Di antara Taman Cordoba


Di antara muka-muka yang tertunduk itu.

Berlarian seorang anak kecil. Melongok ke sana kemari. Hilir mudik, tepat di bawah wajah mereka.

Di antra kaki –kaki yang menjulang itu.

Berlarian seorang anak kecil. Melompat ke sana kemari. Hilir mudik, tepat di sela-sela kaki mereka.

Anak itu tertawa riang. Melompat – lompat di atas hamparan empuk sebuah karpet.

Karpet nan hijau. Ia bermotif sebuah pintu mesjid. Bak gaya Busur Arch-nya Romawi.

Dengan dua pilar di sisinya yang berwarna putih, dengan bagian atas mengerucut.

Menggambarkan pintu sebuah mesjid dengan pola-pola geometri. Hijau niat tak terkira. Seperti pintu-pintu sebuah taman di Cordoba.

Anak-anak berdiri di atasnya. Di sela kaki-kaki itu. Di ruang kosong di antara mereka. Sebab, pintu karpet itu menjadi sekat.

Sekat besar antara mereka. Mereka yang berdiri tertunduk di sana. Mendengarkan lantunan imam membaca ayat-ayat suci. Menjadikan mereka terpisah.

Cordoba begitu indah nan memikat. Tapi menjadi pemisah. Ia yang terhampar, berpola satu persatu. Niatnya untuk satu orang satu. Malah jadi terpisah.

Padahal orang paling depannya bilang. “Rapatkan shaf-nya”. Tak terdengar atau tak mau tau?

Di selingi rasa egois menyelirik diri. “Ini daerah kekusaanku!” lirihnya. Karena aku memang punya batas. Si hijau yang berdiri tepat di atas tapak kakiku. Karena ia merasa berhak.

Cordoba begitu indah. Tapi kecantikannya pudar. Ia menyisakan ruang antara aku dan kamu. Menyisakan “di antara”. Hingga anak nun manja, berseliweran.

Boleh jadi, ada kucing lewat. Ia tetap memberikan jalan. Karena batas itu begitu tegas. Garis-garis kekuasaan terhampar di sana. Di hamparan tempat sujud itu. Dengan lembutnya katun yang indah.

Tiap ingin menyatukan sisi kaki ini. Mereka malah menjauh. Karena si cordoba memberikan batas. Ia dekatkan lagi. Berharap penuhi ajakan Sang Junjungan. Agar tak ada celah di antara kita.

Semakin mendekat, semakin menjauh. Mungkin mereka tak tahu. Begitu penting pesan Junjungannya. Agar selalu merapaptkan dan meluruskan barisan.

Atau mungkin karena si Cordoba yang begitu angkuh. Membatasi gerak kita. Menyisakan “di antara”. Walau ia diam membisu. Tapi ia bisa berbuat. Untuk memisahkan kita.

Tapi lihat. Masih banyak Cordoba yang lain! Yang berisikan kesederhanaan. Tanpa pola, tanpa ukiran, tanpa warna mencolok.

Ia begitu sederhana. Deheman sang Imam, terpatri langsung. Dinginnya terasa. Ia menjadi rapat betul. Bahu-bahu itu bersentuhan. Esensi yang terpenuhi.

Wahai para penguasa! Bukan indahnya Cordoba yang kami cari. Tapi tuntunan Rasul nan Mulia. Agar selalu merapatkan barisan-barisan itu. Meluruskan pasukan-pasukan itu. Menghadap Tuhan-Nya.

Bukan rasa angkuh pemilik taman. Satu persatu diri terpisah. Terhijab oleh indahnya taman. Bersama-sama, tetapi sendiri. Tak sempurnalah mereka. Salah siapa? Ia perintahkan rapat, engkau malah menjauh…

Takut jemarimu hilang? Takut karena batasmu diambil? Atau tak takutkan Engkau. Di sela-selamu itu itu ada sesuatu,? Di antara taman Cordoba..Sesuatu yang selalu membisikimu. Ya, Engkau sudah tau itu apa…

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: