Archive for September, 2017

Catatan Haji (2) : Khutbah Arafah yang Syahdu

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya : Catatan Haji (1) : Arafah yang Syahdu, Arafah yang Dirindu

Terik masih menggantung di langit Arafah, tapi panasnya menyengat lautan pasir sepandang mata memandang. Sampai-sampai, saat para jamaah sudah menemukan tenda untuk shalat, orang-orang dengan cekatan menutup dan mempersempit celah-celah di antara pucuk tenda, di tutup oleh spanduk, dirapatkan dengan tali, atau apapun.

Musim panas baru saja usai, tapi jangan tanya panasnya sepeti apa Arab Saudi, apalagi jutaan orang menyemut di padang Arafah. Kali pertama saya menginjakkan kaki di Arafah, seakan tak percaya, bahwa saya benar-benar tiba di Arafah.

Tahun sebelumnya, saat musim haji tiba, gambar-gambar suasana di Arafah dan di Muzdalifah menyebar di berita-berita, di laman-laman media, di laman-laman media sosial lainnya. Gambarnya sederhana.

arafah 1

sumber: nu.or.id

Hati mana yang tidak bergidik melihat gambar Arafah yang memutih oleh jutaan manusia? Di mana lagi manusia menangis haru, menundukkan hati, merebahkan jiwa, menikmati jamuan spesial dari sang Maha?

Para tamu undangan Allah dari pelbagai dunia ini berpakaian sama, putih-putih. Tak tampak siapa pejabat, guru, dosen, profesor, tukang bubur, pelajar, mahasiswa, wartawan, pengusaha, atau siapapun, semuanya sama, mengenakan pakaian ihram.

Ada pengalaman lucu, saat saya berangkat dari Madinah menuju Makkah untuk melaksanakan haji tamattu beberapa hari sebelum wukuf di Arafah. Saya kebagian duduk di jok bus paling belakang, persis seorang bapak dengan istrinya.

Setelah saling memperkenalkan diri, saya tanya beliau,” Kerjanya apa pak sekarang?”

“Ya cuman bantu-bantu warga aja,” katanya.

Belakangan saya baru tahu bahwa beliau adalah Wali Kota sebuah Kota di ujung Indonesia. Mengapa saya bisa tahu beliau Wali Kota? Karena saat di Mina, beliau diminta sharing, tentang kepemimpinan. Dan kita sadari bahwa dalam ibadah haji, semua identitas tersebut ditanggalkan.

Di Mekkah, di Al Haram, di Madinah, di Mina, di Jamarat, kita belum tentu bisa berkumpul bersama. Tapi di Arafah, baik jamaah itu Presiden hingga rakyat jelata, rukun haji ini tetap harus terlakon.

Jangan heran, begitu pulang ke daerahnya masing-masing, hubungan antar jamaah bisa sangat personal, begitu dekat, karena haji mengajarkan bahwa sekat-sekat sosial itu sirna.

Lihatlah seorang direktur dari perusaan kesohor, dengan seorang office boy, bisa sangat dekat, dekat sekali, bercengkrama, berseloroh, suasana yang sangat sulit ditemukan di daerahnya masing-masing, apalagi setelah demam hedonisme dan individualis menyergap zaman.

Berbalut dua lembar kain ihram yang membungkus tubuh, semua tampak sama. Tak ada lagi kelas yang menyekat kita sehari-hari. Arafah mengingatkan kita kembali bahwa semua di mata Allah adalah sama.

Namun kenyataannya kita tahu, ada orang yang begitu bangga dengan hartanya. Menganggap orang itu sukses setelah memiliki rumah, mobil. Sebaliknya, orang yang hidup mengontrak dianggap sebelah mata.

Ada pula menganggap gelar sebagai simbol keberhasilan. Berjibun gelarnya, bangga dengan sebangga-bangganya. Ada pula yang menganggap profesinya sebagai lambang keberhasilan.

Ada pula yang menganggap anak adalah simbol kesuksesan, berkisah ke sana sini, tentang ‘kesuksesan’ anaknya telah bekerja di sini, di situ, punya materi ini dan itu. Materialisme telah mengubah cara pandang akan kesuksesan.

Madrasah haji mengingatkan kita kembali bahwa simbol kesuksesan sejati adalah ketakwaan, “Sesungguhnya manusia yang paling mulia adalah yang paling bertakwa,”

Kelak kita akan tahu bahwa diri ini sukses atau tidak di hari akhir. Dunia hanyalah si fana yang begitu menggoda, mengaburkan realitas akan wujud, yaitu hari akhir. Tak ada yang tahu nasib kita, yang bisa kita lakukan adalah beramal sekecil apapun.

Dan Arafah kesempatan luar bisa untuk kembali merenungkan makna kehidupan, perjalanan kehidupan, makna kesuksesan, makna kesederhanaan, makna ibadah, makna kebendaan, makna material, makna keabadian, makna kehidupan, dan makna dari segala hal yang bermakna.

Tak heran, khutbah Arafah menjadi pembuka gerbang sebelum kita berwukuf, menyendiri dengan mematung di jantung lembah hingga bukit Arafah. Di setiap maktab, setiap KBIH, setiap grup, setiap rombongan, khutbah Arafah pasti menyeruak di tenda-tenda, lapang-lapang, ruang-ruang hingga relung hati yang terdalam.

Pun dengan khutbah wada sanga Nabi di hadapan 90  ribu – ada yang bilang 100 ribu- hadirin. Para khatib Arafah kembali mengingatkan, akan makna kehidupan.

Madrasah haji, selalu menjadi madrasah yang paling dirindu. Tak semua orang bisa melaluinya, apalagi setiap tahun. Karenanya, satu-satunya momen Arafah benar-benar diingatkan, itulah hikmah mengapa ada khutbah Arafah.

Di tenda kami, para jamaah undangan, staf Atase Agama Kedutaan Arab Saudi yang menyampaikan khutban Arafah. Khutbahnya sederhana, namun begitu mendalam, menjadi refleksi diri. Beginilah kami menikmati suasana Arafah, berikut khutbah beliau, saya kutip selengkapnya, khutbah yang menggetarkan jiwa:

“Pada hari Arafah di Padang Arafah, Allah memberikan kelebihan yang luar biasa pada hari, waktu dan tempat ini, Rasulullah bersabda, tidak ada satu hari yang dimana ketika Allah banyak sekali memerdekakan manusia dari ancaman api neraka yang melebihi banyaknya daripada hari Arafah.

Mudah-mudahan Allah menjadikan kita yang ada di sini termasuk orang-orang yang dibebaskan oleh Allah dari ancaman api neraka. Amin.

Rasulullah bersabda seraya menjelaskan bahwa hari Arafah merupakan hari yang sangat luar biasa, kesempatan ketika kita berada di sini digunakan untuk bertafakkur, mendekatkan diri kepada Allah, beribadah, bermunajat, meminta kepada Allah dan Allah akan menjadikan doa yang utama adalah doa yang dipanjatkan pada saat kita berada di Padang Arafah.

Doa yang paling baik yang dipanjatkan adalah doa yang dipanjatkan ketika di Padang Arafah, dalam keadaan yang terbaik dan mulia ketika Allah turun di langit dunia untuk membanggakan hamba-Nya di hadapan para malaikat, dimana ketika itu amat terasa keterikatan manusia dengan penciptanya saat wukuf di Arafah.

Mudah-mudahan orang yang memperoleh undangan dari Allah di Padang Arafah dapat berdoa dengan khusyuk, meminta kebaikan bagi diri kita, keluarga kita, masyarakat kita, bangsa dan negara kita, semoga tidak ada satu pun doa terbaik yang dipanjatkan di tempat ini kecuali Allah berkenan untuk mengabulkannya.

Pada saat Rasulullah melaksanakan haji wada’, sebelum Rasul dan sahabatnya melaksanakan ibadah salat zuhur dan ashar secara berjamaah beliau berkhutbah, khutbah yang sangat luar biasa mengumpulkan simpul-simpul yang terbaik bagi umat Islam agar senantiasa menjaga ketenangan dan kesenangan baik di dunia maupun di akhirat.

Rasulullah bersabda dalam khutbah-nya ketika sedang berkumpul di Padang Arafah, bahwa sesungguhnya darah-darah dan harta-harta kalian amat sangat mulia di sisi Allah sampai kehidupan berakhir, harta dan jasad kita dipelihara Allah karenanya Allah haramkan kita untuk menzalimi orang lain.

Kita tidak boleh menyakiti orang lain dengan tindakan-tindakan kriminal yang bertentangan dengan syariat Islam dan kehormatan, harta, nyawa, dan darah kita.

Karenanya di tempat yang mulia ini, bila sebagai manusia yang lemah, manusia yang tidak memiliki daya dan upaya, pada saat melakukan secara tidak sengaja yang berhubungan dengan kezaliman terhadap orang lain di tempat inilah kita memohon ampung kepada Allah.

Bila kita pernah menyakiti saudara, kerabat, menzalimi mereka, di tempat yang amat sangat mulia ini kita bersimpuh dihadapan Allah untuk memohon ampunan kepada Allah.

Rasulullah bersabda, sesungguhnya kalian pada akhirnya nanti, mau tidak mau, suka tidak suka, pasti akan berjumpa dengan Allah. Kita semua yang ada di sini pasti akan wafat, dipanggil oleh Allah. Allah pasti akan meminta pertanggungjawaban terhadap sekecil apapun perbuatan yang kita lakukan di dunia.

Barangsiapa yang mengemban amanah maka dia berkewajiban menyampaikan amanah itu kepada orang yang berhak untuk menerimanya. Sebagai orangtua, kita berkewajiban untuk mendidik anak kita, membangun tempat tinggal kita di surga, menjaga anak dan keluarga kita dari ancaman api neraka.

Wahai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.

Ini misi utama, amanat kita sebagai orangtua terhadap rumah tangga yang kita bina. Allah berfirman, perintahkan anak-anak kalian untuk secara konsisten mendirikan shalat dan sabar untuk melakukan itu

Kami tidak meminta apa-apa dari kalian tapi Allah perintahkan kepada kita sebagai orangtua untuk membawa rumah tangga untuk kesejahteraan hidup dunia dan di akhirat yang berbasis ketakwaan kepada Allah dan ini merupakan amanat Allah untuk kita semua.

Bahwasanya istri-istri kalian memiliki hak terhadap kalian dan suami memiliki kewajiban terhadap istri. Begitu pun sebaliknya, istri memiliki kewajiban untuk menunaikan hak-hak suami, meski begitu ada pula yang  lalai dalam memenuhi kewajibannya dalam rumah tangga.

Hendaklah kalian berwasiat untuk anak-anak dan istri kalian dengan wajah terbaik, karena sesungguhnya para istri adalah teman kalian dalam berumah tangga. Sesungguhnya para wanita itu sah menjadi istri kalian, kalian mengambilnya dengan amanat dari Allah.

Istri kita adalah amanat yang Allah bebankan kepada kita. Dan anak-anak kita juga adalah amanat yang Allah bebankan kepada kita, mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang dapat bertanggung jawab terhadap amanat yang Allah titipkan. Sehingga dapat membawa diri kita, keluarga kita, istri kita, dan anak-anak kita menuju surga.

Kelak di hari Akhirat, orang-orang yang bertakwa kepada Allah digiring semuanya menuju surga. Mudah-mudahan pada saat rombongan itu digiring Allah menuju surga, disisihkan diri kita kepada orang-orang yang kita cintai, ada istri kita, ada anak-anak kita, ada keturunan kita, rasanya betapa besar dosa kita pada saat itu. Kita harus berjalan sendiri menuju surga tanpa orang-orang yang kita cintai yang merupakan amanat dari Allah.

Bahwasanya seluruh muslim bersaudara dan seluruh umat Islam adalah bersaudara maka tidak boleh mengambil hak orang lain tanpa seizinnya, tidak boleh menzalimi mereka. Jangan sampai kalian menzalimi diri kalian pada hari yang sangat mulia ini.

Di Padang Arafah ini Rasulullah dan para sahabatnya memanfaatkan waktu yang mulia ini untuk berdoa, bermunajat kepada Allah, berzikir, bertaqarrub mendekatkan diri kepada Allah.

Doa yang paling baik adalah doa yang dipanjatkan ketika berada di Padang Arafah dan yang paling baik yang diucapkan begitu pun dengan nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad.

Di tempat ini kita deklarasikan kembali tauhid kita, kita lepaskan diri dari perkara-perkara yang berunsur syirik. Karena sesungguhnya ketika Nabi Muhammad mangabulkan kota Makkah pada tanggal 8 Dzulhijjah, yang pertama Rasulullah katakan

Sesungguhnya segala sesuatu yang berkaitan dengan unsur-unsur jahiliyyah pada hari ini rendah berada di bawah telapak kaki saya. Dan tidak ada perkara jahiliyyah yang melebihi kemusyrikan kepada Allah.

Karenanya pada saat kita berada di Padang Arafah kita deklarasikan kembali tauhid kita di akidah kita akan ke-Maha Besar-an Allah, kita lepaskan segala ketergantungan kita dalam hal-hal yang berkaitan dengan ibadah, kecuali kepada Allah.

Allah memiliki kekuasaan mutlak, Allah memberikan kekuasaan kepada manusia adalah kekuasaan yang tidak permanen. Allah berfirman dalam surah Ali Imran, katakanlah Allah memiliki kekuatan dan kekuasaan atas segala-galanya, Allah memberikan kekuasaan kepada siapa saja yang dikehendaki.

Allah memberikan kepada kita kekuasaan untuk memanfaatkan tangan kita dan Allah Maha Kuasa untuk mencabut itu dari kita. llah yang memberi kekuatan pada kita dengan memberikan pengelihatan sehingga kita dapat memandang dan Allah Maha Kuasa untuk mencabut pandangan itu dari mata kita.

Karenanya segala apapun kekuasaan yang ditipkan Allah kepada kita adalah amanat yang akan diminta pertanggungjawabannya nanti di hari Akhir. Kekuasaan yang sesungguhnya ada di tangan Allah.

Advertisements

Catatan Haji (1) : Arafah yang Syahdu, Arafah yang Dirindu

Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar….Lailaha Ilallahu Allahu Akbar…Allahu Akbar Walillahilhamdu…

“al-hajju ‘arafatun,” kata sang Nabi, bahwa Haji adalah Arafah.
Maka, kita mulai catatan perjalanan haji ini dari Arafah, sebagaimana perjalanan hidup manusia. Dari Arafah ini, pertemuan nan dirindu itu berawal. Dari Arafah, nasab kita tersambung padanya.

Mengapa? Karena, di Arafahlah Adam dan Hawa bersua. Dari Arafah, akhirnya cerita tentang kita bermula, dengan berjuta kisah dan makna. Di Arafah pula, sang kekasih Allah, Ibrahim, merenungi perjalanan hidupnya.

Dan di Arafahlah, sang Nabi menyampaikan khutbah haji pertama, sekaligus terakhirnya. Khutbah yang begitu menyentuh, yang gemanya terus diwariskan berabad-abad, hingga kini, dan masa yang akan datang.

”Ala Falyuballigh al-Syahidz Minkum al-Ghaib,” kata Rasulullah. Bahwa orang-orang yang hadir di hadapan sang Nabi hendaknya menyampaikan apa yang disampaikan Rasulullah ke orang-orang yang tidak hadir. Dan Arafah tetap menjadi tempat nan dirindu hingga akhir zaman!

Lautan manusia. Berjuta hamba bersimpuh di hadapan sang Maha. Menangis haru, dengan suasana sangat syahdu. Sebab, “Haji itu Arafah,” kata sang Nabi. Berkumpullah seluruh jamaah haji pada satu waktu, satu tempat, satu tujuan: menunaikan rukun Islam kelima!

Maka, izinkan saya menulis pengalaman berhaji pada tahun 1347 (2016), dimulai dari Arafah. Sebuah kenikmatan luar biasa, saat saya diberikan kesempatan untuk menunaikan rukun Islam ke-5 ini dalam usia yang bisa dibilang cukup muda, kira-kira seperempat abad, hehe.

Tak pernah terbayangkan sama sekali, dalam pada saat itu saya akan berangkat haji. Proses persiapannya pun sangat super mendadak sekali, sampai saya baru tahu bahwa saat saya berangkat hari Sabtu (4/9), hari Jumat kemarinnya visa haji saya itu baru terbit.

“Perjalanan penuh kejutan,” itu yang benar-benar saya rasakan. Ketika saya sedang di dalam pelosok Jawa Timur, tiba-tiba sebuah pesan singkat masuk, saya diminta mengirimkan scanan paspor oleh organisasi profesi tempat kami bernaung, Jurnalis Islam Bersatu (JITU).

Prosesnya pun sangat cepat dan mendadak sekali, sehingga, untuk persiapan manasik, saya lakukan sendiri dengan bimbingan beberapa ustaz yang saat itu sudah berangkat haji. Untuk lebih detailnya, semoga catatan perjalanan haji yang sudah beberapa bagian saya tulis bisa diterbitkan dalam sebuah buku bersama catatan haji undangan.

Saya berangkat satu rombongan berjumlah 52 orang, dengan visa haji undangan kerajaan Arab Saudi, dengan provider Yayasan Al Manarah al Islamiyyah yang dibina oleh Syaikh Khalid Al Hamudi, seorang dai muda dan pengusaha Saudi yang concern isu keumatan.

Berkali-kali, beliau menghajatkan helatan Multaqa Ulama dan Dai se-Asia Tenggara, sampai Ulama dan Dai se-Dunia baru-baru ini di Padang, dan alhmadulillah, saya bisa bersua kembali dengan beliau di Padang bulan Juli lalu.

Tahun ini (2017), Yayasan Al Manarah Islamiyah mengundang haji sekitar 120 orang, termasuk 30-an kepala suku asal Papua, juga ustaz Bachtiar Nasir, ustaz Tengku Zulkarnaen, dll. Tahun saya berangkat, saya satu rombongan bersama Wali Kota Padang Pak Mahyeldi, Hafiz Cilik si Kembar, Masyita, Kayla, Pak Nafaris dan Naftali (Kepala Suku Papua), Mas Amrulya (Mualaf Center Yogyakarta), Agus Abdullah (Ketua JITU), dll dengan kepala rombongan ustaz Umar Makka.

Kembali menuju Arafah, saya ingat sekali, saat itu adalah hari Sabtu di Arafah yang syahdu. Sehari sebelumnya, setelah shalat Jumat di Masjidil Haram, sorenya kami bersiap berangkat ke Mina untuk mabit. Kami ke Mina sudah berihram, bersiap menjalani prosesi haji empat hari ke depan.

Untuk jamaah haji Indonesia reguler sepertinya tidak bermalam di Mina pada tanggal 8 Dzulhijjah, tapi langsung ke Arafah. Sedangkan saya bersama rombongan undangan kerajaan dari pelbagai provider bermalam di Mina, khususnya di Maktab 50.

Kalau di lihat di papan maktab 50, maktab ini adalah maktab gabungan Asia Tenggara. Maktab ini terletak di pinggir jalan antara terowongan ke dua dan ketiga menuju jamarat untuk lempar jumrah. Karenanya, di samping maktab 50, banyak orang berseliweran khususnya nanti saat masa-masa lempir jumrah.

Untuk Mina, akan ada catatan tersendiri, mengingat 4 hari kami berada di Mina, mulai tanggal 10 Dzulhijjah hingga berakhir tasyrik karena mengambil nafar tsani, sebelum thawaf ifadhah.

Setelah shalat subuh di dalam tenda di Mina, kami harus bersiap-siap berangkat ke Arafah. Rupanya tenda yang kami tiduri di Mina, bukan tenda milik rombongan kami. Terpaksa kami harus pindah, ke tenda yang lebih kecil, untuk menaruh tas, bersiap ke Arafah.

“Labbaik Allahumma Labbaik…Labbaikalaasyarikalakalabbaik….”
“Innal hamda…Wani’mata…”
“Lakawalmulk….Laasyarikalaka…”

Jujur, saat mengucapkan itu tiba-tiba air mata saya mengalir. Di depan maktab 50 di Mina, saya melihat lautan manusia berderet, bersiap menuju Arafah. Bersiap menunaikan rukun haji.

Ya Rabb, saya sekarang sudah sampai di rumah Mu!
Ya Rabb, berjuta rindu hambaMu, engkau tampakkan kekuasaanMu, memberangkatkan hambaMu yang hina dan lemah ini, bersimpuh di hadapanMu dengan membawa berjuta dosa dan alfa
Ya Rabb, inilah hambaMu yang bergelimang dosa, yang masih engkau berikan nikmat bersimpuh di Baitullah..
Ya Rabb, sebentar lagi hambaMu ini akan menuju Arafah, satu-satunya tempat jamaah haji secara bersamaan berkumpul dalam satu waktu
Ya Rabb, jadikan haji ini haji yang mabrur, haji yang benar-benar engkau ridhoi, ijabah segala permintaan hambaMu

“Labbaik Allahumma Labbaik…Labbaikalaasyarikalakalabbaik….”
“Innal hamda…Wani’mata…”
“Lakawalmulk….Laasyarikalaka…”

Ya Rabb, inilah kami, Kami yang akan memenuhi seruanMu
Tiada sekutu bagi-Mu dan kami insya Allah memenuhi panggilan-Mu.
Sesungguhnya segala pujian, nikmat dan begitu juga kerajaan adalah milik-Mu dan tidak ada sekutu bagi-Mu.

Dengan mantap, dan mata berkaca saya menaiki bus yang mengantar kami ke Arafah. Bus bercampur dengan beragam jamaah dari pelbagai negara di daerah maktab 50. Saya lihat ada orang Arab, Eropa, Jepang, dan sebagainya.

Saya kebagian berdiri di bagian tengah, laiknya berdiri di atas commuter dari Sudirman ke Tebet, bus ‘odong-odong’ Abu Sharhaad yang cukup panjang ini menampung para tamu Allah menunaikan rukunnya.

Tiba-tiba, di dalam bus menggema kalimat talbiyah..
Meleleh air mata ini.

“Labbaik Allahumma Labbaik…
“Labbaikalaa syarikalakalabbaik….”
“Innal hamda…Wani’mata…”
“Lakawalmulk….Laasyarikalaka…”

Pemandangan begitu dramatis, air mata ini terus meleleh, dengan mulut berucap kalimat talbiyah. Pemandangan di luar bus, ribuan, ratusan ribu orang, jutaan orang menyemut, bersiap berangkat ke Arafah.

Bus kami mengantre keluar Mina, melewati maktab-maktab, 50..51…52…55.. 70…dan terus, melihat orang berpakaian ihram putih-putih sepanjang perjalanan, diiringi terkadang kalimat takbir, dan talbiyah yang menggema, sebagaimana hadits nabi

“Kami berangkat pagi-pagi bersama Rasulullah dari Mina ke Arafah. Dalam rombongan kami, ada yg membaca talbiyah, & ada pula yg membaca takbir. (HR. Muslim No.2252).

Bus melaju melewati lautan manusia, melewati jalan layang, dan pemandangan Mina begitu dramatis, dengan lampu dan tenda-tenda di tiap maktab berderet sepanjang kiri, kanan, putih mengkilap. Di sinilah, jutaan jamaah haji akan menginap tiga hari setelah Arafah.

Sekira jam 9-nan, saya dan rombongan maktab 50 tiba di Arafah. Memasuki kawasan ‘arafah’ kita akan menemukan plank besar, semacam baligo yang menandankan bahwa ‘selamat datang di Arafah’, dan dikelilingi tanaman-tanaman entah kurma, entah seperti tanaman yang cukup rimbun yang cukup banyak di Arafah.

Di sana berjejer tenda-tenda semi terbuka, terbuka, atau ada yang tertutup. Ada spanduk dari mana jamaah-jamaah apakah dari kloter ini, atau haji khusus atau penanda. Sedangkan, jamaah rombongan kami, rupanya tidak ada spanduk-spanduk khusus.

Kami sempat –lagi-lagi- salah masuk tenda, karena nantinya itu ada yang menempati kalau tidak salah dari rombongan haji khusus (ONH Plus). Walhasil, kami pindah ke sebuah tenda. Waktu Arafah adalah setelah shalat zuhur hingga matahari terbenam, itulah Arafah dan kita, jamaah haji diwajibkan wukuf di Arafah.

Sebelum masuk zuhur, beberapa jamaah yang kelelahan tampak tidur-tiduran, karena persiapan nanti siang. “Yang mau istirahat bisa sekarang, nanti kita fokus wukuf,” kata beberapa ustaz.

Ada tiga ustaz dalam rombongan jamaah haji undangan. Pertama ustaz Khudori, yang merupakan staf atase agama Kedubes Saudi Arabia, belakangan saya tahu beliau sebagai aktivis MIUMI (Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia). Ada juga ustaz Faruq, yang lebih sepuh. Dan terakhir, ustaz Umar Makka, yang merupakan amir (pemimpin) rombongan undangan haji Syaikh Khalid Al Hamudi, Yayasan Al Manarah Islamiyah.

IMG-20160912-WA0025

Suasana tenda menjelang wukuf Arafah, saya sedang memegang ‘aqua’, di tengah belakang. Tampak dua orang kepala suku Papua, mas Amrulya dari Mualaf Center (masker), kang Zaenal (pabrik Nike). Foto : rizkilesus

Saya pun berusaha mengingat tempat tenda kami berkumpul, melihat di mana toilet yang sudah dipenuhi jamaah haji dari pelbagai tempat di dunia. Padan arafah dipenuhi pasir-pasir, dan juga pohon juga sebagian paving untuk jalur pedestrian.

Di atas pasir, didirikan tenda-tenda, yang memiliki celah. Terik matahari menggantung menyelusup ke dalam tenda-tenda jamaah. Satu tenda besar bisa diisi oleh 300 orang. Kalau di dalam tenda, suasana agak pengap, karenanya orang-orang banyak berjalan-jalan sebelum waktu wukuf Arafah.

“Arafah yang Syahdu,” begitulah saya menamainya, sebagaimana dua bulan sebelumnya saya menamai judul tulisan rubrik ‘Inspiring Quran’ yang diasuh ustaz Budi Prayitno. Dalam ceramahnya, yang saya transkrip, ustaz Budi menceritakan tentang kesyahduan Arafah.

Ada juga sebelumnya saya beri judul ‘Nasi Ayam Kiriman Allah’, tentang jamaah haji yang didatangi orang-orang Arab dan diberi makanan di tenda-tenda di Arafah, yang tak disangka saya pun mengalaminya langsung.

Saya juga yakin, setiap orang yang pernah merasakan wukuf di Arafah, akan merasakan perasaan ‘Arafah yang Syahdu’ yang sulit terungkap. Hanya air mata dan hati yang terus tergedor yang dapat merasakannya.

Bersimpuh sendiri, mematung, sebagaimana halnya sang Nabi duduk menangkupkan kedua tangannya dan mematung hingga gelap menjelang. Arafah yang syahdu, begitu membekas. Sulit diungkapkan :), berjuta cerita, berjuta makna.

Menurut baginda Nabi, Haji adalah Arafah. Arafah yang merupakan rukun, adalah momen yang sangat penting dalam ritual ibadah haji. Arafah adalah puncak ibadah haji.

“Dan saat Arafah, Allah membanggakan para jamaah haji di hadapan malaikat dan penghuni langit. Arafah adalah waktu ‘wisuda’ bagi jamaah haji. Arafah adalah bagian yang sangat penting,” begitu kata ustaz Budi Prayitno.

Singkat memang, hanya enam jam sajan  waktu wukuf itu, namun begitu bermakna. Arafah mengajarkan kehidupan yang begitu singkat, dan memang begitulah memang kehidupan.
Singkatnya waktu wukuf hanya dari zuhur hingga magrib, menandakan bahwa kehidupan kita yang singkat. Memasuki Arafah, jamaah ditentukan waktunya. Pun saat keluar, ada saat yang ditentukan. Menuju ke Arafah, yang dihitung sebagai wukuf, adalah saat mulai shalat zuhur pada tanggal 9 Zulhijjah. Usai shalat Maghrib, jamaah meninggalkan Arafah.
Begitulah hidup kita. Ketika Allah menakdirkan kita lahir, maka lahirlah kita. Jika Allah menakdirkan kita meninggal, maka meninggallah kita. Arafah adalah gambaran jelas bahwa hidup kita akan seperti wukuf di padang Arafah.

Kita akan lahir di waktu dan tempat yang sudah ditentukan. Kita pun akan mati, di waktu yang telah Dia tentukan.

Menjelang zuhur, sang Nabi dulu menyampaikan khutbah Arafah, yang begitu kesohor. Dan saat ini, di Arafah, kami pun menyimak khutbah Arafah dari ustaz Khudori. Sebelum khutbah, ustaz Khudori mengingatkan kami agar menelepon keluarga di Indonesia, karena begitu pentingnya Hari Arafah ini.

“Kita telepon ibu kita, istri kita, anak kita, orang-orang yang kita cintai di Indonesia, karena setelah ini kita akan masuk waktu wukuf. Menangislah, meminta maaflah kepada mereka, jika kita banyak salah, akui segala kesalahan kita,” kata ustaz Khudori.

Namun, tak semua orang bisa menelepon langsung, karena sepertinya jaringan begitu sibuk dan ramai, bayangkan ada 2 juta orang berkumpul! Ustaz Khudori menyampaikan khutbah Arafah yang begitu menyentuh, sukses membuat kami menangis sesenggukan.
Khutbah itu, akan saya tuliskan di dalam tulisan berbeda setelah ini. Seperti nasehat para ustaz, Arafah adalah saat kita merasakan kedekatan dengan Allah. Di Arafah, kita berusaha mengenal diri kita, bertafakkur diri.

Ketika kita mencoba mengenal diri, maka saat itu pula kita tengah mencoba mengenal Allah. Di Arafah, kita juga menghisab diri, merenungi dosa-dosa yang pernah kita lakukan. Kita menghitung amal yang begitu sedikit. Kita melihat masa depan, memikirkan apa yang bisa kita lakukan dengan amal dan ilmu yang sedikit ini. Kita menghitung dosa yang begitu banyak.

Di Arafah, tangis kita tumpah. Terisak-isak bersimpuh pada-Nya. Arafah adalah tempat dan waktu yang sangat spesial di muka bumi. Hanya pada tanggal 9 Dzulhijjah. Di titik itu, orang boleh melakukan wukuf, yang hanya bisa dilaksanakan di Padang Arafah.

Di Arafah, kita bertafakkur, yang berujung pada mengenal diri dengan baik, dan mengenali Allah. Mengenali setiap kekurangan diri, dan bertekad memperbaikinya usai Arafah. Mengenal Allah dengan baik, mengetahui secara persis bahwa Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Dia memiliki Nama-Nama yang baik, memiliki Kuasa di atas segala Kuasa, dan Kemampuan di atas segala Kemampuan. Dia yang akan menaikkan, menurunkan, membuka, atau menutup segalanya. Di Padang Arafah, kita akan merasakan kedekatan dengan Allah.

Dan pada saat itu, seharusnya kita mendapat pemahaman lebih tentang diri kita. Kita akan terus bersimpuh, bersujud, malu kepada Allah, karena begitu banyak nikmat yang Ia berikan. Betapa sedikit amal yang kita lakukan. Dan pada saat yang sama, merasakan betapa banyak dosa yang kita lakukan.

Arafah adalah tempat dan saat terbaik di dunia. Arafah dalah tempat di mana tangis kita tumpah, pengakuan diri menggelegak. Arafah, adalah saat dan tempat di mana kita tak memiliki dinding dengan diri kita sendiri. Pengakuan dosa-dosa, kekurangan diri, dan komitmen tinggi untuk memperbaiki diri.

Usai khutbah, dan ditutup doa berurai air mata, kumandang azan mengalun syahdu. Khutbah dan shalat digelar di tiap-tiap tenda grupnya. Shalat digelar dengan jamak dan qashar.

Ya Rabb,,,inilah hambaMu yang hina, kini berdiri, rukuk, sujud di Arafah…..

Tak terasa, suasana begitu mengaduk-aduk emosi. Shalat yang begitu membekas. Dengan segala kesyahduan dan kerinduan akan Arafah. Bahwa setelah shalat, waktu itu tiba. Waktu dan tempat terbaik di dunia : Wukuf di Arafah.
Bersambung…