Tetes


Tetes-tetes itu kian lembut. Menyeruai ke dalam kalbu. Ia tak lama lagi ceria. Hari cerah menanti di cakrawala sana. Telah lama, kedatangannya selalu di tunggu-tunggu.

Bahkan, beberapa media seperti , PR, Repbulika, Kompas, dll selalu menyebutnya. Bak tamu yang kadung tak datang lama. Namun, kini ia datang.

Tetes itu kian deras. Tadinya lembut, sekarang mulai bersuara. Suara syukur haru sekelilingnya. Karena baru ‘ketiban rezeki’

Sebab, makna rezeki dalam Qur’an yaitu Ia juga. Ia yang selalu dinanti, pun itu di kotanya sendiri. Bogor.

Bogor, selalu menyimpan canda. Di tengah riuhnya kendaraan hilir mudik. Padatnya kuda besi berwarna hijau itu.

Tapi julukkannya tak lekang oleh nafas zaman. Karena ia tetap hadir di sana. Seperti anak rangking satu yang duduk termenung di kelas. Yang selalu hadir dan duduk terdepan dalam setiap pelajaran.

Begitupun dengannya. Ia kini turun. Walau awan menjadi muram. Walau langit tak lagi berwajah cerah. Walau seperti tangis yang tak berkesudahan.

Ia akhirnya menjadi akhir. Akhir yang berkesudahan. Cakwarala menjadi cerah bukan? Bukankah engkau selalu menunggunya?

Tidak! Aku tak pernah menunggunya.” Teriak orang-orang itu. Sombong sekali ia yang memiliki seonggok kertas. Kiranya, kertas itu dapat menukar setetes air dengan dahaga?

Coba engkau turun ke jalan. Coba engkau pertajam pandanganmu. Coba engkau cium bebauan di sudut-sudt sana.

Di sana, engkau akan melihat mereka mendatangi sungai-sungai yang keruhnya tak terkira kembali. Atau mendatangi lumpur-lumpur yang mulai mongering.

Berharap setetes air, untuk menyegarkan dahaga anak-anaknya yang akan menyongsong esok hari. Mereka sangat mengharap ia datang. Ia yang selalu menyapa Kota Kelahirannya, Bogor.

Mereka itu banyak. Coba engkau buka tabung-tabung TV itu. Atau bacalah Koran-koran di pinggir jalan. Mereka menunggu tetes-tetes lembut itu.

Alhamdulillah, kian terucap dari bibirnya. Jangan engkau caci ia yang turun membasahi bumi karena membuat engkau sedikit menunggu di bawah jalan-jalan layang itu.

Bisa jadi, ada kumbang di alam sana, yang sedang kehausan. Atau tanaman yang sangat membutuhkannya.

Atau kau tak pernah merasakannya? Tak pernah kah kau tak mandi pagi tadi? Atau menampung, tetrs-demi tetes itu. Tak pernah kau merasakan, bagaimana menahan dahaga di pagi itu.

Jangan engkau cela rezeki itu. Ia adalah berkah. Orang-orang berharap ia segera datang. Mentari nan cerah di pagi pasti, yang selalu menepati janjinya.

Ketika ia datang. Tetesan lembut itu datang menyapa. Ia selalu membawa kerinduan. Kerinduan yang tak lama terkira. Membasahi bumi, membuat ia kembali hidup.

Syukur terucap. Tasbih tak henti-hentinya terdengar berdesis dari penghuni langit. Penghuni bumi tak mau ketinggalan. Tetes itu menjelma menjadi tetes air mata. Membasahi pipi, meretas jalan kedamaian.

Allahumma shayyiban nafi’an‘. Kini, awan itu sirna. Langit biru nun bercahaya seperti wajah-wajah mereka di sana. Yang tersenyum puas, akhirnya ia tiba juga. Tetes itu tetap lembut menebar kebaikan. Adapun kesabaran dan lelah mereka, akan hilang seperti buih. Tetes air itu, tetap abadi…

 

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: