Percampurbauran pria dan wanita itu baik!!


Wanita muslimah adalah mitra kerja pria dalam memakmurkan bumi sesempurna mungkin.Sungguh benar apa yang disabdakan Rasulullah saw dalam hadits “Kaum wanita adalah saudara kandung kaum pria”.

Karena itu wanita haruslah ikut serta dengan serius dan terhormat dalam berbagai lapangan kehidupan.Mengingat lapangan itu tidak lepas dari keberadaan laki-laki.Syariat Allah tidak menghalangi wanita bertemu dengan laki-laki dan melihatna,atau sebaliknya.Begitpula dalam berbicara,bertukar pikiran,atau bekerja sama untuk mengerjakan suatu pekerjaan dengan tetap memperhatikan ketentuan-ketentuan agama

Nabi saw sangat memahami peran wanita dalam mempermudah dan membantu berbagai usaha kebaikan.Penyalahgunaan kondisi seperti itu sama saja dengan mempersulit ruang gerak dalam melakukan kebaikan.

Sejak dahulu,keikutsertaan wanita dalam aktivitas social dan pertemuannya dengan kaum laki-laki secara umum dan khusus memang sudah dilakukan,seperti kegiatan menuntut ilmu,salat,kegiatan berhaji,menangani jenazah,dll.Sedangkan acara khusus seperti mengadakan kunjungan,jamuan,membonceng wanita,mengerjakan sesuatu bersama,menjenguk orang sakit,melamar menikah,juga kegiatan politik

Pertemuan antara wanita dan pria yang sesuai syariat itu yang kita sebut “pembauran sesuai syariat” atau “ikhtilath sehat”kondisi ini merupakan fenomena yang sehat,sehingga kegiatan yang dilakukan berdampak baik bagi diri sendiri dan lingkungan sekitar.Rasulullah mengajarkan sopan santun dalam hubungan pertemaun yang terjadi antara pria dan wanita ini, dengan kaidah dan metode yang tidak berlebihan juga pas untuk mencegah suatu kemudharatan yang besar.

Berikut etika pertemuan antara laki-laki dan wanita yang disarikan dari buku Kebebasan Wanita ,Prof Abdul Halim,seorang cendekiawan muslim,aktivis pergerakan Ikhwanul Muslimin

Etika Pertemuan Laki-Laki dan Perempuan

Bertemu untuk melakukan kebaikan

Allah berfirman: …” dan ucapkanlah olehmu perkataan yang baik”( Al-Ahzab:32)

.Ayat tersebut mengisyaratkan topik pembicaraan dalam pertemuan antara laik-laki dan wanita haruslah dalam batas-batas yang baik,dan tidak mengandung kemungkaran.Oleh karena itu perlu keseriusan,namun tidak mutlak asal tidak bertentangan dengan ucapan yang baik,walau ada ucapan spontan yang keluar.Begitu juga,obrolan yang dapat mengakrabkan dan menyegarkan suasana tidak bertentangan dengan keseriusan acara,sebagaimana kisah Aisyah saat Hasan Bin Tsabit melantunkan bait-bait Syair pujian dan sanjungan karena Aisyah menjaga kehormatan dan terlepas dari tudingan kasus hadits ifk.Saat itu hasan dikatakan menghalau serangan dari Rasulullah dengan syair-syairnya( HR.Bukhari Bab Berita bohong,Muslim bab: Keutamaan Hasan Bin Tsabit)

Menahan Sebagian Pandangan

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan sebagian pandangananya dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka,sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’Katakanlah kepada wanita yang beriman :’Hendaklah mereka menahan sebagian pandangannya dan memelihara kemaluannya…”(An-Nur:30-31)

Yang dimaksud dengan menahan sebagian pandangan adalah tidak menyebarkan pandangan kesana kemari,karena dikhawatirkanterjadinya fitnah.Ibnu Abdillbarr berkata:” Diperbolehkan melihat itu diantaranya muka dan kedua telapak tangan,tapi dengan syarat pandangannya tersebut tidak mencurigakan.Adapun pandangan karena syahwat dikatakan haram,meskipun tertutup pakaiannya

Ibnu Daqiq,al-Id pun berkata :”Lafadz min (dalam ayat diatas) menunjukkan tab id(sebagian).Tidak ada pertikaian bahwa wanita—jika khawatir akan terjadi fitnah—haram baginya melihat.Akan tetapi ayat tersebut tidak mewajibkan menahan pandangan secara mutlak,atau pada kondisi lai yang berbeda dari yang baru disebutkan (At-Tajj wl Ikli Mukhtasar Ibnu Khalil)

Disebutkan dalam Fathul Baari ketika menerangkan tentang hadits wanita dari Kabilah Khats’qm disebutkan keterangan sebagai berikut : Fadhal melihat wanita tersebut dia mengagumi kecantikannya,Lalu nabi menoleh kea rah Fadhal,namun Fadhal masih melihat wanita tersebut.Lantas nabi mengulurkan tangannya dan memalingkan mukanya dari melihat wanita itu

Hadits-hadit tentang memandang dapat dilihat dalam kajian ini.Dalam hadits-hadits tersebut jelas sekali pandangan yang diiringi nafsu/syahwat sangat terlarang.karena itulah Nabi SAW mengatakan :”Zina nafsu adalah berharap-harap dan berkeinginan”.Hadits tentang zina –zina (mata,hati,dll)diartikan juga bahwa pandangan yang tidak mengandung syahwat tidaklah berdosa ,hal ini dapat kita lihat lagi pada hadits riwayat Bukhari Muslim tentang nabi memalingkan wajah Fadhal bin Abbas karena kagum dan melihat berlama-lama kepada wajahnya.

Al Hafidz Ibnu Hajar berkata: Ibnu Bathal berkata bahwa hadits tersebut terdapat perintah menahan pandangan karena takut terjadi fitnah,konsekuensinya ,jika ternyata aman dari fitnah hal tersebut tidak dilarang.Hal ini dipertegas dengan kemungkinan bahwa Nabi saw tidak akan memalingkan muka Fadhal seandainya dia tidak terus menerus melihat wanita karena kagumnya karena dikhawatirkan kedalam fitnah.Hadits tersebut juga menunjukkan karakter manusia yang menguasai anak cucu Adam,yaitu lemah dalam menghadapi rasa kagu terhadap wanita( Fathul Baari jilid 13 hal 245)

Jika kita simpulkan ,pada dasarna ,adanya pertemuan laki-laki dan perempuan mungkin menyebabkan timbulnya sikap saling memandang diantara mereka.Kejadian seperti itu tidak masalah sepanjang pandang-memandang diantara mereka tidak didasari dengan syahwat serta kedua-duanya berniat menahan pandangan

Menghindari Berjabat Tangan pada Situasi Umum

Etika sebelumnya yaitu menahan sebagian pandangan,begitu juga dengan dengan tangan.Menahan tangan kita dari berjabat tangan jauh lebih penting,sebab sentuhan lebih kuat merangsang syahwat daripada pandangan.

Pertama:
beberapa nash tentang diharamkannya menyentuh dengan syahwat
“Dari Ibnu Masuddikatakan bahwa seorang laki-laki telah mencium seorang perempuan.lalu orang itu datang kepada nabi saw dan menuturkan hal itu kepada beliau.Maka turunlah ayat :” Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang dan pada bagian permualaan malam.Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapuskan perbuatan-perbuatan buruk.Itulah peringatan bagi orang –orang yang mau ingat “(Hud :114) (HR Muslim,Kitab Tobat jilid8 )

Dalam hal ini kaitannya dengan dosa kecil, mendekati zina merupaka dosa kecil,dan dalam berdakwah jika melihat pada kasus diatas merupakan kebijaksanaan Allah swt,bagaimana orang yang berciuman tidak dicela atau dikatakan suatu “sangat aib” atau dicap wah itu zina,dll.Mengenai dosa-dosa ini dipertegas dengan hadits

Dari Ibnu Abbas ia berkata :’Aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih mirip denga perbuatan dosa kecil dibandingkan apayang dikatakan Abu Hurairah
Kedua:
Nash-nash menunjukkan bahwa Nabi saw menghindari sentuhan berjabat tangan sewaktu melakukan baiat dengan kaum wanita sebagimana riwayat berikut:

“Dari Aisyah r.a. dikatakan bahwa Rasulullah saw menguji orang-orang yang berhijrah kepadanya dari wanita-wanita yang mukmin dengan firman Allah: (Hai Nabi.apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan bai;at..),maka barangsiapa yang mengikrarkan syarat ini dari wanita-wanita mukmin,Nabi berkatakeapdanya:’Sesungguhnya aku telah membaiatmu dengan ucapan tadi.’Tidak ,demi Allah tangan rasul tidak pernah menyentuh tanggan sama sekali saat berbaiat”( HR Bukhari Muslim)


Ketiga:
Nash-nash yang menunjukkan bolehnya menyentuh ketika ada kebutuhan dan aman dari fitnah.hal tersebut diperkuat oleh hadits

“Dari anas r.a dikatakan bahwa Rasulullah saw masuk kepada Ummu Haram binti Mihan.Lantas dia menjamu makan Rasulullah .Ketika itu Ummu Haram dibawah(istri) Ubadah bin Shamit.Lalu Rasulullah masuk kepada wanita tersebut.Wanita tersebut menjam makan Rasulullah an menyisir rambutnya( HR Bukhari Muslim)

Dari Anas bin Malik dikatakan ada seorang hamba-hamba perempuan warga madinah membimbing tangan Rasulullah saw,dan berangkat bersama Rasulullah saw ke mana yang dikehendaki( HR Bukhari)

Al Hafidz Ibnu Hajar berkata : “Dalam riwayat Ahmad melalui Ali bin Zaid dari Anas dikatakan bahwa budak perempuan itu adalah budak perempuan seorang warga madinah.Dia datang dan memegang tangan rasulullah saw.Rasulullah saw tidak melepaskan tangannya dari tangan budak perempuan sehingga budak perempuan itu pergi bersama rasulullah kemana dia kehendaki( Fathul Baari,jilid 13)

Dari Salma,Istri Abu Rafi dikatakan :’Aku melayani nabi saw,tidak pernah ia menderita bisul atau kudis kecuali dia menyuruhky menempelkan inai padanya (HR Ahmad,Al Hafidz Haitsami berkata orang-orangnya Ahmad tsiqah)

“Dari Abdullah bin Muhammad bi Abdullah bin Zaid, dari salah seorang perempuan mereka dikatakan bahwa: Masuk kepadaku Rasulullah saw. ketika aku sedang makan menggunakan tangan kiri. Ketika itu aku adalah seorang wanita yang susah. Lantas Rasulullah memukul tanganku sehingga jatuh apa yang ada dalam genggamanku. Lalu beliau berkata padaku: ‘Janganlah kamu makan menggunakan tangan kiri, karena Allah telah menjadikan tangan kanan untukmu.’ Atau beliau berkata: ‘Allah sudah membebaskan tangan kananmu.’ ….” (HR Ahmad,Majma Az Zawaid)

Dalam hal ini ,kita dapat membandingkan antara menghindarnya rasulullah saw dari berjabat tangan kaum wanita sewaktu melakukan baiat dengan beberapa peristiwa ketika rasul menyentuh beberapa orang wanita.Jika Rasulullah menghindari berjabatan tangan pada kondisi ini,tidak harus diartiikan bahwa menghindarnya berjabat tangan rasul dari semua bentuk kondisi karena bisa jadi ada tujuan lain sehingga menyentuh wanita mewujudkan beberapa keperluan yang sifatnya jarang,dan disatu sisi mereka itu dijamin aman dari fitnah.

Pada kondisi lain,saat Rasul berbaur dengan Ummu Haram dan saudaranya Ummu Sulaim.Demikian Rasulullah merasa aman dari fitnah bersama wanita tersebut dan wanita laian.Menghindarnya Rasul pada saat baiat dalil-dalilnya merupakan kekhususan,sebab Rasulullah mengatakan :”Aku tidak mau berjabat tangan dengan kaum wanita” menggunakan dhamir mufrad

Al Hafidz Haitsami dalam bab: Dalil-dalil mengenai kekhususan bagi Rasulullah saw .megemukakan dua hadits berikut:

Dari Abdullah bin Umar dikatakan bahwa rasulullah tidak mau berjabat tangan dengan kaum wanita pada waktu baiat( HR Ahmad,Isnadnya Sahih)
Dari Asma binti yazid diaktakan bahwa Rasulullah saw bersabda :’Sesungguhnya aku tidak berjabat tangan dengan kaum wanita (HR Ahmad)

Kesimpulannya Rasulullah tidak mau berjabat tangan dengan kaum wanita .Hal itu dapat diartikan bahwa berjabat tangan secara umu tidak disenangi oleh Rasulullah sebagai penutup jalan (kaidah saddudz-dzarai) guna dijadikan ajaran dan syariat bagi umatnya.

Memisahkan Laki-laki dan Wanita dan Tidak Berdesakan

Dari Ummu Salamah r.a dikatakan bahwa apabila Rasulullah saw mengucapkan salam,kaum wanita langsung beridiri.Sementara ketika selesai mengucapkan salam Rasulullah saw diam sejenak sebelum berdiri.Ibnu Syihab berkata:’Menurutku (tapi Allah lebih tahu) diamnya Rasulullah tersebut dimaksudkan agar kaum wanita sudah habis pergi sebelum mereka bertemu dengan kaum laki-laki yang pulang”( HR Bukhari,Bab Salam)

Hal itu diperkuat lagi dengan sabda nabi yang berbunyi

“bagaimana kalau kita biarkan pintu ini untuk wanita”

Kaum wanita dianjurkan menghindari berdesak-desakan dijalan dan ditempat perkumpulan umum,dengan catatan bahwa hal ini tidak berarti harus menyediakan tempat khusus seperti halnya shalat di saf belakang.Adapun diluar salat,etika yang dituntut adalah memisahkan laki-laki dari wanita serta menghindari terjadinya berdesak-desakan

Menghindari Khalwat

Dari Ibnu Abbas r.a dari Nabi saw beliau bersabda ‘Janganlah seorang lelaki berkhalwat dengan seorang wanita kecuali disertai mahramnya

Maksud berkhalwat seperti ini yaitu khalwat yang dilarang,sebab ada khalwat yang diperbolehkan

Itulah sebagian dari etika pertemuan laki-laki dan permepuan.Etika Islam yang telah digariskan oleh pembawa syariat yang bijaksana tentang peran wanita dalam kehidupan social dengansegala konsekuensianya,seperti seringnya frekuensi bertemunya dengan kaum laki-laki,merupakan etika yang sempurna

‘’..dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan…” (Al Hajj :78)

Dalam bahasan selanjutnya insya Allah akan ada pembahasan dari buku Kebebasan Wanita ditambah pemahaman penulis,tentang interaksi pergaulan,peran wanita, juga berlebihannya dalam menerapkan kaidah saddzudzari.Berbagai teks sunnah yang masyhur justru menjelaskan bagaimana kehidupan nabi dengan para sahabat muslimah,kehidupan sahabat muslimah ketika bertemu kaum laki-laki tanpa hijab(tabir) ,baik saat shalat, majelis ilmu,berjihad,bahkan dalam tawaf pun tidak diberlakukan khusus waktu wanita agat terpisah dengan laki-laki.

Demikianlah pemaparan dari dalil-dalil agar kita mengetahui hujjah sebenarnya,walaupun bahasannya terlihat “berat” karena keluarnya dalil –dalil lebih banyak dari pada bahasa yang pas,untuk dasar pemahaman dahulu,sehingga kita menjadi tahu apa sebenarnya yang terjadi saat zaman rasulullah masih hidup.Keakraban yang terjadi karena adanya dialog merupakan jalan keluar agar mereka dapat mneyelesaikan keperluannya,dan itu merupakan fitrah bagi kaum laki-laki dan wanita.Jika manfaatnya seperti itu ,pasti ada hikmah dalam izin Allah atas keikutsertaan wanita dalam kehidupan sosial wanita dengan segala dimensinya

    • ummu ‘aisyah
    • September 14th, 2010

    ini sumbernya darimana pak?

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: