Migran


Saat itu Victoria Park sangat sesak, seolah-olah napasnya tersenggal-senggal. Puluhan ribu orang yang asli Indonesia itu memenuhinya. Mereka hanya sebagian dari 150.000 orang yang ada di sana. Orang-orang di sini menyebutnya TKI (Tenaga Kerja Indonesia). Plaza terbesar di Hongkong itu  pada hari ahad merupakan pusat orang-orang asal Indonesia  beraktivitas, bercengkrama, melepas penat.

Tapi istilah TKI itu kurang pas! “Migran” kata Dosen saya itu saat kuliah Arsitektur Kota.  Migran adalah sebuah permasalahan pada kota-kota besar. Maksudnya adalah person who ‘migrasi’. Orang-orang yang tinggal menetap pada suatu wilayah padahal ia bukan warga asli situ.

Dari latin migr ns, ia menjadi Habitually moving from place to place”. Webster menyebutnya ‘person who moved’. Bergerak dari satu tempat dan tempat lain.  Ini sudah menjadi kegiatan setiap manusia.

’Move step by step’ istilah para trainer dan motivator. Kenapa bergerak? Seorang Kyayi asli Betawi itu  bilang, “air yang tak bergerak ia akan keruh.” Kalau kita lihat dalam sejarah, migran selalu menjadi Tokoh Utama dalam sejarah.

Arnold Toynbee, pakar sejarah dan peradaban dunia membuat belasan jilid buku yang berjudul ‘A Study of History’. Ia menjelaskan perjalanan migrants, mulai dari Mesir Kuno hingga abad Modern (abad 18).

Migrasi besar-besaran di dunia ini pernah terjadi. “American now, its not origin people in America,”geramnya. Orang –orang Amerika saat ini, nenek moyangnya adalah migran.

‘Migran itu kemestian’ ungkapnya. Bahkan Walter C Kaiser menjelaskan, dalam bible ada kemestian para nabi menjadi migran. Abraham buktinya. Ia di perintahkan pergi. Belum perintah pergi memerangi bangsa Amalek. Yesus pun tidak luput menjadi seorang migran.

Kisah Perjalanan spiritual Budha dan hijrahnya Muhammad SAW menjadi sejarah yang membekas tinta sejarah dunia. Oleh karena itu, John L Esposito, orang Oxford itu bilang, “Migrasi merupakan pangkal perubahan”.

Kalau di Tanya, apa budaya asli penduduk asal Eropa, Amerika, Asia ? Sekarang sudah sulit kita temukan budaya asli penduduk asalnya, karena ian telah berubah.

Jilli Traganou dan Miotrag Mitrasinovic dalam ‘Travel, Space, Architecture’ mengatakan “Migrant change themeselves in the relation to the newland”. Ia dapat mengganti identitas awal! Nggak heran, migran membawa budaya baru. Atau malah para migran yang terorigin-kan.

Bangsa yang tadinya jahiliyah bisa berubah jadi beradab. Bangsa bodoh menjadi pintar. Bangsa hemat menjadi boros. Bangsa ‘Ndeso’ jadi ‘Modern’.

Semua berubah. Jilli menambahkan “Mygrant are also ideal agent for culture hybridization.”. Ungkapannya mungkin benar, sebab tidak hanya fisik yang berubah, tetapi pemikiran pun bisa berubah.

Saat di Victoria Park, tidak usah heran melihat pasangan asal Indonesia yang ngikut penduduk asal Hongkong, menjadi Lesbi. Positifnya, para migran asal Indonesia di sana menjadi sering membaca. Tabloid ‘Srikandi’, merupakan oleh –oleh asli karangan para TKI (migran)  yang dibagikan kepada kami. Tabloid kami, Alhikmah 100 buah itu langsung ludes diborong para migran di Victoria Park.

Budaya saling bersilangan! Yang kuat mengalahkan yang lemah. Tapi, istilah migran saat ini sudah berubah. Istilah Webster belum selesai pada ‘person who moving’ , ia berlanjut ‘regularly in order to find work especially in harvesting crops’. Ia harus bekerja, mengumpulkan uang siang dan malam. “Especially in search of seasonal work”.

Untuk apa nyari uang sampai harus migran? “Memperbaiki keadaan dan untuk bekal pulang di kampung,” ungkap salah satu migran jujur. Saya rasa ia tidak sendiri.

Dulu, kolega saya yang  pernah kerja di Hongkong. Ia bilang “Buat bekal keluarga di kampung”. Kalau kata teman saya yang lain di Okayama “Buat orang tua dan modal nikah di Indonesia.” Bagaimanapun juga, ia tetap ingat tujuan utama , ia adalah migran.

Tetap, kampung  menjadi prioritas utama.  Betatapun lama ia tinggal di sana, orang Indonesia di Jepang pasti kumpul-kumpul  di Yoyogi park, Tokyo. Di Amerika, sambil makan, orang-orang Indonesia kumpul di  ‘Mie Ayam jakarta’ New York, orang –orang Indonesia di Hongkong, yang rindu kampung halaman, kumpul di Victoria park sepekan sekali.

Alkisah, seorang migran bekerja, mencari uang, mendapatkan banyak uang.TapI, ia hanya hidup sendiri. Ia pupuk semua kesuksesan, namun orang yang dicintainya dikapungnya ia lupakan.

Suatu saat ia teringat anak istrinya di kampung. Ia teringat keluarganya. Ia teringat sesuatu yang dicintainya. Akhirnya ia bertemu dengan orang-orang yang rindu kampung halamannya. Obrolannya seputar kerinduan kepada kampung halaman.

Air matanya tiba – tiba membasahi pipinya.  Selama  ini Ia hanya migran, yang tidak akan tinggal selama-lamanya. Senang sekali ketika ia berkumpul bersama dengan para orang yang berasal dari kampung halamannya.

Sejak saat itu, uangnya ia persiapkan untuk bekal kembali. Ilmunya ia gunakan untuk menuju kampungnya. Hidupnya menjadi bermakna. Sesuatu di kampungya sudah menunggunya.

Kini, Kampung yang  telah lama dilupakan mulai jelas dalam memorinya.  Perjalanannya masih panjang. Semoga bekalnya  cukup untuk perjalan pulang. Ia tidak tahu seperti apa kelak di sana, yang penting ia persiapkan sebaik-baiknya bekal. Ya…Kampung Akhirat.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: