.


Saat itu di Palestina, Gaza hamil tua kata Goenawan Moehamad dalam Caping ‘Etnokrasi’. Ia terpacu terus menerus tanpa lelah, tiada jeda. Ia ingin memuntahkan sesuatu, tapi tertahan karena udzur.

Di balik intipan  tembok zionis yang mengelilinginya, para pejuang tak hentinya menggemakan Takbir.  Setiap saat riuh gemuruh, setiap orang menjemput mautnya dalam senyum. Ia harus  melaju, siang malam tiada henti.

Namun, derita Gaza harus berakhir. Tidak bisa selamanya ia hamil tua. Tapi bagaimana ia harus berakhir?

Kata para ahli bahasa, sebuah titik-lah yang mengakhiri sesuatu. Ada kalanya, koma-koma itu harus diakhiri sebuah titik, ungkapnya. Semua  yang melaju terhenti oleh sebuah titik.

Tanpa titik, kata-kata itu menjadi tidak bermakna. Ia hanya rangkaian huruf tak berarti. Akan ada masanya sampai suatu titik. Gaza, akan menjadi indah dengan sebuah titik. Tidak hanya Gaza, tetapi juga kota-kota lainnya. Ia bagaikan rangkaian kata, menebak-nebak arah kalimat. Kemanakan ia akan dibawa?

Mungkin, ia akan dibawa ke kehidupan kita. Setiap pagi, manusia berjuang, berdesakkan dalam kereta. Menahan geraman saat macet. Berangkat dini hari. Memanaskan motor dipagi hari. Menunggu angkot.

Membawa bekal  nasi uduk dan gorengan.  Semuanya adalah kisah, semuanya adalah cerita. Setiap orang berbeda-beda. Kalau di Newyork, Orang-orang  sibuk ini akan  berkumpul di  Central Park.

Central Park  telah menjadi ‘titik’. Kata Peter J.M dalam ‘Cities Full of Symbols’ ia mengatakan Jakarta became a ‘city without urbanism’. By placing monuments at significant intersections or places, ‘virtual urbanism’ was created”. Selain Central Park, ada juga di Jakarta yang kata Peter melahirkan beberapa  ‘titik’.

Tadinya Urban (baca tulisan saya berjudul ‘Kota’), hanya dengan ‘titik’, ia dapat berubah menjadi ‘became city without Urban’. Peter memberi contoh Monumen Nasional alias monas. Tidak hanya itu ‘Tjiliwung’(sungai ciliwung)  istilahnya Peter, pada tahun 65 itu menjadi sebuah  titik. Mungkin sekarang ciliwung tidak seindah dulu. Ia bukan lagi menjadi titik, tapi bisa jadi sudah kalimat tersendiri.

Bisa di bayangkan dengan titik, kalimat ‘Kucing makan tikus mati’ dapat beragam cara kita baca. ‘Kucing makan. Tikus mati’. Atau Kucing makan Tikus. Mati’. Atau ‘Kucing makan tikus mati’. Sebuah titik lah yang membuat semuanya menjadi jelas. Berhenti sejenak, melihat apakah kita sudah menapaki kalimat yang benar?

Di balik ke’soksibukan kita sehari-hari, ada kalanya, titik itu mengakhiri siklus. Berhenti sejenak, mempersiapkan kalimat-kalimat selanjutnya. Merangkai kata demi kata, huruf demi huruf, hingga menghasilkan makna. Makna dari sebuah langkah.

Kata orang bijak, berilah ruang-ruang kosong itu. Waktu-waktu kosong itu. Waktu bersama keluarga, waktu bersama masyarakat, waktu bersama kawan, waktu bersama orang-orang yang dicintai. Merangkai titik-titik di sana. Semua bermakna karena nilai sebuah titik.

Lihat saja, Central Park Newyork. Wajah-wajah sumringah dari pelbagai jenis makhluk berkumpul di sana. Teduhnya wajah pepohonan membayangi kita ketika beraktivitas di bawahnya. Nafas dedaunan menghasilkan Oksigen di tengah ‘Kepadatan 24 jam Newyork’ kata Jim Dwiyyer, because ‘We Loves 24 hours in The Life’.

Kota saja perlu diatur  menurut Richard T.T Forman. Ia menjelaskan berbagai ‘titik’ dalam sebuah kesibukan luar biasa di tengah kota. Di London, titik itu bisa dilihat di Tower Bridge, Westminster, Thames River, Slough,Windsor Castle,  Luton, Heathrow. Weston-on-the-Sea, dll.

Di Rusia  bisa dilihat di Obninsk, Moskva River,  Sergiev Posad, Stupino, Klin. Pokrov, Elektostal, Losiny Ostrov National Park, dll. Setiap tempat yang dirancang, akan menghasilkan titik-titik yang merangkai makna. Indah memang, kota – kota tersebut. Mungkin suatu saat Gaza bisa tersenyum lebar.

Tapi, ia tidak perlu menunggu nanti. Benihnya telah hadir saat ini, tinggal suatu saat panen akan mereka petik.  Dalam kisah-kisah heroiknya, ia melahirkan para pahlawan yang tersenyum saat  titik itu menjadi titik terakhirnya. Ada rasa bangga yang lahir darinya.

Dalam hari-harinya, ia merangkai kalimat indah. Malamnya, ia gunakan titik-titik itu untuk berdua dengan Tuhannya. Siangnya, ia berikan waktu untuk menafkahi keluarganya. Berjuang membela tanah airnya kata chanel Natgeo Adventure yang beberapa waktu lalu saya tonton. Semuanya menuju titik terakhir, sehingga menjadikan sebuah kisah yang indah.

Saat itu, ia sudah sadar, ceritanya akan berakhir. Semoga akhir kisahnya adalah akhir yang baik (khusnul khatimah). Rupanya ia tidak hanya sendiri. Kisah Gaza kisah kita juga. Ia di sana, tapi kita di sini. Kita sangat sadar, bahwa suatu saat kita akan sampai ke titik itu.

Titik di mana tidak ada lagi pengulangan kata. Tidak ada lagi pengulangan kalimat. Tidak ada lagi. Tidak ada lagi ejaan ulang. Tidak ada lagi merencakan kisah. Sampai saat itu tiba, kita diberi kebebasan merangkai cerita indah. Akhir dari perjalanan kita, agar kita tersenyum seperti mereka, para pahlawan.

//

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: