Archive for April, 2010

Mengapa Kita Membutuhkan Utusan Tuhan?

Memberitahukan siapa tuhan sebenarnya
Bila anda sependapat dengan saya bahwa Tuhan itu ada maka kita sudah memiliki satu jawaban bagi pertanyaan ini. Kita membutuhkan nabi untuk memberitahukan jati diri Tuhan. Hal ini adalah keniscayaan karena hanya dengan mengandalkan akal, kita tidak dapat menemukan siapa Tuhan yang sesungguhnya.

Mari simak kisah nabi Ibrahim ketika mencari Tuhan. Andai kata Allah tidak memberitahukan secara langsung kepada nabi Ibrahim tentu keyakinan Ibrahim hanya sampai bahwa berhala-berhala itu bukan Tuhan dan Tuhan sebenarnya adalah yang menggerakkan matahari, bulan dan bintang tanpa tahu siapa Dia. Begitu pula dengan nabi-nabi lainnya, Allah secara langsung memberikan hidayah kepada mereka. Continue reading

Kemahakuasaan Tuhan “Stone Paradoks” dan Kemahatahuan Tuhan

Kemahakuasaan dan Kehendak Tuhan

Oleh: Hamza Andreas Tzortzis

Selama tur Islamic Awareness, saya menemukan ada beberapa pertanyaan yang biasa diajukan tiap ceramah dan presentasi. Saya rasa tentu bermanfaat bagi pembaca jika memiliki jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam tulisan pendek. Pertanyaan yang diajukan cukup bervariasi, di antaranya mengenai keberadaan Tuhan, sifat Tuhan, hukum Islam, dan akidah Islam. Dalam tulisan ini, saya mencoba menjawab dua pertanyaan yang sering muncul yang berkaitan dengan sifat Tuhan.

Pertanyaan-pertanyaannya yaitu:

1. Jika Tuhan Mahakuasa bisakah Dia melakukan apapun, termasuk menciptakan sebuah batu yang tidak bisa Dia gerakkan?
2. Bisakah Tuhan memiliki kehendak bebas (free will) jika Dia mengetahui segala sesuatu?

Pertanyaan pertama, jika Tuhan Mahakuasa bisakah Dia melakukan apapun, termasuk menciptakan sebuah batu yang tidak bisa Dia gerakkan?

Posisi akidah Islam mengenai kemampuan Tuhan diringkas dengan cermat dalam pernyataan yang dapat dilihat dalam kitab Aqidah Tahawiyah. Tertulis,

“… Dia Maha Kuasa. Semuanya bergantung pada-Nya, dan segala urusan tidak sulit bagi-Nya. “

Pertanyaan umum tentang kemampuan Tuhan yaitu jika Tuhan Mahakuasa maka bisakah Dia menciptakan batu tidak bisa Dia gerakkan? Kunci dalam menjawab pertanyaan ini menggarisbawahi ‘Mahakuasa’ yang disalahartikan menjadi ‘mahasegalanya’ (all powerfull). Yang dimaksud dengan mahakuasa sebenarnya adalah kemampuan mewujudkan segala urusan, bukan kekuasaannya itu sendiri (raw power). Jadi Tuhan “menciptakan sebuah batu yang tidak bisa Dia gerakkan” sebenarnya menggambarkan suatu masalah yang tidak mungkin dan tidak bermakna, sama seperti jika kita mengatakan “seekor gagak hitam berbulu putih” atau “lingkaran bersiku” atau bahkan “mamalia yang amfibi” (amphibian mamal).

Pernyataan seperti ini tidak menggambarkan apa-apa dan tidak memiliki nilai informatif, tidak ada artinya. Jadi untuk apa kita menjawab pertanyaan yang tidak memiliki makna? Sederhananya pertanyaan ini bahkan bukan pertanyaan.

Cara lain melihat masalah ini adalah bahwa Tuhan itu Mahakuasa itu berarti Dia selalu mampu melakukan apa yang Dia kehendaki, sebagaimana pernyataan di atas menyebutkan “… dan segala urusan tidak sulit bagi-Nya.” Karena itu, kemahakuasaan juga meliputi mustahil gagal. Namun si penanya, secara tidak sadar, mengatakan karena Tuhan itu Mahakuasa Dia bisa melakukan apa saja yang termasuk kegagalan! Ini tidak rasional dan absurd karena sama saja dengan mengatakan “sesuatu yang Mahasegalanya tidak dapat menjadi Mahasegalanya!”

