Archive for July, 2010

Marhaban Ya Ramadhan

Ahlan Wa Sahlan Ya Ramadhan

Hanya dalam beberapa hari yang dapat dihitung, Umat Islam lagi –lagi akan kedatangan “tamu istimewa”.Bisa dibayangkan kalau rumah kita kedatangan Tamu Istimewa yaitu Presiden, dan kita sudah tahu dia akan datang beberapa hari lagi kita akan mempersiapkan yang terbaik untuk menyambutnya.Tamu yang satu ini juga akan disambut oleh seluruh Umat Islam dengan bahagia dan penuh harapan.Kenapa? karena ia adalah bulan yang penuh rahmat ,penuh ampunan, bonus-bonus pahala bertebaran, pintu neraka ditutup, di Bukanya pintu Surga,dibelenggunya setan dan masih banyak “kejutan-kejutan “ yang di siapkan Allah.

Mulai dari ibadah sunnah yang selalu dilaksanakan rasul,apalagi ibadah wajib…Apalagi kalau mebahas malam Lailatul Qadar.Beribadah pada malam ini lebih baik dari 1000 bulan, bisa di bayangkan jika kita “beruntung” mendapatkan malam Lailatul Qadar,dan saya yakin “keberuntunga” tersebut dibutuhkan usaha untuk mencapainya. Denga semua keistimewaan , sangat logis jika kita mempersiapkan diri untuk bertemu tamu Istimewa. Oleh karena itu, Rasulullah mengingatkan kita “ Jika kamu mengetahui apa yang terkandung di Bulan Ramadhan,pasti kamu akan mendambakan setiap Tahun seluruhnya adalah Ramadhan “

Tapi bukannya kita mau menghitung-hitung bonus-bonus yang di berikan,setidaknya pahala-pahala yang dijanjikan dapat membuat kita lebih semangat menghadapi Ramadhan dan juga mempersiapkannya.Janji-janji Allah pasti benar, dan yang bersungguh-sungguh akan mendapat janji dengan sempurna.

Agaknya bonus-bonus pahala di Bulan Ramadhan membuat agar kita tidak asal-asalan dalam menjalani ibadah pada Ramadhan.Agar kita memanfaatkan Bulan Ramadhan ini dengan sebaik-baiknya,sehingga di akhir ramadhan kita tidak menyesal.Pengalaman pribadi mengatakan,setidaknya mungkin kita menyesali,dan banyak pertanyaan-pertanyaan “ Mengapa yah tarawih saya bolong-bolong, mengapa menuntut ilmu saya kurang serius, mengapa satu kali khatam Quran saja tidak sampai, dan selanjutnya

Pada bulan ramadhan ini,kita melihat banyak fenomena menarik,yaitu ramainya mesjid yang tadinya sepi, Menambahnya orang yang tilawah setiap harinya,kajian keislaman yang semakin banyak,juga sampai qiyamul lail ( tarawih) berjuz-juz dengan bacaan yang membuat kita ingin menangis.Pengalaman saya sendiri,selama ramadhan ,entah mengapa ruhiyah untuk melakukan ibadah meningkat pesat.Mungkin karena memang Bulan ini lain dari biasanya, juga benar perkataan rasul tentang ‘di belenggunya setan’.Sehingga fenomena-fenomena yang terjadi dapat membuat kita menjadi lebih baik,membuat kita termenung,menyusun grand desain kehidupan kita,bahkan menangisi dosa-dosa kita saat shalat malam.

Memang, hati yang luruh pada ramadhan bukanlah sesuatu yang memalukan.Menangis saat ramadhan dan menjelang Id tak begitu sulit. Suasana yang mendukung , membuat hati semakin lembut, dan kita merasa semakin dekat dengan Allah.Sungguh berbeda sekali dengan hari-hari biasa. Bisa dibayangkan jika “ramadhan setiap tahun”,maka hati-hati lembut dan nuansa spiritual sangat terasa.

Begitulah para sahabat dan salafus – shalih menjalani ramadhan.Bagaimana kita dengar kisah tangis para Salaf yang setiap hari dalam hati yang seperti ramadhan.Imam Al Auzai yang setiap malam riuh karena suara tangisan dirumahnya, sampai-sampai saat Ibunya berkunjung ke rumahnya ada air menggenang disangka ompol bayi,padahal itu tangisannya,begitulah setiap malam dilalui.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang lebih menyukai menuntut ilmu pada sebagian malam lebih dari ibadah yang dilakukan.Imam Ahmad yang berpuluh-puluh tahun menjaga malamnya. Memang,imam-imam tersebut tidak dapat dibandingkan dengan kita,sangat jauh perbedaanya,namun bisa jadikan motivasi bagi kita bagaimana salafus shalih mempersiapkan diri pada hari-hari biasa, apalagi dengan Ramadhan?

Bagaimana dahulu para salafus shalih (orang-orang terdahulu yang shalih)memahami Ramadhan? Agaknya kita penasaran untuk mencontoh mereka ,bagaimana sih dengan Ramadhannya mereka.Di lihat dari contoh nyata, bulan ramadhan bagi salafus shalih bukan merupakan bulan “ malas” atau bulan “istirahat”.Dapat dibayangkan perintah pertama shaum turun pada waktu Perang Badar.Ini adalah sesuatu yan luar biasa,apalagi jika meninjau dari sisi pikologis,juga keimanan.Tidak hanya itu, peristiwa-peristiwa besar mereka lalui pada Bulan Ramadhan.Kita lihat Fathu Makkah,Ain Jalut, perang al Qadisiyyah,dan perang-perang lainnya.Bahkan bagi kita, umat Islam Indonesia,ramadhan memiliki makna tersendiri.Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 terjadi pada bulan ramadhan bukan?

Ini adalah bukti bahwa shaum tidak pernah menjadi penghalang kita berkegiatan.Banyaknya aktivitas nanti mungkin (akademik,organisasi,dll),tidak menjadi penghalang agar kita meningkatkan ibadah kita pada Bulan Ramadhan,bahkan kegiatan organisasi dan akademik,kita niatkan Ibadah ,sehingga tidak ada satupun yang tidak menjadi ibadah saat ramadhan nanti.Sekarang kita persiapkan diri menyambut tamu Istimewa,bagaimana kita kita menerimanya dengan ikhlas dan juga menjalankannya.Ahlan wa sahlan Ya Ramadhan.

nb: saya tidak tahu pemakaian marhaban dan ahlan wa sahlan dalam kaidah bahasa arab ,bedanya dimana,mungkin ada yang bisa menjelaskan 🙂

Logika Berserah Diri , Islam Rasional

Bulan lalu saya berpartisipasi dalam debat bertajuk ‘Dialogue With Islam’ dengan penulis dan filsuf terkenal Dr. Nigel Warburton. Bahasan debatnya adalah “Apakah Agama mendorong kebaikan atau kejahatan?”. Secara umum, saya pikir debat tersebut adalah pengalaman berharga.

Bagian saya adalah menyajikan agama, khususnya Islam, sebagai dorongan ‘kebaikan’. Saya mulai dengan menyajikan agama sebagai sebuah fenomena sosial, dengan cara ini kebanyakan penonton humanis/ateis yang tidak percaya landasan intelektual agama apapun, harusnya bisa menerima. Sesuai pertanyaan pembuka yang diajukan moderator, saya mulai berbicara tentang agama secara umum. Saya menghindari membahas keberadaan Tuhan atau upaya menunjukkan kompatibilitas intelektual dengan agama dan akal. Saya fokus pada pemahaman keyakinan agama itu sendiri dan bagaimana hal ini berkaitan dengan world view dan akibatnya terhadap perilaku individu dan sosial. Semua ini adalah topik diskusinya.

Karena beranggapan debat ini bisa memicu emosi, saya sengaja fokus pada bahan penelitian akademik dan tidak bergantung pada pengalaman subyektif saya sendiri.Saya langsung memaparkan jurnal psikologi, sosiologi dan filsafat pada studi agama dan religiusitas. Yang membuat saya heran, ternyata sangat sulit menemukan penelitian kontemporer yang menunjukkan agama dan pengikutnya menjadi dorongan berbuat ‘kejahatan’.

Nyatanya penelitian kontemporer memberi kesimpulan yang berlawanan. Menurut penelitian, agama meningkat kebahagiaan, kesehatan mental dan fisik. Tidak cukup sampai di situ, penelitian juga menunjukkan agama mencegah kejahatan, meningkatkan tingkat kedermawanan dan kepedulian. Ada begitu banyak penelitian di luar sana, beberapa contoh misalnya:

– Pada tahun 2001 Schnittker dalam “Journal for the scientific study of religion” memeriksa data set 2.836 orang dewasa dari populasi umum dan ia menemukan agama tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan depresi. Dia juga menemukan religiusitas adalah penyangga bagi tekanan mental.

– Pada tahun 2002 Smith, McCullough dan Poling, dalam jurnal mereka “A meta analytic review of the religiousness-depression association: evidence for main effects and stress buffering effects” dilakukan analisis lebih dari 200 studi sosial dan menemukan religiusitas yang cukup tinggi memprediksi risiko rendah depresi, penyalahgunaan obat-obatan dan lebih sedikit upaya bunuh diri.

– Pada tahun 2002 Bryan Johnson dan koleganya dari Centre for Research on Religion and Urban Civil Society, Universitas Pennsylvania, meninjau 498 penelitian yang diterbitkan. Mereka menyimpulkan sebagian besar studi menunjukkan korelasi positif antara komitmen agama dalam tingkat yang lebih tinggi bagi kesejahteraan dan harga diri, dan tingkat yang lebih rendah bagi hipertensi, depresi dan kenakalan kriminal.

– Dalam Handbook of Religion and Health, yang diedit Harold Koenig, Michael McCullough dan David Larson, para penulis meninjau 2.000 percobaan yang dirancang menguji hubungan antara agama dan berbagai kondisi medis seperti penyakit jantung, kanker dan depresi. Hasil keseluruhan adalah orang-orang beragama cenderung hidup lebih lama dan memiliki hidup sehat secara fisik. Kaum muda memiliki tingkat signifikan lebih rendah dari penyalahgunaan obat dan alkohol, kenakalan kriminal dan mencoba bunuh diri.

– Bahkan di Cina yang secara resmi bukan negara agama, sebuah studi baru-baru ini oleh Paul Badham dan Xinzhong Yao untuk Ian Ramsey Centre di Universitas Oxford, melaporkan mayoritas dari mereka yang merasakan pengalaman keagamaan memiliki dampak positif pada kehidupan mereka.

– Pada tahun 2000, Ilmuwan dan Profesor Politik, Robert Putnam menyurvei 200 organisasi relawan menunjukkan ada hubungan positif antara religiusitas dan keanggotaan organisasi relawan.

– The Index of Global Philanthropy, 2007 menyatakan: “Orang beragama lebih dermawan daripada yang tidak agama, mereka tidak hanya memberikan kepada jemaat sendiri, tetapi juga –terlepas dari pendapatan, wilayah, kelas sosial, dan variabel demografis lain– jauh lebih dermawan di sumbangan sekuler dan informal.”

Saya mengakhiri presentasi saya dengan mengatakan bahwa Islam, dengan menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad, mencapai hal di atas, dan yang terpenting adalah bagaimana Islam mencapai masyarakat yang kohesif/bersatu (Saya menulis panjang lebar tentang ini di blog ini, jadi tidak diulas lebih jauh). Saya menyimpulkan dengan mengatakan agama mencapai hal-hal ini, karena agama memberikan dorongan atas kebaikan.

Argumentasi pihak humanis mengecewakan saya. Argumen utamanya hanya pengalaman pribadi tanpa penelitian objektif. Tidak ada bukti atau pembenaran atas klaim yang dibuat. Dr. Warburton menanggapi kekecewaan saya dengan mengatakan penelitian tidak berarti apa-apa, dan seseorang penonton menyatakan ada penelitian yang membantah klaim saya. Saya menunggu penjelasan penelitian itu dan alasan mengapa usaha saya dianggap sebagai tidak relevan, tapi saya tidak mendengar apa-apa, selama atau setelah perdebatan.

Bukankah kebiasaan humanis dan ateis menuduh umat beragama tidak objektif dan tidak menggunakan akal? Berdasarkan pengalaman ini saya jadi kesulitan memahami mengapa mereka bisa membuat klaim seperti itu.

Tapi di awal saya sampaikan bahwa debat tersebut adalah pengalaman berharga. Alasannya karena saya belajar banyak tentang mentalitas sebagian orang yang menolak agama dari pernyataan seorang penonton. Ia mengatakan sesuatu seperti ini, “Kami tidak ingin berserah diri, berserah diri itu berbahaya dan terbelakang”. Saya memikirkan ini sebentar dan memberikan jawaban. Sejak itu, saya menyebutnya ‘logika berserah diri’.

Kata logika berasal dari kata Yunani ‘λογική’, dan dalam filsafat, ilmu logika mempelajari prinsip-prinsip penalaran dan penyimpulan yang sahih. Logika sangat penting karena penggunaannya memungkinkan kita secara efektif menyampaikan dan menolak suatu argumen. Sekarang dalam konteks berserah diri kepada Allah, saya gunakan logika sebagai berikut:

1. Berserah diri kepada Yang Mahatinggi lebih rasional daripada berserah diri kepada manusia
2. Islam mengharuskan manusia berserah diri kepada Yang Mahatinggi
3. Karena itu, Islam lebih rasional

Saya merasa logika ini hampir tak terbantahkan. Satu-satunya cara menanggapi argumen ini adalah membahas asumsi-asumsinya. Dalam hal ini asumsinya adalah,

1. Sesuatu Yang Mahatinggi (yakni Tuhan) ada
2. Yang Mahatinggi ini mengharuskan kita tunduk kepada-Nya

Saya melanjutkan dengan mengatakan kita harus mengalihkan perdebatan ke keberadaan Tuhan dan mukjizat Al Qur’an, karena jika dapat dibuktikan Tuhan itu ada dan Al Qur’an adalah mukjizat, dengan kata lain, datang dari Allah, para humanis juga harus berserah diri (karena Al Qur’an menyuruh kita berserah diri kepada Allah). Namun moderator, Dr. Mark Vernon, memotong dan mengingatkan saya bahwa itu bukanlah topik debatnya.

Saya setuju, tapi hal itu menyisakan pikiran bahwa umat Islam tidak harus menjawab banyak pertanyaan, seperti “Mengapa kamu tidak makan daging babi?”, “Mengapa kamu puasa?”, “Mengapa kamu shalat lima kali sehari?”. Yang harusnya kita katakan adalah “Karena Tuhan menyuruh begitu” dan jika orang tersebut mengerutkan kening atau menganggap kita gila?, kita harus menjelaskan kepada mereka tentang ‘logika berserah diri’ sebab lebih rasional berserah diri.

Jika mereka bertanya lebih jauh dan mengupas landasan intelektual dengan menyorot asumsi kita, yaitu keyakinan kita bahwa tuhan ada dan Al Qur’an adalah mukjizat, yang harus kita semua lakukan adalah menjelaskannya kepada mereka.[]

seri: terjemahan

http://hamzatzortzis.blogspot.com/2009/07/debate-on-religion-logic-of-submissio.html
dipost dari http://www.facebook.com/notes/irfan-habibie/debat-mengenai-agama-dan-logika-berserah-diri/415307912584

Hikmah – Hikmah Isra Mi’raj

Seri l Kenapa Ada Isra Mi’raj
Seri 2 , Kisah-Kisah Isra Mi’raj
Seri 3 Isra Mi’raj Mukjizat atau bukan?

Seri 4 Bagaimana Kejadian Isra Mi’raj
Seri 5 Hikmah-Hikmah Isra Mi’raj

Setelah mengetahui bagaimana mudahnya Allah membuat sesuatu dan mengendalikan sesuai kehendakNya,maka sangat mudah dicerna akal kita bahwa sangat mungki Rasul bertemu dengan para nabi –nabi dan juga bertemu dengan Allah.Dan disini nabi mendapatkan perintah shalat,dan juga melihat surge dan neraka,bertemu dengan para nabi.

Namun lagi-lagi ada yang menarik,Dalam hadits yang panjang dari Bukhari bagaimana kejadian Isra Mi’raj ini nabi hanya bertemu dengan beberapa nabi dan rasul,dan saat bertemu hanya saling mengucapkan salam, salam antar hamba yang saleh.Bisa jadi rasul menanyakan pengalaman rasul-rasul terdahulu, namun jika ha nya untuk salam mengapa harus dipertemukan.Coba kita lihat nabi-nabi yang bertemu dengan Rasul yaitu:
Adam ,Ibrahim,Idris,Musa,Harun,Yusuf,Yahya,Isa dan Musa

Jika kita kaitkan dengan Tujuan Allah menfokuskan Rasul dengan satu tujuan yaitu hanya Allah saja tempat berserah,tempat memohon pertolongan,maka kita akan lihat profil-profil nabi yang dipertemukan dengan Rasulullah Muhammmad
Nabi adam adalah,nabi pertama,manusia pertama,orang yang berkeluarga pertama
Nabi Ibrahim ialah orang yang mencari Tuhan,kebenaran, Bapak para nabi,puncak Ketauhidan
Nabi Idris adalah orang yang cerdas dan tepat pemikirannya,
Nabi Musa ialah orang yang paling berat karena berkeluarga dengan Firaun yang didakwahinya sendiri,seorang raja yang harus didakwahi,juga ada nabi Harin yaitu orang yang fasih dalam berbicara dan juga berdialog,
Yahya yang mendakwahi kaumnya diamana saat itu daerahnya dijajaha Kaisar Romawi,berbeda dengan Musa,Yahya melawan raja dari bangsa lain.Juga Yusuf yang ahli dalam bidang keuangan dan ekonomi Negara,dan Nabi Isa yang mempunyai pengikut yang setia dan juga ada yang berkhianat.

Nabi Muhammadpun yang tadinya frustasi,menjadi lapang pemikirannya, bahwa dunia itu luas.Perjuangan para nabi sebelumnya tidak mudah,dengan berbagai latar belakang.Bagaimana perjuangan para nabi terdahulu yang bersabar dan diuji lebih berat dari yang nabi Muhammad alami.Rasulpun melihat alam semesta, Surga dan Neraka,Alam ghaib dan sepertinya Allah menggambarkan bahwa sebenarnya persolan yang melanda Muhammad yaitu hilangnya backingan yaitu Istri dan Paman Nabi adalah kecil semata,dibanding Apa Kebesaran Allah yang Allah perlihatkan kepada hambanya.

Romawi dan Persia bukanlah musuh besar dihadapan kebesaran Allah,yang nantinya Rasul mempunyai Visi akan takluk Persia saat membelah batu.Hanya Allahlah yang menjadi tempat sandaran,sehingga pelajaran kesabaran ini diperlihatkan dengan bertemunya rasul dengan para nabi.Selain itu lengkaplah dengan turunya perintah shalat kepada Nabi Muhammad Continue reading