Langit di Hatimu


Tadi pagi, coba kau pandang ke atas sana. Ia sangat cerah. Biru lembut nan menawan. Tak ada putih sedikitpun. Tak ada yang menghalangi pandanganmu, selain gedung-gedung pencakar langit itu.

Di ufuk sana, ia sangat cerah. Coba kau pandang berkali-kali. Tak ada yang muram di sana. Pun matahari terik, ia tetap biru. Hanya di sudut sana, kita menyipitkan mata tak kuat akan sinarnya yang memancar.

Sekarang, sudah mulai senja. Biru pekat muda itu berangsur berganti. Menjadi kemuning, menandakan sang Lembayung akan segera meninggalkannya. Kuning itu, sangat lembut. Perpaduan yang khas, menjadikan ia selalu cantik untuk dinanti.

Di ufuk sana, memang benar adanya. Jika cakrawala membentang polos, bersih, tak berdebu. Seperti itu juga hati kita. Hati saat sedang cerah ceria.

Tak ada yang menghalangi di sana. Ia seperti cermin, yang memantulkan apapun itu. Hati yang selalu memantulkan kebenaran. Tak perlu kau akali ia, ia selalu harus tau kemana dirinya berlabuh.

Hati yang cerah, lembut, nan bersih, yang selalu memantulkan dirimu yang sebenarnya. Ia tak muram. Tak ada noda di sana. Selalu bercahaya.

Tapi, suatu saat, hati tak selamanya cerah –seperti kau pandang ke atas sana. Ia tak selamanya biru. Kadang, putih pekat menyelimutinya. Kadang, tetesan air itu keluar menyeruak.

Sama saja dengan hatimu. Kadang, bila ia sedang muram. Kejernihannya tak terpantul. Kebenaran tak tercermin. Jika engkau berlabuh padanya, ia tak terlihat.

Benar, tanyalah pada hatimu. Maka, ia akan menjawab degan jujur seperti anak kecil di pojok sana. Bila hatimu memang bercahaya, cerah, dan bersih.

Sebaliknya, jika hati selalu muram. Hitam, pekat, gelap, bahkan mengeras. Ia tak lagi memantulkan kejujurannya. Tak tahu kemana ia harus berlabuh.

Maka, janganlah kau kotori birunya langit itu dengan asap knalpot dari bibirmu. Atau berlebihan asap itu mengepul dari tungganganmu. Berjuanglah sedikit demi sedikit. Membersihkan langit biru nan cerah, dengan tanpa mengotorinya.

Maka, tanpa terasa hati ini menjadi muram. Tak secerah dulu lagi. Karena tak sadar, kita sendiri yang telah mengotorinya. Dengan kepulan asap yang menutup kalbu. Asap-asap yang kian menumpuk, menjadikan ia tak dapat di ajak berdialog.

Sekali-kali, mintalah pada pemilik hati, agar selalu di cerahkan. Di luruskan. Di jernihkan. Seperti halnya laut nun biru, yang selalu memantulkan langit di atas sana…

  1. Hai wakarimasu ^^

  2. siiip ^_^ no smoking

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: