Pendidikan


Oleh: M Rizki Utama

Alkisah, ada suatu teriakan yang menggemparkan, “Agama ya agama, organisasi ya organisasi”. Di sisi lain, “Sorry sir, this is education, not religion”. Jadi, pendidikan ga usah bawa-bawa agama. “Cukup di mesjid saja” katanya. Tapi lucu, dirinya sendiri nggak mau ke mesjid.

Inilah wajah para penyingkir agama tapi ngaku beragama. Why? Ternyata, kata Professor Hans Joachim Sander, Guru Besar systematic theology Universitas Salzburg, memang niatnya menindas agama, menyingkirkan agama. Nama alatnya sekulerisme, pluralisme, demokratisasi, dll.

Agama menjadi sesuatu yang harus dijauhi. “Haram” hukumnya beragama. Cukup disimpan di hati saja, ujarnya. Kok bisa seperti ini? Kata Dr. Hamid Fahmy, M. Phil, karena worldviewnya sekuler. Jadi, ungkapan dilarang bawa –bawa agama sendiri tidak objektif, karena alam pikirannya sudah ngikut Barat. Trauma akan agama ada di Barat. Memang, di Barat, agama bermasalah. (bisa lihat tulisan Tuhan, agama, dan manusia; Sekuler; Liberal). Karena Tuhannya juga bisa jadi bermasalah. Makanya, moralitas di Barat bermasalah juga. Semua ditentukan manusia, kata Feurbarch, Nietszhe, Hegel,dkk.

Objek Tuhan dipindah ke manusia. Thomas Lickona seorang pendidik karakter dari Cortland University, dikenal sebagai Bapak Pendidikan Karakter Amerika bilang, seharusnya moralitas menjadi penting untuk pendidkan, tapi nyatanya Amerika menjadi negara dengan tingkat seks bebas tertinggi, perampokan, kriminal. Ya, barat memang maju, tapi tanpa Agama. Makanya, Edward Said, dalam bukunya yang legendaris, Orientalisme, bilang “Timur adalah masyarakat dan bahkan spirit yang menakutkan Barat”.

Namun, kata Capra dalam bukunya The Turning Point, kebangkitan sains di Barat juga telah menggantikan jiwa manusia dengan akal pikirannya. Tubuh manusia dianggap tak lebih dari sebuah mesin yang sempurna diatur, dan bekerja dengan prinsip-prinsip hukum matematika. Makanya ada ilmu psikologi. Problematika dunia Barat bukan sekedar problem intelektual, melainkan lebih pada krisis emosional, atau lebih tepatnya krisis eksistensial. Ketika sains menjadi menjadi agama baru, maka timbullah spiritual phatology, krisis makna, dan masalah kejiwaan lainnya. Agama Kristen telah lama ditinggalkan oleh pengikutnya, sehingga Barat sangat bergantung kepada psikologi untuk memahami manusia dengan segala problematikanya.

Mengutip peneliti INSIST, Dinar Dewi Kania, bahwa akhirnya psikologi berangsur-angsur mengadopsi filsafat materialisme dengan munculnya pemikiran Decartes, dan positivisme dari tradisi sains Cartesian-Newtonian yang mengubah secara radikal pokok kajian dan metode psikologi. Kemudian lahirlah aliran psikologi seperti behaviourisme dalam tradisi Watson dan Skinner, dan psikoanalisis yang berasal dari Freud. Sehingga pada awal abad ke 20, buku-buku teks psikologi telah kehilangan semua referensi tentang kesadaran emosi, dan kehendak (Graham, 2005 : 34).

Fenomena di atas tidaklah mengherankan, karena Barat memang memiliki kerancuan dalam mengkonsepsikan spiritualitas dan agama. Itu disebabkan pemikiran mereka yang dualistik, yaitu memisahkan antara dunia material dan spiritual. Sebagian besar ahli psikologi Barat memandang spiritualitas bersifat personal dan berada di ranah psikologis, sedangkan agama bersifat institusional dan berada di ranah sosiologis. Beberapa menyatakan bahwa agama diasosiasikan dengan konservatif (conservatism) dan spiritualitas dikaitkan dengan keterbukaan untuk berubah (openes to change) (Hood, 2009 : 9-10).

Makanya, semakin sekuler semakin rendah spiritualitasnya, kata Prof. David Thomas. Nampaknya Sir Mohammad Iqbal mengajarkan hal ini pada Barat. Karenanya, sekarang training spiritual menjamur di Barat. Pendidikan mulai mengarah ke arah spirituality. Kata Graham “Sebuah intitusi pendidikan di Amerika, yaitu Institut Esalen di Big Sur, California, pada awal pendiriannya di tahun 1966, mengundang eksponen dari berbagai disiplin ilmu yang berasal dari Kebudayaan Timur dan Barat, termasuk Yoga, meditasi, pengubah kondisi kesadaran, seni bela diri, tarian, pemuka agama, filsuf, artis, ilmuwan, dan psikolog untuk bertukar pandangan dalam seminar dan workshop serta program-program lainnya dalam rangka mewujudkan tujuan Institusi ini sebagai pusat pendidikan yang mencakup dimensi spiritual dan intelektual” (Dinar Dewi Kania, Pendidikan Spiritual-INSIST)

Pendidikan mulai diarahkan ke sana. Barat mungkin telat. Tapi nyatanya aneh, bau-bau “Jangan bawa-bawa agama mau diimpor ke Timur yang sejak awal diakui Barat memang memiliki spiritualitas. Karenanya, Iqbal menulis pesan untuk Barat berjudul Payam-i-masyriq (Pesan dari Timur). Pesan ini sebagai jawaban terhadap Goethe (1749-1832) yang bingung, mengapa Barat menjadi sangat materialistis. Ia berharap Timur dapat membawa nilai-nilai spiritual. Kata Iqbal “Moralitas dan agama itu penting , Bung! “ Katanya dalam Bang-i-Dara . “Peradaban yang hanya berdasarkan kapitalisme tidak akan berumur panjang”. Itu kurang asas moralnya, alias lack of wisdom.

Nggak puas, Iqbal menasihati Marx “Orang Barat kehilangan visi tentang surga, mereka berburu spirit dari Perut!” (Javid Namah). Setelah Marx, giliran Nietzsche (1884-1909). Ketika pikirannya buntu, ia menangis “whe is a man”. Sayangnya kata Dr. Hamid Fahmy Zakarsyi, M. Ed. M. Phil, mencari guru spiritual di Barat adalah sia-sia. Iqbal pun geregetan, ungkapnya “Kalau orang Barat itu (maksudnya Nietzsche) masih hidup hari ini, tentu akan kujelaskan tingkat kesadaran Ketunanan ini”.

Lebih lucu lagi di sini, orang berteriak, jangan bawa-bawa agama. Pendidikan yang baik harus sekuler! Padahal sekuler yang dari Barat sendiri mulai ditinggalkan. Para ahlinya bilang pendidikan terdiri dari dua aliran, yang pertama berpendapat bahwa tujuan utama pendidikan adalah mempersiapkan peserta didik agar bisa meraih kebahagiaan yang optimal melalui pencapaian kehidupan bermasyarakat.

Pendapat kedua lebih menekankan kepada peningkatan intelektual, kekayaan dan keseimbangan jiwa peserta didik. (B. Othanel Smith, William O. Stanley, dan J. Harlan Shores, Fundamentals of Curiculum Development, p. 548-551). Pertanyaanya, apakah masyarakat Barat bahagia dan mencapai intelektualitas dan kesimbangan jiwa, juga jiwa bermasyarakat? Nampaknya Barat masih harus berguru ke Timur.

Setidaknya, baik Barat maupun Timur sepakat, pendidikan bertujuan menciptakan manusia yang baik. Socrates (469-399 SM) menyatakan bahwa tujuan pendidikan yang paling mendasar membentuk individu menjadi baik dan cerdas (good and smart). “Goodness is knowledge … to be good at something os a matter of knowledge”.

Tapi, kata Plato (428-348 SM), dalam Republic, tugas pendidikan adalah membebaskan dan memperbaharui; ada pembebasan dari belenggu ketidaktahuan dan ketidakbenaran. Jadi, mencari kebenaran merupakan tujuan pendidikan. Aristoteles (384-322 SM), murid Plato juga mengarahkan pendidikan kepada kebajikan atau nilai (virtue) individu. Kebajikan atau nilai (virtue) itu mengandung dua aspek yaitu intelektual dan moral. “Intelectual virtue in the main owes both its birth and its growth to teaching, while moral virtue comes about as a result of habit.” (Charless Hummel, Aristotle, p.2).

Pertanyaanya, membentuk manusia yang baik menurut siapa? Dalam Islam, Prof. Al Attas menulis bahwa prinsip dasar dari filsafat pendidikan adalah meraih ridha Allah. Muhammad Abduh mengkritik hasil pendidikan yang pragmatis. Katanya “Pendidikan yang disampaikan sehingga murid bisa memperoleh pekerjaan sebagai tenaga admistrasi di sebuah departemen / perusahaan. Namun, hakikat bahwa jiwanya harus dibentuk dengan pendidikan dan dengan menanamkan nilai-nilai luhur sehingga ia menjadi manusia yang salih, yang dengannya ia bisa mengerjakan tugas-tugas yang dipercayakan kepadanya dalam institusi tersebut ( Fazlur Rahman, Islam and Modernity) Menurutnya, tujuan pendidikan adalah menciptakan manusia.

Senada dengan Abduh, Prof Al- Attas menjelaskan tujuan tersebut adalah menciptakan manusia yang baik, Al Attas menulis “ Orang yang baik adalah orang yang menyadari sepenuhnya tanggung jawab dirinya kepada Tuhan Yang Hak; yang memahami dan menunaikan keadllan terhadap dirinya sendiri dan orang lain dalam masyarakat ; yang terus berupaya meningkatkan setiap aspek dalam dirinya menuju kesempurnaan manusia yang beradab ( Risalah untuk Kaum Muslimin).

Baik mencakup adab dalam pengertian yang menyeluruh meliputi kehidupan spiritual dan material seseorang, yang berusaha menanamkan kualitas kebaikan yang diterimanya ( Aims and Objectife, Al attas). Pengakuan yang ditanam progressif dalam diri manusia- mengenai tempat sebenarnya dari segala sesuatu dalam susunan penciptaan, yang membimbing seseorang pada pengenalan dan pengakuan terhadap keberadaan Tuhan dalam tananan wujud dan eksistensi (Filsafat dan Praktik Pendikan Islam Al Attas, Prof. Wan Mohd Daud)

Makanya, Dr. Hamid Fahmy menyimpulkan “Memilih kebaikan dengan mengandalkan intelektual semata tanpa penyertaan Tuhan dapat membawa orang kepada kekeliruan yang menyesatkan.. sebab ada hal-hal yang jauh melebihi apa yang dapat kita telaah secara inderawi. Sesuatu yang jauh diluar jangkauan definisi kita tentang makna “baik” itu sendiri. Namun Tuhan menuntut untuk ditemukan dan seharusnya menjadi relasi terbesar dari spiritualitas kita. Agama tidak sebatas retorika tentang jati diri dan pemikiran. Agama adalah terkait masalah yang jauh melebihi daya nalar dan intelektual kita.”Jadi, jangan ragu bawa- bawa Tuhan dalam setiap aspek kehidupan kita, termasuk aspek pendidikan. Wallahu a’lam.

    • petualang
    • May 25th, 2012

    mau nanya, kenapa judulnya hanya 1 kata? Saya kurang menangkap ide utamanya apa. Begitu pula pada tulisan kebebasan, gender, dll. Apa benar maksud tulisan-tulisan yang judulnya hanya 1 kata itu lebih mendeskripsikan pengertian kata tersebut? Atau ingin menyampaikan suatu ide?

    • Itu ciri khas penulis, dlm dunia Jurnalistik, biasany seseorang belajar menulis dr mengikuti gaya tulisan seseorang, nah, ada Goenawan Mohammad dr Tempo, tulisannya bagus2,namanya Catatan Pinggir,,, klw bca itu mngkin bs paham– lbh mndkati ingn menyampaikan ide ttg kta tsb

    • petualang
    • May 25th, 2012

    o iya, punya buku yang judulnya Pelopor Pendidikan Islam Paling Berpengaruh gak kak? Saya punya buku itu, tapi belum sempat baca. Kapan-kapan mungkin kakak bisa membahas tentang pendidikan ala orang-orang yang tercantum dalam buku itu (imam malik, ibn khaldun, muh. abduh, rasyid ridha, rifa’ah ath-thahthawi) sepertinya menarik. O iya ada gak kak Islamia yang tentang pendidikan? Atau edisinya sudah lewat ya?

    • Al – Kautsar ya? ttg pendidikan bs baca “The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib Al Attas” Prof Wan M Daud
      -Dr Adian Husaini : Pendidikan tdk hanya karakter,tp juga Adab
      -Prof Al Attas: The Concept Education

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: