Marhaban Ya Ramadhan


Ahlan Wa Sahlan Ya Ramadhan

Hanya dalam beberapa hari yang dapat dihitung, Umat Islam lagi –lagi akan kedatangan “tamu istimewa”.Bisa dibayangkan kalau rumah kita kedatangan Tamu Istimewa yaitu Presiden, dan kita sudah tahu dia akan datang beberapa hari lagi kita akan mempersiapkan yang terbaik untuk menyambutnya.Tamu yang satu ini juga akan disambut oleh seluruh Umat Islam dengan bahagia dan penuh harapan.Kenapa? karena ia adalah bulan yang penuh rahmat ,penuh ampunan, bonus-bonus pahala bertebaran, pintu neraka ditutup, di Bukanya pintu Surga,dibelenggunya setan dan masih banyak “kejutan-kejutan “ yang di siapkan Allah.

Mulai dari ibadah sunnah yang selalu dilaksanakan rasul,apalagi ibadah wajib…Apalagi kalau mebahas malam Lailatul Qadar.Beribadah pada malam ini lebih baik dari 1000 bulan, bisa di bayangkan jika kita “beruntung” mendapatkan malam Lailatul Qadar,dan saya yakin “keberuntunga” tersebut dibutuhkan usaha untuk mencapainya. Denga semua keistimewaan , sangat logis jika kita mempersiapkan diri untuk bertemu tamu Istimewa. Oleh karena itu, Rasulullah mengingatkan kita “ Jika kamu mengetahui apa yang terkandung di Bulan Ramadhan,pasti kamu akan mendambakan setiap Tahun seluruhnya adalah Ramadhan “

Tapi bukannya kita mau menghitung-hitung bonus-bonus yang di berikan,setidaknya pahala-pahala yang dijanjikan dapat membuat kita lebih semangat menghadapi Ramadhan dan juga mempersiapkannya.Janji-janji Allah pasti benar, dan yang bersungguh-sungguh akan mendapat janji dengan sempurna.

Agaknya bonus-bonus pahala di Bulan Ramadhan membuat agar kita tidak asal-asalan dalam menjalani ibadah pada Ramadhan.Agar kita memanfaatkan Bulan Ramadhan ini dengan sebaik-baiknya,sehingga di akhir ramadhan kita tidak menyesal.Pengalaman pribadi mengatakan,setidaknya mungkin kita menyesali,dan banyak pertanyaan-pertanyaan “ Mengapa yah tarawih saya bolong-bolong, mengapa menuntut ilmu saya kurang serius, mengapa satu kali khatam Quran saja tidak sampai, dan selanjutnya

Pada bulan ramadhan ini,kita melihat banyak fenomena menarik,yaitu ramainya mesjid yang tadinya sepi, Menambahnya orang yang tilawah setiap harinya,kajian keislaman yang semakin banyak,juga sampai qiyamul lail ( tarawih) berjuz-juz dengan bacaan yang membuat kita ingin menangis.Pengalaman saya sendiri,selama ramadhan ,entah mengapa ruhiyah untuk melakukan ibadah meningkat pesat.Mungkin karena memang Bulan ini lain dari biasanya, juga benar perkataan rasul tentang ‘di belenggunya setan’.Sehingga fenomena-fenomena yang terjadi dapat membuat kita menjadi lebih baik,membuat kita termenung,menyusun grand desain kehidupan kita,bahkan menangisi dosa-dosa kita saat shalat malam.

Memang, hati yang luruh pada ramadhan bukanlah sesuatu yang memalukan.Menangis saat ramadhan dan menjelang Id tak begitu sulit. Suasana yang mendukung , membuat hati semakin lembut, dan kita merasa semakin dekat dengan Allah.Sungguh berbeda sekali dengan hari-hari biasa. Bisa dibayangkan jika “ramadhan setiap tahun”,maka hati-hati lembut dan nuansa spiritual sangat terasa.

Begitulah para sahabat dan salafus – shalih menjalani ramadhan.Bagaimana kita dengar kisah tangis para Salaf yang setiap hari dalam hati yang seperti ramadhan.Imam Al Auzai yang setiap malam riuh karena suara tangisan dirumahnya, sampai-sampai saat Ibunya berkunjung ke rumahnya ada air menggenang disangka ompol bayi,padahal itu tangisannya,begitulah setiap malam dilalui.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang lebih menyukai menuntut ilmu pada sebagian malam lebih dari ibadah yang dilakukan.Imam Ahmad yang berpuluh-puluh tahun menjaga malamnya. Memang,imam-imam tersebut tidak dapat dibandingkan dengan kita,sangat jauh perbedaanya,namun bisa jadikan motivasi bagi kita bagaimana salafus shalih mempersiapkan diri pada hari-hari biasa, apalagi dengan Ramadhan?

Bagaimana dahulu para salafus shalih (orang-orang terdahulu yang shalih)memahami Ramadhan? Agaknya kita penasaran untuk mencontoh mereka ,bagaimana sih dengan Ramadhannya mereka.Di lihat dari contoh nyata, bulan ramadhan bagi salafus shalih bukan merupakan bulan “ malas” atau bulan “istirahat”.Dapat dibayangkan perintah pertama shaum turun pada waktu Perang Badar.Ini adalah sesuatu yan luar biasa,apalagi jika meninjau dari sisi pikologis,juga keimanan.Tidak hanya itu, peristiwa-peristiwa besar mereka lalui pada Bulan Ramadhan.Kita lihat Fathu Makkah,Ain Jalut, perang al Qadisiyyah,dan perang-perang lainnya.Bahkan bagi kita, umat Islam Indonesia,ramadhan memiliki makna tersendiri.Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 terjadi pada bulan ramadhan bukan?

Ini adalah bukti bahwa shaum tidak pernah menjadi penghalang kita berkegiatan.Banyaknya aktivitas nanti mungkin (akademik,organisasi,dll),tidak menjadi penghalang agar kita meningkatkan ibadah kita pada Bulan Ramadhan,bahkan kegiatan organisasi dan akademik,kita niatkan Ibadah ,sehingga tidak ada satupun yang tidak menjadi ibadah saat ramadhan nanti.Sekarang kita persiapkan diri menyambut tamu Istimewa,bagaimana kita kita menerimanya dengan ikhlas dan juga menjalankannya.Ahlan wa sahlan Ya Ramadhan.

nb: saya tidak tahu pemakaian marhaban dan ahlan wa sahlan dalam kaidah bahasa arab ,bedanya dimana,mungkin ada yang bisa menjelaskan🙂

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: