Yuk , Shalat Sunnah Ba’da Ashar


Pada suatu hari, ada seorang teman^^ menuliskan tentang apakah dia perlu melarang orang yang kedapatan shalat sehabis ashar.Adakah shalat sunnah setelah shalat ashar. Mungkin sebagian kita mengetahui bahwa ada larangan shalat setelah ashar, saat itu saya menjawab bahwa mungkin itu qadha ba’da zuhur/ atau shalat sunnah sebelum ashar. Namun sambil saya mencari referensi, ternyata ada sesuatu yang menarik,

Saya menemukan dalam satu buku, tetang pembahasan ini, juga dari beberapa sumber di internet.Hendaknya kita membiasakan sunnah-sunnah rasul ,ketika pada isya, rasul memberi keringanan agar tidak memberatkan umatnya , maka bolehnya diawal waktu, juga ba’da ashar ini,rasul memberikan keringanan, sekiranya tidak meberatkan umatnya.Coba kita lihat hadits,dan juga pendapat dan penjelasan para ulama tentang hal ini

Larangan Shalat setelah Ashar??

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam melarang dua macam shalat : Shalat ba’da Shubuh hingga terbit matahari dan shalat ba’da ‘Ashar hingga terbenamnya matahari” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari ‘Amr bin ‘Abasah radliyallaahu ‘anhu, bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda : “…..Jika bayangan telah condong (waktu zawal), maka kerjakanlah shalat, karena shalat pada waktu itu disaksikan dan dihadiri (oleh para malaikat). Hingga engkau mengerjakan shalat ‘Ashar. Setelah itu, janganlah engkau shalat hingga matahari terbenam. Karena matahari terbenam di antara dua tanduk syaithan. Pada saat itu, orang-orang kafir sujud padanya” (HR. Muslim)

Mengqadha Shalat sebelum Ashar

Dari Ummu Salamah radliyallaahu ‘anhaa ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallham dibuat sibuk atas satu urusan sehingga tidak sempat mengerjakan shalat dua raka’at sebelum ‘Asar. Maka beliau mengerjakannya setelah ‘Ashar” (HR An-Nasa’i hasan shahih)

Shalat dua rakaat ba’da ashar

Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa ia berkata : “Demi Allah, beliau tidak pernah meninggalkan shalat dua raka’at sehingga beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam bertemu dengan Allah, dan beliau tidak bertemu dengan Allah ta’ala hingga beliau merasa berat melakukan shalat. Dan beliau sering melakukan shalatnya dengan duduk, yaitu shalat (sunnah) dua raka’at setelah ‘Ashar dan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam biasa mengerjakan shalat (sunnah) dua raka’at setelah ‘Ashar itu tidak di dalam masjid karena takut akan memberatkan umatnya dan beliau senang terhadap sesuatu yang membuat ringan bagi umatnya” (HR Bukhari nomor 565)

Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak pernah meninggalkan dua raka’at ba’da ‘Ashar di sisiku”.

Dalam riwayat lain :

Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa ia berkata : “Dua shalat yang tidak pernah ditinggalkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam di rumahku dalam keadaan apapun yaitu : Dua raka’at sebelum Fajar/Shubuh dan dua raka’at setelah ‘Ashar” (HR Bukhari 566-567 dan Muslim nomor 835)

Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa ia berkata : “Tidaklah Nabi shallallaahu ‘alaihi wasalam mendatangiku di suatu hari setelah ‘Ashar melainkan beliau mengerjakan shalat dua raka’at” (HR Bukhari 568)

Dari ‘Ali bin Abi Thalib radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Janganlah seseorang shalat setelah ‘Ashar kecuali bila matahari masih putih dan tinggi’ (HR. Ibnu Khuzaimah ,Abu, AnNasai)

Dari hadits-hadits tersebut, kita mendapat pemahaman bahwa ada larangan Nabi saw shalat sunnah setelah ashar, lalu disisi lain nabi pernah mengqadha shalat sunnah ba’da zuhur atau dua rakaat qabla ashar karena kesibukan beliau. Nabi saw juga membiasakan shalat sunnah dua rakaat di rumahnya (sama seperti shalat fajar).Dalam hal ini, shalat sunnah ba’da ashar yang dilakukan nabi, seperti dalam hadits terakhir dilakukan ketia matahari masih putih dan tinggi. Jika sudah redup dan mau terbenam,maka masuk kepada keumuman larangan seperti hadits pertama tentang larangan shalat ashar.Syaikh Albani dalam bukunya Silsilah Hadits Shahih menggambarkan bahwa shalat bada ashar ini adalah sunnah rasul berdasarkan kuatnya dalil-dalil yang menunjukkan

“Saya katakan : Maka termasuk kesalahan yang telah menyebar di kitab-kitab fiqh :larangan (melaksanakan) 2 raka’at (setelah Ashar) ini. dan tidak menyebutkannya di kelompok sunnah rawatib bersamaan dengan tetapnya (shahihnya hadits dalam permasalahan ini),terus-menerusnya beliau –shallallahu’alaihiwasallam – melaksanakan keduanya . Sebagaimana halnya beliau terus menerus /rutinnya melaksanakan 2 raka’at sebelum fajar , dan tidak ada dalil tentang penashakhannya / penghapusannya, dan tidak pula ada dalil yang menunjukkan bahwa ini merupakan khushushiyyah beliau -shallallahu ‘alaihi wasallam- bagaimana? Sementara orang yang paling mengetahuinya (2 raka’at tersebut ) selalu menjaganya ( 2 raka’at tersebut). Yaitu Ummul Mukminin ‘Aa’Isyah – radhiallahu ‘anha- dan orang-orang yang sepakat dengan beliau (‘Aa’Isyah –radhiallahu ‘anha) dari kalangan sahabat dan orang-orang salaf sebagaimana yang telah berlalu”(Syaikh Albani)

Larangan shalat Ba’da Ashar, jika matahari mau tenggelam

Selain itu,shalat sunnah ba’da ashar sudah biasa dilakukan oleh beberapa sahabat nabi.Dan beberapa sahabat pernah melarang, namun dimungkinkan yaitu jika matahari sudah hilang terangya dan tidak saat masih terang.Agar tidak dijadikan oleh orang-orang yang tidak mengetahui. Dan hal ini dikuatkan oleh hadits :

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir Al-Juhani ia berkata : “Ada tiga waktu dimana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam melarang kami untuk melakukan shalat dan menguburkan jenazah : Ketika matahari terbit persis hingga meninggi, ketika matahari tepat di atas kepala hingga tergelincir, dan ketika matahari hampir tenggelam” (HR. Muslim)

Hadits ‘Uqbah bin ‘Amir di atas menegaskan penjelasan larangan shalat ba’da ‘Ashar, yaitu ketika matahari hampir tenggelam (sinarnya sudah tampak kemerahan). Tidak keseluruhan waktu secara mutlak setelah penunaian shalat ‘Ashar. Tentang shalat sunnah ba’da ashar juga sudah menjadi kebiasaan bebeapa sahabat.

Dari Al-Miqdaam bin Syuraih dari ayahnya ia berkata : Aku bertanya kepada ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa tentang shalat sunnah ba’da ‘Ashar. Maka ia menjawab : “Shalatlah. Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam hanya melarang shalat ketika matahari terbit” (Shahih Ibni Hibban nomor 1566)

Perkataan ‘Aisyah bahwa larangan shalat sunnah hanya pada waktu matahari terbit bukanlah pembatasan yang bersifat mutlak. Sebab ia sendiri telah membawakan riwayat adanya pelarangan selain waktu tersebut seperti hadits

Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak pernah meninggalkan shalat sunnah dua raka’at setelah ‘Ashar”. ‘Aisyah berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Janganlah kalian mencari-cari waktu terbit dan terbenamnya matahari lalu mengerjakan shalat pada waktu tersebut” (HR. Muslim nomor 833)

Kesimpulan

Dan didapat kesimpulan bahwa disunnahkan shalat ba’da ashar sebelum langit mulai memerah. Dan inilah pendapat sebagian shahabat seperti : ‘Ali bin Abi Thalib, Az-Zubair, Tamim Ad-Daari, Abu Ayyub, Abu Musa, Zaid bin Khalid Al-Juhhani, Ibnu Zubair, An-Nu’man bin Basyiir, dan Ummu Salamah radliyallaahu ‘anhum. Dari kalangan ulama tabi’in : Al-Aswad, Masruq, Syuraih. Amru bin Maimun, Abdurrahman bin Al-Aswab, ‘Ubaidah, Al-Ahnaf bin Qais, dan Thawus. Ibnu ‘Abdil-Barr menghikayatkan diantara tabi’in yang berpendapat demikian adalah ‘Atha’, Ibnu Juraij, dan ‘Amr bin Dinar rahimahumullah.(Fathul-Baari oleh Ibnu Rajab Al-Hanbaliy, 5/48)

Dan tersimpulkanlah dari apa yang telah lalu bahwa 2 raka’at setelah Ashar adalah merupakan sunnah apabila sholat Ashar dikerjakan bersamanya sebelum menguningnya matahari.Maka wajib untuk kembali kepada sunnah dan 2 raka’at ini tetap di dalam sunnah. . Dengan riwayat Ummul Mukminin, tanpa ada satu dalilpun yang menyelisihinya,kecuali hadits umum yang dikhususkan dengan hadits Ali dan Anas yang di isyaratkan kepada nomornya tadi. Dan tampaknya ini adalah madzhab Ibnu Umar juga . sungguh Al- Bukhori telah meriwayatkan (589) darinya (Ibnu ‘Umar) berkata : “Saya sholat sebagaimana saya melihat teman-teman saya sholat , saya tidak melarang sesorang untuk sholat di malam hari dan tidak pula disiang hari sekehendaknya, selain mereka mengerjakannya ketika terbitnya matahari dan ketika tenggelamnya .”

Dan disini kami perlu mengingatkan Ahlus Sunnah yang semangat untuk menghidupkan sunnah–sunnah dan hendaklah mereka mengerjakan 2 raka’at ini, disetiap mereka melaksanakan sholat Ashar tepat pada waktu yang disyari’atkan, karena perkataan – shallallahu ‘alaihi wasalam – :” Barang siapa yang mencontohkan di dalam Islam satu contoh yang baik maka dia akan mendapat pahala orang yang mengikutinya …..” dan hanya dengan Allahlah taufiq tersebut . (Silsilah Hadits Shahih)

Referensi : http://abul-jauzaa.blogspot.com/

Shahih Fiqhis-Sunnah

Silsilah Hadits Shahih, Syaikh M Nashiruddin Albani

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: