Catatan Haji (3) : Suatu Senja di Arafah

IMG-20160912-WA0024
Penulis (kacamata) bersama ustaz Umar Makka, Ketua Rombongan jamaah haji undangan Indonesia

Catatan Haji (3) : Suatu Senja di Arafah

Tulisan ini merupakan tulisan berseri, lanjutan dari  tulisan sebelumnya : Khutbah Arafah yang Syahdu. Ketika beberapa sosok jurnalis seperti Haji Agus Salim, Buya Hamka, Rosihan Anwar, dll menerbitkan buku catatan harian, khususnya perjalanan haji di Tanah Suci, banyak kisah-kisah yang mereka tulis yang begitu menginspirasi.

Apalagi ditulis dengan tutur bahasa yang ringan dan tulisan yang mengalir, membuat setian insan rindu mengunjungi Baitullah. Rosihan Anwar misalnya, membukukan catatan perjalanan hajinya pada tahun 1957 yang ditulis di Pedoman dan Siasat dalam Mendapat Panggilan Nabi Ibrahim (1959).

Tulisan para jurnalis tentang perjalanan haji memberi nuansa tersendiri, seakan kita ikut terlibat di dalamnya. Di antara catatan-catatan yang begitu membekas yang ditulis ialah tentang Arafah. Rosihan Anwar menjadikan Arafah sebagai judul buku catatan perjalanan haji berikutnya, Naik di Arafat (1980).

Saya pun sudah memulia menulis catatan perjalanan haji tahun 2016. Ada yang sudah dimuat di Alhikmah juga beberapa media lainnya. Setelah khutbah Arafah yang disampaikan ustaz Chudori, kami melaksanakan shalat  zuhur dan ashar, dijamak dan qashar.

Suasanan shalat begitu berbeda dari sebelumnya. Khutbah Arafah ustaz Khudori begitu membekas: nasihat tentang Arafah dan intisari khutbah Nabi terus terngiang-ngiang, bahwa Arafah menjadi tempat yang amat sangat penting, bahkan kesempatan sangat langka bisa mengunjungi Arafah.

Kesempatan melaksanakan wukuf hanya terjadi satu tahun satu kali, dalam waktu yang sangat sempit, dan hanya di Arafah! Karenanya, kesempatan ini tentu dimanfaatkan oleh para jamaah haji sedunia.

Continue reading “Catatan Haji (3) : Suatu Senja di Arafah”

Advertisements

Diplomasi Kemanusiaan Indonesia : Kehadiran yang Begitu Bermakna

rohingyaAkhir Oktober 2017, saya diminta salah satu NGO di Indonesia, untuk meliput para pengungsi Rohingya di Cox’s Bazar Bangladesh dan perbatasan Myanmar, sekaligus menjadi penerjemah bahasa Inggris untuk stakeholder setempat. Beberapa kawan-kawan para pegiat kemanusiaan yang saya kenal, juga sudah berada di sana beberapa waktu lalu.

Para NGO Indonesia sendiri secara resmi, menyalurkan bantuan ke Rakhine berkolaborasi bersama pemerintah dalam wadah yang bernama Aliansi Kemanusiaan Indonesia untuk Myanmar (AKIM). Indonesia, sejak zaman old sampai zaman now memang dikenal salah satu negara yang aktif terlibat dalam aksi-aksi diplomasi (kemanusiaan, politik, dll) ataupun pengiriman pasukan perdamaian.

Agaknya, salah satu penyebab kepedulian Indonesia, bisa dilacak dari akar sejarah yang panjang, semenjak Kolonialisme fisik mampir di negeri ini selama berabad-abad. Dalam buku Perjuangan yang Dilupakan (2017), dikisahkan bagaimana ketika Indonesia masih berumur seumur jagung, saat Indonesia masih sendiri, saat itu pula datanglah bantuan baik dari segi support, diplomasi, hingga akhirnya Indonesia diakui menjadi negara yang berdaulat.

Pertautan ini, kata Presiden Soekarno berawal dari persahabatan, persaudaraan, dan khususnya nilai-nilai agama yang kuat (Lihat Jauh di Mata Dekat di Hati, Potret Hubungan Indonesia – Mesir. Ed. AM Fachir: 2010, hal. 49). Continue reading “Diplomasi Kemanusiaan Indonesia : Kehadiran yang Begitu Bermakna”