Islam dan Terorisme


“Islam is the only civilization which has put survival of the West in doubt ,and it has done at least twice”

Samuel P Huntington,penbasihat politik terkemuka pemerintah AS

Begitu komunisme dianggap runtuh,dengan tempo yang cepat diskusi –diskusi tentang “ancaman islam”a tau ‘bahaya islam’ bermunculan.Dalam bukunya yang sudah tidak asing lagi di Dunia Internasional,seorang Ilmuwan politik dari Harvard,Samuel P,Huntungton dalam “the clash of civilization and Remaking of Word Order mengarahkan Barat untuk memberi perhatian khusus kepada Islam.Hanya Islamlah satu-satunya peradaban yang berpotensi besar menggoncang peradaban Barat,sebagaimana dibuktikan dalam sejarah.

Pasca peristiwa 11 September 2001,gejala ini makin menjadi-jadi .Masalahnya bukan terletak pada aspek kajian ilmiah yang jujur dan adil.tetapi kajian,analisis yang memunculkan “ Islam militant sebgai musuh utama Barat”, dimanfaatkan untuk memberikan legitimasi berbagai kebijakan politik dan militer AS dan Negara-negaraBarat lainya,yang ujungnya adalah mengejar kepentingan-kepentingan politik,bisnis,ekonomi,dengan menggunakan jargon-jargon demokrasi,liberalisasi,dan Hak Asasi Manusia.

Munculnya mitos-mitos aneh selepas tragedi WTC 2001 seperti cerita tentang bahaya Osama Bin Laden dan terorisme sudah begitu bercampur dengan mitos melegenda.Adalah sebuah Negara yang memiliki angkatan perang terkuat dalam sejarah umat manusia ,seperti AS ,justru menajdikan Osama Bin Laden menjadi musuh utamanya.Seolaholah Osama mampu meruntuhkan Negara adikuasa itu.Osama lenyap bak orang ditelan bumi,jika memang Osama dianggap sebagai musuh besar umat manusia,bukankah bertahun-tahun AS dan sekutunya merupakan penyokong utama Osama Bin Laden?(bisnis,dan melawan rusia) Dalam kasus ini tampak kebijakan politik pragmatis bisa mengalahkan aspek ideologis.

Perubahan hubungan AS dan Al Qaeda menunjukkan,aspek ideologis dikesampingkan,demi kepentingan temporal.Meskipun Al Qaeda dibantu AS dalam menghadapi musush bersama –Uni Sovyet- tetapi setelah runtuhnya Sovier,al Qaeda yang oleh pers Barat sebelumnya disebut sebut dengan istilah “mujahidin” kemudian ganti dimitoskan oleh AS sebagai “musuh dunia” yang paling berbahaya ,bahkan lebih berbahaya dari Uni Sovyet.

Mitos-mitos ancaman terorisme Islam –khususnya – Al Qaeda ini senarnya lebih banyak berkaitan dengan masalah”kepentingan” Ancaman mungkin ada,tetapi jika Al Qaeda dijadikan musuh yang lebih berbahaya dari Soviet,tentu saja itu menjadi sebuah mitos.Dan mitos yang berkembang sekarang ini mulai mengarah kepada suaru wacana yaitu “ Islam Teroris”,sebuah mitos yang sedang dibangun setelah komunis runtuh,membuat wajah baru,menggantikan wajah lama.

Jika trauma –trauma yang dialami barat terhadap Islam dimasa lalu ,memang telah menciptakan mitos-mitos ketakutan terhadap Islam.maka tidaklah aneh jika sensitivitas perasaan masyarakat disanan dengan mudah dieksploitasi untuk kepentingan politik

Dan dalam kebijakan dan kepentingan politiknya AS melakukan pendekatan terhadap Islam dengan dua wajah, dan dalam kasus perang melwawan terorisme, dukungan AS akan diberikan kepada Negara-negara yang menunjukkan dukunganterhadap kebijakan AS dalam memerangi Terorisme,sedangkan bagi yang tidak mendukung kebijakan AS pun ada perlakuan khusus.Apa yang dilakukan AS dibelahan bumi ini dapat dilihat dalam perspektif upaya AS untuk memelihara hegemoni imperialnya di berbagai belahan bumi,termasuk juga kebijakan “anti terorisme”.Dengan menggalan dukungan Internasional,pilihan AS untuk menetapkan Osama Bin Laden sebagai “teroris nomor wahid” tentu bukan tanpa perhitungan.
Sebagaimana yang dinasehatkan Samuel P.Huntington dan ilmuwan lain seperti Bernard Lewwis ,hanya “peradaban Islam” yang dilihat sebagai potensi ancaman serius bagi “peradaban barat”.Didukung trauma historis Barat terhadapa Islam pada masa lalu yang menjadikan Islamifobia ,dipoles dengan “kepentingan” menjadikan tampak nyata bahwa wacana terorisme ini menjadi sorotan dunia

Definisi Terorisme yang Kabur

“Terorisme” Kata ini muncul kembali setelah tragedi 11 September 2001 oleh AS yang diberitakan berulang-ulang. Secara politis,AS menggunakan tangan PBB untuk menghancurkan apa yang disebut terorisme.Setelah Resolusi PBB 2001, DK –PBB meminta agar anggotanya menolak uang,dukungan,maupun perlindungan terhadap teroris,lalu keluar lagi Resolusi 28 Oktober 2001 yang intinya masih sama .Resolusi ini sama sekali tidak secara khusus mendefinisikan apa itu seorang teroris,dan tidak juga mengidentifikasi seseorang yang diduga melakukan serangan ke AS.

Lagi-lagi masalahnya adalah “definisi yang objektif” tentang terorisme”.Siapa yang disebut terrorism dan harus dijatuhkan sangsi atasnya?AS telah mencap organisasi-organisasi dunia sebagai teroris.Jika Hamas saja dicap teroris karena memperjuangkan kemerdekaan Palestina,apakah Israel yang jelas-jelas menerapkan berbagai “kekerasan” tidak masuk kategori teroris?Ketidakjelasan definisi semacam ini jelas berbahaya,sebab akan mamakan korban yang tidak selayaknya.Seperti kasus Bosnia,dimana Serbia membantai umat muslim,walaupun mereka hidup dengan damai dan lebih condong ke barat.

Harian terkemuka di timur tengah Al Syarqul Awsath menulis, Amerika serikat menimbulkan masalah baru karena konsep terorisme melebar kemana-mana.Dunia Arab mengusulkan AS agar menyepakati definisi dan maksud terorisme.”Mendefinisikan terorisme merupakan satu cara untuk keluar dari perang jangka panjang yang melelahkan,Kita berharap agar kejadian di Irak menyadarkan kelompok konservatif di Washington”
Sejak AS melancarkan “perang melawan terorisme” banyak pemimpin Negara berpikir serius tentang hal itu agar jangan sampai tidak mendapat restu dari AS.

Maka,demi mempertahankan kekuasaan,berbagai paradox akitab konsep “terorisme” terpaksa dibairkan terjadi.Seperti Pakistan dapat melakukan tindakan yang kontradiktif dengan Taliban,padahal sebelumnya Pakistanlah yang mendukung dan turut membesarkan Taliban,tetapi semakin kesini Pakistan memburu Taliban dan mengikuti jejak AS.Paradoks seputar Terorisme banyak terjadi ,karena dari awal tidak jelasnya terorisme sendiri apa yang dilakukan AS terhadap Irak,pengeboman atas Afganistan(tentunya lebih besar dari 11 september) dapat disebut juga sebagai teroris.

Kenyataanya,dilapangan ,pengertian “teroris”,”militan” tidaklah jelas dan sangat bias,tergantung kepda kepentingan.Seorang pakar peradaban dari Timur Francis Fukuyama mencatat: Islam radikal ,yang tidak toleran terhadap semua bentuk keragaman dan suara berbeda,telah menjadi kaum fasis dizaman kia.Merekalah yang sedang kita lawan”

Jika miltian islam,radikal islam merupakan musuh Barat paling utama saat ini,sehingga menurut Fukuyama harus diperangi,harus dilawan,maka timbul kembali pertanyaan,siapa sajakah yang disebut “militant” atau “radikal” itu? Dan apakah dunia bisa secara fair dan adil menerapkan definisi itu untuk semua jenis manusia,bangsa,dan Negara? Apakah standar teroris, radikalis ini lagi-lagi dapat diterapkan secara adil?
Lagi-lagi dunia Internasional kebingungan menjawab pertanyaan –pertanyaan seperti ini,jika menilik sejarah dan fakta yang ada sekarang.Bagi AS mudah saja menjawab pertanyaan seperti ini seperti pidato di Kongres 20 September 2001
“Setiap Bangsa di semua kawasan kini harus memutuskan: Apakah Anda bersama kami,atau Anda bersama Teroris.Sejak hari ini bangsa manapun yang masih menampung atau mendukung terorisme akan diperlakukan oleh Amerika Serikat sebagai Rezim Musuh”

Dengan seperti ini,menguatkan pandangan bahwa AS leluasa menerapkan berbagai kebiajan untuk mebuat “hitam” diatas “putih”.Tidak ada area abu-abu,yang ada hanyalah hitam dan putih.Maka terjadilah cap mengecap seperti Iran,Korea Utara,Irak sebagai “Poros Setan” dan menyatakan secara terbuka ketiganya merupakan target perang AS melawan terorisme.Kenyataanya AS bersama Zionis Israel adalah satu-satunya Negara didunia yang mempraktikan terorisme( kekerasan) Negara terhadap rakyat dan pemerintahan yang tidak mau menuruti keinginannya

Peran Media Masa

Media masa juga menjadi bagian penting dari penyebaran kerancuan dan definisi tentang terorisme dalam kaitannya dengan Islam.Sebagai contoh adalah pemberitaan media massa di Indonesia tentang “kelompok Abu Sayyaf di Filipina.Kompas menggunakan istilah beragam untuk Abu Sayyaf ,yaitu “kaum militant,dan sebelumnya menggunakan istilah “kelompok gerilya muslim “.Pada hari sebelumnya menggunakan “gerilyawan separatis”.Sedangkan pada 2002,Media Indonesia menggunakan istilah “kelompok pemberontak,Koran tempo menggunakan “gang penculik” sedangkan pada esoknya tempo tidak menggunakan julukan apapun ,dan hanya meggunakan sebutan “Kelompok Abu Sayyaf”.Sedangkan republika menggunakan “kelompok gerilyawan Abu Sayyaf”

Istilah “militan”dan “gerilyawan Muslim” yang digunakan kompas yang telah dicap sebagai kelompok “penculik”,”perompak”,pemberontak ,separatis, sadar atau tidak berkaitan dengan pembentukan citra islam.Mengapa? Karena pada saat yang sama,Kompas tidak menyebut “teroris yahudi”pada Israel dan “pembantai Kristen” pada tokoh-tokoh yang melakukan terorisme di Serbia,atau kasus pemboman WTC di Oklahoma City tahun1996.

Pada perang teluk 1991,Angkatan Udara AS menjatuhkan 88000 ton bom di Irak,jumlah yangs etara dengan 7 kali lipat yang dijatuhkan di Hirosima.Dalam bukunya dibalik keterlibatan CIA,Williem Oltmans mengatakan tidak memberitakan peristiwa Pengadilan Kejahatan Perang Amerika di newyork ,yang dihadiri 22 hakim dari 18 negara bagian,Keputusan pengadilan itu menetapkan AS dan para pejabat terasnya dinyatakan bersalah atas 19 tuduhan kehatan perang
Dengan keputusan pengadilan itu,mengapa George Bush senior tidak dijuluki oleh media massa sebagai”militan Kristen”? Jika osama saja yang dicurigai sebagai otak penghancur gedung WTC sudah dicap “militant” dan “teroris”, begitupun Abu Sayyaf yang muslim dicap sebagai “gerilya muslim” “militant”,mengapa Ariel Sharon yang jelas bertanggung jawab pada pembantaian warga Palestina tidak disebut-sebut sebagai “militan “ atau “teroris yahudi”,mengapa banyak media massa tidak memberi gelar seperti itu?

Rekayasa informasi global itulah yang sekarang terus berlangsung ,melalui media-media massa global,masyarakat global diveri ketidakberdayaan dalam berbagai hal menghadapai hegemoni informasi.Kepentingan-kepentingan Barat ,dapat diwujudkan seperti ekonomi dan industrinya menjadi “selera dunia” terjadilah homogenitas cara berpiki,menjadikan orang yang makan di produk AS menjadi bangga,atau kesamaan pakaian, yang menjadikan “gaul” orang yang memakai jeans.

Ala berpikir ala Barat yang Kapitalis, Liberal,dan sekular merupakan budaya yang membanggakan.Inilah yang menjadikan kaum muslimin secara tidak sadar didorong untuk sedikit demi sedikit meninggalkan berpikir “Islami” dan mengikuti berpikir Barat yang telah kehilangan nilai-nilai spiritual.Merasa phobia ikut-ikutan Barat karena takut menjalankan sunnah dicap Islam fanatik,atau malu karena media memberitakan Islam=teroris , atau mungkin dibuat lupa, sehingga menjadi seperti Barat sangat memuaskan dan menjalankan agamanya serasa berat dan malu-malu,takut dibilang teroris.

Invasi Barat atas Pemikiran Islam

Dalam berbagai Kajian , Smith,Hintington,Fukuyama dan ahli-ahli lainnya yang telah mengkaji peradaban dunia, terdapat beberapa kesimpulan bahwa Teori Benturan Peradaban bukanlah hal yang tidak nyata. Peradaban yang bertahan sampai saat ini yaitu Barat dan Islam. Benturan ini akan melahirkan sebuah peradaban tunggal yang utuh.Pemikiran-pemikiran ala Barat seperti Liberalisme,Sekularisme,juga denganperan media dimana “latah budaya” seprti Food, Fashion,Fun, dimana kita dibuat terhibur ,malas berpikir menjadikan umat islam lupa siapa dirinya.Menjadikan “latah ketakutan” terhadap agamanya sendiri,menjadikan sebuah pelajaran bagi kita.Bagaimana peradaban Barat dibangun dengan trauma terhadap keyakinannya sendiri,menjadikan peradaban yang maju saat ini,namun kosong dan menjauhi agamanya sendir,melahirkan seklarisme,liberalisme,yang justru membingungkan mereka sendiri.

Latah teroris muslim pun memang menjamur di Barat.Umat Islam tidak perlu minder karena mengkaji agamanya sendiri.Saat kasus WTC dimana Barat mulai menunjukkan kebingungan,yang terjadi adalah orang-orang barat mengkaji Al Quran yang menyebabkan banyaknya orang yang masuk Islam setelah tragedi 11 September.Serbuan bahwa muslim itu teroris seharusnya membuat umat Islam semakin kembali mempelajari agamanya.Apakah memang benar dalam Islam itu diajarkan dalam masa damai seperti ini melakukan penyerangan.Atau hanya akal-akalan Barat saja ,untuk kepentingan politis,ekonomi,budaya dan pemikiran menjadikan Umat Islam semakin menjauh dari sumber agamanya yaitu Quran dan Sunnah.Cap-cap semacam Islam fanatik ,Islam radikal,Islam fundamentalis yang sering terdengat anggap saja sebutan untuk menjauhkan umat muslim dari agamanya

Menjadi ketakutan dicap fanatik hanya karena belajar Quran dan Sunnah,atau ketakutan dicap teroris hanya karena berjenggot panjang ,sebuah phobia yang berlebihan, dengan mitos-mitos pasaran.Islam dengan tegas menyatakan bahwa Agama Rahmatan lil Alamin.Tidak butuh mitos-mitos seperti teroris,radikal,fundamentalis dari Barat,karena Islam sudah menegaskan sendiri identitasnya.Dan orang Muslim seharusnya Bangga dengan ketegasan ini, dengan menyaring budaya Barat yang menjamur Kalaulah teroris yang dimaksud melakukan kekerasan,pembantaian,dimasa damai seperti sekarang ini,maka kita dapat senang hati menyebutkan,Saya adalah seorang Muslim dan saya bukan teroris,dan menuntut orang-orang yang melakukan pembantaian dihukum secara tegas.

Sumber : Wajah Peradaban Barat ,Adian Husaini
Moslem Recovery

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: