Berpandang-pandangan itu baik!! apalagi menjaganya…


Setelah menulis “percampuran pria dan wanita itu baik” dan juga “nikmatnya berdua-duaan” ternyata masih ada yang mempetanyakan tentang memandang wanita,yang kesimpulan memandang itu sah-saha saja selama tidak ada syahwat, dan itu biasa terjadi di zaman rasul,yaitu pertemuan laki-laki dengan pertemuan.

Ada yang menganggap menundukkan pandangan adalah dengan melihat ke bawah,padahal telah dijelaskan menahan pandangan adalah menahan pandangan mata dari melihat ke sana-kemari karena dikhawatikran timbulnya fitnah.Oleh karena itu, kami tampilkan lebih detail lagi dari hadits,pendapat ulama tentang bolehnya memandang wanita (langsung) selama tidak ada syahwat (biasa aja lagi….),mungkin masih ada yang berlebih-lebihan dalam menetapkan sesuatu sehingga benar-benar “nunduk” sama sekali,bahkan menetapkan menganjurkan tidak melihat wajahnya atau matanya yang sebenarnya berlebih-lebihan,dan bertentangan denga dalil,pendapat sahabat dan juga keterangan ulama salaf rahimahullah

Sesungguhnya perintah menahan sebagian pandangan itu dimaksudkan untuk menjauhi pelepasan pandangan yang terus menerus ,dan tidak mungkin bahwa yang dimaksud itu adalah benar2 (berusaha) menjauhi pandangan secara mutlak.Dalilnya jelas sekali dalam An Nur ayat 30

“Katakanlah kepada laki-laki mu’min : Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mereka,”Dan katakanlah kepada wanita-wanita mu’minah ,”Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mereka”

Ath Thabari berkata dalam tafsirnya “Apabila melihat sesuatu yang tidak halal baginya,maka ditundukannya pandangannya ,dan tidak memandang kepadanya.Dan tidak ada seorangpun yang dapat menahan pandangan secara total.Sesungguhnya Allah hanya berfirman “Katakanlah kepada laki-lakin mu’min Hendaklah mereka menahan SEBAGIAN dari pandangan mereka.Yakni ,apabila ia melihat sesuatu yang tidak halal baginya dari aurat ,atau melihat sesuatu yang tidak halal baginya untuk bersenang-senang dengannya,maka ditahannya pandangannya.Adapun jika yang dilihat itu bukan aurat dan pandangannya tidak bersyahwat dan bersenang-senang,maka tiadalah larangan itu ( Tafsir At Thabari,surat annur 30)

Dari Abu Hayyan dalam Tafsirnya “Laki-laki boleh melihat wanita asing kepada wajahnya dan kedua telapak tangannya…sebab ia tidak kuasa menjauhi pandangan itu ( Al Bahrul Muhith,Abu Hayyan Al Andalusy)

Ibnu Daqiqil’Id berkata ,” Sesungguhnya lafal min itu menunjukkan sebagian…Dan ayat itu tidak menunjukkan wajibnya menahan pandangan secara mutlak ( Ahkamul Ahkam Syarh Umdatul Ahkam)

Ibnu Abbas berkata “Aku tidak melihat sesuatu yang lebih mirip dengan melakukan dosa-dosa kecil daripada apa yang dikatakan Abu Hurairah dari Nabi saw,beliau bersabda “Telah di tetapkan kepada manusia bagiannya dari perzinahan, ia pasti melakukan hal itu. Kedua mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lidah zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah memukul (meraba), kaki zinanya adalah melangkah, hati jiwa berangan-angan dan menikmati, dan yang membenarkan atau menggagalkan semua itu adalah kemaluan.?(HR.Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Ahmad)

Hadits ini dengan jelas menunjukkan bahwa pandangan dengan syahwat itulah yang dimaksud dengan dosa kecil (mendekati zina),karena itu lah beliau bersabda ,”Dan jiwa berangan-angan dan menikmati”.Ini berarti jika pandangan itu tidak dengan syahwat maka tidak ada dosa untuknya.

Ibnu Bathathal berkata “Pandangan dan perkataan disebut zina karena dapat mengajak kepada zina yang sebenarnya.Oleh karena itu beliau bersabda,’Dan kemaluan membenarkan hal itu atau mendustakannya,””( Fathul Baari Juz 13)

Sebenarnya,tentang hadis-hadits lain sudah ada penjelasan pada tulisan menundukkan pandangan sambil berkhalwat.Disini memambahkan dan mempertegas bahwa ,memandang itu boleh asal dengan tidak ada syahwat,dan saya rasa ini yang biasa kita lakukan.

Jika mulai terjadi syahwat maka tundukkan pandangan
Durrah binti Abu lahab berkata,Aku berada di sisi Aisyah lalu nabi saw masuk seraya berkata,”Ambilkan aku air untuk wudhu.”Maka aku dan Aisyah bersegera ke bejana tempat air,tetapi aku mendahuluinya,lalu aku mengambilnya.maka beliau berwudhu,lalu mengangkat kedua mata beliau atau pandangan beliau kepadaku,Beliau berkata “Engkau dari golonganku,dan aku dari golonganmu” (Majmu uz Zawaid,Al Hafidz al Haitsami berkata ‘Diriwayatkan oleh Ahmad ,dan perawi-perawinya terpercaya)

Qais bin Abi hazim berkata,”Kami menemui Abu Bakar r.a ketika ia sakit,Maka saya lihat disisinya seorang wanita berkulit putih yang kedua tangannya dilukisi dengan hena yang dapat menolak lalat.Dan ia adah Asma’binti Umais”( HR Thabrani,perawi-perawinya adalah perawi shahih)

Kedua hadits diatas menunjukkan bolehnya memandang tanpa ,syahwat.Selain itu coba kita tinjau pendapat para ulama dari berbagai Mahzab

Mahzab maliki

Tercantum dalam Al Muwaththa’ bahwa telah ditanyakan kepada Imam Malik,Bolehkah seorang wanita makan bersama denga n laki-laki yang bukan mahramnya atau dengan bujangnya? “Maka Imam Malik menjawab “Hal itu tidak mengapa..sebab ,kadang –kadang wanita makan bersama suaminya dan bersama laki-laki yang makan bersama suaminua.Pengarang Al Muntaqa Syarh Al Muwaththa’ berkata,” Perkataan beliau,sebab kadang-kadang wanita makan bersama suaminya dan bersama laki-laki yang makan bersama suaminya, menetapkan bahwa pandangan laki-laki kepada yang demikian itu tampak darinya pada waktu makan bersama (Ibnul Walid al Bajj al –Andalusi)

Mahzab Hanafi

Disebutkan dalam Al mahsuth karya As-Sakhasu hal yang menunjukkan bolehnya laki-laki asing melihat wajah wanita.Hal itu ketika berbicara tentang wanita mati diantara laki-laki asing.Mereka berkata .”Jika ia laki-laki asing,maka ia mentayamumkan wanita itu dengan sepotong kain yang diikatkan ke telapak tangannya sdang ia memalingkan wajahnya dari kedua lengan wanita,tetapi tidak dari wajahnya.Sebab pada waktu hidupnya ,laki-laki asing tidak boleh memandang kedua lenganya ( Mahsuth juz 2)

Mahzab Hanbali

Disebutkan dalam Al Mughni oleh Ibnu Qudamah ,al Qadhi berkata ‘Haram bagi laki-laki terhadap wanita asing untuk memandang kepada apa saja yang selain wajah dan kedua telapak tangan ,karena yang demikian itu aurat;dan diperbolehkan baginya untuk memandang kepadanya,tetapi makruh apabila aman dari fitnah ,dan memandang bukan denga syahwat

Demikian Mahzab Syafii berdasarkan firman Allah’,Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali apa yang biasa tampak darinya.”…Dan karena itu bukan aurat,maka tidak haram memandang kepadanya tanpa ragu-ragu ( Al Mughni ,juz 6)

Dalam Fatawa Ibnu Taimiyah ,katanya “Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum memandang wanita asing.Maka ,ada yang mengatakan ,’Boleh memandang tanpa syahwat kepadan wajahnya dan kedua tangannya.Ini adalah mahzab Abu Hanifah dan as Syafii,dan satu pendapat dalam Mahzab Ahmad (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah,juz 22)

Dan Akhirnya Ibnu Taimiyah berpendapat “Memandang yang dilarang itu ialah memandang aurat,dan memandang karena syahwat,meskipun yang dipandang itu bukan aurat” ( Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah juzz 22 hal 369)

Dengan keterangan-keterangan yang jelas, dapat disimpulkan bahwa Allah memberikan kelapangan kepada manusia yaitu pria dan wanita untuk memperlapang interaksi,dan saling memandang merupakan fitrah dalam kehidupan.Allah menurukan hikmah yaitu menahan pandangan,dan malah tidak memerintahkan menutup wajah wanita atau jika bertemu wanita dianjurkan dengan tabir.Syariat yang benar-benar agung,dengan memperhatikan kemudahan dalam urusan,mempererat silaturahmi,dan juga keakraban agar dapat bersama-sama menjalani kehidupan dengan baik…..

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: