Ketika Ramadhan Hadir Sepanjang Masa


 

“Wahai ibu, jangan beritahukan kepada siapapun, aku telah membunuh jiwaku dengan dosa-dosa,”

 

Rabi’ bin Khutsaim bin ‘Aidz masih remaja di kala itu. Namun orang sudah mengenalnya sebagai sosok ulama muda dan juga ahli ibadah. Di kalangan Tabi’in ia disebut sebagai cahaya pada zamannya. Bukan tanpa sebab, sejak kecil ia menimba ilmu dari sahabat besar, Ibnu Mas’ud. Saking dekatnya dengan Ibnu Mas’ud, hubungan mereka seperti ibu dan anak. Begitu dekat. Begitu hangat.

Rabi’ bin Khutsaim berasal dari bani Mudhar. Nasabnya bersambung bersama nasab Rasulullah pada Ilyas bin Mudhar. Saat orang melihatnya, wajahnya selalu memancarkan cahaya keteduhan. Penuh ketaatan kepada Allah. Setiap ucapan yang keluar dari lisannya adalah zikir, diamnya adalah berpikir. Berkata seorang yang selalu menemaninya ,” Saya bersama al Rabi’ bin Khutsaim selama dua puluh tahun, sungguh belum pernah mengucapkan kalimat kecuali kalimat itu mengingatkan kepada Allah.”

Pernah suatu kali ia melihat api di pandai besi, seketika tubuhnya menggigil, teringat api neraka. Saat itu ia pingsan, dan tidak sadarkan diri hingga seharian. Jika telah masuk waktu malam, Rabi’ mengencangkan ikat pinggang. Dinginnya malam tak pernah ia lewati kecuali dengan sujud, tangisan, dan qiyamullail. Dalam shalat, ia selalu hanyut berdua bersama Rabb-nya, hingga suatu saat saking nikmatnya bersujud burung-burung kecil hinggap di atas punggungnya.

Terkadang, Rabi membaca satu ayat, diulang-ulang hingga subuh sembari air mata membasahi jenggotnya. Tidak jarang, ia pingsan saat sampai pada bacaan yang mengingatkannya pada Azab Allah. Isak tangis keras biasa terdengar di dalam kamar Rabi muda hingga menjelang wafatnya.

Ia termasuk yang dikatakan Mualla bin al-Fadhl  Rahimahullah  “Mereka selama enam bulan  berdoa kepada Allah supaya disampaikan ke bulan Ramadhan, dan berdoa enam bulan selanjutnya agar amalan mereka pada bulan Ramadhan diterima.”

Dikisahkan bahwa  suatu saat Ia hendak menjual seorang budak wanita kepada tuannya yang baru. Kemudian ketika menjelang Ramadhan di tempat tuannya yang baru, budak wanita tersebut melihat berbagai hidangan dan makanan istimewa yang dipersiapan tidak seperti layaknya hari-hari sebelumnya. Karena penasaran akhirnya budak wanita itu pun bertanya kepada tuannya.

“Tuan, apa gerangan yang membuat tuan menyiapkan hidangan istimewa ini?”

Tuannya pun menjawab, ”Kami menyediakan ini semua untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan“

Kemudian budak wanita itu pun berkata, ”Kalian adalah orang yang tidak pernah puasa selain pada bulan Ramadhan, sungguh aku pernah hidup bersama sekelompok manusia (salafusshalih) , yang suasana hidup mereka sepanjang masa laksana berada pada bulan Ramadhan, sekarang juga kembalikan aku pada mereka!”

Subhanallah! Hingga budak Rabi’ pun dapat merasakan suasana Ramadhan setiap waktu pada hidupnya. Dalam hidupnya Rabi’ selalu mencoba menghadirkan Ramadhan lewat kedermawanan, keikhlasan, keshalehan, ilmu, tilawah, rukuk, sujud, menangis, terpancar dalam kesehariannya.

Waktu pun berlalu dengan demikian cepat. Namun kebiasaan Rabi’ itu membuat ibunya yang sudah tua, malah khawatir kepada anaknya. Ibunya melihat putranya itu semakin sering menangis sendiri di tengah malam, padahal orang lain tengah lelap dengan tidur. Sampai-sampai terlintas di benak ibunya sesuatu yang janggal. Lalu sang Ibu pun memanggilnya.

“Apa yang sebenarnya terjadi atas dirimu wahai anakku, apakah engkau telah berbuat jahat atau telah membunuh orang?” tanya sang ibu.

 “Benar, aku telah membunuh seorang jiwa,” jawab Rabi’.

 “Siapakah gerangan yang telah engkau bunuh, Nak? Katakanlah agar aku bisa meminta orang-orang menjadi perantara untuk berdamai dengan keluarganya, mungkin mereka akan memaafkanmu. Demi Allah, seandainya keluarga korban itu mengetahui tangisan dan penderitaanmu itu, tentulah mereka akan merasa kasihan melihatmu.”

“Wahai ibu, jangan beritahukan kepada siapapun, aku telah membunuh jiwaku dengan dosa-dosa,” kata Rabi’ sambil menangis.

Semakin tua, semakin bertambah wara’ dan ketaatannyan kepada Allah. Allah mengujinya dengan penyakit yang dengannya ia tidak dapat berjalan. Hingga suatu saat ia mendengar adzan, Rabi memaksakan diri ke Mesjid.

 Sahabatnya, Mundzir berkata, ”Wahai Rabi, bukankah Allah memberi rukhshah (keringanan) bagi Anda untuk shalat di rumah?”

Beliau menjawab, “Memang benar apa yang Anda katakan, akan tetapi aku mendengar seruan, “Marilah menuju kemenangan! Barangsiapa mendengar seruan itu hendaknya mendatanginya walaupun harus dengan merangkak.”

Rabi’ mengisi seluruh hidupnya, menghidupkan seluruh malamnya untuk beribadah kepada Allah. Mengisi siangnya dengan menahan lapar dan haus. Menyedekahkan hartanya di jalan Allah, bahkan pernah ia menyedekahkan seluruh harta yang ia miliki. Menjelang wafatnya, putrinya mendekatinya dan menangis.

Kemudian Rabi bertanya;

“Apa yang membuatmu menangis Wahai puteriku, padahal kebaikan tengah menanti di hadapan ayahmu?” Sesaat kemudian, ruhnya menghadap Allah.

“Demi Allah, seandainya Rasulullah melihatmu, tentulah beliau mencintaimu. Dan aku tidak melihat engkau kecuali aku ingat pada orang-orang yang tawadhu” (Ibnu Mas’ud  Radiallahu’anhu)

 

 

 



 

 

 

                                                                         

 

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: