Keluarga Penuh Berkah


Oleh: Ibnu Hasan At thabari

Suatu hari sahabat Ali ibn Abi Thalib, menantu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berkata kepada istrinya Fathimah putri Rasulullah : “adakah makanan yang bisa aku santap wahai Fathimah?”

” tidak ada, Demi Dzat yang memuliakan ayahku dengan keNabi-an, aku berpagi hari dalam kondisi tidak memiliki makanan antukmu, kami juga belum makan, sudah dua hari ini tidak ada makanan yang aku bisa berikan padamu, juga kepada perutku dan kedua anak kita ini”. Sahut Fathimah

“wahai istriku, tidakkah engkau menyuruhku untuk mencari makanan?”. Tanya Ali

“aku malu kepada Allah untuk meminta sesuatu yang engkau tidak bisa melakukannya,” jawab Fathimah.

Sejenak kemudian, Ali keluar dari rumahnya, dengan penuh keyakinan kepada Allah dan husnuzhon kepada-Nya, meminjam sekedar satu dinar uang.

Ketika dinar telah ada di tangan, dan ia bermaksud untuk membeli sesuatu yang dapat meringankan beban keluarganya, tiba-tiba terlihat Miqdad, ia berjalan atas pasir yang membara dibawah terik matahari yang membakar, tatkala Ali melihatnya, ia menghindar.

“hai Miqdad, apa yang menggelisahkanmu saat ini?” tanya Ali

“hai Abul Hasan, jangan ganggu aku, jangan bertanya apapun padaku”.

“wahai keponakanku, tidak boleh engkau menyembunyikan keadaanmu padaku”. Kata Ali

Miqdad berkata :” jika engkau memaksa, demi Dzat yang memuliakan Muhammad dengan keNabian, tidak ada yang menggelisahkanku selain beban yang berat, aku meninggalkan keluargaku dalam keadaan kelaparan, ketika aku mendengar tangis mereka bumipun tak kuat memikulku, aku pun pergi dengan kehilangan mukaku, inilah kondisiku”.

Saat itu juga kedua mata Ali ibn Abi Thalib mengucurkan air mata, ia menangis hingga air mata membasahi jenggotnya, ia berkata :” Demi Dzat yang engkau bersumpah denganNya, tidaklah menggelisahkanku selain sesuatu yang menggelisahkanmu, aku telah meminjam uang satu dinar, ambillah ini, aku dahulukan engkau atas diriku”

Dinar kini telah berpindah tangan, lalu Ali-pun pulang, ia datang ke masjid Rasulullah untuk shalat zuhur, ashar lalu maghrib. Ketika usai shalat maghrib, beliau menghampiri Ali di shaf pertama, Rasulullah memberi isyarat Ali-pun mengikuti langkah beliau, ketika sampai di pintu masjid, Rasulullah bertanya :” hai Abul Hasan, apakah kamu punya makanan untuk kita makan malam?”.

Ali tersentak kaget, ia tidak bisa memberi jawaban karena malu kepada Rasulullah. Sejurus kemudian Rasullah berkata :” jika kamu berkata tidak, aku akan pergi tapi jika iya aku akan datang bersamamu”.

” Ya, Rasulallah, silakan datang ke rumahku, mari..” kata Ali

Maka Rasulullah yang mulia itu menggandeng tangan menantunya Ali ibn Abi Thalib hingga masuk menemui Fathimah di mushalla-nya, sedang dibelakangnya terlihat sebuah mangkok besar yang berasap. Ketika Fathimah mendengar suara ayahnya Rasulullah, iapun keluar menyongsongnya seraya memberi salam. Fathimah adalah orang yang paling sayang kepada Rasulullah, beliau menjawab salam putrinya lalu mengusap kepalanya dengan tangan beliau yang mulia.

“bagaimana malam ini?, siapkah kita makan malam, semoga Allah mengampunimu, dan Dia telah melakukannya”. Sabda Rasulullah

Maka Fathimah mengambil mangkok besar itu lalu diletakkan dihadapan ayahnya yang mulia. Ketika Ali melihatnya dan mencium aroma masakan yang lezat, ia melemparkan pandangannya kepada Fathimah dengan pandangan keheranan.

“alangkan tajamnya pandanganmu, Subhanallah.. apakah aku berbuat kesalahan padamu hingga membuatmu demikan marah?” tanya Fathimah tak kalah heran

“apakah ada dosa yang lebih besar yang kau perbuat selain dosamu hari ini? Bukankan aku menjumpaimu tadi pagi dan engkau bersumpah demi Allah bahwa engkau tidak punya makanan dan belum menyantapnya selama dua hari?”. Sahut Ali

Fathimah menengadahkan wajahnya ke arah langit sambil berkata :” Tuhan-ku Maha Tahu apa yang ada di langitNya dan apa yang ada di bumiNya, aku tidak berkata kecuali hal yang benar”.

“Lalu dari mana makanan ini, makanan yang belum pernah aku melihatnya, tidak pernah mencium aromanya dan tak pernah memakannya sebelum ini”. Tanya Ali

Ketika itu Rasulullah meletakkan tangan beliau yang penuh berkah itu di pundak Ali sembari menguncang-guncangkannya seraya berkata :” Ya Ali, inilah pahala dinar-mu, inilah balasan dinar-mu, ini dari sisi Allah yang memberi rizki kepada siapa yang Ia kehendaki”.

Sambil menangis Rasulullah yang mulia berkata :” segala puji bagi Allah yang telah mengeluarkan kalian berdua dari dunia, hai Ali engkau laksana Zakariya as dan engkau Fathimah laksana Maryam. Rasulullah membacakan ayat alqur`an :

كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ [آل عمران/37]

Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.

  1. maasyaa Allaah… *terharu*

  2. Kereeeeenn… jauh sekali bgt,, mnuju ke sana ^^

    • mau tau aja
    • June 26th, 2012

    hmm…

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: