Dr


“Buktikan kalau pernyataan saya ini salah,” kata dosen penguji  saya  yang Ph. D (Philosphy of Doctor). Ia tidak sendiri. Di sana ada tiga orang Doktor. Saya harus membuktikan pernyataan Doktor ini salah, wah berabe juge!.

Seorang yang ingin mendapatkan gelar Ir/sarjana (s1), Master (s2), Doktor (s3) harus mempertahankan argumennya di depan para Doktor. Di depan saya itu ada seorang Dr-Ing (Jerman), Dr-Eng (Jepang), dan Ph. D (Amerika,dll). Lengkap sudah saya dihabisi dalam kotak 6x6m itu.

Bukan kebetulan, saya mengambil tema ‘Islamic Architecture’ dan dibimbing oleh seorang Doktor yang bergerak di sana. Memang, banyak sekali manfaat yang di dapat dari sidang itu. Saya pikir, para Doktor itu dulunya seperti kebanyakan kita. Dengan kesungguhannya, mereka menjadi seperti sekarang ini. Mengajar kami-kami, sebab dasarnya, Doctoren terjemahan latinnya artinya dia adalah ‘guru’.

“Sudah lulus mau ngapain?” Tanya saya kepada teman saya selepas disidang oleh para Doktor itu. “Saya mau lanjut S2,” ungkapnya. Lalu habis S2 mau ngapain? Bisa jadi orang-orang itu akan melanjutkan ke S3. Lalu, habis S3 mau ngapain?

Mentok, kata para akademisi. Karena, Doktor itu adalah “A person who has earned the highest academic degree awarded by a college or university in a specified discipline”. Secara akademik sudah selesai.  Bang wiki bilang “Gelar akademik tingkat tertinggi yang diberikan kepada lulusan program pendidikan doktor (S-3)”. Secara harfiah ia akan menjadi Doktor alias guru, alias ‘dosen’.

Tapi, kenyataanya tidak mentok. Presiden Indonesia adalah seorang Doktor. Obama merupakan seorang Doktor di Harvard University. Belum lagi Presiden Mesir terbaru, ia adalah seorang Doktor.

Karenanya,  dosen saya yang lain, Ir. Budi Faisal, MAUD, MLA, Ph. D menyarankan saya ,”Kamu lanjut saja kuliah bidang yang kamu suka di Luar S2 – S3”. Diam-diam ternyata ia pun punya keinginan nambah  Post-Doc nya di bidang yang sama.

“Sejatinya, pendidikan formal seseorang tidak berhenti pada pendidakan S3,” kata  Prof. Dr. Mustafa Ali Yaqub waktu saya kunjungan ke rumahnya, Ciputat.  Makanya bisa jadi orang bisa ‘kecanduan’ studi.

Dua hari lalu (24/6/2012), saya ngobrol sambil menikmati indahnya sawah yang menghampar  dengan  Dr. Syamsudin Arief, Ph. D, sudah Doktor, Ph. D pula.  Jerman dan Malaysia.

Saya berkesimpulan  kalau ada waktu, beliau akan kuliah lagi. Total bisa 3 gelar Doktor ia sabet. Tapi ia bilang, “Murid Doktor saya banyak” Ternyata sesusai fitrah istilah dan makna bahwa Doctor itu adalah  ‘guru’.

Kalau kita lacak akarnya pada abad 19, memang aslinya  Doktor itu adalah guru!.  Universitas Friedrich Wilhelm mulai memberi sebutan Doctor bagi yang akan mengajar di sana.  Kemudian tahun 1861 merambat ke Yale University, dan lanjut ke UK (1921), dan akhirnya menyebar ke seluruh dunia. Ph. D adalah sebutan resmi bagi yang akan menjadi guru.

Memang  para Doktor ini memang sakti. Karena murid-muridnya juga Doktor. Saya terinspirasi kegigihan menuntut ilmu dari mereka.  Inilah makna Doktor yang sesungguhnya, ia adalah guru. Seorang pendidik. Yang akan menyalurkan ilmunya ke pada anak didiknya.

Tapi, masih terdengar selentingan dari masyarakat, Ia hanya menjadi gelar akademik (title). Kata Max Waber status sosial sudah berubah. Yang tadinya dari i Raden Kanjeng Mas (warisan gelar)  menjadi sebutan –sebutan (akademik) seperti ; ST, SE, S.Pd, S.Si, S.Ds, MA, MBA, M. Arch, Dr, D.B, Ph. D, dsb.

Ada saja orang-orang yang berkata “Yang penting bisa merakih gelar dengan cara apapun,”. Dibukalah jasa-jasa pembuatan ijazah ilegal. Belum lagi penyedia gelar sarjana, Master, Doktor menjamur. Semua berlomba –lomba menghasilkan lulusannya. Karena memang teori modern begitu. Kalau semakin dapat gelar semakin baik.

“Lulus sini gampang nyari kerja” kata iklannya. Kalau kerja untuk apa?  Untuk makan dan hidup.  Makan dan hidup untuk  apa? Untuk kerja. Begitu seterusnya. Dipampang  syarat masuk perusahaan adalah S1. Jutaan orang ngantri untuk masuk sana –  masuk sini. Sudah dapet kerja, berhenti ‘belajar’.

Ada sebuah kisah menarik, seorang ibu yang terkena stroke, dalam rumah baringannya di rumah sakit beliau tetap menyelesaikan tesisnya. Juga saat di rumah. Akhirnya beliau di uji oleh Doktor-doktor itu dan lulus. Keinginan belajar sejatinya memang harus terus terpatri dalam setiap orang.

Bukan gelar Doktornya, tapi keinginan untuk mengabdikan dirinya. Makanya, ada orang2 yang layak di kasih gelar Doktor (Honoris Causa) karena kegigihannya sebagai ‘guru’ bagi orang lain.

Sebut saja DR. Ciputra. Alumni Arsitektur iTB ini. Saya pernah di undang ke Jakarta dan ngobrol santai bareng beliau. Di Usia ke 80, beliau masih saja semangat menjadi ‘doctoren’ membagikan ilmu-ilmunya kepada yang lain.

Di desa-desa itu ternyata banyak para ‘Doktor’ yang tiap selesai magrib mengeja dengan ‘lidi’ kepada anak-anak tetangganya. Siang harinya, ia mengisi di simpang lampu merah. Di pelosok-pelosok sana, para ‘doktor’ bangun dini hari, mengayuh sepeda jauh-jauh menemui sekolah yang muridnya hanya beberapa saja, tanpa digaji.

Ini yang disebut oleh Dr. Nirwan Syafrin, pakar pendidikan, bahwa apa sebenarnya tujuan kita menuntut ilmu? Apakah karena keikhlasan yang menjadikan ia bergairah setiap saat untuk belajar. Atau hanya title dan kerja yang menjadikannya sebuah  tragedy. Sebab gelar yang disebut orang nanti hanya satu, yaitu  ‘Alm’.

Makna Doktor sangatlah mendalam. Ia adalah guru. Orang-orang besar dilahirkan dari rahim para  ‘Doktor’. Universitas dilahirkan oleh para ‘Doktor’. Peradaban dibentuk oleh ‘doktor.’ Itulah mengapa ada pendidikan.

Oleh karena itu, pepatah itu memang benar “Belajar setinggi-tingginya.” Maksudnya jadilah ‘Doktor’. ‘Ilmu yang bermanfaat’ tentunya kelebihan para ‘Doktor’. Tapi jika hanya mengejar gelar, maka cukup mudah caranya. Suatu saat mungkin saya akan namakan anak saya ‘Prof. Dr. Fulan, Ph. D.

  1. Reblogged this on ARief's.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: