Kesederhanaan Pemilik Bilik – Bilik yang Mulia


Di sampaikan oleh ustdz Ibnu Hasan At Thabari

Rumah Nabi kita yang mulia Muhammad shallallahu alaihi wa sallam jauh sama sekali dari kesan megah atau mewah, padahal beliau adalah kekasih Allah, manusia yang paling mulia disisiNya.

Jangan tanya bagaimana makananya, beliau makan seadanya, kamar atau lebih tepatnya bilik, pakaian dan alas tidurnya sangat sederhana kalau tidak ingin kita menyebutkan sangat menyedihkan. Bilik tempat tinggal istri-istri beliau berdiri dipinggiran masjid, semua berjumlah sembilan, empat diantaranya berfondasi batu bata dan selebihnya dari batu gunung, atap yang paling bawah terbuat dari pelepah kurma dan bisa dijangkau dengan tangan orang yang berdiri dibawahnya, bayangkan begitu rendahnya.

Hasan Al-Bashri ulamanya generasi tabi`in anak dari seorang budak milik ummul mu`minin ummu salamah radhiyallahu anha berkata :” tanganku dapat menyentuk atap bilik Nabi shallallahu alaihi wa sallam”

Setiap bilik terbuat dari rakitan kayu yang diikat, beralaskan tanah tanpa di ubin apalagi dipasangi marmer, alas tidurnya adalah tikar kasar yang sempit atau kecil. Dengarlah penuturan salah seorang istri beliau sayyidah Aisyah radhiyallau anha :” aku tidur didepan Rasulullah dengan dua kaki menjulur diarah kiblatnya, bila beliau mau sujud, beliau menyentuhku lalu ku tekuk kakiku, bila beliau berdiri aku lonjorkan lagi kakiku.

Saat itu rumah belum berlampu, pintu rumahpun tidak ada belnya hanya bisa diketuk dengan tangan.

Rasulullah tidak membangun bilik istri-istrinya kecuali setelah membangun masjid, awalnya dua bilik untuk sayyidah Saudah dan satu lagi untuk sayyidah Aisyah radhiyallahu anhuma.

Di bilik-bilik inilah istri-istri Nabi yang mulia bertempat tinggal, jauh dari berbagai bentuk aksesoris kemewahan, di bilik ini pula wahyu Allah turun kepada Nabi, di bilik-bilik ini juga beliau menghabiskan malam-malamnya dengan beribadah kepada Allah, inilah bilik-bilik yang sangat-sangat sederhana tapi mulia disisi Allah karenanya Allah menjadikan bilik-bilik ini menjadi nama salah satu surah didalam kitab suciNya yang abadi yaitu surah al-hujuraat.

Bila merasa lelah, Nabi yang sederhana ini merebahkan diri diatas tikar yang terbuat dari daun kurma, tikar kasar yang menorehkan bekas di lambungnya yang mulia, begitu teriris perasaan para sahabat yang masuk ke bilik beliau dan melihat bekas torehan tikar kerasa ditubuh manusi paling agung ini.

Suatu kali sahabat yang mulia Abdullah ibn Mas`ud radhiyallahu anhu masuk ke bilik Nabi, melihat kondisi beliau, bersedih Ibnu Mas`ud seraya berkata :” Ya Rasulallah, bagaimana jika aku buatkan sesuatu untuk alas tidurmu agar tubuhmu terlindur dari goresan tikar kasar itu?”

Putra Abdullah yang mulia ini menjawab :” dunia tak ada apa-apanya bagiku, aku dan dunia laksana seorang musafir yang berteduh dibawah pohon yang sebentar lagi akan berlalu dari pohon tersebut”.

Pernah sahabat yang mulia Umar ibnul khattab radhiyallahu anhu membandingkan kehidupan yang sangat bersahaja Rasulullah dikediamannya yang sempit dengan kehidupan hewan peliharaan tetangganya yang termasuk aparat negara di zamannya. Umar sedih melihat kandang hewan hewan itu dibangun begitu megah.

Suatu hari seorang wanita anshariyah berkunjung ke bilik Aisyah, begitu pandangannya jatuh ke alas tidur Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang keras, ia merasa iba, segera pulang dan mengirimkan alas tidur wol tapi setelah terlihat oleh Nabi, beliau menganggapnya sangat mewah dan menyuruh Aisyah untuk mengembalikannya kepada pemilinya sembari bersabda :” kembalikan itu, Demi Allah jika aku mau Allah pasti memberiku bergunung emas dan perak”.

Secara lahiriyah kehidupan dibalik bilik-bilik itu terlihat begitu keras kalau tidak ingin disebut kefakiran, ini wajar karena Rasul dan Nabi yang mulia ini tidak menyukai kekayaan, doa yang sering beliau panjatkan kepada Rabbnya adalah ucapan :” Ya Allah jadikanlah rizki keluarga Muhammad sekadar mencukupi kebutuhan”.

Suatu hari Nabi shallallahu alaihi wa sallam menatap gunung uhud, lalu beliau bersabda :” andai gunung uhud ini menjadi emas untuk untuk keluarga Muhammad, pasti akan aku infakkan di jalan Allah sampai tersisa dua dinar untuk jaga-jaga kalau aku punya hutang”.

Sebagai pemimpin ummat Nabi kita yang mulia ini tidak pernah merasa tenang selama diri beliau menyaksikan kaum muslimin hidup susah, tak mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari dan harus mati-matian bertahan hidup karena itu jika beliau memperoleh kelebihan rizki banyak atau sedikit, beliau segera membagikannya, sementara beliau sendiri kelaparan.

Apa yang dimakan oleh penghuni bilik ini adalah makanan kasar, boleh dikatakan tak pernah mencicipi makanan enak karena memang tidak ada. Dengar kesaksian Aisyah :” demi Zat yang mengutus Muhammad dengan haq, belum pernah Rasulullah melihat ayakan, mencicipi roti yang di ayak sejak beliau diutus sampai meninggal dunia”

Sahabat yang mulia Nu`man ibn Basyir radhiyallahu anhu berkata :” demi Allah pernah aku saksikan Nabi kalian tak mendapatkan sebutir kurma yang paling jelek sekalipun untuk mengganjal perutnya yang lapar” [HR Muslim]

Bahkan sampai tiga kali hilal lewat diatas bilik mereka belum terlihat ada asap mengepul dari dapur mereka [bukhari muslim]

Diwaktu yang lain Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata dari atas mimbar :” setiap sore, tidak ada satu sha` makanan dalam keluarga Muhammad untuk kesembilan biliknya”

Tentu Nabi berkata demikian bukan bermaksud mengecilkan pemberian Allah tapi agar umatnya meneladani beliau dalam kesederhanaan dan bersifat qanaah

Sahabat yang mulia Abdullah ibn Abbas radhiyallahu anhuma berkata :” selama beberapa malam berturut-turut Rasulullah tudur dalam kondisi kelaparan, begitupun dengan keluarga beliau, mereka tidak memiliki makan malam, roti yang paling sering mereka makan adalah roti kasar”.

Pernah satu saat putri beliau sayyidah Fathimah radhiyallahu anha datang membawa sekerat roti.

Nabi bertanya :” apa ini hai anakku?”

“ini sekerat roti yang ku buat sendiri ayah, tak puas rasanya jika aku tidak berbagi dengan ayah”. Jawab anak beliau yang disebut dengan ummu abiiha ini.

“oh ya? Bawalah kemari wahai anakku, ketahuilah inilah makanan pertama yang masuk ke perut ayahmu sejak tiga hari ini”

[menetes air mata, Allahumma Shalli wa Sallim wa Baarik alaihi wa `alaa aalihi wa Shahaabatih]

Tak pernah keluarga beliau meminim susu kecuali bila diberi oleh tetangganya, biasanya keluarga yang mulia ini mencukupkan diri mereka dengan mamakan kurma karena tidak ada makanan selain itu, itupun mereka perleh dengan susah bahkan jika kurma didapat mereka meniru Nabi, memberikan kepada orang lain yang kelaparan.

Pernah seorang wanita miskin berkunjung ke bilik Aisyah bersama anaknya yang masih kecil, tidak ada apapun yang dapat diberikan oleh bunda Aisyah selain sebutir kurma, begitu kurma diberikan, wanita itu lalu membelahnya menjadi dua bagian, sebelah untuk anaknya sebelah lagi untuk dirinya.. subhanallah

Ketika lapar, Nabi bertanya kepada istrinya, apa yang mereka punya. Pernah beliau meminta kuwah, tapi istri beliau menjawab : ga ada, yang ada Cuma cuka”. Beliau memintanya dan dan mencelupka irisan roti kasar kedalamnya seraya berkata :” kuwah ternikmat adalah cuka, kuwah ternikat adalah cuka”. [muslim]

Allah menawarkan kepada Nabi kekayaan atau kecukupan, beliau memilih lapar disertai kenyang, seraya berkata : “ saat aku lapar aku meminta kepadaMu jika aku kenyang aku bersyukur kepadaMu”

Suatu hari pernah Rasulullah didera lapar yang sangat, beliau terpaksa keluar rumah untuk mencari makanan, di jalan beliau berjumpa dengan dua sahabatnya Abu Bakar dan Umar yang juga kelaparan, padahal inilah tiga manusia terbaik di muka bumi. Bertiga mereka datang ke rumah salah seorang sahabat anshar, mereka pun disambut dengan menyembelih seekor kambing. Usai menyantap hidangan Rasulullah bersabda :” sungguh kita akan ditanya atas nikmat ini kelak di hari kiamat”

Sahabat yang mulia Anas ibn Malik yang pernah menjadi pelayan Rasulullah selama 10 tahun berkata :” tak penah sekalipun ku lihat Nabi makan diatas piring, tak ada roti empuk, tak ada daging sampai beliau menghadap Rabbnya, beliau juga tidak pernah makan diatas meja makan”. [bukhari]

Masih banyak riwayat yang melukiskan kepada kita kehidupan di balik bilik yang mulia ini, pola hidup seperti ini terus berlangsung hingga hari terakhir kehidupan beliau, padahal seluruh pintu-pintu dunia dibuka oleh Allah untuk beliau dan harta yang datang kepada beliau melimpah ruah, jangankan mengubah gaya hidup layaknya sebagai pemimpin atau penguasa, mengubah rumahpun yang bilik itu tidak beliau lakukan. Setelah fathu makkah, Rasulullah tetap dengan gaya hidup apa adanya, Ummu Hani, putri Abu Thalib ketika mengunjungi Nabi menyaksikan dengan mata kepala sendiri, beliau mandi sementara putri beliau Fathimah menabiri beliau dengan selembar kain, padahal saat itu beliau berada di puncak karisma dan kekuasaan sempurna.

Rasulullah teladan kita, Rasulullah junjungan kita
Rasulullah uswah manusia, paling bahagia hidupnya

Allahumma shalli wa sallim wa baarik alaihi wa alaa aalihi wa shahbihi ajma`in

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: