Kembali Berbuka


Kembali Berbuka

Wajah-wajah itu tersipu halus. Saban hari menanti makanan gratis yang di bagikan di halaman Mesjid. Kadang, ta’jil itu berbaris rapi di atas karpet yang baru saja dibersihkan. Kolak, dan gorengan menjadi satu. Tak lupa, tiga butir korma manis gula, diplastik menemani mereka.

Kini, umur bulan itu kian sesak. Se ilalang kiranya tinggi umurnya. Sudah mendekat akhir, namun masih memendam kerinduan. Kerinduan, apakah akan bertemu kembali esok tahun?

Tak tahulah! Yang pasti pasar itu semakin padat. Di sela-sela padatnya, seonggok bus besar berusaha ingin memisahkan diri. Sayang memang, ihwal itu ia tak seberuntung biasanya. Pusat-pusat belanja itu  berubah menjad lautan manusia.

Kasihan mobil-mobil itu. Ia diam, terpaku, tak bergeming. Ingin maju ia harus melawan arus manusia. Mundur, semakin tak berdaya menabrak mobil sejenisnya. Geraman itu menyapa di dalam hati. Motor-motor tak luput dari menunggu. Menunggu dipinggiran jalan, ditemani teriknya lembayung senja.

Sore itu, Pun saat lembayung menguning, ia tetap tak bergeming. Frustasi sudah. Gusar, bercampur rasa ingin segera keluar dari jebakan lautan manusia. Yang berebut, membeli baju baru, membeli barang baru, membeli uang untuk dibagikan kepada keponakannya.

Saban hari, semakin membuncah tak terbendung. Katanya, hari itu hari yang suci. Idul Fitri akunya. Kembali suci. Untuk suci pun, pakaian harus baru. Bahkan, uang harus dihabiskan dipasar saat itu juga. Baik pasar modern juga tradisional. Semakin dekat, semakin sibuk. Semakin wangi aroma kupat itu tercium.

Tak terasa memang. Lantunan syahdu itu mengalir. Kaki-kaki pegal itu terasa dilakoni saat malam. Dingin menembus tulang tak menjadi halangan. Para pemburu malam seribu bulan itu kian nikmat khusyuk. Di luar sana, kegeraman tak berkesudahan semakin menjadi.

Para pemburu julukan mereka. Yang satu pemburu seribu malam. Yang satu lagi pemburu kesenangan menjelang Hari nan Suci. Menelisik kalbu, meneteskan air pada malam ganjil. Atau tertawa lebar sampai terlihat giginya disiang  hari di Pasar itu.

Suci itu kian mendekat. Tapi apakah memang pantas diri ini kembali suci? Nyatanya, masih banyak ucap tak berbalas baik. Untaian maaf menelisik dari lubuk hati terdalam. Di sepuluh malam itu, dihabiskan kotoran-kotoran itu, sucilah dirinya. Atau malah di mall-mall tanpa mencuci hati.

Tapi, bukanlah kembali suci hanya saat ramadhan. Ia bisa kapan saja kita cuci. Maap terucap setiap saat. Idul Fitri itu , Kembali Berbuka. Sebab ia hanya bisa ditemukan saat ramadhan. Id= Kembali. Fitri =Berbuka. Kembali makan, kembali berbuka, kembali menikmati indahnya dahaga yang terpuaskan.

Sebentar lagi, ia akan kembali berbuka. Kembali makan, merasakan nikmatnya karunia yang Allah berikan. Ketika nasi nun jauh di cianjur sana sengaja mendatanginya. Ketika Telur dari luar pulau itu mendatangi ia didalam piring kecilnya.

Semua kembali berbuka. Semua kembali makan. Itulah juga namanya zakat fitri. Zakat makanan. Para delapan asnaf mendapatkan makanan.. Semua makan. Semua menikmati hidangan. Hari itu disebut Idul Fitri, kembali berbuka. Saat itu makanan harus dihabiskan. Kembali menikmati lezatnya makanan.

Tapi, sebulan sudah. Kita tahan mereka dalam dahaga siang. Atau gelapnya malam. Indahnya berbagi yang sudah terlatih. Saat itu, semua harus dapat makanan. Semua harus bergembira. Semua tertawa. Itulah saatnya, bukan sebelumnya. Tempo sebelumnya, ia harus menahan semua, sampai akhirnya tibalah Saatnya Berbuka, Idul Fitri.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: