Titip Salamku untuk Mereka


Senja telah mencapai penghujungnya. Lembayung itu tak nampak lagi. Berganti dengan dinginnya malam. Saat itu, buliran jernih menetes, membasahi bumi satu per satu. Membuat aroma segar, menyejukkan kalbu. Malam begitu indah. Begitu damai. Begitu syahdu, bagi para penikmat malam.

Gemerlap lampu bergelantungan di ufuk bumi. Sinar memancar dari segala penjuru kota. Dulu, tak pernah terbayangkan, akan seperti itu. Di balik bukit. Di atas gunung. Di kaki lembah. Di bibir pantai. Semuanya bercahaya. Semua berkilau, indah. Menjadikan rindu tak terperi.

Tapi tiba-tiba. Di antara ribuan kilauan itu. Di antara berjuta gemerlap ditengah kesibukan kota. Di antara keangkuhan zaman itu. Di antara egoisme urban. Tiba-tiba, meretas padam. Satu cahaya tiba-tiba lenyap. Di sudut kampung sana, satu cahaya terlihat menghilang, tersapu hujan. Tiba-tiba lenyap.

“Brett!” menggelibas. Tiba-tiba, di tengah syahdunya tetes hujan. Satu cahaya di antara berjuta cahaya lenyap. Gelap. Pekat. Panik. Inilah yang di sebut masyarakat modern ala tokoh besar bernama Cicero. Ia bergantung kepada sesuatu. Di sinilah, ketika cahaya itu lenyap, ia menjadi bingung.

Boleh jadi di zaman Romawi, Cicero bercerita bahwa masyarakat modern membutuhkan sesuatu yang berbeda. Tapi zaman sekarang, masyarakat modern abad ini membutuhkan secercah cahaya itu. Masyarakat modern membutuhkan listrik!

Baru mati sejenak akibat korslet terkena air saja, ia sudah seperti ikan yang keluar dari airnya. Menunggu beberapa saat. Satu jam, dua jam tak ada perubahan berarti. mengotak-atik tak ada hasilnya. Malam semakin pekat. Orang-orang di sudut kampung sana, memencet-mencet tombol. Menyalurkan gelombang ke ufuk satelit di atas sana, dan mengembalikan ke belahan  kota yang yang lain di bumi.

“Halo, di sini PLN?” katanya sambil tergesa-gesa

“Benar, ada yang bisa kami bantu,” terdengar jawaban di seberang sana.

“Listrik di rumah kami padam, bisa tolong ke sini dan mengecek apa yang terjadi,” katanya memelas

“Baik, di mana alamat lengkapnya pak?” katanya seseorang di seberang sana dimalam yang pekat itu.

Pemilik rumah dengan cekatan menejelaskan alamatnya. Alamat di sudut kampung. Yang harus memasuki gang-gang kecil, berhiaskan tembok-tembok tinggi. Di sudut –sudut yang bahkan tak tahu jalan apa lagi itu. Patokannya hanya Mesjid. Mesjid di tengah kampung sebuah kota.

“Baik, harap tunggu dan jangan panik ya Pak,” kata suara itu menutup pembicaraan.

Hati menjadi berdebar. Apa benar, malam-malam seperti ini akan ada orang yang datang?  Apa benar mereka akan datang?

Menoleh ke dalam rumah. Di sana, terdapat wajah-wajah mahasiswa yang sedang memelas. Berniat mengerjakan berjibun tugasnya, berharap listrik dapat kembali menyala. Berharap banyak, karena tak tahu apa yang terjadi tiba-tiba beberapa jam ini ruangan menjadi gelap. Berharap tugas esok hari selesai.

Tiba-tiba dua orang lelaki tak dikenal datang. Mengenakan jaket, dengan tas ransel di punggung. Wajahnya tak kelihatan, gelap. Melangkah mendekat. Bertanya.

“Apa benar di sini alamat ini?” sambil menyodorkan kertas disinari lampu senter yang ia bawa.

Pemilik rumah mengiyakan. Tiba-tiba, dibalik cahaya rembulan, wajahnya menjadi sumringah. Ia bak kejatuhan durian runtuh. Petugas PLN itu datang jauh-jauh dari jantung kota, menuju sudut – sudut pinggiran kota di malam yang pekat.

Bergegas mereka masuk. Dengan senter di lengannya. Mengotak-atik “meteran listrik” . Dengan cekatan, hanya berbalut cahaya senter dan rembulan. Di pinggir sana, para mahasiswa berharap cemas. Menaruh asa, kepada dua pria tak dikenal tersebut. Berpikir apa esok kelak akan dihukum dosen karena tugasnya belum usai.

“Byarr” mereka terkejut. Tiba-tiba suasana menjadi terang benderang. Mata mereka mengerjap-ngerjap. Menjadikan suasana berbeda. Cahaya itu terbang ke ufuk bumi. Ia terlihat kembali, menjadi bagian dari jutaan gemerlap di kaki Bukit. Menjadi ribuan kemilau di sudut Kota. Menjadikan lautan cahaya yang malam itu terus bersinar.

Dua orang tak dikenal ini memberikan penjelasan permasalahannya. Memberikan saran dan nasihat. Ternyata, akibat air hujan yang menggenang, mengenai bagian-bagian kabel menyebabkan korslet  dan mereka memperbaikinya.

Setelah itu, mereka membalikan punggungnya. Pergi dengan ramah setelah menyelesaikan tugasnya, dan tersenyum tulus menoleh di balik bayang purnama. Tak sempat kami memberikan sesuatu pun. Tak sempat kami berbincang lebih lama. Bahkan, tak sempat kami tau namanya. Mungkin ada tugas lagi di luar sana. Masih banyak pekerjaan menanti. yang dikerjakan dengan penuh dedikasi dan keikhlasan

Padahal malam masih pekat. Orang-orang dengan lelap dibalik hangatnya selimut tebal. Tapi mereka, dengan siaga 24 Jam. Melayani masyarakat seperti kami. Rangkaian syukur tak terperi. Sejumlah mahasiswa bergegas mengetikan sesuatu, melanjutkan deadline tugasnya.

Tak hanya harap yang muncul. Tapi juga doa. Agar PLN semakin baik dan dapat melayani masyarakat. Seperti yang kami rasakan sendiri, di suatu  malam. Agar cahaya itu terus berpendar. Membawa harapan-harapan. Bagi mahasiswa, ia menjadi sarjana yang baik. Bagi seorang direktur, agar programnya berjalan. Bagi karyawan agar dapat menjadi karyawan teladan dan semakin bermanfaat dengan menyelesaikan tugasnya. Bagi guru agar slide presentasinya berjalan sukses. Bagi siswa, agar laporan berjalan lancar. Bagi seorang anak, agar dapat menjad anak yang berbakti. Bagi seorang ibu yang sedang hamil, dengan secercah cahaya itu lahirlah bayi yang kelak menjadi anak shaleh. Dan PLN memiliki andil sangat besar dalam hal ini.

Titip salamku kepada lelaki-lelaki tak dikenal di seluruh penjuru negeri itu. Terima kasih Banyak

*tulisan ini diikut sertakan pada Lomba Blog “Harapanku Untuk PLN

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: