Seribu Bulan


Suara itu kian mendekat. Sayup-sayup dari kejauhan. Nafasnya terasa hingga ke sini. Desahnya mengingatkan kita akan suasana. Tapi suasana apakah itu..

Terdengar ia memanggil. Ia bak telaga ditengah sana. Masih jauh memang, tapi rasa haus kita sudah terasa. Telaga itu, memberikan kesegaran bagi siapa yang mendekatnya.  Bagi siapa yang mereguk dinginnya.

Masih ingat dalam diri ita, ingatan-ingatan masa lalu kita. Saat kita  begitu gembira menyambutnya. Kita mengikuti arus menglilingi desa dengan menambuh beduk. Saudara –saudara kita di sudut lain menyalakan obor. Saudara kita yang lain, menonton acara-acara religi di rumahnya.

Menyusuri  gang-demi gang. Berteriak manja, meneriakan takbir. Kehadirannya begitu di tunggu-tunggu. Sehari sebelumnya, menyaksikan tontonan dan pengumuman. Berjubel orang memasuki Mesjid sampai ke luar-luar, setelah sorenya ibu-ibu menaruh sajadah sebagai ‘daerah kekuasaanya’.

Tempat itu menjadi hidup kembali. Lampunya tak pernah padam. Suara paraunya menyeruak menjelang langit gelap. Subuh pun ia muncul kembali.

Pelbagai mahluk bergembira menyambutnya, kata Bimbo. Semua bercengkrama. Dulu, Ia dalah bulanyang dinanti-nanti. Ia selalu tersenyum untuk kita, namun kita belum tentu tersenyum untuknya.

Ayat demi ayat kita begitu semangat mengkajinya. Bibir basah seusai shalat dengan kalimat suci. Niat awalnya akan rutin, tapi termakan arus zaman modern juga. Tapi masih bagus, bisa basah bibir ini.

Dulu, bacaan itu begitu syahdu, waktu yang tepat untuk menikmatinya. Tidurnya saja pahala, kata ustadz di kampung sana. Seusai magrib, suara itu mengalir deras. Kadang, diselingi lawakan khas menemani sajian khas kolak plus kurma.

Dulu, dalam waktu sebelum fajar, Setelah bangun, segera kita hirup segarnya air dengan  2 rakaat shalat. Tangan terangkat,  sambil menahan kantuk dilewati dengan nikmat. Setelah itu menikmati mie rebus dengan telur putih mengkilap bak pualam.

Kita lakukan dengan canda  tawa  ditemani ‘Sahur kita’. Dulu, rasanya waktu sangat  lama berlalu, bersama-sama keluarga, melangkahkan kaki dengan sarung ke Mesjid saat gelap. Bersapa salam di tengah jalan, menggenggam erat lengan mereka. Ada makna di sana..

Berbaris rapi kita didalam Mesjid dekat rumah kita, auranya terasa. Menikmati alunan panjang ayat dibacakan, terkadang gemas karena tidak beres-beres. Pagi Saat cahaya itu mulai naik, anak-anak semakin bersemangat menendang bola.

Bapak-bapak tidur kembali, setelah sebelumnya menonton jejak sejarah rasul di masa lalu. Ibu-ibu beristirahat, di atas hamparan sajadah menyelesaikan juz demi juz tanpa terasa sudah terang saat itu.

Waktu libur itu digunakan untuk bermain. Jalan-jalan dan bermain bola sudah biasa dilakukan melulu  saat lapangan gelap pekat. Begitu ia kental terasa. Nafasnya meninggalkan jejak. Jejak yang terekam tak pudar tak pernah padam.

Anak-anak  duduk di beranda  Mesjid, menikmat udara sejuk. Membereskan  karpet, bersiap menemani ibu ke pasar. Siang mengeja ayat-demi ayat. Mempelajari artinya. Memberikan waktu untuk berdialog denganRabb-nya.

Malam mencatat ‘kultum’ sebelum witir, Seusai witir, tertib  mengantri dengan wajah memelas mengharap ‘paraf’ sang khatib agar laporannya  dipercaya oleh guru agamanya di sekolah.

Pun terik hari, terdengar panggilan khusyuk. Ketika suara itu terdengar, segera ia tinggalkan aktivitasnya. Ia segera menuju panggilan kemenangan itu. Seolah mengulang  kisah Rabi bin Khaitsaim ketika ditanya“Wahai kawanku, bukankah engkau lumpuh? Mengapa engkau ingin ke Mesjid, padahal ada udzur bagimu?”

Rabi menjawab, “ Benar, tapi apak bila ada panggilan Mari menuju kemenagan, bukankah Engkau akan mendatanginya?”

Tapi, zaman ini mungkin makna kemenangan sudah berubah. Kemenangan adalah dengan sibuk dan mendapat gelar dari orang lain bagi dirinya. Terkadang, kita lupa panggilan kemenangan itu.

Senja cerah menyiapkan ‘monopoli’, mengetuk kawan satu persatu. Terkadang bermain di suatu tempat. ‘Ngabuburit’ kata orang-orang dulu. Membeli kurma dan di taruh ke Mesjid, teringat “Barangsiapa yang mebukakan orang berpuasa, ia akan mendapat pahala dari orang itu tanpa mengurangi pahalanya

Sang anak wanita, membantu ibu memasak mie gleser di dapur. Kadang membawakan belajaan kolang-kaling di pasar. Mencari –cari buah yang murah. Menyetel lagu ‘Bimbo’ dan ‘Opick’. Atau malah iklan di TV berlomba-lomba lebih religi..

Sinetron pencari tuhan di sore hari makin laris. Malamnya, kisah – kisah tobat seseorang menjadi banyak. Media seketika berubah. Subuh dengan tafsir, malam dengan shalat khusyuk. Konser-konser menyambutnya di gelar…

Menjelang maghrib, atas nama ta’jil  setiap orang berburu di lorong-lorong kota. Nafsu melahap habis semua makanan menyeruak. Keinginan yang tak tertahan memucah dari dalam dada. Menuju mejsid-mesjid, Mengincar makan gratis ala mahsiswa.

Dulu, begitu bersemangat. Mengincar berdiri lama sebelas rakaat. Trauma cepatnya jika terlalu banyak rakaat. Malamnya, target satu juz terlampaui. Sepuluh hari terakhir makin bersemangat. Ia akan meninggalkannya.

Ia lafadzkan zakat kepada para amil di Mesjid. Tangannya sangat cepat. Tak pernah terpikir berapa uang yang ia keluarkan. Mangkok penuh kolak itu ia berikan kepada tetangganya. Keberkahannya terasa sampai di sini.

Nikmatnya berbagi sangat terasa. Terkadang sahur di jalanan bak anak muda. Silaturahim terjalin erat. Pertemuan-pertemuan menyantap ta’jil bersama-sama dia lewati. Buka ini buka itu agenda rutin menjelang akhir…

Ia semakin berlalu, menuju titik akhirnya. Setiap orang berburu malam keutamaanya. Malam – malam ganjil, kadang tanpa tidur ia lewati. Manusia-manusia itu duduk didalam mesjid dengan khusyuk.

Tidur?…Mungkin  tidak, kapan lagi akan bertemu dia yang datang menyapa hanya sebulan dalam satu tahun.

Sekarang, pilihan itu terbuka lebar. Mau sibuk di kantor, di kampus, di pasar, di mall, di Mesjid, di rumah? Mau memulai sedikit demi sedikit membuka lembar suci yang sudah lama tersimpan rapi di rak. Atau tetap membiarkannya berdebu.

Sekarang, pilihan itu terbuka lebar. Berdiri dalam keheningan malam, atau mungkin menunggu tahun depan lagi jika masih bertemu. Ia begitu cepat tiba.

Atau saat ini mungkin kita terkaget-kaget mengapa ia begitu cepat menyapa. Tidak ada persiapan berati untuk menyambutnya. Ia akan seperti halnya hari ini. Tidak ada kata terlambat kata guru-guru kita.

Aromanya sudah tercium, kita persiapkan piring, gelas, dan sendok. Tapi lupa mempersiapka isi perut kita. Ia sanggup menerimanya? Kita lupa persiapkan hati kita, ia merasa butuh? Mulai saat ini, dirinya mulai melakukan persiapan

Semoga pilihan yang baik yang kita pilih….Marhaban Ya Ramadhan..

 

//

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: