Archive for May, 2012

Kesederhanaan Pemilik Bilik – Bilik yang Mulia

Di sampaikan oleh ustdz Ibnu Hasan At Thabari

Rumah Nabi kita yang mulia Muhammad shallallahu alaihi wa sallam jauh sama sekali dari kesan megah atau mewah, padahal beliau adalah kekasih Allah, manusia yang paling mulia disisiNya.

Jangan tanya bagaimana makananya, beliau makan seadanya, kamar atau lebih tepatnya bilik, pakaian dan alas tidurnya sangat sederhana kalau tidak ingin kita menyebutkan sangat menyedihkan. Bilik tempat tinggal istri-istri beliau berdiri dipinggiran masjid, semua berjumlah sembilan, empat diantaranya berfondasi batu bata dan selebihnya dari batu gunung, atap yang paling bawah terbuat dari pelepah kurma dan bisa dijangkau dengan tangan orang yang berdiri dibawahnya, bayangkan begitu rendahnya.

Hasan Al-Bashri ulamanya generasi tabi`in anak dari seorang budak milik ummul mu`minin ummu salamah radhiyallahu anha berkata :” tanganku dapat menyentuk atap bilik Nabi shallallahu alaihi wa sallam”

Setiap bilik terbuat dari rakitan kayu yang diikat, beralaskan tanah tanpa di ubin apalagi dipasangi marmer, alas tidurnya adalah tikar kasar yang sempit atau kecil. Dengarlah penuturan salah seorang istri beliau sayyidah Aisyah radhiyallau anha :” aku tidur didepan Rasulullah dengan dua kaki menjulur diarah kiblatnya, bila beliau mau sujud, beliau menyentuhku lalu ku tekuk kakiku, bila beliau berdiri aku lonjorkan lagi kakiku.

Saat itu rumah belum berlampu, pintu rumahpun tidak ada belnya hanya bisa diketuk dengan tangan.

Rasulullah tidak membangun bilik istri-istrinya kecuali setelah membangun masjid, awalnya dua bilik untuk sayyidah Saudah dan satu lagi untuk sayyidah Aisyah radhiyallahu anhuma.

Di bilik-bilik inilah istri-istri Nabi yang mulia bertempat tinggal, jauh dari berbagai bentuk aksesoris kemewahan, di bilik ini pula wahyu Allah turun kepada Nabi, di bilik-bilik ini juga beliau menghabiskan malam-malamnya dengan beribadah kepada Allah, inilah bilik-bilik yang sangat-sangat sederhana tapi mulia disisi Allah karenanya Allah menjadikan bilik-bilik ini menjadi nama salah satu surah didalam kitab suciNya yang abadi yaitu surah al-hujuraat.

Bila merasa lelah, Nabi yang sederhana ini merebahkan diri diatas tikar yang terbuat dari daun kurma, tikar kasar yang menorehkan bekas di lambungnya yang mulia, begitu teriris perasaan para sahabat yang masuk ke bilik beliau dan melihat bekas torehan tikar kerasa ditubuh manusi paling agung ini.

Suatu kali sahabat yang mulia Abdullah ibn Mas`ud radhiyallahu anhu masuk ke bilik Nabi, melihat kondisi beliau, bersedih Ibnu Mas`ud seraya berkata :” Ya Rasulallah, bagaimana jika aku buatkan sesuatu untuk alas tidurmu agar tubuhmu terlindur dari goresan tikar kasar itu?”

Putra Abdullah yang mulia ini menjawab :” dunia tak ada apa-apanya bagiku, aku dan dunia laksana seorang musafir yang berteduh dibawah pohon yang sebentar lagi akan berlalu dari pohon tersebut”.

Pernah sahabat yang mulia Umar ibnul khattab radhiyallahu anhu membandingkan kehidupan yang sangat bersahaja Rasulullah dikediamannya yang sempit dengan kehidupan hewan peliharaan tetangganya yang termasuk aparat negara di zamannya. Umar sedih melihat kandang hewan hewan itu dibangun begitu megah.

Suatu hari seorang wanita anshariyah berkunjung ke bilik Aisyah, begitu pandangannya jatuh ke alas tidur Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang keras, ia merasa iba, segera pulang dan mengirimkan alas tidur wol tapi setelah terlihat oleh Nabi, beliau menganggapnya sangat mewah dan menyuruh Aisyah untuk mengembalikannya kepada pemilinya sembari bersabda :” kembalikan itu, Demi Allah jika aku mau Allah pasti memberiku bergunung emas dan perak”.

Secara lahiriyah kehidupan dibalik bilik-bilik itu terlihat begitu keras kalau tidak ingin disebut kefakiran, ini wajar karena Rasul dan Nabi yang mulia ini tidak menyukai kekayaan, doa yang sering beliau panjatkan kepada Rabbnya adalah ucapan :” Ya Allah jadikanlah rizki keluarga Muhammad sekadar mencukupi kebutuhan”.

Suatu hari Nabi shallallahu alaihi wa sallam menatap gunung uhud, lalu beliau bersabda :” andai gunung uhud ini menjadi emas untuk untuk keluarga Muhammad, pasti akan aku infakkan di jalan Allah sampai tersisa dua dinar untuk jaga-jaga kalau aku punya hutang”.

Sebagai pemimpin ummat Nabi kita yang mulia ini tidak pernah merasa tenang selama diri beliau menyaksikan kaum muslimin hidup susah, tak mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari dan harus mati-matian bertahan hidup karena itu jika beliau memperoleh kelebihan rizki banyak atau sedikit, beliau segera membagikannya, sementara beliau sendiri kelaparan.

Apa yang dimakan oleh penghuni bilik ini adalah makanan kasar, boleh dikatakan tak pernah mencicipi makanan enak karena memang tidak ada. Dengar kesaksian Aisyah :” demi Zat yang mengutus Muhammad dengan haq, belum pernah Rasulullah melihat ayakan, mencicipi roti yang di ayak sejak beliau diutus sampai meninggal dunia”

Sahabat yang mulia Nu`man ibn Basyir radhiyallahu anhu berkata :” demi Allah pernah aku saksikan Nabi kalian tak mendapatkan sebutir kurma yang paling jelek sekalipun untuk mengganjal perutnya yang lapar” [HR Muslim]

Bahkan sampai tiga kali hilal lewat diatas bilik mereka belum terlihat ada asap mengepul dari dapur mereka [bukhari muslim]

Diwaktu yang lain Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata dari atas mimbar :” setiap sore, tidak ada satu sha` makanan dalam keluarga Muhammad untuk kesembilan biliknya”

Tentu Nabi berkata demikian bukan bermaksud mengecilkan pemberian Allah tapi agar umatnya meneladani beliau dalam kesederhanaan dan bersifat qanaah

Sahabat yang mulia Abdullah ibn Abbas radhiyallahu anhuma berkata :” selama beberapa malam berturut-turut Rasulullah tudur dalam kondisi kelaparan, begitupun dengan keluarga beliau, mereka tidak memiliki makan malam, roti yang paling sering mereka makan adalah roti kasar”.

Pernah satu saat putri beliau sayyidah Fathimah radhiyallahu anha datang membawa sekerat roti.

Nabi bertanya :” apa ini hai anakku?”

“ini sekerat roti yang ku buat sendiri ayah, tak puas rasanya jika aku tidak berbagi dengan ayah”. Jawab anak beliau yang disebut dengan ummu abiiha ini.

“oh ya? Bawalah kemari wahai anakku, ketahuilah inilah makanan pertama yang masuk ke perut ayahmu sejak tiga hari ini”

[menetes air mata, Allahumma Shalli wa Sallim wa Baarik alaihi wa `alaa aalihi wa Shahaabatih]

Tak pernah keluarga beliau meminim susu kecuali bila diberi oleh tetangganya, biasanya keluarga yang mulia ini mencukupkan diri mereka dengan mamakan kurma karena tidak ada makanan selain itu, itupun mereka perleh dengan susah bahkan jika kurma didapat mereka meniru Nabi, memberikan kepada orang lain yang kelaparan.

Pernah seorang wanita miskin berkunjung ke bilik Aisyah bersama anaknya yang masih kecil, tidak ada apapun yang dapat diberikan oleh bunda Aisyah selain sebutir kurma, begitu kurma diberikan, wanita itu lalu membelahnya menjadi dua bagian, sebelah untuk anaknya sebelah lagi untuk dirinya.. subhanallah

Ketika lapar, Nabi bertanya kepada istrinya, apa yang mereka punya. Pernah beliau meminta kuwah, tapi istri beliau menjawab : ga ada, yang ada Cuma cuka”. Beliau memintanya dan dan mencelupka irisan roti kasar kedalamnya seraya berkata :” kuwah ternikmat adalah cuka, kuwah ternikat adalah cuka”. [muslim]

Allah menawarkan kepada Nabi kekayaan atau kecukupan, beliau memilih lapar disertai kenyang, seraya berkata : “ saat aku lapar aku meminta kepadaMu jika aku kenyang aku bersyukur kepadaMu”

Suatu hari pernah Rasulullah didera lapar yang sangat, beliau terpaksa keluar rumah untuk mencari makanan, di jalan beliau berjumpa dengan dua sahabatnya Abu Bakar dan Umar yang juga kelaparan, padahal inilah tiga manusia terbaik di muka bumi. Bertiga mereka datang ke rumah salah seorang sahabat anshar, mereka pun disambut dengan menyembelih seekor kambing. Usai menyantap hidangan Rasulullah bersabda :” sungguh kita akan ditanya atas nikmat ini kelak di hari kiamat”

Sahabat yang mulia Anas ibn Malik yang pernah menjadi pelayan Rasulullah selama 10 tahun berkata :” tak penah sekalipun ku lihat Nabi makan diatas piring, tak ada roti empuk, tak ada daging sampai beliau menghadap Rabbnya, beliau juga tidak pernah makan diatas meja makan”. [bukhari]

Masih banyak riwayat yang melukiskan kepada kita kehidupan di balik bilik yang mulia ini, pola hidup seperti ini terus berlangsung hingga hari terakhir kehidupan beliau, padahal seluruh pintu-pintu dunia dibuka oleh Allah untuk beliau dan harta yang datang kepada beliau melimpah ruah, jangankan mengubah gaya hidup layaknya sebagai pemimpin atau penguasa, mengubah rumahpun yang bilik itu tidak beliau lakukan. Setelah fathu makkah, Rasulullah tetap dengan gaya hidup apa adanya, Ummu Hani, putri Abu Thalib ketika mengunjungi Nabi menyaksikan dengan mata kepala sendiri, beliau mandi sementara putri beliau Fathimah menabiri beliau dengan selembar kain, padahal saat itu beliau berada di puncak karisma dan kekuasaan sempurna.

Rasulullah teladan kita, Rasulullah junjungan kita
Rasulullah uswah manusia, paling bahagia hidupnya

Allahumma shalli wa sallim wa baarik alaihi wa alaa aalihi wa shahbihi ajma`in

Perniagaan yang Tidak Pernah Rugi

Alkisah, seorang istri berkata kepada suaminya pada malam hari raya :” esok adalah hari raya, ya Aba Abdillah, anak-anak kita belum memiliki baju baru sebagaimana teman-temannya, ini karena sebab keborosanmu”. Suaminya berkata ” Aku infaqkan hartaku di jalan Allah guna menolong orang-orang yang membutuhkan. tentu ini bukan pemborosan wahai ummi abdillah..”

Istrinya yang dikenal cerewet ini berkata :” coba kamu kirim surat kepada salah seorang sahabatmu yang baik, agar dia meminjamkan kita uang, insya Allah akan kita kembalikan jika kondisi keuangan kita membaik”

Abu abdillah memiliki dua orang sahabat yang sangat dekat yang bernama Hasyim dan Usamah. Ia menulis sepucuk surat dan menyuruh pembantunya untuk menyerahkan kepada sahabatnya yang bernama Hasyim. pembantu itupun berangkat ke rumah Hasyim lalu menyerahkan surat itu kepadanya. setelah Hasyim membaca surat itu, ia menyadari bahwa sahabatnya itu dalam kondisi sulit dan membutuhkan bantuannya.

Hasyim berkata kepada pembantu itu :” saya tahu, majikanmu itu suka menginfaqkan hartanya untuk kebaikan, bawalah kantong ini dan katakan kepada majikanmu bahwa hanya uang inilah yang aku miliki pada malam ini”.

Pembantu itupun kembali dan menyerahkan kantong itu kepada tuannya. Abu abdillah segera membukanya dan ternyata didalamnya berisi uang seratus dinar emas. ia pun memanggil istrinya seraya berkata :” ya Ummi abdillah, ini ada uang 100 dinar, sungguh Allah telah mengirimkannya untuk kita”.

Netapa girangmya istrinya, sambil tersenyum ia berkata kepada suaminya :” cepet dah ke pasar, beli baju, sepatu dan keperluan lebaran, ntar keburu abis”.

Sebelum ia meninggalkan rumah, tiba-tiba ada orang mengetuk pintu rumahnya, saat ,dibuka ternyata ada seseorang yaitu pembantunya Usamah, sahabatnya yang satu lagi. Ia membawa surat yang isinya meminta pinjaman uang untuk membayar hutang kawannya yang sudah jatuh tempo. Akhirnya Abu abdillah memberikan kantong uang itu kepada pembatunya Usamah,

Ia tidak mengambilnya walaupun 1 dirham. Mengetahui hal itu istrinya yang tadinya sudah girang, berubah jadi mengkelap karena marah karena lakinya lebih mengutamakan kawannya dari pada keluarga sendiri. Abu abdillah mendekati istrinya yang lagi manyun sambil menekuk mukanya kemudian menasehatinya :” temanku sangat membutuhkan pertolongan, bagaimana bisa aku membiarkannya berada dalam kesulitan?, udah ya jangan manyun begitu, malu sama yang baca cerita ini”

waktu berlalu cukup lama, suatu hari Hasyim datang ke rumah Abu Abdillah, Setelah dipersilahkan masuk, Hasyim berkata :” aku kesini untuk menanyakan kepadamu tentang kantong ini, apakah kantong ini adalah kantong yang pernah aku titipkan kepada pembantumu saat malam hari raya?”
abu abdillah mengamati kantong itu, degan sangat heran ia menjawab :” kayaknya iya nih, kok bisa sampe ditangan ente, gimana ceritenye?”

Hasyim menjawab :” saat pembantumu datang kepadaku, membawa suratmu, aku memberinya kantong itu, saat itu aku tidak memiliki apapun kecuali kantong itu. saat itu aku harus membayar hutangku yang sudah jatuh tempo, maka akupun meminta batuan kepada Usamah, tak lama kemudian Usamah memberikan kantong itu kepadaku tanpa berkurang 1 dirhampun”

——akhirnya mereka berdua tertawa mendengar cerita tentang kantong itu …

Abu abdillah berkata :” ya Hasyim, sungguh Usamah lebih mementingkan dirimu daripada dirinya sendiri sebagaimana kamu lebih mementingkan diriku ketimbang dirimu”
Hasyim tersenyum dan berkata :” bahkan kamu lebih mengutamakan Usamah ketimbang dirimu dan keluargamu, wahai Aba abdillah, bagaimana pendapatmu jika uang 100 dinar ini kita bagi tiga?”
Abu Abdillah menjawab :” semoga Allah memberkahimu wahai Hasyim”

Tak berselang lama, cerita ini sampai ke kuping khalifah, selanjutnya khalifah memerintahkan agar memberi kepada tiga sekawan itu masing-masing 1000 dinar emas. Saat menerima pemberian dari khalifah Abu Abdillah langsung mememui istrinya sambil tangannya memegang uang 1000 dinar seraya berkata :” wahai Ummi abdillah, bagaimana menurutmu? apakah Allah menyia-nyiakan kita? ape gue bilang..?”

Istrinya menjawab dengan malu-malu [in] :” demi Allah, Dia tidak menyia-nyiakan kita, malahan Dia menambahkan karuniaNya berlipat ganda untuk kita”.

Abu abdillah berkata kepada istrinya :” sekarang engkau mengerti wahai istriku, bahwa infaq fii sabiilillah adalah perniagaan yang pasti menguntungkan dan tidak akan rugi selamanya..”

sumber : warisan tarbiyah, pribadi teladan, kisah yang menyejarah, edisi bahasa arab berjudul “mi`atu mauqif min hayaatil `uzhammi, muhammad said mursi dan qaim Abdullah., dikisahkan kembali ama Ustdz Adlan.

Keluarga Penuh Berkah

Oleh: Ibnu Hasan At thabari

Suatu hari sahabat Ali ibn Abi Thalib, menantu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berkata kepada istrinya Fathimah putri Rasulullah : “adakah makanan yang bisa aku santap wahai Fathimah?”

” tidak ada, Demi Dzat yang memuliakan ayahku dengan keNabi-an, aku berpagi hari dalam kondisi tidak memiliki makanan antukmu, kami juga belum makan, sudah dua hari ini tidak ada makanan yang aku bisa berikan padamu, juga kepada perutku dan kedua anak kita ini”. Sahut Fathimah

“wahai istriku, tidakkah engkau menyuruhku untuk mencari makanan?”. Tanya Ali

“aku malu kepada Allah untuk meminta sesuatu yang engkau tidak bisa melakukannya,” jawab Fathimah.

Sejenak kemudian, Ali keluar dari rumahnya, dengan penuh keyakinan kepada Allah dan husnuzhon kepada-Nya, meminjam sekedar satu dinar uang.

Ketika dinar telah ada di tangan, dan ia bermaksud untuk membeli sesuatu yang dapat meringankan beban keluarganya, tiba-tiba terlihat Miqdad, ia berjalan atas pasir yang membara dibawah terik matahari yang membakar, tatkala Ali melihatnya, ia menghindar.

“hai Miqdad, apa yang menggelisahkanmu saat ini?” tanya Ali

“hai Abul Hasan, jangan ganggu aku, jangan bertanya apapun padaku”.

“wahai keponakanku, tidak boleh engkau menyembunyikan keadaanmu padaku”. Kata Ali

Miqdad berkata :” jika engkau memaksa, demi Dzat yang memuliakan Muhammad dengan keNabian, tidak ada yang menggelisahkanku selain beban yang berat, aku meninggalkan keluargaku dalam keadaan kelaparan, ketika aku mendengar tangis mereka bumipun tak kuat memikulku, aku pun pergi dengan kehilangan mukaku, inilah kondisiku”.

Saat itu juga kedua mata Ali ibn Abi Thalib mengucurkan air mata, ia menangis hingga air mata membasahi jenggotnya, ia berkata :” Demi Dzat yang engkau bersumpah denganNya, tidaklah menggelisahkanku selain sesuatu yang menggelisahkanmu, aku telah meminjam uang satu dinar, ambillah ini, aku dahulukan engkau atas diriku”

Dinar kini telah berpindah tangan, lalu Ali-pun pulang, ia datang ke masjid Rasulullah untuk shalat zuhur, ashar lalu maghrib. Ketika usai shalat maghrib, beliau menghampiri Ali di shaf pertama, Rasulullah memberi isyarat Ali-pun mengikuti langkah beliau, ketika sampai di pintu masjid, Rasulullah bertanya :” hai Abul Hasan, apakah kamu punya makanan untuk kita makan malam?”.

Ali tersentak kaget, ia tidak bisa memberi jawaban karena malu kepada Rasulullah. Sejurus kemudian Rasullah berkata :” jika kamu berkata tidak, aku akan pergi tapi jika iya aku akan datang bersamamu”.

” Ya, Rasulallah, silakan datang ke rumahku, mari..” kata Ali

Maka Rasulullah yang mulia itu menggandeng tangan menantunya Ali ibn Abi Thalib hingga masuk menemui Fathimah di mushalla-nya, sedang dibelakangnya terlihat sebuah mangkok besar yang berasap. Ketika Fathimah mendengar suara ayahnya Rasulullah, iapun keluar menyongsongnya seraya memberi salam. Fathimah adalah orang yang paling sayang kepada Rasulullah, beliau menjawab salam putrinya lalu mengusap kepalanya dengan tangan beliau yang mulia.

“bagaimana malam ini?, siapkah kita makan malam, semoga Allah mengampunimu, dan Dia telah melakukannya”. Sabda Rasulullah

Maka Fathimah mengambil mangkok besar itu lalu diletakkan dihadapan ayahnya yang mulia. Ketika Ali melihatnya dan mencium aroma masakan yang lezat, ia melemparkan pandangannya kepada Fathimah dengan pandangan keheranan.

“alangkan tajamnya pandanganmu, Subhanallah.. apakah aku berbuat kesalahan padamu hingga membuatmu demikan marah?” tanya Fathimah tak kalah heran

“apakah ada dosa yang lebih besar yang kau perbuat selain dosamu hari ini? Bukankan aku menjumpaimu tadi pagi dan engkau bersumpah demi Allah bahwa engkau tidak punya makanan dan belum menyantapnya selama dua hari?”. Sahut Ali

Fathimah menengadahkan wajahnya ke arah langit sambil berkata :” Tuhan-ku Maha Tahu apa yang ada di langitNya dan apa yang ada di bumiNya, aku tidak berkata kecuali hal yang benar”.

“Lalu dari mana makanan ini, makanan yang belum pernah aku melihatnya, tidak pernah mencium aromanya dan tak pernah memakannya sebelum ini”. Tanya Ali

Ketika itu Rasulullah meletakkan tangan beliau yang penuh berkah itu di pundak Ali sembari menguncang-guncangkannya seraya berkata :” Ya Ali, inilah pahala dinar-mu, inilah balasan dinar-mu, ini dari sisi Allah yang memberi rizki kepada siapa yang Ia kehendaki”.

Sambil menangis Rasulullah yang mulia berkata :” segala puji bagi Allah yang telah mengeluarkan kalian berdua dari dunia, hai Ali engkau laksana Zakariya as dan engkau Fathimah laksana Maryam. Rasulullah membacakan ayat alqur`an :

كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ [آل عمران/37]

Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.

Ideologi

Suatu saat muncul pertanyaan  pada saat proses pemilihan Pemimpin di suatu kampus, “Ideologi anda apa?” Maka para calon pemimpin menjawab “Islam”, ada juga yang “nasionalis”. Mungkin itu dialog imajiner, mungkin juga nyata yang terjadi di tengah-tengah kita. Tapi tidak ada yang bertanya balik. “Menurut anda ideologi sendiri itu apa?”.

 Ideologi, katanya dibentuk dari pemikiran yang berada dalam kepala ini. Edios dan Logos, atau Konsep dan pengetahuan. Yang kata Tracy , dengan konsep tentang pengetahuan  (sciences of ideas) ini yang diyakini, sebagai dasar dan pedoman yang dijunjung tinggi.  Senada dengan itu, Descartes mengatakan Inti dari pemikiran manusia. Mirip dengan F Bacon, Sintesa pemikiran mendasar, namun ia menambahkan tentang konsep hidup. Lalu dari mana munculnya apa yang disebut pemikiran ini?

Weltanschauung” (Jerman) kata Immanuel Kant (1724 – 1804). Yang artinya persepsi inderawi terhadap dunia (sense perception of the world). Munculnya ideologi yang seseorang anut, dari apa yang ada dalam pikirannya memandang sekitarnya.  Lalu dipopulerkan istilah weltanschauung oleh murid-muridnya, J. G  Fichte, F W Joseph von Schelling. Merealisasikan diri memahami alam sekitar yang akhirnya mempengaruhi ideologi yang di’imani’nya.

Kalangan intelektual pun mulai menggunakan istilahnya.  Ada Schleirmacher, Novalis,  para filsuf seperti  J. Paul Sarte, sampai Hegel , dari Gorres sampai Wolfgang. Mulailah istilah ini diserap oleh berbagai disiplin  ilmu. Ada Feurbach dalam Teologi, Wilhem yang ahli bahasa itu, sampai dua abad kemudian Istilah ini di pinjam Barat. Dalam bahasa inggris Weltanschauung ini menjadi Worldview. (The Worldview of Islam, Adnin Armas, MA mengutip David K Naugle, Worldview : The History of a Concept ). Ternyata, yang memengaruhi ideologi memang worldview seseorang. Ya! Cara memandang orang tersebut terhadap dunia –atau pandangan hidup seseorang.

Makanya, ketika ditanya, “Ideologi anda apa?”, jawabnya bermacam-macam, karena konsep –konsep memandang sesuatupun bermacam-macam.  Dr. Hamid Fahmy Zakarsy  menulis :

 “Cara pandang yang bersumber pada kebudayaan memiliki spektrum yang terbatas pada bidang-bidang tertentu dalam kebudayaan itu. Cara pandang yang berasal dari agama dan kepercayaan akan mencakup bidang-bidang yang menjadi bagian konsep kepercayaan agama itu. Ada yang hanya terbatas pada kesini-kinian, ada yang terbatas pada dunia fisik, ada pula yang menjangkau dunia metafisika atau alam diluar kehidupan dunia. Terma yang dipakai secara umum untuk cara pandang ini dalam bahasa Inggeris adalah pandangan hidup (worldview) atau filsafat hidup (weltanschauung) atau weltansicht (pandangan dunia).” (Makalah Diskusi Sabtuan INSIST, Pandangan Hidup dan Tradisi Intelektual Islam) .

The Oxford English Dictionary mendefinisikan welthanschauung sebagai sebuah filsafat khusus atau “pandangan tentang kehidupan”.  Jadi, yang mempengaruhi ideologi seseorang adalah worldviewnya. Konsepsi  sebuah individu atau kelompok (a particular philosophy or view of life; concept of the world held by an individual or a group).

Kalau ada calon pemimpin yang menjawab Islam. Artinya, secara logis, pemikirannya di pengaruhi oleh Islam. Beda dengan Barat, Timur, Kiri, dll. Ketika menjawab Ideologi Islam, artinya  framework (kerangka berpikir)  tentang Islam terkonsrtuksi dan dimulai dari worldview Islam yang berasal dari sumber-sumber kalangan Islam. Sayyid Qutb menyebutnya Tathawur Islami. Ada juga istilah Mabda, bagi Alif  Zain. Prof. Al Attas, mengistilahkan Ru’yatul Islam lil wujud (Islamic Worldview). Begitupun jika ada yang menjawab sosialis, misalnya.  Pandagan dunia (worldview) Marx – Lenin sangat berpengaruh. David K Naugle menulis:

“Its origin coincided with the appearance of the workers’ revolutionary movement. Marxist – Leninist worldview is a power full tool for the revolutionary transformation of the world. It’s one of the desicive forces that organizes people in the struggle for socialism and communism. In the contemporary world there is an acute struggle between two opposing world views. – the communist and the bourgeois. The influence of Marxism-Leninism, which triumphs through the strength of truth and the validity of its consistently scientific premises, is growing during this struggle” (Worldview: History of the Concept)

Para pengkaji peradaban, filsafat, sains dan agama kini telah banyak yang menggunakan worldview sebagai matrik atau framework (kerangka kerja) . Dari worldview inilah lahir konsep-konsep sebagai framework yang digunakannya. Kata Ninian Smart, seorang pakar perbandingan agama, worldview adalah kepercayaan, perasaan dan apa-apa yang terdapat dalam pikiran orang yang berfungsi sebagai motor keberlangsungan dan perubahan sosial dan moral”. Mirip dengan ideologi itu sendiri. Thomas F Wall, dalam bukunya “Thinking”, mengatakan worldview sendiri sebagai sistem asas yang integral tentang hakekat diri kita, realitas, dan makna eksistensi “ Adanya penambahan beberapa poin. Prof. Alparslan Acikgence, menegaskan worldview sebagai asas bagi setiap perilaku manusia. Semuanya dapat dilacak dalam pandangan hidupnya. Worldview memang tidak dapat dipisahkan dengan Ideologi seseorang.

Lalu dari mana dibentuknya worldview ini. Ini bagaikan lingkaran setan. Ideologi-worldview– proses pembentukan – ideologi.  Banyak lapisan makna didalam worldview. Membahas worldview bagaikan berlayar kelautan tak bertepi (journey into landless-sea) kata Nietsche. Makanya untuk memutusnya, Para ahli sepakat nampaknya, kata worldview ini selalu di tambahkan predikat kultural. Jadilah istilah Western Worldview, Islamic worldview, Christian Worldview, Medieval Worldview, Scientific Worldview, Modern worldview, seculer worldview, dll semuanya memiliki cara pandang yang berbeda-beda dan ekslusif. (Dr. Hamid Fahmy Zakarsy, worldview, Jurnal ISLAMIA  thn 2 no 5 April hal 118)

Mulai dari situlah muncul ideologi.  Menurut Ahli Filsafat ini, Thomas F Wall, suatu pandangan hidup ditentukan oleh pemahaman individu terhadap enam bidang pembahasan yaitu Tuhan, Ilmu, realitas, Diri, etika, masyarakat. Sikap individu terhadap enam masalah pokok inilah yang menentukan worldview seseorang. Ia mengatakan

It (belief in God’s existence) is very important, perhaps the most important element in any worldview. First if we do believe that God exists, then we are more likely to believe that there is a plan and a meaning of life, If we are consistent, we will also believe that the source of moral value is not just human convention but divine will and that God is the highest value. Moreover, we will have to believe that knowledge can be of more than what is observable and that there is a higher reality – the supernatural world. ..if on the other hand, we believe that there is no God and that there is just this one world, what would we then be likely to believe about the meaning of life, the nature of ourselves, and after life, the origin of moral standards, freedom and responsibility and so on (Thomas F Wall, Thinking About Philosophical Problem  p.  60)

Thomas F Wall, mengistilahkan percaya pada  Tuhan adalah sangat penting dan mungkin elemen terpenting dalam pandangan hidup manapun. Pertama,  jika kita percaya bahwa Tuhan itu ada, maka kita akan mengetahui dari Tuhan tentang arti dan tujuan hidup kita. Kemudian, kita akan tahu bahwa sumber moralitas adalah dari Tuhan, bukan sekedar kesepakatan manusia. Tuhan adalah suatu eksistensi dengan nilai mutlak tertinggi. Dan kita mempercayai bahwa ada eksistensi yang lebih tinggi yaitu alam metafisik. Sebaliknya, jika kita tidak percaya pada Tuhan dan alam itu hanya satu, apakah kita akan memercayai hakikat kehidupan? Arti hidup, hakekat diri kita, sumber standar moralitas , kebebasan, tanggung jawab, dan lain-lain, Kata Thomas F Wall dalam bukunya yang sangat fenomenal , yang di gelari Profesor Filsafat abad ini.

Kutipan diatas menjelaskan adanya kaitan antara worldview dengan realitas, ilmu dan moralitas. Secara konseptual hubungan pandangan hidup dengan epistemologis (konsep keilmuan)  melibatkan penjelasan tentang prinsip-prinsip ontologi (hakikat sesuatu) , kosmologi (struktur) dan aksiologi (perbuatan)

Jadi, ideologi kaum atheis. Berbeda dengan ideologi kaum agamis. Ideologi sosialis, dengan kapitalis tentunya bebeda. Humanis dengan Agamis tentunya berbeda. Liberal dengan Nasionalis tentunya berbeda,  Jadi jangan heran, mereka seolah-olah nggak bisa akur secara pemikiran. Sebab worldview-nya saja sudah beda. Kata Prof. Alparslan, setidaknya konsep-konsep yang berseliweran dalam pikirannya, membentuk framework, seperti konsep ilmu, konsep kehidupan, manusia, dunia, dan nilai. Inilah worldview seseorang, memandang konsepsi tentang hal-hal tersebut. Inilah yang membentuk Ideologi.

Maka, aneh jika ada ungkapan, “kalau anda mau objektif anda harus keluar dari (cara pandang) Islam” . Katanya, “ Menilai sesuatu harus objektif, jangan membawa-bawa Ideologi”. Tapi hal ini  aneh karena  kita ketahui ”If you get out of Islamic framework I will be epistemologically no longer Muslim”. Cacat epistemologi!. Setiap Ideologi, memilik framework sendiri. Memahami Islam, nggak bisa dengan framework Barat. Jika memahami Islam dengan alam pikiran sekuler, bisa jadi Qur’an manifesto sekulerisasi ala mereka. Makanya, kata Sayyed Hossein Nasr, setiap ideologi tidak bisa saling memakai framework ideologi lainnya.  Begitulah, jika realitas realitas objek dipisahkan dari alam pikiran subjek, jika realitas data dan fakta tidak diselaraskan dengan realitas alam pikiran manusia (worldview), maka akan menjadi sesuatu yang hampa, bahkan tidak bermakna.

 

Maka, tidak perlu aneh, jika ada pertanyaan “Menurut ANDA, agama lain salah atau tidak? “ Jika dia ber-ideologi, maka ia akan menjawab tegas, antar alam pikiran dan yang ia ucapkan sama, “Menurut saya, agama lain salah, dan agama saya yang benar.” Tapi, bagi yang memisahkan objek dan worldview, akan Kontradiktif, plinplan, kurang PD, mungkin ia menjawab, “Menurut agamanya sih benar, atau mungkin menurut dia benar” . Subjek dan objek dipisahkan secara paksa, agar bisa objektif, maka saya (subjek) harus memisahkan diri dari objek.  Akhirnya terjadi relativisme, ini yang kata Derida, inilah era post wordview. Tapi untuk orang seperti ini, mungkin ia lupa, yang ditanya adalah dirinya, bukan objek tersebut. Karenanya, Ideologi tidak terpisahkan dalam diri seseorang

Liberal

Oleh: M Rizki Utama

“Ini kan saya, bukan hak anda?”, katanya, ketika seseorang diingatkan agar tidak berbuat salah. Bebas betul, “terserah saya, mau melakukan apapun, tubuh, tubuh saya”, Ucapnya. Memang, asal katanya liber, bahasa latin yang artinya bebas atau merdeka. Mungkin, masih ingat Revolusi Prancis, jargon yang dibawa liberte, egalite, fratenite – kebebasan,kesetaraan, persaudaraan, sebagai magna carta.

Dikukuhkan oleh Grubber, bahwa tunduk pada suatu otoritas, adalah substansi dari Liberalisme. Niatnya baik, yang bertentangan dengan kebebasan dirinya ia tolak. Termasuk yang disebut kebenaran? Mungkin saja, ia berani menolak kebenaran. Karena baginya, kebenaran relatif, karena tidak ada otoritas yang dikukuhkan sebagai pembawa kebenaran, yang berujung pada nihilisme, tidak adanya kebenaran. Tentunya, hal ini yang menggembirakan para fans Nietzshe, bahwa Kebenaran itu sudah mati. Ya, Tuhan sudah mati!!

Sebagai anak kandung dari umanista (humanisme) , tren ini menyebar dengan pesat. Ada David Hume, dari Inggris, juga cabang Prancis adanya Rousseau, Diderot, dkk), Jerman ada Immanunel Kant, mungkin di Indonesia sudah ‘buka cabang’ juga. Liberalisme, istilah mereka pada abad 16, memang benar asli Barat. Mungkin, karena mereka trauma. Kata Germaine de Stael, ( lihat Dr. Syamsyudin Arif, Orientalis & Diabloisme Pemikiran) “ kaum liberal menuntut kebebasan individu yang seluas-luasnya, menolak klaim pemegang otoritas Tuhan, dan menuntut penghapusan hak-hak istimewa gerje ataupun raja”

Tentunya, dalam potilik, artinya menentang absolutisme kekuasaan, mungkin hilangnya kerajaan-kerajaan, kerjaanya worldview liberalis ini. Secara ekonomi, mereka suda mulai bergerak. Ada yang namanya kebebasan , pemerintah tidak perlu intervensi, dalilnya adlah pasar bebas. Dalam sosial, lebih keren lagi. Bebas benar. Alangkah nikmatnya, anda mabuk mabukan, tidak perlu diingatkan. Karena itu hak individu mereka. Bahkan, judi menjadi legal, karena kesepakatan masyarakat. Jadi apa ukuran kebenaran? Tidak ada kontrol sosial terhadap individu.

Dalam agama, mungkin terdengar, “Anda nggak usah bicara cara, kami masing-masing sudah tahu”, “Yang penting hatinya benar, tidak perlu shalat”. Hatinya di Mesjid, fisiknya di tempat judi. ”Saya ini orang yang religious”, katanya, tapi tidak pergi ke gereja. Adanya dualisme, dalam tataran epistimologi. Ya, dualisme memang juga anak kandung Peradaban Barat. ”Ini urusan privat, anda nggak perlu ngatur-ngatur”. Kata Judson Taylor, tokoh besar Amerika, dalam tulisannya The Evil of Liberalism, dibuka oleh kalimat “Liberalisme telah menggantikan Persecutiton”. Persecutiton artinya panganiayaan atau pembunuhan. Dalam tradisi Kristen penganiayaan terjadi karena adanya keyakinan yang menyimpang (heresy) dalam teologi. Artinya liberalisme sama dengan penganiayaan. Hanya saja, lanjutnya, jika Persecution membunuh orang, tapi menyuburkan penyebabnya, maka liberalisme membunuh sebabnya dan menyuburkan pikiran orang. Dalam artian liberalisme memenangkan akal manusia daripada firman atau ajaran Tuhan” (lihat Berpikir Liberal, Hamid Fahmy, insistent.com)

“Ini urusan saya dengan Tuhan, anda diam saja.” Padahal Tuhan-nya menyuruh amar ma’ruf nahi munkar. Tidak ada lagi kebenaran disana. “Biar Tuhan yang menilai”, anda bukan Tuhan”. Namun pernyataanya sendiri ‘amar ma’ruf’ versinya sendiri, kepada orang-orang yang berusaha menunjukkan kebenaran. Kebenaran menjadi bias. Karena kebebasan setiap individu berbicara, berbicara tanpa ilmu. Karenanya, asal tidak merugikan orang lain, kita bebas berperilaku, orang berzina tidak perlu dihukum, karena suka-sama suka. Tidak ada Tuhan disana, memang betul, peradaban barat yang Godess. Liberalisme asli betul dari Barat. Worldview Barat. Oleh karena itu, pada awalnya, Benjamin Constant, tokoh Kristen liberal, menginginkan agar adanya reformasi gereja, doktrin-doktrinnya agar sesuai dengan semangat zaman –sekarang (now), kata Harvey Cox, zaman sekarang, yang artinya Saeculum (latin) , maksdunya adalah Sekuler. Pantas, ada yang bilang Liberalisme, padanannya adalah Sekulerisme (lihat Orientalis dan Diabloisme Pemikiran, Dr. Syamsuddin Arif, hal 78)

Ini yang mengawali semangat ‘modernisme’ di Barat. Karena modern dan saeculum, memang sama. Cicero mengatakan modern itu here, now, up to date. Makanya, tokoh –tokoh Liberal begitu gencar me’modern’kan pemikiran agamanya, mulai dari tataran epistimologis. Tafsir ini udah usang, katanya, lebih baik diganti. “Oh itu kan budaya masa lalu, tidak cocok diterapkan di sini”. Inilah worldview Barat, yang masih mencari jati dirinya. Bahkan, modern-pun di habisi oleh post-Modern.

Berubah-ubah seperti kebingungan. hingga post -Modern pun di kiritik, cacat istilahnya, kata Lesszek Kolaskosky, perkawinan kata yang tidak sah menurut linguistik. Seperti ungkapan makan di warteg, hari ini makan, besok gratis. Tidak akan pernah ada yang makan gratis disitu, sebab orang makan hari ini,bukan besok. (Lihat Jurnal INSIST, ISLAMIA vol VI, no 1 , 2012).

Jadi, Peradaban Barat, peradaban yang bingung. Sampai-sampai menyatakan cogeto ergo sum, kita bertepuk tangan, ketika Decrates menyatakan “aku berpikir, maka aku ada”, seolah-olah sebelum ada Decrates, seluruh manusia tidak menyadari bahwa dirinya itu ada. Nggak heran, kalau ada istilah “Islam Liberal”, artinya Islam yang mem-Barat, atau Islam yang Bingung.

Sedangkan dalam Islam tidak ada kebingungan. Prof Al Attas, dalam bukunya, Prolegomena to the Metaphysics of Islam, mengatakan bahwa kebebasan dalam Islam berarti memilih yang baik (ikhtiyar). Ikhtiar yaitu menghendaki pilihan yang tepat dan baik akibatnya. Oleh karena itu, memilih keburukan adalah menyalahgunakan kebebasanya, sebab pilihannya bukan sesuatu yang baik (khayr). Inilah yang disebut adab. Jadi, kebebasan sejati memantulkan ilmu dan adab , sedangkan kebebasan yang bingung mencerminkan ketidaktahuan dan kebiadaban (tanpa adab). Artinya, kebebasan dipandu oleh adab dan ilmu, agar menghasilkan sesuatu yang baik. Maka, apa yang dapat diharapkan dari orang-orang yang kebingungan? Wallahua’lam

Kebebasan

Oleh: M Rizki Utama

Semua orang bergembira, semua orang senang, semua bahagia. Setiap orang berbas bersuara apapun. “Terserah saya mau ngomong apa saja, itu bukan urusan anda!” Katanya. Zaman ini adalah zaman bebas berbicara apapun. “Ini hak kami berbicara, anda ngga usah ngurusin orang lain,” teriaknya sambil melarang orang lain berbicara kebenaran.

Untuk urusan kebenaran, nanti dulu. Semua itu sama saja. Tidak ada yang absolut. Semua relatif. (All is relative). “Itu kan menurut anda!”. ‘Semua relatif’ sudah menjadi doktrin dan dogma yang harus diimani. “Merasa benar itu hukumnya ‘haram’,” ungkapnya. Tidak ada yang absolut. Semua bisa –bisa saja. Lesbian bertakwa, Pezina berhati baik, semua bebas-bebas saja. Mendukung kesalahan sama dengan mendukung kebenaran, karena begitu menyenangkan semua pihak, kecuali pemegang teguh kebenaran.

Baik, buruk, semua sama!. Boleh disampaikan. Melarang menyampaikan yang buruk adalah ‘dosa besar’. Semua orang menyalahinya, katanya “Tidak menghargai kebebasan berpendapat”. Semua bebas berpendapat. Semua sama, tidak ada otoritas. Yang benar sama baiknya dengan yang salah. Eh ternyata salah, yang benar malahan jadi buruk.

Nyatanya, terjadi kontradiksi. Kalau bilang semua pendapat benar, berarti Ia harus mendukung pendapat yang bersebrangan. Tapi nyatanya, Ia menyalahkan. Bebas, tapi bebas yang sesuai pendapatnya saja. Kata Noam Chomsky “Jika anda percaya pada kebebasan berbicara, anda percaya pada kebebasan berbicara untuk mendukung pendapat yang tidak anda sukai”. (If you’re in favor of freedom of speech, that means you’re in favor of freedom of speech precisely for views you despise)

Kalau berbicara atas nama moral, keadilan, norma masyarakat itu sah-sah saja.Tapi kalau bawa-bawa agama, dilarang. Menolak penampilan artis luar negeri atas dasar norma dan adat itu halal, tapi kalau menolak karena larangan Tuhan itu haram. Agama di haramkan oleh para penganut kebebasan ini. Bebas berbicara apa saja,asal jangan –jangan bawa agama. “Sorry, if you talk about religion, I’am quit! Because it’s about privat, not public”.

Barat memang seperti itu. Teriak bebas berbicara, tapi melarang Dr. Yusuf Qaradhawi (ulama Islam) berbicara di beberapa Negaranya. Termasuk melarang menghina negaranya. Ini artinya sebebas-bebasnya berbicara, dibatasi oleh aturan dan norma-norma yang ada. Tidak ada yang bebas mutlak. Tidak pernah terbayangkan, seorang menghina orang tuanya, atau seorang panglima tentara bebas merobohkan pangkalan dan membunuh anak buahnya.

Mengutip pernyataan Dr. Hamid Fahmy, “Hakim Mahkamah Agung Amerika Serikat, Oliver Wendell Holmes Jr. Ia menyatakan bahwa proteksi terhadap kebebasan berbicara yang paling ketat sekalipun tidak dapat melindungi seseorang yang bohong berteriak kebakaran dalam sebuah gedung bioskop dan mengakibatkan kepanikan. Dalam bahasa agama, orang bisa melindungi kebebasan bicara tapi tidak bisa melindungi kebebasanmenghina agama.

Juga kata H. S. Mill, tentunya kebebasan tersebut kebebasan yang bertanggung jawab yang diatur oleh hukum. Ini berarti sejak awal sudah ada kesadaran bahwa sebesar apapun hak kebebasan oranguntuk berbicara, ia akan dibatasi kebebasan orang lain. Kebebasan tidak boleh menghina, merendahkan, melecehkan, menyudutkan ras, agama dan kepercayaan lain juga tidak boleh merusak kehormatan atau melukai perasaan orang lain.”

Lucunya, menghina orang tua tidak boleh, tapi menghina Tuhan boleh. Menghina agama boleh bersuara. “Kita dengar dulu, dia ingin berbicara,” katanya. “Biarkan dia diskusi dong!”. Alkisah Muntazar al-Zaidi yang melempar George W Bush dengan sepatu ternyata di Penjara. Tapi yang bebas berbicara membenarkan yang salah itu bebas berkeliaran. Menghina presiden di tangkap, tapi menghina Tuhan didukung dengan dalih kebebasan. Bahkan ada yang sampai membunuh Tuhan. Membunuh manusia saja, dianggap kejahatan luar biasa, apalagi membunuh Tuhan?. Setiap orang berhak berbicara. Doktrin postmodern membuat jutaan orang taqlid.

Ternyata memang, kebenaran di Barat selalu berubah-ubah. Milton pernah membuat brosur yang dianggap liar, tidak bertanggung jawab, dan illegal. Tapi argumennya, itu adalah kebebasan berpendapat individu. Tambahnya, yang membentuk benar salah, khususunya standar kebenaran adalah gabungan pendapat individu. Setiap individu bebas menemukan kebenaran masing-masing. Masalahnya, standar kebenaran ditentukan mayoritas, tapi juga tergantung pada individu masing-masing. Kebenaran yang bersumber dari Tuhan jadi bias

Dilarang ada pemaksaan pendapat, semua benar, atas nama apapun, di manapun, atas nama individu atau institusi, termasuk atas nama kebenaran. Tidak boleh! Kebenaran sama benarnya dengan yang salah. Lho? Jadinya kalau semua benar, artinya tidak ada kebenaran!.

Tetapi ada pengecualian, khusus bagi pengusung ide kebebasan ini, mereka boleh melakukan pemaksaan kehendak, pendapat, juga pensitaan. Lihat saja, media-media , majalah, televisi, online, sah-sah saja untuk memaksakan pendapat. Kalau individu, dihabisi atas nama kebebasan. Kalau institusi harus dibubarkan, karena tidak sejalan dengan pemikirannya. Karena kebenaran itu absolute, yaitu kebebasan itu sendiri.

Semua sepakat. Yang menentang diteriaki ‘tirani minoritas’. Bagi para pengambil keuntungan, tukang bicara agama tanpa ilmu, tentunya, kebenaran tentang kebebasan ini sangat menggiurkan. Enak memang, bilang “itu kan budaya arab saja”. Bongkar sana sini prinsip agama. Merobohkan bangunan agama, Enak memang, bisa berteriak tentang keyakinan, tanpa khawatir mendapat pertentangan karena memegang teguh kebenaran. Memang nikmat, bersembunyi di balik kebebasan.

Lesbianisme dan Homo, atas nama kebebasan itu boleh dilakukan. Tidak perlu lagi malu, takut, malah bangga, berkeliling Negara mempromosikan. Hanya Tuhan yang absolute benar katanya, kalau Anda relatif. Awalnya hanya ottologi (wujud ) Tuhan. Dengan meyakinkan berteriak, ‘Hanya Tuhan saja yang berhak menghakimi’, sambil dirinya menghakimi Tuhan. Niatnya, hanya dalam ontologi. Tapi, karena nggak konsisten, Epistemologi di bawa-bawa.

Hadits yang dari nabi, dianggap relatif. Ayat-ayat Qur’an pun dianggap relatif, karena yang absolut hanya Tuhan. Padahal Tuhannya bilang, kebenaran itu dari Tuhan, bukan bilang kebenaran itu pada Tuhan. Artinya Kebenaran itu wujud dan eksis ada diberikan oleh Tuhan di tengah-tengah manusia.

Kata Thomas F Wall, dalam Thinking about Philosophica , “Kalau meyakini kebenran absolut dari Tuhan berarti bawhwa nilai-nilai moral yang mulapun berasal dari Tuhan”. Kalau ada yang bilang moral itu hasil kesepakatan manusia, tentu ia tidak percaya pada yang mutlak dan absolut. Anda benar saya benar semua yang berbicara benar artinya tidak yakin bahwa Tuhan itu mutlak dan absolut, kebenaran itu dari Tuhan.

Sekarang, Tuhan harus ngikut manusia. Ia tidak boleh menjadi tiran, namun sejatinya, para pengusung kebebasan yang sebenarnya menjadi tiran. Tuhan tidak boleh ikut campur, “Bagi yang tidak setuju, sudah diam saja dirumah,tidak perlu tidak perlu urusi urusan kami, cukup diam!” geramnya, sambil menyuruh diam kebenaran.

Kalau Tuhan melarang lesbi dan homo, tapi bagi mereka, Tuhan dilarang melarang orang yang ingin menyebarkan aturan yang Tuhan larang. Kalau kata Tuhan dilarang pornoaksi dan pornografi, maka Tuhan dilarang mengatur-atur tentang hal ini. Kalau Tuhan melarang zina, maka Tuhan dilarang melarang orang yang berzina, karena katanya ini urusan privats. “Sstt, Anda diam saja Tuhan!”. Ia tidak sadar, bahwa dengan dalih kebebasan, Ia telah menjadi ‘Tiran’ sejati. Mengerikan. Tirani Kebenaran!