Archive for July, 2012

Seribu Bulan

Suara itu kian mendekat. Sayup-sayup dari kejauhan. Nafasnya terasa hingga ke sini. Desahnya mengingatkan kita akan suasana. Tapi suasana apakah itu..

Terdengar ia memanggil. Ia bak telaga ditengah sana. Masih jauh memang, tapi rasa haus kita sudah terasa. Telaga itu, memberikan kesegaran bagi siapa yang mendekatnya.  Bagi siapa yang mereguk dinginnya.

Masih ingat dalam diri ita, ingatan-ingatan masa lalu kita. Saat kita  begitu gembira menyambutnya. Kita mengikuti arus menglilingi desa dengan menambuh beduk. Saudara –saudara kita di sudut lain menyalakan obor. Saudara kita yang lain, menonton acara-acara religi di rumahnya.

Menyusuri  gang-demi gang. Berteriak manja, meneriakan takbir. Kehadirannya begitu di tunggu-tunggu. Sehari sebelumnya, menyaksikan tontonan dan pengumuman. Berjubel orang memasuki Mesjid sampai ke luar-luar, setelah sorenya ibu-ibu menaruh sajadah sebagai ‘daerah kekuasaanya’.

Tempat itu menjadi hidup kembali. Lampunya tak pernah padam. Suara paraunya menyeruak menjelang langit gelap. Subuh pun ia muncul kembali.

Pelbagai mahluk bergembira menyambutnya, kata Bimbo. Semua bercengkrama. Dulu, Ia dalah bulanyang dinanti-nanti. Ia selalu tersenyum untuk kita, namun kita belum tentu tersenyum untuknya.

Ayat demi ayat kita begitu semangat mengkajinya. Bibir basah seusai shalat dengan kalimat suci. Niat awalnya akan rutin, tapi termakan arus zaman modern juga. Tapi masih bagus, bisa basah bibir ini.

Dulu, bacaan itu begitu syahdu, waktu yang tepat untuk menikmatinya. Tidurnya saja pahala, kata ustadz di kampung sana. Seusai magrib, suara itu mengalir deras. Kadang, diselingi lawakan khas menemani sajian khas kolak plus kurma.

Dulu, dalam waktu sebelum fajar, Setelah bangun, segera kita hirup segarnya air dengan  2 rakaat shalat. Tangan terangkat,  sambil menahan kantuk dilewati dengan nikmat. Setelah itu menikmati mie rebus dengan telur putih mengkilap bak pualam.

Kita lakukan dengan canda  tawa  ditemani ‘Sahur kita’. Dulu, rasanya waktu sangat  lama berlalu, bersama-sama keluarga, melangkahkan kaki dengan sarung ke Mesjid saat gelap. Bersapa salam di tengah jalan, menggenggam erat lengan mereka. Ada makna di sana..

Berbaris rapi kita didalam Mesjid dekat rumah kita, auranya terasa. Menikmati alunan panjang ayat dibacakan, terkadang gemas karena tidak beres-beres. Pagi Saat cahaya itu mulai naik, anak-anak semakin bersemangat menendang bola.

Bapak-bapak tidur kembali, setelah sebelumnya menonton jejak sejarah rasul di masa lalu. Ibu-ibu beristirahat, di atas hamparan sajadah menyelesaikan juz demi juz tanpa terasa sudah terang saat itu.

Waktu libur itu digunakan untuk bermain. Jalan-jalan dan bermain bola sudah biasa dilakukan melulu  saat lapangan gelap pekat. Begitu ia kental terasa. Nafasnya meninggalkan jejak. Jejak yang terekam tak pudar tak pernah padam.

Anak-anak  duduk di beranda  Mesjid, menikmat udara sejuk. Membereskan  karpet, bersiap menemani ibu ke pasar. Siang mengeja ayat-demi ayat. Mempelajari artinya. Memberikan waktu untuk berdialog denganRabb-nya.

Malam mencatat ‘kultum’ sebelum witir, Seusai witir, tertib  mengantri dengan wajah memelas mengharap ‘paraf’ sang khatib agar laporannya  dipercaya oleh guru agamanya di sekolah.

Pun terik hari, terdengar panggilan khusyuk. Ketika suara itu terdengar, segera ia tinggalkan aktivitasnya. Ia segera menuju panggilan kemenangan itu. Seolah mengulang  kisah Rabi bin Khaitsaim ketika ditanya“Wahai kawanku, bukankah engkau lumpuh? Mengapa engkau ingin ke Mesjid, padahal ada udzur bagimu?”

Rabi menjawab, “ Benar, tapi apak bila ada panggilan Mari menuju kemenagan, bukankah Engkau akan mendatanginya?”

Tapi, zaman ini mungkin makna kemenangan sudah berubah. Kemenangan adalah dengan sibuk dan mendapat gelar dari orang lain bagi dirinya. Terkadang, kita lupa panggilan kemenangan itu.

Senja cerah menyiapkan ‘monopoli’, mengetuk kawan satu persatu. Terkadang bermain di suatu tempat. ‘Ngabuburit’ kata orang-orang dulu. Membeli kurma dan di taruh ke Mesjid, teringat “Barangsiapa yang mebukakan orang berpuasa, ia akan mendapat pahala dari orang itu tanpa mengurangi pahalanya

Sang anak wanita, membantu ibu memasak mie gleser di dapur. Kadang membawakan belajaan kolang-kaling di pasar. Mencari –cari buah yang murah. Menyetel lagu ‘Bimbo’ dan ‘Opick’. Atau malah iklan di TV berlomba-lomba lebih religi..

Sinetron pencari tuhan di sore hari makin laris. Malamnya, kisah – kisah tobat seseorang menjadi banyak. Media seketika berubah. Subuh dengan tafsir, malam dengan shalat khusyuk. Konser-konser menyambutnya di gelar…

Menjelang maghrib, atas nama ta’jil  setiap orang berburu di lorong-lorong kota. Nafsu melahap habis semua makanan menyeruak. Keinginan yang tak tertahan memucah dari dalam dada. Menuju mejsid-mesjid, Mengincar makan gratis ala mahsiswa.

Dulu, begitu bersemangat. Mengincar berdiri lama sebelas rakaat. Trauma cepatnya jika terlalu banyak rakaat. Malamnya, target satu juz terlampaui. Sepuluh hari terakhir makin bersemangat. Ia akan meninggalkannya.

Ia lafadzkan zakat kepada para amil di Mesjid. Tangannya sangat cepat. Tak pernah terpikir berapa uang yang ia keluarkan. Mangkok penuh kolak itu ia berikan kepada tetangganya. Keberkahannya terasa sampai di sini.

Nikmatnya berbagi sangat terasa. Terkadang sahur di jalanan bak anak muda. Silaturahim terjalin erat. Pertemuan-pertemuan menyantap ta’jil bersama-sama dia lewati. Buka ini buka itu agenda rutin menjelang akhir…

Ia semakin berlalu, menuju titik akhirnya. Setiap orang berburu malam keutamaanya. Malam – malam ganjil, kadang tanpa tidur ia lewati. Manusia-manusia itu duduk didalam mesjid dengan khusyuk.

Tidur?…Mungkin  tidak, kapan lagi akan bertemu dia yang datang menyapa hanya sebulan dalam satu tahun.

Sekarang, pilihan itu terbuka lebar. Mau sibuk di kantor, di kampus, di pasar, di mall, di Mesjid, di rumah? Mau memulai sedikit demi sedikit membuka lembar suci yang sudah lama tersimpan rapi di rak. Atau tetap membiarkannya berdebu.

Sekarang, pilihan itu terbuka lebar. Berdiri dalam keheningan malam, atau mungkin menunggu tahun depan lagi jika masih bertemu. Ia begitu cepat tiba.

Atau saat ini mungkin kita terkaget-kaget mengapa ia begitu cepat menyapa. Tidak ada persiapan berati untuk menyambutnya. Ia akan seperti halnya hari ini. Tidak ada kata terlambat kata guru-guru kita.

Aromanya sudah tercium, kita persiapkan piring, gelas, dan sendok. Tapi lupa mempersiapka isi perut kita. Ia sanggup menerimanya? Kita lupa persiapkan hati kita, ia merasa butuh? Mulai saat ini, dirinya mulai melakukan persiapan

Semoga pilihan yang baik yang kita pilih….Marhaban Ya Ramadhan..

 

//

Advertisements

.

Saat itu di Palestina, Gaza hamil tua kata Goenawan Moehamad dalam Caping ‘Etnokrasi’. Ia terpacu terus menerus tanpa lelah, tiada jeda. Ia ingin memuntahkan sesuatu, tapi tertahan karena udzur.

Di balik intipan  tembok zionis yang mengelilinginya, para pejuang tak hentinya menggemakan Takbir.  Setiap saat riuh gemuruh, setiap orang menjemput mautnya dalam senyum. Ia harus  melaju, siang malam tiada henti.

Namun, derita Gaza harus berakhir. Tidak bisa selamanya ia hamil tua. Tapi bagaimana ia harus berakhir?

Kata para ahli bahasa, sebuah titik-lah yang mengakhiri sesuatu. Ada kalanya, koma-koma itu harus diakhiri sebuah titik, ungkapnya. Semua  yang melaju terhenti oleh sebuah titik.

Tanpa titik, kata-kata itu menjadi tidak bermakna. Ia hanya rangkaian huruf tak berarti. Akan ada masanya sampai suatu titik. Gaza, akan menjadi indah dengan sebuah titik. Tidak hanya Gaza, tetapi juga kota-kota lainnya. Ia bagaikan rangkaian kata, menebak-nebak arah kalimat. Kemanakan ia akan dibawa?

Mungkin, ia akan dibawa ke kehidupan kita. Setiap pagi, manusia berjuang, berdesakkan dalam kereta. Menahan geraman saat macet. Berangkat dini hari. Memanaskan motor dipagi hari. Menunggu angkot.

Membawa bekal  nasi uduk dan gorengan.  Semuanya adalah kisah, semuanya adalah cerita. Setiap orang berbeda-beda. Kalau di Newyork, Orang-orang  sibuk ini akan  berkumpul di  Central Park.

Central Park  telah menjadi ‘titik’. Kata Peter J.M dalam ‘Cities Full of Symbols’ ia mengatakan Jakarta became a ‘city without urbanism’. By placing monuments at significant intersections or places, ‘virtual urbanism’ was created”. Selain Central Park, ada juga di Jakarta yang kata Peter melahirkan beberapa  ‘titik’.

Tadinya Urban (baca tulisan saya berjudul ‘Kota’), hanya dengan ‘titik’, ia dapat berubah menjadi ‘became city without Urban’. Peter memberi contoh Monumen Nasional alias monas. Tidak hanya itu ‘Tjiliwung’(sungai ciliwung)  istilahnya Peter, pada tahun 65 itu menjadi sebuah  titik. Mungkin sekarang ciliwung tidak seindah dulu. Ia bukan lagi menjadi titik, tapi bisa jadi sudah kalimat tersendiri.

Bisa di bayangkan dengan titik, kalimat ‘Kucing makan tikus mati’ dapat beragam cara kita baca. ‘Kucing makan. Tikus mati’. Atau Kucing makan Tikus. Mati’. Atau ‘Kucing makan tikus mati’. Sebuah titik lah yang membuat semuanya menjadi jelas. Berhenti sejenak, melihat apakah kita sudah menapaki kalimat yang benar?

Di balik ke’soksibukan kita sehari-hari, ada kalanya, titik itu mengakhiri siklus. Berhenti sejenak, mempersiapkan kalimat-kalimat selanjutnya. Merangkai kata demi kata, huruf demi huruf, hingga menghasilkan makna. Makna dari sebuah langkah.

Kata orang bijak, berilah ruang-ruang kosong itu. Waktu-waktu kosong itu. Waktu bersama keluarga, waktu bersama masyarakat, waktu bersama kawan, waktu bersama orang-orang yang dicintai. Merangkai titik-titik di sana. Semua bermakna karena nilai sebuah titik.

Lihat saja, Central Park Newyork. Wajah-wajah sumringah dari pelbagai jenis makhluk berkumpul di sana. Teduhnya wajah pepohonan membayangi kita ketika beraktivitas di bawahnya. Nafas dedaunan menghasilkan Oksigen di tengah ‘Kepadatan 24 jam Newyork’ kata Jim Dwiyyer, because ‘We Loves 24 hours in The Life’.

Kota saja perlu diatur  menurut Richard T.T Forman. Ia menjelaskan berbagai ‘titik’ dalam sebuah kesibukan luar biasa di tengah kota. Di London, titik itu bisa dilihat di Tower Bridge, Westminster, Thames River, Slough,Windsor Castle,  Luton, Heathrow. Weston-on-the-Sea, dll.

Di Rusia  bisa dilihat di Obninsk, Moskva River,  Sergiev Posad, Stupino, Klin. Pokrov, Elektostal, Losiny Ostrov National Park, dll. Setiap tempat yang dirancang, akan menghasilkan titik-titik yang merangkai makna. Indah memang, kota – kota tersebut. Mungkin suatu saat Gaza bisa tersenyum lebar.

Tapi, ia tidak perlu menunggu nanti. Benihnya telah hadir saat ini, tinggal suatu saat panen akan mereka petik.  Dalam kisah-kisah heroiknya, ia melahirkan para pahlawan yang tersenyum saat  titik itu menjadi titik terakhirnya. Ada rasa bangga yang lahir darinya.

Dalam hari-harinya, ia merangkai kalimat indah. Malamnya, ia gunakan titik-titik itu untuk berdua dengan Tuhannya. Siangnya, ia berikan waktu untuk menafkahi keluarganya. Berjuang membela tanah airnya kata chanel Natgeo Adventure yang beberapa waktu lalu saya tonton. Semuanya menuju titik terakhir, sehingga menjadikan sebuah kisah yang indah.

Saat itu, ia sudah sadar, ceritanya akan berakhir. Semoga akhir kisahnya adalah akhir yang baik (khusnul khatimah). Rupanya ia tidak hanya sendiri. Kisah Gaza kisah kita juga. Ia di sana, tapi kita di sini. Kita sangat sadar, bahwa suatu saat kita akan sampai ke titik itu.

Titik di mana tidak ada lagi pengulangan kata. Tidak ada lagi pengulangan kalimat. Tidak ada lagi. Tidak ada lagi ejaan ulang. Tidak ada lagi merencakan kisah. Sampai saat itu tiba, kita diberi kebebasan merangkai cerita indah. Akhir dari perjalanan kita, agar kita tersenyum seperti mereka, para pahlawan.

//