Sehari Satu….


Dulu dia begitu bersemangat. Mengeja kata demi kata. Ejaan yang sebenarnya.

Tatapannya tajam. Seolah-olah yakin. Ia sangat yakin. “Sehari satu.”ungkapnya.

Ia berazzam. Tiada hari, tanpa tertoreh satu  kisahpun. Pun itu, hanya sebait sajak.

Sajak yang benar –benar bermkana. Ia tekadkan dengan membulat. “Sehari satu,” ungkapnya.

Namun, itu hanya ungkapan belaka. Tak pernah ia torehkan dalam lembaran bersih itu. Tinta –tinta itu tak tersentuh pena. Hitamnya mongering, bahkan mengeras. Tak ada satu di sana.

Satu pun tidak. Bahkan ia lupa, kalau dulu ia pernah berazzam. Semuanya berlari cepat. Seolah-olah itu masa lalu. Mungkin karena itu hanya kata. Kata yang diungkapkan saja.

Seharusnya semuanya ia guratkan dalam kertas. Agar tinta itu tak megeras seperti batu cadas. Agar pena itu yang lancip mengkilap menjadi tumpul.

Agar tangan itu semakin lincah. Agar kata menjadi makna. Agar ungkapan “Sehari Satu” terlaksana.

Mau tidak mau. Sekarang harus terlakoni. “Sehari satu,” bukan sekedar ungkapan lagi. Ia harus benar-benar terpatri. Karena sudah ada di sini. Di halaman ini. Sesuatu yang sedang engkau baca. Agar mudah kau mengingatnya. Kalau dulu, engkau pernah bertekad. Tak sekedar kata. Ia sudah menjadi tulisan.

“Sehari satu,” . Satu tulisan…..

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: