Catatan Haji (2) : Khutbah Arafah yang Syahdu


Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya : Catatan Haji (1) : Arafah yang Syahdu, Arafah yang Dirindu

Terik masih menggantung di langit Arafah, tapi panasnya menyengat lautan pasir sepandang mata memandang. Sampai-sampai, saat para jamaah sudah menemukan tenda untuk shalat, orang-orang dengan cekatan menutup dan mempersempit celah-celah di antara pucuk tenda, di tutup oleh spanduk, dirapatkan dengan tali, atau apapun.

Musim panas baru saja usai, tapi jangan tanya panasnya sepeti apa Arab Saudi, apalagi jutaan orang menyemut di padang Arafah. Kali pertama saya menginjakkan kaki di Arafah, seakan tak percaya, bahwa saya benar-benar tiba di Arafah.

Tahun sebelumnya, saat musim haji tiba, gambar-gambar suasana di Arafah dan di Muzdalifah menyebar di berita-berita, di laman-laman media, di laman-laman media sosial lainnya. Gambarnya sederhana.

arafah 1
sumber: nu.or.id

Hati mana yang tidak bergidik melihat gambar Arafah yang memutih oleh jutaan manusia? Di mana lagi manusia menangis haru, menundukkan hati, merebahkan jiwa, menikmati jamuan spesial dari sang Maha?

Para tamu undangan Allah dari pelbagai dunia ini berpakaian sama, putih-putih. Tak tampak siapa pejabat, guru, dosen, profesor, tukang bubur, pelajar, mahasiswa, wartawan, pengusaha, atau siapapun, semuanya sama, mengenakan pakaian ihram.

Ada pengalaman lucu, saat saya berangkat dari Madinah menuju Makkah untuk melaksanakan haji tamattu beberapa hari sebelum wukuf di Arafah. Saya kebagian duduk di jok bus paling belakang, persis seorang bapak dengan istrinya.

Setelah saling memperkenalkan diri, saya tanya beliau,” Kerjanya apa pak sekarang?”

“Ya cuman bantu-bantu warga aja,” katanya.

Belakangan saya baru tahu bahwa beliau adalah Wali Kota sebuah Kota di ujung Indonesia. Mengapa saya bisa tahu beliau Wali Kota? Karena saat di Mina, beliau diminta sharing, tentang kepemimpinan. Dan kita sadari bahwa dalam ibadah haji, semua identitas tersebut ditanggalkan.

Di Mekkah, di Al Haram, di Madinah, di Mina, di Jamarat, kita belum tentu bisa berkumpul bersama. Tapi di Arafah, baik jamaah itu Presiden hingga rakyat jelata, rukun haji ini tetap harus terlakon.

Jangan heran, begitu pulang ke daerahnya masing-masing, hubungan antar jamaah bisa sangat personal, begitu dekat, karena haji mengajarkan bahwa sekat-sekat sosial itu sirna.

Lihatlah seorang direktur dari perusaan kesohor, dengan seorang office boy, bisa sangat dekat, dekat sekali, bercengkrama, berseloroh, suasana yang sangat sulit ditemukan di daerahnya masing-masing, apalagi setelah demam hedonisme dan individualis menyergap zaman.

Berbalut dua lembar kain ihram yang membungkus tubuh, semua tampak sama. Tak ada lagi kelas yang menyekat kita sehari-hari. Arafah mengingatkan kita kembali bahwa semua di mata Allah adalah sama.

Namun kenyataannya kita tahu, ada orang yang begitu bangga dengan hartanya. Menganggap orang itu sukses setelah memiliki rumah, mobil. Sebaliknya, orang yang hidup mengontrak dianggap sebelah mata.

Ada pula menganggap gelar sebagai simbol keberhasilan. Berjibun gelarnya, bangga dengan sebangga-bangganya. Ada pula yang menganggap profesinya sebagai lambang keberhasilan.

Ada pula yang menganggap anak adalah simbol kesuksesan, berkisah ke sana sini, tentang ‘kesuksesan’ anaknya telah bekerja di sini, di situ, punya materi ini dan itu. Materialisme telah mengubah cara pandang akan kesuksesan.

Madrasah haji mengingatkan kita kembali bahwa simbol kesuksesan sejati adalah ketakwaan, “Sesungguhnya manusia yang paling mulia adalah yang paling bertakwa,”

Kelak kita akan tahu bahwa diri ini sukses atau tidak di hari akhir. Dunia hanyalah si fana yang begitu menggoda, mengaburkan realitas akan wujud, yaitu hari akhir. Tak ada yang tahu nasib kita, yang bisa kita lakukan adalah beramal sekecil apapun.

Dan Arafah kesempatan luar bisa untuk kembali merenungkan makna kehidupan, perjalanan kehidupan, makna kesuksesan, makna kesederhanaan, makna ibadah, makna kebendaan, makna material, makna keabadian, makna kehidupan, dan makna dari segala hal yang bermakna.

Tak heran, khutbah Arafah menjadi pembuka gerbang sebelum kita berwukuf, menyendiri dengan mematung di jantung lembah hingga bukit Arafah. Di setiap maktab, setiap KBIH, setiap grup, setiap rombongan, khutbah Arafah pasti menyeruak di tenda-tenda, lapang-lapang, ruang-ruang hingga relung hati yang terdalam.

Pun dengan khutbah wada sanga Nabi di hadapan 90  ribu – ada yang bilang 100 ribu- hadirin. Para khatib Arafah kembali mengingatkan, akan makna kehidupan.

Madrasah haji, selalu menjadi madrasah yang paling dirindu. Tak semua orang bisa melaluinya, apalagi setiap tahun. Karenanya, satu-satunya momen Arafah benar-benar diingatkan, itulah hikmah mengapa ada khutbah Arafah.

Di tenda kami, para jamaah undangan, staf Atase Agama Kedutaan Arab Saudi yang menyampaikan khutban Arafah. Khutbahnya sederhana, namun begitu mendalam, menjadi refleksi diri. Beginilah kami menikmati suasana Arafah, berikut khutbah beliau, saya kutip selengkapnya, khutbah yang menggetarkan jiwa:

“Pada hari Arafah di Padang Arafah, Allah memberikan kelebihan yang luar biasa pada hari, waktu dan tempat ini, Rasulullah bersabda, tidak ada satu hari yang dimana ketika Allah banyak sekali memerdekakan manusia dari ancaman api neraka yang melebihi banyaknya daripada hari Arafah.

Mudah-mudahan Allah menjadikan kita yang ada di sini termasuk orang-orang yang dibebaskan oleh Allah dari ancaman api neraka. Amin.

Rasulullah bersabda seraya menjelaskan bahwa hari Arafah merupakan hari yang sangat luar biasa, kesempatan ketika kita berada di sini digunakan untuk bertafakkur, mendekatkan diri kepada Allah, beribadah, bermunajat, meminta kepada Allah dan Allah akan menjadikan doa yang utama adalah doa yang dipanjatkan pada saat kita berada di Padang Arafah.

Doa yang paling baik yang dipanjatkan adalah doa yang dipanjatkan ketika di Padang Arafah, dalam keadaan yang terbaik dan mulia ketika Allah turun di langit dunia untuk membanggakan hamba-Nya di hadapan para malaikat, dimana ketika itu amat terasa keterikatan manusia dengan penciptanya saat wukuf di Arafah.

Mudah-mudahan orang yang memperoleh undangan dari Allah di Padang Arafah dapat berdoa dengan khusyuk, meminta kebaikan bagi diri kita, keluarga kita, masyarakat kita, bangsa dan negara kita, semoga tidak ada satu pun doa terbaik yang dipanjatkan di tempat ini kecuali Allah berkenan untuk mengabulkannya.

Pada saat Rasulullah melaksanakan haji wada’, sebelum Rasul dan sahabatnya melaksanakan ibadah salat zuhur dan ashar secara berjamaah beliau berkhutbah, khutbah yang sangat luar biasa mengumpulkan simpul-simpul yang terbaik bagi umat Islam agar senantiasa menjaga ketenangan dan kesenangan baik di dunia maupun di akhirat.

Rasulullah bersabda dalam khutbah-nya ketika sedang berkumpul di Padang Arafah, bahwa sesungguhnya darah-darah dan harta-harta kalian amat sangat mulia di sisi Allah sampai kehidupan berakhir, harta dan jasad kita dipelihara Allah karenanya Allah haramkan kita untuk menzalimi orang lain.

Kita tidak boleh menyakiti orang lain dengan tindakan-tindakan kriminal yang bertentangan dengan syariat Islam dan kehormatan, harta, nyawa, dan darah kita.

Karenanya di tempat yang mulia ini, bila sebagai manusia yang lemah, manusia yang tidak memiliki daya dan upaya, pada saat melakukan secara tidak sengaja yang berhubungan dengan kezaliman terhadap orang lain di tempat inilah kita memohon ampung kepada Allah.

Bila kita pernah menyakiti saudara, kerabat, menzalimi mereka, di tempat yang amat sangat mulia ini kita bersimpuh dihadapan Allah untuk memohon ampunan kepada Allah.

Rasulullah bersabda, sesungguhnya kalian pada akhirnya nanti, mau tidak mau, suka tidak suka, pasti akan berjumpa dengan Allah. Kita semua yang ada di sini pasti akan wafat, dipanggil oleh Allah. Allah pasti akan meminta pertanggungjawaban terhadap sekecil apapun perbuatan yang kita lakukan di dunia.

Barangsiapa yang mengemban amanah maka dia berkewajiban menyampaikan amanah itu kepada orang yang berhak untuk menerimanya. Sebagai orangtua, kita berkewajiban untuk mendidik anak kita, membangun tempat tinggal kita di surga, menjaga anak dan keluarga kita dari ancaman api neraka.

Wahai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.

Ini misi utama, amanat kita sebagai orangtua terhadap rumah tangga yang kita bina. Allah berfirman, perintahkan anak-anak kalian untuk secara konsisten mendirikan shalat dan sabar untuk melakukan itu

Kami tidak meminta apa-apa dari kalian tapi Allah perintahkan kepada kita sebagai orangtua untuk membawa rumah tangga untuk kesejahteraan hidup dunia dan di akhirat yang berbasis ketakwaan kepada Allah dan ini merupakan amanat Allah untuk kita semua.

Bahwasanya istri-istri kalian memiliki hak terhadap kalian dan suami memiliki kewajiban terhadap istri. Begitu pun sebaliknya, istri memiliki kewajiban untuk menunaikan hak-hak suami, meski begitu ada pula yang  lalai dalam memenuhi kewajibannya dalam rumah tangga.

Hendaklah kalian berwasiat untuk anak-anak dan istri kalian dengan wajah terbaik, karena sesungguhnya para istri adalah teman kalian dalam berumah tangga. Sesungguhnya para wanita itu sah menjadi istri kalian, kalian mengambilnya dengan amanat dari Allah.

Istri kita adalah amanat yang Allah bebankan kepada kita. Dan anak-anak kita juga adalah amanat yang Allah bebankan kepada kita, mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang dapat bertanggung jawab terhadap amanat yang Allah titipkan. Sehingga dapat membawa diri kita, keluarga kita, istri kita, dan anak-anak kita menuju surga.

Kelak di hari Akhirat, orang-orang yang bertakwa kepada Allah digiring semuanya menuju surga. Mudah-mudahan pada saat rombongan itu digiring Allah menuju surga, disisihkan diri kita kepada orang-orang yang kita cintai, ada istri kita, ada anak-anak kita, ada keturunan kita, rasanya betapa besar dosa kita pada saat itu. Kita harus berjalan sendiri menuju surga tanpa orang-orang yang kita cintai yang merupakan amanat dari Allah.

Bahwasanya seluruh muslim bersaudara dan seluruh umat Islam adalah bersaudara maka tidak boleh mengambil hak orang lain tanpa seizinnya, tidak boleh menzalimi mereka. Jangan sampai kalian menzalimi diri kalian pada hari yang sangat mulia ini.

Di Padang Arafah ini Rasulullah dan para sahabatnya memanfaatkan waktu yang mulia ini untuk berdoa, bermunajat kepada Allah, berzikir, bertaqarrub mendekatkan diri kepada Allah.

Doa yang paling baik adalah doa yang dipanjatkan ketika berada di Padang Arafah dan yang paling baik yang diucapkan begitu pun dengan nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad.

Di tempat ini kita deklarasikan kembali tauhid kita, kita lepaskan diri dari perkara-perkara yang berunsur syirik. Karena sesungguhnya ketika Nabi Muhammad mangabulkan kota Makkah pada tanggal 8 Dzulhijjah, yang pertama Rasulullah katakan

Sesungguhnya segala sesuatu yang berkaitan dengan unsur-unsur jahiliyyah pada hari ini rendah berada di bawah telapak kaki saya. Dan tidak ada perkara jahiliyyah yang melebihi kemusyrikan kepada Allah.

Karenanya pada saat kita berada di Padang Arafah kita deklarasikan kembali tauhid kita di akidah kita akan ke-Maha Besar-an Allah, kita lepaskan segala ketergantungan kita dalam hal-hal yang berkaitan dengan ibadah, kecuali kepada Allah.

Allah memiliki kekuasaan mutlak, Allah memberikan kekuasaan kepada manusia adalah kekuasaan yang tidak permanen. Allah berfirman dalam surah Ali Imran, katakanlah Allah memiliki kekuatan dan kekuasaan atas segala-galanya, Allah memberikan kekuasaan kepada siapa saja yang dikehendaki.

Allah memberikan kepada kita kekuasaan untuk memanfaatkan tangan kita dan Allah Maha Kuasa untuk mencabut itu dari kita. llah yang memberi kekuatan pada kita dengan memberikan pengelihatan sehingga kita dapat memandang dan Allah Maha Kuasa untuk mencabut pandangan itu dari mata kita.

Karenanya segala apapun kekuasaan yang ditipkan Allah kepada kita adalah amanat yang akan diminta pertanggungjawabannya nanti di hari Akhir. Kekuasaan yang sesungguhnya ada di tangan Allah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s