Surat Cinta untuk seorang Akhwat


Sungguh waktu berlalu cepat sekali
Kepada engkau yang sangat ku cintai.
Sesekali raut wajahmu kuintip
Tidak terasa, garis dipipi itu semakin terlihat jelas
Masih ingat beberapa waktu lalu engkau selalu membacakan cerita untukku…ah aku lupa masa-masa itu
Masa-masa ketika aku sering dimarahimu karena sering sekali bermain keluar rumah
Masa-masa ketika engkau mengantarkanku ke sana-kemari
Masa-masa engkau selalu berdua dengan romatisnya bersama dia
Walau sekarang dia sudah dahulu meninggalkan kita

Sungguh waktu berlalu cepat sekali
ku rindu, saat engkau membangunkan malam2 , memercikan air kewajah kami
ku rindu berjalan berdua seharian, memilihkan makanan untuk kita masak, memilihkan jilbab yang engkau pakai, mencari buku-buku yang sangat kita cintai

Kepada engkau wanita yang hebat
Engkau yang selalu mengatakan “ Dulu aku selalu berdua bersama dia kemanapun”
Kepada engkau yang berjuang sendiri membesarkan putra-putrimu
Maafkan aku yang mungkin hanya menyusahkanmu, meninggalkanmu berdua dirumah dengan adikku

Kepada engkau pahlawan tanpa tanda jasa
Seorang guru, murobbi, dan pendidik yang menghabiskan waktu dijalanNya

Kepada engkau yang selalu sabar
Tidak salah Allah memilihkan engkau untuk dia
Engkau yang menemani satu bulan di rumah sakit
Sampai dia mengucapkan kalimat syahadat di akhir hayatnya

Demi Allah ,bisa jadi hanya kepada engkau birrul waliadain setelah ia meninggalkan kita

Kepada engkau yang tidak bosan bosan mengucapkan ditelepon “Jangan lupa shalat malam dan dhua”
Maafkan kami , aku yang selalu lalai..atas nasihatmu
Kepada engkau yang selalu terlihat menahan air mata saat aku pergi meninggalkanmu berjuang dijalan-Nya
Relakanlah dan hapuslah air mata
Selalu kuharap rangkaian doa malammu dan suara ditelfonmu
Yang iringi langkahku, menuju jalan yang panjang ini
Kepada engkau yang mungkin setiap malam tersujud mendoakan kami
Maafkan kami yang mungkin selalu tertidur , tertidur pulas
Kepada engkau yang selalu mengingatkan agar mendoakan dia
Maafkan kami yang selalu lupa, dengan kesibukan kami ini
Kepada engkau yang selalu mendoakan agar kami menjadi anak yang soleh
Maaf kan kami masih jauh dari harapanmu

Kepada engkau yang selalu merindukan dan tersenyum ketika kami pulang
Maafkan kami karena harus buru-buru pergi meninggalkanmu, karena alasan kesibukan.reuni, tugas,amanah,dakwah dan sebagainya..padahal salah satu utamanya amal berbakti kepadamu

Mungkin bukan karena doaku aku berada disni
Mungkin karena doamu yang dikirimkan disana
Mungkin bukan karena amal kita kepada orang lain yang menjadikan doa kita terkabul
Mungkin karena amal-amal baik kami kepada engkau , Allah mengabulkan doa kita, seperti kasus hadits nabi laki-laki yang akhirnya dapat keluarg gua karena amalnya kepada orang tuanya
Semoga selalu ridha dengan aku, bukankah Allah telah memberitakan melalui Muhammad
Dari Abdillah bin Amr bin Ash Radhiyallahu ‘anhuma dikatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ridla Allah tergantung kpd keridlaan orang tua dan murka Allah tergantung kpd kemurkaan orang tua” [HR Bukhari]
Bagi yang semangat jihad sangat tinggi, sungguh rasul bersabda
“Aku berta kpd Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang amal-amal yg paling utama dan dicintai Allah ? Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, Pertama shalat pada waktunya, kedua berbakti kpd kedua orang tua, ketiga jihad di jalan Allah” [HR Bukhari]
Jika jihad saja kami tetap harus tetap menunggu izinmu,dan ridho mu, apalagi alas an-alasan lain, tugas, kesibukan, dll
Demi Allah kita tidak akan dapat membalas jasanya yang setimpal
Teringat Imam Bukhari menyebutkan bahwa ketika sahabat Abdullah bin Umar melihat seorang menggendong ibu untuk tawaf di Ka’bah dan ke mana saja ‘Si Ibu’ menginginkan, orang tersebut bertanya kpd, “Wahai Abdullah bin Umar, dgn peruntukanku ini apakah aku sudah membalas jasa ibuku.?” Jawab Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma, “Belum, setetespun engkau belum dapat membalas kebaikan kedua orang tuamu”

Sungguh, orang tua kita mungkin tidak akan pernah berharap banyak kepada kita untuk membalas budi dan jasa mereka selain cukup dengan melihat kita bahagia maka mereka akan merasakan kebahagiaan
Orang tua mungkin tidak akan pernah berharap materi dari anaknya yang sukses. Cukup dengan melihat kita sehat maka hati mereka akan tenteram dan jujur saja, ketika kita dihubungi, pertanyaan yang keluar adalah apakah sehat?

Banyak ungkapan dibalik kesuksesan seseoang, ada dua orang wanita dibaliknya

Aku berbahagia, masih memilikimu, wanita yang dengan sabar menyapihku, mengajariku pentingnya kegigihan. Mengajariku pentignya proses pendidikan dan pembinaan, ,mengajariku agar selalu bersabar, mengajariku bagaimana ketegaran berada diatas jalanNya, mengajariku agar selalu dekat dengan-Nya, mengajariku tentang kehidupan, mengajariku bagaimana hidup susah, mengajariku hidup selalu tersenyum dan menatap kedepan…..
Sungguh aku mencitaimu….
Ana uhibbuka fillah ya umi
Semoga cinta Allah selalu terlimpah untukmu
teruntuk sosok luar biasa, majelis tarbiyah pertama kami
: tulisan ini dibuat ketika penulis teringat tanggal 22 Des adalah hari Ibu,sekedar refleksi … walau sebenarnya tidak perlu ada hari khusus untuk menyatakan birrul walidain kita kepada ibu, karena sudah kewajiban kita berbakti kepadanya….

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: