Archive for September, 2012

Jurnalisme Literair –Bagi yang Suka Nulis

Selepas beberapa purnama terlewat, kira-kira itu, kami berdiskusi. Mengenai Gaya Tulisan untuk sebuah media yang kami rintis. Sebuah Tabloid dan Majalah. Memang, pada akhirnya, setiap kepala memiliki ide dalam benak-nya masing-masing. Tapi, kata Bang Islamia Pemphasa pada suatu pelatihan Jurnalistik, bahwa Isi tiap kepala itu harus sampai kepada para pembaca. Commucication singkatnya,

Menyamakan Frekuensi, antara para pembaca dan orang yang membaca. “Sampai-sampai orang yang nggak tau apa-apa itu jadi tau,” kata Pimred saya. Artinya bagaimana, isi benak yang berseliweran hilir mudik itu sampai di benak para pembaca. Termasuk kamu, hey yang sedang membaca ini.

Walhasil, saya diminta membaca novel setiap hari-nya. Memang ternyata gaya bahasa novel itu lebih “ringan” dibanding yang lain. Ia menyelisip kepada alam pikiran. Pun jika sedang ada keperluan untuk Ngantor, di kantor-pun, membolak-balik lembar demi lembar. Duduk santai, di temani ceripit burung di balik jendela sana. kadang, cahaya lunak itu menyentuh halus, menerobos daun jendela, terkena sepertiga dari meja yang mengkilap.

Inilah mungkin, yang di maksud Jurnalisme Sastrawi, yang saya dapat penjelasanya dari seorang (alm) Wartawan Senior. Tulisannya kebetulan, nongkrong di dalam file untuk pelatihan Jurnalistik. Beliau seorang yang saya kagumi. Berikut, tulisan beliau, tentang apakah itu Jurnalisme Sastrawi, yang kata beliau sebenarnya lebih dekat disebut Jurnalisme Litrerair.

Masih ingat, beberapa tahun ke belakang,  beliau pernah bilang ” Wartawan yang tidak mencintai bahasa adalah bebal, wartawan yang malas terjun melakukan reportase adalah goblok.”. Ya, inilah buah pikiran dari Budiman S Hartoyo , Selamat menikmati

Continue reading

Mereka yang Menanti

Semburat cahaya dari Timur. Selalu melenakan. Teringat masa lalu. Pagi itu, mereka  tak biasa menyapa. Jauh-jauh, datang dari Ibu Kota. Kota yang melahirkan secuplik episode kapitalistik. Berdoyong orang, berduyun pelan, merangkak, berjalan, hingga berlari, menggantung asa.

Menunggu pulas, menikmati nostalgia framgmen masa lalu. Mengutarakan isi hati, keminatana kepada masa depan. Mereka tak hanya menafsirkan alam, tetapi juga menikmatinya. Bukankah itu-lah yang berharap pada setiap selip doa-nya.

Mereka yang tak terbiasa. Duduk termenung. Saling memandang. Sorot matanya menjadi menajam bak pisau yang terasah. Mengkilap, tapi tak lekang oleh zaman. Tetap menunjukkan kemantapannya, seperti tatapan mereka.

Membayangkan, dirinya sudah tak lagi seperti kala dulu. Saat mereka membangun suatu dari awal. Dari nol. Atau mungkin dari minus. Tapi, paras itu kira-kira tahun 1983. Saat mereka masih mengais ilmu, untuk mengais rezeki, kiranya. Continue reading

Sehari Satu?

Sebuah kebiasaan, mencatat aktivitas sehari-hari. Saat itu, melihat aktivitas masa lalu. Hal itu sungguh menggelikan. Semua memori itu kembali. Benar, kata Ali saat itu, ‘ Ikatlah Ilmu dengan tulisan’. Ilmu itu yang tersebar di alam. Ilm dan Alm – semuanya adalah ayah (tanda). Tanda-tanda itu, kian terikat.

Semua terlihat detail. Detail hingga tanggal, jam, tempat. “Mungkin, suatu saat bisa menjadi kisah menarik,” kata Ahmad Fuadi. Sebab dibalik kaca mata tebalnya, pandangannya menyimpan keyakinan. Waktu itu dia cerita, catatan-catatan itu dibuka dalam sebuah koper besar.

Zaman ini, tak perlulah sebuah koper. Hanya dari balik layar 11 inchi itu, kita dapat menyimpat sejuta kata dan makna. Dengan meggerakan jari-jari dengan cekatan. Itulah saran beliau. Beliau seorang wartawan yang memutuskan menjadi novelis, setelah menimba pengalaman dari pelbagai pelosok.

Pun, kisah-kisah itu perlu diikat. Niscaya, saat nanti, senyum itu semakin tersungging merekah. Saat lipatan-lipatan dahi mulai mengkerut. Guratan halus menyapa di celak mata. Dengan-nya berguman ‘oh ternyata dulu aku begini,’ cetusnya mantap.

Memori itu kian kembali lagi. Karena ia terikat.

Sehari Satu? Memang benar. Harusnya seperti itu, tak perlu melulu di sini. Di sudut rumahpun masih bisa. Yang penting, minimal sehari satu halaman, lagi-lagi kata mas Ahmad Fuadi yang sekarang menikmati lima menara-nya. Sehari satu memang harus terwujud, tak boleh berhenti.

Tetap menggerakan pena, menajamkan pandangan. Karena, ilmu ada di sana. Ilmu dan Alam yang masih satu rumpun. Ia adalah tanda, yang harus di ikat. Kalau sudah terikat , masa depan itu bisa menjadi sejarah. Karena masa depan kita, adalah masa lalu di masa yang lebih depan.

Karenanya, sehari satu sangat penting. Yakinkan diri, memang harus  sehari satu. Tak melulu harus kau lihat. Kau simpan di catatan di dalam lemari tak masalah. Atau mungkin di relung hati jauh di sana. Atau seperti beliau, di balik pengapnya koper besar itu. Mengais makna.

Suatu saat, ia meraung-raung ingin ke luar. Ingin mengungkapkan, apa yang di sebut sebagai ‘kenangan’. Tapi tak sekedar kenangan. Ia adalah al-ilm. Ilmu sekaligu alam. Di sinilah, menulis merupakan bentuk syukur. Terhadap tanda, alam, dan ilmu.

Rezeki Itu Tak Pernah Terduga

“Bila kita masih bisa menebak rejeki yang datang kepada kita secara akurat, itu berarti kita perlu segera meng-upgrade keimanan kita.”

Berapa penghasilan Anda bulan ini? Berapa penghasilan Anda bulan depan? Apakah Anda bisa menebaknya secara akurat?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut mengingatkan saya saat menunaikan ibadah haji pada tahun 2006. Tepatnya, ketika pembimbing haji kami Profesor  Didin Hafidhuddin berkata, “Orang-orang yang imannya kuat rejekinya akan datang dari arah yang tak terduga-duga. Jadi bila kita masih bisa menebak rejeki yang datang kepada kita secara akurat, itu berarti kita perlu segera meng-upgrade keimanan kita.”

Ingatlah rejeki itu misteri, yang tahu persis cara kerjanya tentu hanya Sang Mahapemberi Rejeki. Dia memberi tahu melalui kitabnya bahwa rejeki akan datang berlimpah justeru ketika kita banyak memberi.

Sekarang coba Anda jawab pertanyaan ini, “Sebutkan tiga pengeluaran utama dari penghasilan Anda?” Adakah alokasi  memberi untuk orang lain yang benar-benar membutuhkan? Atau semua digunakan untuk memuaskan keinginan pribadi?

Mungkin sebagian Anda ada yang berkata, “Untuk diri sendiri saja susah kok harus ngasih orang lain.” Ya, itu logika kita. Padahal rejeki datang dan perginya sering tidak pakai logika. Maka tak usah heran bila ada tukang becak bisa menyekolahkan anaknya hingga menjadi dokter di Jogyakarta. Tetapi banyak juga kita temui orang yang sudah bekerja ngos-ngosan hasilnya hanya pas-pasan dan sibuk membayar berbagai tagihan.

Rejeki juga akan datang tanpa diduga bila kita memperbaiki hubungan dengan sesama. Menambah sahabat dan saudara serta menyambungkan tali persaudaraan dengan saudara yang memutuskannya. Hubungan dengan sesama yang paling utama tentunya dengan orang tua kita. Perbaikilah hubungan Anda dengan mereka dan jadikan mereka sebagai prioritas untuk Anda bahagiakan.

Hubungan baik dengan orang tua bukan hanya sekedar mencium tangan dan tinggal satu rumah bersama mereka. Membuat mereka bangga memiliki anak seperti Anda juga termasuk membina hubungan baik dengan orang tua. Selalu mendoakan pada setiap kesempatan, mendengarkan dan menghormati semua pendapatnya juga wujud hormat kepada mereka.

Percayalah, mendapat rejeki dari arah yang tak diduga-duga itu mengasyikkan dan membuat hidup semakin hidup. Selamat berlomba melakukan berbagai aktivitas yang menyebabkan rejeki datang tanpa diduga-duga.

 

Disepelekan Tapi Menyelamatkan

Masih ingat kisah tentang Nabi Nuh? Saat ia menjalankan perintah Allah untuk membuat kapal banyak kaumnya yang mengolok-ngolok dan menghinanya. Ada yang berkata, “Wahai Nuh! Bukankah menurut pengakuanmu, engkau seorang Nabi dan Rasul? Mengapa engkau sekarang menjadi tukang kayu dan membuat perahu?” Ada pula yang mengejek, “Kamu pasti sudah gila membuat perahu di tempat yang jauh dari air.”

Walau diejek, dicaci dan dihina Nabi Nuh tidak mempedulikan. Dia tetap menjalankan perintah-Nya dengan penuh kesungguhan. Singkat cerita, kapal besar itu pun selesai dibuat. Tidak lama kemudian, turunlah hujan lebat selama 40 hari 40 malam. Banjir besar menenggelamkan semua orang dan hewan ternak, tidak ada yang selamat kecuali yang ikut naik di atas kapal Nabi Nuh.

Pelajaran apa yang bisa kita petik? Pertama, ide atau gagasan yang disepelekan dan dihina orang saat ini, boleh jadi itulah yang menyelamatkan hidup Anda di masa yang akan datang. Banyak ide-ide bisnis yang awalnya disepelekan beberapa tahun kemudian tumbuh menggurita menjadi bisnis kelas dunia.

Teh botol dan air mineral dalam kemasan adalah dua produk yang sering menjadi contoh. Dulu banyak yang berkata, “Harga air minum kok lebih mahal dari bensin, pasti tidak akan laku.”  Tapi coba lihat sekarang, hampir di semua toko makanan, bahkan di pinggiran jalan, selalu tersedia teh botol dan air minum dalam kemasan.

Contoh lain, sahabat saya Rangga Umara sukses mengubah paradigma tentang lele. Dulu pecel lele hanya dijual di warung tenda pinggir jalan. Sekarang, Anda bisa menikmati pecel lele di ruangan nyaman ber-AC dan disajikan dengan berbagai rasa. Saya adalah salah satu pelanggan tetapnya. Sang pemilik Pecel Lele Lela itu kini sudah memiliki puluhan outlet di berbagai tempat.

Pelajaran kedua, ikutilah perintah Allah maka Anda akan selamat. Semua orang yang mengikuti Nabi Nuh untuk masuk ke dalam kapal dia selamat. Perahu Nabi Nuh ibarat perintah-Nya, siapa yang berpegang teguh kepada-Nya maka dia akan selamat.

Sungguh ilmu dan pengetahuan kita amatlah terbatas. Banyak hal yang menurut kita baik padahal itu buruk menurut-Nya. Sebaliknya, banyak hal yang menurut kita buruk tetapi itu baik menurut-Nya. Agar kita tidak salah, berpegang teguhlah pada perintah-Nya karena Dia Yang Maha Tahu.

Jadi, teruslah mencari dan membuat ide-ide brilian dalam kehidupan. Boleh jadi saat ini orang menertawakan ide Anda. Namun bila Anda yakin dan senang melakukannya, maka lakukanlah. Hanya saja, Anda harus memastikan bahwa ide Anda tidak bertentangan dengan perintah-Nya. Dengan paradigma ini, hidup Anda akan terjaga di masa yang akan datang dan masa setelah kehidupan dunia.

(Salam SuksesMulia!)

[dari Tabloid Alhikmah Edisi 71, rubri tetap mas Jamil Azzaini]

 

Langit di Hatimu

Tadi pagi, coba kau pandang ke atas sana. Ia sangat cerah. Biru lembut nan menawan. Tak ada putih sedikitpun. Tak ada yang menghalangi pandanganmu, selain gedung-gedung pencakar langit itu.

Di ufuk sana, ia sangat cerah. Coba kau pandang berkali-kali. Tak ada yang muram di sana. Pun matahari terik, ia tetap biru. Hanya di sudut sana, kita menyipitkan mata tak kuat akan sinarnya yang memancar.

Sekarang, sudah mulai senja. Biru pekat muda itu berangsur berganti. Menjadi kemuning, menandakan sang Lembayung akan segera meninggalkannya. Kuning itu, sangat lembut. Perpaduan yang khas, menjadikan ia selalu cantik untuk dinanti.

Di ufuk sana, memang benar adanya. Jika cakrawala membentang polos, bersih, tak berdebu. Seperti itu juga hati kita. Hati saat sedang cerah ceria.

Tak ada yang menghalangi di sana. Ia seperti cermin, yang memantulkan apapun itu. Hati yang selalu memantulkan kebenaran. Tak perlu kau akali ia, ia selalu harus tau kemana dirinya berlabuh.

Hati yang cerah, lembut, nan bersih, yang selalu memantulkan dirimu yang sebenarnya. Ia tak muram. Tak ada noda di sana. Selalu bercahaya.

Tapi, suatu saat, hati tak selamanya cerah –seperti kau pandang ke atas sana. Ia tak selamanya biru. Kadang, putih pekat menyelimutinya. Kadang, tetesan air itu keluar menyeruak.

Sama saja dengan hatimu. Kadang, bila ia sedang muram. Kejernihannya tak terpantul. Kebenaran tak tercermin. Jika engkau berlabuh padanya, ia tak terlihat.

Benar, tanyalah pada hatimu. Maka, ia akan menjawab degan jujur seperti anak kecil di pojok sana. Bila hatimu memang bercahaya, cerah, dan bersih.

Sebaliknya, jika hati selalu muram. Hitam, pekat, gelap, bahkan mengeras. Ia tak lagi memantulkan kejujurannya. Tak tahu kemana ia harus berlabuh.

Maka, janganlah kau kotori birunya langit itu dengan asap knalpot dari bibirmu. Atau berlebihan asap itu mengepul dari tungganganmu. Berjuanglah sedikit demi sedikit. Membersihkan langit biru nan cerah, dengan tanpa mengotorinya.

Maka, tanpa terasa hati ini menjadi muram. Tak secerah dulu lagi. Karena tak sadar, kita sendiri yang telah mengotorinya. Dengan kepulan asap yang menutup kalbu. Asap-asap yang kian menumpuk, menjadikan ia tak dapat di ajak berdialog.

Sekali-kali, mintalah pada pemilik hati, agar selalu di cerahkan. Di luruskan. Di jernihkan. Seperti halnya laut nun biru, yang selalu memantulkan langit di atas sana…

Tetes

Tetes-tetes itu kian lembut. Menyeruai ke dalam kalbu. Ia tak lama lagi ceria. Hari cerah menanti di cakrawala sana. Telah lama, kedatangannya selalu di tunggu-tunggu.

Bahkan, beberapa media seperti , PR, Repbulika, Kompas, dll selalu menyebutnya. Bak tamu yang kadung tak datang lama. Namun, kini ia datang.

Tetes itu kian deras. Tadinya lembut, sekarang mulai bersuara. Suara syukur haru sekelilingnya. Karena baru ‘ketiban rezeki’

Sebab, makna rezeki dalam Qur’an yaitu Ia juga. Ia yang selalu dinanti, pun itu di kotanya sendiri. Bogor.

Bogor, selalu menyimpan canda. Di tengah riuhnya kendaraan hilir mudik. Padatnya kuda besi berwarna hijau itu.

Tapi julukkannya tak lekang oleh nafas zaman. Karena ia tetap hadir di sana. Seperti anak rangking satu yang duduk termenung di kelas. Yang selalu hadir dan duduk terdepan dalam setiap pelajaran.

Begitupun dengannya. Ia kini turun. Walau awan menjadi muram. Walau langit tak lagi berwajah cerah. Walau seperti tangis yang tak berkesudahan.

Ia akhirnya menjadi akhir. Akhir yang berkesudahan. Cakwarala menjadi cerah bukan? Bukankah engkau selalu menunggunya?

Tidak! Aku tak pernah menunggunya.” Teriak orang-orang itu. Sombong sekali ia yang memiliki seonggok kertas. Kiranya, kertas itu dapat menukar setetes air dengan dahaga?

Coba engkau turun ke jalan. Coba engkau pertajam pandanganmu. Coba engkau cium bebauan di sudut-sudt sana.

Di sana, engkau akan melihat mereka mendatangi sungai-sungai yang keruhnya tak terkira kembali. Atau mendatangi lumpur-lumpur yang mulai mongering.

Berharap setetes air, untuk menyegarkan dahaga anak-anaknya yang akan menyongsong esok hari. Mereka sangat mengharap ia datang. Ia yang selalu menyapa Kota Kelahirannya, Bogor.

Mereka itu banyak. Coba engkau buka tabung-tabung TV itu. Atau bacalah Koran-koran di pinggir jalan. Mereka menunggu tetes-tetes lembut itu.

Alhamdulillah, kian terucap dari bibirnya. Jangan engkau caci ia yang turun membasahi bumi karena membuat engkau sedikit menunggu di bawah jalan-jalan layang itu.

Bisa jadi, ada kumbang di alam sana, yang sedang kehausan. Atau tanaman yang sangat membutuhkannya.

Atau kau tak pernah merasakannya? Tak pernah kah kau tak mandi pagi tadi? Atau menampung, tetrs-demi tetes itu. Tak pernah kau merasakan, bagaimana menahan dahaga di pagi itu.

Jangan engkau cela rezeki itu. Ia adalah berkah. Orang-orang berharap ia segera datang. Mentari nan cerah di pagi pasti, yang selalu menepati janjinya.

Ketika ia datang. Tetesan lembut itu datang menyapa. Ia selalu membawa kerinduan. Kerinduan yang tak lama terkira. Membasahi bumi, membuat ia kembali hidup.

Syukur terucap. Tasbih tak henti-hentinya terdengar berdesis dari penghuni langit. Penghuni bumi tak mau ketinggalan. Tetes itu menjelma menjadi tetes air mata. Membasahi pipi, meretas jalan kedamaian.

Allahumma shayyiban nafi’an‘. Kini, awan itu sirna. Langit biru nun bercahaya seperti wajah-wajah mereka di sana. Yang tersenyum puas, akhirnya ia tiba juga. Tetes itu tetap lembut menebar kebaikan. Adapun kesabaran dan lelah mereka, akan hilang seperti buih. Tetes air itu, tetap abadi…