Mereka yang Menanti


Semburat cahaya dari Timur. Selalu melenakan. Teringat masa lalu. Pagi itu, mereka  tak biasa menyapa. Jauh-jauh, datang dari Ibu Kota. Kota yang melahirkan secuplik episode kapitalistik. Berdoyong orang, berduyun pelan, merangkak, berjalan, hingga berlari, menggantung asa.

Menunggu pulas, menikmati nostalgia framgmen masa lalu. Mengutarakan isi hati, keminatana kepada masa depan. Mereka tak hanya menafsirkan alam, tetapi juga menikmatinya. Bukankah itu-lah yang berharap pada setiap selip doa-nya.

Mereka yang tak terbiasa. Duduk termenung. Saling memandang. Sorot matanya menjadi menajam bak pisau yang terasah. Mengkilap, tapi tak lekang oleh zaman. Tetap menunjukkan kemantapannya, seperti tatapan mereka.

Membayangkan, dirinya sudah tak lagi seperti kala dulu. Saat mereka membangun suatu dari awal. Dari nol. Atau mungkin dari minus. Tapi, paras itu kira-kira tahun 1983. Saat mereka masih mengais ilmu, untuk mengais rezeki, kiranya.

Saat itu, tak ubahnya seonggok nasi bungkus. Menceritakan, bahwa ia masih bersatus sebagai mahasiswa sebuah kampus. Kampus di seberang sana, melahirkan para pemimpin, katanya. Entahkah? Masih ada kampus seperti itu. Walau katanya lagi, bukan pemimpin yang dilahirkan, tapi pimpinan yang terlahir.

Mereka yang tak biasa, duduk termenung. Menjumput segarnya nuansa bening, hangat, bau tanah yang tak lama mereka cium di pusat jantung pusat kota Ibu Kota. Bau itu mengitu menyegarkan, menyelam ke dalam relung hati terdalam.

Mereka yang tak biasa, menanti. Menanti sebuah jawaban pasti. Di sela-sela jendela yang belum pasti. Di sela, kesibukan akhir pekan menanti. Di sela, waktu luang yang tak terperi.

Mereka yang tak biasa, menanti. Memandang cakrawala. Membayangkan benak masa silam nan indah. Tak selamanya, menyimpan duka. Memandang jauh, memikirkan esok kelak. Bersama sang buah hati yang sudah mengenakn toga seperti halnya mereka di masa lampau.

Menyisakan kerinduan. Menanti di sela daun pintu dan daun jendela yang tak kunjung usai. Bulan depan rencananya, katanya mereka akan tak menanti lagi. Berharap kepadaku.

Agar, tempat bernaung itu segera usai. Tak lagi menanti. Berharap pada-ku, usai seudah rumah impian mereka. Dalam penantian itu, harap dan ucap romantis keluar dari-nya. Mereka yang tak biasa.

Senyum tersimpul lebar merekah dari bibirku. Menyaksikan mereka yang tak biasa. Berceloteh riang tentang masa depan. Hunian yang akan mereka nikmati, kini kian menyapa. Tak lama, tak terlalu lama.

Senyum rasanya tak terbendung. Menyaksikan mereka yang tak biasa. Mengutarakan kerinduan ihwal masa muda yang cerah. Kesenangan yang tak terkira, membuncah dari dada ini. Melirik, romantisme masa lalu. Mereka yang tak biasa.

Menanti, selesai-nya, hunian baru. Menanti-nanti, berharap cemas, bersyukur seperti paras yang tak lagi pucat, namun bercahaya. Tak tahu, bahwa aku sedang menelisik di balik punggungnya. Memperhatikan dengan wajah sumringah. Masa depan yang terbayang jelas, harap akan selesainya penantian.

Mungkin nanti, tak lagi duduk rapat, di sela kusen jendela yang tak kunjung usai.Mungkin nanti, dihadapnya kelak. Menikmati kursi yang bergoyang, mereka yang tak biasa. Sang suami, memangku sang istri. Menatap gemerlapnya bintang di angkasa. Menikmati sajian khas panorama kota. Menatap sang surya, yang tinggal sepenggalan.

Mereka yang tak biasa. Kini menanti. Tak sadar diriku telah tiba. Melengakan leher ke belakang. Menatap malu tersipu. Dengan tawa menggelegar. Tersenyum puas. Mengangkat tangan ke sana- kemari, meminta agar huniannya kelak. Menjadi bermakna. Tak hanya tempat tinggal, tapi sebagai pusat peradaban.

Putra-putri yang yang beranjak dewasa. Anak didik kos-nya yang akan membangun negeri, dari penjuru negeri. Bercerita akan masa depan. Masa lalu. Masa kini, yang harus ku tuntaskan. Amanat, menorehkan karya. Menuntaskan amanah, amanah peradaban. Sebuah hunian, yang suatu saat kelak, menjadi masa lalu.

Bahwa mereka yang tak biasa. Pernah berdua di sini. Mereka yang tak biasa. Pernah bersamaku. Bahwa mereka yang tak biasa. Duduk di sini. Di tempat ku menginjakkan kaki ini. Kelak, inilah karya-ku.  Membuat mereka mejadi-mereka yang tak biasa.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: