Perbekalan


Di sudut rumah itu. Ada harta tergeletak. Mengkilap menawan. Setinggi orang dewasa. Ia dilapisi emas murni. Murni 24 karat, jika di cek di kantor ANTAM. Kalau masih belum yakin, apakah memang ia murni emas–atau campuran

Di sudut kamar. Ada tumpukkan kertas. Bukan kertas biasa. Ia dapat d tukar dengan apapun. Pun itu, kebahagiaan. Tapi, nampaknya tidak.

Kertas itu berwarna merah. Ada gambar soekarno dan Hatta pada kertas itu. Tumpukkannya menggunung, hingga hampir menyentuh langit-langit.

Katanya barang itu buat bekal. Bekal hidup di sini. Di sana juga. Di mana saja. Ia menjadi bekal bak makanan, karena makanan bisa di beli dengan kertas itu. Tapi, kalau kebahagiaan, bisa di diskusikan. Kertas itu, tadinya bekal. Bekal yang ditukar dengan barang lainnya.

Ia hanya sebatas bekal. Tak lebih tak kurang. Ia bukan untuk menentukan kenikmatan menghirup udara segar. Pun kau borong semua kertas disudut kamar itu, ia tak dapat gantikan nikmatnya berkedip sekejap saja.

Bekal itu, buru-buru di habiskan. Tadinya bekal, sekarang berubah menjadi tujuan. Bekal untuk perjalan panjang ke sebuah negeri nun jauh di seberang sana. Di tengah jalan, tergiur bekal yang dibawa.

Tak dipungkiri, bekal itu begitu penting. Untuk persiapan perjalan. Jangan sampai tak membawa bekal.Tapi, kertas itu bukan kertas biasa. Walau hanya bekal untuk tujuan. Tujuan utama tak boleh berubah.

Walau banyak, dan semoga, tak lupa akan arah. Malah berdiam di jalanan, terlena menikmati bekal. Karena, kalau tak sampai sana. Entah sampai mana lagi kita. Kalau tak sampai garis finish. Artinya kita gagal. Gagal dalam perjalanan. Lain arah lain tujuan. Itulah kenapa ada istilah sukses.

Karenanya, sukses bukanlah yang banyak mempersiapkan bekal. Ia lebih dari itu. Mengumpulkan bekal. Tak lupa kompas dan jam. Melihat detik demi detik. Akankah sampai di akhir sana? Apakah bekal ini cukup? Apakah garis finish itu terlihat jelas?

Atau jangan-jangan selama ini. Diri ini terlalu sibuk dengan perbekalan. Tak sempat melangkah. Menatap tajam tumpukan kertas di sudut kamar sana. Sambil menumpuknya, hingga menyentuh langit-langit. Saat itu kereta telah melaju. Orang –orang telah sampai finish. Menanti dengan senyuman

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: