Arsitektur , dan Penciptaan Ruang dan Tempat


Arsitektur dan Penciptaan Ruang dan Tempat

Dalam sejarah kota-kota dunia, terlihat bahwa kota selalu berkembang,kota selalu berubah.Ruang-ruang dalam kota yang setiap zaman mengalamai perubahan menjadikan sebuah kota tersebut memiliki fungsi yang beragam,Ada banyak alas an mengapa ruang-ruang tersebut berubah fungsinya. Arsitektur merupakan sebuah ilmu yang beragam,mempelajari bagaimana manusia hidup dalam ruang-ruang tersebut, bagaimana sebuah ruang dapat ditempat manusia, bagaimana sebuah kehidupan terjadi dalam skala kecil membentuk skala besar seperti sebuah desa, dan menjadi kota, menjadi sebuah wilayah.

Dalam konteks urban, unsure ruang sangat penting sekali,, kita sebut saja Arsitektur kota , atau ruang-ruang dalam wilayah-wilayah kecil membentuk sebuah kesatuan dalam wilayah kota, Ruang-ruang inin membentuk tempat. Space to place. Arsitektur sendiri merupakan perwujudan ruang-ruang dan bentuk-bentuk kolektif.Untuk menciptakan paduan diantara keragaman kuncinya adalah bagaimana mengkaitkan (linkages) satu kegiatan dengan kegiatan lain, satu bagian kota dengan bagian kota lainnya, antara satu perubahan dengan perubahan lainnya, satu peristiwa dengan peristiwa lainnya, atau antara satu yang belum/tidak berubah dengan perubahan yang akan dilakukan berikutnya. Di situ
diperlukan pemahaman akan adanya kaitan terbuka (open linkages)
Ruang dan Tepat dalam Skala Kota
Dalam skala kota membuat ruang, bentuk, tempat dan arsitektur juga dapat dilakukan dengan memperhatikan keadaan alam sekitar ,suasana,dan selarans dengan sekitar.
Dalam mewujudkan ruang, manusia perlu mengarahkan angin agar semilirnya menjadi menyejukkan, manusia perlu mengatur orientasi agar mendapatkan sinar matahari pagi yang hangat, manusia perlu menjauhkan tempat tertentu agar tidak terkena tampias air hujan, dan berbagai pengaturan lain agar budi dan daya yang dilakukan dapat berjalan tanpa terganggu secara ekstrim dengan kekuatan alam. Manusia menandai kekosongan dan kekuatan alam sebagi ’tempat’ baginya untuk berkehidupan, disitulah ruang diwujudkan.

“Kekuatan terpenting bagi sebuah ruang yang menjadi ’tempat’ bukanlah ditentukan oleh bentuk enclosure-nya, namun justru lebih ditentukan bagaimana kualitas ruang tersebut ditingkatkan. Enclosure justru hanya merupakan salah satu media yang dapat diselaraskan dengan peningkatan kualitas ruang. Sebuah ruang besar yang diberi batas bentuk, akan dapat dijadikan beberapa ’tempat’ dengan jenis peningkatan kualitas ’ruang’ yang berbeda. Sebuah ruang besar dapat dibatasi oleh bau masakan sebagai penanda keberadaan dapur dan ruang makan. Dapat dibatasi keredupan sebagai ruang tidur dan terangnya sinar sebagai ruang keluarga. Begitu berartinya kekuatan non-materi dalam mendukung eksistensi dari perwujudan ruang.” (Tjahja Tribinuka Dosen Jurusan Arsitektur ITS)

Kekuatan non materi dari ruang pada awalnya didapatkan dari kekuatan alam sekitar. Namun dengan perkembagan ilmu pengetahuan, saat ini dapat diwujudkan kekuatan alam itu dengan peralatan buatan manusia. Sebuah kekuatan suhu dapat diciptakan dengan air conditioner (AC), kekuatan tekanan udara dan angin dapat diciptakan dengan kipas listrik, kekuatan cahaya dpat diciptakan dari lampu, dan masih banyak lagi peralatan yang dapat menduplikasi kekuatan alam ini demi arsitektur. Penduplikasian kekuatan alam telah mencapai kemajuan dengan perkembangan teknologi sampai pada saat ini. Manusia telah mampu mewujudkan kondisi alam yang dapat memiliki keserupaan di lokasi alam semesta yang berbeda karakter. Namun demikian, kekuatan buatan ini ternyata membutuhkan lebih banyak kekuatan, berupa tenaga listrik untuk menghidupkannya, belum lagi dampak kerusakan lingkungan yang dapat muncul karena pembuangan dari mesin pencipta kondisi ini.

Secara bijak, duplikasi kekuatan alam dalam membentuk ruang menjadi sebuah ’tempat’ perlu dilakukan secara terintegrasi dalam konsep yang konsisten. Jika dalam sebuah gubahan arsitektur telah ditentukan satu titik ruang yang terfokus, maka selayaknya di ruang tersebut diwujudkan sebuah ’tempat’ dengan segenap potensi besarnya.Dalam ruang tersebut dibuat manusia menjadi beraktivitas. Ruang-ruang dalam kota yang membentuk tempat tadi, tidak terpisahkan satu sama lain,sehingga muncul kesatuan berdasarkan sejarah, lokasi, dan lain semacamnya yang dapat diintegrasikan menjadi sebuah konteks , kontekstual dengan lingkungan sekitar, alam sekitar, dan kondisi sekitar

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: