Archive for January, 2011

Apakah Muhammad mengarang Qur’an (part 1)

Kemungkinan ini adalah yang paling sering dituduhkan kepada al Qur’an. Tentu saja karena memang nabi Muhammad adalah orang yang menyampaikan al Qur’an. Namun bila kita memperhatikan isi al Qur’an ada beberapa hal yang membuat al Qur’an mustahil berasal dari Muhammad.

Gaya bahasa yang berbeda
Apabila kita membandingkan hadits-hadits dengan ayat-ayat al Qur’an maka tidak akan dijumpai adanya kemiripan dari segi gaya bahasa (uslub), padahal keduanya berasal dari orang yang sama. Akan tetapi, keduanya berbeda dari segi gaya bahasanya. Seringkali Muhammad membacakan al Qur’an dan sesaat setelahnya menjelaskannya dengan hadits. Para sahabat akan dengan mudah membedakan mana yang al Qur’an dan mana yang hadits karena masing-masing memiliki gaya bahasanya tersendiri.

Memang bisa saja ada orang bersandiwara dengan menggunakan dua gaya bahasa yang berbeda dalam pembicaraannya, namun bila dilakukan dengan frekuensi yang tinggi pastilah akan banyak kemiripan di antara gaya bahasa yang satu dengan gaya bahasa yang lain. Sedangkan pada al Qur’an dan hadits tidak ditemukan hal yang demikian. Bahkan dengan gaya bahasa orang Arab kebanyakan pun al Qur’an tidak memiliki kemiripan.

Fase lengkapnya al Qur’an
Semenjak turun pertama kali sampai al Qur’an itu lengkap menghabiskan waktu sekitar dua puluh tiga tahun, waktu yang cukup lama untuk menyusun sebuah buku. Manusia pada umumnya mengalami perubahan mental. Kadang ada fase ia gembira atau sedih. Al Qur’an disampaikan dalam berbagai situasi, peristiwa dan kejadian. Tentunya kondisi ini akan mempengaruhi kualitas dari al Qur’an. Tetapi al Qur’an tidak berubah mengikuti kondisi muhammad. Kalaulah mengikuti kondisi muhammad pastilah di sana akan banyak terjadi pertentangan.

Susunan Al Qur’an tidak mengikuti urutan turunnya. Namun kita bisa merasakan dengan jelas al Qur’an merupakan ungkapan yang mengalir antara satu dengan ayat lainnya. Ayat-ayat tersebut saling berkait dalam satu kesatuan serta tersusun secara rapi dan harmonis seperti telah direncanakan susunannya seperti itu jauh sebelumnya.

Muhammad seorang yang buta huruf
Bila ditilik sejarah hidupnya Muhammad sama sekali tidak pernah sempat bersekolah. Sejak kecil telah ditinggal orang tuanya. Sempat menjadi penggembala kambing lalu ikut menjadi pedagang. Pekerjaan berdagang saat itu tidak memakan waktu singkat. Dari satu negeri ke negeri lain menggunakan unta bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan.

Di sisi lain, buta huruf bukanlah sesuatu yang aib saat itu. Hafalan menjadi kebanggaan. Seorang penyair yang ketahuan menuliskan syair-syairnya akan dicemooh lemah hafalan. Penghargaan mereka terhadap kekuatan hafalan terus berlanjut sehingga dijadikan kriteria dalam periwayatan hadits.

Bila dikaitkan dengan al Qur’an, al Qur’an telah membahas berbagai aspek, baik masalah agama, ekonomi, politik, sosial, budaya, peradilan, bahkan mengenai alam semesta. Hal ini menunjukkan pembuatnya menguasai berbagai bidang keilmuan secara mendalam. Apakah Muhammad yang buta huruf dan tidak bersekolah memahami setiap perkara secara mendalam lalu dengan mudah mengkompilasikannya dalam al Qur’an.

Altruisme dan pengorbanan Muhammad
Ada banyak kisah yang menunjukkan kebaikan Muhammad yang tinggi. Pernah suatu ketika selendang beliau ditarik dari belakang. Lalu orang tersebut menyatakan ingin selendang tersebut. Lalu Muhammad memberikan selendang itu. Di lain waktu Muhammad juga pernah menjenguk seseorang yang sangat membencinya ketika orang tersebut sakit. Padahal teman-temannya sendiri belum ada yang menjenguknya.

Di sisi lain ada banyak kisah yang menunjukkan pengorbanan Muhammad terhadap agamanya. Muhammad adalah seorang pedagang kaya sebelum menjadi nabi. Setelah menjadi nabi kekayaannya habis untuk berdakwah. Ia pun harus menerima perlakuan buruk dari kaumnya. Bahkan pada masa pemboikotan Muhammad sampai memakan sendalnya yang terbuat dari kulit unta. Pada akhir hayatnya nabi Muhammad tidak mewariskan apapun kepada keluarganya.

Alangkah sulit membayangkan orang yang berbohong atas nama tuhan dengan membuat al Qur’an melakukan banyak kebaikan dan pengorbanan. Mengapa tidak mengaku saja bahwa al Qur’an itu buatannya sendiri jikalau ia memang orang baik-baik yang memperjuangkan kebaikan versinya sendiri.

Kritik terhadap Muhammad
Di dalam al Qur’an terdapat beberapa ayat yang mengkritik ketidaktepatan tindakan Muhammad. Seperti pada ayat-ayat berikut:

“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, Karena Telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), Atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, Maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), Sedang ia takut kepada (Allah), Maka kamu mengabaikannya.” [TQS Abasa: 1-10]

Atau
“Tidak patut, bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar Karena tebusan yang kamu ambil.” [TQS al Anfal: 67-68]

Atau
Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Qur’an Karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila kami Telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, Sesungguhnya atas tanggungan kamilah penjelasannya. [TQS al Qiyamah: 16-19]

Jika memang Muhammad yang membuat al Qur’an tidaklah masuk akal bila ia mengkritik diri sendiri atas keputusan yang ia telah ambil lalu mengabadikannya dalam al Qur’an.

Hanya yang perlu diperhatikan bahwa yang dikritik al Qur’an adalah ketidaktepatan pemilihan sikap yang diambil oleh nabi Muhammad bukan kesalahan yang berhukum haram karena nabi Muhammad tidak pernah melakukan dosa (maksum). Apa salahnya berdakwah ke pembesar Quraisy? Bukankah beliau diperintahkan berdakwah kepada siapapun. Hanya saja ketika ada orang yang bersedia didakwahi tentunya tidak tepat apabila tidak mendahulukan orang yang bersedia. Perkara-perkara seperti itu disebut khilaful aula (menyelisihi yang terbaik)

Tertundanya jawaban
Kita seringkali menjumpai kondisi di mana Muhammad ditanyai sahabatnya mengenai satu perkara atau ada suatu peristiwa yang perlu dikomentari segera. Tetapi tidak semuanya langsung beliau jawab, ada pula yang ditunda.

Bahkan pernah suatu ketika beliau ditegur oleh Allah dalam al Qur’an karena menjanjikan jawaban atas pertanyaan seorang sahabat keesokan harinya.

Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya Aku akan mengerjakan Ini besok pagi, Kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”. dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan Katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini”. [TQS al Kahfi: 23-24]

Menurut sebuah riwayat, ada beberapa orang Quraisy bertanya kepada nabi Muhammad saw. tentang roh, kisah ashhabul kahfi (penghuni gua) dan kisah Dzulqarnain, lalu beliau menyuruh mereka datang besok pagi kepadaya agar beliau ceritakan. Saat itu beliau tidak mengucapkan Insya Allah (artinya: jika Allah menghendaki). Tetapi sampai beberapa hari wahyu tidak pula datang untuk menceritakan hal-hal tersebut dan nabi tidak dapat menjawabnya. Maka turunlah ayat 23-24 di atas, sebagai pelajaran kepada Nabi. Jika saja beliau yang membuat al Qur’an, untuk apa beliau menangguhkan jawabannya beberapa saat.

-Islam menjawab tuduhan
-notes fb Irfan habibie

Advertisements

Bagaimana Kita mengetahui Quran berasal dari Tuhan

Oleh : Irfan Habibie
Ini adalah pertanyaan penting kedua setelah pertanyaan apakah al Qur’an otentik. Pertanyaan apakah al Qur’an otentik baru menjawab apakah al Qur’an yang kita pegang sekarang sama dengan al Qur’an pada jaman nabi Muhammad. Kita tetap membutuhkan bukti al Qur’an berasal dari sang pencipta alam.

Ada dua cara membuktikan al Qur’an berasal dari sang pencipta. Pertama, melalui kemukjizatan al Qur’an. Kemukjizatan al Qur’an akan menunjukkan bahwa pembuatnya menguasai alam semesta sehingga tidak mungkin ada manusia yang membuatnya (insyaAllah dibahas pada artikel berikutnya). Kedua, melalui pembuktian rasional deduktif.

Pembahasan rasional deduktif ini dilakukan dengan mengumpulkan semua kemungkinan logis dari mana asal al Qur’an. Secara sederhana dengan mempertimbangkan sejarah, karena al Qur’an disampaikan oleh Muhammad maka kemungkinan yang logis adalah yang berkisar di seputar Muhammad. Kemungkinannya saya bagi menjadi tiga. Pertama, al Qur’an dibuat oleh Muhammad dengan idenya sendiri. Kedua, Muhammad “nyontek”. Dua kemungkinan ini berarti manusia yang membuatnya. Setidaknya dua kemungkinan ini juga yang dituduhkan para orientalis kepada al Qur’an. Ketiga, al Qur’an berasal dari sang pencipta sedangkan Muhammad hanya sekadar penyampai saja.

Walau terlihat logis, kemungkinan pertama dan kedua adalah kemungkinan yang sulit diterima bila dikaitkan dengan apa yang disampaikan dalam al Qur’an sendiri. Al Qur’an berkali-kali telah menantang siapapun yang meragukannya. Saat itu, tantangan ini khususnya ditujukan kepada musuh-musuh Muhammad.

Ataukah mereka mengatakan: “Dia (Muhammad) membuat-buatnya”. Sebenarnya mereka tidak beriman. Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al Qur’an itu jika mereka orang-orang yang benar. [TQS Ath Thur 33-34]

Tantangan kemudian diturunkan menjadi sepuluh surat saja.

Bahkan mereka mengatakan: “Muhammad Telah membuat-buat Al Qur’an itu”, Katakanlah: “(Kalau demikian), Maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar”. [TQS Hud: 13]

Akhirnya tantangan tersebut diturunkan hingga satu surat saja.

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. [TQS Al Baqarah: 23]

Tantangan ini tidak sanggup mereka penuhi. Alih-alih membuat yang serupa mereka lebih memilih cara kekerasan kepada para pengikut Muhammad. Padahal cara paling jitu dalam menghentikan dakwah Muhammad adalah dengan membuat yang serupa dengan al Qur’an. Atau cukup dengan membuat satu surat terpendek saja yaitu al Kautsar yang hanya terdiri dari tiga ayat.

Bila memang al Qur’an ini buatan Muhammad atau ada karya manusia lainnya yang dicontek Muhammad maka seharusnya al Qur’an dapat ditiru dengan mudah. Kalau kita bandingkan dengan sebuah lagu misalnya ada sebuah lagu beraliran jazz. Maka seharusnya membuat yang serupa seharusnya mudah karena telah ada polanya. Bahkan tidak mustahil dapat dibuat sebuah karya beraliran jazz yang lebih indah. Kita bisa lihat juga saat ini ketika laris musik beraliran pop-melayu, ramai-ramailah lagu beraliran pop-melayu muncul.

Bila seluruh penentang Muhammad tidak bisa membuat yang serupa, pertanyaannya mengapa Muhammad mampu?

Al Qur’an juga telah menantang mereka yang ragu dengan tantangan yang lain, yaitu tantangan untuk mencari kontradiksi dalam al Qur’an. Karena seandainya al Qur’an ini buatan Muhammad, seorang manusia biasa, pasti akan banyak pertentangan dan kekurangan di dalamnya sebagaimana buatan manusia yang lain.

“Tidakkah mereka itu memikirkan Al-Qur’an? Seandainya Al Qur’an itu tidak dari Allah, maka mereka akan menemukan banyak pertentangan di dalamnya.” (TQS an Nisa: 82)

Kekuatan al Qur’an yang tak dapat ditiru inilah yang menyebabkan Abu Dzar Al Ghifari, Umar bin Khatab, serta para sahabat lainnya masuk Islam. Kekuatan al Qur’an tersebut juga yang telah membuat para pembesar Quraisy musuh Muhammad harus sembunyi-sembunyi mendengarkannya sampai berulang kali.

Sherlock Holmes, dalam The Adventure of the Blanched Soldier, mengatakan “When you have eliminated all which is impossible, then whatever remains, however improbable, must be the truth.” (ketika engkau telah menghilangkan segala hal yang mustahil, maka apa pun yang tersisa, betapa pun sulit dipercaya, adalah kebenaran).

Setelah semua kemungkinan lainnya mustahil maka kita harus percaya, mau atau tidak, bahwa Allah lah yang membuat al Qur’an. Dan Dia lah tuhan yang esa, Pencipta alam semesta ini.

“Dan Sesungguhnya Al Quran Ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta Alam, Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), Ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, Dengan bahasa Arab yang jelas.” [TQS. as Syu’ara: 192-197]

والله أعلم

Keberadaan Tuhan berdasarkan Argumen Penciptaan

Argumen penciptaan atau lebih dikenal dengan cosmological argument adalah argumen klasik yang dalam sejarah dikembangkan banyak pihak baik Kristen atau Islam. Selain argumen penciptaan, ada argumen lain yang cukup terkenal seperti argumen desain (atau dalam dunia filsafat dikenal dengan istilan teleological argument)

Premis pertama

Ada beberapa jenis premis pertama yang saya temukan.

1. Bahwa segala sesuatu yang ada sekarang adalah wujud yang ‘mungkin’, wujud yang ‘mungkin’ membutuhkan wujud yang ‘mutlak’. Contoh antara kita dan orang tua kita. kita adalah wujud yang mungkin sedang orang tua kita adalah wujud mutlak. Kita sebagai wujud mungkin, tidak harus ada meskipun orang tua ada. Tapi kalau kita ada, maka pasti ada orang tua. Kalau dirunut terus orang tua itu juga merupakan wujud mungkin terhadap kakek dan nenek kita. Terus begitu dan begitu pula alam semesta kita.
2. Setiap yang memiliki permulaan memiliki sebab. Apapun yang kita indera yang memiliki permulaan pasti ada sebabnya. sudah tidak bisa kita pungkiri di dunia ini ada hukum sebab akibat. Hanya saja hukum ini sebenarnya berlaku lebih spesifik pada sesuatu yang memiliki permulaan. Alam semesta ini memiliki permulaan karena itu alam semesta ini memiliki sebab.
3. Segala realitas yang kita dapat indera, ternyata terbatas sehingga tergantung pada yang lain. Agar saya bisa hidup maka saya bergantung pada yang lain, tidak ada orang yang tidak bergantung pada yang lain. Manusia butuh oksigen, oksigen dihasilkan tumbuhan, tumbuhan butuh air, air berasar dari hujan, hujan butuh penguapan, dst. Semuanya terbatas sehingga semuanya saling menggantungkan diri. Nah tapi tidak akan ada yang eksis, bila tidak ada sesuatu yang tidak bergantung pada apapun lebih dahulu. Sesuatu yang tak terbatas ini yang memulai siklus saling bergantung itu. Tidak mungkin close loop. Kalau A bergantung pada B dan B bergantung pada C sedang C bergantung pada A. Maka loop ini tidak akan pernah dimulai. Pada mulanya tidak ada apa-apa karena untuk eksis setiap entitas bergantung pada yang lain.

Premis kedua

Argumen penciptaan ini berkaitan dengan penciptaan alam semesta pertama kali. Walau ini argumen kedua tapi ini adalah argumen kunci. Kalau kita gunakan argumen wujud mungkin dan mutlak, pertanyaannya kan mengapa tidak terus ada atau abadi. Mekanisme mungkin mutlak ini terus berlanjut tanpa ada awal dan mungkin tanpa ada akhir. Pemikiran ini menganggap alam semesta itu abadi sehingga tidak perlu ada tuhan. Tapi benarkah alam semesta itu abadi?

Inti alam semesta abadi ada kaitannya dengan konsep “tak terhingga” atau “infinity”. “Tak terhingga” memang dipakai dalam dunia matematika , namun hanya dalam tataran konsep atau pendekatan tapi tidak benar-benar nyata. Pada dunia nyata yang bisa kita indera, tidak ada yang tak terhingga. Kalau dengan cara ketiga di premis pertama kita tahu semua hal itu terbatas dan kumpulan sesuatu yang terbatas itu tetap terbatas. Meski sangat banyak, pasir di pantai sebenarnya jumlahnya terbatas.

Dalam kaitannya dengan penciptaan alam semesta pertama kali, saya harus membuktikan bahwa masa lampau itu terbatas dan karenanya tidak abadi. Saya akan memulainya dengan contoh. misalnya Anda adalah seorang tentara yang sedang berlatih menembak. Anda hanya baru boleh menembak setelah orang disebelah Anda menembak. Dan orang disebelanya itu hanya boleh menembak setelah orang sebelahnya lagi menembak. Begitu seterusnya. Dan tentara yang ada jumlahnya tak terhingga. Pertanyaannya apakah Anda akan pernah menembak. Jawabannya tidak.

Begitu pula dengan alam semesta ini. Jika masa lalu itu tak terhingga akankah alam semesta bisa ada saat ini? Karena alam semesta ini ada saat ini maka garis waktu ke masa lampau harus berhenti pada suatu titik.

Kesimpulan

Sampai di sini kesimpulan adalah ada “satu sebab yang tidak memiliki awal dan akhir tempat bergantung segala sesuatu”. Apakah ini tuhan? Saya belum bisa bicara banyak. Menurut saya kunci apakah itu tuhan atau bukan adalah adanya kehendak. Kehendak ini menunjukkan adanya personalitas bukan sesuatu yang mekanistis.

Anggap big bang adalah awal dari alam semesta. Awal mula big bang adalah kondisi kuantum vakum di mana ada massa sangat besar dengan volume sangat kecil hampir tidak ada apa2. Nah ini artinya kepadatannya sangat besar. Pertanyaanya mengapa konsidi tersebut tidak terus berlangsung seperti itu saja. Mengapa harus terjadi big bang?

Kalau air berada dalam suhu nol derajat dengan tekanan normal maka dia akan terus dalam kondisi berupa es. Es ini hanya akan berubah menjadi air atau uap bila ada yang mengubah kondisi. Beginilah hukum fisika untuk perubahan wujud zat. Namun hukum tersebut tidak membuat es jadi air lalu jadi uap, perlu ada yang menaikkan temperatur. Perubahan pada alam semesta memang mengikuti hukum-hukum fisika, tapi hukum fisika bukanlah sebab dari alam semesta. Perubahan kondisi inilah mengindikasikan adanya kehendak.

Sampai di sini kita dapat menyimpulkan bahwa Zat yang merupakan sebab pertama dari semua entitas, yang tidak memiliki awal dan akhir dan menjadi tempat tergantung semuanya, ternyata memiliki kehendak. Pada kondisi ini saya berani bilang, Zat ini adalah Tuhan.

“Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.” (Al Ikhlas: 2)

Allahu’alam[]

http://www.facebook.com/?ref=home#!/note.php?note_id=492442757584

Refleksi akhir-awal tahun

Dar der dor
Hari berganti hari
Bulan berganti bulan
Tahun berganti tahun

Gugur beberapa orang
Uang-uang terbakar terbang dilangit
Sedangkan aku memikirkan anak-anakku makan apa esok

Gugur bertambah banyak manusia
Uang-uang bertebaran dijalan
Sedangkan aku sudah ditagih biaya kontrakkan

Gugur , lagi-lagi beberapa orang
Uang-uang menguap sia-sia
Sedangkan aku masih dipengungsian

Gugur, kali ini aku yang gugur
Kali ini bukan uang
Waktuku menguap begitu cepat
padahal ia tak bisa mundur
namun aku tidak berubah

gugur, kali ini aku yang gugur
kali ini bukan waktu
tapi amalku
namun ia tak bertambah

namun harapan itu masih terus mengiringi
terus menemani
hingga kami bangki kembali
dan keguguran itu gugur dengan sendirinya