Archive for the ‘ Ekonimi dan Politik ’ Category

Kerakyatan yang Dipimpin Hikmat Kebijaksanaan

mati demoo

“Demokrasi telah mati!”  seorang berteriak di jalanan, berkeliling-keliling sambil mengibarkan bendera dengan penuh kebencian, kemarahan, dendam dan frustasi!. “RIP demokrasi,” kata kawannya yang lain sambil menshare foto-foto ‘Ingatlah Partai Ini!’, sambil misuh, tak menerima. Demokrasi menjadi jimat dan aji-aji, kebenaran absolut, lupakan sejenak partainya super korup atau tidak, yang penting kalau melawan ‘demokrasi’ ia harus dihabisi.

Demokrasi, ia tak bisa diganggu gugat, menggugat demokrasi ialah haram hukumnya!. Ia adalah fatwa kekal, tak mungkin salah, tak bisa disalahkan, awas sekali-kali melawan demokrasi, Presiden pun fotonya bisa diinjak-injak. Demokrasi ialah mantra sakti. “Semua harus demokratis” Katanya sambil merengek maksa keinginannya dikabulkan karena kalah voting.  Baginya, hanya dirinya yang mewakili rakyat dan demokratis. Tak demokratis berarti tak manusiawi, ketinggalan zaman, set back. Demokrasi kini menjadi tujuan akhir dan final, bukan lagi alat,  pokoknya begitu, titik!

Yang melawan demokrasi, ia harus kita habisi, “kita bully di twitter”. Lihat saja, mereka, orang-orang yang terpilih via demokrasi, para wakil rakyat, yang telah dipilih rakyat, karena mereka tak sesuai dengan pendapat dirinya, maka para anggota dewan yang terhormat akan dilawan. Mereka yang dipilih rakyat, secara demokratis pun harus dihabisi, karena tak sependapat dengannya yang bisa jadi tidak dikenal warga di kampungnya, karena cuman eksis di FB , Twitter, Instagram doang.

Mereka yang dipilih rakyat adalah penghianat demokrasi!. Sedangkan yang ahlul twitter wal fesbukiyyah, yang dicekoki : oknum pengamat, lembaga asing,  media mainstream yang berjibun kepentingan itu ialah rakyat sejati nan demokratis. Sebab, demokrasi baginya hanya urusan ‘memilih langsung’, kebebasan bicara, one man one vote,  ‘tok pokoknya kalau nggak memilih langsung:  #RIPDemokrasi, Demokrasi mati,  penghianat demokrasi, hingga umpatan kasar terus terlontar sambil mention-mention.

“’Demokrasi’, ialah harga mati, melebihi apapun!” terkecuali: parpol kami, lurah, camat, CEO, rektor, dll itu nggak perlu ‘demokratis’ amat lah. Keputusan yang diambil oleh orang-orang yang katanya dipilih secara demokratis tak perlu digubris, “karena bertentangan dengan kehendak kami”. Satu suara begitu nyaring, demokrasi di dunia maya yang membiarkan setiap orang berbicara begitu lantang, bebas,  begitu individualistik, begitu penuh polemik, kata Plato.

Orang-orang tak lagi percaya para wakil rakyatnya sendiri,  partai politiknya, karena semuanya hanya abu-abu, penuh intrik, licik dan plin plan hanya berkutat hanya pada kekuasaan, kepentingan partai, sebuah ungkapan yang tengah menyeruak.

“Mengapa idealisme dan politik seakan tidak bisa bersatu. Mengapa politik hanya dianggap amal yang lepas dari ilmu, retorika yang tanpa logika. Mengapa politik berarti membangun kekuasaan, bukan peradaban. Padahal kekuasaan hanyalah tahta yang tak berarti tanpa ilmu, moralitas dan tujuan? tanya Dr. Hamid Fahmy Zarkasy dalam Pemimpin.

“Semua itu adalah harga yang harus dibayar dalam sistem demokrasi,” jawab Gordon S Wood  dalam The Public Intellectual. Samuel Eliot Morrison dan Harold Laski, sejarawan Amerika percaya bahwa dalam sejarah modern, nggak ada periode yang kaya dengan ide politik yang memberi banyak kontribusi kepada teori politik Barat. “Itu karena kualitas intelektual dalam kehidupan politik masa kini turun drastis. Ide dipisahkan dari kekuasaan,” tambah Gordon gemas.

Kalau Gordon tinggal di Indonesia, mungkin ia akan berkata itulah harga yang harus dibayar oleh sekularisme dan demokrasi liberal. Beruntungnya,  Negara ini awalnya menolak sekulerisme dan demokrasi liberal. Sambil berbinar-binar, para intelektual cum founding fathers merumuskan bahwa di sini, demokraisi bukanlah bermakna : bebas omong dan one man one vote,  yang kini begitu didewakan pendukungnya, namun wisdom (hikmah kebijaksanaan) yang menjadi nilai dan dengan wisdom itulah rakyat dipimpin.

Di sini, harusnya ide tak bercerai dengan  kekuasaan, kerakyatan dipimpin hikmah. Sila ke -4 “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”  seharusnya menghancurkan konvensi  dan adigium “Berpolitik tidak bisa hitam putih” , ”Politisi boleh bohong tapi tidak boleh salah, ilmuwan tidak boleh bohong tapi boleh salah”. Terbukti dari ide yang diusung partai-partai di masa awal kemerdekaan  yang begitu menjadi kebanggaan, bukan intrik dan pragmatisme laiknya sekarang.

“Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.” Begitu apik dikisahkan dalam Mata Air Keteladanan: Pancasila dalam Perbuatan karya pakar Politik Dr. Yudi Latif, yang mengisahkan bahwa hikmah dan musyawarah merupakan kearifan asli dari negeri ini yang bercecer di pelbagai wilayah. Wisdom dan musyawarah barang langka yang mungkin sulit ditemukan di sana, ketika demokrasi itu muncul. Karenanya, di sananya, ia bukanlah lagi ‘kebenaran mutlak’ seperti mungkin di sini. Demokrasi pun tak luput dari kritik para filsuf seperti Plato dan Aristoteles, dll. Rakyat dikuasai kemarahan, “they are free men; the city is full of freedom and liberty of speech, and men in it may do what they like,”  kata Plato.

Syahdan, ketika semua orang berbicara, dan geram sambil bersumpah serapah pada mesin yang rusak di sebuah toko di Leicester Inggris, seorang berparas Timur berusaha memperbaikinya, dengan sabar, dan akhirnya tersenyum puas setelah mesin itu kembali normal sambil menyeringai, “ You see! Wisdom always come from the East,” kira-kira begitulah  maksud Edward Said dalam Orientalisme  tentang hikmah dari Timur.

Goethe (1749-1832) yang asli Barat itu memang mengeluhkan dalam West Oestlicher Divan bahwa pandangan asli Barat yang materialis dan individualis. Sedangkan Timur menjanjikan nilai-nilai kebijaksanaan, karenanya, sastrawan kesohor, Iqbal (1923) dalam Payam – i- Mashriq (pesan dari Timrur) menulis nasihat untuk Goethe.

Raindranath Tagore peraih Hadiah Nobel Sastra dari India membenarkan kata hikmah-bijak (wisdom) memang dari Timur : ‘taklukkan kemarahan dengan kesabaran, kejahatan dengan kebaikan’ juga berasal dari  Timur. Berbeda dengan istilah asli Barat, “Kenali musuhmu, vini, vidi, vici, we are the super power, “ kata Tagore.

Timur (orient) dan Barat (occident), mungkin seperti kelakar syair Tagore, bahwa wisdom bisa jadi hanya datang dari Timur, seperti tempat terbit matahari dan terbenam di Barat. Dan karenanya, wisdomlah  yang digali para pendiri negeri ini yang tak hanya ingin merdeka secara territorial, tetapi juga secara ideologi. “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”

Hikmah, ia bukan personal, bukan Presiden, bukan anggota dewan yang terhormat, bukan juga anggota DPRD. “Hikmat adalah suatu kondisi kejiwaan dan dalam sila ini dikatikan dengan sikap dalam bermusyawarah dan menentukan kebijakan. Artinya sistem permusyawaratan dan perwakilan dalam bernegara di Indonesai ini mestinya dipimpin oleh moralitas yang tinggi.” kata Dr. Hamid Fahmy Zarkasy dalam Hikmah.

Lanjutnya, dalam bahasa umum hikmah dipahami sebagai kebijaksanaan atau bijaksana (wisdom). Dalam al-Qur’an terdapat perintah untuk berdakwah dengan bijaksana (bi al-hikmah). Karenanya, orang yang memutuskan perkara dengan hikmah, ia disebut hakim. Ikhwanussafa menjelaskan orang yang memiliki hikmah atau “al-hakim” adalah yang perbuatannya dapat dipertanggung jawabkan; kerjanya tekun, perkataannya benar, moralnya baik, pendapatnya betul, amalnya bersih dan ilmunya benar, yaitu ilmu tentang segala sesuatu.

Hikmah juga berkaitan dengan berfikir yang logis dan mendalam. Karena itu Ibn Rusyd menterjemahkan “hikmah” dengan filsafat dan hakim dengan filosof. Istilah hikmah asli dari al-Qur’an dan disebut sebanyak 20 kali. Menurut al-Ghazzali hikmah adalah salah satu dari unsur akhlaq mulia selain keberanian, kejujuran dan keadilan. Maka berakhlaq mulia dalam Islam itu bukan sekedar berperilaku baik, tapi juga berilmu tentang kebaikan, bersikap berani menyatakan kebenaran, berlaku adil terhadap segala sesuatu alias tidak zalim.

Agar memiliki hikmah, keberanian, kejujuran dan keadilan diperlukan ilmu. Sebab berani dan adil tanpa ilmu bisa salah jalan alias sesat. Orang berilmu yang tidak jujur, ilmunya tidak manfaat. Demikian pula kekuatan dan manfaat ilmu dapat dilihat ketika seseorang itu dapat membedakan antara kejujuran dan kebohongan, antara haq dan batil, antara baik dan buruk. Jadi hikmah menurut al-Ghazzali adalah keadaan kejiwaan seseorang yang dapat mengetahui yang baik dari yang buruk benar dalam segala perbuatan. (Ihya III, hal.54). Ibn Arabi dalam Futuhat juga berpendapat sama. ( Hamid Fahmy Zarkasy: 2011)

Ungkapan Gordon di awal boleh jadi benar, bahwa kualitas (ilmu) intelektual dan spiritual dalam politik seakan tidak lagi dilibatkan. “Sebenarnya, yang mendirikan dan membangun negara itu adalah para intelektual” kata Zia Ul Haq (Presiden Pakistan silam) Mungkin Zia terinspirasi bukan dari para politisi, tapi dari para intelektual seperti Mohammad Iqbal, Abul Ala Al Maududi, Amir Ali, Syed Ahmad kan yang mempelopori kemerdekaan Pakistan.

Pun dengan inspirator negeri tetangganya (India) dari penjajahan Inggris seperti Mahatma Gandhi, Rabindranath Tagore, Jawaherul Nehru dan lain-lain. Boleh jadi, negeri ini pun begitu. HOS Tjokroaminoto adalah inspirator  Soekarno dan lainnya. Agus Salim, Hamka, Natsir, Wahid Hasyim, M Yamin, Ki Hajar Dewantoro, hingga Hatta yang semuanya bukan politikus murni, tapi intelektual yang bervisi politik.

Ayn Rand dalam For the New Intellectual menjuluki mereka,  sebagai thinkers who were also men of action. Dengan intelektualitasnya, diharapkan menjadi dasar dari ‘hikmah’. Ilmunya bekal amal. Itulah al Hakim (orang berhikmah). Al-Ghazzali menambahkan al-hakim adalah orang yang jiwanya memiliki kekuatan mengontrol dirinya sendiri (tamakkun) dalam soal keimanan, akhlak dan dalam berbicara. Jika kekuatan ini terbentuk maka akan diperoleh buah dari hikmah, sebab hikmah itu adalah inti dari akhlak mulia.

Cerdas memang, para intelektual cum pendiri negeri ini. “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan” menggambarkan sebuah sistem yang seharusnya hanya orang-oang yang “hakim” saja yang bisa memimpin rakyat.

Berbeda dengan semangat kemarahan, semangat hikmah memandang perbedaan pendapat tak harus dieksekusi dengan dendam kesumat karena ‘kalah’, sambil geram membagi sana sini ‘RIP Demokrasi’. Terus berteriak, memaksakan pendapat pribadi, tak sadar telah menjadi tiran, tirani demokrasi!. “Kematian demokrasi” yang digadang-gadang dibunuh oleh pengusungnya sendiri,  suicide democracy! Tragis!

Sebaliknya, duduk bersama, meracik perbedaan, berpikir kolektif dalam sebuah majelis, seakan mengulang romantimse masa silam ketika Sembilan orang berwibawa mengajukan dasar Negara tanggal 22 Juni 1945 dan disepakati 62 anak negeri, hingga ketika sehari setelah kemerdekaan negeri ini (18 Agustus), baru saja negeri ini memiliki Presiden dan Wakil Presiden yang ‘hanya’ disetujui 21 orang perwakilan.

Atau bisa juga kembali mengingat saat tahun 1955, ketika setiap orang pun memberikan suaranya secara langsung namun orang-orang yang disodorkan ialah para intelektual dan orang-orang terbaik dari Partai yang berbasis ide. Sekarang, pertanyaan terlontar kepada partai politik, akankah mereka memberikan rakyat pilihan para ahli hikmah yang akan diajukan sehingga rakyat tak menerima ‘begitu saja’ apa yang disodorkan?

Sebab, jika para ahli hikmah memimpin negeri ini, maka keadilan sosial takkan menunggu waktu, seperti ungkapan Lisan al-Din al-Khatib, ulama abad ke 14, dalam kitab Raudat al-Ta’rif memahami hikmah seperti keadilan. Walhasil, keberkahan dipastikan akan mengalir di negeri ini. Sebab al-Qur’an sendiri menjamin “Barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak….” (al-Qur’an 2:269) Wallahu a’lam. []

sumber gambar: blog.churchoftherock.ca

Sibuk

Beberapa hari ini saya berkesempatan nugas ngeliput di Ibu Kota RI, setelah sebelumnya kunjungan ke enam kota besar di macem-macem provinsi. Saat itu, saya sedang menaiki commuter line, ke arah Bogor. Saya membandingkan kota-kota yang saya kunjungi sebelumnya. Ternyata nggak berbeda jauh!. Kota-kota itu semakin ‘mendekati’ Jakarta.

Sorry ini jam sibuk bung!”teriak seseorang di tepi pintu kereta, sambil menahan orang luar yang mau masuk. Kereta terlalu penuh. Memang, suasana di dalam commuter sangat padat sampai-sampai orang di luar saja nggak bisa masuk. Saya membayangkan bagaimana kalau dengan kereta ekonomi kalau di sini saja seperti ini? “Mengerikan!”

Ungkapan “Ini jam sibuk” membuat banyak orang bertanya-tanya apakah itu sibuk? Apa yang membuat ribuan orang berkumpul pada tempat sama jam yang sama? Jim Dwiyyer menggambarkan keadaan Newyork dalam, bukunya ‘Subway Loves 24 hours in the Life of The Newyork City Subyway’. Saya pikir, ungkapan orang yang berterak tadi masuk akal. Jakarta semakin mendekati Newyork!

Itulah sibuk!. Semua melaju. Russel Leigh dan Cheryl Harris menguatkan pendapat Dwiyyer dengan bukunya ‘NIGHT SHIFT NYC’. Mereka bilang seperti curhatan teman saya. Katanya “Saya sering kejebak macet di Jakarta tiap pagi, sama pulang ngantor malam, kadang-kadang macet total”

Belum lagi senin kemarin (5/6) saat saya ke Ciputat jam enam pagi saja sudah macet. Jam sibuk semakin maju. Setiap saat menjadi waktu yang sibuk!. “Busy” istilah YM (Yahoo Messenger)-nya. “Nggak mau di ganggu pokoknya!”. Ia menjadi cenderung individualis kata Bauman. Padahal Morgan Freeman dalam Filmnya bilang ‘Get busy living, get busy dying”. Bisa jadi ia benar.

Di Indonesa, ‘Busy’ menjadi kawannya Bising. Latin-nya festinare, maksudnya ‘actively or fully engaged, occipided. Crowded with characterized by activity.’ Singkatnya penuh agenda, full kegiatan!. Makanya “ business” ngambil akarnya dari busy. Kereta bisnis yang saya naiki ini, keretanya orang-orang ’sibuk.’
Banyak sekali yang dikerjakan. Dari bangun pagi, hingga pulang dan tidur semua ia kerjakan. Lama-lama busy sudah menjadi gaya hidup (lifestyles). Semua orang mencari kesibukan-nya masing-masing. Lagi-lagi Peter Berger bilang ini gara-gara zaman. Katanya zaman telah berubah. Apakah pernah membayangkan orang-orang zaman dulu ‘sibuk’ seperti sekarang?.

Sibuk sudah menjadi ‘makanan keseharian’. Istilahnya David Chaney ”Life styles”. Orang yang nggak ‘sibuk’, nggak modern. Nggak baik!. Kabarnya, Cina sudah ketularan virus ‘sibuk’. Belum lagi Jepang, dan negara-negara lain. Semua mencari kesibukan. Malah, ekstremnya kata para ahli sosiologi, orang-yang hidup di kota-kota itu, Busy-ness City, mendapat tingkat “stress” tertinggi!

“Grrrr” geram orang sebelah saya itu sambil melirik berkali-kali ke pergelangan tangan kirinya, ia terlihat frustasi. Saat itu bus melaju pagi buta sekali di jalan tol. Jalan tol macet!. Semua orang sibuk!. Lucu memang, jalan tol yang katanya bebas hambatan, malah benar-benar bebas menghambat!. “Stress” sudah menjadi budaya Kota Besar. Ia terus melaju 24 jam.
Belum lama beberapa konsultan “Happiness”, mengadakan survey kecil-kecilan. Semua sepakat , termasuk para trainer, motivator, dll bahwa kebahagiaan dan ketenangan (lawannya stress) datangnya dari dalam diri. “Uang dan ke’sibuk’kan nggak bisa membuat saya bertahan, mendingan saya kerja di Bandung lagi,” kata teman saya yang sempat beberapa bulan hidup di Kota ‘Busy-ness.’ Akhirnya ia keluar dari kantornya di Ibu Kota.

Tetap, Ia harus belajar ’berhenti’ dari siklus ke’sibuk’an itu. Ia harus menyediakan waktu untuk diri sendiri. “Ah sibuk” gak sempet!”. Pikirnya, semakin sibuk semakin sukses. Semakin berbunga-bunga, semakin ‘mulia’. Sampai-sampai ia berteriak “We are too busy to be happy.”

Ia terus mencari kesenangan, kebahagiaan. Tiap akhir pekan, uang hasil ‘sibuk’nya digunakan untuk kongkow-kongkow di Café, Warung, Plaza, atau sekadar hangout di pusat-pusat kota. Menikmati hidup hanya di akhir pekan. Karena kalau hari –hari biasa ‘sibuk’ katanya.

Steve Bayley (1991) dalam ‘Taste: The Secret Meaning of Things’, mengemukakan “Cita rasa adalah sebuah agama baru dengan upacara-upacara yang di rayakan di pusat-pusat perbelanjaan dan meuseum, dua lembaga yang asal-usulnya terletak persis periode yang menyaksiskan ledakan konsumsi popular.” Periode apakah itu?

Inilah yang kata William Weber ‘Masyarakt modern’. Sibuk semua. Berdiri di dalam commuter line melaju bersama waktu pagi dan petang. Mengklakson, menginjak kopling, rem, mengklakson, sambil menggerutui ‘macet’. Featherstobe, nggak terlalu kaget, katanya “Ini karena perkembangan kapitalistik.”

A lyric Poet in The Era of High Capitalism” tambah Benjamin—Pusat keramaian (Crowd) merupakan tontonan wajar, jika seseorang boleh menerapkan istilah terhadap kondisi sosial. Sebuah jalan, suatu kebarakaran besar, kecelakaan lalulintas, pertunjukan mengumpulkan orang. Mereka hadir dengan sendirinya sebagai kesamaan konkret, yakni dalam kepentingan-kepentingan pribadi (p.2)

Uang gajian di habiskan di pusat-pusat keramaian. Hasil sibuk seminggu harus di rapel dalam akhir pekan! Berking and Neckel tahun 1993 sampai –sampai membuat buku “Urban marathon’The staging of individualityas an urbant event.” Kehidupan yang serba sibuk menjadi hidup ini seperti marathon, selalu dikejar aktivitas, sampai-sampai waktu-waktu tertentu saja menikmati kebahagiaan.

Tiba-tiba orang-orang di gunung itu berkata “Kami tidak perlu menunggu akhir pekan!”. Setiap hari kami bisa menikmati udara segar, tanpa bunyi klakson. Orang-orang kota-pun nggak mau kalah berujar, kamipun setiap hari merasakan kenikmatan di sini, setelah sejenak kami ‘berhenti’ dari kesibukannya. Berhenti dari kesibukan malah semakin baik katanya.

Nyatanya M Shumaker yang pembalap itu, harus berhenti sejenak di pit-stop untuk persiapan dan perbaikan ke depan.”Kalau melaju terus, mesin bisa rusak!” kata tim Ferrari. “Less is More: Spirituality for Busy Lives” tulis Brian Drapper. ‘Spirituality for busy people’ sedang berkembang di Amerika. Di Buku lain “The Practiceof Every day Life”, di kisahkan hidup itu nggak sekadar fisik bung! Ia butuh permainan, cerita, spritualitas!.

Orang-orang Barat mulai mencari makna spiritualitas. Lash and Urry melanjutkan bukunya “The End of Organized Capitalism”. Ternyata orang kota itu, awalnya ia penasaran. Sesekali ia memenuhi panggilan Tuhan untuk berhenti dari ‘kesibukan’. Setelah itu iseng ia buka kembali kitab sucinya , dengan wajah merah dan malu-malu ia menemukan ayat dan membaca dengan pelan kalimat “Setiap saat Dia (Allah) dalam kesibukan”.

Buru-buru ia sucikan diri, dengan bangga ia menghadap Dzat yang Super sibuk. Senang sekali rasanya orang itu ketemuan sama yang ‘sibuk beneran’. Yang selalu sempat di temui, selalu siap di ingat. Ia malu, ternyata selama ini ia sok sibuk. “Baru ‘sibuk’ saja sudah nggak mau ketemu sama yang Super sibuk!”. sadarnya

‘Sibuk’nya sudah berubah menjadi sibuk. Kata De Certau, Michman, Moers, sekarang ia sudah bisa me-manage ke’sibuk’anya dengan hal-hal yang baik. Berdiri di commuter line ia isi sambil mengingat Tuhan-Nya. Bibirnya Nampak basah. Tidak ada lagi gerutu di sana.

Tidak ada lagi menunggu akhir pekan, tidak ada lagi menunggu malam, kebahagiaan ia rasakan setiap saat, setiap detik. Tidak adalagi uang nya ia habiskan sia-sia, tidak adalagi ‘stress’di sana. We are too busy to be happy.” Berubah, every time, every where, I’am busy in happy. Ya, sama-sama sibuk, tapi nilainya sangat berbeda. Orang seperti ini nggak perlu ditanya sibuk ngapain sekarang?

Equality

NANCY, sebut saja begitu, tiba-tiba minta cerai dari James, suaminya seorang professional. Padahal ia sudah 10 tahun menikah. Sebagai itu rumah tangga dengan 2 orang anak, Nancy begitu menikmati kehidupannya. Penghasilan suami, sekolah anak-anak, dan kehidupan rumah tangganya tergolong sejahtera.

Tapi, Nancy ternyata telah “kerasukan” faham kesetaraan gender. Ia menjadi tidak nyaman berkeluarga. Mengurus rumah tangga tiba-tiba serasa seperti pembantu atau budak.

Di kepalanya serasa ada yang terus membisikkan tulisan Berger The family now appears as an age-old evil. Heterosexual is rape, motherhood is slavery, all relation between the sexes are struggle of power (Keluarga sekarang Nampak seperti setan tua. Hubungan seks pria wanita adalah perkosaan;peran keibuan adalah perbudakan; semua hubungan antarjenis kelamin adalah perjuangan untuk kekuasaan). Maka, sukses suaminya dirasa menambah rasa superioritas dan penguasaan terhadap dirinya. Meski itu tidak secuilpun terbesit dalam pikiran suaminya.

Setelah cerai ia berharap akan bebas dari suami, bisa berkarir sendiri, dan tidak terikat di dalam rumah tangga. Tapi itu hanya harapan. Setelah cerai ternyata karirnya tidak sejaya mantan suaminya. Rumah tangga dan anak-anak masih diurusnya sendiri dan nyaris kehilangan perhatian. Di dunia kerjanya banyak masalah yang tidak mudah dihadapi. Di dalam benaknya terdetik penyesalan “ternyata sendiri itu tidak nyaman”. Tanpa suami hidupnya terasa pincang. Benarlah wisdom dari Nabi: “Sungguh miskin! Wanita tanpa laki-laki. Sungguh miskin! Laki-laki tanpa wanita”. Kalau saja Nancy pernah membaca hadith ini dia tentu akan mengumpat para feminis atau berfikir panjang untuk cerai. Asalkna dia tidak membaca hadith itu dengan hermeneutika.

Mimpi Nancy adalah equality. Itu adalah tuntutan zaman postmo yang sarat kepentingan sesaat dan selalu berubah-rubah. Mimpi Nancy adalah misi postmo, yakni membangun persamaan total. Jargonnya sayup-sayup seperti berbunyi “persamaan adalah keadilan”. Artinya kerja menyetarakan adalah kebaikan, dan membeda-bedakan adalah kejahatan. Sebab teori menyamaka-nyamakan adalah bawaan pluralisme dan relitvisme. Dua doktrin penting yang berada pada melting-post postmodern.

Tapi penyamaan adalah utopia fatamorganis. Menjanjikan tapi tidak menjamin. Membela tapi utnuk menguasai. Sebab para pakar di Barat yang sadar mengkritik misi ini. Di tahun 1715-1747 Marquis De Vauvenargues sudah wanti-wanti “alam tidak mengenal kesamaan; hukum, yang berlaku adalah subordinasi dan ketergantungan”. Hampir seabad kemudian James Anthony Fuller, (m.1894) mengulang pesan Marquis “Man are made by nature unequal, it is vain, therefore to treat them as if they were equal”. Fakta sosial juga menunjukkan bahwa in-equality antara sesame laki-laki sekalipun bisa diterima. Apatah lagi laki-laki dan wanita. Fakta biologis menjelaskan struktur tubuh laki-laki dan perempuan berbeda dan membawa perbedaan psikologis. Karena itu Dr. Ratna Megawangi dengan tepat dan cerdas memberi judul bukunya “Membiarkan Berbeda”.

Jika demikian apa berarti tuntutan equality tidak universal? Memang! Sebab kebebasan dan persamaan adalah bagian dari America’s core culture (Fukuyama). Malahan, kata Roland Inglehart dan Pippa Norris kesetaraan gender, kebebasan seks, perceraian, aborsi, dan hak-hak gay adalah cirri khas Barat. Maka benturan Islam-Barat adalah Sexual clash of Civilization, tulisnya. Itulah, equality memang tidak universal.

Tapi mengapa kini tiba-tiba menjadi seperti universal? Sebab equality satu paket dengan Westernisasi, modernisasi dan globalisasi. Mulanya (abad 19 hingga awal abad 20) hanya sekedar menuntut kesamaan hak pilih, tapi kemudian (1960-an – 1980 an) persamaan bidang hukum dan budaya. Periode selanjutnya (1990 an) adalah evaluasi kegagalan gerakan pertama dan intensifikasi gerakan kedua.

Penyebarannya berbasis teori Foucault – “untuk menjajak pemikiran kuasai wacana!” caranya, semua bangsa dan bahkan agama didorong untuk bicara gender. Yang menolak berarti ndeso alias kampungan. Strategi dan aplikasinya menjadikan kesetaraan gender sebagai neraca pembangunan di PBB. Pembangunan diukur dari peran wanita didalamnya dalam bentuk GDI (Gender Development Index).

….Tapi benarkah peran wanita dapat menjadi neraca pembangunan? Ternyata tidak. Di Negara-negara seperti Jepang,Korea, Singapura, Amerika Serikat dsb telah ada equality dan equal opportunity dalam pendidikan dan pekerjaan. Tapi itu tidak juga mengangkat share income dalam keluarga….

Korelasi antara equality dan kemajuan pembangunan tidak terbukti. Prosentase anggota parlemen di AS misalnya hanya 10.3% di Jepang 6.7%, di Singapura hanya 3.7%, sedangkan Indonesia 12.2%. meski begitu Indonesia juga tidak lebih maju dari AS, Singapura dan Jepang dalam semua bidang, khususnya pembangunan ekonomi.

Di Timur seperti Jepang, Taiwan, Indonesia, Pakistan, India, Saudi, Mesir dsb total equality tidak benar-benar dikehendaki wanita. Di negeri-negeri itu profesi ibu rumah tangga masih banyak diminati. Di Jepang para wanita praktis tidak bekerja ketika menjadi istri dan mengurus keluarga. Tapi tidak ada pengaruh ekonomi yang signifikan terhadap Negara.

….Lucunya, di negeri ini ulama, kyai dan cendekiawan Muslimnya tergiur untuk “mengimpor” faham kesetaraan ini. Mereka menjadi pongah lalu melabrak syariah. Fikih empat mazhab itu “dicaci” sebagai terlalu maskulin dan harus dirombak. Ayat-ayat gender ditafsir ulang demi equality. Yang muhkamat (pasti) dianggap mutasyabihat (ambigu)….

Akhirnya, lahirlah konsep fikih berwawasan gender, lesbianism dianggap fitrah dan perilaku homoseks dianggap amal saleh. Lucu! Bak shalawat dilantunkan secara rap atau R&B, atau bagaikan masjid dihiasi pohon natal.

Jika para pegiat feminisme, mendapat berbagai awards dari Barat tidak aneh. Semakin galak menista syariah semakin bertaburan awards-nya. Tapi ide penerima awards tidak berarti benar dan sebaliknya. Sebab dari penelitian Yayasan Ibu Harapan di 6 kota besar di Indonesia, gagasan fikih itu ditolak oleh 90% responden dari 500 muslimah. Ide persamaan hak waris pun ditolak 91% responden. Bahkan mayoritas (97.4%) tidak sepakah dengan ulah Aminah Wadud menjadi imam. Apalagi perilaku Irsyad Manji dan pendukungnya di negeri ini yang lesbi itu.

Masalahnya apakah tuntuan kesetaraan itu setingkat 50-50? Jika benar, apakah tuntutan hak juga perlu disamakan dengan pelaksanaan kewajiban, khususnya dalam agama? Padahal dalam Islam ada hak-hak (huquq) dan kewajiban (wajibat). Jika kesetaraan penuh tidak mungkin, apa saja yang harus disamakan?

Mungkin benar pepatah Latin kuno yang berbunyi Omme Smile claudicate itaque de singulis verbis age (semua persamaan itu pincang, oleh karena itu jelaskanlah secra rinci). Dan sungguh benar firman Allah bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi wanita meski tidak harus beda surga [oleh : Direktur INSIST, Dr. Hamid Fahmy Zakarsy -Jurnal Pemikiran dan Peradaban Islam ISLAMIA Vol III No. 5 2010]

Hikmah

Sila keempat dari Pancasila berbunyi: “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan”. Hikmat ini tentu bukan personal, bukan Presiden atau ketua DPR atau MPR. Hikmat adalah suatu kondisi kejiwaan dan dalam sila ini dikatikan dengan sikap dalam bermusyawarah dan menentukan kebijakan. Artinya sistim permusyawaratan dan perwakilan dalam bernegara di Indonesai ini mestinya dipimpin oleh moralitas yang tinggi.

Dalam bahasa umum hikmah difahami sebagai kebijaksanaan atau bijaksana. Dalam al-Qur’an terdapat perintah untuk berdakwah dengan bijaksana (bi al-hikmah). Maka orang yang memutuskan perkara demi menegakkan keadilan disebut hakim. Hikmah juga berkaitan dengan berfikir yang logis dan mendalam. Karena itu Ibn Rusyd menterjemahkan “hikmah” dengan filsafat dan hakim dengan filosof. Lalu apa sebenarnya makna “hikmah”itu?

Istilah itu asli dari al-Qur’an dan disebut sebanyak 20 kali. Namun para ulama mengembangkannya menjadi berbagai makna. Ada hikmah ilahiyah, hikmah khuluqiyah, hikmah tabi’iyyah, hikmah amaliyyah dsb. Namun dalam konteks kehidupan individu dalam berbangsa pendapat para filosof dan sufi menarik dicermati.

Menurut al-Ghazzali hikmah adalah salah satu dari unsur akhlaq mulia selain keberanian, kejujuran dan keadilan. Maka berakhlaq mulia dalam Islam itu bukan sekedar berperilaku baik, tapi juga berilmu tentang kebaikan, bersikap berani menyatakan kebenaran, berlaku adil terhadap segala sesuatu alias tidak zalim.

Agar memiliki hikmah, keberanian, kejujuran dan keadilan diperlukan ilmu. Sebab berani dan adil tanpa ilmu bisa salah jalan alias sesat. Orang berilmu yang tidak jujur, ilmunya tidak manfaat. Demikian pula kekuatan dan manfaat ilmu dapat dilihat ketika seseorang itu dapat membedakan antara kejujuran dan kebohongan, antara haq dan batil, antara baik dan buruk. Jadi hikmah menurut al-Ghazzali adalah keadaan kejiwaan seseorang yang dapat mengetahui yang baik dari yang buruk benar dalam segala perbuatan. (Ihya III, hal.54). Ibn Arabi dalam Futuhat juga berpendapat sama.

Lisan al-Din al-Khatib, ulama abad ke 14, dalam kitab Raudat al-Ta’rif memahami hikmah seperti keadilan, yaitu meletakkan sesuatu pada tempatnya. Syaratnya, harus memahami letak-letak segala sesuatu. Tapi meletakkan sesuatu pada tempat bukanlah kerja mudah. Menurut Naqsyabandi, dalam kitab Jami al-Usul, hikmah itu adalah ilmu tentang segala sesuatu, sifat-sifatnya, kekhususannya, hukum-hukumnya, hubungan sebab-akibat dan mengamalkan sesuai yang dibutuhkan.

Ikhwanussafa menjelaskan orang yang memiliki hikmah atau “al-hakim” adalah yang perbuatannya dapat dipertanggung jawabkan; kerjanya tekun, perkataannya benar, moralnya baik, pendapatnya betul, amalnya bersih dan ilmunya benar, yaitu ilmu tentang segala sesuatu.

al-Ghazzali menambahkan al-hakim adalah orang yang jiwanya memiliki kekuatan mengontrol dirinya sendiri (tamakkun) dalam soal keimanan, akhlak dan dalam berbicara. Jika kekuatan ini terbentuk maka akan diperoleh buah dari hikmah, sebab hikmah itu adalah inti dari akhlak mulia.

Maka “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan” menggambarkan nilai sebuah sistim yang dikusai oleh semangat hikmat. Artinya sistim kenegaraan kita Indonesia harus berada ditangan orang-orang yang “hakim”. Yaitu orang yang berilmu hikmah, yang pasti tahu kebenaran yang berkata benar; yang tahu dan berani memutuskan yang salah itu salah dan yang benar itu benar; yang tahu meletakkan segala sesuatu pada tempatnya; tidak akan pernah meletakkan kepentingan dirinya diatas kepentingan rakyat atau umat; tidak meletakkan perbuatan dosa atau maksiat dalam dirinya yang fitri dan seterusnya.

Walhasil, jika sistim permusyawaratan dinegeri ini dikontrol oleh akal pikiran dan jiwa yang demikian itu maka tidak akan ada kebijakan yang salah dinegeri ini. Tidak akan ada korupsi di pemerintahan dan tidak akan ada kebohongan publik. Negeri ini pasti akan menjadi makmur dan sejahatera karena semua berjalan diatas jiwa-jiwa yang penuh hikmah alias hakim. Sebab al-Qur’an sendiri menjamin “Barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak….” (a-Qur’an 2:269)

[Oleh Direktur INSIST- Dr. Hamid Fahmy Zakarsyi , Jurnal ISLAMIA, Republika]

Melahirkan Pemimpin

Oleh: Asep Sobari, Lc (pemateri diskusi sabtuan INSIST, Jakarta)

Setelah tiga tahun memusatkan dakwah kepada orang-orang terdekat dan terbatas, Rasulullah saw. membuat terobosan besar. Dakwah harus menjangkau masyarakat yang lebih luas dan gemanya harus lepas menembus batas-batas primordial. Inilah permulaan fase dakwah yang sering disebut dalam literatur-literatur sejarah sebagai dakwah terbuka. Fase ini ditandai dengan seruan Allah swt., “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabat terdekatmu”. (QS. asy-Syu`ara’: 214).

Selain memuat perintah agung ini, surah asy-Syu`ara’ sebelumnya juga mengajarkan kepada Rasulullah saw. dan generasi muslim yang dibangunnya, hikmah-hikmah besar dari perjalanan panjang para Nabi dalam menyampaikan dakwah mereka. Dan, kisah Musa as. bersama Bani Isra’il adalah salah satunya.

Musa as. adalah salah seorang nabi terbesar yang diutus Allah swt. dengan misi yang sangat berat, karena harus berhadapan dengan tiran terbesar sepanjang masa, Fir`aun. Misi ini semakin berat karena Musa as. juga harus menghadapi masyarakat yang telah kehilangan jati diri, inferior, pragamatis dan hanya tahu bagaimana cara mengiyakan retorika sang tuan besar dan menyenangkannya, seperti dijelaskan Al-Qur’an, “Maka Fir’aun mempengaruhi kaumnya –dengan perkataan itu—lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik.” (QS. az-Zukhruf: 54).

Kekuasaan Fir`aun akhirnya berhasil diruntuhkan. Fir`aun sendiri tenggelam dan mati ditelan gulungan ombak raksasa bersama seluruh bala tentaranya. Keruntuhan ini tidak lepas dari rangkaian mukjizat yang ‘pertunjukannya’ lebih didominasi aksi individu Musa as. di depan khalayak, terutama Bani Isra’il. Akan tetapi, menghancurkan Fir`aun hanyalah sebuah mukadimah dari misi berikutnya yang jauh lebih penting, yaitu membangun kembali puing-puing peradaban risalah Ibrahim as. di Palestina.

Membangun masyarakat atau peradaban, adalah karya kolektif yang menuntut pengorbanan bersama dan tidak dapat mengandalkan kehebatan aksi individu. Jika hal ini diabaikan maka cita-cita bersama masyarakat tersebut akan gagal. Inilah yang berlaku pada Bani Isra’il. Mental inferior yang diwarisi dari lingkungan masyarakat Fir`aun dan cara pandang yang salah tentang hakikat mukjizat, membuat mereka enggan berjuang dan malah mengandalkan ‘kehebatan individu’ Musa as. untuk kembali menghadiahkan kemenangan. “Hai Musa, kami tidak akan pernah memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di sana, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja.” (QS. al-Ma’idah: 24).

Ada pesan yang sangat mahal dalam kisah ini. Sehebat apapun seorang pemimpin, mustahil dapat mencapai kejayaan bersama masyarakat yang sakit atau tidak siap. Kejayaan baru akan diraih jika masyarakat, seperti diungkapkan Malik Bennabi dalam Milad Mujtama` (Kelahiran sebuah Masyarakat), telah mampu melebur orientasi-oreintasi materialistik dalam bingkai idealisme luhur, sehingga terbentuklah lingkungan sosial yang kondusif untuk mengatasi setiap permasalahannya.

Untuk itulah, Allah swt. mengisolasi Bani Isra’il selama 40 tahun. Isolasi yang disebut Al-Qur’an sebagai at-Tiih ini bukan semata-mata hukuman bagi Bani Isra’il yang menolak berjuang, melainkan rentang masa yang dibutuhkan Musa as. untuk melahirkan masyarakat atau generasi baru di lingkungan gurun yang serba sederhana dan terbatas, tapi terbebas dari belenggu tradisi dan karakter fir`aunistik yang jelas-jelas telah membuat generasi tua mereka gagal.

Musa as. sendiri wafat di masa at-Tiih ini dan tidak sempat melihat hasil karyanya. Tapi generasi baru yang dipersiapkannya telah lahir. Dan, merekalah yang kemudian berhasil masuk ke Palestina dengan kemenangan yang gemilang dibawah pimpinan Yusya` bin Nun. Demikian dinyatakan Ibnu Katsir dalam at-Tafsir berdasarkan keterangan Ibnu Abbas ra.

Di sini, Al-Qur’an seakan hendak mengatakan kepada kita, bahwa yang kita butuhkan adalah sebuah masyarakat yang siap, bukan seorang pemimpin yang hebat. Artinya, jika ingin umat ini bangkit, maka kita harus lebih mencurahkan segenap potensi untuk menyiapkan masyarakat, karena masyarakat yang siap sudah pasti akan melahirkan pemimpin yang hebat dan sukses.

Itulah sunnatullah yang tidak pernah berubah sepanjang masa, “Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapati perubahan pada sunnah Allah.” (QS. al-Ahzab: 62). Sunnatullah inilah yang saat ini sangat mendesak untuk kita pahami dan kuasai bersama, bahwa pemimpin hebat itu “dilahirkan” dari sebuah proses panjang yang menuntut konsistensi dan kesabaran, bukan “dicari” dalam siklus lima tahunan![]

Sumber: Kolom Ibroh, Majalah Islam Sabili No. 22 TH.XVI Mei 2009

Pemimpin

Ditulis Oleh Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M. Phil

Suatu ketika Zia ul Haq (alm.) Presiden Pakistan tahun 1977-1989, me ngumpulkan para wartawan untuk berdialog dan makan siang. Disela dialog itu Zia ul Haq bertanya kepada Nizami, pimpinan redaksi koran the Nation. “Nizami menurut anda siapa yang mendirikan dan membangun negara” , tanya Zia. Nizami agak lama berfikir memahami logika Zia, dan lalu men jawab “Politisi”. Zia tersenyum mendengar jawaban itu lalu berka ta, ”Ternyata wartawan sekelas anda masih berfikir sependek itu”. Orang mengira dia akan membanggakan dirinya. Tapi akhirnya ia membuka persepsinya, ”Sebenarnya, yang mendirikan dan membangun negara itu adalah para intelektual”. Demikian seterusnya dan Zia pun terus berwacana di seputar isu itu.

Zia ul Haq berfikir induktif. Di negerinya inspirator kemerdekaan bukan politisi. Pakistan merdeka dari India berkat terutama inspirasi Mohammad Iqbal. Selain itu terdapat nama-nama seperti Abul Ala al-Maududi, Amir Ali, Sir Syed Ahmad Khan dsb. Semua itu adalah intelektual. India merdeka dari jajahan Inggris karena kekuatan inspiratif Mahatma Gandhi, Rabindranath Tagore, Jawaherul Nehru dan lain-lain. Nampaknya, dari kasus dikedua negeri itulah kesimpulan Zia tercetus.

Tapi kesimpulan Zia boleh jadi universal. Kita pasti setuju bahwa Indonesia dibangun diantaranya oleh HOS Cokroaminoto adalah guru inspiratif Soekarno dan pemimpin gerakan kebangsaan berdasarkan Islam. Dr.Wahidin Sudiro Husodo, Pencetus Gerakan Budi Utomo berwatak Jawa. Agus Salim digelari Soekarno ulamaintelek, aktor intelektual dari gerakan kemerdekaan Indonesia. KH. Ahmad Dahlan, KH.Hasyim Asy’ari, Ki Hajar Dewantoro, M. Natsir serta sejumlah Ulama dan intelektual lainnya. Mereka itu adalah intelektual yang politisi dan politisi yang intelek. Soekarno dan Hatta sendiri sebenarnya adalah intelektual. Mereka itulah the founding fathers negeri ini. Jika ini disepakati, maka Zia ul Haq adalah benar. Negeri kita juga tidak didirikan oleh para politisi, tapi para intelektual yang bervisi politik.

Gordon S Wood dalam buku The Pu blic Intellectual menganggap the founding fathers sebagai men of ideas and thought, leading intellelctual sekaligus political leaders. Tapi sejatinya mereka itu secara revolusioner bukan politisi an sich atau intelektual murni seperti dalam pengertian modern yang parsial. Mereka itu adalah intelektual yang tidak teralienasi dan pemimpin politik yang tidak terobsesi oleh pemilu. Mereka hidup dalam dunia ide dan realitas dunia politik tapi tidak utopis dan juga tidak pragmatis.

Bagi Leonard Peikoff, dalam The Ominous Parallels, The Founding Fa thers tidak hanya memiliki ide-ide revolusioner, tapi juga mampu menerjemah kannya ke dalam realitas sosio-politik. Ayn Rand dalam bukunya For the New Intellectual menjuluki mereka sebagai thinkers who were also men of action. Me nurut John Lock merekalah yang men dirikan negara sebagai institusi yang khas. Inilah yang dimaksud Zia ul Haq.

Begitu idealkah mereka? Benar, karena al-fadhlu lil mubtadi walau ahsana al-muqtadi. Pujian diberikan kepada pembuka jalan, meski sang penerus bisa lebih baik. Buktinya generasi sekarang melihat mereka bagaikan mitos, tapi historis. Mereka memuji tapi tidak bisa mengikuti. Petuah mereka digugu tapi in tegritas mereka tidak dapat ditiru. Gor don juga mengkiritik, kita terlalu ba nyak memuji tapi tidak banyak memahami. Memahami mengapa generasi za man revolusi bisa begitu, sedang generasi sekarang tidak. Mengapa idealisme dan politik tidak bisa bersatu. Mengapa politik hanya dianggap amal yang lepas dari ilmu, retorika yang tanpa logika. Mengapa politik berarti membangun kekuasaan, bukan peradaban. Padahal kekuasaan hanyalah tahta yang tak berarti tanpa ilmu, moralitas dan tujuan.

Samuel Eliot Morrison and Harold Laski, keduanya sejarawan Amerika, percaya bahwa dalam sejarah modern, tidak ada periode yang kaya dengan ideide politik yang memberi banyak kontribusi kepada teori politik Barat. Ini menurut Gordon S Wood disebabkan oleh kualitas intelektual dalam kehidupan politik masa kini yang turun drastis. Ide telah dipisahkan dari kekuasaan. Dan itu semua adalah harga yang harus dibayar oleh sistem demokrasi, tulisnya.

Kalau Gordon beragama, mungkin ia akan berkata itulah harga yang harus dibayar oleh sekularisme. Agama “tidak mesti bisa” menjadi bekal berpolitik. Prinsip “Jangan bawa agama ke ranah politik” seperti sudah menjadi konvensi. “Berpolitik tidak bisa hitam putih” berarti berpolitik tidak harus ilmiah. Benar salah dalam dunia akademik tidak menjadi ukuran. Rumusannya bisa begini, ”Politisi boleh bohong tapi tidak boleh salah, ilmuwan tidak boleh bohong tapi boleh salah”. Inilah sebabnya mengapa seorang profesor dan ulama tidak “mudah” mengikuti logika politik.

Singkatnya, tidak berarti penerus tidak bisa berfikir revolusioner. Dalam sejarah Islam para khalifah umumnya memiliki ghirah ilmiyyah. Umar ibn Abdul Aziz adalah khalifah penerus yang sangat revolusioner. Adh-Dhahabi menyebutnya ulama yang amilin, artinya juga alim yang amir. Ia mampu mengembangkan ekonomi dan ilmu pengetahuan sekaligus. Ia membangun politik dan juga peradaban. Rakyatnya tidak layak menerima zakat karena sejahtera lahir dan batin. Intelektualitasnya adalah dasar dari keadilannya. Ilmunya menjadi bekal amalnya. Itulah umara-ulama yang dapat menjadi cahaya (misykat) bagi umat manusia. Wallahu a’lam.