Kesimpulannya, Tuhan dapat membuat batu yang lebih berat daripada yang dapat kita bayangkan, tapi Dia selalu dapat menggerakkan batu, yang harus dipahami kegagalan bukanlah bagian kemahakuasaan.

Pertanyaan kedua, bisakah Tuhan memiliki kehendak bebas (free will) jika Dia mengetahui segala sesuatu?

Dalam akidah Islam, Tuhan itu ‘Maha Mengetahui’ dan kehendak-Nya selalu terpenuhi. Akibatnya ada orang yang mempertanyakan “Apakah Tuhan benar-benar memiliki kehendak bebas jika Dia mengetahui segala sesuatu? Terutama karena pengetahuan-Nya mencakup hal-hal yang akan Dia lakukan? Dan jika Dia tahu apa yang akan Dia lakukan, tidakkah membuat tindakan-Nya tergantung pada pengetahuannya-Nya, yang akibatnya Dia tidak memiliki kehendak bebas? “

Jawaban atas pertanyaan ini cukup sederhana. Si penanya menyamakan pengetahuan tentang masa depan dengan penyebab kejadian di masa depan. Sebagai contoh, jika saya tahu anak perempuan saya bangun pada jam 7 pagi, dan ketika pagi menjelang ia bangun pada waktu tersebut, apa yang menyebabkan dia bangun? Pastinya bukan karena pengetahuan saya bahwa ia akan bangun pada saat itu; sepertinya lebih karena ‘jam biologis’-nya, jangan lupa mungkin juga disebabkan ia lapar atau ingin bermain! Demikian pula jika saya tahu saya akan mengangkat beban 140 kg ketika saya pergi ke gym (tempat olahraga) besok, apakah berarti pengetahuan saya bahwa saya mampu mengangkat beban membuat saya melakukannya? Tidak, faktanya bisa memilih pergi ke gym, termasuk saya persiapan fisik, membuat saya bisa mengangkat beban berat, dan bukan pengetahuan bahwa saya memang bisa.

Jadi pengetahuan Tuhan tentang peristiwa-peristiwa masa depan, termasuk tindakan-Nya sendiri, tidak berarti pengetahuan-Nya menyebabkan Dia bertindak dengan cara tertentu. Sebagai contoh, fakta Dia menciptakan dunia dan menempatkan manusia sebagai wakil-Nya (vicegerents) di sana tidak berarti pengetahuannya-Nya itu memaksa melakukannya. Juga pengetahuan bahwa Dia akan memasukan manusia ke surga tidak membuat Dia melakukannya, kecuali karena rahmat dan cinta-Nya. Hal Ini dirangkum dengan fasih dalam kitab Aqidah Tahawiyah,

“Ia membimbing, melindungi, dan memelihara siapa saja yang Dia kehendaki dengan rahmat-Nya. Dan Dia menyesatkan, mengabaikan, dan menghukum siapa saja yang Dia kehendaki dengan keadilan… Tuhan selalu tahu jumlah orang yang masuk surga dan mereka yang memasuki neraka. Tidak ada yang bertambah atau berkurang dari angka itu.”

Jadi bimbingan-Nya tidak terwujud dengan sendirinya karena Dia tahu siapa yang akan diberi pentunjuk, tetapi lebih karena rahmat-Nya, dan hal ini tidak bertentangan dengan sifat-Nya. Singkatnya pengetahuan tidak sama dengan kausalitas.

Catatan akhir
Dalam tulisan berikutnya, insya Allah, akan lebih banyak pertanyaan yang akan dijawab berkaitan dengan topik yang beragam. Namun tidak berarti saya memiliki semua jawaban, dan memang tidak. Hanya berarti saya mencoba mengikuti petunjuk al Qur’an, “Tanyalah orang-orang yang tahu, jika Anda tidak tahu.” Begitu pula yang saya sarankan kepada setiap orang. Dalam Islam, Tuhan adalah sumber dari segala pengetahuan, karenanya bertanya itu belajar dan belajar itu dapat membebaskan diri dari kebodohan, sebagaimana sabda Nabi Muhammad,

“Obat ketidaktahuan adalah bertanya dan belajar.” “Aku berdoa semoga kita semua masuk dan berada dalam cahaya itu, amiin.

Seri: terjemahan
http://www.facebook.com/note.php?note_id=389741487584

Di Akhir nanti..

Hmm….
merangkak sedikit,menuju hancur lebur
tak ada bantuan dan tak ada pertolongan
hanya merangkak,itu yg bisa kulakukan saat ini !

delapan jam sehari
tujuh hari seminggu
empat minggu sebulan
setapak demi setapak menuju mati yg hakiki

yang bergerak hilir mudik
perih menari indah
naik keatas tuk bunuh !!!
sedikit demi sedikit jadi rapuh

hanya tujuan awal semangati diri
senyum diakhir jadi sasaran lari
tak berasa lelah saat itu
hanya senyum diakhir nanti

kurindukan saat itu !
disaat semuanya menjadi masa lalu
disaat semuanya menjadi obroLan sang maLam
dan disaat semuanya sirna,hanya satu yg berdiri disana . . . .

Cinta memperkenalkan dirinya

cinta menampakan dirinya dimanapun..
pada sang sempurna atau sang nestapa tiada beda…
bahkan pada seekor anjing kurap walaupun hanya seringai giginya…

tahukah kau bagaimana cinta memperkenalkan dirinya…
tak peduli kau sempurna atau nestapa…
kau alim atau pendosa…
sibakkan tirainya.. dirimu yg terhijab…
cinta meliputi… dirimu yang buta…
cinta selalu hadir… dirimu yang terlelap…

seorang cantik belum tentu dicinta
seorang yang dicinta pasti akan cantik

kau lihat langit berawan gelap…
dirimu yang menganggapnya layaknya itu…
terbanglah keatas awan kau akan lihat langit cemerlang…
terbang dan terbanglah terus…
hingga kau gapai si empunya cinta

ya…
seorang cantik belum tentu dicinta
seorang yang dicinta pasti akan cantik

Dia yang maha pengasih dan penyayang
hanya tampak bila kau menghilang

tinggalkanlah AKU…
MAKA AKU akan mengejarmu…
dalam bahwasan pertaubatan suci…
itu kataNYA yang terngiang…

jangan tinggalkan aku…
mengalun semu berjalan mengejarNYA…
dan terisak tangis…
IA berada tepat di belakangku mendorongku…

Konsep Arsitektur Berkelanjutan “Sustainable Architecture”

Arsitektur terus berkembang seiring dengan perkembangan masyarakat dan budaya. Sudah banyak inovasi-inovasi bangunan yang dilakukan. Baik dalam hal material, cara membangun, maupun bentuk dari bangunan itu sendiri. Namun sayangnya banyak dari bangunan tersebut yang dibuat dengan tanpa memperhatikan aspek lingkungan untuk jangka panjang. Sehingga menjadi timbul masalah baru yang membawa dampak negatif kepada lingkungan itu sendiri.

Hal tersebut diperparah dengan kondisi iklim yang semakin memburuk dan dampaknya sudah sebagian dapat kita rasakan saat ini. Isu ini sudah berkembang menjadi isu global yang biasa kita dengar yaitu global warming.

Bila hal ini tidak dipikirkan bagaimana penyelesaiannya, entah apa yang akan terjadi pada bumi kita akibat perkembangan dalam bidang arsitektur khususnya. Oleh karena itu saat ini kita harus mulai bertindak! Arsitektur berkelanjutan atau yang biasa dikenal dengan Sustainable architecture lahir sebagai salah satu aksi yang harus kita lakukan untuk meminimalisasi kerusakan lingkungan.

Arsitektur berkelanjutan memiliki banyak pengertian Continue reading

Iklim dan Arsitektur, hubungannya dengan peran arsitek

Proses terjadinya cuaca dan iklim merupakan kombinasi dari variabel-variabel atmosfer yang sama yang disebut unsur-unsur iklim. Unsur-unsur iklim ini terdiri dari radiasi surya, suhu udara, kelembaban udara, awan, presipitasi, evaporasi, tekanan udara dan angin.

Unsur-unsur ini berbeda dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat yang disebabkan oleh adanya pengendali-pengendali iklim. Pengendali iklim atau faktor yang dominan menentukan perbedaan iklim antara wilayah yang satu dengan wilayah yang lain menurut Lakitan (2002) adalah (1) posisi relatif terhadap garis edar matahari (posisi lintang), (2) keberadaan lautan atau permukaan airnya, (3) pola arah angin, (4) rupa permukaan daratan bumi, dan (5) kerapatan dan jenis vegetasi. Continue reading