerja ‘naqushshu’ (kami kisahkan).

Memasuki adegan selanjutnya, terlihat pengisah (Allah) menghendaki kita sebagai pembaca atau pendengar merasa menjadi bagian atau terlibat dalam cerita tersebut. Situasi ini dapat kita tangkap dari deskripsi perkataan salah seorang pemuda berikut yang seakan-akan ditujukan kepada kita tanpa perantara si pengisah. Karena itu kita seolah-olah berada bersama mereka mengalami sendiri kejadiannya. Pembaca seolah-olah menembus tembok pemisah dunianya menuju alam kisah sehingga larut dan terlibat dalam adegan kisah, mendengarkan mereka bicara langsung kepada kita :

14. dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri lalu mereka berkata: “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”.

15. Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk di sembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka?) Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?

Tentunya mereka tidak sedang berdialog dengan Tuhan yang mengisahkan cerita ini, bukan juga berdialog antara mereka sendiri, lalu kepada siapakah perkataan ‘Tuhan kami adalah tuhan langit dan bumi,,???’, mereka sedang bicara langsung dengan kita, kita seolah-olah ada disana mendengar mereka berkata langsung menghadapkan mukanya kepada kita. selanjutnya kita melihat bagaimana ‘kepiawaian’ gaya bahasa Al-Qur’an menyeret kita untuk ikut terlibat dalam cerita, mengambil pelajaran dan mengambil contoh perkataan dan do’a untuk kita pakai.

Dalam buku yang lain ‘Mukjizat Al-Qur’an’, ustadz Quraish Shihab mengungkapkan pemakaian kata yang menarik sehubungan tentang surga dan neraka

(Surat Az Zumar) : 71. Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul..”

73. Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu,…

Sepintas struktur bahasanya terlihat sama sesuai tujuan masih-masing, prosesnya juga sama, dibawa berombongan, setelah sampai pintu yang terbuka, dan penjaganya yang menyapa. Tetapi dari segi struktur dapat kita lihat arti yang berbeda namun bahasa menggugah yang diakui para penyair arab

‘izaa jaa uuhaa futihat’

izaa jaa uuhaa wafutihat’

Sedikit perbedaan dalam hal ‘pintu yang terbuka’, dalam ayat 71 tentang neraka ditulis ‘izaa jaa uuhaa futihat’, sedangkan dalam ayat 73 tentang surga ditulis ‘izaa jaa uuhaa wafutihat’ diartikan bagi penghuni neraka, pintu baru dibuka setelah mereka sampai di depan pintu, sedangkan untuk para penghuni surga, pintu surga terlah terbuka menyambut mereka sebelum mereka sampai di depannya.

Kita perhatikan kecermatan pemakaian gaya bahasa Al-Qur’an, bukankah kalau kita mengantar seorang penjahat ke penjara atau tempat hukuman, pintunya baru dibuka setelah kita sampai..?? bukankah kalau kita hendak menyambut tamu terhormat yang akan datang ke rumah kita, pintu gerbang rumah kita sudah kita buka lebar-lebar sebelum tamu tersebut datang,jika presiden lewat maka bukankah jalan dibuka untuknya?Apakah seorang presiden yang ingin masuk istana harus menglakson digerbang depan istana  ,baru dibukakan pintunya oleh penjaga..?? Banyak sudah kajian orang tentang pemakaian kata dan bahasa dalam Al-Qur’an, mudah-mudahan ini bisa anda jadikan pengantar untuk pendalaman lebih lanjut..

Sumber :forum.swaramuslim.net(archa)

Mukzizat Al Quran (M Qurai Shihab)

Susunan Quran yang kita pegang sekarang berdasarkan apa???

Banyak pertanyaan -pertanyaan ari orientalis ,juga situs-situs /blog untuk menghujat Islam,namun umat Islam tetap teguh,tidak terpengaruh,dan yang paling banyak disoroti dan dikaji orientalis adalah tentang kitab umat Islam yaitu Al Quran.Mulai dari Keotentikan Quran,Bahasanya,Qiraat,dll

dijadikan sesuatu untuk menyerang umat Islam.Namun karena Allah sendiri telah menjamin bahwa Quran akan selau dijaga maka terbukti,sulitnya orientalis menyerang dengan Quran ini.Mungkin nanti akan kita bahas bagaimana Sejarah Turunnya Quran,Quran itu sendiri,dan bagaimana Quran itu sampai dikita.Ada juga pertanyaan-pertanyaan orientalis mengenai susunan Quran yang dianggap tidak beraturan.Ini cukup menggelikan karena standar apakah yang mereka gunakan kalau Quran itu harus “beraturan”,beraturannya seperti apa ??Tentu jika hanya menginginkan kemauan mereka kita semakin jauh dari kebenaran

Artinya : Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.(As shaaf ayat 8)

Pertanyaan -pertanyaan seperti itu memang sangat wajar dilontarkan oleh para orientalis karena mungkin Quran ini tidak sama dengan kitab mereka
Tetapi tidak sama dengan al-Quran, karena al-Quran bukanlah kitab sejarah, al-Quran adalah kitab petunjuk hidup, al-Quran adalah kitab yang berisi hukum-hukum, pelajaran-pelajaran dan lain sebagainya.

Marilah kita kaji rahasia dibalik susunan ayat-ayat al-Quran yang menurut orang-orang Orientalis ini membingungkan

SUSUNANNYA DARI ALLAH SWT
Bahwa susunan ayat-ayat dan surat-surat dalam al-Qur?an seperti yang sekarang ini ada adalah susunan yang dibuat oleh nabi Muhammad saw yang mendapat mandat dan pengawasan dari Allah SWT melalui malaikat Jibril. Bukan atas kesepakatan para sahabat atau umat Islam.

Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. QS.75:17

Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. QS. 75:18

Bila Malaikat jibril membacakan wahyu dari Allah SWT maka nabi Muhammad diperintah mendengarkannya dan bila Malaikat Jibril telah selesai membacakannya maka nabi Muhammad saw diperintah untuk mengikuti bacaan sesuai yang dibacakan malaikat Jibril .

Malaikat Jibril setiap tahun pada bulan Ramadhan datang menemui nabi untuk menjaga bacaan dan susunan al-Qur?an :
Fatimah berkata :Nabi Muhammad memberitahukan kepadaku secara rahasia, Malaikat Jibril hadir membacakan al-Quran padaku dan saya membacakannya sekali setahun, hanya tahun ini ia membacakan seluruh isi kandungan al-Quran selama dua kali. Saya tidak berpikir lain kecuali, rasanya, masa kematian sudah semakin dekat.? HR. Bukhari bab Fada?il al-Quran

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa nabi Muhammad saw berjumpa dengan malaikat Jibril setiap malam selama bulan Ramadhan hingga akhir bulan, masing-masing membaca al-Quran silih berganti. HR. Bukhari bab shaum

Hadits – hadits diatas dan beberapa hadith yang lainnya memberikan gambaran bahwa sistem bacaan antara nabi Muhammad saw dengan malaikat Jibril adalah menggunakan sistem Mu?arada yaitu malaikat Jibril membaca satu kali dan nabi Muhammad saw mendengarkannya begitu pula sebaliknya.

Dengan sistem tersebut yang secara periodik dilakukan setiap bulan Ramadhan, memberikan jaminan bahwa susunan al-Quran yang sampai kepada umat Islam di seluruh dunia hingga saat ini adalah susunan yang sesuai dengan susunan yang Allah SWT kehendaki.

SUSUNANNYA UNIK, ITULAH KETERATURANNYA.
Kata orang-orang Orientalis, al-Quran susunannya tidak beraturan, tidak berdasarkan urutan waktu turunnya, tidak berdasarkan panjang pendeknya surat, tidak berdasarkan tempat turunnya dan tidak pula berdasarkan pokok bahasan. Semua anggapan itu benar adanya, memang tidak atas dasar itu semua, susunan al-Quran atas dasar apa yang tahu hanya yang membuat al-Quan yaitu Allah SWT.

Namun, susunan yang dikatakan tidak beraturan tersebut, bagi yang mengkaji al-Qurran justru akan menjumpai kemudahan-kemudahan menjadikan al-Quran sebagai tuntunan hidup, coba saja simak dengan hati yang jujur, ustadz-ustadz yang berdakwa jarang sekali yang membawa al-Qur?an, mereka dengan mudahnya menunjukkan ayat-ayat yang sesuai dengan pokok bahasan. Bila ada orang yang bertanya tentang sebuah masalah, seorang ustadz de-ngan mudahnya menunjukkan dalilnya dari al-Qur?an, inilah rahasia susunan al-Quran yang dibilang oleh orang-orang mereka tidak beraturan.

Satu lagi mukjizat dari al-Quran yang dibilang tidak beraturan tersebut, berjuta-juta manusia dengan mudahnya menghafal al-Quran, baik tua, muda, laki-laki, perempuan, anak-anak, orang Arab ataupun orang Indonesia, bahkan orang China sekalipun yang mempunyai struktur bahasa sangat berbeda dengan bahasa Arab, bukankah ini mukjizat al-Quran yang menurut penilaian manusia tidak beraturan, bukankah yang tidak beraturan akan sulit dihafal ?, tetapi al-Quran mudah sekali dihafal, itu artinya al-Quran sangat beraturan susunannya, hanya manusialah yang tidak mempunyai ilmu mengetahui keteraturan al-Quran.

Tetapi pertanyaan bisa kita kembalikan kepada orang-orang Orientalis dan orang-orang Kristen, mengapa tidak seorangpun dari mereka yang hafal kitab mereka yang mereka aku-aku disusun secara beraturan ?

Tentu setiap orang bila tanya mana yang lebih mudah dihafalkan, apakah kalimat yang disusun secara beraturan atau kalimat yang disusun acak tidak beraturan, tentu setiap orang akan menjawab tentu akan mudah meng-hafal kalimat yang disusun beraturan, kalau memang jawabannya demikian berarti al-Qurran telah disusun dengan beraturan, terbukti al-Quran telah dihafal oleh jutaan manusia dari dulu hingga sekarang, dari Arab sampai ke China
Satu lagi bukti, bahwa keunikan al-Quran adalah sebuah mukjizat, apakah ada orang yang berhasil memalsukan al-Quran, padahal kalau al-Quran susunannya dibilang tidak beraturan, tentunya orang akan lebih mudah menyisipkan satu kata ke dalam al-Quran, tetapi ternyata semua tidak ada yang berhasil, baik orang-orang Orientalis maupun orang-orang Indonesia seperti yang pernah terjadi di Padang dan di Jogja.

BUMI SEBAGAI ANALOGI
Bila kita cermati bumi yang kita tempati ini, di mana-mana ada gunung, laut, daratan, hutan, danau, emas, batu-bara, mangga, apel, jeruk, durian dan lain sebagainya.

Kalau hukum keteraturan seperti yang diinginkan oleh orang-orang Orientalis dan orang-orang Kristen, maka susunan gunung, daratan, lautan, danau, buah-buahan, hewan yang ada di bumi dapat dikatakan semrawut tidak terkelompokkan.

Padahal susunan bumi yang seperti itulah yang menjadikan kehidupan di bumi ini harmonis dan seimbang baik secara geografis maupun secara ekosistem.

Bisa kita bayangkan andaikata bumi ini diciptakan dengan susunan menurut otaknya orang-orang Orientalis di mana gunung-gunung ditempatkan di satu tempat, lautan mengumpul di tempat yang lainnya, daratan ditempat yang lain lagi, maka bumi ini akan berhenti berputar karena kehilangan keseimbangannya. Bukankah ketidakteraturan susunan gunung-gunung, lautan, daratan, lembah itulah yang justru menjadikan bumi berputar?.

Bukankah adanya buah-buahan, hewan, ikan dan lain sebagainya diseluruh belahan bumi ini menjadikan kehidupan dunia ini seimbang dan harmonis, bisa anda bayangkan andaikan di Indonesia ini tumbuh buah durian saja, di Thailand tumbuh beras saja, di Australia tumbuh gandum saja, di Amerika yang ada batu bara saja tidak ada hewan, buah-buahan dan air, maka tidak ada lagi keseimbangan dalam kehidupan di bumi ini.

Seperti yang pernah terjadi pada kaumnya nabi Musa as, di mana mereka tidak bisa tahan dengan satu makanan saja :

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata:”Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Rabbmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu: sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merah-nya”. QS. 2:61

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengi-saran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. QS. 2:164

Begitulah Allah SWT menciptakan bumi yang harmonis yang tumbuh buah-buahan dan menyebarkan bermacam-macam hewan di seluruh belahan bumi ini sehingga tercipta keharmonisan dan keseimbangan.

Seperti itu juga al-Quran disusun, ada kisah nabi Adam pada surat Ali Imran, Al-Mai-dah, al-Araaf dan seterusnya, begitu juga tentang ayat-ayat aklaq, akidah, ilmu pengetahuan dan lain sebagainya menyebar di beberapa surat. Hanya Allah SWT yang mengetahui secara persis letak keteraturan dan keharmonisan al-Quran.Dan menjadikan kita lebih terpacu untuk mengkajinya

sumber inspirasi: Al islah online

Beda Nasib,Beda Perlakuan…..Keadilan Semu

Keadilan Semu,Hukum,dan Hati Nurani

Masih ingat dengan kasus yang beberapa tahun lalu sempat mengisi media masa.Saat sedang Hot-gotnya KPK beraksi ,saat Antasari baru menjabat sebelum akhirnya KPK mulai disudutkan beberapa waktu ini.Saat itu KPK berhasil menangkap dan membeberkan bahwa ada Suap Menyuap di kalangan aparat Penegak hukum.Al hasil jaksa Urip Tri Gunawan “kena” getahnya setelah berurusan dengan salah satu tersangka kasus skandal Bank terbesar, Artalyta Suryani.Bagaimana terlihat sampai-sampai Jaksa Agung Hendraman Supanji memecat dua wakilnya karena ikut terseret dalam kasus tawar menawar Jaksa dengan Tersangka.KPK memang sangat gencar sekali waktu itu setelah menangkap basah beberapa kali dengan sadapan Kasus Artalyita Suryani yang akhirnya hanya di vonis beberapa tahun penajra saja,sedangkan urip sampai dituntut 15 tahun.Inilah carut marut hukum di Indonesia.Sebagian dapat diatur –atur oleh orang yang memunyai “kekuasaan”.Bagaimana terlihat jaksa dengan tersangka tawar menawar,dan juga kita bisa dengar kemarin bagimana Anggodo disadap dan seolah-olah mengatur segala hal.Hukum yang diciptakan oleh manusia ,tentu saja secara kenyataan bisa di”manusiakan” juga alias bisa diatur.Seorang pencuri semangka karena kelaparan dihukum 5 tahun penjara,dan seorang koruptor kelas kakap sama 5 tahun penjara.Atau jaksa terbukti Bandar narkoba hanya satu tahun sedangkan warga satu butir ekstasi 5 tahun. Tapi tentu saja tidak berhenti disitu!!!

Beberapa saat lalu bagaimana di media diperlihatkan setelah memasuki jeruji besi,bagaimana nasib para thanan/narapidana???Miris memang ,gambaran sebuah penjara yang diperlihatkan berbeda sekali dengan anggapan yang selama ini kita pikirkan.Dalam film prison break bagaimana sebuah penajra itu yang seram,kusam,juga dalam komik One Piece bagimana Impel Down dibawah tanah dengan penajga yang seram.Saya pun pernah memiliki seorang teman yang masuk ke Penjara,dan ia tinggal beramai-tamai didalamnya,nasib memang,ternyata bertemu dengannya saja sulit.Apalagi harus membayar uang perbulan untuk biaya makanan.namun yang terlihat pada penjara “penguasa” berbeda sekali.Contohnya Artalyta Suryani dengan fasilitas mewah sekali di LP hidup dengan nyaman(ukuran nyaman fasiltas mungkin bukan hati) didalamnya.Bisa dibayangkan bagaimana seseorang berada seperti dihotel kelas mewah.Di ruangan khusus yang besar,audio lengkap,ruang baca,mainan untuk anak,hiasan dinding,kasur yang empuk,dan fasilitas yang lengkap seperti ,kantor,ruang khusus,dan masih banyak lagi.Enak sekali bagi seorang mafia peradilan seperti ini.Ini tentu penyimpangan yang terjadi dan ini berada dibawah payung yang bernama hukum.Keadilan dapat dinilai dari hukum dan hukum ternyata tidak mencerminkan keadilan.bagaimana sesuatu itu ditempatkan pada tempatnya.Uang bukanlah segalanya tapi segalanya didapat dengan uang,Itulah ungkapan sebagian orang yang beredar dimasyarakat bagaimana uang dan hukum dapat berjalan beriringan.

Bagi masyarakat biasa,tidak punya uang tentu saja ini menjadi ironi.Bagaimana mungkin seorang koruptor hidup mewah,seangkan maling ayam dihakimi masa.Hati nurani kita dapat menilai,bagaimana seharusnya keadilan terjadi.Keadilan semu,yaitu sesuatu yang dinaungi hukum dan keadilan semu lain yaitu keadilan yang dinilai dari nurani.Di satu sisi satu sel tahanan diisi lima orang,disisi lain satu ruangan terdapta ruangan karaoke,ruang berlatih akrate,spring bed mewah.Hukum pada dasarnya baik,tetapi jika di”mafiakan” sudah bukan keadilan yang dicapai.Hukum salah satu dari bagian keadilan menghasilkan keadilan semu.hati nurani yang milik masyarakat kecil mulai menemukan secercah keadilan.
Hati nurani pun tidak selamanya dapat dibeanrkan,contoh kasus disatu waktu Susno di hina,diwaktu lain Susno dibela,jika hanya mengandalkan hati nurani.keadilan dibagi menjadi 3 seperti perkataan Komarudin Hidayat dan didefinisikan menjadi hukum,hati nurani,dan wahyu Tuhan,Yang pertama dan kedua bersifat semu,artinya berasal dari manusia,dan hanya yang bersal dar Tuhan yang mutlak.

Satgas Mafia peradilan yang dibentuk presiden semoga mampu membongkar dan mengusut tuntas segala bentuk pengkerdilan hukum ini.Namun kemungkinan lagi-lagi masyarakat kecil yang akan kena.Jika Fasilitas mewah diberikan kepada beberapa napi,bisa jadi yang menjadi korban /kambing hitam adalah petugas penjaga lapas.Sedangkan bagi napi,faislitas –fasilitas ini berlanjut sampai menghiup udara segar.Semoga pemerintah memang serius membasmi mafia-mafia peradilan.Dan juga Keadilan di tegakkan.Tuhan memang masih saying pada negeri ini,kebobrokan demi kebobrokan diperlihatkan pada negeri ini,sedikit demi sedikit bermunculan dan dapat menjadi evaluasi dan pelajaran bagi generasi kedepannya.Bisa jadi orangnya yang salah,atau memang “hukumnya” yang salah.Kalau kata Bang One,tentang UU ITE,hukumnya yang salah,ya mw bagaimana lagi.Perlu reformasi di bidang hukum entah ke konsep,dan sistem penegakan hukum.Kalo di Cina,para koruptor sudah menyiapkan peti mati sendir,memang perlu ada perbaikan dalam sistem penegakan hukum,Hukum untuk keadilan menjadi ketidak adilan.Hanya Tuhan mungkin yang benar-benar adil,suatu saat nanti para koruptor dan mafia peradilan mendapat balasan yang pantas atas perbuatannya.

Peradaban Islam dan pewarisan ilmu

Potret tradisi peradaban Islam ditandai berkembangnya Ilmu dan buku. Dalam sejarah.Tak dijumpai peninggalan sebuah Candi( hidayatullah.com)

Pernah melihat bagaimana sebuah piramida.atau reruntuhan Aztec,atau colloseum.Juga candi –candi? Tentu saja dengan mengingat hal tersebut,kita membayangkan dimana ada suatu masa lalu yang membuktikan bahwa pada daerah dimana terdapat peninggalan-peninggalan diatas itu eksis. Lalu kita mulai bertanya,seperti apakah kondisi di mesir sampai dapat membuat pyramid,lalu bagaimana kondsi hindu di Indonesia,dengan candi-candinya.Hal seperti ini dapat dikatakan peradaban(civilization).Sebuah peradaban dapat maju secara bertaap,atau melesat,dan juga dapat musnah seketika.Bagaimana peradaban sebuah wilayah yang sangat maju tiba-tiba hilang,seperti peradaban suku maya,dimana hilang akibat pemusnahan penduduknya.Dalam tulisan ini,saya ingin mencoba membahas bagaimana Peradaban yang dapat dibilang masih tersisa saat ini,yaitu Peradaban Barat dan juga terntunya peradaban Islam.Banyak makalah /tulisan bagaimana pertemuan antara dua peradaban ini,saat zaman ini,dan akan menghasilkan satu peradaban yang bertahap “menang”.Ini sebagai awal agar lebih terbayang bagaimana suatu peradaban terbentuk.Jika kita ingat masa lalu tentang Islam,apakah yang kita ingat?? Tentu tidak seperti yang tertulis diatas tentang peninggalan Candia tau artefak,tetapi ada sesuat yang sangat menarik disini.Ya,kenyataanya peradaban islam merupakan peradaban yang maju,dan setidaknya sudah bertahan berabad-abad yaitu tradisi keilmuan .Dalam sejarah , Peradaban Islam adalah peradaban yang dapat dibilang peradaban tinggi. Tidak ada yang mampu menandingi ketinggian dan kesempurnaanya. Bersifat multidimensi, tidak parsial hanya pada aspek fisik saja, namun juga spiritual. Sebagaimana pada jaman Rasul dimana mencapai segala aspek kehidupan,juga khalifah Umar bin abdul aziz dimana tidak adayang namanya kelaparan,atau fakir miskin.Baitul Mal penuh,dan rakyat hidup makmur.Da  ada satu hal yang penting sekali dan diwariskan sampai saat ini yaitu tradisi Ilmu

Tradisi keilmuan dalam Islam dimasa lalu juga terbilang berkembang sangat pesat. Di Bagdad, dibuka jasa penerjemahan. Bagi penerjemah buku-buku bahasa asing, akan dibayar dengan emas seberat buku yang diterjemahkan. Selain itu, di Baitul Hikmah, terdapat 400 ribu judul buku. Dan konon, ada seorang pejabat yang tidak mau dipindahtugaskan gara-gara mempunyai banyak buku yang tidak bisa dibawa karena saking banyaknya.Lihat saja saat itu bagaimana ulama sangat menghargai apa yang namanya Ilmu.,sebut saja Ibnul Qayyim bagaimana ia mengarang buku yang jumlahnya ratusan,dan dapat kita nikmati sampai sekarang,Ibnu Hajar dengan 30 tahun membuat maha karya Syarah Kitab Bukhari dalam Fathul Baari,Ibnu Katsir dengan Tafsir Quranul Azhim,Bukhari,Muslim,dan juga para orang yang haus akan ilmu,membaca,dan juga menulis.

Potret tradisi peradaban Islam, tidak meninggalkan candi atau yang lainnya, melainkan ilmu dan buku. Hal ini pernah disampaikan dalam acara bedah buku “Sejarah Pemikiran Dan Peradaban Islam” oleh Dr. Hamid.Peradaban bermula dari pemikiran. Asas dari peradaban adalah pemikiran. Dan pemikiran harus bersumber Al-Quran. Lebih jauh, peradaban Barat yang kini terbentuk merupakan juga salah satu potret peradaban Islam yang saat itu menyentuh abrat dan barat mengadopsinya( Bagaimana barat belajar kepada Islam).Dimana Barat memiliki masa kelam dan tidak jelasnya peradaban mereka(nanti kita bahas ini).

Banyak pemikiran, penemuan, dan buku-buku yang diplagiat atau diambil secara tidak jujur. Meski demikian,  kemajuan peradaban yang dialami Barat hanya sebatas tekhonologi, bukan spiritual.Umat Islam tentunya jangan merasa rendah diri atau malu dengan peradaban barat.Islam seharusnya bangga ,sampai saat ini diakui barat sebagai satu-satunya peradaban yang tersisa(setelah komunis runtuh),(dalam buku Clash of Civilization)

Dalam sejarahnya, ketika filsafat Romawi dan Yunani “mati” mereka tidak mampu menghidupkannya kembali. Lalu, oleh al-Kindi, filsuf Islam, pemikiran-pemikiran seperti Aristoteles dan Plato dimodifikasi dan diklasifikasikan. Dalam kajiannya, Plato mengatakan bahwa tuhan hanya “duduk manis”, kemudian dirubah oleh al-Kindi tuhan adalah tuhan al-Khalik (pencipta). Begitu juga ketika Aristoteles mengatakan tuhan the first (yang pertama), al-Kindi merubahnya menjadi tuhan al-Haq (yang benar).

“Hal lain masih banyak yang membuktikan, bahwa peradaban dan tradisi ilmu Islam jauh lebih maju ketimbang eropa dan Barat ketika ituPeradaban Islam, Islam dibangun dengan tradisi ilmu. Hal ini bisa dilacak dalam ayat yang mengatakan, “Ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah”. Tradisi ilmu itu dapat kita lihat bagaimana majelis-majelis ilmu banyak terjadi walau sudah berkurang.Hal ini yang menyebabkan kemunduran peradaban Islam,karena apda dasarnya peradaban dimulai dari pemikiran.barat mulai gencar dengan slogan-slogan dan taktik agar barat menjadi pemenang dan menciptakan kondisi aman.(lihat Buku Clash of Civilization.Samuel P.Huntington).Islam dari awal menegaskan bahwa ulama pewaris nabi.Akan ada barisan ulama yang mengestafetkan tradisi ilmu ini.Dengan kondisi dunia saat ini ya g dijejali abrat teknologi,hiburan,dll yang membuat umat islam terlena,tidak mau berpikir,dan  dibuai oleh Barat,seharusnya sadar bahwa sesungguhnya dengan berpikir,dan tradisi ilmulah Islam dapat maju.Kita harus sadar,bahwa Barat dengan trauma peradabannya(di notes lain kalau sempat kita bahas),ingin tampil menjadi pemenang dalam peperangan antara dua peradaban ini( Clash of Civilization).

Dalam Quran, gambaran sejarah peradaban Islam bisa dilihat pada (QS. Ibrahim: 24/25). Kata sejarah merupakan derivasi dari kata syajarah (pohon). Yang dimaksud pohon sebagai simbol peradaban Islam. Dalam ayat itu, menurutnya kalimat thoyyibah (kalimat yang baik) adalah tauhid yang dipakai sebagai tamsil peradaban. Sedangkan ashluha tsabitun (akarnya teguh) bersifat absolut tidak berubah-ubah, dan far’uha fissama’ (cabangnya ke langit) sebagai gambaran bahwa tidak ada yang mampu menandingi ketinggian peradaban Islam.Oleh karena itu, kalimat thoyyibah itu sebagai epistemologi Islam yang harus menjadi sumber kajian peradaban Islam. Jika ingin terbentuknya peningkatan dan kemajuan peradaban Islam saat masa kini,maka wacana tentang peradaban dan konsep membangun peradaban harus digencarkan.Hal ini dapat kita terapkan dalam kehidupan ,contoh kecilnya seperti sering membaca,atau bertanya-tanya dan tidak hanya menunggu dicekoki oleh pemikiran-pemikiran Barat.Membangun peradaban dapat dimulai dengan keahlian masing-masing,dengan tradisi keilmuan masing-masing ,dan bersatu peradaban Islam yang maju didepan mata.

Potret tradisi peradaban Islam ditandai berkembangnya Ilmu dan buku. Dalam sejarah.Tak dijumpai peninggalan sebuah artevak atau tugu

Pernah melihat bagaimana sebuah piramida.atau reruntuhan Aztec,atau colloseum.Juga candi –candi? Tentu saja dengan mengingat hal tersebut,kita membayangkan dimana ada suatu masa lalu yang membuktikan bahwa pada daerah dimana terdapat peninggalan-peninggalan diatas itu eksis. Lalu kita mulai bertanya,seperti apakah kondisi di mesir sampai dapat membuat pyramid,lalu bagaimana kondsi hindu di Indonesia,dengan candi-candinya.Hal seperti ini dapat dikatakan peradaban(civilization).Sebuah peradaban dapat maju secara bertaap,atau melesat,dan juga dapat musnah seketika.Bagaimana peradaban sebuah wilayah yang sangat maju tiba-tiba hilang,seperti peradaban suku maya,dimana hilang akibat pemusnahan penduduknya.Dalam tulisan ini,saya ingin mencoba membahas bagaimana Peradaban yang dapat dibilang masih tersisa saat ini,yaitu Peradaban Barat dan juga terntunya peradaban Islam.Banyak makalah /tulisan bagaimana pertemuan antara dua peradaban ini,saat zaman ini,dan akan menghasilkan satu peradaban yang bertahap “menang”.Ini sebagai awal agar lebih terbayang bagaimana suatu peradaban terbentuk.Jika kita ingat masa lalu tentang Islam,apakah yang kita ingat?? Tentu tidak seperti yang tertulis diatas tentang peninggalan Candia tau artefak,tetapi ada sesuat yang sangat menarik disini.Ya,kenyataanya peradaban islam merupakan peradaban yang maju,dan setidaknya sudah bertahan berabad-abad yaitu tradisi keilmuan .Dalam sejarah , Peradaban Islam adalah peradaban yang dapat dibilang peradaban tinggi. Tidak ada yang mampu menandingi ketinggian dan kesempurnaanya. Bersifat multidimensi, tidak parsial hanya pada aspek fisik saja, namun juga spiritual. Sebagaimana pada jaman Rasul dimana mencapai segala aspek kehidupan,juga khalifah Umar bin abdul aziz dimana tidak adayang namanya kelaparan,atau fakir miskin.Baitul Mal penuh,dan rakyat hidup makmur.Da  ada satu hal yang penting sekali dan diwariskan sampai saat ini yaitu tradisi Ilmu

Tradisi keilmuan dalam Islam dimasa lalu juga terbilang berkembang sangat pesat. Di Bagdad, dibuka jasa penerjemahan. Bagi penerjemah buku-buku bahasa asing, akan dibayar dengan emas seberat buku yang diterjemahkan. Selain itu, di Baitul Hikmah, terdapat 400 ribu judul buku. Dan konon, ada seorang pejabat yang tidak mau dipindahtugaskan gara-gara mempunyai banyak buku yang tidak bisa dibawa karena saking banyaknya.Lihat saja saat itu bagaimana ulama sangat menghargai apa yang namanya Ilmu.,sebut saja Ibnul Qayyim bagaimana ia mengarang buku yang jumlahnya ratusan,dan dapat kita nikmati sampai sekarang,Ibnu Hajar dengan 30 tahun membuat maha karya Syarah Kitab Bukhari dalam Fathul Baari,Ibnu Katsir dengan Tafsir Quranul Azhim,Bukhari,Muslim,dan juga para orang yang haus akan ilmu,membaca,dan juga menulis.

Potret tradisi peradaban Islam, tidak meninggalkan candi atau yang lainnya, melainkan ilmu dan buku. Hal ini pernah disampaikan dalam acara bedah buku “Sejarah Pemikiran Dan Peradaban Islam” oleh Dr. Hamid.Peradaban bermula dari pemikiran. Asas dari peradaban adalah pemikiran. Dan pemikiran harus bersumber Al-Quran. Lebih jauh, peradaban Barat yang kini terbentuk merupakan juga salah satu potret peradaban Islam yang saat itu menyentuh abrat dan barat mengadopsinya( Bagaimana barat belajar kepada Islam).Dimana Barat memiliki masa kelam dan tidak jelasnya peradaban mereka(nanti kita bahas ini).

Banyak pemikiran, penemuan, dan buku-buku yang diplagiat atau diambil secara tidak jujur. Meski demikian,  kemajuan peradaban yang dialami Barat hanya sebatas tekhonologi, bukan spiritual.Umat Islam tentunya jangan merasa rendah diri atau malu dengan peradaban barat.Islam seharusnya bangga ,sampai saat ini diakui barat sebagai satu-satunya peradaban yang tersisa(setelah komunis runtuh),(dalam buku Clash of Civilization)

Dalam sejarahnya, ketika filsafat Romawi dan Yunani “mati” mereka tidak mampu menghidupkannya kembali. Lalu, oleh al-Kindi, filsuf Islam, pemikiran-pemikiran seperti Aristoteles dan Plato dimodifikasi dan diklasifikasikan. Dalam kajiannya, Plato mengatakan bahwa tuhan hanya “duduk manis”, kemudian dirubah oleh al-Kindi tuhan adalah tuhan al-Khalik (pencipta). Begitu juga ketika Aristoteles mengatakan tuhan the first (yang pertama), al-Kindi merubahnya menjadi tuhan al-Haq (yang benar).

“Hal lain masih banyak yang membuktikan, bahwa peradaban dan tradisi ilmu Islam jauh lebih maju ketimbang eropa dan Barat ketika ituPeradaban Islam, Islam dibangun dengan tradisi ilmu. Hal ini bisa dilacak dalam ayat yang mengatakan, “Ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah”. Tradisi ilmu itu dapat kita lihat bagaimana majelis-majelis ilmu banyak terjadi walau sudah berkurang.Hal ini yang menyebabkan kemunduran peradaban Islam,karena apda dasarnya peradaban dimulai dari pemikiran.barat mulai gencar dengan slogan-slogan dan taktik agar barat menjadi pemenang dan menciptakan kondisi aman.(lihat Buku Clash of Civilization.Samuel P.Huntington).Islam dari awal menegaskan bahwa ulama pewaris nabi.Akan ada barisan ulama yang mengestafetkan tradisi ilmu ini.Dengan kondisi dunia saat ini ya g dijejali abrat teknologi,hiburan,dll yang membuat umat islam terlena,tidak mau berpikir,dan  dibuai oleh Barat,seharusnya sadar bahwa sesungguhnya dengan berpikir,dan tradisi ilmulah Islam dapat maju.Kita harus sadar,bahwa Barat dengan trauma peradabannya(di notes lain kalau sempat kita bahas),ingin tampil menjadi pemenang dalam peperangan antara dua peradaban ini( Clash of Civilization).

Dalam Quran, gambaran sejarah peradaban Islam bisa dilihat pada (QS. Ibrahim: 24/25). Kata sejarah merupakan derivasi dari kata syajarah (pohon). Yang dimaksud pohon sebagai simbol peradaban Islam. Dalam ayat itu, menurutnya kalimat thoyyibah (kalimat yang baik) adalah tauhid yang dipakai sebagai tamsil peradaban. Sedangkan ashluha tsabitun (akarnya teguh) bersifat absolut tidak berubah-ubah, dan far’uha fissama’ (cabangnya ke langit) sebagai gambaran bahwa tidak ada yang mampu menandingi ketinggian peradaban Islam.Oleh karena itu, kalimat thoyyibah itu sebagai epistemologi Islam yang harus menjadi sumber kajian peradaban Islam. Jika ingin terbentuknya peningkatan dan kemajuan peradaban Islam saat masa kini,maka wacana tentang peradaban dan konsep membangun peradaban harus digencarkan.Hal ini dapat kita terapkan dalam kehidupan ,contoh kecilnya seperti sering membaca,atau bertanya-tanya dan tidak hanya menunggu dicekoki oleh pemikiran-pemikiran Barat.Membangun peradaban dapat dimulai dengan keahlian masing-masing,dengan tradisi keilmuan masing-masing ,dan bersatu peradaban Islam yang maju didepan mata.