Metode Bepikir Islami


Berpikir dalam Islam

Dalam maka islam memandang berpikir sebagai media untuk mendekatkan diri kepada Allah (kebenaran) .Dengan berpikir,manusia akan memahami posisinya bahwa dia sebagai hamba,dan Allah sebagai Tuhan,sehingga logika-logika seperti ini bisa terus berjalan seiring dengan pemikiran-pemikiran kita.Dengan berpikir,kita menyadari betapa kecilnya kekuasaan kita dan besarnya kekuasaan Tuhan menciptakan Alam raya,dan kita mengetahuinya dari Quran.Banyak sekali ayat dalam Quran yang mengajak untuk berpikir,diri sendiri,alam raya,lingkungan, dan dengan berpikir manusia dapat mengenal kebenaran (al haq),yang kemudian diimani dan dipegan teguh dalam kehidupan

“Hanya orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran” (QS ar Rad: 19)
Logika yang terjadi ,dalam Quran disebutkan bahwa orang-orang yang mendurhakai Allah lah yang disebut “cacat intelektual”.Sebab betapapun mereka berpikir, bahkan ada yang turut membangun peradaban,namun selama proses berpikir tidak mengantarkan mereka terhadap derajat “takwa” ,maka selama itu pula mereka berada dalam possisi “tidak mengerti” atau jika meminjam istilah Quran , “laa yafqahuun,”laa ya’lamuun.”laa ya’qiluun”

Seseorang yang benar-benar memegang keilmiahannya,siap merubah pendirian,sikap,dan kepribadian,bahkan ideologis,sesuai dengan tuntutan dan konsekuensi pengetahuannya.Jika seseorang berusah dengan sungguh-sungguh ,maka seorang (ilmuwan) akan sampai pada konklusi bahwa ilmu apapun( khususnya ilmu empirikal dan eksperimental) yang akan dialami seseorang akan sampai pada kesimpulan bahwa Tuhan itu ada ,dan logisnya hanya ada satu, dan kita memilih Tuhan sebagai sesuatu yang eksis,dan sikap ilmiah sejati tidak hanya berhenti kepada pengakuan pasif,tetapi juga menuntut keberanian menyikapi keyakinan dan mempertahankanya dari stabilitas yang dapat mengganggu eksistensinya

Sumber-sumber Ilmu

Ketika kita sudah memilih Islam,maka Tuhan melalui Quran memberi tahu bahwa ada sumber ilmu untuk mengenalnya dan menamalkannya dalam kehidupan yaitu yang pertama Wahyu dan yang kedua Akal.Wahyu adalah sesuatu yang berasal dari Tuhan dan pasti benar. Secara logika manapun menyataka n bahwa Tuhan tidak mungkin salah,justru cacat logika jika menyatakan bahwa Tuhan itu salah Peryataan seperti itu tidak bahkan tidak pantas disebut pernyataan /sebuah premis, itulah sebabnya orang yang tidak menerima Islam disebut seperti yang sudah tertulis diatas..Sumber-sumber Ilahi dalam Islam yaitu dengan Quran dan Sunnah.Dengan berpikir,manusia dapat mengoperasionalkannya.

Sumber kedua yaitu Akal.Akal sudah memiliki kecenderungan untuk menemukan pengetahuan.Metode-metoe akal dalam menangkap pengetahuan dapat diperoleh dengan melalui indera,dan informasi diteruskan,lalu dengan logika yaitu secara rasional akal dapat menerimanya dengan benar.Seperti mustahilnya Tuhan salah( sangat logis),dan melalui berita yang disampaikan oleh orang lain,dan kebenarannya bergantung kepada narasumber.

Metode Berpikir Islami

Oleh karena itu, berpikir yang dapat dilakukan oleh semua manusia,namun tentu beda jika seorang berpikir seenaknya,dan menyimpulkan kesimpulan yang berbeda-beda,maka akan terjadi kekacauan sikap di dunia ini,Oleh karena itu adanya agama, yang menentuka standar bahwa sesuatu ini benar atau tidak,baik atau tidak,dan tentu bahwa stadar dalam agama Islam ,yaitu tentang berpikir dapat diarahkan dalam kerangka untuk mencapai sasaranya.Sebab diluar kerangka itu manusia akan terperangkap dalam pola pikir lepas kendali.

Wahyu adalah satu-satunya Sumber Aqidah dan Syari’ah

Setiap muslim secara logis menjadikan Al Quran dan sunnah sebagai satu-satunya sumber dalam konsep dan operasional sekaligus,tanpa memilah-milahnya.Al Quran merupakan wahyu dari Allah yang sudah merupakan aksioma dan menjadi prinsip.Jadi dasar kebenaran (al haq) adalah berasal dari Quran dan sunnah.Sehingga produk manusia merupakan sumber sekunder dan sumber Ilahi merupkan sumber utama.Pemikiran baru,filsafat, theology,, dll yang bertentangan dengan Quran dapat secara logis ditolak,sedangkan yang sejalan dapat dikompromikan.

Hubungan Antara Wahyu,Akal dan Metode Interpretasi Rasional

Peran akal sangat berguna untuk menangkap pesan (teks) Ilahi.Setelah metode pertama yang menjadikan wahyu sebagai sumber Aqidah dan Syariah,maka konsekuensi logis bahwa keimanan sebagai prasyarat Islam yaitu mengimani dua alam yaitu alam ghaib (metafisik)dan alam nyata.Spesifikasi alam ghaib ini berada dalam batas ruang dan waktu,sedangkan ruang dan waktu yaitu jalur akal itu sendiri.Sehingga untuk mengetahui sesuatu yang ghaib (Allah,malaikat,jin surga,neraka) kita hanya dapat mengetahui secara jelas dengan teks Ilahi (wahyu),sedangkan dengan akal yang diluar jalur,akan terbatas sekali.Akal berfungsi untuk menerima informasi dari wahyu,memahami,dan “membenarkan”

Atas dasar ini,kebenaran disekitar alam ghaib tidak dapat didiskusikan secara rasional dan menggunakan logika,tetapi kita terima dengan menggunakan wahyu( Quran dan sunnah).Penyimpulan general,penetapan sesuatu dapat dilakukan dengan tidak bertentangan dengan akal dan logika dan juga sejalan dengan wahyu.

Kekeliruan banyak orang yaitu seperti perkembangan ilmu filsafat yaitu mencampuradukkan peran akal terhadap fungsi memahami alam nyata dan alam ghaib yang sebenarnya merupakan diluar jalur kemampuan akal untuk mencerna lebih dalam.Namun,jika lihat secara seksama,akal manusia akan sangat berpotensi sekali jika berada dijalur yang benarnya ,Jika akal selama ini mampu memenemukan teori atom,membuat bom Atom,senjata nuklir,listrik,televisi,pesawat,menjelajah ruang angkasa dan kemampuan mengatur kehidupan manusia,maka dengan metode ini,kita seharsunya langsung mengetahui bahwa keberhasilan akal memang terjadi akrena akal bekerja pada jalurnya secara natural.Namun jika akal memasuki jalur “alam manusia” “alam ketuhanan” berarti ia beroperasi dalam alam yang tak terbatas, dan kabur,akibatnya akal bisa kehilangan orientasi dan menghasilkan konklusi yang berbeda-beda dan juga mungkin keliru

Mencari Kebenaran dengan Sikap Jernih

Sikap objektif diperlukan dalam mencari kebenaran.Ketika seseorang mencari jawaban kebenaran dari wahyu (Al Quran, dan sunnah)yang dilakukan bukan dengan tendensi tertentu,bukan untuk melemahkan pendapat lawan.Hakikat Qurani merupakan sebuah standar untuk menentukan sebuah kebenaran.Teori,falsafah,faham yang sangat banyak akan Nampak kabur tanpa adanya standar kebenaran,dan standar itu dipastika wahyu Ilahi yaitu Quran dan sunnah.
Perjalanan manusia untuk menemukan kebenaran sangatlah lamban,bahkan tidak tahu bahwa sesuatu itu benar atau tidak,maka Quran dan sunnah datang untuk membantu menemukan kebenaran

Kebenaran dalam Al Quran senantiasa parallel

Yang dimaksud disini ialah keharusan membandingkan antara kesimpulan yang didapat dari Quran melalui metode deduktif dengan kebenaran Al Quran yang mutlak.Hal ini didasari bahwa kebenaran Quran tidak mungkin terjadi kontradiksi didalamnya karena berasal dari sumber yang valid yaitu Tuhan.Jika pada kesimpulan ditemukan adanya kekeliruan,maka otomatis kesimpulan ditolak
Ketentuan aksioma yang terjadi ialah bahwa kaum muslimin sudah sepakat,dan secara Ilmiah dapat ditemukan kebenaran pada Quran yaitu:

1. Quran berasal dari Tuhan,kemungkinan –kemungkinan Quran dibuat oleh selain Tuhan secara logis tidak ada yang dapat membuktikannya.Kemungkinan bahwa Quran dibuat oleh muhamad,orang arab,orang luar selain arab,sumber yang majhul malah mebuktikan objek impossible bahwa sesungguhnay hanya keeksisan Tuhan saja yang mampu membuat Quran

2. Quran dijamin oleh Tuhan akan tejaga,artinya Quran merupakan kesatuan yang utuh tidak ada kontradiksi,dan tetap dari dahulu sampai sekarang.Tantangan-tantangan untuk membuat satu ayat/merubah/menambahi Quran tetap berlaku,dan terbukti secara ilmiah Quran yang ada pada zaman dahulu tetap sama dengan Quran zaman sekarang

Kesimpulan

Pertanyaan –pertanyaan tentang Islam mungkin banyak dibenak kita.Contohnya apakah logis Nabi Muhammad membelah bulan?,apakah logis Ibrahim dibakar namun tidak mati? Jika kita memahami dasar-dasar berpikir dengan jalurnya,maka pertanyaan ini akan terjawab dengan mudah.Sangat logis sekali bahwa nabi Muhammad pernah membelah bulan.Dasar berpikirnya ialah, Al Quran berasal dari Tuhan,sehingga logis sekali Tuhan menghendaki Muhammad membelah bulan.Lalu Quran merupakan sumber otentik yang tidak berubah .Sehingga dasar otoritas Tuhan dan otentitas Quran menjadi dasar berpikir.Justru tidak logis jika kita menyatakan bahwa Muhammad tidak bisa membelah bulan,karena itu menyalahi kebenaran (Tuhan).

Dengan sumber-sumber yang ilmiah yaitu Quran dan sunnah akan tetap menjadi hujjah terkuat umat Islam sejak zaman dahulu sampai sekarang.Tantangan-tantangan pemikiran-pemikiran akan terus berdatangan,namun Quran dan sunnah merupakan sumber pemikiran umt Islam.Peradaban berasal dari pemikirann,dan peradaban Islam yang jaya akan kembali selama metode berpikir islami, mendekat kepada Quran dan sunnah dijalankan,bukannya malah terpengaruh corak pemikiran peradaban lain

Referensi : Islam dalam Berbagai Dimensi,Daud Rasyid

Seri : Pemikiran

    • nando
    • January 11th, 2011

    metode berfikir secara rasional ,jika di kaitkan dengan wahyu. seperti apa gambarannya-

    • pertama : Jika wahyu tersebut berasal dai Tuhan, maka sudah pasti benar
      -logiskan Tuhan salah?

      kenyataannya Tuhan tidak mungkin salah –wahyu selalu benar
      – maka secara rasional, kita mengikuti kebenaran tersebut

      -pertanyaanya , wahyu manakah yang benar ? itu kita buktikan saja dengan objektif🙂

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: