Archive for June, 2010

Generasi yang Unik

Setelah saya membaca buku Ma’alim fith Thariq,saya mulai tertarik dengan tulisan-tulisan Sayyid Qutb rahimahullah.Gamal Abdul Nasser yang sangat gemar membaca buku –buku yang dilarang terbit di Mesir,menemukan buku yang ternyata menarik.Yaitu Petunjuk Jalan (Maalim fith Thariq),akhirnya buku tersebut lulus sensor,dan sempat terbit beberapa kali cetak.Dan juga ada satu buku lagi yang menarik,dibuat saat beliau di dalam penjara.Kejeniusan beliau dan kelapangan ilmunya terlihat dalam karya yang berjudul Fi Zhilal Quran

Karena beliau mengerjakan buku ini didalam penjara,mungin itu maksud dari Fi Zhilal (di bawah bayang-bayang) Al Quran.Dua buku ini disebutkan tokoh-tokoh islam selanjutnya bahwa memang ini dua karya asli karangan beliau(maksudnya benar2 diri beliau).Oleh karena ini dua karya ini tersebar ke seluruh dunia, dibanding karya- karya lain yang sempat di bredel.bagi yang bergelut di bidang dakwah,mungkin sudah tidak asing lagi dua karya beliau rahimahullah

Fenomena Menarik

Dalam sejarah islam, ada kejadian-kejadian menarik,fenomena-fenomena yang menggugah.Bagi orang yang bergelut di medan dakwah,yaitu fenomena dakwah dizaman nabi.Fenomena ini adalah fenomena langka sekali,yaitu pembentukan sebuah generasi.yaitu generasi yang terkenal dengan nama salaful ummah,salaf as shalih, para sahabat ridwanullai alaihim,yang diabadikan sebagai umat terbaik dalam Quran, generasi yang unik, yang dapat dikatakan sejarah tidak pernah mencatatat generasi sekaliber sahabat lagi sampai saat ini,walaupun beberapa mujaddid( pembaharu) muncul setiap abad ,beberapa tokoh besar muncul,tetapi generasi ini tetap unik,belum pernah ada generasi seperti sahabat sampai saat ini!!

Dan yang menarik,tentunya kita penasaran ,bagi orang –orang yang merasa berdakwah ,atau mempunyai semangat dakwah mengebu-gebu,sebenarnya pasti saya yakin mereka akan mempertanyakan apakah penyebab fenomena ini terjadi,dan dimana rahasia keberhasilan generasi ini?

Sumber yang tetap Utuh

Metode yang dijalankan para sahabat yaitu betode berpikir secara Islami,jelas sekali dari karakteristiknya.Al Quran yang mereka baca dijadikan landasan perjuangan dalam berdakwah.Padahal Al Quran pada saat itu sama dengan Al Quran yang kita baca sekarang ini.Al Quran telah dijamin akan sama sampai sekarang, dan nanti hingga Allah mencabut Quran dari orang-orang yang berilmu mendekati kiamat. Demikian juga sunnah yang akan terjaga,yang dijadikan sahabat sebagai pedoman operasional,yang sampai sekarang masih apik terpelihara.Lalu apakah karena ada Nabi mereka menjadi generasi yang unik? Sepertinya jawabannya “bukan”

Andaikan keberadaan Rasulullah itu yang menjadikan mereka bersemangat,mereka berjuang,berkorban,maka Allahtidak akan menjadikan rasul diutus untuk umat manusia dan rasul terakhir.Seandainya keberadaan rasulullah sebagai motivasi mereka,niscaya Allah tidak akan menajdikan dakwah terus begulir sampai akhir zaman.Akan tetapi Islam tidak hanya pada zaman rasulullah saja.

Oleh karena itu Allah menjamin sendiri Ad Dzikr (Quran dan sunnah), akan tetap utuh sampai dicabutnya suatu saat nanti.Allah yang Maha Bijaksana mengetahui bahwa dakwah akan terus berlanjut,estafet dari generasi sahabat,tabiin,tabiut tabiin,sampai sekarang bahkan sampai masa depan nanti.Seperi ungkapan “Dakwah akan terus ada( berjalan) baik engkau ada ataupun tidak ada”
Dalam menyampaikan risalah selama puluhan tahun, agama Islam yang sudah sempurna, tidak akan ada revisi hukum,terjamin hukum-hukumnya dan kandungannya,agama ini akan tetap berjalan terus sampai akhir zaman “Dan dimenangkan agama ini diatas semua agama ,walau orang kafir membencinya”Oleh karena itu ,kehilangan sosok pribadi Rasulullah bukan menjadi factor utama dalam masalah ini, lalu kira-kira karakter apa yang ada pada generasi sahabat?Sayyid Qutb rahimahullah kira –kira menggambarkan seperti ini

Quran sebagai sumber

Generasi sahabat memandang Quran sebagai sumber kehidupan, sunnah merupakan penjelas sumber pertama yaitu Quran.Oleh karena itu aisyah pernah mengatakan “ Budi pekerti beliau adalah Al Quran”.Ada Peradaban besar yang langsung berhadapan dengan generasi sahabat yaitu romawi,tingkat dalam budaya,hukum,sistem pemerintahan yang maju,bahkan sampai sekarang masih dianut oleh beberapa Negara.Lalu yunani dalam segi pemikiran,filsafat,logika ,ada juga Persia, India, sebgai kebudayaan besar.Mekah berada diantara dua peradaban besar yaitu Romawi dan Persia, yang siapa sangka dengan generasi ini, dapat mengungguli romawi dan juga Persia,dari minus sampai plus,dari kegelapan menuju cahaya.

Terfokusnya generasi sahabat terhadap ilmu, aqidah,dan juga kebenaran (Al Quran) sebagai motivasi mereka,tentu saja mempunyai tujuan khusus rasul.Yaitu Rasulullah ingin mecetak generasi spesifik,dimana hati,akal,wawasan,ideology dan arah gerak terpelihara keorisinalitasnya dari berbagai pengaruh luar yang tidak relevan dengan manhaj yang lurus yang terkandung dalam Al Quran
Generasi ini yang tercatat sejarah sebagai generasi yang unik,sebab generasi-generasi selanjutnya sudah dicemari faham-faham dari luar .Sistem logika melingkar filsafat yunani,riwayat israilliat yahudi, hermeutika bible, kritik teologi nasrani,liberalisme,atheisme,kebudayaan asing yang semakin ke sini semakin memasuki ranah kemurnian generasi sekarang.

Oleh karena itu rasulullah pernah memberikan kabar bahwa, semakin akhir zaman,generasi akan semakin turun kualitasnya,dan akan timbul banyak fitnah.Ini bukan semata-mata karena takdir,tetapi karena umat Islam sendiri sudah terasuki metode-metode yang menjadikan polusi sumber utama yaitu Quran.Metode kritiki bible yang diterapkan kedalam Quran,kebingungan teologis barat yang melahirkan atheism modern,sekulerisme yang ingin “diimpor” ke umat Islam.

Metode Penerimaan Al Quran

Dalam tulisan metode berpikir Islami, secara umum sudah tergambarkan tentang metode penerimaan AL Quran.Namun yang menarik disini,terdapat differensiasi dalam hal penerimaan Quran .Generasi awal dalam membaca Quran tidak sama sekali membahas atau memiliki niat untuk mecari –cari “ayat ilmiah”,sains modern,rahasia –rahasia kehidupan,mencocokan penemuan arkelogi dengan Quran,mencari ayat tentang sesuatu lalu menelitinya secara ilmiah atau membahas masalah –masalah fiqih sekalipun.Tak seorangpun yang “terlibat” dengan Al Quran memiliki kepentingan-kepentingan seperti diatas.Tetapi,sahabat menerima Al Quran seperti menerima perintah dari Allah yang diterapkan dalam kehidupan mereka.Seakan-akan wahyu turun untuk mereka.

Oleh karena itu ,sahabat mengamalkan apa yang ia tahu dari Quran,tidak lebih dan juga tidak kurang
Metode seperti ini,yaitu aplikatif dan operasional justru menyingkap keindahan dalam ilmu pengetahuan yang tidak akan terungkap jika mereka memakai metode ilmiah,studi dahulu terhadap ayat,atau riset terhadap suatu kasus dan ayat tertentu.Sehingga dengan metode awal,dapat memperingan kerja,kepraktisan kegiatan,dan juga menerjemahkan teori-teori ilmu statis dalam tindakan yang dinamis
Al Quran benar-benar pedoman yang metodenya cocok untuk di aplikasikan, bukan buku seni yang dicari-cari keindahannya,atau bukan buku sejarah yang runut mulai dari kelahiran sampai mati,atau buku teori kuantum yang dicari –cari tentang “ayat-ayat ilmiah”,dll.Itulah mungkin sebabnya Allah menurunkannya secara berangsur-angsur,bukan berupa kitab turun dari langit sekali jatuh,sesuai kondisi dan keadaan agar menjadi pedoman

“Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan kami menurunkan bagian demi bagian

Allah tidak menurunkan sekaligus,tetapi berdasarkan kebutuhan dan perkembangan yang terus berlanjut,dalam konsep teologis,dan juga problem-problem yang dialami umat dalam kehidupannnya.Bisa dibayangkan kalau Quran turun berupa buku dari langit,ketika ada masalah yang berbeda dengan Quran atau baru,maka aka nada “revisi” Quran.Dalam Islam tidak dikenal adanya revisi kitab suci

Jadi,ayat-ayat yang turun terkadang mengambarkan keadaan khusus,keadaan sulit dan peranan sahabat yang harus dijalankan dalam menghadapu keadaan tersebut,terkadang memperbaiki kekeliuran sikap,terkadang hikah-hikmah masa lalu yang dapat diambil,sehingga terasa keterkaitan jiwa,seolah –olah wahyu turun langsung kepada mereka,dari metode inilah keluar sebagai generasi utama yang unik….

Membuka Lembaran Hidup Baru

Ketika hari Selasa di Salman,ada seorang yang menjadi mualaf.Banyak orang menyaksikan dia bersyahadat dan menyalaminya sebagai seorang saudara.Hal ini yang terjadi pada seluruh sahabat,Apapbila seseorang telah mengikrarkan masuk Islam,berarti ia siap memulai lembaran baru ,sama sekali berbeda dengan lembaran sebelumnya

Kadang kita suka lupa,sebenarnya kita sudah beruntung dapat memeluk islam.pengalaman saya sangat sulit melepaskan pemikiran lama ke pemikiran baru,kepercayaan lama ke kepercayaan baru.Dengan sikap yang baru ini,setiap kita kembali kepada jahiliyah yang tadinya “bersih” ,”tanpa noda” menjadi memiliki noda (berdosa) ,maka kembali lagi, cara membersihkan noda yaitu dengan mengikuti pedoman yaitu sumber utama yang merupakan karakteristik utama yaitu Al Quran.

Perbedaan perasaan mutlak dari jahiliyah (keadaan sebelum mengenal ilmu yang benar) dengan islami, akan jelas terlihat.bagaimana seseorang tetap teguh dalam Islam walaupun disiksa,bagiamana seorang muslimah yang tidak berjilbab.memutuskan untuk berjilbab,bagaimana seorang orientalis yang menyerang Islam dan mendapat hidayah memeluk Islam.Perubahan total terlihat dalam lingkungan, kebiasaan,wawasan,ideology,budaya,and juga pergaulan menyimpang dengan Islam mulai ditinggalkan.

Kerinduan saat ini

Karakter generasi yang unik ini,yang tidak dimiliki generasi –generasi sesudah sahabat ridwanullahi ajmain.Ada yang “miss” dari setiap generasi ke generasi selanjutnya,sehingga nilai-nilai (islam) tidak bertahan secara utuh. Konsep ideology, metode berpikir, pemikiran –pemikiran yang sudah dicemari oleh “isme” yang berkembang sekarang, merupakan akibat dari celah yang ditimbulkan adanya sesuatu yang tidak bertahan dari setiap generasi.

Agaknya,untuk menutup banyak “miss” dan mengeluarkan pemikiran-pemikrian seperti liberalism,sekuerisme,diktatorisme,atau yang disebut Sayyid Qutb jahiliyyah memang tidak mudah.Kebutuhan mendesak saat ini adalah kembali kepada sumber yang utuh, sumber yang tetap orisinil,sumber yang terjamin kandungannya sampai akhir nanti,sumber yang memberikan eksistensi manusia,eksistensi alam,eksistensi pemikiran ,dan eksistensi Tuhan sebagai pemilik dan pencipata semuanya.Dari sumber itulah berangkatnya kehidupan kita,nilai,pemikiran,dan komponen kehidupan, menjadikan generasi yang unik yang telah dirindukan berabad-abad ,penurunan nilai dari generasi ke generasi selanjutnya berdasarkan ilmu yang terjaga, akan tetap berlangsung ,dan itu yang kita rindukan,semoga kita dapat menurunkan ilmu dan nilai ke generasi selanjutnya

Tumit Bukan Aurat ???

Ada yang bertanya,apakah tumit merupakan aurat bagi wanita yang harus ditutupi?,coba kita simak kajian tentang aurat dalam bentuk artikel 🙂

Nash dari As Sunnah yang menunjukkan wajibnya menutup kedua betis

Dari Abu Hurairah,dari Aisyah,bahwa Nabi saw bersabda “Ekor pakaian wanita adalah sejengkal.” Lalu Aisyah berkata,”Kalau begitu betis mereka akan keluar (tampak),”Maka beliau bersabda,”Maka sehastalah” (HR Ibnu Majah 2884)

Dari Ibnu Umar…bahwa Istri-istri nabi saw bertanya kepada beliau tentang ekor pakaian ,lalu beliau bersabda,”jadikanlah sejebngkal”Mereka berkata,”sesungguhnya sejengkal tidak akan dapat menutup aurat.”beliau bersabda ,”jadikanlah ia sehasta” (HR Ahmad,Nailul Authar)

Ummu Salamah,istri nabi saw,berkata kepada Rasulullah saw ketika beliau menyebut izar(sarung),”Maka bagaimana dengan wanita ,wahai Rasulullah ? “Beliau menjawab,”mengulurkannya sejengkal.”Ummu Salamah berkata,”Kalau begitu terbukalah auratnya.”Belaiu bersabda,maka sehasta” tidak lebih dari itu (HR Abu Daud)

Hadits-hadits ini menunjukkan dilarangnya menampakkan betis atau aurat,dan tidak menyebutkan kedua tumit,seakan-akan tidak dilarang menampakkanya,dan seandainya kedua tumit aurat ,maka keduanya lebih utama disebutkan,karenakeduanya merupakan aurat yang pertama kali tampak apabila pakaiannya pendek,bahkan kadang-kadang hanya kedua tumit saja yang tampak sedang yang diatasnya tidak tampak lagi
Dan yang memperkuat kewajiban menutup betis ialah ancaman Rasulullah saw ,dari menampakkan betis yang diterangkan dalam hadits

Fathimah Binti Qais berkata,Rasulullah saw berkata,”Pindahlah engkau ke rumah Ummu Syuraik…Maka aku menjawab,”Akan saya kerjakan .”Lalu beliau bersabda,”Jangan engkau laksanakan,karena Ummu syuraik itu adalah wanita yang banyak tamunya.Aku tidak suka kalau kerudungmu jatuh,atau terbuka pakaianmu dan kedua betismu.lalu orang-orang dapat melihat sebagian dari sesuatu yang tidak kamu sukai (HR Muslim)

Yang pertama kali tampak apabila pakaian itu terangkat lah kedua tumit.Kalau menampakkan kedua tumit itu terlarang,niscaya nash itu akan berbunyi,”…Pakaianmu terbuka dari kedua tumitmu.”Karena kedua tumitmu inilah yang lebih dekat untuk kelihatan dicelah-celah gerakannya didepan para tamu,sedangkan kedua betis kemungkinan terbukanya lebih kecil

Nash-Nash dari As Sunnah yang menunjukkan terbukanya kedua tumit

Pakaian wanita arab yang berlaku pada zaman Nabi saw,menunjukkan dengan jelas terbukanya kedua tumit wanita pada waktu berjalan ditengah jalan,baik dengan bertelanjang kaki maupun dengna sandal,dan sandalpun menampakkan sebagian tumit.Di antara bukti-bukti yang menunjukkan hal itu ialah sebagai berikut.
Dari Sa’id bin Jubair,Ibnu Abbas berkata,”Wanita yang pertama kali memakai sabuk adalah ibu Islamil.Ia memakai sabuk untuk menghilangkan jejaknya terhadap Sarah…”(HR Bukhari)

Dari Abu Naufal ,bahwa Asma binti Abu Bakar berkata..”Demi Allah,aku mempunyai dua sabuk,yang satu kupergunakan untuk mengangkat makanan Rasulullah saw dan makanan Abu Bakar dari kendaraan,dan yang lain adalah sabuk wanita yang amat diperluakannya ..(HR Muslim)

Al Hafidz Ibnu Hajar berkata,”Minthaq (sabuk) ialah sesuatu yang dipergunakan untuk mengikat perut…Maka Hajar memakai sabuk dan mengikatnya pada perutnya dan berlari,dan ditarik-tarik ekornya( ekor pakaian) untuk menembunyikan jejaknya terhadap Sarah (Fathul Baari Juz 7)

Beliau berkata lagi ,”Dan di dalam Hadits Hajar,”Wanita yang pertama kali memakai sabuk ‘terdapat petunjuk bahwa wanita itu hendaklah emmakai pakaian kemudian mengikat perutnya dengan sesuatu dan mengangkat bagian tengah pakaian dan mengulurkannya ke bawah agar tidak berantakan ekor pakaiannya (Hadyus Sari,Juz 1)

Ibnu Taimiyah berkata,”Mereka mengulurkan ekor pakaianya,maka apabila ia berjalan kadang-kadang tampak tumitnya “( Majmu Fatawa,juz 22)

Wanita yang melakukan demikian itu biasanya apabila mereka sedang melakukan kesibukan.Sedangkan jika berdiam dirumah,tau ketika shalat atau ketika melakukan gerakan lamban,maka tidak perlu mengangkat bagian tengah pakaian serta tidak dikhawatirkan ekor pakaiannyua akan berantakan.Contoh lain yaitu keluarnya wanitamukmin dengan telanjang kaki ada dalam dalil-dalil berikut Continue reading

Hadits seputar rajam

sumber : Montir Kepala

http://answering-ff.org

AYAT RAJAM YANG DINASAKH TAPI HUKUM TETAP BERLAKU

Bahwa nasikh-mansukh itu memang ada dalam Islam, hal ini diperkuat oleh firman Allah Ta’ala sendiri :

(QS 2:106) Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?

Ada 3 macam nasakh yang dikenal dalam dunia ilmu ushul fiqih:
1. Ayat Al-Qur’an yang dinasakh lafadznya dan hukumnya sekaligus.
2. Ayat Al-Qur’an yang dinasakh lafadznya tapi hukumnya tetap berlaku.
3. Ayat Al-Qur’an yang dinasakh hukumnya tapi lafadznya tetap masih ada

2. Ayat Al-Qur’an yang dinasakh lafadznya tapi hukumnya tetap berlaku.
Contohnya adalah hukuman rajam bagi pezina muhsan, dan lafadznya adalah sebagai berikut :

Asy-Syaku wasy-syaikhatu idzaa zanaya farjumuhumal battah nakaalan minallah wallahu ‘azizun hakim

“Laki-laki yang sudah menikah dan perempuan yang sudah menikah bila mereka berzina, maka rajamlah mereka berdua, sebagai hukuman dari Allah dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

1. Umar bin Khaththab ra. ketika menjabat sebagai Khalifah berkata, “Demi Allah, ayat ini pernah turun ke muka bumi, lalu kemudian Allah SWT menasakh lafadznya namun hukumnya tetap berlaku.”
2. Ubay bin Ka’ab ra. dimana beliau menyebutkan bahwa ayat ini dulunya terdapat di dalam surat Al-Ahzab. Dan menurut beliau, sebelum sebagian ayatnya dihapuskan, surat Al-Ahzab sangat panjang seperti surat Al-Baqarah. (Dalam HR. Ibnu Majah dalam kitab shahihnya).

HR Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmizy dan An-Nasai :
Dari Ibnu Abbas ra. bahwa Umar bin al-Khaththab berkhutbah, “Sesungguhnya Allah SWT mengutus nabi Muhammad saw. dengan haq dan juga menurunkan kepadanya Al-Kitab (Al-Qur’an). Dan diantara ayat yang turun kepadanya adalah ayat rajam (“Laki-laki yang sudah menikah dan perempuan yang sudah menikah bila mereka berzina, maka rajamlah mereka berdua, sebagai hukuman dari Allah dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”). Kami telah membacanya dan memahaminya. Dan Rasulullah telah merajam dan kami pun juga telah merajam. Sungguh aku khawatir setelah masa yang panjang nanti akan ada seorang yang berkata, “Kita tidak mendapati keterangan tentang rajam di dalam Qur’an.” Maka orang itu telah menyesatkan dengan meninggalkan faridhah (kewajiban) yang telah Allah turunkan. Hukum rajam adalah benar bagi pezina baik laki-laki maupun perempuan yang muhshan, yaitu bila telah ditegakkan bayyinah (saksi) atau pengakuan. Demi Allah, jangan sampai ada orang yang mengatakan bahwa Umar telah menambahi ayat Al-Qur’an.

Sahih Muslim, Book 017, Hadith Number 4194. Chapter : Stoning of a married adulterer.
‘Abdullah b. ‘Abbas reported that ‘Umar b. Khattab sat on the pulpit of Allah’s Messenger (may peace be upon him) and said: Verily Allah sent Muhammad (may peace be upon him) with truth and He sent down the Book upon him, and the verse of stoning was included in what was sent down to him. We recited it, retained it in our memory and understood it. Allah’s Messenger (may peace be upon him) awarded the punishment of stoning to death (to the married adulterer and adulteress) and, after him, we also awarded the punishment of stoning, I am afraid that with the lapse of time, the people (may forget it) and may say: We do not find the punishment of stoning in the Book of Allah, and thus go astray by abandoning this duty prescribed by Allah. Stoning is a duty laid down in Allah’s Book for married men and women who commit adultery when proof is established, or it there is pregnancy, or a confession.

Sahih Bukhari, Volume 8, Book 82, Number 816:
Narrated Ibn ‘Abbas:
‘Umar berkata, “Aku khawatir jika waktu lama telah berlalu, orang2 akan berkata, “Kami tidak menemukan ayat2 Rajam (dilempari batu sampai mati) dalam Al-Qur’an, ” dan maka mereka jadi tidak melakukan kewajiban yang telah Allah tetapkan. Perhatikan! Aku menegaskan bahwa hukum Rajam harus dilaksanakan bagi dia yang melakukan hubungan seks haram, jika dia telah menikah dan kejahatan ini dibuktikan oleh saksi2 atau kehamilan atau pengakuan.” Sufyan menambahkan, “Aku telah mengingatnya seperti ini.” ‘Umar menambahkan, “Sudah jelas bahwa Rasul Allah melakukan hukum Rajam, dan jadi kami pun harus mengikuti perbuatannya.” (See also: Vol. 8, No. 817 and Vol. 9, No. 424; Sahih Muslim, No. 4194)

HR Muttafaq ‘alaih :
“Tidak halal darah seorang muslim kecuali karena salah satu dari tiga hal: orang yang berzina, orang yang membunuh dan orang yang murtad dan keluar dari jamaah.’

Adapun jika seseorang telah bertaubat, lalu mendatangi penguasa Islam yang menegakkan had dan mengaku berbuat zina, serta memilih ditegakkan had padanya, maka had boleh ditegakkan (walaupun tidak wajib), Jika tidak, maka tidak ditegakkan. Karena NABI BERSIKAP BERUSAHA AGAR RAJAM TDK TERJADI. [Majmu Fatawa 16/31]

Bila Sudah Bertaubat Dari Zina Apakah Tetap Harus Dirajam?
Jika seseorang sudah bertaubat dari zina (atau pencurian, minum khamer, dan lainnya) dan urusannya belum sampai kepada penguasa Islam yang menegakkan syari’at, maka had zina (cambuk atau rajam) gugur dari orang yang bertaubat tersebut. Hal ini dengan dalil-dalil sebagai berikut, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

[An-Nisaa : 16] “Dan terhadap dua orang yang melakukan perbuatan keji diantara kamu, maka berilah hukuman kepada keduanya. Kemudian jika keduanya bertubat dan memperbaiki diri, maka biarkanlah mereka. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”

[Al-Maidah : 39] “Maka barangsiapa bertaubat (diantara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Hadits Riwayat Ibnu Majah No. 4250 dan lainnya,
Dari Abdullah bin Mas’ud : Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Artinya : Orang yang bertaubat dari semua dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa” []

Hadits Riwayat Muslim dan lainnya:
Hadits dari Nu’aim bin Hazzal : “Ma’iz bin Malik adalah seorang yatim dibawah asuhan bapakku. Lalu dia menzinahi seorang budak dari suku itu. Maka bapakku berkata kepadanya, “Pergilah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beritahukan kepada beliau apa yang telah engkau lakukan. Semoga beliau memohonkan ampun untukmu”.Bapakku menghendaki hal itu karena berharap Ma’iz memperoleh solusi. Maka Ma’iz mendatangi beliau dan berkata, “Wahai Rasulullah sesungguhnya aku telah berzina. Maka tegakkanlah kitab Allah atasku”. Lalu beliau berpaling darinya. Kemudian Ma’iz mengulangi dan berkata, ““Wahai Rasulullah sesungguhnya aku telah berzina. Maka tegakkanlah kitab Allah atasku”. Maka beliau berpaling darinya. Kemudian Ma’iz mengulangi dan berkata, ““Wahai Rasulullah sesungguhnya aku telah berzina. Maka tegakkanlah kitab Allah atasku”. Sampai dia mengulanginya empat kali. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau telah mengatakannya empat kali. Lalu dengan siapa ?. Dia menjawab, “Dengan si Fulanah”. Lalu beliau bersabda, “Apakah engkau berbaring dengannya?”. Dia menjawab, “Ya”. Lalu beliau bersabda, “apakah engkau menyentuh kulitnya?”. Dia menjawab, “Ya”. Lalu beliau bersabda, “Apakah engkau bersetubuh dengannya?”. Dia menjawab, “Ya”.Maka beliau memerintahkan untuk merajamnya. Kemudian dia dibawa keluar ke Harrah [Nama tempat di luar kota Madinah]. Tatkala dia dirajam, lalu merasakan lemparan batu. Dia berkeluh kesah, lalu dia keluar dan berlari. Maka Abdullah bin Unais menyusulnya. Sedangkan sahabat-sahabatnya yang lain telah lelah. Kemudian Abdullah mengambil tulang betis unta, lalu melemparkannya, sehingga dia membunuhnya. Lalu dia mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakanya kepada beliau. Maka beliau bersabda, “Tidakkah kamu membiarkannya, kemungkinan dia bertaubat, lalu Allah menerima tuabatnya!?”

Dalam hadits berikut dikisahkan pengakuan seorang pezina lelaki yg sudah nikah diacuhkan oleh nabi sampai 2 x namun pezina tsb memaksa.

Sunan Abu Dawud, Book 38, Number 4421:
Dikisahkan oleh Al-Lajlaj al-Amiri:
Aku sedang bekerja di pasar. Seorang wanita berlalu membawa seorang anak. Orang2 lalu segera mendekatinya, dan aku pun mengikuti mereka. Aku lalu pergi menghadap sang Nabi ketika dia bertanya: Siapakah ayah anak yang bersamamu ini? Wanita itu tetap diam. Seorang pria muda yang berada di sebelah wanita itu berkata: Akulah ayah anak ini, Rasul Allah! Sang Nabi lalu berpaling pada wanita itu dan bertanya: Siapakah ayah anak yang bersamamu ini? Pria muda itu berkata: Akulah ayahnya, Rasul Allah! Rasul Allah memandangnya lalu melihat kepada orang2 di sekitar pemuda itu dan menanyakan pada mereka tentang dirinya. Mereka berkata: Kami hanya tahu hal2 yang baik tentang dia. Sang Nabi berkata pada pemuda itu: Apakah kau menikah? Pemuda itu menjawab: Ya. Maka sang Nabi memberi perintah atas dirinya dan dia pun dirajam sampai mati. Dia (penyampai cerita) berkata: Kami membawa pemuda itu ke luar, menggali lubang baginya, dan memasukkan dia ke dalamnya. Kami melempari dia dengan batu sampai dia mati. Seorang pria lalu menanyakan tentang pemuda yang baru saja dirajam mati itu. Kami bawa orang itu kepada sang Nabi dan berkata: Orang ini datang bertanya tentang pemuda berdosa itu. Rasul Allah berkata: Dia lebih berkenan daripada wangi parfum di mata Allah. Pria ini adalah ayah pemuda tersebut. Kami lalu menolong dia membasuh, mengafani, dan menguburkan dia. (Penyampai cerita berkata:) Aku tidak tahu apakah dia berkata atau tidak berkata “sembahyang baginya.” Ini adalah kisah dari Abdah yang lebih lengkap.

[color=blue]Dalam hadits berikut dikisahkan pengakuan seorang pezina laki2 (Ma’iz) dan perempuan (woman from ghamin) keduanya diacuhkan pengakuannya sampai 4 x namun pezina tsb memaksa ingin dirajam.

Sahih Muslim, Book 017, Hadith Number 4206.

‘Abdullah b. Buraida reported on the authority of his father that Ma’iz b. Malik al-Aslami came to Allah’s Messenger (may peace be upon him) and said: Allah’s Messenger, I have wronged myself ; I have committed adultery and I earnestly desire that you should purify me. He turned him away. On the following day, he (Ma’iz) again came to him and said: Allah’s Messenger, I have committed adultery. Allah’s Messenger (may peace be upon him) turned him away for the second time, and sent him to his people saying: Do you know if there is anything wrong with his mind. They denied of any such thing in him and said: We do not know him but as a wise good man among us, so far as we can judge. He (Ma’iz) came for the third time, and he (the Holy Prophet) sent him as he had done before. He asked about him and they informed him that there was nothing wrong with him or with his mind. When it was the fourth time, a ditch was dug for him and he (the Holy Prophet) pronounced judgment about him.
He (the narrator) said: There came to him (the Holy Prophet) a woman from Ghamid and said: Allah’s Messenger, I have committed adultery, so purify me. He (the Holy Prophet) turned her away. On the following day she said: Allah’s Messenger, Why do you turn me away? Perhaps, you turn me away as you turned away Ma’iz. By Allah, I have become pregnant. He said: Well, if you insist upon it, then go away until you give birth to (the child). When she was delivered she came with the child (wrapped) in a rag and said: Here is the child whom I have given birth to. He said: Go away and suckle him until you wean him. When she had weaned him, she came to him (the Holy Prophet) with the child who was holding a piece of bread in his hand. She said: Allah’s Apostle, here is he as I have weaned him and he eats food. He (the Holy Prophet) entrusted the child to one of the Muslims and then pronounced punishment. And she was put in a ditch up to her chest and he commanded people and they stoned her. Khalid b Walid came forward with a stone which he flung at her head and there spurted blood on the face of Khalid and so he abused her. Allah’s Apostle (may peace be upon him) heard his (Khalid’s) curse that he had hurried upon her. Thereupon he (the Holy Prophet) said: Khalid, be gentle. By Him in Whose Hand is my life, she has made such a repentance that even if a wrongful tax-collector were to repent, he would have been forgiven. Then giving command regarding her, he prayed over her and she was buried.

Kisah Maiz selengkapnya.
Sahih Muslim, Book 017, Hadith Number 4205.
Chapter : He who confesses his guilt of adultery.
Sulaiman b. Buraida reported on the authority of his father that Ma,iz b. Malik came to Allah’s Apostle (may peace be upon him) and said to him: Messenger of Allah, purify me, whereupon he said: Woe be upon you, go back, ask forgiveness of Allah and turn to Him in repentance. He (the narrator) said that he went back not far, then came and said: Allah’s Messenger, purify me. whereupon Allah’s Messenger (may peace be upon him) said: Woe be upon you, go back and ask forgiveness of Allah and turn to Him in repentance. He (the narrator) said that he went back not far, when he came and said: Allah’s Messenger, purify me. Allah’s Apostle (may peace be upon him) said as he had said before. When it was the fourth time, Allah’s Messenger (may, peace be upon him) said: From what am I to purify you? He said: From adultery, Allah’s Messenger (may peace be upon him) asked if he had been mad. He was informed that he was not mad. He said: Has he drunk wine? A person stood up and smelt his breath but noticed no smell of wine. Thereupon Allah’s Messenger (may peace be upon him) said: Have you committed adultery? He said: Yes. He made pronouncement about him and he was stoned to death. The people had been (divided) into two groups about him (Ma’iz). One of them said: He has been undone for his sins had encompassed him, whereas another said: There is no repentance more excellent than the repentance of Ma’iz, for he came to Allah’s Apostle (may peace be upon him) and placing his hand in his (in the Holy Prophet’s) hand said: Kill me with stones. (This controversy about Ma’iz) remained for two or three days. Then came Allah’s Messenger (may peace be upon him) to them (his Companions) as they were sitting. He greeted them with salutation and then sat down and said: Ask forgiveness for Ma’iz b. Malik. They said: May Allah forgive Ma’iz b. Malik. Thereupon Allah’s Messenger (may peace be upon him) said: He (Ma’iz) has made such a repentance that if that were to be divided among a people, it would have been enough for all of them.
He (the narrator) said: Then a woman of Ghamid, a branch of Azd, came to him and said: Messenger of Allah, purify me, whereupon he said: Woe be upon you ; go back and beg forgiveness from Allah and turn to Him in repentance. She said: I find that you intend to send me back as you sent back Ma’iz. b. Malik. He (the Holy, Prophet) said: What has happened to you? She said that she had become pregnant as a result of fornication. He (the Holy Prophet) said: Is it you (who has done that)? She said: Yes. He (the Holy Prophet) said to her: (You will not be punished) until you deliver what is there in your womb. One of the Ansar became responsible for her until she was delivered (of the child). He (that Ansari) came to Allah’s Apostle (may peace be upon him) and said the woman of Ghamid has given birth to a child. He (the Holy Prophet) said: In that case we shall not stone her and so leave her infant with none to suckle him. One of the Ansar got up and said: Allah’s Apostle, let the responsibility of his suckling be upon me. She was then stoned to death.

Dalam hadits berikut dikisahkan pengakuan seorang pezina laki2 (dari bani Aslam) diacuhkan pengakuannya sampai 4 x namun pezina tsb memaksa ingin dirajam.
Sahih Bukhari, Volumn 007, Book 063, Hadith Number 196.
Narated By Abu Huraira : A man from Bani Aslam came to Allah’s Apostle while he was in the mosque and called (the Prophet) saying, “O Allah’s Apostle! I have committed illegal sexual intercourse.” On that the Prophet turned his face from him to the other side, whereupon the man moved to the side towards which the Prophet had turned his face, and said, “O Allah’s Apostle! I have committed illegal sexual intercourse.” The Prophet turned his face (from him) to the other side whereupon the man moved to the side towards which the Prophet had turned his face, and repeated his statement. The Prophet turned his face (from him) to the other side again. The man moved again (and repeated his statement) for the fourth time. So when the man had given witness four times against himself, the Prophet called him and said, “Are you insane?” He replied, “No.” The Prophet then said (to his companions), “Go and stone him to death.” The man was a married one. Jabir bin ‘Abdullah Al-Ansari said: I was one of those who stoned him. We stoned him at the Musalla (‘Id praying place) in Medina. When the stones hit him with their sharp edges, he fled, but we caught him at Al-Harra and stoned him till he died.

Sahih Muslim, Book 017, Hadith Number 4202.
Chapter : He who confesses his guilt of adultery.
Abu Sa’id reported that a person belonging to the clan of Aslam, who was called Ma,iz b. Malik, came to Allah’s Messenger (may peace be upon him) and said: I have committed immorality (adultery), so inflict punishment upon me. Allah’s Apostle (may peace be upon him) turned him away again and again. He then asked his people (about the state of his mind). They said: We do not know of any ailment of his except that he has committed something about which he thinks that he would not be able to relieve himself of its burden but with the Hadd being imposed upon him. He (Ma’iz) came back to Allah’s Apostle (may peace be upon him) and he commanded us to stone him. We took him to the Baqi’ al-Gharqad (the graveyard of Medina). We neither tied him nor dug any ditch for him. We attacked him with bones, with clods and pebbles. He ran away and we ran after him until he came upon the stone ground (al-Harra) and stopped there and we stoned him with heavy stones of the Harra until he became motionless (lie died). He (the Holy Prophet) then addressed (us) in the evening saying Whenever we set forth on an expedition in the cause of Allah, some one of those connected with us shrieked (under the pressure of sexual lust) as the bleating of a male goat. It is essential that if a person having committed such a deed is brought to me, I should punish him. He neither begged forgiveness for him nor cursed him.

100 tahun tdk ada lagi kualitas generasi sahabat.

Sahih Muslim, Book 031, Hadith Number 6160.

Chapter : Meaning of the saying of the Prophet (may peace be upon him): “No person would survive after a century who is living by this time of mine”.
‘Abdullah b. Umar reported that Allah’s Messenger (may peace be upon him) led us ‘Isha prayer at the latter part of the night and when he had concluded it by salutations he stood up and said: Have you seen this night of yours? At the end of one hundred years after this none would survive on the surface of the earth (from amount my Companions). Ibn Umar said: People were (not understanding) these words of the Messenger of Allah (may peace be upon him) which had been uttered pertaining to one hundred years. Allah’s Messenger (may peace be upon him) in fact meant (by these words) that on that day none from amongst those who had been living upon the earth (from amongst his Companions) would survive (after one hundred years) and that would be the end of this generation.

KEHAMILAN BUKAN BUKTI UNTUK DIRAJAM KARENA DI ZAMAN NABI ADA KASUS BERZINA DAN HAMIL TDK DIRAJAM KARENA PEZINA MENOLAK DIRAJAM DGN MENYAMARKAN KEHAMILANNYA ATAS SUAMINYA.

seorang istri berselingkuh dan hamil dgn bayi mirip selingkuhannyam karena wanita tsb tdk ingin dirajam dia melakukan Lian (melaknat diri jika bohong). Wanita tsb lolos dari rajam karena lian dan kehamilannya disamarkan sbg benih suaminya. Kemudian suaminya menceraikan istrinya yg selingkuh shg menjadi tradisi jika LIAN terjadi maka suami istri CERAI.

Sahih BUkhari, Volumn 007, Book 063, Hadith Number 229.
Narated By Ibn Juraij : Ibn Shihab informed me of Lian and the tradition related to it, referring to the narration of Sahl bin Sad, the brother of Bani Sa’idi He said, “An Ansari man came to Allah’s Apostle and said, ‘O Allah’s Apostle! If a man saw another man with his wife, should he kill him, or what should he do?’ So Allah revealed concerning his affair what is mentioned in the Holy Qur’an about the affair of those involved in a case of Lian. The Prophet said, ‘Allah has given His verdict regarding you and your wife.’ So they carried out Lian in the mosque while I was present there. When they had finished, the man said, “O Allah’s Apostle! If I should now keep her with me as a wife then I have told a lie about her. Then he divorced her thrice before Allah’s Apostle ordered him, when they had finished the Lian process. So he divorced her in front of the Prophet.” Ibn Shihab added, “After their case, it became a tradition that a couple involved in a case of Lian should be separated by divorce. That lady was pregnant then, and later on her son was called by his mother’s name. The tradition concerning their inheritance was that she would be his heir and he would inherit of her property the share Allah had prescribed for him.” Ibn Shihab said that Sahl bin Sad As’Saidi said that the Prophet said (in the above narration), “If that lady delivers a small red child like a lizard, then the lady has spoken the truth and the man was a liar, but if she delivers a child with black eyes and huge lips, then her husband has spoken the truth.” Then she delivered it in the shape one would dislike (as it proved her guilty).

Sahih Bukhari, Volumn 007, Book 063, Hadith Number 230.
Narated By Al-Qasim bin Muhammad : Ibn ‘Abbas; said, “Once Lian was mentioned before the Prophet whereupon ‘Asim bin Adi said something and went away. Then a man from his tribe came to him, complaining that he had found a man width his wife. ‘Asim said, ‘I have not been put to task except for my statement (about Lian).’ ‘Asim took the man to the Prophet and the man told him of the state in which he had found his wife. The man was pale, thin, and of lank hair, while the other man whom he claimed he had seen with his wife, was brown, fat and had much flesh on his calves. The Prophet invoked, saying, ‘O Allah! Reveal the truth.’ So that lady delivered a child resembling the man whom her husband had mentioned he had found her with. The Prophet then made them carry out Lian.” Then a man from that gathering asked Ibn ‘Abbas, “Was she the same lady regarding which the Prophet had said, ‘If I were to stone to death someone without witness, I would have stoned this lady’?” Ibn ‘Abbas said, “No, that was another lady who, though being a Muslim, used to arouse suspicion by her outright misbehaviour.”

Tindak perkosaan pernah terjadi pada masa Nabi Muhammad Saw, dan Pemerkosa dihukum Rajam sedangkan Korban tidak dihukum.

HR. Imam Turmudzi dan Abu Dawud, (lihat Ibn al-Atsir, Jâmi’ al-Ushûl, IV/270, no. hadits: 1823) :
dari sahabat Wail bin Hujr ra : “Suatu hari, ada seorang perempuan pada masa Nabi Saw yang keluar rumah hendak melakukan shalat di masjid. Di tengah jalan, ia dijumpai seorang laki-laki yang menggodanya, dan memaksanya (dibawa ke suatu tempat) untuk berhubungan intim. Si perempuan menjerit, dan ketika selesai memperkosa, si laki-laki lari. Kemudian lewat beberapa orang Muhajirin, ia mengarahkan: “Lelaki itu telah memperkosa saya”. Mereka mengejar dan menangkap laki-laki tersebut yang diduga telah memperkosanya. Ketika dihadapkan kepada perempuan tersebut, ia berkata: “Ya, ini orangnya”. Mereka dihadapkan kepada Rasulullah Saw. Ketika hendak dihukum, si laki-laki berkata: “Ya Rasul, saya yang melakukannya”. Rasul berkata kepada perempuan: “Pergilah, Allah telah mengampuni kamu”. Lalu kepada laki-laki tersebut Nabi menyatakan suatu perkataan baik (apresiatif terhadap pengakuannya) dan memerintahkan: “Rajamlah”. Kemudian berkata: “Sesungguhnya ia telah bertaubat, yang kalau saja taubat itu dilakukan seluruh pendudukan Madinah, niscaya akan diterima”.

Sunan Abu Dawud, Book 033, Hadith Number 4366.
Narated By Wa’il ibn Hujr : When a woman went out in the time of the Prophet (pbuh) for prayer, a man attacked her and overpowered (raped) her. She shouted and he went off, and when a man came by, she said: That (man) did such and such to me. And when a company of the Emigrants came by, she said: That man did such and such to me. They went and seized the man whom they thought had had intercourse with her and brought him to her. She said: Yes, this is he. Then they brought him to the Apostle of Allah (pbuh). When he (the Prophet) was about to pass sentence, the man who (actually) had assaulted her stood up and said: Apostle of Allah, I am the man who did it to her. He (the Prophet) said to her: Go away, for Allah has forgiven you. But he told the man some good words (AbuDawud said: meaning the man who was seized), and of the man who had had intercourse with her, he said: Stone him to death. He also said: He has repented to such an extent that if the people of Medina had repented similarly, it would have been accepted from them.

Hadits Riwayat Imam at-Turmudzi :
“Ada seorang perempuan yang diperkosa pada masa Rasulullah Saw, maka ia dilepaskan dari ancaman hukuman perzinahan, sementara pelakunya dikenakan hukuman had”.

Dalam riwayat Imam Bukhari dan Malik (lihat Ibn al-Atsir, Jâmi’ al-Ushûl, IV/269, no. hadits:1822) :
Dari Nafi’ mawla Ibn ‘Umar ra, berkata: “Bahwa Shafiyyah bin Abi Ubaid mengkhabarkan: “Bahwa seorang budak laki-laki berjumpa dengan seorang budak perempuan, dan memaksanya berhubungan intim, maka Khalifah ‘Umar menghukumnya dengan cambukan, dan tidak menghukum si perempuan”..

Berpandang-pandangan itu baik!! apalagi menjaganya…

Setelah menulis “percampuran pria dan wanita itu baik” dan juga “nikmatnya berdua-duaan” ternyata masih ada yang mempetanyakan tentang memandang wanita,yang kesimpulan memandang itu sah-saha saja selama tidak ada syahwat, dan itu biasa terjadi di zaman rasul,yaitu pertemuan laki-laki dengan pertemuan.

Ada yang menganggap menundukkan pandangan adalah dengan melihat ke bawah,padahal telah dijelaskan menahan pandangan adalah menahan pandangan mata dari melihat ke sana-kemari karena dikhawatikran timbulnya fitnah.Oleh karena itu, kami tampilkan lebih detail lagi dari hadits,pendapat ulama tentang bolehnya memandang wanita (langsung) selama tidak ada syahwat (biasa aja lagi….),mungkin masih ada yang berlebih-lebihan dalam menetapkan sesuatu sehingga benar-benar “nunduk” sama sekali,bahkan menetapkan menganjurkan tidak melihat wajahnya atau matanya yang sebenarnya berlebih-lebihan,dan bertentangan denga dalil,pendapat sahabat dan juga keterangan ulama salaf rahimahullah

Sesungguhnya perintah menahan sebagian pandangan itu dimaksudkan untuk menjauhi pelepasan pandangan yang terus menerus ,dan tidak mungkin bahwa yang dimaksud itu adalah benar2 (berusaha) menjauhi pandangan secara mutlak.Dalilnya jelas sekali dalam An Nur ayat 30

“Katakanlah kepada laki-laki mu’min : Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mereka,”Dan katakanlah kepada wanita-wanita mu’minah ,”Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mereka”

Ath Thabari berkata dalam tafsirnya “Apabila melihat sesuatu yang tidak halal baginya,maka ditundukannya pandangannya ,dan tidak memandang kepadanya.Dan tidak ada seorangpun yang dapat menahan pandangan secara total.Sesungguhnya Allah hanya berfirman “Katakanlah kepada laki-lakin mu’min Hendaklah mereka menahan SEBAGIAN dari pandangan mereka.Yakni ,apabila ia melihat sesuatu yang tidak halal baginya dari aurat ,atau melihat sesuatu yang tidak halal baginya untuk bersenang-senang dengannya,maka ditahannya pandangannya.Adapun jika yang dilihat itu bukan aurat dan pandangannya tidak bersyahwat dan bersenang-senang,maka tiadalah larangan itu ( Tafsir At Thabari,surat annur 30)

Dari Abu Hayyan dalam Tafsirnya “Laki-laki boleh melihat wanita asing kepada wajahnya dan kedua telapak tangannya…sebab ia tidak kuasa menjauhi pandangan itu ( Al Bahrul Muhith,Abu Hayyan Al Andalusy)

Ibnu Daqiqil’Id berkata ,” Sesungguhnya lafal min itu menunjukkan sebagian…Dan ayat itu tidak menunjukkan wajibnya menahan pandangan secara mutlak ( Ahkamul Ahkam Syarh Umdatul Ahkam)

Ibnu Abbas berkata “Aku tidak melihat sesuatu yang lebih mirip dengan melakukan dosa-dosa kecil daripada apa yang dikatakan Abu Hurairah dari Nabi saw,beliau bersabda “Telah di tetapkan kepada manusia bagiannya dari perzinahan, ia pasti melakukan hal itu. Kedua mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lidah zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah memukul (meraba), kaki zinanya adalah melangkah, hati jiwa berangan-angan dan menikmati, dan yang membenarkan atau menggagalkan semua itu adalah kemaluan.?(HR.Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Ahmad)

Hadits ini dengan jelas menunjukkan bahwa pandangan dengan syahwat itulah yang dimaksud dengan dosa kecil (mendekati zina),karena itu lah beliau bersabda ,”Dan jiwa berangan-angan dan menikmati”.Ini berarti jika pandangan itu tidak dengan syahwat maka tidak ada dosa untuknya.

Ibnu Bathathal berkata “Pandangan dan perkataan disebut zina karena dapat mengajak kepada zina yang sebenarnya.Oleh karena itu beliau bersabda,’Dan kemaluan membenarkan hal itu atau mendustakannya,””( Fathul Baari Juz 13)

Sebenarnya,tentang hadis-hadits lain sudah ada penjelasan pada tulisan menundukkan pandangan sambil berkhalwat.Disini memambahkan dan mempertegas bahwa ,memandang itu boleh asal dengan tidak ada syahwat,dan saya rasa ini yang biasa kita lakukan.

Jika mulai terjadi syahwat maka tundukkan pandangan
Durrah binti Abu lahab berkata,Aku berada di sisi Aisyah lalu nabi saw masuk seraya berkata,”Ambilkan aku air untuk wudhu.”Maka aku dan Aisyah bersegera ke bejana tempat air,tetapi aku mendahuluinya,lalu aku mengambilnya.maka beliau berwudhu,lalu mengangkat kedua mata beliau atau pandangan beliau kepadaku,Beliau berkata “Engkau dari golonganku,dan aku dari golonganmu” (Majmu uz Zawaid,Al Hafidz al Haitsami berkata ‘Diriwayatkan oleh Ahmad ,dan perawi-perawinya terpercaya)

Qais bin Abi hazim berkata,”Kami menemui Abu Bakar r.a ketika ia sakit,Maka saya lihat disisinya seorang wanita berkulit putih yang kedua tangannya dilukisi dengan hena yang dapat menolak lalat.Dan ia adah Asma’binti Umais”( HR Thabrani,perawi-perawinya adalah perawi shahih)

Kedua hadits diatas menunjukkan bolehnya memandang tanpa ,syahwat.Selain itu coba kita tinjau pendapat para ulama dari berbagai Mahzab

Mahzab maliki

Tercantum dalam Al Muwaththa’ bahwa telah ditanyakan kepada Imam Malik,Bolehkah seorang wanita makan bersama denga n laki-laki yang bukan mahramnya atau dengan bujangnya? “Maka Imam Malik menjawab “Hal itu tidak mengapa..sebab ,kadang –kadang wanita makan bersama suaminya dan bersama laki-laki yang makan bersama suaminua.Pengarang Al Muntaqa Syarh Al Muwaththa’ berkata,” Perkataan beliau,sebab kadang-kadang wanita makan bersama suaminya dan bersama laki-laki yang makan bersama suaminya, menetapkan bahwa pandangan laki-laki kepada yang demikian itu tampak darinya pada waktu makan bersama (Ibnul Walid al Bajj al –Andalusi)

Mahzab Hanafi

Disebutkan dalam Al mahsuth karya As-Sakhasu hal yang menunjukkan bolehnya laki-laki asing melihat wajah wanita.Hal itu ketika berbicara tentang wanita mati diantara laki-laki asing.Mereka berkata .”Jika ia laki-laki asing,maka ia mentayamumkan wanita itu dengan sepotong kain yang diikatkan ke telapak tangannya sdang ia memalingkan wajahnya dari kedua lengan wanita,tetapi tidak dari wajahnya.Sebab pada waktu hidupnya ,laki-laki asing tidak boleh memandang kedua lenganya ( Mahsuth juz 2)

Mahzab Hanbali

Disebutkan dalam Al Mughni oleh Ibnu Qudamah ,al Qadhi berkata ‘Haram bagi laki-laki terhadap wanita asing untuk memandang kepada apa saja yang selain wajah dan kedua telapak tangan ,karena yang demikian itu aurat;dan diperbolehkan baginya untuk memandang kepadanya,tetapi makruh apabila aman dari fitnah ,dan memandang bukan denga syahwat

Demikian Mahzab Syafii berdasarkan firman Allah’,Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali apa yang biasa tampak darinya.”…Dan karena itu bukan aurat,maka tidak haram memandang kepadanya tanpa ragu-ragu ( Al Mughni ,juz 6)

Dalam Fatawa Ibnu Taimiyah ,katanya “Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum memandang wanita asing.Maka ,ada yang mengatakan ,’Boleh memandang tanpa syahwat kepadan wajahnya dan kedua tangannya.Ini adalah mahzab Abu Hanifah dan as Syafii,dan satu pendapat dalam Mahzab Ahmad (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah,juz 22)

Dan Akhirnya Ibnu Taimiyah berpendapat “Memandang yang dilarang itu ialah memandang aurat,dan memandang karena syahwat,meskipun yang dipandang itu bukan aurat” ( Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah juzz 22 hal 369)

Dengan keterangan-keterangan yang jelas, dapat disimpulkan bahwa Allah memberikan kelapangan kepada manusia yaitu pria dan wanita untuk memperlapang interaksi,dan saling memandang merupakan fitrah dalam kehidupan.Allah menurukan hikmah yaitu menahan pandangan,dan malah tidak memerintahkan menutup wajah wanita atau jika bertemu wanita dianjurkan dengan tabir.Syariat yang benar-benar agung,dengan memperhatikan kemudahan dalam urusan,mempererat silaturahmi,dan juga keakraban agar dapat bersama-sama menjalani kehidupan dengan baik…..

Hukuman Bagi Pezina?memang ada?

Akhir-akhir ini sedang ada kasus heboh yang menyita perhatian publik,juga media masa dipenuhi oleh informasi-informasi tentang artis selingkuh lah,atau orang yang mirip artis yang diduga melakukan perzinaan.Dalam Islam sendiri perzinaan merupakan perbuatan keji dan kotor (fahisyah)

“Dan janganlah kamu mendekati zina,sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji ( fahisyah ) dan suatu jalan yang buruk.” ( QS. Al Isra’, 32 )

Sudah sering kita dengar bahwa dalam Islam orang yang berzina ada hukuman tersendiri yaitu hukuman dari Allah karena perbuatannya.Namun,dalam Islam,untuk menetapkan seseorang itu berzina itu sangat ketat sekali.Untuk menuduh seseorang berbuat zina saja harus menghadirkan empat orang saksi yang langsung melihat mereka berzina,sebagaimana masuknya pensil ke dalam botol.Tentu saja hal ini dapat dibilang sangat sulit sekali dipenuhi.Hal ini mungkin baru bisa terjadi jika orang yang berzina terang-terangan di tempat umum yang ramai pada saat jam orang banyak.

Oleh karena itu, zaman nabi tidak ada kasus orang yang berzina dan dirajam karena kedapatan berzina,tetapi beberapa kasus karena pengakuan dari si pelaku zina.Oleh karena itu,berita tentang zina dan keburukannya di zaman nabi sangat sedikit sekali.Berbeda sekali dengan zaman searang,yang malah dibesar-besarkan oleh media bagaimana berita zina ini.Berita yang dibesar-besarkan tentang zina,dampaknya menyebar ke anak-anak,remaja,keluarga pezina,pelaku,juga masyarakat banyak,dan hal ini tentu saja sangat mengganggu nama baik masyarakat dan juga suatu bangsa

Miris sekali memang, perbuatan pribadi dan rahasia pribadi menjadi menyebar pesat ke seluruh negeri,gambar video yang sudah menyebar di masyarakat.Ratting berita ini menjadi “laku” dijual,seolah-olah pada zaman ini,berita tentang zina tidak dianggap tabu lagi,atau malah bisa dibilang bukan sesuatu yang memalukan sehingga dengan mudahnya tersebar.

Jika berita-berita semacam ini lama-lama semakin banyak dan dibiarkan,maka masyarakat akan terbiasa dengan kasus-kasus perzinaan dan terbiasa pula dengan berzina dan juga mendekatinya sehingga hilanglah penjagaan social,yang menjadikan degradasi moral,dan ini berbahaya kepada generasi selanjutnya.

Oleh karena itu, nabi berusaha sejauh mungkin menjauhi hukuman rajam,dan juga dapat kita simpulkan dari sifat nabi,jika ada orang berzina, lebih baik dirumah bertaubat,tidak perlu ngomong ke siapa-siapa, langsung taubat kepada Allah.Dan bagi orang yang benar-benar ingin dirajam,bertobat,maka pahala dan ampunan Allah sudah siap sedia, dan juga surga ,oleh karena itu ini hikmah Allah memberikan peluang berbohong kepada pelaku zina untuk tidak mengaku,padahal syarat seseorang dirajam yaitu pengakuan pelaku zina dan juga keputusan penguasa

Adapun jika seseorang telah bertaubat, lalu mendatangi penguasa Islam yang menegakkan had dan mengaku berbuat zina, serta memilih ditegakkan had padanya, maka had boleh ditegakkan (walaupun tidak wajib), Jika tidak, maka tidak ditegakkan. Karena NABI BERSIKAP BERUSAHA AGAR RAJAM TIDAK TERJADI. [Majmu Fatawa 16/31 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah]

Bila Sudah Bertaubat Dari Zina Apakah Tetap Harus Dirajam?

Jika seseorang sudah bertaubat dari zina (atau pencurian, minum khamer, dan lainnya) dan urusannya belum sampai kepada penguasa Islam yang menegakkan syari’at, maka had zina (cambuk atau rajam) gugur dari orang yang bertaubat tersebut. Hal ini dengan dalil-dalil sebagai berikut, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

[An-Nisaa : 16] “Dan terhadap dua orang yang melakukan perbuatan keji diantara kamu, maka berilah hukuman kepada keduanya. Kemudian jika keduanya bertubat dan memperbaiki diri, maka biarkanlah mereka. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”

[Al-Maidah : 39] “Maka barangsiapa bertaubat (diantara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Hadits Riwayat Ibnu Majah No. 4250 dan lainnya,
Dari Abdullah bin Mas’ud : Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Artinya : Orang yang bertaubat dari semua dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa”

Hadits Riwayat Muslim dan lainnya:

Hadits dari Nu’aim bin Hazzal : “Ma’iz bin Malik adalah seorang yatim dibawah asuhan bapakku. Lalu dia menzinahi seorang budak dari suku itu. Maka bapakku berkata kepadanya, “Pergilah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beritahukan kepada beliau apa yang telah engkau lakukan. Semoga beliau memohonkan ampun untukmu”.Bapakku menghendaki hal itu karena berharap Ma’iz memperoleh solusi. Maka Ma’iz mendatangi beliau dan berkata, “Wahai Rasulullah sesungguhnya aku telah berzina. Maka tegakkanlah kitab Allah atasku”. Lalu beliau berpaling darinya. Kemudian Ma’iz mengulangi dan berkata, ““Wahai Rasulullah sesungguhnya aku telah berzina. Maka tegakkanlah kitab Allah atasku”. Maka beliau berpaling darinya. Kemudian Ma’iz mengulangi dan berkata, ““Wahai Rasulullah sesungguhnya aku telah berzina. Maka tegakkanlah kitab Allah atasku”. Sampai dia mengulanginya empat kali. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau telah mengatakannya empat kali. Lalu dengan siapa ?. Dia menjawab, “Dengan si Fulanah”. Lalu beliau bersabda, “Apakah engkau berbaring dengannya?”. Dia menjawab, “Ya”. Lalu beliau bersabda, “apakah engkau menyentuh kulitnya?”. Dia menjawab, “Ya”. Lalu beliau bersabda, “Apakah engkau bersetubuh dengannya?”. Dia menjawab, “Ya”.Maka beliau memerintahkan untuk merajamnya. Kemudian dia dibawa keluar ke Harrah [Nama tempat di luar kota Madinah]. Tatkala dia dirajam, lalu merasakan lemparan batu. Dia berkeluh kesah, lalu dia keluar dan berlari. Maka Abdullah bin Unais menyusulnya. Sedangkan sahabat-sahabatnya yang lain telah lelah. Kemudian Abdullah mengambil tulang betis unta, lalu melemparkannya, sehingga dia membunuhnya. Lalu dia mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakanya kepada beliau. Maka beliau bersabda, “Tidakkah kamu membiarkannya, kemungkinan dia bertaubat, lalu Allah menerima taubatnya!?” (kisah lengkap pada Sahih Muslim, Book 017, Hadith Number 4206)

Hadits diatas jelas sekali menyebutkan bagaimana kisah Maiz yang diacuhkan nabi berkali-kali karena menginginkan dirajam ,dan artinya memang nabi tidak menginginkan rajam sampai terjadi,dalam beberapa hadits lain juga disebutkan bahwa hampir semua orang yang ingin dirajam yang memaksa-maksa nabi agar jatuhnya hukuman rajam pada mereka.Mengapa? Karena rajam hanya terjadi jika mereka mengaku dan juga ada ampunan dan pahala besar dibalik rajam ini.Oleh karena itu tidak heran,jika zaman sekarang sulit sekali menemukan orang yang benar-benar mengaku berzina dan ingin dirajam.

Dalam hadits berikut dikisahkan pengakuan seorang pezina lelaki yg sudah nikah diacuhkan oleh nabi sampai 2 kali namun pezina tsb memaksa.

Sunan Abu Dawud, Book 38, Number 4421:
Dikisahkan oleh Al-Lajlaj al-Amiri:
Aku sedang bekerja di pasar. Seorang wanita berlalu membawa seorang anak. Orang2 lalu segera mendekatinya, dan aku pun mengikuti mereka. Aku lalu pergi menghadap sang Nabi ketika dia bertanya: Siapakah ayah anak yang bersamamu ini? Wanita itu tetap diam. Seorang pria muda yang berada di sebelah wanita itu berkata: Akulah ayah anak ini, Rasul Allah! Sang Nabi lalu berpaling pada wanita itu dan bertanya: Siapakah ayah anak yang bersamamu ini? Pria muda itu berkata: Akulah ayahnya, Rasul Allah! Rasul Allah memandangnya lalu melihat kepada orang2 di sekitar pemuda itu dan menanyakan pada mereka tentang dirinya. Mereka berkata: Kami hanya tahu hal2 yang baik tentang dia. Sang Nabi berkata pada pemuda itu: Apakah kau menikah? Pemuda itu menjawab: Ya. Maka sang Nabi memberi perintah atas dirinya dan dia pun dirajam sampai mati. Dia (penyampai cerita) berkata: Kami membawa pemuda itu ke luar, menggali lubang baginya, dan memasukkan dia ke dalamnya. Kami melempari dia dengan batu sampai dia mati. Seorang pria lalu menanyakan tentang pemuda yang baru saja dirajam mati itu. Kami bawa orang itu kepada sang Nabi dan berkata: Orang ini datang bertanya tentang pemuda berdosa itu. Rasul Allah berkata: Dia lebih berkenan daripada wangi parfum di mata Allah. Pria ini adalah ayah pemuda tersebut. Kami lalu menolong dia membasuh, mengafani, dan menguburkan dia. (Penyampai cerita berkata:) Aku tidak tahu apakah dia berkata atau tidak berkata “sembahyang baginya.”

Sahih Muslim, Book 017, Hadith Number 4205.Chapter : He who confesses his guilt of adultery.
Sulaiman b. Buraida reported on the authority of his father that Ma,iz b. Malik came to Allah’s Apostle (may peace be upon him) and
said to him: Messenger of Allah, purify me,
whereupon he said: Woe be upon you, go back, ask forgiveness of Allah and turn to Him in repentance.

He (the narrator) said that he went back not far, then came and said: Allah’s Messenger, purify me.
whereupon Allah’s Messenger (may peace be upon him) said: Woe be upon you, go back and ask forgiveness of Allah and turn to Him in repentance.

He (the narrator) said that he went back not far, when he came and said: Allah’s Messenger, purify me.
Allah’s Apostle (may peace be upon him) said as he had said before.

When it was the fourth time, Allah’s Messenger (may, peace be upon him) said: From what am I to purify you? He said: From adultery, Allah’s Messenger (may peace be upon him) asked if he had been mad.
He was informed that he was not mad.
He said: Has he drunk wine? A
person stood up and smelt his breath but noticed no smell of wine. Thereupon Allah’s Messenger (may peace be upon him) said: Have you committed adultery?
He said: Yes.
He made pronouncement about him and he was stoned to death.

The people had been (divided) into two groups about him (Ma’iz). One of them said: He has been undone for his sins had encompassed him, whereas another said: There is no repentance more excellent than the repentance of Ma’iz, for he came to Allah’s Apostle (may peace be upon him) and placing his hand in his (in the Holy Prophet’s) hand said: Kill me with stones. (This controversy about Ma’iz) remained for two or three days.
Then came Allah’s Messenger (may peace be upon him) to them (his Companions) as they were sitting. He greeted them with salutation and then sat down and said: Ask forgiveness for Ma’iz b. Malik. They said: May Allah forgive Ma’iz b. Malik. Thereupon Allah’s Messenger (may peace be upon him) said: He (Ma’iz) has made such a repentance that if that were to be divided among a people, it would have been enough for all of them.

Jadi,sudah jelas, saran nabi,jika ada seseorang berzina yaitu kembali ke rumah, dan bertaubat kepada Allah mudah-mudahan Allah mengampuni dosanya.Zina bukan merupakan sesuatu yang harus dibesar-besarkan ,apalagi diancam ancam akan dirajam.Namun sebaliknya,nabi menutup terjadinya rajam,kecuali sipelaku zina memaksa-maksa ingin dirajam.Dan nabi bersabda : He (Ma’iz) has made such a repentance that if that were to be divided among a people, it would have been enough for all of them..Bagaimana pahala yang besar yang didapatkan jika seseorang ingin dirajam.

Bagaimana jika kemudian suami menuntut atau perempuan terbukti hamil? Dalam hal ini ,perempuan yang hamil tidak dapat dijadikan bahwa dia berzina dan harus dirajam,tetap dia harus mengakui bahwa ia telah berzina dan menginginkan rajam. Seorang istri berselingkuh dan hamil dgn bayi mirip selingkuhannya karena wanita tsb tidak ingin dirajam dia melakukan Lian (melaknat diri jika bohong). Wanita tersebut lolos dari rajam karena lian dan kehamilannya disamarkan sbg benih suaminya. Kemudian suaminya menceraikan istrinya yg selingkuh shg menjadi tradisi jika LIAN terjadi maka suami istri CERAI.

Sahih Bukhari, Volumn 007, Book 063, Hadith Number 229.

Narated By Ibn Juraij : Ibn Shihab informed me of Lian and the tradition related to it, referring to the narration of Sahl bin Sad, the brother of Bani Sa’idi He said, “An Ansari man came to Allah’s Apostle and said, ‘O Allah’s Apostle! If a man saw another man with his wife, should he kill him, or what should he do?’ So Allah revealed concerning his affair what is mentioned in the Holy Qur’an about the affair of those involved in a case of Lian. The Prophet said, ‘Allah has given His verdict regarding you and your wife.’ So they carried out Lian in the mosque while I was present there. When they had finished, the man said, “O Allah’s Apostle! If I should now keep her with me as a wife then I have told a lie about her. Then he divorced her thrice before Allah’s Apostle ordered him, when they had finished the Lian process. So he divorced her in front of the Prophet.” Ibn Shihab added, “After their case, it became a tradition that a couple involved in a case of Lian should be separated by divorce. That lady was pregnant then, and later on her son was called by his mother’s name. The tradition concerning their inheritance was that she would be his heir and he would inherit of her property the share Allah had prescribed for him.” Ibn Shihab said that Sahl bin Sad As’Saidi said that the Prophet said (in the above narration), “If that lady delivers a small red child like a lizard, then the lady has spoken the truth and the man was a liar, but if she delivers a child with black eyes and huge lips, then her husband has spoken the truth.” Then she delivered it in the shape one would dislike (as it proved her guilty).

Sahih Bukhari, Volumn 007, Book 063, Hadith Number 230.
Narated By Al-Qasim bin Muhammad : Ibn ‘Abbas; said, “Once Lian was mentioned before the Prophet whereupon ‘Asim bin Adi said something and went away. Then a man from his tribe came to him, complaining that he had found a man width his wife. ‘Asim said, ‘I have not been put to task except for my statement (about Lian).’ ‘Asim took the man to the Prophet and the man told him of the state in which he had found his wife. The man was pale, thin, and of lank hair, while the other man whom he claimed he had seen with his wife, was brown, fat and had much flesh on his calves. The Prophet invoked, saying, ‘O Allah! Reveal the truth.’ So that lady delivered a child resembling the man whom her husband had mentioned he had found her with. The Prophet then made them carry out Lian.” Then a man from that gathering asked Ibn ‘Abbas, “Was she the same lady regarding which the Prophet had said, ‘If I were to stone to death someone without witness, I would have stoned this lady’?” Ibn ‘Abbas said, “No, that was another lady who, though being a Muslim, used to arouse suspicion by her outright misbehaviour.”

dari sini kita melihat RAHMAT Allah swt … ketika dia tdk mengakui zinanya maka dia menyerahkan segala sesuatunya pada putusan Allah nanti.
dalam Quran Allah swt berfirman setelah menjelaskan tatacara Li’an dgn penghujung firman sebagai berikut [Annur 24:10] Dan andaikata tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya atas dirimu dan Allah bukan Penerima Taubat lagi Maha Bijaksana, .

Tafsir Ibnu Kathir :
﴿وَلَوْلاَ فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ﴾
(And had it not been for the grace of Allah and His mercy on you!) meaning, many of your affairs would have been too difficult for you,
artinya, banyak dari urusan2 mu yang akan sangat sulit untuk mu,

﴿وَأَنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ﴾
(And that Allah is the One Who forgives and accepts repentance,) means, from His servants, even if that comes after they have sworn a confirmed oath.
artinya, dari hambaNya, bahkan jika itu datang setelah mereka bersumpah akan sumpah yang ditegaskan.

Allah telah menutup jalan Rajam dgn jalan memberi peluang bagi si pezina untuk berbohong,dimana bagi yang mengaku dan ingin dirajam memperoleh surga dan ampunan,bagi yang bertaubat semoga mengampuninya,dan bagi yang berbohong akan dilaknat oleh Allah SWT dan juga dengan rahmat Allah ,Allah maha Mengampuni Dosa …. Wallahu A’lam.

Sumber: Aa Montir a.k.a Ustadz Abi Fathan

Ba

Tiada :)

Tiada keindahan yang paling indah, maupun harta yang paling berharga di Dunia ini selain

keindahan kedekatan Kepada Allah….

Tiada kesenangan yang paling Senang di Dunia ini selain kecintaan

Kepada rasulullah kekasihMu

Tiada Kebahagiaan yang Paling bahagia di Dunia ini selain

Bersyukur Kepada Allah…

Tiada kerinduan yang paling ditunggu

Yaitu berjumpa dengan Mu